Daur Ulang 92 Persen Sampah Organik, UMM Buktikan Diri sang Pelopor Kampus Hijau

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus hijau melalui pengelolaan sampah organik berbasis sistem sirkular terintegrasi. Melalui program tersebut, UMM berhasil mengolah 92 persen sampah organik menjadi pupuk dan produk ramah lingkungan lainnya. Ketua Tim GreenMetric UMM Sandi Wahyudiono MT menjelaskan bahwa program ini tidak hanya mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mendukung kebutuhan pupuk untuk ruang terbuka hijau di lingkungan kampus. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke TPA, tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” ujarnya. Pada 2025, total sampah organik yang dihasilkan seluruh fasilitas UMM mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau sekitar 92 persen berhasil diolah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. Menurut Sandi, keberhasilan tersebut didukung implementasi program vermikompos yang menjadi inti pengelolaan sampah berkelanjutan di UMM. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah dan dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter. Selanjutnya, material tersebut difermentasi dengan campuran bahan karbon seperti sekam padi dengan tingkat kelembapan 60–70 persen. Setelah melalui proses fermentasi selama 7–14 hari dalam reaktor tertutup, hasil olahan dipindahkan ke unit modular untuk proses vermikompos menggunakan cacing tanah jenis Eisenia fetida. “Olahan sampah organik itu kemudian diurai oleh cacing tanah hingga menjadi pupuk kaya nutrisi,” jelasnya. UMM juga didukung fasilitas pengolahan modern hasil pengembangan kampus, seperti mesin pencacah berkapasitas 200 kilogram per jam, saringan kompos 100 kilogram per jam, dan granulator 100 kilogram per jam. Setelah melalui proses selama 40–60 hari, kompos organik siap digunakan untuk taman kampus, kebun edukasi, hingga lahan pertanian mitra. Selain menghasilkan kompos, limbah kantin berupa kulit sayur dan buah juga diolah menjadi eko-enzim. Program edukasi yang dijalankan setiap hari di UMM Edupark mampu memproduksi lebih dari lima liter cairan eko-enzim per hari. Capaian ini memperkuat posisi UMM sebagai salah satu kampus yang aktif mendorong praktik berkelanjutan dan aksi ramah lingkungan di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia. (Faqih/AS)
Jangan Tertipu Badan Besar! Dosen UMM Ungkap Cara Memilih Hewan Kurban yang Benar dan Sehat

POJOKSATU.id – Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas jual beli hewan kurban mulai ramai di berbagai daerah. Banyak masyarakat tergoda memilih hewan berbadan besar atau berharga mahal karena dianggap lebih baik untuk kurban. Padahal, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi faktor paling penting agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar mengingatkan masyarakat agar lebih teliti saat memilih hewan kurban. Mengutip laman resmi UMM, Lili membagikan sejumlah panduan sederhana untuk mendeteksi kondisi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik. Perhatikan Cara Berdiri dan Kondisi Mata Menurut Lili, langkah pertama yang bisa dilakukan calon pembeli adalah mengamati postur tubuh dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan dapat berdiri tegak dan tidak mengalami pincang. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat Islam. Selain postur tubuh, kondisi mata juga perlu diperhatikan. Hewan kurban tidak boleh mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan. “Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh,” jelasnya. Waspadai Penyakit PMK dan Antraks Lili juga meminta masyarakat memperhatikan kebersihan kulit hewan. Kulit yang sehat umumnya bersih dan tidak mengalami penyakit seperti kudis atau skabies. Tak kalah penting, masyarakat diminta mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku dan Antraks. Hewan yang terindikasi PMK biasanya menunjukkan gejala berupa: Lendir berlebihan dari mulut Luka pada gusi dan lidah Radang kemerahan di sela kuku kaki Sementara itu, hewan yang terkena Antraks umumnya mengalami kejang-kejang dan pendarahan dari hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya. Pilih Hewan yang Aktif dan Nafsu Makannya Baik Kesehatan hewan juga dapat dilihat dari perilaku sehari-harinya. Hewan yang sehat biasanya aktif makan, terlihat bugar, dan tidak lemas. Agar hasil daging lebih maksimal, Lili menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk namun tetap sehat. Selain kondisi fisik, usia hewan juga wajib memenuhi syariat, yakni: Sapi minimal berusia 2 tahun Kambing atau domba minimal 1 tahun Hewan Perlu Diistirahatkan Sebelum Disembelih Di akhir penjelasannya, Lili menyoroti hal yang sering diabaikan masyarakat, yakni masa istirahat hewan sebelum penyembelihan. Hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu agar tidak mengalami stres berlebihan. Kondisi kelelahan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), yaitu kondisi yang menyebabkan kualitas daging menurun drastis karena teksturnya menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan bisa lebih cermat memilih hewan kurban, bukan hanya berdasarkan ukuran atau harga semata. ***
