Tak Sekadar Nilai Akademik, UMM Dorong Mahasiswa Kuasai Personal Branding dan Literasi Keuangan

Sukses masa depan tak hanya bergantung pada deretan nilai akademik, melainkan kepiawaian membaca peluang karier dan mengelola literasi finansial. Menjawab urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Paragon menggelar kuliah umum bertajuk “Langkah Emas Generasi Emas”. Acara yang dilangsungkan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM pada Senin (8/6) ini secara tajam membedah kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan industri, termasuk urgensi manajemen keuangan strategis seperti tabungan haji hingga investasi emas. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa puncak bonus demografi Indonesia pada 2045 tidak akan memberikan manfaat riil jika tidak diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Ia menilai tantangan pembangunan ke depan kian kompleks, sehingga perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak mahasiswa sebagai agen perubahan yang berintegritas. Pembangunan kapasitas diri, menurutnya, mutlak dilakukan sejak di bangku perkuliahan. “Indonesia Emas bukan sesuatu yang hadir secara otomatis. Generasi muda harus mempersiapkan diri sejak hari ini melalui pendidikan, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar. Jika kesempatan besar itu tidak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi justru bisa berubah menjadi tantangan,” tegas Juanda. Sejalan dengan hal tersebut, Area Manager Malang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Waskito Vergino, S.T., MBA., M.Sc., menjabarkan bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan sektor industri merupakan katalisator pencetak generasi tangkas. Ia menyebutkan bahwa BSI sangat membutuhkan pasokan SDM yang adaptif terhadap dinamika bisnis. Mahasiswa saat ini memegang peranan krusial sebagai pelaku utama roda perekonomian dan pembangunan nasional di masa depan. “Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa generasi yang memiliki keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Karena itu, kami ingin hadir bersama kampus untuk memberikan wawasan serta pengalaman yang dapat menjadi bekal mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tuturnya. Dari perspektif pengembangan karier, Vice President Islamic Education & Halal Solution BSI, Hikmah Rizka Maslahatin, S.Si., S.I.Kom., M.Si., mengajak mahasiswa memaksimalkan masa studi sebagai arena transformasi pribadi. Merespons disrupsi teknologi yang melesat cepat, ia mengingatkan bahwa kemampuan akademik semata tidak lagi cukup. Mahasiswa dituntut ekstra dalam membangun komunikasi dan rekam jejak diri yang solid. “Skill dan pengetahuan itu penting, tetapi saat ini belum cukup. Mahasiswa juga harus memiliki personal branding, kemampuan berkolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar karena perubahan terjadi sangat cepat. Dunia kerja membutuhkan individu yang siap berkembang, bukan hanya siap bekerja,” jelas Hikmah. Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi persaingan global tidak lagi berpusat pada seberapa kuat seseorang berkompetisi, melainkan seberapa cakap ia membangun jejaring dan berkolaborasi. Melalui agenda ini, mahasiswa UMM didorong untuk segera merumuskan langkah konkret pascakampus. Harapannya, mereka lulus tidak hanya dengan predikat akademik memuaskan, tetapi juga matang secara finansial, berkarakter tangguh, dan memiliki kepekaan sosial tinggi untuk mewujudkan visi Indonesia Emas yang sesungguhnya.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Gebyar Fun Tahes Tandai Dibukanya Rector Cup UMM 2026

Lebih dari 6.000 sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti giat Fun Tahes Rector Cup 2026, Minggu (7/6). Mengambil garis start di Helipad Kampus III, kegiatan lari sejauh lima kilometer ini digelar untuk mengampanyekan gaya hidup sehat. Antusiasme ribuan peserta ini tidak hanya dari giat Fun Tahes saja, tetapi juga deretan doorprize mulai dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik siap dibawa pulang oleh peserta yang beruntung. Serta berbagai hiburan menarik mulai dari senam sehat hingga musik yang menghadirkan Band SemalamSuntuk. Hadir menyapa para peserta, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. Ia berpesan agar para mahasiswa tetap konsisten menjaga keseimbangan antara fisik yang bugar dan semangat menimba ilmu. “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” jelasnya. Lebih lanjut, kemeriahan giat ini juga dirangkai dengan penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan studentday telah dilaksanakan selama satu semester untuk membekali mahasiswa baru dengan berbagai pengalaman sosial dan kemasyarakatan. “Melalui garis start ini, kompetisi bergengsi tingkat universitas resmi dimulai, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025. Selamat berlari dan junjung tinggi sportivitas,” ungkapnya. Disisi lain, Ketua Panitia Rektorcup sekaligus Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa Kampus Putih selalu siap dan berkomitmen penuh dalam mewadahi berbagai potensi mahasiswanya. Ia menjelaskan bahwa ajang Rector Cup ini dirancang secara khusus sebagai langkah strategis universitas dalam melakukan penjaringan bibit-bibit unggul, guna mempersiapkan delegasi mahasiswa untuk bersaing di kompetisi bergengsi tingkat nasional hingga internasional. “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rector Cup. Kami ingin memastikan bahwa setiap minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa tidak hanya difasilitasi, tetapi juga diapresiasi serta dibina secara berkelanjutan agar mereka siap menorehkan prestasi di kancah yang lebih luas,” tegasnya. Kemeriahan acara ini diakui langsung oleh para peserta. Nayla Auvara Izzetiyya, salah satu mahasiswa, mengungkapkan rasa antusiasmenya karena bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika. Ia merasa kegiatan semacam ini sangat efektif untuk menghilangkan penat setelah menjalani rutinitas perkuliahan. “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bareng teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize-nya sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan event sebesar dan semeriah ini,” pungkasnya.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor; Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Cegah Mahasiswa Burnout, Kuliah Subuh Jadi Wadah Recharge Energi Spiritual

