POMDA Futsal Jawa Timur Berlakukan Aturan Ketat bagi Pelanggar

“Kalian harus memberikan kebanggaan untuk institusi dan membawa nama baik wilayah yang kalian bawa dengan menelurkan prestasi serta tidak membuat kericuhan,” ungkap Dr. Fauzan M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Himbauan itu disampaikan Fauzan dalam sambutan pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Futsal Regional Jawa Timur 2019, Senin (22/7). Pada tahun ini, peraturan POMDA bidang Futsal lebih diperketat lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Haris Thofly, SH., M.Hum selaku ketua pelaksana dalam sambutannya di Hall Dome. Sesuai dengan surat tugas dari Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Jawa Timur, UMM ditunjuk sebagai pelaksana dan penanggung jawab Seleksi Daerah (Selekda) Futsal. Acara yang bakal berlangsung selama empat hari (22-25 Juli) ini tidak tanggung-tanggung untuk menerapkan aturan. “Saya tidak mau ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan tejadi seperti yang sudah-sudah, saya akan menegakkan sanksi yang tegas,” ungkap Haris saat turut memberi sambutan. Panitia telah membentuk Komite Disiplin (Komdis) dan Komite Banding (Komding) untuk menangani perihal tersebut. Ditegaskan dosen Fakultas Hukum UMM ini, bila ada peserta yang membuat pelanggaran hingga berbuat anarkis yang berujung pada kerusuhan, maka tak hanya diberlakukan sanksi berupa denda saja. Tetapi akan dilarang untuk bertanding di seluruh turnamen yang berafiliasi dengan PSSI maupun Asosisasi Futsal Jawa Timur. Haris lantas menyinggung kedudukan mahasiswa sebagai kaum intelektual. “Yang dimiliki mahasiswa itu integritas dan intelektualitas. Dengan latar belakang pendidikan itu, artinya kalian harus menunjukkan bahwa kalian ialah seorang permain profesional yang bermain suportif dan lebih mendahulukan otak bukan otot,” ungkap Haris. Lebih jauh, Haris menyerukan seluruh elemen lomba, baik official maupun pemain untuk mensukseskan kejuaraan yang bakal membawa nama baik Jawa Timur. Dari delapan zona atau rayon yang mengikuti, POMDA Jawa Timur kali ini diikuti oleh tujuh tim, baik kelompok tim putra maupun putri yang merupakan juara dari zona-zona Jawa Tim. Di tim putri terdiri dari Unesa, Unikama, Unej, UM, Unair, UTM, dan UB. Sedangkan tim putra beranggotakan tim yang juga berasal dari perguruan tinggi negeri maupun swasta seperti UNP, UB, UMM, Unirow, Narotama, UTM, dan Unej. “Kami sangat mengapresiasi UMM, karena mampu menyelenggarakan 2 rentetan acara ini dengan baik, baik itu tingkat Zona atau Rayon maupun yang saat ini berlangsung yaitu tingkat Regional Jawa Timur,” kata Dr. Mahmud Yunus, M.Kes selaku perwakilan Bapomi Jawa Timur saat menyinggung persiapan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) yang akan berlangsung di Jakarta pertengahan September nanti. (riz/can)

