Kata Pakar Amerika tentang Empat Faktor yang Buat Teroris ‘Pensiun’

Kita bisa membantu bekas narapidana teroris (eks-Napitor), tidak kembali menjadi teroris dengan membentuk jaringan sosial alternatif untuk mereka. Hal itu disampaikan Julie Chernov Hwang, seorang guru besar ahli terorisme dari University of California, Amerika Serikat saat membedah bukunya “Why Terorist Quit: The Disengagement of Indonesian Jihadist”, Jumat (12/7) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Julie yang selama bertahun-tahun menekuni masalah terorisme mengatakan ada empat faktor dasar yang mampu membantu eks-Napitor kembali berdaya di masyarakat. Pertama, faktor kekecewaan. Faktor ini merupakan faktor internal di mana Napitor mulai merasa kecewa terhadap strategi, ideologi, sosok pemimpin, taktik, dan sebagainya. “Ia akan mencari jalan lain yang membuat dirinya bisa berdaya kembali,” jelas Julie. Setelah merasa kecewa, eks-Napitor akan mulai menimbang dan menilai akibat serta kebermanfaatan apa yang didapat. Faktor kedua ini, kata Julie, masih merupakan faktor internal yang harus di mulai dari kesadaran seorang Napitor itu sendiri. Di sini, Napitor sudah mulai mempertanyakan relevansi tindakannya, kebaikan zaman dulu dan zaman sekarang, juga memikirkan konteks kebaikan yang relevan dengan kondisi sekarang. Ketika sudah mulai menyadari bahwa sudah saatnya Napitor berhenti, Ia harus mempunyai jaringan sosial baru. Jaringan sosial baru ini merupakan faktor ke tiga yang disebut oleh Julie sebagai faktor jaringan sosial alternatif. “Di sini kita bisa berperan dengan menerima eks-Napitor sebagai teman biasa, tanpa melihat masa lalunya. Dengan begitu mereka akan merasa nyaman untuk tinggal,” ungkap Julie. Setelah mendapat jaringan sosial alternatif, ia sudah bisa mengandalkan orang lain selain teman-temannya saat masih menjadi Jihadis dulu. Selain itu, ada satu faktor penting (keempat) yang mendasari agar ia berhenti menjadi teroris kembali, yaitu faktor ganti prioritas. Seperti pekerjaan, hubungan sosial baru, ajaran baru, dan masa depan baru sehingga ia bisa benar-benar meninggalkan ideologi yang dulu pernah dianut. Dalam diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu, Zen Amiruddin sebagai perwakilan dari UMM berterimakasih kepada Julie yang menyempatkan datang dari Amerika. Ia berharap ilmu yang disampaikan bisa membuka cakrawala pengetahuan dosen dan mahasiswa. “Semoga ini menjadi motivasi kita untuk giat meneliti soal permasalah terorisme di Indonesia,” tandasnya. (usa/can)
Dosen UMM Sabet Gelar Dosen Berprestasi LLDIKTI 2019

Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ihyaul Ulum, SE., M.Si., Ak., CA dinobatkan sebagai Dosen Berprestasi I, hasil pemilihan tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII tahun 2019. Keputusan itu didasarkan kepada Surat Keputusan Kepala LLDIKTI Wilayah VII Nomor: 12/L7/SK/2019 tanggal 2 Juli 2019. Ulum dinobatkan sebagai Dosen Berprestasi di kategori Sosial Humaniora. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini berhasil mengalahkan dua puluh dosen perguruan tinggi swasta yang terseleksi di tingkat LLDIKTI Wilayah VII. Raihan Ulum mengulang prestasi yang diraih pendahulunya Djoko Sigit Sayogo, S.E., M. ACC., Ph.D.,. Djoko tak hanya di tingkat LLDIKTI Wilayah VII, namun juga dinobatkan sebagai Dosen Berprestasi I di tingkat nasional tahun 2018 lalu, mengeser IPB dan ITB. Selama lima tahun terakhir, Dr. Ihyaul Ulum banyak bergelut di dunia intellectual capital (modal intelektual). Bahkan, dia menciptakan model ukuran dari intellectual capital (IC). Temuan formula ini dinamainya dengan Modified Value