Mahasiswa UMM dihindarkan dari potensi burnout dengan Kuliah Subuh sebagai recharge energi spiritual./dok.UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memperhatikan fenomena hustle culture dan rentannya mahasiswa Generasi Z mengalami burnout atau kelelahan mental. Maka dari itu, demi menjaga kesehatan mental yang tidak cukup hanya dengan sekadar berlibur, UMM melalui Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) menggelar Kuliah Sabtu Subuh pada Sabtu, 6 Juni. Kegiatan ini menjadi bagian dari praktikum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II dan dirancang secara khusus sebagai wadah pengisian ulang atau recharge energi spiritual mahasiswa. Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., dihadirkan dengan membawa kajian keislaman. Tema yang diangkat pun lekat dengan keseharian sivitas akademika, yakni ‘Energi Positif dari Ibadah, Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa’. Ratusan mahasiswa yang hadir sejak pukul 03.00 WIB diajak untuk melaksanakan qiyamul lail dan salat Subuh berjamaah, sebelum mendalami refleksi sosiologis tentang makna ibadah yang mulai tergeser oleh padatnya aktivitas akademik. Syamsul menganalogikan kondisi mahasiswa yang sering merasa kelelahan, stres, dan overthinking layaknya baterai gawai pintar yang kehabisan daya. Ia menyoroti bagaimana ritme kehidupan komunikasi manusia modern yang serba digital kerap kali kehilangan arah karena bergerak terlalu cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa jeda. “Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin,” ujar Syamsul mengutip gagasan dari buku The Power of Full Engagement. Syamsul memaparkan, kesuksesan sejati manusia dibangun di atas relasi tiga modal utama, yakni spiritual, sosial, dan material. Modal material dinilai akan kehilangan arah jika tidak ditopang oleh modal spiritual sebagai fondasi penentu makna hidup. Kemudian, dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, ibadah sejatinya adalah sarana bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang berfungsi krusial sebagai relaksasi mental di tengah penatnya perkuliahan. “Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelas Syamsul. Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengisi Kuliah Sabtu Subuh (6/6)./dok.UMM Ia juga menekankan pentingnya mindfulness atau kesadaran penuh dalam beribadah, bukan sekadar rutinitas jasmani belaka. Menurutnya, banyak orang di era modern yang terjebak pada sekadar gerakan fisik demi menggugurkan kewajiban agama, tanpa menghadirkan hati dan jiwa di dalamnya. “Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” beber Syamsul. Ia juga mengingatkan kembali esensi syair Ibnu Arabi tentang orang yang salat namun hanya mendapatkan kelelahan fisik. Kesuksesan sejati seorang mahasiswa, menurut Syamsul, tidak hanya diukur dari tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau jabatan mentereng di organisasi, melainkan kemampuannya menjadikan seluruh interaksi sosial dan aktivitasnya bernilai ibadah. Menurutnya, setiap langkah di bangku perkuliahan sepatutnya dilandasi dengan ikhlas (niat karena Allah), ihsan (menghadirkan kebaikan), dan itqan (kesungguhan). Melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual inilah, mahasiswa UMM diharapkan mampu terus bertumbuh menjadi insan yang tangguh, berilmu, sekaligus berakhlak mulia di era yang kian kompleks. *** Editor: YAN

