Pandangan Ekonom UMM Tentang Pengaruh Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Inflasi Pangan di Malang

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai memengaruhi dinamika pasokan dan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya telur dan daging ayam. Kondisi tersebut diperkirakan bersifat sementara, namun perlu terus dipantau ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan. Ekonom muda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus kandidat doktor Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Malang, M Rofik, mengatakan sejak awal pelaksanaan MBG, permintaan terhadap telur dan ayam meningkat tajam karena kebutuhan rumah tangga harus berbagi dengan kebutuhan dapur SPPG. “Pada awal program MBG kita sempat mengalami kekurangan suplai telur dan ayam karena permintaannya meningkat.” “Selain konsumsi rumah tangga, ada kebutuhan dari SPPG sehingga pemasok akhirnya meningkatkan produksinya,” ujar Rofik kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (30/6/2026). Menurutnya, para pemasok sudah berasumsi bahwa program MBG akan berjalan secara berkelanjutan. Namun ketika operasional SPPG dihentikan sementara, permintaan mendadak turun sehingga terjadi kelebihan pasokan di tingkat produsen. “Ketika ada kebijakan baru dan SPPG berhenti sementara, akhirnya terjadi over supply sementara. Ini hal yang wajar dalam mekanisme pasar,” katanya. Namun begitu, Rofik menilai kondisi tersebut perlu diamati lebih lanjut ketika SPPG kembali beroperasi. Jika harga komoditas kembali naik, maka program MBG memang berkontribusi terhadap tekanan inflasi pangan. “Nanti ketika SPPG beroperasi lagi, perlu dilihat apakah harga kembali stabil atau justru naik lagi.” “Kalau naik lagi, berarti memang ada pengaruh tambahan permintaan dari program MBG terhadap inflasi pangan,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan inflasi tidak selalu berdampak negatif. Dalam ilmu ekonomi makro, inflasi yang terkendali justru menjadi indikator ekonomi yang sehat karena mendorong aktivitas konsumsi masyarakat. “Inflasi yang terjaga itu baik. Misal orang terdorong membeli properti karena memperkirakan harganya akan lebih mahal di masa depan,” ujarnya. Sebaliknya, kalau deflasi, masyarakat cenderung menunda pembelian karena harga semakin turun.
Hibah Riset Terbanyak, UMM Sabet Titel Kampus Unggulan LLDIKTI VII 2026

Tugumalang.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses meraih Anugerah Kampus Unggulan 2026 dari LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Predikat bergengsi ini diraih karena kampus putih tersebut berkontribusi menjalankan hibah riset terbanyak. Kategori nugerah yang diterima UMM: Penerima Program Hibah Penelitian dengan Pendanaan dan Judul Terbanyak 2026 (Bentuk Universitas/Institut) ini diserahkan dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (Rakerpim) pada 22 Juni 2026 lalu. Capaian ini mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai institusi pendidikan dengan ekosistem riset terkuat yang adaptif terhadap tantangan global. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama (BRBK) UMM, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak diperoleh secara instan. Menurutnya, keberhasilan UMM merupakan hasil dari sistem dukungan yang dibangun secara komprehensif oleh universitas, mulai dari aspek pendanaan hingga pendampingan bagi dosen dalam menyusun proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. “Yang pertama berkait dengan dukungan universitas terhadap program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sangat komprehensif. Ada pendanaan internal, kemudian pendampingan proposal mulai dari tingkat fakultas sampai universitas, termasuk klinik proposal yang dilakukan secara terpusat di LPPM,” jelasnya. Selain dukungan pendanaan, UMM juga dinilai memiliki ekosistem riset yang kuat dan terstruktur. Berbagai unit pendukung seperti Lembaga Pengembangan Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Bursa Intelektual, KPI, hingga pusat-pusat studi menjadi bagian penting dalam menciptakan budaya akademik yang produktif. Keberadaan struktur organisasi itu memungkinkan dosen memperoleh dukungan yang berkelanjutan dalam melaksanakan penelitian dan