Added Intellectual Coefficient (MVAIC). Fungsinya, untuk mengukur kinerja dari organisasi yang memiliki modal intelektual. “Karena selama ini (modal intelektual, red.) tidak terukur,” katanya. Buah pemikirannya itu kini sudah terbit di salah satu jurnal internasional di Amerika Serikat (AS). MVAIC juga sudah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham). Bahkan, diakuinya, model MVAIC telah dipakai banyak peneliti asing untuk mengukur kinerja perusahaan publik di Hongkong, Amerika, Australia, hingga London. Tak hanya menelurkan formula MVAIC. Di tahun 2016, Ulum juga sudah menerbitkan buku dengan judul “Intellectual Capital: Model Pengukuran, Framework Pengungkapan & Kinerja Organisasi”. “Buku ini disusun dengan semangat untuk meng-Indonesia-kan isu tentang IC,” ungkapnya. Secara internasional, ditambahkan Ulum, kajian tentang IC telah mulai berkembang sejak akhir tahun 1990-an. Termasuk di Indonesia. Ulum mengaku optimis dapat mengulangi sukses di ajang nasional nantinya. “Terus berjuang untuk mengharumkan nama universitas tidak hanya dari mahasiswanya, seluruh civitas akademika juga diharapkan ikut berpartisipasi mengharumkan nama Kampus Putih. Dan semoga tahun ini dosen UMM dapat kembali untuk menjadi Dosen berprestasi tingkat Nasional seperti tahun lalu,” tandas Ulum, ditemui Jumat (12/7). (yas/can)
Mobil KaCa UMM di PSPA Bima Sakti: Adakan Outbond, Kelas Jurnalistik sampai Fotografi

Wajah sumringah nampak hadir di wajah mungil anak-anak Panti Sosial Petirahan Anak Bima Sakti, Kota Batu, Kamis (12/7) pagi. Pasalnya, Mobil Kamis Membaca (KaCA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dengan mengadakan beragam kegiatan untuk menggembirakan mereka. Seperti diselengarakannya kelas Fotografi, Jurnalistik, membaca bersama, juga kegiatan luar ruangan seperti Outbond. Pada kelas Fotografi misalnya, selain mendapat materi seputar dasar-dasar Fotografi, para siswa juga diajak untuk praktik langsung menangkap objek gambar. Materi disampaikan M. Zaky Agung yang merupakan fotografer Humas dan Protokoler UMM ini. “Mereka antusias saat diberi kesempatan memegang kamera. Ada yang memotret kawan mereka sendiri, ada juga memotret objek menarik di sekitarnya,” cerita Zaky. Keseruannya tak sampai di situ. Selain kelas fotografi, adapula kegiatan belajar lain seperti materi jurnalistik yang disampaikan mahasiswa peminatan Jurnalistik Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Yasmin Azatil Isma. Selain itu, kegiatan outbond yang dipandu master of training Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) UMM, Luthfi Badhilah menyempurnakan kegembiran mereka hari itu. PSPA Bima Sakti sendiri merupakan Panti Sosial yang berada di naungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Panti yang dikhususkan untuk para siswa di SD seluruh Jawa Timur yang punya sedikit masalah Psikososial seperti suka jail, pemurung, kurang percaya diri, prestasi menurun dan lainnya. Setiap bulannya PSPA Bima Sakti Selalu menerima ratusan siswa dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur. Muhammad Laziq Fahri Al-Fayat salah satu siswa asal Bondowoso menyampaikan dirinya sangat senang berada di PSPA ini, terlebih dengan hadirnya tim Mobil KaCa UMM. Lantaran mereka mendapat pengalaman baru yang tidak ditemuinya di sekolah asal. “Banyak temannya, banyak pengalamannya. Tapi kadang saya juga kangen dengan teman sekolah dan juga orang tua saya,” tuturnya dengan polos. Endang Kastuti, Pekerja Sosial di PPSA Batu menambahkan pihaknya secara khusus membantu menangani anak-anak yang mengalami berbagai permasalahan. Selain itu, secara kasuistik dibimbing satu