Sukses Daur Ulang 92% Sampah Organik, UMM Buktikan Diri Sebagai Pelopor Kampus Hijau

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan tajinya sebagai kampus inovasi mandiri yang senantiasa memberikan dampak dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan. Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, Kampus Putih kini sukses menyulap sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijaunya. Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa siklus mandiri ini ibarat peribahasa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, sebuah inovasi berdampak yang menyelesaikan dua masalah besar sekaligus. “Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tegas Sandi. Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM membuktikan bahwa dengan tata kelola melingkar ini, urusan limbah kantin tuntas teratasi, dan di saat yang sama kebutuhan pupuk tanaman kampus pun beres terpenuhi dari dalam kampus itu sendiri. Keberhasilan ekosistem ini dibuktikan dengan angka yang fantastis. Pada tahun 2025, total volume sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas UMM tercatat mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau setara dengan 92% berhasil diselamatkan dan diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III. “Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” paparnya. Bagaimana keajaiban ekologis ini bekerja? Siklus ramah lingkungan tersebut bermula langsung dari meja makan mahasiswa. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah yang terkumpul dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah secara ketat lalu dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter. Material cacahan ini kemudian memasuki tahap fermentasi, di mana sampah dicampur dengan bahan karbon seperti sekam padi dan diatur kelembapannya pada kisaran 60–70%. Setelah difermentasi di dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari, hasil olahan tersebut dipindahkan ke unit modular. Di sinilah proses vermikompos terjadi, di mana olahan sampah organik tadi disajikan sebagai hidangan utama yang akan diurai dan dimakan oleh cacing tanah jenis Eisenia fetida hingga menjadi pupuk yang kaya nutrisi. Proses masif ini didukung oleh fasilitas dan mesin mutakhir hasil pengembangan kampus, mulai dari mesin pencacah berkapasitas 200 kg/jam, saringan kompos 100 kg/jam, hingga granulator 100 kg/jam yang dikelola oleh staf profesional. Pasca 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen untuk menyuburkan taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra. Tak berhenti pada kompos, limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga didaur ulang menjadi cairan kaya manfaat, yakni eko-enzim. Melalui program edukatif yang berjalan setiap hari di UMM Edupark, kampus ini sanggup memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per harinya. Kesuksesan mengolah 92% sampah organik ini menjadi bukti nyata bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam. Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak lead, capaian ini menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim. Melalui inovasi dan kemandirian ini, UMM tidak sekadar merawat lingkungan kampusnya sendiri, melainkan tengah memimpin dengan membangun cetak biru (blueprint) inspiratif bagi institusi pendidikan lain di Indonesia untuk bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (diko)
Begini Cara Pilih Hewan Kurban yang Tepat Menurut Dosen UMM, Jangan Tertipu hanya Melihat Badan Besar Saja