pengabdian. Ia menegaskan strategi utama untuk meningkatkan produktivitas dosen adalah membangun kesadaran bahwa penelitian dan pengabdian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tridarma perguruan tinggi. Oleh karena itu, universitas terus menghadirkan berbagai skema pendukung agar para dosen dapat menjalankan kewajiban akademiknya secara optimal. “Penelitian dan pengabdian itu merupakan urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh dosen karena menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM mendukung Bapak-Ibu dosen dengan berbagai cara, mulai dari pendampingan, pendanaan, hingga struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan penelitian,” katanya. Menurutnya, kuantitas penelitian harus berjalan beriringan dengan kualitas dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Untuk memastikan riset yang dilakukan benar-benar berdampak, UMM telah membentuk klaster penelitian dan pengabdian unggulan serta melakukan pemetaan wilayah sasaran berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga mampu menjawab persoalan sosial yang ada di lapangan. “Lokasi penelitian dan pengabdian harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Misalnya, ketika UMM mengirim tim penelitian dan pengabdian ke Nusa Tenggara Timur, itu karena daerah tersebut memang membutuhkan. Jadi, penelitian dan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh dosen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat agar benar-benar berdampak,” jelas Salahudin. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi perhatian penting dalam setiap program hibah di UMM, Salahudin menyebut bahwa universitas memiliki kebijakan yang mewajibkan setiap kegiatan penelitian dan pengabdian melibatkan mahasiswa. Keterlibatan tersebut mencakup proses penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan luaran penelitian berupa publikasi, poster ilmiah, maupun bentuk luaran akademik lainnya. Ke depan, UMM berkomitmen untuk terus meningkatkan capaian riset dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Mulai dari dosen muda hingga dosen senior akan terus didorong untuk aktif meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Karena prestasi riset tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi juga kualitas serta sejauh mana penelitian tersebut mampu memberikan perubahan sosial bagi masyarakat.
Rona Rasa Jodipan Dorong Ekonomi Warga Lewat Pasar Kuliner Pertama di Kampung Warna-Warni

pwmu.co – Kampung Warna-Warni Jodipan kembali dipenuhi pengunjung pada Sabtu (27/06/2026). Suasana itu hadir melalui Rona Rasa Jodipan, program yang digagas Kelompok Pixelora dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).Untuk pertama kalinya, Kampung Warna-Warni Jodipan memiliki pasar kuliner yang dipadukan dengan permainan tradisional dan pertunjukan musik akuistik. Program ini menjadi ruang bagi warga untuk memasarkan produk UMKM sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang lebih menarik. Selama ini wisatawan umumnya datang untuk berfoto sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain. Kondisi tersebut membuat potensi ekonomi warga, khususnya pelaku UMKM, belum dimanfaatkan secara optimal. Alasan Tinggal Lebih Lama Melalui Rona Rasa Jodipan, Kelompok Pixelora menghadirkan aktivitas baru agar wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Lebih lanjut, pasar kuliner ini menjadi pusat kegiatan selama acara berlangsung. Berbagai makanan dan minuman dari warga dan pelaku UMKM memenuhi area kegiatan. Pengunjung dapat menikmati kuliner sambil melihat suasana kampung yang penuh warna. Musik akustik yang dimainkan sepanjang acara membuat suasana terasa lebih santai dan hangat. Di sisi lain, Rona Rasa juga menghadirkan berbagai permainan tradisional, seperti congklak, engklek, lompat tali, dan rangku alu. Tak sedikit pengunjung yang ikut mencoba permainan tersebut. Anak-anak bermain bersama orang tua, sementara wisatawan yang belum pernah mengenalnya terlihat antusias mempelajari cara bermain. Permainan tradisional menjadi salah satu daya tarik yang paling banyak menarik perhatian. Rona Rasa Jodipan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Warga Kota Malang, wisatawan dari luar