Awas Bisa Budek, Pakar THT UMM Peringatkan Bahaya Sound Horeg

PAKAR Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) yang juga dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Indra Setiawan, Sp.THT. (Foto: Istimewa) MALANG POST – Fenomena hiburan sound horeg, dengan paparan kebisingan ekstrem hingga mencapai 130 desibel, memicu peringatan keras dari pakar Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Indra Setiawan, Sp.THT. Dalam keterangannya pada Jumat (10/7/2026), dr. Indra mengingatkan, intensitas suara masif tersebut dapat memicu kerusakan koklea (telinga dalam) yang berujung pada tuli permanen, sekaligus mencatat terjadinya lonjakan klinis pasien gangguan pendengaran di Malang Raya pascapergelaran acara tersebut. Tren hiburan sound horeg dengan dentuman pengeras suara berskala masif kini semakin menjamur di berbagai daerah, khususnya Malang Raya. Bagi sebagian masyarakat, getaran suara yang menggelegar di dada mungkin dianggap sebagai sensasi hiburan yang meriah dan memuaskan. Namun, di balik euforia tersebut, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan panca indra. Peringatan keras datang dari pakar Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) yang juga dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Indra Setiawan, Sp.THT. Ia mengingatkan bahwa paparan kebisingan ekstrem dari tren ini dapat memicu kerusakan pendengaran parsial hingga level tuli permanen alias budek. Secara medis, batas aman paparan suara menurut standar Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah maksimal 85 desibel selama delapan jam per hari. Kenyataannya, tingkat kebisingan pengeras suara sound horeg umumnya berada di ambang batas ekstrem, yakni berkisar antara 120 hingga 135 desibel. Kenaikan intensitas suara ini memiliki rumus yang sangat mengkhawatirkan. Setiap penambahan tiga desibel, batas waktu aman untuk mendengarkannya akan berkurang menjadi separuh. Artinya, jika seseorang terpapar suara sebesar 121 desibel, batas toleransi amannya hanyalah tujuh detik. Bahkan, jika kekuatan suara mencapai 130 desibel, telinga manusia hanya mampu bertahan selama 1,5 detik sebelum risiko kerusakan organ terjadi. “Kerusakan paling rentan terjadi pada bagian telinga dalam atau koklea, tepatnya pada sel-sel rambut koklea yang berfungsi mengubah energi suara menjadi impuls listrik ke otak. Jika sel ini rusak parah, sifatnya permanen serta tidak bisa diperbaiki,” tegas dr. Indra pada Jumat (10/7/2026) melalui Humas UMM. Selain kerusakan pada sel rambut, paparan desibel tinggi membawa risiko trauma tekanan pada organ telinga tengah. dr. Indra mendapati fakta memprihatinkan di lapangan saat banyak orang tua justru sengaja mengangkat balita mereka mendekati sumber suara demi kesenangan sesaat. Padahal, telinga yang berdenging setelah mendengar dentuman keras merupakan alarm bahaya pertama dari tubuh. Berdasarkan pengalaman klinisnya, pascapergelaran acara bernuansa kebisingan tinggi di kawasan Malang, jumlah pasien yang mengeluhkan penurunan fungsi pendengaran selalu mengalami lonjakan. Ironisnya, penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengalami tuli hingga merasa kesulitan saat berinteraksi. “Tekanan udara dari suara yang terlalu keras jika didengarkan dari jarak dekat dapat merusak tulang-tulang peredam pendengaran, bahkan berisiko membuat gendang telinga mengalami robekan yang membutuhkan tindakan operasi,” urainya. Menyikapi fenomena ini, penggunaan alat pelindung telinga sederhana seperti penyumbat busa (earplug) dinilai kurang efektif karena hanya mampu meredam sekitar 10 desibel. Langkah preventif paling logis bagi masyarakat, terutama kelompok rentan, adalah menjauhi lokasi acara. Sebagai wujud nyata pengabdian, UMM hadir menawarkan solusi taktis. Perguruan tinggi ini memiliki kelengkapan instrumen ukur kebisingan yang presisi dan siap memfasilitasi pemetaan zona aman di lingkungan warga. “UMM memiliki alat pengukur suara yang sangat memadai. Karena itu, kami dari Fakultas Kedokteran sangat siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun institusi terkait guna memetakan jarak aman agar hiburan seni tetap bisa berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat,” paparnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mahasiswa Doktor UMM Raih Paten Mesin Ekstraksi Mengkudu, Inovasi Kampus yang Berpotensi Jadi Peluang Belajar dan Bisnis