persatu. “Biasanya, kita beri mereka latihan sikap kemandirian melalui kegiatan-kegiatan bersama. Kehadiran Mobil KaCa UMM memberi warna berbeda pada kegiatan yang sudah rutin,” urainya usai kegiatan. Kehadiran Mobil KaCa UMM juga menyedot perhatian tersendiri anak-anak PSPA Bima Sakti. Koleksi lengkap mulai dari ensiklopedia, komik, novel hingga buku pelajaran dan pengetahuan umum juga tersedia. Anak-anak begitu antusias membaca dan saling membagikan pengetahuan terbarunya kepada kawannya. Ke depan, Mobil KaCa akan berkeliling ke tempat khusus lainnya, seperti panti serta daerah pinggiran. (zak/can)
Songsong Pimnas, UMM Jadi Tuan Rumah Monev PKM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 Bidang tahun 2019. Agenda ini dilaksanakan selama 3 hari, mulai 11 hingga 13 Juni di Aula Gedung Kuliah Bersama 4 lantai 9 UMM. Diikuti 59 PKM dari 6 perguruan tinggi Jawa Timur. Monev merupakan salah satu tahap penentuan keikutsertaan mahasiswa dalam pelaksanaan PKM sebelum para peserta melangkah pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan mengevaluasi pelaksanaan penugasan PKM yang telah lolos pendanaan. Di UMM, mereka mempresentasikan laporan kemajuan PKM yang telah mereka kerjakan sebelumnya di hadapan tim reviewer dari Dirjen Belmawa Kemenristekdikti. Kemudian peserta akan melakukan klarifikasi dari pertanyaan reviewer. Reviewer ini adalah Dr.rer.nat I Wayan Karyasa, M.Sc., dan Dra. Titiana Iriwani, M.Sn. Wakil Rektor III UMM, Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si., M.Hum. mengatakan, dari 59 tim PKM host UMM tersebut, 38 tim PKM berasal dari mahasiswa UMM dan merupakan salah satu yang terbanyak di Jawa Timur. Pencapaian ini merupakan peningkatan reputasi UMM dalam tren positif keikutsertaan PKM selama 3 tahun terakhir. Lebih lanjut, Sidik menuturkan dalam pencapaian tersebut UMM telah melakukan banyak pembekalan. Di antaranya, pembimbing PKM, dan tim reviewer internal. “Tim ini untuk memperbaiki, mendampingi dan melatih sebelum di review oleh tim eksternal. Mahasiswa akan presentasi di akhir pekan selama satu bulan,” sebut Sidik. Sidik berharap, mahasiswa mampu mewujudkan target-target dan program yang mereka usulkan dengan baik. “Melalui PKM ini para peserta bisa mengembangkan kretivitasnya dan memberikan yang terbaik. Kita sudah memberi latihan, pendampingan dan pengayaan. Selanjutnya, kami serahkan pada keputusan viewer,” tutur Sidik. (bel/can)
Saat Mahasiswa Asing Juga Ikut KKN

Kevin, mahasiswa asing asal Amerika tak pernah membayangkan bisa merasakan menjalani kehidupan seperti warga lokal di Indonesia. Pengalaman langka ini ia dapati saat tengah ikut program Village Home Stay dari Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selama sepekan (6-11/7), mereka ikut menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selayaknya mahasiswa Indonesia. “Ini pengalaman pertama kali saya menjalani kehidupan bersama warga desa di Indonesia. Selama kami bersama-sama, kami saling menjelaskan budaya kami masing-masing. Di hari pertama di sini, saya sudah diajak membersihkan sungai. Mereka menjelaskan kenapa membersihkan sungai di Indonesia sangat penting. Mereka ingin lingkungan di sini bersih seperti sebelumnya,” ungkap Kevin, diwawancarai (11/7). Program Village Home Stay sendiri merupakan program unggulan BIPA UMM karena hanya dimiliki oleh UMM dari 64 Universitas di Indonesia yang menerima beasiswa Darmasiswa. Kedua belas mahasiswa asing ini ditempatkan di desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Mereka, hidup berdampingan dan menjalani kehidupan selayaknya warga desa dan menjalani kebiasaan orang tua asuh sebagai