Sinergi Elemen Masyarakat Aksi Bersih Sepadan Sungai Brantas

SEJUMLAH elemen masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Kesadaran Sinergitas Lintas Batas yang tergabung dalam Social Movement Alamku Hijau melakukan Apel Bersih, Minggu (21/7). Mereka terdiri dari unsur Instansi, TNI Polri, Akademisi Lembaga, Ormas / Komunitas dan Media se-Malang Raya. Kali ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) didapuk sebagai koordinator aksi bersih ini. Secara bersama-sama, aksi yang dimulai sejak pukul 07.30 hingga 11.00 WIB ini dimulai dengan Apel Bersih. Dilanjutkan dengan bersih sampah Sepadan sungai Brantas seputaran Landung Sari – Tlogomas. Dilanjutkan dengan penghijauan sepadan sungai, terakhir diadakan diskusi ekologi yang menghadirkan para pemateri dari Pembina Dimpa UMM, DLH, Kodim 0833, serta anggota dari Polres Malang Kota. Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Dr., Ir. David Hermawan, M.P., IPM saat didapuk sebagai Pembina Apel mengungkapkan bahwa menjaga lingkungan adalah hal terpenting. Terlebih di Indonesia, tak terkecuali Malang Raya, banyak terjadi bencana tersebab manusia abai menjaga lingkungan. “Tak hanya kehidupan petani, rusaknya sungai Brantas akan berakibat buruk pada kelangsungan flora dan fauna sekitranya. Sementara, Harianto, ST, selaku founder gerakan Alamku Hijau yang merupakan ketua Bantuan Sosial Komunikasi Masyarakat (Baskomas) menerangkan, bahwa pihaknya berserta empat ratusan orang yang terlibat dalam aksi hari ini fokus mengurangi dampak sampah pada lingkungan. “Di Malang, baru hujan kecil saja sudah banjir. Kami menekankan, buanglah sampah pada tempatnya, jangan di sungai,” tekannya. Aksi yang sebetulnya dilakukan tiap minggu ini diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk melakukan kegiatan yang sama. Minimal di tingkan Rukun Warga (RW). “Kita kembalikan gotong royongnya, kita kembalikan kesadarannya, dan saya berharap semua pihak dapat berpartisipasi menjaga lingkungan. Saat ini kita fokus di Sungai Brantas dan sunga-sungai penyangga sungai Brantas,” ungkap Harianto. Joao Karvalho, Kepala Bidang Pelayanan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang di sela kegiatan menyatakan, kebersihan itu bukan tanggung jawab Pemerintah. Kebersihan, disebutnya, menjadi tanggung jawab individu masing-masing. “Semua elemen masyarakat harus sadar akan kebersihan lingkungan. Meski kegiatan aksi bersih ini rutin, tidak akan berarti jika masyarakat tidak disadarkan,” kata Joao. (can)

Dari Sampah Plastik ke Furnitur Bernilai Jual

Bermula dari keprihatinannya pada sampah plastik yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), lima mahasiswa  Program Studi (Prodi) Kehutanan, Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi pengolahan sampah plastik menjadi lempengan untuk bahan baku furniture. Ialah Ainun Fadillah, Agus Firmansyah, Dany Fiqrullah Jaki, Oktavian Dwi Sumbermanto dan Samsul sebagai ketua. “Karena keprihatinan kami atas hal tersebut (menggunungnya sampah), maka kami mencoba untuk mengolah sampah plastik sebagai bahan baku untuk furniture,” ucap Agus Dkk, saat ditemui Jumat (19/7). Dilanjutkan Agus, bahwa produk olahan mereka sangat ramah lingkungan serta tidak mencemari lingkungan sekitar. Hal ini dilihat dari cara mereka mengolah sampah yang akan dibakar. Dimulai dari proses memilah sampah-sampah plastik seperti botol kemasan mineral, kresek ataupun bungkus jajanan plastik ke proses pembakaran. “Karena saat dibakar sampah plastik ditutup dan asapnya disalurkan ke dalam air melalui selang yang dipasang sebagai satu-satunya saluran untuk mengeluarkan asap. Ini tidak akan merusak lingkungan karena Karbon Dioksida kita salurkan kedalam sebuah wadah berisi air yang diletakkan di sebelah tempat pembakaran,” lanjut Agus. Cairan plastik hasil pembakaran dialirkan kedalam cetakan yang berbentuk kotak berukuran 50 x 50 cm. Menariknya dari lempengan itu, PKM hasil bimbingan Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, MP., IPM. Ini,  menghasilkan produk olahan berupa Dingklik, Meja, bahkan Lemari dengan kisaran harga dimulai dari 85ribu hingga 250ribu rupiah. Proyek ini, sambung mahasiswa 2015 ini, didaftarkan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan. “PKM kami dimulai sejak tahun 2015 atau lebih tepatnya dari jaman kami mahasiswa baru. Kebetulan kami semuanya satu kelas, sehingga untuk koordinasi jadi lebih mudah. Sekarang tinggal fokus pemasaran,” ungkapnya. PKM garapan kelima mahasiswa ini sejalan dengan program yang tengah digalakkan UMM untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik. Kampanye ini dimulai dengan mendorong seluruh civitas akademika UMM melalui berbagai aksi kreatif. Misalnya melalui video berdurasi pendek di Instagram dengan hastag #dietsampahplastik. (riz/can)