daerah, hingga wisatawan mancanegara ikut meramaikan kegiatan. Kehadiran mereka memberi dampak langsung bagi para pelaku usaha warga. Produk yang dijual lebih mudah dikenal, penjualan meningkat, dan kawasan wisata menjadi lebih hidup dibanding hari-hari biasa. Kuliner hingga Permainan Tradisional Ketua Pelaksana Rona Rasa Jodipan, Naila mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. “Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda di Kampung Warna-Warni Jodipan. Wisatawan biasanya datang untuk berfoto. Melalui Rona Rasa Jodipan, kami mengajak mereka menikmati kuliner lokal, bermain permainan tradisional, dan berinteraksi langsung dengan warga” terang Naila. “Harapannya, kegiatan ini bisa membantu UMKM sekaligus membuat wisata di Jodipan semakin berkembang” tambahnya. Rona Rasa Jodipan juga menjadi bukti bahwa mahasiswa dapat berkontribusi melalui program yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan ini mempertemukan warga, pelaku usaha, pengelola Kampung Warna-Warni Jodipan, sponsor, dan media partner dalam satu kolaborasi. Semua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu membuat Kampung Warna-Warni Jodipan semakin ramai dan memberi manfaat bagi warganya. Ke depan, Kelompok Pixelora berharap Rona Rasa Jodipan tidak berhenti sebagai satu kali kegiatan. Program ini diharapkan dapat menjadi agenda yang terus berkembang. Semakin banyak pengunjung yang datang, semakin besar pula peluang bagi UMKM untuk tumbuh dan perekonomian warga untuk meningkat. Sebagai informasi, Rona Rasa Jodipan merupakan program brand activation yang diinisiasi oleh Kelompok Pixelora Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Program ini menghadirkan pasar kuliner yang dipadukan dengan permainan tradisional dan pertunjukan musik akustik sebagai upaya mendukung UMKM lokal, melestarikan budaya, dan meningkatkan daya tarik Kampung Warna-Warni Jodipan.
RBR Singgah Hadir di Malang Creative Center, Ajak Gen Z Kenal Lebih dekat Rumah Budaya Ratna

INDOZONE.ID – Rumah Budaya Ratna (RBR), ruang budaya berbasis komunitas yang berdiri di atas warisan intelektual sastrawan dan aktivis Ratna Indraswari Ibrahim, menggelar aktivasi bertajuk “RBR Singgah” di Malang Creative Center (MCC), Jumat (19/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pra-activation program brand activation bertajuk SINGGAH, yang digarap RBR bersama tim kreatif Epilog Creative. Selain di MCC, “RBR Singgah” juga sebelumnya menyambangi beberapa titik strategis lain di Kota Malang, mulai dari Car Free Day Ijen, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Muhammadiyah Malang. Setiap lokasi dipilih dengan mempertimbangkan kedekatan dengan target audiens utama program, yakni generasi Z usia 18–24 tahun yang akrab dengan dunia digital dan punya ketertarikan tinggi pada ruang-ruang kreatif maupun budaya. Lewat program SINGGAH ini, Epilog Creative bersama RBR ingin menjawab satu masalah utama: identitas RBR yang sebenarnya sangat kuat dan autentik, tapi belum tersampaikan dengan cara yang relevan bagi anak muda. Di tengah menjamurnya coffee shop dengan konsep visual yang nyaris seragam di Malang, RBR justru punya senjata berbeda; warisan budaya yang nyata, ruang yang punya cerita, serta program-program yang mendorong pengunjung untuk benar-benar terlibat, bukan sekadar datang dan foto-foto. Berbeda dari aktivasi booth biasa yang hanya menunggu pengunjung datang, tim “RBR Singgah” di MCC justru memilih turun langsung dan berkeliling menyapa satu per satu pengunjung yang ada di lokasi. Pendekatan personal ini dipilih agar perkenalan tentang RBR terasa lebih hangat dan tidak sekadar transaksional. Lewat obrolan singkat, tim memperkenalkan sosok Ratna Indraswari Ibrahim, mulai dari perjalanan hidupnya sebagai sastrawan dan feminis, hingga bagaimana warisannya itu tetap “hidup” dalam bentuk ruang fisik di Jalan Diponegoro No. 3, Kecamatan Klojen. Cerita seputar kegiatan rutin di RBR, seperti diskusi literasi, lokakarya, dan pertunjukan seni, juga dibagikan langsung kepada pengunjung yang ditemui. Tak hanya soal pengenalan, momen sapa-sapa ini juga menjadi pintu masuk untuk mengajak pengunjung mendaftar dua agenda utama dalam rangkaian SINGGAH, yaitu Singgah Sore