petani. “Menariknya, kami juga mengikuti kegiatan keseharian dari orang tua asuh kami yang berprofesi sebagai petani. Baik petani anggrek, apel, sayuran dan lainnya. Kami juga memasak makanan Indonesia, menari dan membuat bank sampah,” kata Kevin. Setelah program selesai, para peserta ditugaskan menulis buku tentang pengalaman dan juga komparasi antara beberapa kebiasaan di Indonesia dan negara asalnya. Kevin juga tertarik saat diajak warga desa untuk belajar budidaya jambu kristal di perkebunan organik. Menurutnya buah jenis ini tidak ditemui di negaranya, Amerika Serikat. Terlebih di negaranya kebanyakan buah yang ditanam menggunakan bahan kimia. “Meskipun saya tidak lahir dari keluarga petani, setidaknya sekembalinya saya ke Amerika dapat membagikan informasi teknik menanam buah yang baik,” terangnya. Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. Kepala BIPA UMM menjelaskan, tujuan dari program ini agar mereka dapat mengenal lebih dalam tentang budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia. “Tentunya ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka. Semoga dengan pengalaman ini, mereka sebagai duta budaya dan juga pariwisata Indonesia dapat menceritakannya di negaranya masing-masing,” tutur Arif. Program ini merupakan pengembangan dari program beasiswa Darmasiswa yang diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia untuk orang asing yang negaranya mempunyai hubungan diplomatik dengan negara Indonesia. Program yang sudah ada sejak tahun 1974 ini kemudian dikembangkan kembali oleh UMM dengan menambahkan program ini. (zak/can)
BIPA UMM Latih Mahasiswa Asing Jadi Duta Budaya dan Bahasa Indonesia

Sebanyak 24 orang mahasiswa asing dari berbagai negara mengikuti pembekalan Diplomatik Darmasiswa RI di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (5/7). Mereka berasal dari Papua Nugini, Vietnam, Thailand, Ukraina, Mesir, Yaman hingga Amerika Serikat. Mereka dibekali pengetahuan seputar bahasa dan wawasan budaya Indonesia, yang nantinya akan diperkenalkan di negaranya masing-masing. Mahasiswa asing ini tengah mengikuti Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KMB) dan Darmasiswa Kemdikbud RI yang diadakan di lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM. “Setelah lulus dari Universitas Muhammadiyah Malang nantinya mereka akan menjadi duta Budaya dan Pariwisata Indonesia di negaranya masing-masing.” terang Dr. Arif Budi Wuryanto, M. Si selaku kepala BIPA UMM. Selama sepekan, mereka juga dikenalkan beragam alat musik, pakaian adat hingga belajar menari. Toni Dian Effendi, M.Si dosen Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM menjadi pemateri perdana dalam pembelakan. Dosen yang pernah tinggal di Jepang ini turut menyampaikan progress yang harus dilakukan sebagai calon diplomat kedalam tiga tahap. Tahapan ini tidak boleh dilewatkan para calon diplomat. Pertama yakni mengenal tentang Indonesia guna menunjukkan kesan positif. Selanjutnya, keikutsertaan dalam mempelajari Indonesia sehingga muncul sebuah ketertarikan dalam diri para pembelajar. “Yang terakhir ialah tahap pemahaman tentang Indonesia. Dan bentuk kontribusi terkecil sebagai seorang diplomat untuk Indonesia itu minimal harus bisa bercerita tentang Indonesia,” ungkap dosen HI UMM ini. “Selain sebagai duta bangsa Indonesia, nantinya mereka juga dapat menjadi duta untuk UMM. Sehingga saat mereka pulang kenegaranya masing-masing, mereka sudah siap menjadi corong (pusat informasi) seputar Indonesia sekaligus mengenalkan UMM di negara asal,” pungkas Dr. Ratih Juliati, M.Si Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kerjasama saat