UMM Bangun Pabrik Infus, Bukti Nyata Kemandirian Kesehatan Tak Bisa Ditunda

BatasMedia99.com,- MALANG. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis (11/6/2026). Peresmian proyek ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, diantaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar memaparkan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air. Sementara itu Wakil Bupati (Wabup) Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, menghadiri Groundbreaking Pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia yang akan berdiri di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6) pagi. Ia menyambut baik hadirnya investasi industri kesehatan tersebut karena menurutnya pembangunan pabrik infus tersebut tidak hanya akan memperkuat sektor kesehatan nasional. Wakil Bupati (Wabup) Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib saat turut memimpin acara Groundbreaking Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia di Karangploso Tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daeraH. Peletakan batu pertama di lokasi pabrik yang akan dibangun di Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6).elalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan pengembangan potensi kawasan industri di Kabupaten Malang. “Pemerintah Kabupaten Malang menyambut baik dan mengapresiasi pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia ini,” katanya dalam sambutan. Ia mengatakan kehadiran industri kesehatan sebagai inisiasi Muhammadiyah merupakan langkah nyata mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional sekaligus memperkuat ketahanan industri farmasi dalam negeri. “Kami berharap investasi ini tak hanya mampu memenuhi kebutuhan produk kesehatan secara mandiri, tetapi juga memberikan dampak positif perekonomian daerah lewat penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tumbuhnya ekosistem industri yang berdaya saing di Kabupaten Malang,” ujar Lathifah. Turut hadir pula Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Direktur Utama BPJS Kesehatan, jajaran pimpinan Muhammadiyah,unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu undangan dari kalangan akademisi, dunia usaha,dan sektor kesehatan. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa.
Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Dibangun, Siap Pasok Kebutuhan Medis Nasional

Reportasemalang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama PT Suryavena Farma Indonesia memulai pembangunan pabrik infus di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Proyek yang berdiri di atas lahan milik UMM tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 guna memperkuat rantai pasok alat kesehatan nasional, khususnya kebutuhan infus bagi rumah sakit Muhammadiyah dan masyarakat luas. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. UMM menyediakan sekitar tiga hektare lahan dari total 14 hektare aset kampus di kawasan tersebut untuk mendukung pengembangan kawasan industri terpadu berbasis kesehatan. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyebut pembangunan pabrik infus ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem socio-religious corporation Muhammadiyah. Menurutnya, organisasi keagamaan juga memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan nasional melalui bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik. “Ini bukan untuk Muhammadiyah semata, tetapi untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan bagaimana manfaatnya kembali kepada masyarakat luas,” tegas Haedar. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Ia menjelaskan, ajaran agama tidak hanya berkaitan dengan ibadah dan akidah, tetapi juga mencakup aspek muamalah atau kehidupan sosial-ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis dinilai sebagai bentuk pengabdian yang mengedepankan nilai kemanusiaan, keberlanjutan, dan akuntabilitas. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda mengatakan pembangunan pabrik infus ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional di bidang kesehatan. Menurutnya, kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mengintegrasikan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia dengan praktik industri. “Selain mendukung layanan kesehatan nasional, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi inovasi, pendidikan, dan industri. Harapannya dapat melahirkan SDM yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Keberadaan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia diharapkan menjadi tonggak baru penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. Kolaborasi antara Muhammadiyah, perguruan tinggi, dan industri ini dinilai mampu mendorong kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan pelayanan publik yang lebih inklusif.
Cuci 500 Kg Singkong Hanya 1 Jam, Inovasi Mahasiswa UMM Raih Juara Nasional

