Bahaya Sound Horeg, Paparan Singkat Bisa Picu Gangguan Pendengaran

Karnaval Purwosekar Tajinan, Malang, Jawa Timur yang menampilkan kreasi Sound Horeg. (Foto: Youtube/Keyla Khanza) RRI.CO.ID, Kendari – Tren sound horeg belakangan semakin ramai menjadi hiburan di berbagai daerah. Meski menghadirkan dentuman suara yang spektakuler, para ahli mengingatkan bahwa paparan suara dengan intensitas sangat tinggi dapat berdampak serius bagi kesehatan telinga, bahkan memicu gangguan pendengaran permanen. Pakar Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjelaskan, telinga manusia memiliki batas toleransi terhadap kebisingan. Semakin keras suara yang didengar, semakin singkat pula waktu aman untuk terpapar. Secara medis, paparan suara hingga 85 desibel masih tergolong aman jika didengar selama maksimal delapan jam. Namun, ketika intensitas suara meningkat menjadi sekitar 100 desibel, waktu aman turun menjadi sekitar 15 menit. Sementara pada tingkat 130 desibel, telinga hanya mampu mentoleransi paparan sekitar 1 hingga 2 detik sebelum risiko kerusakan meningkat drastis. Angka tersebut sejalan dengan berbagai penelitian mengenai kesehatan pendengaran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama dapat menyebabkan noise-induced hearing loss atau gangguan pendengaran akibat kebisingan. Risiko tersebut meningkat seiring bertambahnya intensitas suara dan lamanya paparan. Sound horeg sendiri diperkirakan mampu menghasilkan suara berkisar 120 hingga 135 desibel, setara dengan suara mesin jet dari jarak dekat atau sirene berintensitas sangat tinggi. Pada tingkat tersebut, paparan yang terlalu lama berpotensi merusak sel-sel rambut halus di dalam koklea, bagian telinga yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal menuju otak. Masalahnya, sel rambut koklea yang rusak tidak dapat tumbuh kembali. Akibatnya, seseorang dapat mengalami telinga berdenging (tinnitus), pendengaran berkurang, hingga kehilangan kemampuan mendengar secara permanen. Kelompok yang paling rentan terhadap dampak kebisingan antara lain anak-anak, balita, dan lansia. Karena itu, masyarakat diimbau menjaga jarak dari sumber suara dan membatasi durasi paparan apabila berada di sekitar acara dengan tingkat kebisingan tinggi. UMM juga menyatakan kesiapannya mendukung pemerintah dalam menyusun pemetaan zona aman kebisingan. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara penyelenggaraan hiburan masyarakat dan perlindungan kesehatan pendengaran. Jadi, Sobat RRI, menikmati hiburan tentu sah-sah saja. Namun, menjaga kesehatan telinga juga tak kalah penting, karena kemampuan mendengar merupakan aset yang sulit dipulihkan apabila sudah mengalami kerusakan permanen.
