Bangun Kesadaran Mental Gen Z, UMM Wadahi Potensi Siswa Lewat Kompetisi Nasional PsychoBoost

Kesadaran generasi Z akan pentingnya kesehatan mental dan pengembangan potensi diri di era disrupsi digital kian meningkat tajam. Menjawab tren positif dan tingginya antusiasme tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak sekadar berteori di ruang kelas, tetapi langsung memberikan wadah nyata. Melalui ajang kompetisi bergengsi tingkat nasional PsychoBoost! Vol. 4 yang digelar pada Sabtu (30/5), Kampus Putih bahkan membagikan Golden Ticket alias jalur bebas tes masuk Program Studi Psikologi bagi pemenang utamanya. Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi ini mengusung tema “Empowering Your Potential: Psychology as the Key to Innovation, Creativity, and Well-Being”. Ketua Pelaksana PsychoBoost! Vol. 4, Mar’atus Sholikhah, memaparkan bahwa ajang tahunan ini dirancang khusus untuk memantik daya berpikir kritis generasi muda melalui tiga kategori perlombaan, yakni esai nasional dan desain poster bagi mahasiswa, serta adu kecerdasan (Psywar) khusus untuk siswa SMA sederajat. “PsychoBoost! Vol. 4 hadir sebagai platform untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta mendorong ide-ide kreatif yang dituangkan dalam bentuk tulisan, sekaligus memberikan wadah kolaborasi interaktif guna memperkaya wawasan peserta,” ungkap Mar’atus. Daya tarik dari kompetisi ini sukses menyedot ratusan talenta unggul dari berbagai penjuru Nusantara. Kategori Psywar sendiri diikuti oleh 30 tim atau sekitar 90 siswa, dengan delegasi terjauh rela bertolak dari Jawa Barat menuju Malang. Sementara di tingkat mahasiswa, terdapat 30 tim esai dan 22 peserta desain poster yang beradu gagasan. Selain atmosfer perlombaan yang kompetitif, peserta SMA juga dimanjakan dengan Fapsi Tour guna mengeksplorasi fasilitas unggulan kampus. Rangkaian luring ini memberikan kesan mendalam bagi peserta. Askiya Sayyida, salah satu peserta Psywar dari SMAN 21 Surabaya, mengaku sangat takjub dengan kemegahan atmosfer akademik Kampus Putih dan merasa mendapat pengalaman yang menantang. “Seru banget campus tour-nya, terus ternyata di dalam ruangannya itu view-nya dapet banget jadinya aku suka, dan gedung kampusnya sendiri bener-bener gede banget,” ujar Askiya. Kesuksesan dan kebermanfaatan ajang yang telah konsisten bergulir sejak 2023 ini turut mendapat apresiasi penuh dari jajaran pimpinan fakultas. Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UMM, Dr. Zainul Anwar, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menegaskan bahwa pihak universitas akan selalu proaktif dalam memfasilitasi program kemahasiswaan yang memberikan dampak nyata, terlebih sebagai sarana krusial untuk mengenalkan ilmu psikologi sejak dini kepada siswa SMA. “Kegiatan ini sangat penting dan positif untuk diikuti oleh anak SMA yang memang berminat di jurusan psikologi, dan harapannya para peserta tetap semangat menjaga kegiatan ini tetap terlaksana dengan baik ke depannya,” pungkas Zainul. Melalui semarak PsychoBoost! Vol. 4 ini, Fakultas Psikologi UMM kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang progresif. Kampus Putih tidak hanya berfokus mencetak akademisi yang ahli di atas kertas, tetapi juga proaktif mendampingi dan mempersiapkan generasi muda yang inovatif, berdaya saing global, serta siap menjadi motor penggerak kesejahteraan psikologis di tengah dinamika masyarakat luas.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pengecualian Batas Usia Masuk SD Minimal 5 Tahun 6 Bulan Soroti Kesiapan Belajar Anak