Menuju Kursi Sekda Definitif Kota Batu, Pengamat Bedah Dua Calon Terkuat

Ilustrasi Balai Kota Among Tani Batu. Pemkot Batu tengah menanti hasil seleksi terbuka Sekda Kota Batu untuk pimpinan definitif tertinggi ASN yang masih kosong.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES) JATIMTIMES – Seleksi Terbuka (Selter) Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu menyisakan tiga kandidat terbaik menuju penentuan. Hal ini turut menuai sorotan dari berbagai kalangan. Di balik berjalannya tiap tahapan birokrasi tersebut, figur Sekda ke depan dinilai memegang peran krusial yang wajib memiliki integritas kokoh sekaligus piawai menjadi jembatan penghubung antara kepentingan korps pegawai dengan kepala daerah. Hingga saat ini, tiga pejabat senior Pemkot Batu yang masih bertahan dalam bursa calon jenderal birokrasi tersebut meliputi Kepala Dinas Pendidikan Alfi Nurhidayat, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Arief As Siddiq, dan Kepala Badan Pendapatan Daerah Mohammad Nur Adhim. Sementara yang gugur sebelumnya yakni ada Kepala Bakesbangpol Akhmad Dahlan, Kepala Bapelitbangda Bangun Yulianto, serta Inspektur Kota Batu Endro Wahjudi. Menanggapi peta persaingan yang kian mengerucut tersebut, Pengamat Sosial Politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., angkat bicara mengenai kriteria ideal pemimpin administrasi tertinggi di Bumi Kota Wisata. Dirinya menggarisbawahi bahwa sosok Sekda terpilih nantinya tidak boleh hanya sekadar unggul dalam kecakapan administratif semata. Lebih dari itu, calon Sekda definitif dituntut harus mampu menunjukkan loyalitas, dedikasi, serta komitmen yang kuat, baik dalam menjalankan roda pemerintahan maupun dalam menjaga marwah kehidupan pribadinya di ruang publik. Rekam jejak yang bersih tanpa cacat moral maupun hukum menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi demi melahirkan iklim birokrasi yang sehat. “Sekda ideal tentu harus memiliki rekam jejak yang bersih, berpengalaman, mempunyai jiwa pengabdian tinggi, serta memiliki komitmen, loyalitas, dan integritas yang tidak diragukan,” tutur Wahyudi saat memberikan pandangan akademisnya, belum lama ini. Melihat peta kekuatan dari nama-nama yang ada, Wahyudi tidak menampik jika dalam dinamika yang berkembang di lapangan, muncul dua figur yang dinilai merepresentasikan kandidat kuat. Kedua nama yang santer disebut-sebut bakal bersaing ketat tersebut adalah Alfi Nurhidayat dan Mohammad Nur Adhim, di mana masing-masing dinilai memiliki keunggulan komparatif pada bidang kerjanya. Sosok Alfi Nurhidayat dipandang memiliki kelebihan dalam hal penguasaan lapangan serta memiliki kedekatan emosional yang baik dengan elemen masyarakat bawah. Pengalaman kepemimpinannya juga teruji lantaran sebelum menakhodai Dinas Pendidikan, ia tercatat pernah memimpin Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Batu yang sarat dengan program pembangunan infrastruktur fisik. “Mas Alfi merupakan salah satu ASN yang memiliki komitmen, loyalitas, dan integritas tinggi terhadap pimpinan maupun lembaga tempat ia mengabdi,” katanya. Di sisi lain, figur Mohammad Nur Adhim dinilai sebagai birokrat yang memiliki kompetensi teknis sangat kuat dalam urusan pengelolaan keuangan dan pendapatan daerah. Keahliannya yang spesifik dalam menata sektor pajak dan retribusi daerah dianggap menjadi modal berharga bagi masa depan kemandirian fiskal Pemerintah Kota Batu. Selain membedah profil kandidat, Prof. Wahyudi juga memberikan catatan kritis mengenai pentingnya menjaga independensi tim Panitia Seleksi (Pansel) agar seluruh proses penilaian berjalan objektif. Hal ini krusial untuk memastikan hasil akhir selter benar-benar murni bebas dari intervensi kepentingan pribadi maupun kedekatan tertentu dengan para calon. Kendati demikian, ia mengakui bahwa mewujudkan independensi mutlak di tingkat lokal bukanlah perkara mudah, mengingat lingkup geografis dan relasi antarkomunitas di wilayah Malang Raya tergolong relatif sempit. Realitas tradisi di Indonesia menunjukkan bahwa mencari personalia pansel yang benar-benar steril dan tidak memiliki hubungan emosional atau kerja dengan para kandidat adalah tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, Wahyudi menegaskan bahwa benteng terakhir dari objektivitas seleksi ini bertumpu penuh pada komitmen personal dari para anggota pansel serta pemegang kekuasaan tertinggi di daerah. Seluruh pihak yang terlibat wajib menyingkirkan potensi konflik kepentingan agar Sekda yang lahir dari rahim seleksi ini benar-benar sosok terbaik yang mampu menakhodai birokrasi. Sebagai informasi, perjalanan enam calon yang mengerut menjadi tiga kandidat Sekda ini sebelumnya telah melewati ujian asesmen manajerial dan sosial kultural (mansoskul) yang digelar di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. Dalam tahapan tersebut, kemampuan para peserta dikuliti lewat berbagai instrumen mulai dari analisis studi kasus, simulasi penyelesaian problem pemerintahan, tes intelektual, hingga penggalian potensi personal. Usai merampungkan tahapan di Surabaya, para peserta dijadwalkan akan melanjutkan perjuangan di Balai Kota Among Tani melalui ujian pemaparan makalah dan wawancara akhir langsung di hadapan tim pansel. Menutup rangkaian seleksi formal, seluruh kandidat juga diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan jasmani dan rohani secara menyeluruh di RSUD Karsa Husada sebagai prasyarat mutlak sebelum nama Sekda definitif ditetapkan.

