UMM Siapkan Beasiswa Khusus Bagi Mahasiswa Aktivis Kampus

readers.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang skema beasiswa khusus dan pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi bagi para aktivis organisasi kampus untuk menghapus stigma negatif mengenai keterlambatan kelulusan pengurus organisasi. Rencana tersebut disampaikan dalam forum Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM di Convention Hall Sengkaling Kuliner, Sabtu (4/4/2026). Kebijakan progresif ini bertujuan mengapresiasi kontribusi fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa) yang selama ini dinilai memberikan dampak positif bagi reputasi perguruan tinggi. Sebagaimana dilansir dari Edukasi, pihak rektorat saat ini tengah merumuskan mekanisme teknis agar dukungan tersebut dapat segera diimplementasikan kepada para mahasiswa yang aktif di berbagai level organisasi. Wakil Rektor III UMM Nur Subeki memberikan penegasan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan aset yang sangat berharga. Pihak universitas berkomitmen agar para aktivis tidak hanya memiliki kecakapan organisasi, tetapi juga mendapatkan jaminan dukungan finansial. ”Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujar Nur Subeki, Wakil Rektor III UMM. Selain dukungan berupa beasiswa, UMM berencana memasukkan aktivitas organisasi ke dalam kategori prestasi resmi mahasiswa. Nur Subeki menambahkan bahwa pembinaan ormawa juga mencakup pendampingan program peningkatan kapasitas dari tahap perencanaan hingga eksekusi di lapangan. Presiden Mahasiswa UMM Wahyuddin Fahrurrijal menyambut baik inisiatif tersebut sebagai jawaban atas keresahan mahasiswa yang seringkali sulit menyeimbangkan antara tanggung jawab organisasi dengan beban finansial perkuliahan. Ia memandang dukungan kampus sebagai langkah strategis untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam mengasah kemampuan interpersonal. ”Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin Fahrurrijal, Presiden Mahasiswa UMM. Dukungan ini juga dirasakan penting bagi perwakilan unit kegiatan yang seringkali merasa kontribusinya kurang mendapat pengakuan jika dibandingkan dengan pencapaian nilai akademik murni di dalam kelas. Adanya kategorisasi prestasi bagi aktivis dianggap sebagai bentuk penghargaan yang setara atas kerja keras mahasiswa di luar kurikulum formal. “Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti Aminah, perwakilan UKM.