publika.id-Kemendikdasmen memberikan pengecualian batas usia calon murid SD menjadi minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli. Pengecualian ini ditujukan bagi anak yang memiliki kecerdasan/bakat istimewa dan dapat menyertakan rekomendasi kesiapan belajar dari psikolog profesional atau dewan guru sekolah tujuan. Batas usia ini menjadi sorotan pakar pendidikan karena kesiapan belajar anak berbeda-beda. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Arina Restian, menyoroti bahwa kompetensi guru menjadi sangat penting ketika aturan minimal 5,5 tahun masuk SD dijalankan. Arina menilai, guru tanpa kompetensi yang memadai justru berpotensi memaksakan standar belajar anak usia 7 tahun pada anak usia 5,5 tahun. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ucapnya, dikutip dari laman UMM, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, selama ini pendidikan guru (SD) cenderung lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk anak usia 7-12 tahun. Dalam hal ini, Kemendikdasmen dinilai perlu menggelar pelatihan khusus bagi guru kelas 1 SD agar mampu menghadapi anak usia dini. Pembelajaran Harus Disesuaikan 1. Menghadirkan Kelas 1 Transisi dengan suasana belajar yang ramah anak dan memiliki sudut bermain. 2. Asesmen awal dilakukan selama masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa. 3. Membangun komunikasi intensif dengan orang tua terkait ekspektasi akademik anak. Sebagai contoh, sekolah bisa menerapkan strategi pembelajaran sesuai daya tahan fokus belajar anak usia 5,5 tahun, sekitar 15 menit. Misalnya dengan pendekatan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain”. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” paparnya. Dr Arina mengatakan, aturan minimal 5,5 tahun bisa masuk SD sebaiknya tidak dipukul rata dan tetap bersifat opsional dengan asesmen kesiapan psikologis anak yang ketat. Hal ini sebagaimana keterangan yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto. Terkait minimal usia minimal 5,5 tahun, itu merupakan pengecualian. Poinnya bukan pada usia melainkan kesiapan. Dalam hal ini, anak tersebut harus memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa serta kesiapan psikis. Ini dibuktikan dengan surat keterangan dari ahli yang memiliki otoritas untuk melegitimasi, seperti psikolog. “Jadi harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap. Dari siapa? Dari ahlinya, psikolog yang terpercaya di daerah setempat, pasti tahu ya siapa yang paling punya otoritas atau siapa yang tahu, kemudian bisa diterima di sekolah. Jadi tidak harus usianya 7 tahun,” jelas Gogot. Berapa Usia Ideal Masuk SD Menurut Psikolog? Psikolog dan akademisi dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, mengatakan bahwa usia kesiapan masuk sekolah setiap anak bisa berbeda-beda. Kematangan anak dalam belajar bisa dimulai sejak 6 tahun, bahkan ada yang 5 tahun. Sementara 7 tahun merupakan usia kematangan rata-rata. “Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang? Karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata,” kata Guru Besar di Fakultas Psikologi UNS tersebut, seperti dikutip dari arsip detikEdu. Sementara itu, menurut pakar psikologi perkembangan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Afia Fitriana, S Psi, M Psi, menjelaskan bahwa standar anak masuk sekolah didasarkan pada kesiapan belajar, bukan usia. Kesiapan itu antara lain dilihat dari perkembangan fisik, mental, sosial, dan emosional. “Aspek-aspek perkembangan umum yang perlu diperhatikan, termasuk perkembangan belajar, perkembangan gerak, perkembangan bicara, perkembangan diri, dan perkembangan kontrol tangan,” jelasnya dalam laman resmi UNS.