Penyebab Euforia Piala Dunia 2026 Tak Semeriah Dulu, Kenaikan Nilai Tukar Dolar Ikut Berpengaruh

Link copied! lihat foto X/FIFAWorldCup PIALA DUNIA SEPI – Jelang bergulirnya Piala Dunia 2026, gaung turnamen sepak bola terbesar di dunia dinilai tidak semeriah edisi-edisi sebelumnya. TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Euforia jelang turnamen sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia 2026, dinilai tidak semeriah edisi sebelumnya. Dulunya, menjelang Piala Dunia bergulir, banyak perkampungan yang mulai bersolek diri dalam menyambut event Akbar sepak bola dunia tersebut. Mulai dari menghiasi kampung dengan berbagai negara kontestan Piala Dunia, hingga menjadi obrolan hangat setiap hari di pojok kampung atau warung kopi. Namun, antusiasme tersebut kini terasa biasa-biasa saja. Seperti yang terasa di Malang, sebagai salah satu daerah yang cukup kuat dengan budaya sepak bola. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari menilai, perubahan tersebut erat kaitannya dengan transformasi sosial. Hal itu akibat dari perkembangan teknologi digital yang mengubah cara masyarakat mengkonsumsi informasi dan hiburan. Menurut Luluk, masyarakat saat ini hidup dalam era digital yang membuat pola konsumsi media menjadi semakin instan dan terfragmentasi. “Kalau dulu menonton sepak bola menjadi aktivitas kolektif. Orang rela begadang bersama keluarga atau teman-teman untuk menyaksikan pertandingan. Sekarang yang penting tahu hasil akhirnya saja,” katanya kepada TribunJatim.com, Sabtu (6/6/2026). Ia menjelaskan, generasi muda saat ini cenderung tidak lagi menikmati proses pertandingan secara utuh. Mereka lebih memilih mengakses informasi singkat melalui media sosial atau portal berita daripada menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan pertandingan. “Orang sekarang mencari yang praktis. Daripada menonton pertandingan selama 90 menit lebih, mereka cukup melihat skor akhir atau cuplikan pertandingan. Pola konsumsi informasi sudah berubah,” ucapnya. Perubahan juga dipengaruhi oleh hadirnya berbagai pilihan hiburan digital lain yang lebih menarik bagi generasi muda. Seperti bermain gim, media sosial, hingga aktivitas nongkrong bersama teman. Selain faktor teknologi, Luluk menilai, perbedaan zona waktu juga menjadi penyebab berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebagian besar pertandingan diperkirakan berlangsung pada dini hari waktu Indonesia, sehingga berbenturan dengan kebutuhan istirahat masyarakat yang memiliki ritme kerja semakin padat. “Tuntutan kerja sekarang tinggi. Banyak orang memilih tidur dan menjaga kondisi tubuh untuk bekerja keesokan harinya daripada begadang menonton pertandingan,” jelasnya. Kenaikan nilai tukar dolar juga berpengaruh Di sisi lain, Luluk melihat adanya faktor psikologis berupa kekecewaan kolektif terhadap prestasi sepak bola nasional. Menurutnya, minimnya pencapaian Indonesia di level dunia membuat sebagian masyarakat merasa tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap Piala Dunia. Seperti langkah Timnas Indonesia yang harus terhenti di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Padahal, saat itu, publik sangat berharap Jay Idzes dan kawan-kawan bisa menembus Piala Dunia 2026. “Mungkin ada semacam rasa kecewa karena tim nasional kita belum pernah sampai ke level itu. Akhirnya masyarakat merasa cukup mengikuti kompetisi yang lebih dekat dengan mereka, seperti liga lokal atau sepak bola Asia Tenggara,” ungkapnya. Luluk juga menyoroti kondisi ekonomi yang turut memengaruhi antusiasme masyarakat. Melemahnya daya beli akibat tekanan ekonomi membuat perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada kebutuhan sehari-hari dibandingkan mengikuti ajang olahraga internasional. “Kenaikan dolar dan tuntutan ekonomi juga berpengaruh. Orang sekarang lebih fokus pada kebutuhan hidup dibandingkan mengikuti euforia olahraga internasional,” katanya. Tak hanya itu, faktor geopolitik dinilai ikut memengaruhi minat publik. Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, yang kerap menjadi sorotan dalam isu politik global, disebut dapat memunculkan sikap apatis dari sebagian kelompok masyarakat. “Ada sebagian masyarakat yang melihat konteks geopolitik dan isu kemanusiaan. Itu juga bisa memengaruhi minat mereka untuk mengikuti Piala Dunia,” ujarnya. Untuk mengembalikan euforia sepak bola di tengah masyarakat, Luluk menilai, diperlukan dukungan yang lebih kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga. Salah satunya dengan memberikan penghargaan yang layak kepada atlet berprestasi sehingga masyarakat melihat bahwa prestasi olahraga benar-benar dihargai. Selain itu, promosi sepak bola perlu menyesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital yang dekat dengan generasi muda. “Karena sekarang eranya digital, promosi dan sosialisasi juga harus dilakukan melalui media yang digunakan masyarakat saat ini,” “Tetapi yang paling penting adalah menghadirkan prestasi yang nyata sehingga publik memiliki kebanggaan dan alasan untuk kembali antusias,” tandasnya.    