INDOZONE.ID – Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menorehkan prestasi di level nasional. Tim yang dipimpin oleh Nova Sinanti, sukses menjadi juara berkat inovasi alat pencuci singkong semi mekanis dengan teknologi drum spray dan sistem sirkulasi air. Pengumuman kemenangan disampaikan secara resmi pada 18 Mei 2026. Hasil positif ini sekaligus membuktikan kontribusi mahasiswa UMM dalam memberikan solusi bagi persoalan di masyarakat. Kompetisi bergengsi tersebut diadakan oleh Asosiasi Program Studi Teknik Mesin, Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APSTM-PT). Dalam ajang yang diikuti oleh mahasiswa Teknik Mesin dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah se-Indonesia tersebut, persaingan berlangsung dengan ketat. Di babak final, terdapat 15 tim terbaik yang saling beradu ide. Tim dari UMM yang beranggotakan Nova Sinanti, Azka Firosyan Samana Putra, dan Raihan Rosyadi berhasil memikat para juri melalui rancangan alat yang dinilai praktis serta tepat guna untuk kebutuhan industri. Fokus utama dari penciptaan mesin adalah untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Nova Sinanti menjelaskan bahwa selama ini banyak pengusaha singkong yang masih mengandalkan cara manual dalam proses pencucian, yang tentu memakan waktu lama dan tenaga yang besar. Mesin rancangan mereka dilengkapi dengan mekanisme ulir yang berfungsi mengarahkan bahan baku, serta memiliki perangkat pemisah sedimen untuk membuang kotoran secara otomatis. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari yang awalnya butuh empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja,” jelas Nova. Selain hemat waktu, alat yang dirancang juga ramah lingkungan karena hemat penggunaan air. Melalui fitur sirkulasi air yang terhubung dengan sediment trap, air tetap bersih dan kotoran tidak akan bercampur kembali dengan singkong yang sedang dicuci. “Penggunaan sistem sirkulasi pada alat kami berperan layaknya bantalan air, sehingga kulit singkong bisa terkelupas dan bersih tanpa melukai dagingnya,” terang Nova.
Bangun Pabrik Infus, Muhammadiyah Dorong Kemandirian Ekonomi dan Kesehatan Nasional

FAJARLAMPUNG.COM, MALANG – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi melakukan groundbreaking Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6). Prosesi peletakan batu pertama dilakukan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy, Saad Ibrahim, dr Agus Taufiqurrahman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, serta Ketua PWM Jawa Timur dr Sukadiono. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pembangunan pabrik tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekonomi umat dan bangsa. Menurutnya, Muhammadiyah ingin menghadirkan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dengan memasuki sektor industri skala besar. “Semangat Muhammadiyah adalah untuk membangun ekosistem ekonomi umat dan bangsa, atau rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas,” ujar Haedar. Haedar menekankan kehadiran pabrik ini tidak berarti Muhammadiyah meninggalkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia mengatakan industri farmasi justru menjadi bagian dari upaya menaikkan kelas ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. “Pembangunan pabrik ini tidak menggeser fokus dakwah ekonomi Muhammadiyah dari UMKM. Ini memiliki ketersambungan dengan semangat menaikkan kelas ekonomi umat dan bangsa,” katanya. Lebih lanjut, Haedar menyebut proyek tersebut menjadi bukti bahwa organisasi kemasyarakatan keagamaan mampu bergerak dan bersaing di sektor ekonomi modern. Menurutnya, pembangunan pabrik farmasi juga sejalan dengan cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan fondasi kemandirian ekonomi nasional. “Jangan sampai kekuatan dan potensi ekonomi Indonesia dipegang atau dikuasai pihak lain. Muhammadiyah berada di jalur itu dan akan bertemu dengan spirit pemerintah serta kepentingan bangsa yang lebih luas,” tegasnya. Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia yang diinisiasi Majelis Ekonomi Bisnis (MEB) dan Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah itu pada tahap awal akan memproduksi cairan infus. Haedar menjelaskan, langkah tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun ekonomi sirkular Muhammadiyah dengan memenuhi kebutuhan 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA) yang tersebar di seluruh Indonesia. “Dengan pabrik infus ini kita memulai dengan sesuatu yang paling bisa kita lakukan di ekosistem bisnis di rumah sakit,” ungkap Haedar. Ia berharap seluruh RSMA dapat menggunakan produk PT Suryavena Farma Indonesia sehingga kemandirian ekonomi Muhammadiyah semakin kuat. Ke depan, perusahaan ini juga akan mengembangkan produksi obat-obatan, jarum suntik, serta berbagai kebutuhan kesehatan lainnya untuk mendukung layanan rumah sakit Muhammadiyah di seluruh Tanah Air.
UMM bangun pabrik infus untuk penuhi kebutuhan medis nasional