Dosen Hukum UMM Sholahuddin Al Fatih Raih Peringkat 100 Akademisi Terbaik Dunia

readers.id – Sholahuddin Al Fatih, seorang dosen dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional. Namanya kini tercatat dalam jajaran 100 Akademisi Terbaik Dunia untuk bidang Ilmu Sosial versi lembaga pemeringkat measuresHE, seperti dikutip dari Edukasi. Pencapaian luar biasa ini menempatkan Fatih di posisi yang sejajar dengan para peneliti terkemuka dari institusi ternama, termasuk Oxford University di Inggris dan Deakin University di Australia. Berbeda dengan sistem pemeringkatan institusi yang umum ditemukan, measuresHE melakukan evaluasi terhadap rekam jejak individu peneliti secara objektif dan independen tanpa melibatkan skema langganan berbayar. Fatih menjelaskan bahwa proses pemeringkatan ini mengandalkan tiga indikator metrik yang sangat ketat untuk menentukan kualitas seorang akademisi sebagai pilar intelektual. Ketiga indikator tersebut adalah Research Gravitas untuk kedalaman intelektual, Olympic Mean guna menyaring konsistensi mutu karya, serta Interaction Credit sebagai apresiasi terhadap kolaborasi substantif. Seluruh data riset tersebut dipantau secara murni melalui profil akademik yang telah terverifikasi dalam pangkalan data global seperti Scopus dan Web of Science. Saat menerima kabar mengenai pencapaian ini, Fatih memberikan apresiasi terhadap metodologi yang diterapkan oleh pihak measuresHE dalam menyusun daftar tersebut. Lembaga tersebut dinilai mampu mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominator secara mendalam tanpa hanya terpaku pada label nama besar institusi semata. Fatih memegang teguh prinsip bahwa menembus jajaran elit akademisi dunia bukan hanya soal kuantitas publikasi, melainkan pembuktian dampak nyata dari sebuah karya ilmiah. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” tegas Fatih. Fokus Riset pada Dinamika Hukum Masyarakat Dalam perjalanan kariernya sebagai akademisi, Fatih telah mempublikasikan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, 5 artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya lainnya di Google Scholar. Isu-isu yang diangkat dalam penelitiannya secara konsisten berkaitan langsung dengan problematika masyarakat, mulai dari teknologi, media sosial, hingga dinamika hukum di era disrupsi. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelasnya. Salah satu bukti nyata dari riset berdampak tersebut terlihat dalam karya unggulannya yang dipublikasikan saat masa pandemi tahun 2021 silam. Penelitian tersebut membedah fenomena ekspresi masyarakat di media sosial beserta berbagai konsekuensi hukum yang mungkin muncul darinya. Meskipun topik yang diambil sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, riset ini memberikan analisis kuat mengenai bagaimana ruang digital dapat memicu tekanan psikologis hingga persoalan jeratan hukum. Karya tersebut sekaligus mempertegas posisi bahwa ilmu hukum tidak boleh berhenti pada tataran teori, namun harus mampu hadir secara praktis dalam memberikan solusi lapangan. Dukungan Ekosistem Riset Universitas Keberhasilan Fatih mencapai peringkat dunia ini tidak terlepas dari peran Universitas Muhammadiyah Malang dalam menyediakan ekosistem riset yang sangat mendukung. Pihak kampus memberikan berbagai fasilitas primer bagi para peneliti, mulai dari akses jurnal internasional, koneksi internet yang mumpuni, hingga pemberian insentif untuk publikasi ilmiah. Fatih berharap pencapaiannya dapat semakin memperkuat reputasi global UMM sekaligus menjadi sumber motivasi bagi rekan sejawat dan para mahasiswa. Ia juga membagikan kunci suksesnya, yakni dengan konsisten merawat ide dan rutin mencatat kerangka pemikiran setiap hari untuk dikembangkan menjadi karya tulis. “Capaian ini menjadi dorongan agar UMM semakin dikenal secara global, sekaligus memacu semangat menulis para dosen dan mahasiswa. Riset itu harus memberi dampak nyata. Jadi, mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju!” ujar Fatih.

Jangan Tertipu Badan Besar! Dosen UMM Ungkap Cara Memilih Hewan Kurban yang Benar dan Sehat

POJOKSATU.id – Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas jual beli hewan kurban mulai ramai di berbagai daerah. Banyak masyarakat tergoda memilih hewan berbadan besar atau berharga mahal karena dianggap lebih baik untuk kurban. Padahal, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi faktor paling penting agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar mengingatkan masyarakat agar lebih teliti saat memilih hewan kurban. Mengutip laman resmi UMM, Lili membagikan sejumlah panduan sederhana untuk mendeteksi kondisi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik. Perhatikan Cara Berdiri dan Kondisi Mata Menurut Lili, langkah pertama yang bisa dilakukan calon pembeli adalah mengamati postur tubuh dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pastikan hewan dapat berdiri tegak dan tidak mengalami pincang. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat Islam. Selain postur tubuh, kondisi mata juga perlu diperhatikan. Hewan kurban tidak boleh mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan. “Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh,” jelasnya. Waspadai Penyakit PMK dan Antraks Lili juga meminta masyarakat memperhatikan kebersihan kulit hewan. Kulit yang sehat umumnya bersih dan tidak mengalami penyakit seperti kudis atau skabies. Tak kalah penting, masyarakat diminta mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku dan Antraks. Hewan yang terindikasi PMK biasanya menunjukkan gejala berupa: Lendir berlebihan dari mulut Luka pada gusi dan lidah Sementara itu, hewan yang terkena Antraks umumnya mengalami kejang-kejang dan pendarahan dari hidung atau anus. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” katanya. Pilih Hewan yang Aktif dan Nafsu Makannya Baik Kesehatan hewan juga dapat dilihat dari perilaku sehari-harinya. Hewan yang sehat biasanya aktif makan, terlihat bugar, dan tidak lemas. Agar hasil daging lebih maksimal, Lili menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk namun tetap sehat. Selain kondisi fisik, usia hewan juga wajib memenuhi syariat, yakni: Sapi minimal berusia 2 tahun Kambing atau domba minimal 1 tahun Hewan Perlu Diistirahatkan Sebelum Disembelih Di akhir penjelasannya, Lili menyoroti hal yang sering diabaikan masyarakat, yakni masa istirahat hewan sebelum penyembelihan. Hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu agar tidak mengalami stres berlebihan. Kondisi kelelahan dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD), yaitu kondisi yang menyebabkan kualitas daging menurun drastis karena teksturnya menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan bisa lebih cermat memilih hewan kurban, bukan hanya berdasarkan ukuran atau harga semata. ***  