Ribuan Sivitas Akademika UMM Ikuti Fun Tahes Rector Cup 2026, Kampanyekan Gaya Hidup Sehat

Antusiasme para peserta dalam giat Fun Tahes Rector Cup 2026. Foto: Dok UMM MAKLUMAT — Keseimbangan antara fisik yang bugar dan semangat menimba ilmu sangat penting bagi semua orang, tak terkecuali pada mahasiswa. Pesan itu disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Nazaruddin Malik dalam giat Fun Tahes Rector Cup 2026, Ahad (7/6/2025). “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” ujarnya dalam agenda yang diikuti oleh lebih dari 6.000 sivitas akademika UMM itu. Mengambil garis start di Helipad Kampus III UMM, kegiatan lari sejauh lima kilometer ini digelar untuk mengampanyekan gaya hidup sehat. Berbagai hiburan turut meramaikan acara, mulai dari senam sehat hingga penampilan musik dari Band SemalamSuntuk. Prof Nazaruddin menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. “Melalui garis start ini, kompetisi bergengsi tingkat universitas resmi dimulai, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025,” ujarnya. Kemeriahan giat ini juga dirangkai dengan penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama satu semester untuk membekali mahasiswa baru dengan berbagai pengalaman sosial dan kemasyarakatan. Baca Juga  Djazman English Scholarship Luluskan 26 Kader Terbaik IMM Komitmen Kampus Putih Wadahi Potensi Mahasiswa Ketua Panitia Rector Cup UMM 2026, Ir Ary Bakhtiar menegaskan bahwa UMM yang juga dikenal sebagai Kampus Putih selalu siap dan berkomitmen penuh dalam mewadahi berbagai potensi mahasiswanya. Ia menjelaskan bahwa ajang Rector Cup ini dirancang secara khusus sebagai langkah strategis universitas dalam melakukan penjaringan bibit-bibit unggul, guna mempersiapkan delegasi mahasiswa untuk bersaing di kompetisi bergengsi tingkat nasional hingga internasional. “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rector Cup,” jelas pria yang juga adalah Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM tersebut. “Kami ingin memastikan bahwa setiap minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa tidak hanya difasilitasi, tetapi juga diapresiasi serta dibina secara berkelanjutan agar mereka siap menorehkan prestasi di kancah yang lebih luas,” imbuhnya. Pada kegiatan ini, deretan doorprize turut menambah antusiasme ribuan peserta, mulai dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik yang siap dibawa pulang. Kemeriahan acara ini diakui langsung oleh para peserta. Nayla Auvara Izzetiyya, salah satu mahasiswa, mengungkapkan rasa antusiasmenya karena bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika. Ia merasa kegiatan semacam ini sangat efektif untuk menghilangkan penat setelah menjalani rutinitas perkuliahan. Baca Juga  AgriFair UMM Tantang Siswa SMA Rancang Bisnis Ramah Lingkungan, Ini Para Juaranya! “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bareng teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize-nya sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan event sebesar dan semeriah ini,” ujarnya. *) Penulis: M Habib Muzaki

Fun Run 6.000 Peserta Semarakkan Pembukaan Rektor Cup 2026 UMM dan Penutupan Student Day