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Tak lama lagi Hari Raya Iduladha tiba. Aktivitas jual beli hewan kurban pun mulai ramai di berbagai daerah. Namun jangan sampai terkecoh saat membeli. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar mengingatkan, hewan berbadan besar atau berharga mahal bukan yang terbaik. “Ingat, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi faktor paling penting agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi,” ucapnya. Perlu ketelitian saat memilih hewan kurban. Lili pun membagikan sejumlah panduan sederhana untuk mendeteksi kondisi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik, mengutip laman resmi UMM. Menurut Lili, langkah pertama yang bisa dilakukan calon pembeli adalah mengamati postur tubuh dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan dapat berdiri tegak dan tidak mengalami pincang. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat Islam. Selain postur tubuh, kondisi mata juga perlu diperhatikan. Hewan kurban tidak boleh mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan. “Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh,” jelasnya. Lili menyarankan masyarakat melihat perilaku sehari-hari hewan kurban. Hewan yang sehat biasanya aktif makan, terlihat bugar, dan tidak lemas. Agar hasil daging lebih maksimal, Lili menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk namun tetap sehat. Tak lupa Lili meminta masyarakat memperhatikan kebersihan kulit hewan. Kulit yang sehat umumnya bersih dan tidak mengalami penyakit seperti kudis atau skabies. Tak kalah penting, masyarakat diminta mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku dan Antraks. Hewan yang terindikasi PMK biasanya menunjukkan gejala berupa: Lendir berlebihan dari mulut Luka pada gusi dan lidah Radang kemerahan di sela kuku kaki Sementara itu, hewan yang terkena Antraks umumnya mengalami kejang-kejang dan pendarahan dari hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya. Selain kondisi fisik, usia hewan juga wajib memenuhi syariat, yakni sapi minimal berusia 2 tahun. Kambing atau domba minimal 1 tahun. Di akhir penjelasannya, Lili menyoroti hal yang sering diabaikan masyarakat, yakni masa istirahat hewan sebelum penyembelihan. Hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu agar tidak mengalami stres berlebihan. Kondisi kelelahan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), yaitu kondisi yang menyebabkan kualitas daging menurun drastis karena teksturnya menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan bisa lebih cermat memilih hewan kurban, bukan hanya berdasarkan ukuran atau harga semata.
UMM Gandeng Pakar AS Cetak Tax-fluencer Muda

Di tengah tantangan rendahnya kesadaran pajak generasi muda dan rasio pajak Indonesia yang masih stagnan di angka 8,42 persen, narasi birokrasi yang kaku dinilai tak lagi relevan. Menjawab urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya sebagai Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak. Melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Kampus Putih menggelar bootcamp berskala internasional bertajuk “Digital Engagement That Moves People: Tax-fluencer Bootcamp” di Ruang Sidang Senat, Rabu (13/5). Acara hybrid ini sukses menyatukan puluhan mahasiswa dan pemikir muda dari berbagai perguruan tinggi se-Malang Raya untuk meramu kampanye digital perpajakan yang humanis. Penyuluh Pajak Ahli Madya Kanwil DJP Jawa Timur III, Abdul Muis, mengungkapkan bahwa angka rasio pajak tersebut menjadi sinyal kuat perlunya pendekatan baru yang lebih mendalam untuk menggaet kepercayaan publik. Ia menilai, demi menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045, generasi muda harus dibekali dengan ‘imunitas kewarganegaraan’ agar memandang pajak sebagai investasi masa depan, bukan sekadar beban finansial semata. “Kita harus memastikan generasi ini memiliki pemahaman kuat bahwa pajak bukanlah beban, melainkan investasi bersama untuk masa depan kita,” tuturnya. Senada dengan hal tersebut, Public Relations Staff Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Anum Intan Maulidi, menyoroti kendala komunikasi pemerintah yang kerap terjebak dalam jargon akademis atau ‘bahasa langit’. Mengambil inspirasi dari program kebun komunitas Austin Grown di Chicago, ia mengibaratkan pajak layaknya gotong royong demi panen bersama. Oleh karena itu, edukasi pajak harus berani beralih menggunakan pendekatan yang lebih membumi agar mudah diterima oleh Gen Z dan Gen Alpha. “Pemerintah harus merombak total cara mereka berbicara kepada masyarakat, beralih dari gaya menuntut menjadi gaya yang kolaboratif,” jelasnya. Untuk mengeksekusi gaya komunikasi kolaboratif tersebut, Digital Media Coordinator Build Chicago Amerika Serikat, Todd York, hadir membedah rahasia di balik kampanye digital yang menggerakkan massa. Ia memperkenalkan strategi upstream storytelling, yakni metode bercerita yang berfokus pada akar masalah. Menurutnya, kampanye digital yang sukses harus berani mengangkat suara masyarakat dari akar rumput dan menonjolkan keberhasilan komunitas, bukan sekadar memaparkan narasi krisis yang menakutkan. “Kami percaya bahwa