Malang (ANTARA) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat perannya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional dengan menyediakan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia guna memenuhi kebutuhan medis nasional. Dari lahan yang disiapkan UMM seluas 14 hektare di Ngijo Kecamatan karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut, sekitar tiga hektare khusus sebagai kawasan industri terpadu dan ditargetkan operasional pada tahun 2027. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut di Malang, Kamis, menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurut dia, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar mengatakan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr Ahmad Juanda menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” ujarnya. Selain mendukung layanan kesehatan, katanya, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri, sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di tanah air. “Kolaborasi lintas sektor ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” ujarnya. Peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Fauzan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta undangan lainnya. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas.
UMM Kukuhkan Empat Guru Besar, Hadirkan Inovasi Deteksi Anemia hingga Energi Terbarukan

Tagar. co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru UMM di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III pada Kamis, 11 Juni 2026 Pengukuhan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin. Pengukuhan guru besar baru UMM ini sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil riset mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan, metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian sebuah negara. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan sebuah terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Ia menjelaskan, inovasi mutakhir tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien. Yang langsung dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tutur Lailis. Guru Besar Baru UMM Perkuat Hilirisasi Riset Sementara itu Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng. menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan, ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap pasokan energi fosil konvensional akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun. Juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Baca Juga: Silaturahmi II Ambulans Muhammadiyah Jatim: Perkuat Layanan, Bangun Branding Berbasis Data Selanjutnya, Prof. Ir. Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati, sehingga memulihkan kerusakan tanah tropis akibat paparan zat kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan, ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit). Sehingga perlu seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kita yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik. Sementara Rektor UMM Nazaruddin Malik menyampaikan, penambahan guru besar baru UMM ini memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak peradaban. “Keempat orasi ilmiah guru besar ini mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Rektor Nazar. Pengukuhan guru besar baru UMM ini mengharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial akademik tahunan di lingkungan kampus. Kehadiran para guru besar baru UMM harus menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi.
GKB 5 UMM Diresmikan, Perkuat Pendidikan Kedokteran

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berada di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung setinggi 45 meter dengan 11 lantai dan konsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., pada Kamis (11/6/2026). Fasilitas modern tersebut didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., mengapresiasi langkah UMM yang dinilai konsisten berinovasi dalam pengembangan pendidikan tinggi. Menurutnya, Kampus Putih berhasil mengembangkan kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran yang unggul dan menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Ia menegaskan bahwa UMM telah menunjukkan posisinya sebagai salah satu motor penggerak kemajuan dari 164 PTMA di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun fondasi kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk memiliki visi jauh ke depan serta menjadi pelopor kemajuan,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar menyebut kehadiran GKB 5 mencerminkan tradisi keunggulan UMM dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Menurutnya, lulusan UMM tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai bekal utama dalam melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama gedung ini terletak pada proses pembangunannya yang dilakukan secara mandiri. Proyek yang dimulai sejak 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan oleh tim internal kampus bersama sejumlah konsultan. “Gedung ini dibangun sepenuhnya melalui swadaya dan swakelola, mulai dari desain perencanaan hingga pelaksanaan oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang bersama beberapa konsultan,” jelasnya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektare, GKB 5 dirancang dengan struktur tahan gempa dan mengusung konsep ramah lingkungan. Desain gedung diformulasikan untuk mengurangi polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, serta memastikan sirkulasi udara yang sehat. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium berkapasitas besar. Pembangunan infrastruktur ini menjadi langkah visioner UMM dalam menyiapkan lulusan yang siap menghadapi tantangan sektor kesehatan di masa depan. Nazaruddin berharap peresmian GKB 5 membawa keberkahan sekaligus menjadi motivasi bagi UMM untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa “Mudah-mudahan peresmian ini menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk terus berani melangkah maju memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Kehadiran GKB 5 tidak hanya menambah deretan infrastruktur unggulan Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak baru dalam penguatan standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi modern, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan perannya dalam mencetak generasi tenaga medis yang kompeten dan berintegritas.
Diakui Nasional, RS UMM Raih Pujian Dirut BPJS Kesehatan atas Komitmen Layanan Prima