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., MALANG | PROKOTA.COM – Suasana semarak menyelimuti lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat ribuan peserta mengikuti kegiatan Fun Run yang digelar di kawasan kampus. Agenda tersebut menjadi pembuka pelaksanaan Rektor Cup 2026 sekaligus menandai berakhirnya rangkaian Student Day yang telah berlangsung selama satu semester. Sekitar 6.000 peserta ambil bagian dalam kegiatan lari santai yang menempuh rute mengelilingi area kampus. Peserta didominasi mahasiswa angkatan 2025, sementara sisanya terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, alumni, serta sejumlah elemen sivitas akademika lainnya yang turut memeriahkan kegiatan. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Fun Run tidak sekadar menjadi aktivitas olahraga bersama, melainkan juga bagian dari upaya kampus dalam membangun karakter mahasiswa. Menurutnya, kegiatan semacam ini mampu menumbuhkan pola hidup sehat sekaligus memperkuat kemampuan sosial dan kolaboratif generasi muda. Ia menjelaskan, Student Day merupakan program pembinaan khas UMM yang diberikan kepada mahasiswa baru sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Selama satu semester, mahasiswa mendapatkan berbagai pengalaman dan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan kapasitas sosial, kepemimpinan, serta keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat. “Melalui Student Day, mahasiswa dipersiapkan untuk menghadapi realitas kehidupan sosial yang lebih luas. Mereka belajar berinteraksi, bekerja sama, dan memahami berbagai dinamika yang ada di tengah masyarakat,” ujar Prof. Nazaruddin. Minggu, (07/06/2026) pagi. Tingginya partisipasi peserta menjadi gambaran kuatnya semangat kebersamaan yang tumbuh di lingkungan kampus. Selain menjadi sarana menjaga kebugaran, Fun Run juga menghadirkan ruang interaksi yang mempererat hubungan antar warga kampus dari berbagai latar belakang. Kemeriahan acara semakin terasa dengan hadirnya puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka stan di sekitar lokasi kegiatan. Menariknya, sebagian besar pelaku UMKM tersebut merupakan mahasiswa yang tengah mengembangkan usaha mandiri, didukung oleh partisipasi masyarakat sekitar kampus. Kehadiran UMKM dinilai memberikan nilai tambah dalam penyelenggaraan kegiatan. Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif, keberadaan mereka juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan produk sekaligus mengasah kemampuan berwirausaha secara langsung. Nazaruddin menuturkan, terdapat hal berbeda dalam penyelenggaraan tahun ini. Untuk pertama kalinya, penutupan Student Day dan pembukaan Rektor Cup 2026 digelar dalam satu momentum besar yang melibatkan ribuan peserta secara bersamaan. Menurutnya, kolaborasi dua agenda tersebut menjadi simbol komitmen kampus dalam membangun budaya akademik yang sehat, aktif, dan produktif. Tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, kegiatan tersebut juga memperkuat tradisi pembinaan mahasiswa yang telah lama menjadi bagian dari identitas UMM. “Student Day dan Rektor Cup menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan sosial serta memperluas jejaring di lingkungan kampus. Pengalaman itu akan menjadi bekal berharga ketika mereka terjun dan berkontribusi di tengah masyarakat,” katanya. Melalui penyelenggaraan Fun Run yang dipadukan dengan pembukaan Rektor Cup, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang sehat, adaptif, berjiwa sosial, serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan. Rektor UMM menambahkan, tradisi penyelenggaraan Student Day maupun Rektor Cup telah berlangsung sejak masa kepemimpinan mantan Rektor UMM, Muhadjir Effendy. “Karena itu, kedua program tersebut telah menjadi bagian dari budaya akademik kampus yang terus dijaga dan dikembangkan hingga saat ini,” pungkasnya.

PSM Gita Surya UMM Tampil Memukau pada BTV Semesta Berpesta Malang

Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau pada gelaran BTV Semesta Berpesta Malang, Sabtu 6 Juni 2026. (Beritasatu.com/Achmad Ali) Malang, Beritasatu.com – Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau saat membuka gelaran BTV Semesta Berpesta di Stadion Gajayana, Malang, Sabtu (6/6/2026). Penampilan kelompok vokal mahasiswa tersebut sukses menyita perhatian penonton melalui aransemen musik yang khas dan penuh energi. Pada kesempatan itu, PSM Gita Surya membawakan tiga lagu yang mendapat sambutan meriah dari ribuan penonton yang hadir. Penampilan diawali dengan lagu daerah Banyuwangi berjudul Luk-luk Lumbu, dilanjutkan dengan lagu medley yang memadukan sejumlah lagu daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai penutup sekaligus pembuka resmi acara, PSM Gita Surya membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Hari ini kita bawain tiga lagu. Pertama, Luk-luk Lumbu dari daerah Banyuwangi. Terus yang kedua kami bawain lagu medley campuran dari lagu daerah yang ada di Indonesia. Ketiga, lagu kebangsaan Indonesia Raya, untuk membuka secara resmi acara ini,” jelas Bunga Nur Sahara, Ketua Umum PSM Gita Surya UMM, Sabtu (6/6/2026). Bunga mengaku bangga dan senang karena kembali dipercaya tampil dalam gelaran BTV Semesta Berpesta. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga, terutama bagi anggota baru yang baru pertama kali tampil di acara berskala besar. “Sangat senang karena diundang untuk kedua kalinya pada acara BTV Semesta Berpesta, karena sebelum-sebelumnya kami belum pernah ikut acara sebesar ini. Tentunya ini menjadi pengalaman baru bagi kami, terutama singers kami banyak yang baru,” kata Bunga. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Beritasatu dan BTV yang telah memberikan kesempatan kepada PSM Gita Surya untuk tampil dalam acara tersebut. “Kami ucapkan untuk Beritasatu ataupun BTV, semoga ke depannya sukses selalu,” ucapnya. PSM Gita Surya UMM dikenal sebagai salah satu paduan suara mahasiswa berprestasi di Indonesia. Kelompok ini telah menorehkan berbagai penghargaan serta memenangi lomba tingkat nasional.