Datangkan Pakar AS, FK UMM Kupas Tuntas Rahasia Eskalasi Karir Kedokteran

Menjadi dokter sukses di kancah global tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan klinis yang mumpuni, tetapi juga strategi pengembangan karir melalui jejaring profesional yang kuat. Penegasan ini disampaikan langsung oleh pakar dari Johns Hopkins University School of Medicine, Amerika Serikat, Che Matthew Harris, MD, MS, FACP, dalam International Guest Lecture Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) yang dihadiri ratusan mahasiswa pada Rabu (8/7). Dalam pemaparannya, Harris menyoroti bahwa mahasiswa kedokteran harus mulai menyadari perbedaan fundamental antara peran pendidik, mentor, dan sponsor demi menunjang eskalasi karir medis mereka di masa depan. “Bimbingan, pelatihan, dan sponsor adalah hal-hal yang akan Anda lihat saat Anda melanjutkan karir di bidang kedokteran. Pada akhirnya, Anda akan menjadi seorang mentee yang menerima masukan serta sumber daya untuk mencapai tujuan karir, dan di saat yang sama, Anda juga akan mengajarkan generasi dokter berikutnya agar mereka bisa sukses dan berkembang,” tegasnya. Lebih lanjut, ia merinci bahwa seorang mentor akan selalu mendampingi pertumbuhan profesional dalam jangka panjang serta memberikan umpan balik yang jujur, sementara pendidik lebih berfokus pada pelatihan keterampilan medis yang bersifat teknis dalam jangka waktu yang lebih pendek. “Seorang mentor ingin melihat pertumbuhan profesional Anda berkembang seiring berjalannya waktu, ini adalah hubungan jangka panjang. Di sisi lain, pendidik adalah seseorang yang berada dalam hubungan jangka pendek, yang hadir untuk membantu Anda mengembangkan keterampilan klinis tertentu,” paparnya. Selain kedua peran tersebut, Harris juga menjelaskan tingkatan tertinggi yakni dukungan, yang merupakan tokoh di posisi strategis untuk mengadvokasi dan merekomendasikan seorang dokter pada peran kepemimpinan atau proyek riset. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan mendapatkan relasi prestisius ini sangat bergantung pada proaktivitas, inisiatif, dan cara mahasiswa membawa diri saat berdiskusi. “Ingatlah sebagai mentee, Anda berada di kursi pengemudi untuk kesuksesan Anda sendiri. Tidak ada yang bisa melakukannya tanpa Anda. Anda harus menetapkan kesepakatan dengan mentor, siapkan agenda yang padat, dan datanglah dengan membawa solusi, bukan sekadar masalah,” tambahnya. Di samping bimbingan dari senior, Harris juga mendorong mahasiswa untuk membiasakan bimbingan teman sebaya untuk saling bertukar ide dan menjaga akuntabilitas dalam mencapai target akademik sehari-hari. Pesan krusial dari kuliah tamu ini adalah bahwa kepakaran medis akan jauh lebih berdampak jika didukung oleh kemampuan komunikasi yang efektif dan ekosistem interaksi sosial yang solid. Mahasiswa diharapkan tidak hanya cerdas di ruang kelas, tetapi proaktif membangun jejaring dan memegang kendali penuh atas tujuan karir profesionalnya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Skenario Nasib Koperasi Desa Merah Putih
Mahasiswa UMM Tutup Rangkaian TRAX 2026 Lewat MotoBooth, Pengunjung Kayutangan Heritage Antusias Berfoto

Kelompok Artheera menghadirkan Mini Exhibition Moto East Java melalui konsep MotoBooth hasil kolaborasi bersama Diarch sebagai aktivasi pasca-event. Media Bangsa – MALANG, 7 Juli 2026 – Setelah sukses menyelenggarakan TRAX 2026, kelompok Artheera dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Mini Exhibition Moto East Java di kawasan Kayutangan Heritage sebagai rangkaian pasca-event. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi mata kuliah Praktikum Brand Activation untuk mempertahankan awareness masyarakat terhadap Moto East Java. MotoBooth menjadi daya tarik utama dalam exhibition. Berkolaborasi dengan Diarch, Artheera menghadirkan frame foto bertema adventure trail lengkap dengan unit motor trail Moto East Java yang dapat digunakan pengunjung sebagai properti berfoto. Selain menikmati MotoBooth, pengunjung juga mengikuti Temporary Tattoo Experience dengan berbagai pilihan desain bertema adventure serta memperoleh stiker Moto East Java sebagai merchandise campaign. “Saya tertarik karena konsepnya berbeda. Biasanya photobooth hanya menyediakan background, tetapi di sini ada motor trail asli sehingga hasil fotonya lebih menarik,” ujar Vina, salah satu pengunjung. Ketua Pelaksana Artheera mengatakan bahwa Mini Exhibition menjadi penutup rangkaian TRAX 2026 sekaligus upaya menjaga kedekatan Moto East Java dengan masyarakat melalui pengalaman yang menyenangkan.