Anak Umur 5,5 Tahun Bisa Masuk SD, Pakar Pendidikan Ungkap Risiko Psikis Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.co.id dengan judul Anak Umur 5,5 Tahun Bisa Masuk SD, Pakar Pendidikan Ungkap Risiko Psikis, https://pontianak.tribunnews.com/pendidikan/1174253/anak-umur-55-tahun-bisa-masuk-sd-pakar-pendidikan-ungkap-risiko-psikis.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID– Kebijakan baru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) kembali menjadi perhatian publik.  Aturan tersebut membuka peluang bagi anak berusia minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli untuk mengikuti pendidikan SD, khusus bagi mereka yang dinilai memiliki kecerdasan maupun bakat istimewa. Namun, kebijakan itu tidak berlaku secara otomatis untuk semua anak. Orang tua tetap diwajibkan melampirkan rekomendasi kesiapan belajar yang diterbitkan oleh psikolog profesional atau dewan guru dari sekolah tujuan sebagai dasar pertimbangan penerimaan siswa. Pakar pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Arina Restian, menilai penerapan aturan tersebut harus dibarengi kesiapan tenaga pendidik di sekolah dasar. Menurutnya, kemampuan guru menjadi faktor utama agar proses belajar anak usia dini tidak menimbulkan tekanan psikologis. Ia menjelaskan, guru yang belum mendapatkan pelatihan khusus berisiko menerapkan standar pembelajaran anak usia tujuh tahun kepada murid yang baru berusia 5,5 tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak buruk terhadap perkembangan mental maupun minat belajar anak. “Jika guru belum memiliki peningkatan kompetensi melalui pelatihan yang sesuai, maka ada kemungkinan mereka memberikan tuntutan belajar yang belum sejalan dengan tahap perkembangan anak usia 5,5 tahun. Dampaknya bisa serius, mulai dari anak mengalami stres, kehilangan motivasi sekolah, hingga mendapat cap sebagai anak lambat belajar, padahal sebenarnya mereka masih berada dalam fase perkembangan yang wajar,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi UMM, Jumat 29 Mei 2026. Arina juga menyoroti sistem pendidikan calon guru SD yang selama ini lebih banyak diarahkan untuk menangani peserta didik usia 7 hingga 12 tahun. Karena itu, ia mendorong Kemendikdasmen untuk segera menghadirkan pelatihan khusus bagi guru kelas 1 SD agar mampu memahami karakteristik dan kebutuhan belajar anak usia dini. Menurutnya, pendekatan pembelajaran di kelas juga harus diubah apabila sekolah menerima murid dengan usia lebih muda. Ia menekankan bahwa lingkungan belajar tidak boleh terlalu akademis dan harus tetap memberi ruang bermain bagi anak. Beberapa langkah yang disarankan antara lain menghadirkan kelas transisi di tingkat awal SD dengan suasana yang lebih ramah anak, menyediakan area bermain edukatif di ruang kelas, hingga menerapkan asesmen awal selama masa orientasi sekolah untuk mengetahui kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa. Selain itu, komunikasi antara sekolah dan orang tua juga dinilai perlu diperkuat. Hal tersebut penting agar ekspektasi akademik terhadap anak tetap realistis dan sesuai dengan tahapan perkembangan usianya. Arina menambahkan, keberhasilan kebijakan ini tidak hanya ditentukan oleh aturan usia semata, tetapi juga kesiapan ekosistem pendidikan secara menyeluruh, mulai dari guru, metode belajar, hingga dukungan keluarga di rumah.

Tepatkah Usia 5,5 Tahun Sudah Masuk SD? Pakar Pendidikan Soroti Kompetensi Guru

Detik.com Jakarta -Kemendikdasmen memberikan pengecualian batas usia calon murid SD menjadi minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli. Pengecualian ini ditujukan bagi anak yang memiliki kecerdasan/bakat istimewa dan dapat menyertakan rekomendasi kesiapan belajar dari psikolog profesional atau dewan guru sekolah tujuan. Batas usia ini menjadi sorotan pakar pendidikan karena kesiapan belajar anak berbeda-beda. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Arina Restian, menyoroti bahwa kompetensi guru menjadi sangat penting ketika aturan minimal 5,5 tahun masuk SD dijalankan. Arina menilai, guru tanpa kompetensi yang memadai justru berpotensi memaksakan standar belajar anak usia 7 tahun pada anak usia 5,5 tahun. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ucapnya, dikutip dari laman UMM, Jumat (29/5/2026). Menurutnya, selama ini pendidikan guru (SD) cenderung lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk anak usia 7-12 tahun. Dalam hal ini, Kemendikdasmen dinilai perlu menggelar pelatihan khusus bagi guru kelas 1 SD agar mampu menghadapi anak usia dini. Pembelajaran Harus Disesuaikan Dr Arina menyebut, jika anak 5,5 tahun sudah masuk SD, maka manajemen pembelajaran harus disesuaikan, antara lain dengan: 1. Menghadirkan Kelas 1 Transisi dengan suasana belajar yang ramah anak dan memiliki sudut bermain. 2. Asesmen awal dilakukan selama masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa. 3. Membangun komunikasi intensif dengan orang tua terkait ekspektasi akademik anak. Sebagai contoh, sekolah bisa menerapkan strategi pembelajaran sesuai daya tahan fokus belajar anak usia 5,5 tahun, sekitar 15 menit. Misalnya dengan pendekatan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain”. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” paparnya. Dr Arina mengatakan, aturan minimal 5,5 tahun bisa masuk SD sebaiknya tidak dipukul rata dan tetap bersifat opsional dengan asesmen kesiapan psikologis anak yang ketat. Hal ini sebagaimana keterangan yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto. Terkait minimal usia minimal 5,5 tahun, itu merupakan pengecualian. Poinnya bukan pada usia melainkan kesiapan. Dalam hal ini, anak tersebut harus memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa serta kesiapan psikis. Ini dibuktikan dengan surat keterangan dari ahli yang memiliki otoritas untuk melegitimasi, seperti psikolog. “Jadi harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap. Dari siapa? Dari ahlinya, psikolog yang terpercaya di daerah setempat, pasti tahu ya siapa yang paling punya otoritas atau siapa yang tahu, kemudian bisa diterima di sekolah. Jadi tidak harus usianya 7 tahun,” jelas Gogot. Berapa Usia Ideal Masuk SD Menurut Psikolog? Psikolog dan akademisi dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, mengatakan bahwa usia kesiapan masuk sekolah setiap anak bisa berbeda-beda. Kematangan anak dalam belajar bisa dimulai sejak 6 tahun, bahkan ada yang 5 tahun. Sementara 7 tahun merupakan usia kematangan rata-rata. “Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang? Karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata,” kata Guru Besar di Fakultas Psikologi UNS tersebut, seperti dikutip dari arsip detikEdu. Sementara itu, menurut pakar psikologi perkembangan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Afia Fitriana, S Psi, M Psi, menjelaskan bahwa standar anak masuk sekolah didasarkan pada kesiapan belajar, bukan usia. Kesiapan itu antara lain dilihat dari perkembangan fisik, mental, sosial, dan emosional. “Aspek-aspek perkembangan umum yang perlu diperhatikan, termasuk perkembangan belajar, perkembangan gerak, perkembangan bicara, perkembangan diri, dan perkembangan kontrol tangan,” jelasnya dalam laman resmi UNS.