pihak yang paling dekat dengan suatu masalah adalah pihak yang paling mengerti solusinya, sehingga suara merekalah yang harus kita tonjolkan,” ungkapnya. Menyambut hangat inisiatif lintas negara ini, Dekan FEB UMM, M. Sri Wahyudi Suliswanto, Ph.D., menegaskan pentingnya peran media sosial dalam membentuk opini publik. Ia berharap para mahasiswa tidak hanya menguasai teori perpajakan di kelas, tetapi juga mempraktikkannya sebagai agen perubahan melalui konten-konten edukatif yang segar dan berdampak luas bagi masyarakat umum. “Selain menjadi relawan pajak, kalian diharapkan juga mampu menjadi pemberi pengaruh yang mempromosikan literasi pajak kepada seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Wahyudi. Pada akhirnya, transformasi komunikasi perpajakan bukanlah tugas satu entitas saja, melainkan butuh sinergi berbagai pihak. Melalui kolaborasi apik antara akademisi, praktisi pemerintah, dan pakar internasional ini, diharapkan lahir generasi kreator digital yang mumpuni. Generasi inilah yang kelak akan mengubah data rumit menjadi cerita yang memikat, membangun kesadaran kolektif, dan memastikan setiap warga negara merasa bangga telah berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Luluskan Mahasiswa dengan Program FLSP, Buktikan Komitmen Cetak SDM Berdaya Saing Internasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di kancah internasional. Komitmen ini dibuktikan secara nyata melalui kelulusan mahasiswa dalam program Foreign Language for Special Purpose (FLSP) yang dirayakan secara meriah pada ajang FLSP FESTAPHORIA X PRIME UMM 2026. Mengusung tema ‘Fostering Global Minds Through Language and Talent’, selebrasi kelulusan ini dipadati ribuan mahasiswa di Helipad UMM pada Rabu (13/5). Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa pendidikan bahasa asing intensif yang berjalan selama satu tahun tersebut merupakan langkah konkret Kampus Putih dalam membekali mahasiswanya untuk menghadapi dunia kerja. Ia menyebutkan, universitas memiliki target khusus agar setiap lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki senjata ampuh berupa kompetensi 3B. “UMM menginginkan mahasiswanya memiliki kemampuan 3B. B yang pertama adalah penguasaan bahasa asing. B yang kedua adalah penguasaan bahasa program digital yaitu Python, dan B yang ketiga adalah penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa resmi,” ungkap Ahmad Juanda. Senapas dengan hal tersebut, kemampuan bahasa asing yang mumpuni ini dinilai menjadi kunci utama untuk membuka gerbang kesempatan di level dunia. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menekankan bahwa UMM memberikan dukungan penuh bagi mahasiswa untuk mencari pengalaman ke luar negeri. Mulai dari kesempatan beasiswa Erasmus+ untuk kuliah di Eropa, hingga akses diskusi dengan ekspatriat melalui fasilitas American, Aussie, Chinese, dan Japan Corner di perpustakaan. “Sekali lagi Adik-adik semua, sejatinya capaian ini bukan akhir dari kegiatan belajar bahasa asing. Tapi sebenarnya adalah awal dari teman-teman semua untuk bisa terbang lebih tinggi, bukan hanya di kancah Jawa Timur atau Indonesia, namun membangun jejaring dan mendapatkan pengalaman luar negeri yang beragam,” ujar Salis. Gemblengan komprehensif dari program FLSP UMM ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para mahasiswa. Risqi Medani Van de Vrie, mahasiswa Program Studi Manajemen 2024 yang sukses dinobatkan sebagai lulusan FLSP terbaik tingkat universitas, menceritakan pengalamannya mendalami bahasa Mandarin. Ia merasa sangat bangga bisa melewati proses belajar yang menantang dan menyadari bahwa iklim kampus yang positif sangat mendukung prestasinya. “Saya mendorong kalian semua untuk menemukan orang-orang yang akan mendorong kalian menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Memilih orang-orang yang positif dan dapat dipercaya untuk berada di sekitar kita, menurut saya, adalah salah satu kunci menuju kesuksesan,” ucap Risqi. Lewat perayaan kelulusan ini, Kampus Putih berharap para mahasiswa tidak lekas puas diri. Dengan bekal kompetensi bahasa asing dan ekosistem kampus yang berwawasan global, mahasiswa UMM diharapkan berani mengambil peluang internasional dan membuktikan kualitasnya di masa depan. Dokumentasi Program FLSP UMM:
Lewat Program FLSP, UMM Buktikan Komitmen Cetak SDM Berdaya Saing Internasional