Pengamat: Pendidikan Umum Saja Tak Lagi Cukup bagi Orang Tua

Pengamat pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Akhsanul In’am, Ph.D. (Foto. Redaksi) KEDIRI, (KUBUS.ID) – Dimulainya tahun ajaran baru menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Pengamat pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menilai setiap awal tahun ajaran harus dimanfaatkan untuk memperbaiki berbagai aspek pendidikan. “Memasuki tahun ajaran baru ini adalah momentum untuk refleksi dan mengevaluasi semuanya. Setiap saat harus dievaluasi, setiap tahun ajaran baru harus selalu melakukan perbaikan,” kata Prof. In’am saat mengudara di FM 105,7 Radio ANDIKA pada Minggu, (12/07). Menurutnya, perkembangan dunia pendidikan saat ini juga ditandai dengan perubahan pola pikir masyarakat dalam memilih sekolah bagi anak. Semakin banyak orang tua yang menginginkan lembaga pendidikan dengan basis keagamaan yang kuat. “Saat ini tren orang tua berubah. Mereka yang mampu cenderung menyekolahkan anaknya ke sekolah yang memiliki basis keagamaan kuat,” ujarnya. Ia menilai kebijakan sistem zonasi turut mendorong perubahan tersebut. Banyak orang tua kemudian memilih sekolah di bawah naungan Kementerian Agama karena dinilai mampu memberikan pendidikan umum sekaligus penguatan karakter dan nilai-nilai keagamaan. “Dengan adanya zonasi, Kementerian Agama justru diuntungkan karena semakin banyak orang tua yang mempercayakan anaknya ke sekolah berbasis agama,” jelasnya. Prof. Akhsanul menambahkan, kesadaran masyarakat kini semakin tinggi bahwa pendidikan akademik saja tidak cukup. Orang tua mulai mencari sekolah yang mampu membekali anak dengan pendidikan karakter dan nilai-nilai spiritual. “Orang tua sekarang sadar pendidikan umum saja tidak cukup. Karena itu mereka juga mencari sekolah berbasis agama, baik muslim maupun non muslim,” pungkasnya. (far)
Belajar dari Kegagalan KUD, Dosen UMM Ingatkan KDMP Harus Berbasis Pemberdayaan Desa

Abdus Salam. Foto: Istimewa pwmu.co – Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memiliki peluang menjadi penggerak baru ekonomi pedesaan. Namun, tanpa pemberdayaan masyarakat yang kuat, program ini berisiko mengulang kegagalan Koperasi Unit Desa (KUD) pada era Orde Baru. Peringatan itu disampaikan Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Abdus Salam, M.Si di Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2026. Pemerintah pun menegaskan bahwa desain KDMP telah disiapkan dengan pendekatan modern melalui pelatihan, pendampingan, dan evaluasi berkelanjutan agar tidak mengulangi persoalan masa lalu. Abdus Salam menilai keberhasilan KDMP tidak cukup diukur dari banyaknya koperasi yang terbentuk atau besarnya anggaran yang digelontorkan. Yang lebih penting adalah tumbuhnya partisipasi masyarakat sebagai pemilik sekaligus penggerak koperasi. “KDMP memiliki potensi besar. Namun tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan penguatan sumber daya manusia lokal, program ini bisa berakhir seperti banyak KUD pada masa lalu, ada di atas kertas, tetapi rapuh secara sosial dan ekonomi,” ujarnya. Menurutnya, koperasi sejatinya dibangun di atas prinsip demokrasi ekonomi, gotong royong, dan partisipasi anggota. Ketiga prinsip tersebut sulit tumbuh apabila koperasi lebih banyak lahir melalui pendekatan administratif daripada kebutuhan masyarakat. Dia menilai banyak KUD pada era Orde Baru berkembang karena dorongan kebijakan pemerintah yang bersifat top-down. Ketika dukungan negara melemah, banyak koperasi kehilangan daya hidup karena tidak memiliki basis sosial yang kuat. “Banyak KUD tumbuh karena dorongan kebijakan dari atas, bukan karena kebutuhan masyarakat. Akibatnya, ketika dukungan negara melemah, koperasi kehilangan daya hidupnya,” katanya. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kementerian Koperasi dan UKM memastikan KDMP disusun dengan pendekatan yang berbeda. Direktur Pembiayaan Koperasi Kementerian Koperasi dan UKM, Siti Rahmawati, menjelaskan bahwa KDMP tidak hanya diposisikan sebagai lembaga administratif, tetapi sebagai pusat layanan ekonomi masyarakat desa. Menurutnya, pemerintah menyiapkan berbagai instrumen pendukung, mulai dari pendidikan perkoperasian bagi pengurus, inkubasi usaha selama 24–36 bulan, akses pembiayaan melalui lembaga keuangan mitra, hingga audit partisipatif di desa percontohan. “Kami juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi, LSM, dan sektor swasta dalam pendampingan agar KDMP tumbuh secara organik dari kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Tiga Catatan Penting Meski mengapresiasi komitmen pemerintah, Abdus Salam menilai masih ada tiga aspek yang harus menjadi perhatian utama. Pertama, pembentukan koperasi harus benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat (bottom-up) agar memperoleh legitimasi sosial. Kedua, pemerintah perlu menyediakan pendampingan dan penguatan SDM desa secara berkelanjutan, minimal selama tiga hingga lima tahun. Ketiga, mekanisme tata kelola harus mampu mencegah elite capture melalui transparansi dalam pemilihan pengurus dan pengelolaan dana koperasi. “Indikator keberhasilan tidak boleh hanya jumlah koperasi atau besaran anggaran, melainkan dampak nyata terhadap kesejahteraan anggota,” tegasnya. Pemerintah menyatakan terbuka terhadap berbagai masukan akademisi. Kementerian Koperasi dan UKM bahkan berencana memperkuat indikator berbasis hasil (outcome), memperluas pelatihan berkelanjutan, serta meningkatkan pelibatan masyarakat dalam evaluasi program. KDMP sendiri merupakan implementasi Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Program ini diproyeksikan menjadi pusat layanan ekonomi desa yang memperkuat ketahanan pangan, memperluas akses pembiayaan, memperpendek rantai distribusi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Abdus Salam menegaskan, momentum Hari Koperasi Nasional tahun ini seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan KDMP tidak hanya ditentukan oleh besarnya program pemerintah. “Lebih dari itu, keberhasilannya bergantung pada kemampuan menjadikan koperasi sebagai gerakan ekonomi yang benar-benar tumbuh dari masyarakat, bukan sekadar proyek pembangunan,” tandasnya. (*)
Pakar THT UMM Soroti Bahaya Sound Horeg Bagi Kesehatan Panca Indera

ILUSTRASI: Penampakan sound horeg. (FOTO: Jakarta Globe) Times Indonesia, MALANG – Pakar Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr Indra Setiawan, SpTHT menyoroti fenomena sound horeg yang akrab dengan dentuman keras pengeras suara yang saat ini banyak berkembang di beberapa daerah di Jawa Timur. Menurutnya, fenomena tersebut memiliki risiko serius terhadap kesehatan panca indera manusia. “Dentuman suara sound horeg menyimpan ancaman serius terhadap kesehatan panca indra,” jelasnya. dr. Indra menjelaskan bahwa secara medis, standar keamanan paparan suara menurut WHO adalah maksimal 85 desibel selama delapan jam per hari. Larung Tumpeng hingga Karnaval Sound Horeg Meriahkan Distrikan Ranuklindungan 2026 Namun, tingkat kebisingan sound horeg bisa