Makan Daging Kurban Tanpa Takut Kolesterol Naik, Simak Tipsnya

Esposin, MALANG — Satu hal yang menjadi kekhawatiran banyak orang ketika makan daging kurban Hari Raya Iduladha adalah naiknya kadar kolesterol dalam tubuh. Banyak yang berpandangan bahwa daging sapi maupun kambing/domba yang biasa disembelih untuk hewan kurban berpotensi menaikkan kadar kolesterol. Dilansir Bisnis.com dari Cleveland Clinic dan National Jewish Health, kolesterol tinggi merupakan kondisi ketika seseorang mempunyai banyak zat lemak dalam darah. Biasanya, penderita mengalami gejala nyeri dada, muncul benjolan pada mata, sering merasa ngantuk, dan kram pada malam hari. Kolesterol tinggi umumnya disebabkan karena mengonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh seperti mentega, biskuit, keju, santan, atau kuning telur. Adapun faktor lain yaitu kurang melakukan aktivitas fisik dan kebiasaan merokok. Kolesterol maupun asam urat bisa dicegah dengan tetap menikmati daging kurban. Kuncinya adalah menikmati daging tersebut dengan porsi yang wajar dan mengolahnya dengan benar. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ayu Diawi Ismayawati menegaskan sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, menakar porsi, dan menyimpannya. Daging sapi maupun kambing sejatinya mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh jika porsinya wajar. Masalah baru timbul saat konsumsi dilakukan secara berlebihan, apalagi jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental. Pengolahan daging seperti ini rawan memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak,” katanya seperti dikutip Bisnis.com, Kamis (28/5/2026). Teknik Trimming Bagian yang paling perlu dibatasi, lanjut Ayu, adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi. Untuk itu, masyarakat disarankan menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging segar sebelum dimasak. Pakar teknologi pangan ini juga merekomendasikan metode perebusan awal, di mana kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan, menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung. “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” lanjut Ayu. Terkait manajemen penyimpanan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya. Sebagai langkah pencegahan, orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” ucapnya. Kandungan Kolesterol Daging Kurban Mengenai kandungan kolesterol pada daging kurban, Kemenkes melalui laman resminya menginformasikan 100 gram daging kambing mengandung lemak total 9,2 gram dan kolesterol 70 miligram (mg). Sedangkan daging sapi, dalam 100 gramnya mengandung lemak 14 gram dan kolesterol 70 miligram. Kemudian melansir dari djkn.kemenkeu.go.id, dalam penelitian diketahui daging kambing memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang lebih rendah dibanding daging yang lain. Kandungan lemak rata-rata pada kambing adalah 20%, sedangkan pada sapi adalah 25%. Angka lemak pada domba justru paling tinggi, yaitu 30%. Sedangkan untuk kolesterol, daging kambing juga terbilang paling rendah yakni dengan kadar kolesterol hanya 5-39mg/100 gr, sedangkan sapi adalah 42-78 mg/100 gr. Berikut beberapa tips kesehatan untuk masyarakat agar terhindar dari beberapa penyakit setelah mengonsumsi daging kurban: Bagi yang mempunyai riwayat hipertensi atau penyakit pencernaan, sebaiknya memakan daging secukupnya. Pilih beberapa daging yang sudah diolah dengan baik. Misalnya sudah banyak makan satai, jangan tambah lagi makan gulai Cari bahan tambahan yang tidak menimbulkan masalah kesehatan seperti minyak, santan, rempah-rempah Untuk mengindari penyakit seperti hipertensi dan gangguan pencernaan, lebih baik adalah daging dengan olahan dalam bentuk sup dan menghindari makanan yang berlemak Jangan lupa untuk mengomsumsi buah dan sayuran. Misalnya mentimun, tomat dan wortel Jangan lupa berolahraga sehingga aliran darah tetap lancar dan bisa membuang kelebihan kalori.