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Dr. dr. Prihati Pujowaskito, secara langsung mengapresiasi tingginya standar kualitas pelayanan dan tingkat keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM). Apresiasi tersebut disampaikan dalam kunjungan kerjanya pada Kamis (11/6) sebagai wujud pengakuan atas dedikasi RS UMM dalam mendukung penuh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ia mengungkapkan bahwa RS UMM telah membuktikan kapasitasnya sebagai fasilitas kesehatan yang mumpuni dan mematuhi standar ketat sebagai mitra strategis BPJS Kesehatan. “Rumah Sakit UMM bagus, sudah standarisasi, dan sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Jadi rumah sakit-rumah sakit yang sudah terstandarisasi ini melakukan pelayanan yang bermutu, menjaga keselamatan pasien. Dan ini penting sekali untuk melaksanakan, mendukung program JKN BPJS, ya,” tegasnya. Pujian tersebut sangat relevan dengan fakta bahwa RS UMM memiliki keunggulan fasilitas dan infrastruktur berskala besar yang dibangun di atas lahan seluas 90.000 meter persegi. Rumah sakit ini telah mengantongi akreditasi tingkat kelulusan “PARIPURNA” (bintang lima) dari Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI). Reputasi unggul ini juga dibuktikan dengan raihan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai rumah sakit rujukan tipe C dengan predikat terbaik dalam penanganan pandemi Covid-19 pada tahun 2021. Memegang status Tipe C dengan fasilitas setara rumah sakit Tipe B, layanan prima rumah sakit ini ditopang oleh total 590 Sumber Daya Manusia (SDM), yang di antaranya meliputi 96 tenaga medis , 212 tenaga perawat , serta 150 tenaga kesehatan lain. Guna menunjang kepuasan pasien, RS UMM menghadirkan pelayanan medis yang komprehensif melalui 28 pilihan klinik rawat jalan dan total 150 tempat tidur rawat inap. Menanggapi kunjungan dan apresiasi dari pimpinan BPJS, Direktur RS UMM, Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp.PD, KPTI, menegaskan komitmen lembaganya dalam menghadirkan pelayanan medis prima yang terpadu. “Kami terus berkomitmen dalam pelayanan. Kerja sama berkelanjutan dengan BPJS Kesehatan adalah bukti nyata dedikasi kami untuk hadir melayani masyarakat luas, memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik dengan aksesibilitas yang mudah,” ungkapnya. Kunjungan serta atensi langsung dari pucuk pimpinan BPJS Kesehatan ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi RS UMM untuk terus konsisten merealisasikan visinya, yakni menjadi rumah sakit pilihan masyarakat dengan keunggulan pelayanan yang bermutu tinggi, aman, dan efektif. Kolaborasi erat antara penyedia fasilitas kesehatan dengan pemerintah merupakan kunci mutlak guna mewujudkan sistem layanan medis yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Wakil Bupati Malang Hadiri Grand Launching Gedung GKB V UMM, Tonggak Baru Penguatan Pendidikan Tinggi

lawang.malangkab.go.id DAU – Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib menghadiri acara Grand Launching Gedung Kuliah Bersama (GKB) V Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah tokoh penting dari tingkat nasional, di Gedung Kuliah Bersama (GKB) V UMM, Dusun Rambaan, Landungsari Kecamatan Dau, Kamis (11/6) siang. Hadir pada kesempatan yang sama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Technologi RI, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Penasehat Presiden RI Bidang Haji, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ditektur RS Universitas Muhammadiyah Malang beserta Jajaran Akademisi. Peresmian gedung baru tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, didampingi Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia serta jajaran tamu VIP lainnya. Momen tersebut menjadi simbol dimulainya pemanfaatan Gedung GKB V sebagai salah satu fasilitas pendidikan modern yang akan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia. Kehadiran Wakil Bupati Malang pada kegiatan ini menunjukkan dukungan Pemerintah Kabupaten Malang terhadap kemajuan dunia pendidikan, khususnya pengembangan perguruan tinggi yang berperan strategis dalam mencetak generasi unggul dan berdaya saing. Gedung GKB V UMM diharapkan menjadi pusat kegiatan akademik yang mampu mendorong lahirnya inovasi, riset, dan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Dengan fasilitas yang representatif dan modern, UMM terus memperkuat posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan berkualitas. Acara grand launching berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan, dihadiri unsur pimpinan Muhammadiyah, akademisi, pejabat pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki komitmen terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.
PP Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Suryavena di Kabupaten Malang