5 Fakta Pendidikan di Kota Malang yang Bikin Kota Ini Disebut Kota Pelajar

BATU, RADAR BATU – Kota Malang dikenal sebagai salah satu daerah tujuan pendidikan di Indonesia. Julukan sebagai “Kota Pelajar” atau “Kota Pendidikan” pun melekat karena banyaknya sekolah hingga perguruan tinggi yang berdiri di wilayah tersebut. Tidak hanya menjadi tujuan siswa dari Jawa Timur, Malang juga menjadi kota perantauan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Berikut sejumlah fakta pendidikan di Kota Malang yang membuat kota ini dikenal sebagai Kota Pelajar. Memiliki Puluhan Perguruan Tinggi dan Ratusan Ribu Mahasiswa Dilansir dari berbagai sumber pendidikan, Kota Malang memiliki lebih dari 60 perguruan tinggi negeri maupun swasta. Badan Pusat Statistik Jawa Timur bahkan mencatat terdapat ribuan mahasiswa dari berbagai daerah yang menempuh pendidikan di kota ini. Universitas besar seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hingga UIN Maulana Malik Ibrahim menjadi daya tarik utama pelajar dari seluruh Indonesia. Jumlah mahasiswa yang besar membuat suasana pendidikan di Malang sangat terasa, mulai dari kawasan kampus, tempat tinggal mahasiswa, hingga pusat belajar dan diskusi. Sudah Menjadi Kota Pendidikan Sejak Zaman Belanda Jejak Malang sebagai kota pendidikan ternyata sudah ada sejak masa Hindia Belanda. Saat itu, sejumlah sekolah seperti Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Europeesche Lagere School (ELS), hingga Hollandsch Chineesche School (HCS) telah berdiri di Malang. Sekolah-sekolah tersebut menjadi bagian awal perkembangan pendidikan modern di kota ini. Bahkan beberapa lembaga pendidikan peninggalan kolonial masih bertahan dan berkembang hingga sekarang. Sejarah panjang tersebut membuat Malang dikenal memiliki budaya pendidikan yang kuat sejak dulu. Banyak Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional Kota Malang juga dikenal memiliki banyak sekolah unggulan dengan prestasi akademik tinggi. Salah satunya MAN 2 Kota Malang yang beberapa kali masuk jajaran sekolah terbaik nasional. Berdasarkan data pendidikan nasional, MAN 2 Kota Malang menjadi salah satu sekolah dengan prestasi terbanyak di Indonesia. Selain itu, sejumlah SMA di Malang juga masuk daftar sekolah terbaik berdasarkan nilai UTBK maupun kompetisi akademik nasional. Prestasi tersebut menunjukkan tingginya kualitas pendidikan menengah di Kota Malang. Suasana Kota Dinilai Mendukung Aktivitas Belajar Selain faktor pendidikan, kondisi lingkungan Kota Malang juga dinilai mendukung kegiatan belajar. Kota ini memiliki udara yang relatif sejuk karena berada di dataran tinggi dan dikelilingi pegunungan. Suasana yang lebih tenang dibanding kota metropolitan membuat banyak pelajar merasa lebih nyaman belajar di Malang. Lingkungan kota yang dipenuhi mahasiswa juga menciptakan atmosfer akademik yang kuat. Tidak sedikit pelajar dari luar daerah memilih Malang karena dianggap lebih kondusif untuk fokus belajar. Biaya Hidup Relatif Ramah bagi Pelajar dan Mahasiswa Faktor lain yang membuat Malang menjadi kota tujuan pendidikan adalah biaya hidup yang relatif terjangkau. Mulai dari tempat kos, makanan, hingga transportasi dinilai masih cukup ramah bagi pelajar maupun mahasiswa rantau. Hal ini membuat banyak keluarga memilih Malang sebagai tempat melanjutkan pendidikan anak karena dianggap lebih ekonomis dibanding kota besar lainnya. Selain itu, banyaknya fasilitas penunjang seperti perpustakaan, tempat belajar bersama, hingga kafe mahasiswa turut mendukung kehidupan akademik di kota ini. Julukan Kota Pelajar tidak hanya muncul karena banyaknya sekolah dan kampus di Malang, tetapi juga karena budaya belajar yang tumbuh di tengah masyarakatnya. Dengan kombinasi kualitas pendidikan, lingkungan yang mendukung, serta biaya hidup yang relatif terjangkau, Kota Malang masih menjadi salah satu tujuan utama pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Pilih Hewan Kurban, Akademisi UMM: Jangan Terkecoh Ukuran