Daging Kurban Bukan Penyebab Asam Urat dan Kolesterol? Ini Penjelasannya

Metrotvnews-Jakarta: Euforia Iduladha kerap dilalui dengan konsumsi daging kurban bersama keluarga dan teman di rumah. Tak jarang konsumsi daging saat Iduladha melebihi batas yang ditentukan. Di balik kemeriahan itu, penyakit kolesterol dan asam urat menjadi ancaman. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, menegaskan bahwa sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, memporsikan, dan menyimpannya. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak,” ujar Ayu, mengutip laman UMM, Jumat, 29 Mei 2026. Ia menjelaskan, daging kurban baik sapi maupun kambing sejatinya mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh jika porsinya wajar. Masalah baru timbul saat konsumsi dilakukan secara berlebihan. Ayu menambahkan risiko bertambah jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental. Menurutnya, hal tersebut mampu memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat. “Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” jelasnya. Tips pengolahan Ayu menyarankan masyarakat menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging kurban segar sebelum dimasak. Langkah tersebut berguna mencegah risiko kesehatan. Pakar teknologi pangan itu juga merekomendasikan metode perebusan awal. Kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan. “Menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung,” tambahnya. Ayu menuturkan, jika membuat gulai atau tongseng, santan jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. “Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” tuturnya. Ilustrasi Pexels Teknik penyimpanan Ia menekankan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging kurban beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. “Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya. Ayu mengingatkan orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” ucapnya.

UMM Satu-satunya Kampus Swasta di Malang Raya Borong Pendanaan PPK Ormawa Nasional 2026

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmennya dalam mencetak agen perubahan yang berdampak nyata bagi masyarakat. Terbaru, empat tim Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) Kampus Putih secara resmi dinyatakan lolos pendanaan nasional dan diapresiasi dalam Program Penguatan Kapasitas (PPK) Ormawa 2026. Torehan ini diterima dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). UMM juga menjadi satu-satunya kampus swasta di Malang Raya yang lolos program pendanaan tersebut. Maka, capaian ini menjadi bukti konkret bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul di ruang kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi inovatif dan aplikatif untuk menjawab tantangan riil di akar rumput. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa raihan membanggakan ini merupakan buah dari proses seleksi dan pendampingan panjang. Proses tersebut dimulai sejak akhir tahun lalu guna menyaring ratusan pendaftar hingga terpilih proposal terbaik. Ia memaparkan, bahwa pihak kampus melakukan seleksi ketat secara bertahap dan mengadakan pemusatan latihan bagi sepuluh tim unggulan, sebelum akhirnya empat proposal sukses menembus seleksi nasional. “Kami memastikan mahasiswa tidak dilepas begitu saja. Pendampingan komprehensif kami berikan sejak tahap awal penyusunan proposal, di mana tim ahli kampus turun langsung membantu mematangkan ide dan rasionalisasi program,” ungkap Ary pada rilis UMM Jumat (29/5). “Puncaknya, tim-tim unggulan ini kami tarik masuk ke tahap camp atau karantina khusus. Di masa karantina inilah seluruh gagasan mereka digembleng dan dimantapkan secara intensif, sehingga inovasi yang dibawa tidak hanya bagus di atas kertas, tetapi benar-benar aplikatif dan siap dieksekusi di desa,” imbuhnya. Gagasan yang berhasil lolos didanai mengusung fokus pada pemberdayaan potensi lokal berbasis teknologi. Beberapa inovasi tersebut di antaranya diusung oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Agribisnis (HIMAGRI) melalui program CRAFT-HUB, yakni inovasi dan strategi digital marketing berbasis business incubation tanaman mendong untuk mewujudkan sentra wirausaha produk kreatif di Desa Blayu. Kemudian, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan (BEM FPP) UMM turut lolos dengan merancang Smart Multifunctional Fermentor berbekal sistem karbonasi terkontrol guna meningkatkan mutu dan nilai tambah kopi petani di Desa Klampok. Lalu, Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (HIMATEKPA) berfokus mewujudkan Desa Sukolelo menjadi kawasan eduwisata terintegrasi sumber segaran dan kampung herbal melalui capacity building dan optimalisasi budidaya menggunakan Internet of Things (IoT). Terkait ragam inovasi tersebut, Ary menegaskan bahwa pendampingan mahasiswa harus berfokus pada penciptaan nilai tambah ekonomi dan keberlanjutan usaha masyarakat. “Secara garis besar, inovasi yang diterapkan adalah kita tidak hanya membantu mem-branding desa, melainkan juga menitikberatkan bagaimana keberlanjutan dari program ini menjadi salah satu tumpuan utama desa tersebut,” tegasnya. Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., juga berpesan agar keberhasilan meraih pendanaan ini dimaknai sebagai langkah awal. Baginya, esensi utama dari pencapaian ini adalah memastikan keberlanjutan program demi kesejahteraan masyarakat desa yang didampingi. “Jadi, pendampingan yang berkesinambungan menjadikan program ini tidak hanya sekadar lolos seleksi dan didanai. Lebih dari itu, bagaimana nanti program ini sangat berdampak pada masyarakat, utamanya bagi keberlanjutan usaha yang ada di lingkungan yang di-support oleh Belmawa dan juga UMM,” tandas Subeki.