Rayakan Milad ke-6, RSU UMM Adakan Peeling Gratis

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat pada kesehatan kulit, Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) menggelar peeling atau prosedur perawatan kulit yang dilakukan untuk mengangkat atau menghilangkan sel kulit mati masal gratis yang dipusatkan di Aula lantai 5, Sabtu (20/7). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian milad RSU UMM ke-6 dengan diikuti puluhan peserta. Mengusung tema “Healthy Inside, Beauty Outside”, RSU UMM ingin menjawab kebutuhan masyarakat saat ini, khsusnya kaum perempuan untuk sehat dari dalam dan cantik dari luar melalui tenaga dokter ahli. Terdapat 3 dokter spesialis kulit dan kelamin RSU UMM yang terjun langsung dalam perawatan, yaitu Dr. Ninin, Sp.KK, dr. Dwi Nurwulan Pravitasari, Sp.KK, dan dr. Ratna Wulandari, Sp.KK., M.Kes. Menurut Dr. Ninin, Sp.KK., masyarakat saat ini banyak yang merasa ragu dan takut melakukan peeling wajah. Alasannya pun beragam, salah satunya adalah ketakutan akan terjadi penipisan sel kulit wajah. Terlebih definisi peeling sendiri adalah pengelupasan kulit dari bahan kimia. Kendati demikian, Dr. Ninin, melalui kegiatan peeling massal mengungkapkan penipisan kulit wajah akibat peeling adalah mitos. “Sebenarnya yang mengalami pengelupasan adalah kulit matinya. Jika kita rutin menggunakan peeling sebulan sekali, maka akan mengalami regenerasi sel kulit,” tuturnya. Lanjutnya, kulit yang tidak dieksfoliasi atau proses pengangkatan sel kulit mati, maka sel kulit mati akan menumpuk dan tebal. Hal ini yang menyebabkan kulit akan terlihat kusam dan memunculkan banyak masalah seperti komedo dan jerawat. “Secara normal, 28 hari sekali kulit kita dari bawah ke atas berganti. Dengan peeling, kulit mati akan hilang, sehingga tidak akan menyumbat pergerakan kulit. Jadi bukan menjadi tipis, akan tetapi malah menjadi lebih muda,” sebutnya. Sementara itu Kepala Humas dan Kemitraan RSU UMM, Dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS. Pihaknya berharap dengan milad ke-6 ini RS UMM khususnya dokter kulit lebih dekat dengan masyarakat dan bisa melayani seluruh kebutuhan masyarakat. “Komunikasi dengan masyarakat itu penting, salah satunya kita terjun langsung untuk mengedukasi masyarakat dan kontak langsung dengan masyarakat,” sebutnya. Adapun rangkaian milad RSU UMM yang sudah berlangsung pada bulan Juli yaitu, Hand Hygiene Contest, peeling massal, turnamen futsal, lomba video edukasi, lomba tarik suara, lomba self make up, dan seminar kecantikan oleh selebgram, dr. Shabrina Aulia. (bel/can)

Punya Ratusan Reseller, Mahasiswa UMM Ini Raup Omzet Puluhan Juta

Menjadi pebisnis muda memang menjadi impian banyak orang. Tak terkecuali bagi Samsul Arifin, mahasiswa program studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semester 5 ini. Samsul meraup omzet puluhan juta rupiah setiap bulannya berkat bisnis online yang ditekuninya sejak awal menjadi mahasiswa. Sadar tidak ingin menggantungkan beban terhadap kedua orang tuanya, mahasiswa asal Banjarmasin ini berusaha untuk membantu meringankan beban orang tua dengan memulai berbisnis online. Ia menjual salah satu produk masker wajah yang saat ini sedang digandrungi oleh kalangan mahasiswa, yakni masker wajah Spirulina. Dengan modal hanya satu botol masker Spirulina seharga tigaratusan ribu, saat ini ia bisa meraup rupiah di atas sepuluh juta rupiah setiap bulan. Samsul memang terlahir dari keluarga yang tergolong cukup. Akan tetapi Samsul sadar betul, bahwa dirinya tidak bisa selamanya harus menggantungkan kebutuhannya kepada orang tua. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, apa yang akan terjadi dengan pekerjaan orang tua kita. Bahkan kemungkinan terburuk pun ketika orang tua tiba-tiba tidak ada, Oleh karena itu saya ingin hidup mandiri, yakni dengan memiliki penghasilan sendiri dan turut membahagiakan mereka,” ungkap Samsul diwawancara (20/7). Mahasiswa yang sudah memiliki sekitar 400an reseller di seluruh Indonesia ini juga seringkali diundang di beberpa kegiatan dan juga seminar kewirausahaan. Samsul didapuk sekaligus sebagai mentor dalam membantu sekaligus mengajarkan beberapa teori kewirausahaan yang didapat di bangku kuliah kepada para resellernya. Meskipun saat ini sudah banyak penjual produk masker serupa, namun Samsul tetap merasa optimis. Ia mengklaim, kelebihan yang membedakan dirinya dengan seller (penjual) lain adalah ia selalu menerapkan teori manajemen yang ia dapatkan di bangku kuliah. Alhasil, ia menjadi salah satu distributor terbesar di Malang Raya. (zak/can)