MALANG POST– Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. ​Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. ​Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. ​“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. ​Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. ​Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. ​Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. ​Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. ​Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. ​Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. ​Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. ​Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan. Melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Percepat Karier Dosen Lewat Aturan Baru JAD, Bidik Reputasi Internasional 2030

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengakselerasi langkah strategis untuk mewujudkan visinya sebagai kampus inovatif, mandiri, berdampak, dan diakui secara global pada 2030.Salah satu fokus utama yang kini digenjot adalah percepatan karier dosen melalui optimalisasi aturan baru Jabatan Akademik Dosen (JAD). Komitmen tersebut ditegaskan saat UMM menjadi tuan rumah kegiatan Sosialisasi Mekanisme Pengusulan Jabatan Akademik dan Perencanaan Karier Dosen bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Jawa Timur, yang digelar di Basement Dome UMM, Kamis (7/5/2026). Wakil Rektor V UMM, Tri Sulistiyaningsih, menegaskan bahwa kenaikan jabatan akademik bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan fondasi penting dalam membangun profesionalisme dan ekosistem kampus unggul. “JAD adalah instrumen strategis. Perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya mencetak lulusan yang kuat secara teori, tetapi juga harus melahirkan inovasi yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Langkah UMM tersebut selaras dengan kebijakan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi yang melakukan penyederhanaan birokrasi pengusulan JAD. Direktur Sumber Daya Ditjen Diktiristek, Sri Suning Kusumawardani, menjelaskan bahwa regulasi baru bertujuan mempercepat eskalasi karier dosen yang selama ini cenderung stagnan. Menurutnya, kebijakan tersebut mencakup penghapusan syarat publikasi ilmiah untuk pengangkatan pertama Asisten Ahli serta penyederhanaan angka kredit pendukung yang dinilai tidak lagi relevan. “Regulasi ini dirancang untuk mendorong dosen lebih serius merencanakan karier sejak awal. Kami ingin tidak ada lagi dosen yang berlama-lama tanpa jabatan akademik,” jelasnya. Meski demikian, kemudahan regulasi tidak berarti tanpa tantangan. Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Dyah Sawitri, mengingatkan pentingnya ketelitian administratif dalam pengajuan JAD. Ia menyoroti masih banyaknya usulan kenaikan jabatan hingga Lektor Kepala dan Profesor yang ditolak akibat kelengkapan dokumen seperti Beban Kerja Dosen (BKD) dan data pada sistem SISTER yang tidak mutakhir. Selain itu, Dyah juga mengingatkan dosen agar menjaga integritas akademik dan menghindari praktik tidak etis, termasuk penggunaan jurnal predator. “Dampaknya bisa sangat serius, mulai dari pembatalan pengajuan hingga kewajiban mengembalikan dana sertifikasi. Dosen harus proaktif memahami aturan dan tidak bergantung sepenuhnya pada operator,” tegasnya. Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah yang semakin adaptif dan dorongan internal kampus, UMM optimistis percepatan karier dosen dapat berjalan secara bersih dan berkualitas. Upaya ini diharapkan mampu mengantarkan Kampus Putih melesat menuju pengakuan internasional pada 2030. (*)