JATIMTIMES – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melakukan groundbreaking pembangunan pabrik infus PT. Suryavena Farma Indonesia di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang sebagai langkah memperkuat ekonomi kerakyatan menuju ekonomi yang naik kelas. Groundbreaking pembangunan pabrik infus Suryavena yang berada di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) seluas 14 hektare ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir; Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis dan Industri Halal Muhadjir Effendy; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Fauzan; Direktur Utama BPJS Kesehatan Letjen (Purn) Prihati Pujowaskito; Direktur Utama PT. Suryavena Farma Indonesia sekaligus Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah Tatat Rahmita Utami Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib; serta jajaran tamu VIP lainnya. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan, pembangunan pabrik infus Suryavena ini didasari oleh keinginan untuk memperkuat ekonomi keumatan dan kerakyatan. Ia mengaku PP Muhammadiyah selalu berkomitmen memperkuat ekonomi mikro, kecil dan menengah. “Dulu ketika kita mau merdeka dan awal kemerdekaan waktu itu berkembang spirit pribumi untuk bangkit, berwirausaha, berekonomi, itu identik dengan kekuatan rakyat. Kami tanpa memilah milah itu, semangat Muhammadiyah adalah membangun ekosistem ekonomi rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah dan ekonomi ke atas,” ungkap Haedar kepada JatimTIMES.com, Kamis (11/6/2026). Pihaknya pun menjelaskan tahapan-tahapan yang dapat dijalankan untuk mewujudkan ekonomi yang naik kelas. Pasalnya, tidak semua orang semata-mata hanya diberikan santunan maupun karir, tetapi juga harus diajak melangkah bersama untuk memperkuat ekonomi. Kemudian, Muhammadiyah sebagai persyarikatan yang lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah atau yang sekarang telah berusia 117 tahun ini memiliki sosial ekonomi keagamaan yang dapat bergerak di ekonomi bisnis kelas menengah dan ke atas. “Indonesia ke depan mempunyai cita-cita Indonesia Emas di mana satu di antaranya adalah Indonesia Mandiri. Itu tidak mungkin kalau kita menyerahkan pengolahan sumber daya alam termasuk hutan dan segala yang dimiliki kepada pihak asing, pihak lain. Bahkan Presiden Prabowo Subianto juga semangatnya mengimplementasikan Pasal 33 UUD 1945, Muhammadiyah berada di jalur itu,” jelas Haedar. Disinggung mengenai alasan Muhammadiyah memilih mengembangkan lini bisnisnya di bidang kesehatan, Haedar menyebut bahwa terdapat 130 lebih rumah sakit dan ratusan klinik yang berada di bawah naungan PP Muhammadiyah. “Kami punya 130-an rumah sakit dan ratusan klinik. Kalau tidak kami layani dengan kekuatan sendiri, biasanya akan menggunakan jasa pihak lain. Kemudian dengan pabrik infus ini kami memulai sesuatu yang paling bisa kami lakukan di ekosistem bisnis rumah sakit. Yang saya yakin ke depan juga kami akan bergerak di bidang obat dan lain sebagainya. Biasanya kalau sudah dimulai sesuatu, yang lain akan mengikuti,” beber Haedar. Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis dan Industri Halal Muhadjir Effendy mengatakan, manajemen dari pembangunan pabrik infus Suryavena ini berada di bawah kolaborasi antara Majelis Kesehatan dan Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah dengan nilai investasi sekitar Rp 800 milliar. Muhadjir mengatakan, dengan memproduksi cairan infus secara mandiri, maka akan jauh lebih efisiens dan kualitasnya dapat diawasi langsung secara ketat dan tentunya dapat menekan harga yang rendah. Sehingga nantinya cairan infus Suryavena akan diminati konsumen di luar pasar Muhammadiyah. “Maka dengan seperti itu peluang untuk berkembang produksi infus kami ini akan sangat besar. Nanti kami lihat sampai berapa permintaan dari luar Muhammadiyah,” tutur Muhadjir. Untuk pendistribusian infus Suryavena, PT. Suryavena Farma Indonesia untuk sementara waktu bekerja sama dengan Kimia Farma. Nantinya, ketika rantai pasok jaringan distribusi infus Suryavena sudah cukup luas, maka pihaknya akan membangun jaringan distribusi secara mandiri. Sebagai informasi, pada saat peluncuran PT. Suryavena Farma Indonesia pada April 2026 lalu, ditargetkan pabrik infus ini dapat memproduksi 15 juta botol cairan infus per tahun. Yakni sebanyak 13 juta botol akan diserap oleh jaringan rumah sakit dan klinik Muhammadiyah, sedangkan dua juta botol sisanya akan dipasarkan ke masyarakat luas. Ditargetkan pabrik infus suryavena sudah bisa beroperasi di akhir tahun 2027 atau awal 2028 mendatang.