mencapai batas ambang ekstrem, yakni berkisar antara 120 hingga 135 desibel. Ia mengatakan bahwa setiap penambahan 3 desibel, batas waktu aman untuk mendengarkannya akan berkurang menjadi separuh. Artinya, jika seseorang terpapar suara sebesar 121 desibel, batas toleransi amannya hanyalah tujuh detik. Bahkan, jika mencapai kekuatan 130 desibel, telinga manusia hanya mampu bertahan selama 1,5 detik sebelum risiko kerusakan organ terjadi. Lanjutnya, risiko kerusakan paling parah terjadi pada bagian telinga dalam atau koklea. Kartini Modern Banyuwangi, Desi Prakasiwi: Mengabdi untuk Ekonomi Rakyat dan Peradaban “Kerusakan paling parah terjadi di koklea, tepatnya di sel rambut koklea yang berfungsi merubah energi suara menjadi impuls listrik ke otak, dan jika sel ini rusak parah maka sifatnya permanen serta tidak bisa diperbaiki,” imbuhnya. Tak hanya itu, desibel yang ekstrem juga memiliki risiko trauma tekanan pada organ telinga tengah. Potret Takbir Keliling Pesisir Pacitan, Antara Syahdu Obor dan Gelagar Sound Horeg Indra juga menyoroti beberapa kasus di kawasan Malang yang mendapati pasien mengeluhkan fungsi pendengaran mereka. Ironisnya, lanjut Indra, penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengalami tuli hingga ia merasa kesulitan saat berinteraksi. “Tekanan udara dari suara yang jaraknya dekat dapat merusak tulang-tulang peredam pendengaran, bahkan berisiko gendang telinga mengalami robekan dan berpotensi dioperasi,” tegasnya. Indra pun memberikan saran untuk masyarakat dapat menggunakan alat pelindung telinga sederhana seperti penyumbat busa dinilai kurang efektif karena hanya mampu meredam sekitar 10 desibel. Namun, langkah paling logis bagi masyarakat adalah menjauhi lokasi acara, terutama bagi kelompok rentan. “Masyarakat bisa menggunakan alat pelindung telinga sederhana, tapi langkah paling logis tetap harus menjauhi lokasi sound horeg, terutama bagi kelompok rentan,” pungkasnya. (*)
Dosen UMM Soroti Risiko KDKMP: Berpotensi Ulangi Kegagalan KUD Era Orde Baru

Dosen Sosiologi UMM, Abdus Salam, menyampaikan kekhawatirannya terhadap risiko program KDKMP yang menurutnya berpotensi mengulang kegagalan KUD era Orde Baru. (Foto: Dok. Pribadi) MAKLUMAT — Menyambut Hari Koperasi Nasional yang diperingati setiap 12 Juli, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Abdus Salam, menyampaikan kekhawatirannya terhadap risiko program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang berpotensi mengulang kegagalan Koperasi Unit Desa (KUD) era Orde Baru, jika pelaksanaannya tidak benar‑benar berbasis pemberdayaan masyarakat. Pemerintah dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa KDKMP dirancang dengan pendekatan modern dan menyertakan strategi pendampingan untuk mencegah terulangnya masalah tersebut. Menurut Salam, KDKMP memiliki potensi besar dalam memperkuat ekonomi desa, tetapi ia juga menyoroti potensi risiko yang mungkin terjadi dan mengulang kegagalan program KUD di masa lalu. “KDKMP punya potensi besar, tetapi tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan penguatan SDM lokal, program ini bisa berakhir seperti banyak KUD pada masa lalu—ada di atas kertas, tetapi rapuh secara sosial dan ekonomis,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Maklumat.id, Ahad (12/7/2026). Belajar dari Kegagalan KUD Salam menjelaskan, filosofi koperasi menuntut partisipasi anggota, demokrasi ekonomi, dan gotong royong. Namun, ia menilai banyak KUD pada era Orde Baru dibentuk lewat kebijakan top‑down