Lagi, Warga Binaan Lapas Perempuan Malang Antusias Disambangi Mobil KaCa UMM

Kamis (18/7) pagi, Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkunjung ke Lapas Perempuan Klas IIA, Sukun, Kota Malang dengan mengadakan pelatihan membatik dan menulis Blog. Ada 90 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang turut serta dalam dua pelatihan ini. Enam puluhan orang WBP mengikuti kelas membatik dan dua puluh orang mengikuti kelas menulis Blog. Pada kelas Blog, WBP diberi pelatihan untuk memanfaatkan pengetahuan luasnya hasil membaca untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Pelatihan ini ditujukan untuk memanfaatkan era digital bagi WBP setelah menyelesaikan masa hukumannya. “Kita ajarkan cara membranding diri melalui Blog dan memanfaatkannya sebagai media bisnis,” jelas Mirza Bareza Bloger JadiJurnalis.com, pemateri pelatihan Blog. Selain kelas Blog, ada pula kelas membatik. Para peserta diminta untuk membatik dengan pola yang telah tersedia di permukaan kain. “Susah,” tutur salah seorang WBP sembari berhati-hati membatik. Kegiatan membatik ini juga diinstrukturi Belinda Dewi Regina, S.Pd, M.Pd. dari Lembaga Kebudayaan (LK) UMM. Hasil karya ini pun menjadi kenang-kenangan penanda kehadiran Mobil KaCa UMM di Lapas perempuan ini. Belinda mengungkapkan, bahwa pelatihan ini adalah kegiatan yang strategis. Artinya, pelatihan ini dapat menjadi bekal para WBP nanti untuk mengembangkan wirausaha batik sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. “Membatik itu berlatih sabar sekaligus menikmati proses,” katanya. Ia pun berharap agar ke depan para peserta dapat benar-benar menerapkan keahliannya, salah satunya dengan membatik. Kunjungan kedua kali ini juga kembali disambut hangat oleh para WBP. Ketika Mobil KaCa memasuki lapangan olah raga Lapas, para WBP sudah berkumpul dan bersiap mengikuti setiap agenda yang dibawa Mobil KaCa. Tak hanya itu, para WBP pun diperkenankan meminjam buku untuk dibaca dalam beberapa hari. “Mumpung bukunya bagus-bagus,” ujar salah satu WBP sembari mengambil dan memilih buku. Diakui salah satu petugas Lapas, beberapa WBP dapat menghabiskan satu novel setebal 300 halaman dalam dua hari. “Buku di perpustakaan sudah selesai dibaca semua,” jelas salah satu petugas Lapas. Salah satunya adalah Dini Dwi. Perempuan asal Bangil ini begitu amat senang membaca novel. Selain itu, secara konsisten Dini juga perlahan-lahan menyusun novelnya sendiri yang ia tulis dengan tangan. (mir/can)