di Rumah Ratna yang akan digelar Kamis, 25 Juni 2026, dan Singgah Berkarya: Zine Making Workshop pada Sabtu, 27 Juni 2026. Singgah Sore dirancang sebagai sore santai berisi stand up comedy, live music, open mic budaya, hingga nonton bareng film pendek. Adapun Singgah Berkarya mengajak peserta membuat zine secara langsung bersama fasilitator, lengkap dengan sesi berbagi cerita dan makan bersama. Konsep besar yang diusung dalam program ini, “SINGGAH — Datang untuk singgah, pulang membawa cerita”, mencoba menempatkan RBR bukan sekadar sebagai destinasi singgah biasa, melainkan ruang yang terus hidup lewat karya, percakapan, dan pertemuan antarindividu yang datang ke dalamnya. Selain lewat kegiatan tatap muka di berbagai titik kampus dan ruang publik, gerakan ini juga dibarengi rangkaian konten di Instagram dan TikTok yang sudah mulai tayang sejak awal Juni 2026. Strategi jemput bola dengan berkeliling langsung ke pengunjung MCC ini diharapkan membuat RBR tidak lagi sekadar dikenal sebagai nama di feed Instagram, tetapi benar-benar terasa dekat secara personal, sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak anak muda Malang untuk ikut mendaftar dan merasakan langsung pengalaman SINGGAH.
Dukung Net Zero Emission 2060, UMM Diakui sebagai Kampus Mandiri Energi

KLIKMU.CO – Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi MEng IPM ASEAN Eng menegaskan bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki keunggulan sebagai institusi pendidikan yang secara konkret telah merespons krisis energi global melalui penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT) sejak 2007. Hal itu disampaikannya dalam Diskusi Publik bertajuk Arah Kebijakan Energi Menuju Net Zero Emission melalui Pembangkit Energi Baru Terbarukan di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (25/6/2026). “Di satu sisi, UMM sudah melakukan praktik-praktik energi baru terbarukan, yaitu dengan adanya PLTMH di kampus UMM maupun PLTS. Ini memberikan kontribusi nyata. Selain pembelajaran di ruang kelas yang sesuai dengan kurikulum, hal-hal yang berkaitan dengan praktik bidang energi baru terbarukan sudah benar-benar dilaksanakan sebagai laboratorium hidup,” tegasnya. Kunjungan DEN ke Kampus Putih dilatarbelakangi urgensi penguatan ketahanan energi nasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia. Saat ini, produksi minyak bumi terus menurun, sementara impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline meningkat. Tantangan pemenuhan energi primer tersebut diperberat oleh masih rendahnya tingkat pemanfaatan EBT secara nasional. Numberi menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan puncak emisi tercapai pada 2035 dan dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) sebesar 129 juta ton CO2e pada 2060. Untuk mendukung kedaulatan dan swasembada energi, bauran energi primer dari EBT ditargetkan meningkat signifikan hingga mencapai 70–72 persen pada 2060. Lebih lanjut, ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu penyelesaian persoalan elektrifikasi masyarakat melalui pelaksanaan tridarma. Salah satunya ditunjukkan melalui inovasi desalinasi air laut yang dikembangkan dosen dan mahasiswa UMM di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, pemanfaatan energi surya untuk menghasilkan air bersih di wilayah dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah merupakan bentuk pengabdian yang patut diapresiasi. “Tadi dari hasil presentasi, saya lihat beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh teman-teman di UMM. Misalnya, desalinasi air laut menjadi air tawar (air bersih) di NTT dengan memanfaatkan energi surya atau matahari sebagai sumber pembangkitnya. Nah, ini adalah wujud pengabdian dan penelitian yang bagus, yang diterapkan langsung ke masyarakat,” ungkapnya. Menurut Numberi, sinergi dan kolaborasi strategis antara pemerintah dan perguruan tinggi seperti UMM menjadi kunci dalam mempercepat transisi energi hijau di Indonesia. Melalui riset terapan dan program pengabdian kepada masyarakat, kemandirian energi nasional serta pencapaian target bebas emisi karbon tidak lagi sekadar menjadi wacana, melainkan masa depan yang sedang dibangun bersama demi kesejahteraan generasi mendatang. (Faqih/AS)