Jangan Tergiur Hewan Kurban Jumbo, Dosen UMM Ungkap Ciri Kurban Sehat dan Sah

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., mengimbau agar tidak hanya terpaku pada ukuran tubuh hewan kurban yang jumbo saat Iduladha. Menurutnya, kesehatan hewan menjadi parameter utama agar ibadah kurban dinyatakan sah secara syariat dan dagingnya layak konsumsi. Prof. Lili Zalizar menjelaskan bahwa pendeteksian kesehatan hewan sebenarnya bisa dilakukan melalui pengamatan fisik sederhana oleh orang awam sekalipun. Ia menekankan pentingnya melihat postur dan cara berdiri hewan secara saksama. Menurutnya, calon pembeli harus memastikan hewan dalam kondisi simetris dan mampu menumpu beban tubuh dengan baik. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” terang Prof. Lili pada Jumat (8/5/2026) kemarin. Lebih lanjut, Prof. Lili menegaskan bahwa kecacatan fisik seperti pincang menjadi penggugur syarat sahnya hewan kurban. Selain kaki, bagian mata juga harus jernih. Hewan yang mengalami gangguan penglihatan atau buta biasanya ditandai dengan adanya selaput putih atau kondisi mata yang keruh. Indikator lain yang tidak kalah penting adalah kondisi kulit. Prof. Lili menyarankan masyarakat untuk menjauhi hewan yang memiliki tanda-tanda penyakit kulit menular. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan (scabies) karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. beritajatim – Masyarakat juga diminta jeli dalam mengidentifikasi gejala penyakit berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta antraks. Penyakit ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berisiko bagi kesehatan manusia yang mengonsumsi dagingnya. Tanda PMK biasanya terlihat dari keluarnya lendir berlebihan pada mulut, luka di gusi dan lidah, hingga peradangan kemerahan di sela-sela kuku. Sementara itu, gejala antraks jauh lebih fatal dan harus segera dihindari. “Hewan yang terkena antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegas Prof. Lili. Selain aspek kesehatan, Prof. Lili mengingatkan kembali batas minimal usia hewan kurban sesuai ketentuan agama, yakni dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Ia juga menyarankan pemilihan hewan yang berbadan gemuk demi memaksimalkan jumlah daging yang akan dibagikan kepada masyarakat. Terakhir, ia menyoroti faktor stres pada hewan yang baru saja menempuh perjalanan jauh ke lokasi penjualan. Hewan wajib diistirahatkan dengan cukup sebelum proses penyembelihan dilakukan. Kurangnya masa istirahat dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD). Kondisi ini menyebabkan kualitas daging menurun drastis dengan tekstur yang berubah menjadi gelap, keras, dan kering akibat kelelahan fisik hewan. “Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban adalah wujud keikhlasan sekaligus bentuk kepedulian terhadap kualitas pangan yang kita konsumsi bersama,” pungkasnya. (dan/kun)

Akademisi UMM Berikan Panduan Memilih Hewan Kurban Sehat Jelang Iduladha

beritajejakfakta – Dosen Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Lili Zalizar, memberikan panduan teknis pemilihan hewan kurban yang sehat dan sesuai syariat kepada masyarakat pada Kamis (8/5/2026). Langkah ini bertujuan memastikan kualitas daging kurban aman dikonsumsi sekaligus memenuhi rukun ibadah. Kondisi fisik secara menyeluruh menjadi indikator utama yang harus diamati calon pembeli sebelum melakukan transaksi. Pemeriksaan kesehatan hewan meliputi kemampuan berdiri tegak tanpa pincang, kejernihan mata, hingga kebersihan kulit dari berbagai potensi penyakit menular. Pemeriksaan postur tubuh sebaiknya dilakukan dari sudut pandang depan, samping, dan belakang secara detail. Dilansir dari Surabaya, hewan yang mengalami cacat fisik atau pincang dinyatakan tidak memenuhi kriteria sebagai hewan kurban menurut ketentuan syariat Islam. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Prof. Lili Zalizar, Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan UMM. Ia menegaskan pentingnya memilih hewan dengan kulit mulus yang terbebas dari penyakit kudis atau scabies. Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang ditandai dengan air liur berlebih serta luka pada lidah atau gusi. Selain itu, penyakit Antraks harus diwaspadai jika hewan mengalami kejang dan pendarahan pada lubang hidung atau anus karena dagingnya sangat berbahaya. Kriteria usia hewan kurban juga wajib dipatuhi, yakni minimal berumur dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Hewan yang sehat biasanya menunjukkan nafsu makan yang aktif, tampak bugar, dan disarankan memiliki badan yang gemuk agar hasil daging maksimal. Aspek kesejahteraan hewan sebelum penyembelihan turut memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Hewan yang baru tiba dari perjalanan jauh wajib diistirahatkan untuk mencegah stres yang dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD) atau daging menjadi gelap dan keras.