Seminar Nasional UMM: Kolaborasi Guru dan Orang Tua Jadi Kunci Keberhasilan Pendidikan Inklusif

Seminar Nasional UMM: Kolaborasi Guru dan Orang Tua Jadi Kunci Keberhasilan Pendidikan Inklusif pwmu.co –Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusif di Era Digital: Membangun Sekolah Ramah, Adaptif, dan Berkemajuan”. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM pada Sabtu (23/5) tersebut menghadirkan akademisi, praktisi, serta pemerhati pendidikan untuk membahas penguatan pendidikan inklusif di tengah transformasi digital. Seminar ini digelar sebagai respons terhadap tantangan pemerataan akses teknologi dalam dunia pendidikan. Transformasi digital dinilai membawa peluang sekaligus tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan inklusif karena belum seluruh peserta didik memiliki akses yang sama terhadap teknologi. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., yang diwakili oleh Ir. Moch. Abduh, M.S., Ed., Ph.D., menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan berbagai kebijakan strategis guna memperkuat sistem pendidikan inklusif yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. “Pemerintah saat ini terus memastikan agar arah kebijakan pendidikan kita mampu menjembatani kebutuhan peserta didik yang beragam melalui pemanfaatan inovasi teknologi secara optimal di sekolah,” tegas Abduh dalam sesi pemaparannya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara dan bebas dari diskriminasi. “Kita sebagai akademisi harus berupaya keras menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, yakni memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial maupun kondisi fisik,” ungkap Salis mewakili Rektor UMM. Berbagai isu terkait pendidikan inklusif juga dibahas oleh para narasumber. Assoc. Prof. Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D. dan Prof. Dr. Khozin, M.Si., mengulas pentingnya layanan digital terpadu serta kebijakan pendidikan inklusif di Jawa Timur. Adapun Dr. Suharsiwi, S.Pd., M.Pd., menyoroti peran keluarga dalam mendukung keberhasilan pendidikan inklusi. Menurutnya, keterlibatan aktif orang tua menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari peran tenaga pendidik di sekolah. “Penerapan pendidikan inklusif nyatanya tidak bertumpu pada fasilitas sekolah semata, melainkan sangat membutuhkan keterlibatan aktif dan sinergi berkelanjutan dari orang tua di rumah,” urainya. Sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat implementasi pendidikan inklusif, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Direktorat Sains dan Teknologi UMM. Selain itu, Magister Psikologi UMM turut menjalin kerja sama dengan Penerbit Erlangga Cabang Malang. Kepala Cabang Erlangga Malang, Dodi Wahyudi, menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor penerbitan dalam mendukung penguatan literasi akademik. “Kami berkomitmen penuh membersamai perguruan tinggi guna menyediakan bahan literasi yang ramah dan berkualitas bagi seluruh elemen warga sekolah,” tuturnya. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) SILLA MUTU yang membahas berbagai tantangan implementasi pendidikan inklusif di lapangan. Melalui kegiatan ini, UMM bersama berbagai pemangku kepentingan menunjukkan komitmen untuk mendorong terciptanya pendidikan yang lebih inklusif. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang ramah, adaptif, dan berkemajuan di era digital. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Milad ke-109 Aisyiyah di UMM: Dari Sekolah Lansia Tangguh hingga Posbakum untuk Tekan Angka Perceraian Malang