Kuliah Tamu PGSD UMM Hadirkan Tiga Pembicara Lintas Negara Bahas Program Unggulan SD Inklusif dan Berpihak Pada Siswa

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tanggal 25 Mei 2026 di aula BAU UMM menggelar kuliah tamu bertajuk Program Unggulan SD yang Inklusif dan Berpihak pada Murid. Kuliah tamu ini menghadirkan tiga pembicara lintas negara mengupas masa depan sekolah inklusif dari sudut pandang psikologi, kemanusiaan, hingga pemanfaatan teknologi digital. Tampak pembicara kuliah tamu PGSD UMM bersama sejumlah unsur pimpinan PGSD UMM. Dean Bragonier, Founder and Executive Dyslexic dari NoticeAbility, Kanada, membuka sesi dengan memaparkan data tentang anak disleksia tumbuh dengan keyakinan keliru bahwa mereka tidak mampu, lalu memilih untuk menyerah. Hal ini disebabkan kegagalan sistem pendidikan konvensional dalam merangkul cara belajar anak disleksia berisiko mengubur potensi besar mereka. Statistik menunjukkan 59% anak disleksia berisiko gagal menyelesaikan kuliah, dan sebagian besar dari mereka kerap terjebak pada masalah kepercayaan diri yang rendah. Namun, melalui pendekatan Learned Optimism di kurikulum NoticeAbility menjadi solusi mengatasinya. Kurikulum NoticeAbility dirancang untuk melejitkan kekuatan otak disleksia yang dikenal dengan paradigma M.I.N.D. Strengths—yaitu keunggulan dalam penalaran material, berpikir interkonektif, kecerdasan naratif, hingga penalaran dinamis. Pembicara kuliah tamu PGSD ketika menyampaikan materi. Kurikulum berbasis proyek (project-based) ini mengarahkan anak-anak tersebut pada bidang kewirausahaan (entrepreneurship), arsitektur, teknik, dan seni. “Ingat, 35% pengusaha sukses di dunia adalah penyandang disleksia. Tugas kita bukan menyembuhkan mereka, melainkan membongkar penghalang di lingkungan belajar mereka,” tegas Dean. Adalah pemateri berikutnya Bodhi Bragonier, dari International Youth Ambassador & Course Instructor NoticeAbility. Pengalaman empiris tentang  metode Social Emotional Learning (SEL) mampu mengubah cara pandang anak disleksia terhadap diri mereka sendiri. Berdasarkan metrik dampak programmatic NoticeAbility, intervensi SEL terbukti meningkatkan harga diri (self-esteem) dan rasa percaya diri anak hingga lebih dari 80%, sekaligus memperbaiki relasi sosial mereka dengan teman sebaya. Pembicara kuliah tamu PGSD ketika menyampaikan materi. Ekosistem Digital “SILLA MUTU” untuk Sekolah Inklusi Muhammadiyah pendidikan inklusif yang ideal tentu tidak bisa tegak hanya dengan metode, tetapi membutuhkan ekosistem sekolah yang adaptif dan suportif. Menjawab tantangan tersebut, Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D., Dosen sekaligus Ketua Program Studi Psikologi UMM, memaparkan strategi praktis adaptasi sekolah di era digital. Salah satu tantangan sekolah inklusi di Indonesia adalah keterbatasan kompetensi guru, fasilitas yang belum ramah disabilitas, serta kurikulum yang belum terdiferensiasi dengan baik. “Era digital membawa angin segar. Prinsip utamanya adalah Universal Design for Learning (UDL), di mana teknologi digunakan untuk meminimalkan hambatan belajar di kelas,” jelasnya. Peserta kuliah tamu saat mendengarkan materi dengan topik utama Program Unggulan SD Inklusif dan Berpihak Pada Siswa. Pemanfaatan assistive technology seperti pemindai suara (text-to-speech dan speech-to-text), screen reader, hingga gamifikasi edukasi menjadi instrumen penting agar anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama tanpa merasa terdiskriminasi. Ni’matuzahroh memperkenalkan inovasi sistem digital terintegrasi bernama SILLA MUTU (Sistem Literasi Inklusif dan Kolaborasi Bermutu). Sistem berbasis web ini mengintegrasikan tiga pilar utama: platform asesmen literasi akademik, sistem pendukung keputusan belajar berbasis data, dan ruang kolaborasi digital antara guru kelas, Guru Pendamping Khusus (GPK), serta orang tua murid. “SILLA MUTU dirancang sebagai akselerator agar sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak sekadar melabeli diri sebagai sekolah inklusi, melainkan benar-benar menjadi sekolah yang Welcoming (menghargai keragaman), Adaptive (fleksibel terhadap kebutuhan), dan Progressive (berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan),” jelas Ni’matuzahroh. Kuliah tamu ini diakhiri dengan sebuah refleksi bersama bahwa pendidikan inklusif bukanlah beban administratif bagi sekolah, melainkan sebuah gerakan kemanusiaan. Sinergi antara keahlian internasional yang dibawa oleh NoticeAbility serta inovasi lokal lewat riset SILLA MUTU UMM diharapkan mampu melahirkan lingkungan belajar sekolah dasar di Indonesia yang benar-benar berpihak pada murid, tanpa ada satu pun anak yang tertinggal di belakang. Sekedar tambahan sebelum kuliah tamu peserta disuguhi ilustrasi pengondisian psikologis klasik tentang (learned helplessness) ditampilkan di layar. Teori lawas milik psikolog Martin Seligman ini sengaja diangkat  untuk menyambut tema Program Unggulan SD yang Inklusif dan Berpihak pada Murid”, realitas pahit mengenai diskriminasi pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus kembali digugah.