sehingga mudah runtuh ketika dukungan negara mengendur. “Banyak KUD tumbuh karena dorongan kebijakan dari atas, bukan karena kebutuhan masyarakat. Akibatnya, ketika dukungan negara melemah, koperasi kehilangan daya hidupnya,” sorotnya. Langkah Antisipasi Pemerintah Menanggapi kekhawatiran tersebut, Direktur Pembiayaan Koperasi Kementerian Koperasi (Kemenkop) Siti Rahmawati menyebut bahwa desain KDKMP telah mempertimbangkan aspek pemberdayaan dan keberlanjutan. “KDKMP dirancang tidak hanya sebagai lembaga administratif tetapi juga sebagai pusat layanan ekonomi berbasis masyarakat. Kami menerapkan model pembentukan koperasi yang melibatkan pelatihan, pendampingan teknis, dan mekanisme evaluasi berkelanjutan,” kata Siti Rahmawati, dalam pernyataan tertulis dikutip Ahad (12/7/2026). Ia juga menerangkan beberapa langkah konkret yang sedang dijalankan untuk menyukseskan program KDKMP, seperti modul pendidikan perkoperasian untuk pengurus desa, program inkubasi usaha selama 24–36 bulan (2-3 tahun), akses kredit mikro melalui lembaga keuangan mitra, hingga pilot program audit partisipatif di sejumlah desa percontohan. “Kami juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi, LSM, dan sektor swasta dalam pendampingan agar KDMP tumbuh secara organik dari kebutuhan masyarakat,” tambah Siti. Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Abdus Salam menegaskan tiga perhatian utama yang menurutnya harus tetap menjadi fokus, yakni memastikan proses benar‑benar bottom‑up agar legitimasi sosial tumbuh; alokasi waktu dan sumber daya untuk penguatan SDM lokal, dengan pendampingan jangka minimal 3–5 tahun; serta mekanisme anti‑elite capture dan transparansi dalam pemilihan pengurus serta pengelolaan dana. “Indikator keberhasilan tidak boleh hanya jumlah koperasi atau besaran anggaran, melainkan dampak nyata terhadap kesejahteraan anggota,” tegasnya. Merespons hal itu, Siti menyambut positif dan menyatakan kesiapan Kemenkop untuk memperkuat indikator berbasis outcome dalam pemantauan KDKMP, serta menambah alokasi untuk program pelatihan berkelanjutan. “Kami siap meninjau mekanisme evaluasi dan menambah komponen pelibatan masyarakat dalam setiap tahap. Kritik konstruktif dari akademisi dan praktisi sangat membantu penyempurnaan implementasi,” kelakarnya. Selain itu, beberapa praktisi pemberdayaan dan akademisi juga menyarankan langkah tambahan, antara lain pembentukan forum komunikasi antar‑KDKMP untuk berbagi praktik baik, skema insentif berbasis kinerja, serta integrasi KDMP dengan rantai nilai lokal melalui kerja sama dengan koperasi sektor primer dan pedagang lokal. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Sebagai informasi, program KDKMP sendiri merupakan bagian dari implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Pemerintah menargetkan KDKMP menjadi pusat layanan ekonomi masyarakat yang memperkuat ketahanan pangan, memperluas akses pembiayaan, memendekkan rantai distribusi, dan meningkatkan kesejahteraan desa. Peringatan Hari Koperasi Nasional 2026 menjadi momentum untuk menjawab tantangan operasional yang terletak pada bagaimana perumusan kebijakan diterjemahkan menjadi praktik pemberdayaan yang konkret di tingkat desa. Jika pemerintah konsisten menguatkan proses bottom‑up, investasi kapasitas, dan akuntabilitas—serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan—KDKMP berpeluang menjadi instrumen transformasi ekonomi pedesaan. Sebaliknya jika tidak, risiko mengulang sejarah KUD tetap mengintai dan kian nyata.