Karyanik dan para mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian UMM memperoleh paten atas mesin ekstraksi sari buah mengkudu. (UMM) POJOKSATU.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi di bidang riset dan inovasi. Kali ini, kampus tersebut berhasil memperoleh paten granted untuk inovasi Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu, sebuah teknologi yang dikembangkan melalui penelitian mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa penelitian di perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu melahirkan teknologi yang siap dimanfaatkan masyarakat dan dunia industri. Bagi mahasiswa, keberhasilan tersebut menjadi inspirasi bahwa penelitian yang dilakukan di bangku kuliah dapat berkembang menjadi inovasi bernilai ekonomi sekaligus memiliki perlindungan hak kekayaan intelektual. Hasil Riset Mahasiswa Doktor UMM Paten tersebut difasilitasi oleh Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) UMM sebagai bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian. Riset ini digagas oleh tim yang terdiri atas Karyanik, mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian UMM, bersama Aniek Iriany, Warkoyo, dan Iis Siti Aisyah. Penelitian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penciptaan mesin, tetapi juga mengkaji proses pengolahan buah mengkudu agar kandungan zat aktif di dalamnya tetap terjaga selama proses ekstraksi. Mesin Ekstraksi Lebih Cepat dan Higienis Teknologi yang dikembangkan hadir untuk mengatasi berbagai keterbatasan metode pengolahan mengkudu secara tradisional yang selama ini dinilai kurang efisien. Melalui mesin tersebut, proses pengambilan sari buah mengkudu dapat dilakukan lebih cepat, lebih higienis, serta menghasilkan kadar ekstrak yang lebih tinggi tanpa mengurangi kualitas nutrisi di dalam buah. Baca Juga: Program Studi yang Sangat Langka di Indonesia, Jurusan Katering UNJ, Belajar Mengelola Bisnis Jasa Boga dari Dapur hingga Manajemen Keunggulan tersebut membuka peluang pengembangan berbagai produk olahan berbasis mengkudu dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Tidak hanya bermanfaat bagi industri pengolahan pangan, inovasi ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani serta pelaku usaha yang mengembangkan komoditas lokal. Bukti Daya Saing Riset UMM Kepala Sentra HKI UMM, Nur Putri Hidayah, menjelaskan bahwa keberhasilan memperoleh paten menjadi indikator kuat kualitas penelitian yang dilakukan sivitas akademika UMM. Menurutnya, paten hanya diberikan kepada inovasi yang memiliki unsur kebaruan dan manfaat nyata setelah melalui proses penilaian yang membandingkan teknologi tersebut dengan publikasi ilmiah maupun paten dari berbagai negara. Hal itu menunjukkan bahwa hasil riset UMM mampu bersaing di tingkat global. Jadi Inspirasi Mahasiswa Mengembangkan Inovasi UMM berharap inovasi ini tidak berhenti sebagai capaian akademik semata. Kampus mendorong agar teknologi tersebut segera diimplementasikan secara luas sehingga mampu mengoptimalkan potensi tanaman mengkudu sebagai komoditas lokal bernilai ekonomi tinggi. Keberhasilan ini juga menjadi contoh bagi pelajar dan mahasiswa bahwa penelitian di kampus dapat berkembang menjadi karya inovatif yang terlindungi hak paten, sekaligus membuka peluang karier di bidang riset, teknologi, hingga kewirausahaan berbasis inovasi. Dengan terus memperkuat budaya riset dan pengembangan teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan semakin banyak inovasi yang memberikan manfaat nyata sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. ***