MALANG POST – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang, merayakan Milad ke-109 dengan menggelar komitmen dakwah kemanusiaan di Aula GKB 4 lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (6/6/2026) siang, yang dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Malang Hj. Lathifah Shohib serta ratusan kader untuk meneguhkan gerakan praksis sosial di akar rumput. Usianya sudah 109 tahun. Lebih dari satu abad. Tapi gerakan perempuan yang satu ini tidak pernah loyo. Justru makin bertenaga. Makin membumi. Itulah Aisyiyah. Sabtu (6/6/2026) hari ini, Aula GKB 4 lantai 9 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memutih. Ratusan ibu-ibu kader Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang berkumpul di sana. Mereka merayakan Milad Aisyiyah ke-109. Temanya tidak muluk-muluk, tapi berat di timbangan aksi: meneguhkan peran dalam dakwah kemanusiaan. Caranya? Memperbanyak praksis sosial yang menyentuh langsung urat nadi kehidupan masyarakat kecil. Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib, hadir di tengah-tengah mereka. Atas nama Pemkab Malang, Nyai Lathifah menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi. Beliau memuji dedikasi Aisyiyah yang selama ini selalu setia berkolaborasi membangun daerah. Nyai Lathifah bahkan menyempatkan diri keliling stan pameran. Menengok produk-produk hasil pemberdayaan ekonomi perempuan binaan Aisyiyah. Ada kain batik yang anggun, ada juga aneka makanan olahan kreatif. Bukan cuma produk konsumsi yang dipamerkan. Ibu-ibu pengurus PDA Kabupaten Malang juga dengan bangga mengenalkan stan Pos Bantuan Hukum. Disingkat Posbakum. Sebuah layanan hukum gratis yang belum lama ini diinisiasi serentak oleh Aisyiyah di berbagai daerah. Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Dr. Siti Aisyiyah, M.Pd. (Foto: Istimewa) Ketua PP Aisyiyah, Dr. Siti Aisyiyah, M.Pd., yang hadir siang itu memberikan wejangan penting. Bagi Siti, tugas utama kader Aisyiyah adalah memuliakan manusia. Mengangkat derajat mereka yang kurang beruntung. Karomah insaniah. “Sejak awal dulu, banyak yang tidak berpendidikan. Ini yang perlu diperhatikan. Dari sisi ekonomi yang kekurangan, ya perlu diberdayakan,” tutur Siti Aisyiyah. Prinsip fikih yang diyakini Aisyiyah sangat jelas: yang kaya harus punya perhatian, yang dhuafa harus diberdayakan agar lepas dari keterpurukan. Gayung bersambut. Di level lokal, Ketua PDA Kabupaten Malang, Dr. Mursyidah, M.Kes., menerjemahkan konsep besar itu ke dalam program-program yang sangat taktis. Mantan pejabat Pemkab Malang ini paham betul peta masalah perempuan di wilayahnya. Lewat pengajian Aisyiyah, pemberdayaan peradaban, pendidikan, dan ekonomi digenjot. Ada juga program TMAM—Tarbiyatul Mar’ah Aisyiyah. Sasaran edukasinya lengkap. Mulai dari anak-anak SMP dan SMA yang diajari tentang kesehatan reproduksi agar terhindar dari kekerasan. Lalu untuk kalangan ibu-ibu, mereka diajari cara mempersiapkan pendidikan anak. Bahkan, kaum lansia pun dibuatkan kurikulum khusus: bagaimana menjadi mertua atau kakek-nenek yang bijak di dalam keluarga. Urusan lansia ini bukan main-main. Jumlah perempuan lansia yang rentan di Kabupaten Malang makin banyak. Aisyiyah tanggap. Mereka mendirikan Sekolah Lansia Tangguh. Karena wilayah Kabupaten Malang ini sangat luas, sekolah ini dibagi per zona. Wilayah Malang utara sudah rutin berjalan. Kini giliran wilayah Malang barat dan Malang selatan yang mulai digarap serius. Lalu, bagaimana dengan Posbakum tadi? Mursyidah membuka data pahit. Masalah hukum yang dihadapi perempuan di Kabupaten Malang masih menumpuk. Kasus kekerasan terhadap wanita masih ada. Pernikahan dini masih intai anak-anak. Dan yang paling krusial: angka perceraian di Kabupaten Malang adalah salah satu yang tertinggi. Nomor satu. “Mata rantai itulah yang ingin kita putus lewat Posbakum,” tegas Mursyidah. Puncak milad ke-109 ini berlangsung sangat meriah namun tetap khidmat. Terlihat hadir jajaran pengurus PW Aisyiyah Jawa Timur, Ketua PDM Kabupaten Malang Dr. Nurul Humaidi, M.Ag., hingga Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si. Acara juga diselingi penampilan kreatif siswa-siswi sekolah Muhammadiyah yang berbakat. Rangkaian hari lahir ini akhirnya ditutup dengan sejuk melalui siraman rohani dari dai asli Kasembon, Ustadz Rifky Jakfar Thalib. Aisyiyah telah membuktikan, dakwah itu tidak melulu soal retorika di atas mimbar. Dakwah yang sejati adalah ketika tangan-tangan terampil perempuan bergerak menyelamatkan keluarga, memberi ruang bagi lansia, dan membela hak hukum kaum wanita di pelosok desa. (Ra Indrata)