Sarjana Pendidikan Terancam Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi UMM

MALANG, RADAR MALANG – Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. ASPIRASI AKADEMISI: Dr. M. Isnaini, M.Pd memberikan pendapat soal wacana penghapusan sarjana pendidikan. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya pada Tim Humas UMM, 29 April lalu. Ia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini sapaan akrabnya menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.(*)

Kampus Terbaik di Jawa Timur Tahun 2026 Versi THE Asia University Rankings

MAKLUMAT — Sebanyak tujuh kampus di Jawa Timur masuk dalam daftar perguruan tinggi terbaik versi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026. THE Asia University Rankings 2026 sendiri merupakan situs pemeringkatan perguruan tinggi di regional Asia, yang menilai 929 perguruan tinggi dari 36 negara di kawasan tersebut. Pemeringkatan ini menggunakan 18 indikator kinerja yang dirancang untuk mengukur kualitas kampus secara menyeluruh. Penilaian tersebut mencakup beberapa aspek penting, di antaranya: kualitas pengajaran, lingkungan penelitian, produktivitas riset, reputasi akademik, jaringan internasional, kerja sama dengan industri, hingga kontribusi riset dan inovasi bagi masyarakat. Melalui indikator tersebut, THE Asia University Rankings menilai kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan berkualitas sekaligus mendorong penelitian yang bermanfaat bagi dunia industri dan publik. Iklim Pendidikan Tinggi di Jawa Timur Jawa Timur masih menjadi salah satu daerah favorit jujugan para lulusan SMA/MA/SMK/sederajat yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain memiliki banyak kampus ternama, provinsi ini juga dikenal menawarkan biaya hidup yang relatif terjangkau dibandingkan sejumlah kota besar lain di Indonesia. Tak heran jika setiap tahun, ribuan calon mahasiswa menjadikan Surabaya, Malang, hingga Jember sebagai tujuan utama untuk kuliah. Apalagi, beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur juga berhasil masuk daftar kampus terbaik tingkat Asia versi THE Asia University Rankings 2026. Kehadiran kampus berkualitas dengan lingkungan belajar yang baik membuat Jawa Timur semakin menarik. Berdasarkan pemeringkatan versi THE Asia University Rankings tahun 2026, Surabaya, Malang, dan Jember, masih menjadi daerah penyumpang kampus-kampus terbaik. Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur dikenal sebagai pusat bisnis dan industri. Banyak kampus besar berada di Kota Pahlawan ini, sehingga mahasiswa memiliki peluang lebih luas untuk magang maupun membangun relasi profesional sejak dini. Sementara, Malang kerap disebut sebagai kota pelajar. Suasana akademik yang nyaman, udara sejuk, serta biaya hidup yang lebih ramah di kantong menjadikan kota ini favorit mahasiswa dari berbagai daerah. Di sisi lain, Jember juga terus berkembang sebagai kota pendidikan dengan kampus-kampus yang memiliki reputasi baik. 7 Kampus Terbaik Jawa Timur Berikut daftar perguruan tinggi di Jawa Timur—negeri maupun swasta—yang masuk dalam pemeringkatan THE Asia University Rankings 2026 dan bisa menjadi referensi para calon mahasiswa dalam memilih kampus: Universitas Airlangga (Unair): Peringkat 201-250; Overall Score 42,8-45,9 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Negeri Malang (UM): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Brawijaya (UB): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Jember (Unej): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Itulah tujuh perguruan tinggi di Jawa Timur—negeri maupun swasta—yang masuk dalam jajaran kampus terbaik versi THE Asia University Rankings 2026. Bagi para calon mahasiswa yang masih mencari kampus, terutama melalui jalur mandiri, daftar perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur versi THE Asia University Rankings 2026 ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan pendidikan masa depan. ***