Nazaruddin Malik: Kurban Harus Bisa Menggerakkan Kesejahteraan Umat

KLIKMU.CO – Peringatan Idul Adha tidak semestinya dimaknai sebatas ritual penyembelihan hewan kurban. Di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan kesenjangan sosial yang masih terjadi, momentum Idul Adha harus menjadi sarana memperkuat kepedulian sosial sekaligus menggerakkan kesejahteraan ekonomi umat. Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi dalam Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di halaman Masjid Akbar Moed’har Arifin, Sedayu, Gresik, Rabu (27/5/2026). Menurutnya, keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengajarkan totalitas pengabdian dan pengorbanan kepada Allah SWT yang diwujudkan melalui kesalehan spiritual dan sosial secara bersamaan. “Idul Adha harus membentuk pribadi yang rela memberi, bukan hanya pandai memiliki; rela berbagi, bukan hanya sibuk menumpuk,” ujarnya. Nazaruddin menjelaskan, nilai kurban dapat dipahami melalui perspektif Tauhid Rahmatiyah, yakni pemahaman tauhid yang tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi harus melahirkan manfaat sosial bagi masyarakat. Menurutnya, tauhid yang sejati harus mencerminkan sifat kasih sayang Allah SWT sehingga mampu menghadirkan kesejahteraan, mengembangkan ekonomi peradaban, dan menebarkan kedamaian. “Ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial dan membuat manusia hidup lebih sejahtera,” katanya. Dia menambahkan, nilai tersebut tercermin dalam pengelolaan dan distribusi daging kurban. Jika dilakukan secara profesional dan amanah, kurban dapat menjadi instrumen pemerataan manfaat sekaligus mendukung pemberdayaan peternak lokal. Selain itu, panitia kurban juga perlu memastikan distribusi daging menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang mengalami kesulitan ekonomi tetapi menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta. “Dengan semangat ini, kurban menjadi pelajaran bahwa setiap nikmat harus dikelola dengan benar dan dibagikan secara adil,” tambahnya. Nazaruddin menegaskan, semangat berkorban dan berbagi tidak boleh berhenti setelah bulan Zulhijah berakhir. Ibadah kurban harus menjadi titik awal untuk membangun budaya kejujuran, kepedulian tanpa pamrih, penguatan ekonomi halal, serta pelayanan kepada kaum duafa secara berkelanjutan. (Faqih/AS)