Cerita Alumnus UMM yang Diterima Kerja Di Perusahaan Multinasional

BEKERJA di sebuah perusahaan multinasional tentu menjadi dambaan bagi banyak orang. Pengalaman inilah yang dirasakan alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Safrilla Putri Camendini saat bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) Firma Ernst and Young (EY) Indonesia. EY yang berkantor pusat di London, Inggris ini dinobatkan sebagai The Big Four Accounting Firms oleh International Accounting Bulletin. Kantor Akuntan Publik (KAP) sendiri merupakan badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik memberikan jasanya. “Saya sebagai satu-satunya alumnus UMM yang saat itu mendaftar di EY merasa bangga dengan almamater saya, karena berhadapan dengan alumnus kampus-kampus ternama,” ujar Safrilla saat diwawancara via WhatsApp, Rabu (17/7) siang. Diceritakan putri dari Setu Setyawan M.M, yakni salah satu staff pengajar di UMM, saat mengikuti prosedur tes masuk ada begitu banyak alumnus dari kampus-kampus ternama lainnya yang turut mendaftar . Seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Pelita Harapan (UPH). “Bahkan ada juga yang berasal dari Singapura, namun saya tetap merasa optimis,” lanjut Safrilla. Safrilla akan diangkat sebagai staf Assurance/Junior Auditing setelah melewati masa Probation atau karyawan magang. Selama masa Probation di EY, Putri mengaku banyak kecakapan yang ia dapat selama berkuliah di UMM yang sangat membantu di lingkungan profesional. penanaman pendidikan karakter dan social skill. Selain itu,  sebagai seorang auditor, tentu pengetahuan dasar Akuntansi dan Audit. Anak ke kedua dari dua bersaudara ini saat lulus mendapat Indek Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Semasa berkuliah juga, Safrilla ikut organisasi kemahasiswaan yang mengasah bakatnya bernyanyi, yakni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gita Surya UMM. Putri juga menggembleng diri di organisasi internasional AIESEC UMM guna mengembangkan potensi kepemimpinannya. Aktif di organisasi, sambungnya, jadi modal terbesarnya diterima bekerja di EY. “Di AIESEC UMM misalnya, selain melatih kita berbicara bahasa Inggris, tetapi soft skill kita di situ juga benar-benar dilatih. Kompetensi ini sangat amat berpengaruh dan membantu saya saat (seleksi) wawancara. Selain soft skill, kita juga diajari cara berbicara dan menjawab berbagai pertanyaan wawancara dengan baik,” ujar Safrilla. “Sebagai bagian dari keluarga besar Kampus Putih, saya ingin teman-teman dari UMM untuk selalu terus mendalami hal yang ingin ditekuni serta belajar giat dan berikhtiar. Kedua, harus menjadi orang yang memiliki optimisme dan rasa percaya diri tinggi. Serta yang terakhir agar selalu mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa di setiap melakukan aktivitas apapun,” pungkas Safrilla yang lulus April 2019 lalu ini. (riz/can)

Brownies Jeruk Inisiasi Mahasiswa UMM ini Digadang Jadi Produk Unggulan Selorejo

Brownies jeruk? Mungkin namanya terdengar tak biasa. Tapi inovasi ciptaan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini patut diacungi jempol. Bukan cuma lantaran produknya yang inovatif, tetapi inisiasi mereka juga digadang mampu melejitkan ekonomi Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Berawal dari pengajuan pendanaan Program Hibah Bina Desa (PHBD), belasan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM sukses menembus pendanaan Kemenristek Dikti sebagai program pemberdayaan masyarakat di bidang produk inovatif. Baca juga: Sinergi Kebangsaan, INTI-UMM Teken Kerja Sama Komoditas buah jeruk yang melimpah di bagian Utara kabupaten Malang ini rupanya menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan. Selama ini Desa Selorejo hanya cukup manyandarkan perkonomian dari desa wisata petik jeruk. Kelompok mahasiswa ini ingin potensi keberlimpahan jeruk desa ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Jedi Prasetyo Ketua Himagri UMM bersama timnya segera mengadakan pelatihan pembuatan brownies. Bahkan warga desa juga sudah mengajukan proses izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Sambil menunggu proses, timnya terus berusaha untuk menyempurnakan produknya ini ke Prodi Agribisnis untuk diuji kelayakannya. Setelah melalui percobaan produksi selama enam bulan, sambung Jedi, barulah produk brownies jeruk atau diberi brand Browjer ini dinyatakan memenuhi kualitas pasar. Temuan mahasiswa ini tentu berpotensi jadi produk unggulan. “Penjualan nantinya bukan hanya di desa dan toko oleh-oleh,” kata pemuda asal Kalimantan Tengah. Kaprodi Agribisnis FPP UMM, Dr. Ir. Istis Baroh, MP, mengapresiasi anggota Himagri melaksanakan program ini. Namun beberapa hal perlu dibenahi agar konsep ini menjadi sempurna. Seperti harus ada modul pelatihan kepada warga secara lengkap. Mulai bagaimana manajemennya, menghitung biaya produksi, hingga pemasaran. Menurut Istis, selain brownies jeruk, buah jeruk juga bisa dibuat jadi minuman siap saji seperti sari buah. Hal ini akan menambah produksi komoditas melimpah ini akan berdampak keuntungan finansial.  Mahasiswa Himagri UMM yang proposalnya disetujui Ristek Dikti ini bebas Kuliah Kerja Nyata juga Praktik Kerja Lapangan. (can)