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di kancah internasional. Komitmen ini dibuktikan secara nyata melalui kelulusan mahasiswa dalam program Foreign Language for Special Purpose (FLSP) yang dirayakan secara meriah pada ajang FLSP FESTAPHORIA X PRIME UMM 2026.Mengusung tema “Fostering Global Minds Through Language and Talent”, selebrasi kelulusan ini dipadati ribuan mahasiswa di Helipad UMM pada Rabu (13/5/2026). Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa pendidikan bahasa asing intensif yang berjalan selama satu tahun tersebut merupakan langkah konkret Kampus Putih dalam membekali mahasiswanya untuk menghadapi dunia kerja. Ia menyebutkan, universitas memiliki target khusus agar setiap lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki senjata ampuh berupa kompetensi 3B. “UMM menginginkan mahasiswanya memiliki kemampuan 3B. B yang pertama adalah penguasaan bahasa asing. B yang kedua adalah penguasaan bahasa program digital yaitu Python, dan B yang ketiga adalah penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa resmi,” ungkapnya. Senapas dengan hal tersebut, kemampuan bahasa asing yang mumpuni ini dinilai menjadi kunci utama untuk membuka gerbang kesempatan di level dunia. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menekankan bahwa UMM memberikan dukungan penuh bagi mahasiswa untuk mencari pengalaman ke luar negeri. Mulai dari kesempatan beasiswa Erasmus+ untuk kuliah di Eropa, hingga akses diskusi dengan ekspatriat melalui fasilitas American, Aussie, Chinese, dan Japan Corner di perpustakaan. Lewat Program FLSP, UMM Buktikan Komitmen Cetak SDM Berdaya Saing Internasional. Foto: Istimewa/PWMU.CO “Sekali lagi Adik-adik semua, sejatinya capaian ini bukan akhir dari kegiatan belajar bahasa asing. Tapi sebenarnya adalah awal dari teman-teman semua untuk bisa terbang lebih tinggi, bukan hanya di kancah Jawa Timur atau Indonesia, namun membangun jejaring dan mendapatkan pengalaman luar negeri yang beragam,” jelasnya. Gemblengan komprehensif dari program FLSP UMM ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para mahasiswa. Risqi Medani Van de Vrie, mahasiswa Program Studi Manajemen 2024 yang sukses dinobatkan sebagai lulusan FLSP terbaik tingkat universitas, menceritakan pengalamannya mendalami bahasa Mandarin. Ia merasa sangat bangga bisa melewati proses belajar yang menantang dan menyadari bahwa iklim kampus yang positif sangat mendukung prestasinya. “Saya mendorong kalian semua untuk menemukan orang-orang yang akan mendorong kalian menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Memilih orang-orang yang positif dan dapat dipercaya untuk berada di sekitar kita, menurut saya, adalah salah satu kunci menuju kesuksesan,” ucapnya. Lewat perayaan kelulusan ini, Kampus Putih berharap para mahasiswa tidak lekas puas diri. Dengan bekal kompetensi bahasa asing dan ekosistem kampus yang berwawasan global, mahasiswa UMM diharapkan berani mengambil peluang internasional dan membuktikan kualitasnya di masa depan.(*) *) Penulis : Humas UMM
Pekerja Sosial Era AI, UMM Tegaskan Empati Manusia Tetap Tak Tergantikan

pwmu.co – Di tengah masyarakat yang kian terfragmentasi dan dunia yang semakin dikendalikan teknologi cerdas, muncul pertanyaan kritis mengenai relevansi profesi pekerja sosial di era modern saat ini.Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam peringatan Hari Pekerja Sosial Internasional yang digelar Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (12/5/2026). Menjawab tantangan tersebut, UMM menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “Co-Building Hope and Harmony: A Harambee Call to Unite a Divided Society” di Aula BAU UMM. Forum strategis itu menghadirkan sejumlah pakar lintas negara, yakni Dekan FISIP UMM Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Mohamad dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Ketua Umum DPP IPSPI Dr. Puji Pujiono, MSW, RSW., serta pakar kesejahteraan sosial Lutfi J. Kurniawan. Dekan FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, menegaskan bahwa pekerja sosial tidak boleh bersikap anti-teknologi. Menurutnya, pola pelayanan konvensional harus mulai bertransformasi menuju ekosistem hibrida dan digital yang berbasis data, cepat, serta responsif. “Teknologi itu alat, bukan pengganti manusia. Karena itu, penting membangun smart social service yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan analisis data. Pekerja sosial kini tidak hanya dituntut memiliki kemampuan pendampingan, tetapi juga keterampilan komunikasi digital, pengelolaan data, hingga asesmen berbasis teknologi,” tegas Fauzik. Untuk menjawab perubahan zaman tersebut, Fauzik mendorong pembaruan kurikulum pendidikan melalui mata kuliah Digital Social Work. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa modernisasi tidak boleh menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Tantangan terbesar di era digital justru terletak pada upaya menjaga empati dan melindungi privasi data klien di tengah layanan yang semakin terotomatisasi. Dari perspektif regional, Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Bin Mohamad menyoroti ketimpangan struktural dalam profesi pekerja sosial di kawasan Asia Tenggara. Ia mengungkapkan bahwa praktik kerja sosial di Malaysia masih menghadapi kendala besar akibat belum adanya undang-undang khusus seperti yang telah dimiliki Indonesia. Kondisi tersebut membuat klien maupun pekerja sosial rentan karena belum memiliki payung hukum yang kuat. “Profesi pekerja sosial membutuhkan pengakuan yang jelas melalui sistem hukum, standardisasi pendidikan, dan legitimasi politik. Mengadaptasi konsep jurisdiksi profesi dari Andrew Abbott, batas ruang kerja dan kewenangan pekerja sosial harus ditegaskan,” paparnya. Menurutnya, Asia Tenggara kini tengah menghadapi tantangan pergeseran nilai dari kolektivisme menuju individualisme. Ia juga menawarkan solusi melalui prinsip “Global Standard, Local Practice”, yakni pendekatan praktik kerja sosial berstandar internasional yang tetap relevan dan peka terhadap budaya lokal. Pendekatan tersebut dinilai perlu didukung kolaborasi lintas negara, standardisasi kurikulum, serta peningkatan jam praktik lapangan. Melalui forum internasional tersebut, UMM menegaskan bahwa peringatan Hari Pekerja Sosial bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang refleksi mengenai masa depan profesi pekerja sosial di tengah disrupsi teknologi. Kesimpulan utama dari forum tersebut menegaskan bahwa secepat apa pun perkembangan teknologi dan perubahan sosial terjadi, pekerjaan sosial akan tetap relevan karena dunia masih membutuhkan empati, solidaritas, dan keberpihakan nyata terhadap kemanusiaan. (*) *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Begini Cara Pilih Hewan Kurban yang Tepat Menurut Dosen UMM, Jangan Tertipu hanya Melihat Badan Besar Saja

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Tak lama lagi Hari Raya Iduladha tiba. Aktivitas jual beli hewan kurban pun mulai ramai di berbagai daerah. Namun jangan sampai terkecoh saat membeli. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar mengingatkan, hewan berbadan besar atau berharga mahal bukan yang terbaik. “Ingat, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi faktor paling penting agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi,” ucapnya. Perlu ketelitian saat memilih hewan kurban. Lili pun membagikan sejumlah panduan sederhana untuk mendeteksi kondisi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik, mengutip laman resmi UMM. Menurut Lili, langkah pertama yang bisa dilakukan calon pembeli adalah mengamati postur tubuh dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan dapat berdiri tegak dan tidak mengalami pincang. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat Islam. Selain postur tubuh, kondisi mata juga perlu diperhatikan. Hewan kurban tidak boleh mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan. “Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh,” jelasnya. Lili menyarankan masyarakat melihat perilaku sehari-hari hewan kurban. Hewan yang sehat biasanya aktif makan, terlihat bugar, dan tidak lemas. Agar hasil daging lebih maksimal, Lili menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk namun tetap sehat. Tak lupa Lili meminta masyarakat memperhatikan kebersihan kulit hewan. Kulit yang sehat umumnya bersih dan tidak mengalami penyakit seperti kudis atau skabies. Tak kalah penting, masyarakat diminta mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku dan Antraks. Hewan yang terindikasi PMK biasanya menunjukkan gejala berupa: Lendir berlebihan dari mulut Luka pada gusi dan lidah Radang kemerahan di sela kuku kaki Sementara itu, hewan yang terkena Antraks umumnya mengalami kejang-kejang dan pendarahan dari hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya. Selain kondisi fisik, usia hewan juga wajib memenuhi syariat, yakni sapi minimal berusia 2 tahun. Kambing atau domba minimal 1 tahun. Di akhir penjelasannya, Lili menyoroti hal yang sering diabaikan masyarakat, yakni masa istirahat hewan sebelum penyembelihan. Hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu agar tidak mengalami stres berlebihan. Kondisi kelelahan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), yaitu kondisi yang menyebabkan kualitas daging menurun drastis karena teksturnya menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan bisa lebih cermat memilih hewan kurban, bukan hanya berdasarkan ukuran atau harga semata.