10 Kampus Swasta Terbaik di Indonesia 2026 Versi Webometrics, Bisa Jadi Pilihan Kuliah

JATIMTIMES – Memilih kampus untuk melanjutkan pendidikan tinggi menjadi salah satu keputusan penting bagi para siswa yang baru lulus SMA sederajat. Meski perguruan tinggi negeri (PTN) masih menjadi incaran utama banyak calon mahasiswa, bukan berarti perguruan tinggi swasta (PTS) kalah kualitas. Saat ini, banyak kampus swasta di Indonesia yang mampu bersaing secara akademik, penelitian, hingga reputasi internasional. Bahkan beberapa di antaranya masuk dalam daftar perguruan tinggi  terbaik versi lembaga pemeringkatan dunia. Menjelang tahun akademik 2026/2027, sejumlah kampus swasta juga masih membuka penerimaan mahasiswa baru hingga Agustus atau awal September 2026. Karena itu, daftar kampus terbaik ini bisa menjadi referensi penting sebelum menentukan pilihan kuliah. Daftar Kampus Swasta Terbaik di Indonesia 2026 Versi Webometrics Lembaga pemeringkatan Webometrics kembali merilis daftar kampus  terbaik dunia periode Januari 2026. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator seperti visibilitas global, keterbukaan akses ilmiah, kualitas penelitian, hingga performa akademik kampus. Dalam daftar tersebut, kampus negeri memang masih mendominasi posisi teratas nasional. Namun, sejumlah perguruan tinggi swasta juga berhasil menunjukkan kualitasnya dan masuk jajaran universitas terbaik Indonesia. Berikut 10 kampus swasta terbaik di Indonesia tahun 2026 versi Webometrics: 1. Universitas Bina Nusantara (BINUS) • Peringkat Indonesia: 11 • Peringkat dunia: 1.268 BINUS dikenal sebagai salah satu kampus swasta unggulan dengan fokus kuat di bidang teknologi, bisnis, dan inovasi digital. Kampus ini juga memiliki jaringan internasional yang luas. 2. Telkom University • Peringkat Indonesia: 13 • Peringkat dunia: 1.310 Telkom University menjadi salah satu kampus favorit di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Berlokasi di Bandung, kampus ini terus berkembang dalam riset dan pengembangan digital. 3. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) • Peringkat Indonesia: 18 • Peringkat dunia: 1.760 UMY memiliki reputasi yang cukup kuat dalam bidang pendidikan, kesehatan, hingga hubungan internasional. Kampus ini juga aktif menjalin kerja sama global. 4. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) • Peringkat Indonesia: 21 • Peringkat dunia: 1.896 UMM dikenal dengan lingkungan kampus yang luas dan fasilitas pendidikan yang lengkap. Kampus ini menjadi salah satu universitas swasta terbaik di Jawa Timur. 5. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) • Peringkat Indonesia: 25 • Peringkat dunia: 2.248 UMS terus menunjukkan perkembangan dalam kualitas pendidikan dan publikasi ilmiah. Kampus ini juga memiliki banyak program studi unggulan. 6. Universitas Medan Area (UMA) • Peringkat Indonesia: 27 • Peringkat dunia: 2.393 Universitas Medan Area menjadi salah satu kampus swasta terbaik di Pulau Sumatera dengan perkembangan akademik yang cukup pesat. 7. Universitas Pelita Harapan (UPH) • Peringkat Indonesia: 33 • Peringkat dunia: 2.553 UPH dikenal memiliki fasilitas modern dan kualitas pendidikan internasional. Kampus ini cukup populer di kalangan mahasiswa dari berbagai daerah. 8. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) • Peringkat Indonesia: 36 • Peringkat dunia: 2.688 UKSW di Salatiga memiliki julukan “Indonesia Mini” karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. 9. Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) • Peringkat Indonesia: 39 • Peringkat dunia: 2.892 Unpar menjadi salah satu kampus swasta ternama di Bandung yang dikenal unggul dalam bidang arsitektur, hukum, dan teknik. 10. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta • Peringkat Indonesia: 40 • Peringkat dunia: 2.900 UAD terus mengalami peningkatan kualitas akademik dan penelitian dalam beberapa tahun terakhir. Kampus ini juga menjadi salah satu favorit di Yogyakarta. Daftar kampus swasta terbaik versi Webometrics 2026 ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi calon mahasiswa yang sedang menentukan pilihan perguruan tinggi. Selain mempertimbangkan ranking, calon mahasiswa juga sebaiknya melihat faktor lain seperti program studi unggulan, biaya kuliah, lokasi kampus, peluang kerja lulusan, hingga fasilitas pendukung pembelajaran.