Mahasiswa UMM Asal Sumenep Gaungkan Gerakan Madura Literat, Ajak Generasi Muda Bangun Budaya Baca Tulis

Fitrah Fadhihilah Rahman, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Asal Desa Paberasan Sumenep JAVANETWORK.CO.ID.MALANG – Gagasan besar untuk membangun Madura melalui budaya literasi datang dari kalangan mahasiswa. Fitrah Fadhihilah Rahman, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengajak masyarakat menjadikan membaca dan menulis sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia melalui gerakan Madura Literat. Ajakan tersebut disampaikan melalui video kampanye literasi yang mendapat perhatian luas di media sosial. Dalam video itu, Fadhil mengingatkan bahwa kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas literasi masyarakat. Menurutnya, Madura memiliki modal budaya yang kuat melalui tradisi lisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, tanpa diimbangi budaya membaca dan menulis yang semakin baik, potensi tersebut akan sulit berkembang menjadi kekuatan yang mampu meningkatkan daya saing daerah. “Madura memiliki budaya tutur yang kuat. Namun, tanpa dibarengi keseriusan membangun literasi baca tulis, kondisi ini dapat menjadi hambatan utama bagi kemajuan,” ujar Fadhil. Ia menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Madura, mulai dari pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang melambat, belum meratanya akses terhadap bahan bacaan, hingga meningkatnya ancaman penyebaran hoaks di era digital. Baca Juga : SDN Poja I Cetak Generasi Berkarakter Religius dengan Tradisi Pembacaan Surah Yasin Setiap Jumat Meski demikian, Fadhil menegaskan bahwa perubahan bukan sesuatu yang mustahil. Ia mencontohkan Gerakan Lubuk Literasi di Pamekasan sebagai bukti bahwa keterbatasan fasilitas tidak menghalangi lahirnya inovasi. Gerakan tersebut dinilai berhasil membuka ruang belajar sekaligus mendorong kreativitas anak-anak desa melalui budaya membaca dan menulis. Baca Juga : Kepala Bakesbangpol Sumenep Pastikan Duplikat Bendera Pusaka Berkibar di HUT RI ke-79 Selain itu, upaya digitalisasi sastra lisan juga disebut memberi dampak positif terhadap penguatan literasi budaya dengan peningkatan yang mencapai 32,75 persen. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan penguatan literasi dapat berjalan beriringan. Fadhil juga menilai pesantren memiliki peran penting dalam membangun ekosistem literasi di Madura. Melalui tradisi dakwah bil-kitabah, penguatan perpustakaan, serta pemanfaatan teknologi digital, pesantren diyakini mampu melahirkan generasi yang lebih kritis, adaptif, dan siap menghadapi tantangan zaman. “Generasi yang kritis tidak lahir dalam semalam. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pesantren, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat agar budaya literasi benar-benar menjadi gerakan bersama,” katanya. Mahasiswa asal Desa Paberasan Sumenep itu berharap gerakan Madura Literat tidak berhenti sebagai kampanye di media sosial, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat daya saing Madura di tingkat nasional. “Saatnya kita wujudkan Madura Literat. Madura Hebat,” tegas Fadhil menutup kampanyenya.
Mahasiswa UMM Tutup Rangkaian TRAX 2026 Lewat MotoBooth, Pengunjung Kayutangan Heritage Antusias Berfoto

Kabar Nusantara – Kelompok Artheera menghadirkan Mini Exhibition Moto East Java melalui konsep MotoBooth hasil kolaborasi bersama Diarch sebagai aktivasi pasca-event. MALANG, 7 Juli 2026 – Setelah sukses menyelenggarakan TRAX 2026, kelompok Artheera dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Mini Exhibition Moto East Java di kawasan Kayutangan Heritage sebagai rangkaian pasca-event. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi mata kuliah Praktikum Brand Activation untuk mempertahankan awareness masyarakat terhadap Moto East Java. MotoBooth menjadi daya tarik utama dalam exhibition. Berkolaborasi dengan Diarch, Artheera menghadirkan frame foto bertema adventure trail lengkap dengan unit motor trail Moto East Java yang dapat digunakan pengunjung sebagai properti berfoto. Selain menikmati MotoBooth, pengunjung juga mengikuti Temporary Tattoo Experience dengan berbagai pilihan desain bertema adventure serta memperoleh stiker Moto East Java sebagai merchandise campaign. “Saya tertarik karena konsepnya berbeda. Biasanya photobooth hanya menyediakan background, tetapi di sini ada motor trail asli sehingga hasil fotonya lebih menarik,” ujar Vina, salah satu pengunjung. Ketua Pelaksana Artheera mengatakan bahwa Mini Exhibition menjadi penutup rangkaian TRAX 2026 sekaligus upaya menjaga kedekatan Moto East Java dengan masyarakat melalui pengalaman yang menyenangkan.