Cara Memilih Hewan Kurban Sehat dan Sesuai Syariat Menurut Pakar UMM

batuahnews – Menjelang Hari Raya Idul Adha, aktivitas di pasar hewan mulai meningkat seiring masyarakat mencari sapi atau kambing kurban terbaik. Namun, pemilihan hewan tidak boleh hanya didasarkan pada ukuran besar atau harga yang tinggi. Dilansir dari Detikcom, terdapat kriteria kesehatan dan syariat Islam yang wajib dipenuhi agar ibadah kurban dinyatakan sah. Masyarakat diimbau menjadi pembeli yang cerdas dengan memahami kondisi fisik hewan secara mendalam. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, menjelaskan panduan praktis mendeteksi kesehatan ternak melalui pengamatan fisik sederhana. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memantau postur dan cara berdiri hewan. Pembeli disarankan melihat ternak dari berbagai sisi, mulai dari depan, samping, hingga belakang, guna memastikan tidak ada cacat fisik. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Prof Lili. Prof Lili menekankan bahwa dalam syariat Islam, hewan yang mengalami cacat fisik seperti pincang tidak diperbolehkan untuk dijadikan kurban. Selain postur, kejernihan mata juga menjadi indikator vital kesehatan. Hewan kurban tidak boleh buta atau memiliki gangguan penglihatan yang biasanya ditandai dengan munculnya selaput putih atau mata yang tampak keruh. Kebersihan kulit juga harus menjadi perhatian utama bagi calon pembeli. Masyarakat disarankan memilih hewan dengan kulit mulus dan bebas dari penyakit kulit seperti kudis atau scabies. Prof Lili mengingatkan bahwa memberikan yang terbaik merupakan inti dari ibadah kurban itu sendiri. Masyarakat diminta ekstra waspada terhadap ancaman penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Gejala PMK dapat dikenali dari lendir berlebih di mulut dan luka pada gusi serta lidah. Selain itu, peradangan kemerahan di sela kuku kaki juga menjadi ciri khas PMK. Sementara itu, gejala Antraks dinilai jauh lebih fatal bagi hewan maupun manusia yang mengonsumsi dagingnya. Hewan yang terinfeksi Antraks biasanya mengalami kejang-kejang dan pendarahan dari lubang tubuh seperti hidung atau anus. Gejala ini harus diwaspadai agar tidak salah memilih hewan kurban. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegas Prof. Lili. Syarat Usia dan Kualitas Daging Selain faktor kesehatan fisik, faktor usia menjadi syarat mutlak keabsahan kurban. Sapi harus sudah berumur minimal dua tahun, sedangkan untuk kambing atau domba minimal sudah menginjak usia satu tahun. Hewan yang sehat umumnya memiliki nafsu makan tinggi dan terlihat bugar. Namun, satu hal yang sering dilupakan adalah masa istirahat hewan sebelum proses penyembelihan dilakukan oleh panitia. Prof Lili mengingatkan agar hewan yang baru menempuh perjalanan jauh tidak langsung dipotong demi menghindari stres. Kelelahan ekstrem pada hewan dapat memicu munculnya sindrom DFD (Dark, Firm, Dry). “Kondisi itu, bisa menyebabkan kualitas daging menurun drastis menjadi berwarna gelap, bertekstur keras, dan terasa kering,” pungkasnya.