Hindari Sindrom Sarjana Kertas, J.S. Khairen Ajak Mahasiswa UMM Perkaya Keterampilan

SEMARAK: UMM menghadirkan penulis novel fenomenal Kami (Bukan) Sarjana Kertas, J.S. Khairen dalam acara Nyore Sastra area Helipad UMM, Kamis (9/7).  MALANG, RADAR MALANG – Menjawab keresahan lulusan perguruan tinggi yang kerap minim keterampilan praktis, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan penulis novel fenomenal, Kami (Bukan) Sarjana Kertas, J.S. Khairen. Acara bincang santai bertajuk Nyore Sastra di area Helipad UMM, Kamis lalu ini (9/7), mengupas tuntas fenomena jebakan formalitas akademik. Termasuk kiat sukses melahirkan karya tulis yang memikat para pembaca. Dalam pemaparannya, pria yang akrab disapa Bang Khairen ini menyoroti keresahannya terhadap sistem pendidikan dan tingginya ekspektasi sosial saat ini. Ia menilai banyak mahasiswa tertekan oleh besarnya tuntutan orang tua maupun ekosistem kampus yang kaku. Hal ini berdampak buruk pada lahirnya generasi yang sekadar memegang ijazah kelulusan, namun kebingungan menentukan arah hidup saat harus terjun langsung ke tengah masyarakat. “Ekosistem yang menekan dari ekspektasi orang tua hingga mahasiswa yang tersesat memilih jurusan, pada akhirnya hanya akan melahirkan satu generasi represif yang sekadar menjadi sarjana kertas,” ungkapnya. Guna menghindari jebakan formalitas akademik tersebut, Khairen mengajak mahasiswa untuk terus membekali diri dengan ragam keterampilan di luar disiplin ilmu utama mereka, salah satunya adalah literasi. Ia secara khusus membagikan tips konkret dalam menulis buku bagi pemula, mulai dari membangun kebiasaan membaca setiap hari, memperkaya pengalaman, hingga trik meramu penokohan. Ia menyarankan agar setiap elemen dalam cerita, termasuk nama karakter, dikonsep secara matang dan bermakna. “Pemberian nama tokoh harus sesuai dengan sifat, pesan, atau makna yang dibawa oleh karakter tersebut, sehingga pembaca bisa langsung menangkap esensi cerita dengan kuat,” urainya memberikan contoh praktis penulisan. Khairen juga mewanti-wanti penulis pemula agar tidak terburu-buru menjadikan profesi menulis sebagai sumber penghasilan tunggal (full-time writer). Menurutnya, seorang penulis wajib memiliki modal finansial yang stabil dan pengalaman hidup yang memadai agar karya yang dihasilkan memiliki kedalaman makna. Antusiasme peserta pun semakin terlihat di akhir sesi bincang, di mana para mahasiswa secara serentak menuliskan harapan serta definisi: Bukan Sarjana Kertas, di selembar kertas dan menancapkannya pada papan styrofoam raksasa. BEKALI DIRI: J.S. Khairen berbagi pengalaman dan ilmu bareng mahasiswa UMM.   Merespons fenomena sarjana kertas tersebut dari sudut pandang akademis, penanggung jawab kegiatan sekaligus pakar sosiolinguistik, Dr M. Isnaini, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa esensi gelar kesarjanaan menuntut pembuktian kompetensi yang nyata. Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Modern (BSI Modern) UMM itu berharap, diskusi santai ini mampu memantik kesadaran kolektif mahasiswa bahwa ijazah wajib dibarengi kualitas dan keterampilan diri di lapangan. “Sarjana itu tidak cukup, harus memiliki pengalaman, harus memiliki skill, harus ditopang dengan keberanian dan kemampuan yang lain. Jadi tidak cukup sebatas diwisuda dan punya kertas ijazahnya,” pesannya. Melalui giat edukatif Nyore Sastra ini, mahasiswa diingatkan kembali bahwa esensi perkuliahan bukan sekadar ajang berburu nilai akademik dan selembar kertas ijazah kelulusan. Dibutuhkan kemauan keras untuk mengeksplorasi minat, memperluas jaringan sosial, dan mengasah keterampilan praktis di luar ruang kelas agar lulusan kelak mampu beradaptasi, berinovasi, dan terhindar dari jerat sindrom sarjana kertas di tengah ketatnya persaingan dunia kerja profesional. (*)