Sinergi Kebangsaan, INTI-UMM Teken Kerja Sama

Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) melawat ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Senin (15/7) siang. Dalam kunjungannya, INTI meneken kerja sama dengan UMM dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia, bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Menurut Ketua Umum Perhimpunan INTI, Teddy Sugianto, Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) khususnya UMM memiliki tekad yang serius untuk mengembangkan berbagai potensi masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. nampak akrab dengan para penggawa INTI. Hal tersebut tak lain karena sinergisitas yang rutin dibangun oleh kedua pihak. Salah satu kolaborasi teranyar yang digagas UMM dan INTI adalah Festival Kebangsaan kedua yang diselenggarakan pada 6 April lalu. Festival Kebangsaan saat itu Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla yang turut meresmikan berbagai fasilitas penunjang mahasiswa dan masyarakat sekitar UMM. Teddy mengatakan bahwa kunjungan secara langsung INTI yang pertama kali tersebut merupakan wujud komitmen membangun bangsa. Fauzan menambahkan, dalam rangka kesejahteraan bersama tidak dikenal istilah perbedaan. Hal tersebut adalah kewajiban yang mesti dilakukan oleh setiap insan. “Sama seperti saat K.H Ahmad Dahlan mendirikan PKO (Pertolongan Kesengsaraan Oemum), beliau hanya ingin masyarakat sekitarnya berobat dengan murah,” tuturnya. Perguruan Tinggi Muhammadiyah, lanjutnya, di Sorong Papua 70% non-muslim. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah tidak hanya untuk orang islam. Semangat K.H Ahmad Dahlan tersebutlah yang terus dijaga hingga kini. “Semoga kerja sama dalam mengembangkan potensi masyarakat ini dalam lingkup pendidikan dapat berjalan dengan masif dan tentu saja berdampak,” tutup Fauzan. (mir/can)

Kata Pakar Amerika tentang Empat Faktor yang Buat Teroris ‘Pensiun’

Kita bisa membantu bekas narapidana teroris (eks-Napitor), tidak kembali menjadi teroris dengan membentuk jaringan sosial alternatif untuk mereka. Hal itu disampaikan Julie Chernov Hwang, seorang guru besar ahli terorisme dari University of California, Amerika Serikat saat membedah bukunya “Why Terorist Quit: The Disengagement of Indonesian Jihadist”, Jumat (12/7) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Julie yang selama bertahun-tahun menekuni masalah terorisme mengatakan ada empat faktor dasar yang mampu membantu eks-Napitor kembali berdaya di masyarakat. Pertama, faktor kekecewaan. Faktor ini merupakan faktor internal di mana Napitor mulai merasa kecewa terhadap strategi, ideologi, sosok pemimpin, taktik, dan sebagainya. “Ia akan mencari jalan lain yang membuat dirinya bisa berdaya kembali,” jelas Julie. Setelah merasa kecewa, eks-Napitor akan mulai menimbang dan menilai akibat serta  kebermanfaatan apa yang didapat. Faktor kedua ini, kata Julie, masih merupakan faktor internal yang harus di mulai dari kesadaran seorang Napitor itu sendiri. Di sini, Napitor sudah mulai mempertanyakan relevansi tindakannya, kebaikan zaman dulu dan zaman sekarang, juga memikirkan konteks kebaikan yang relevan dengan kondisi sekarang. Ketika sudah mulai menyadari bahwa sudah saatnya Napitor berhenti, Ia harus mempunyai jaringan sosial baru. Jaringan sosial baru ini merupakan faktor ke tiga yang disebut oleh Julie sebagai faktor jaringan sosial alternatif. “Di sini kita bisa berperan dengan menerima eks-Napitor sebagai teman biasa, tanpa melihat masa lalunya. Dengan begitu mereka akan merasa nyaman untuk tinggal,” ungkap Julie. Setelah mendapat jaringan sosial alternatif, ia sudah bisa mengandalkan orang lain selain teman-temannya saat masih menjadi Jihadis dulu. Selain itu, ada satu faktor penting (keempat) yang mendasari agar ia berhenti menjadi teroris kembali, yaitu faktor ganti prioritas. Seperti pekerjaan, hubungan sosial baru, ajaran baru, dan masa depan baru sehingga ia bisa benar-benar meninggalkan ideologi yang dulu pernah dianut. Dalam diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu, Zen Amiruddin sebagai perwakilan dari UMM berterimakasih kepada Julie yang menyempatkan datang dari Amerika. Ia berharap ilmu yang disampaikan bisa membuka cakrawala pengetahuan dosen dan mahasiswa. “Semoga ini menjadi motivasi kita untuk giat meneliti soal permasalah terorisme di Indonesia,” tandasnya. (usa/can)