pembukaan program. Peserta asal Mesir, Rania, menyatakan kelas yang diikutinya sangat menarik karena ia banyak belajar tentang menjadi orang Indonesia yang berkarakter. Dengan menampilkan sikap yang demikian, sambung Rania, orang asing akan tertarik berkunjung dan mempelajari budaya dan bahasa Indonesia. “Dengan menjadi orang yang baik, maka persepsi tentang negara anda juga baik,” katanya fasih. Di tempat kelahirannya Mansoura, Mesir tidak banyak orang yang kenal Indonesia apalagi budayanya. “Saya ingin kirim budaya ini, budaya Indonesia, ke kota saya dan membuat mereka mau datang ke sini. Kalaupun bahasa kami berbeda, melalui keramahan orang Indonesia yang saya pelajari di sini, saya yakin orang-orang asing, terutama tempat di mana saya berasal tertarik datang ke Indonesia,” pungkanya. (riz/hel/can)
Bupati Pekalongan dan UMPP Belajar Kelola PT Ke UMM

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi, S.H., M.Si beserta rombongan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) melawat ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (9/7). Kehadiran mereka dalam rangka belajar tata kelola perguruan tinggi (PT). Uniknya, UMPP ini baru berusia dua minggu. Kampus ini berasal dari gabungan tiga Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Pekalongan. Yakni Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Pekajangan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Pekalongan, dan Politeknik Muhammadiyah Pekalongan. Resmi sebagai universitas pada 29 Juni. “Kampus kami masih kecil, masih baru berdiri dan saat ini baru berumur dua minggu. Untuk itulah kami ingin belajar di UMM,” ujar Dr. Nur Izzah, SKp. M.Kes, Rektor UMPP. Dalam kunjungan kali ini juga disertai Penandatanganan MoU, yang termaktub ke beberapa poin. Utamanya terkait penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di antaranya pengembangan program perkuliahan dan pendidikan, pertukaran mahasiswa untuk studi dan penelitian, pertukaran profesor dan peneliti untuk penelitian, ceramah, dan diskusi, pertukaran informasi termasuk pertukaran bahan pustaka dan penelitian, seminar dan lokakarya, hingga manajemen publikasi jurnal. Selain Asip Kholbihi, S.H., M.Si Bupati Pekalongan, turut hadir bersama empat puluhan orang rombongan, Dr. Nur Izzah, SKp. M.Kes, Rektor UMPP, H. Mulyono Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Drs. H. Pasrum Affandi PDM Kota Pekalongan dan Dr. H. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM. “Saya beserta rombongan kali ini berharap agar UMM yang memiliki track record bagus dan sudah malang melintang di dunia pendidikan ini mampu memberikan sedikit ilmunya dalam kunjungan bersama kami kali ini,” ujar Asip Kholbihi, S.H., M.Si Bupati Pekalongan dalam sambutannya di hadapan Dr. H. Fauzan, M.Pd, Rektor UMM. “Sebagai kampus swasta dan sumber pendanaan dari mahasiswa, sehingga bagaimana caranya menarik minat mahasiswa sebanyak-banyaknya. Maka strateginya dengan biaya kuliah yang terjangkau kemudian sematan UMM sebagai Universitas Murah Meriah semakin dikenal dikalangan masyarakat,” tutur Fauzan. Fauzan melanjutkan bahwasanya akan ada dinamika yang harus dilewati dalam membangun sebuah perguruan tinggi. Sehingga diperlukannya berbagai macam strategi atau cara, serta tata kelola yang baik melalui peletakan dasar konsolidasi SDM. Tahap selanjutnya adalah normalisasi SDM, hingga konsolidasi struktur. “Inilah bangunan corporate culture (budaya organisasi) yang kita ciptakan. Kita harus memiliki prinsip yakni selesai dengan dirinya sendiri. Artinya jangan sampai ada orang yang belum selesai mengurus dirinya, ikut terlibat bekerja. Karena mereka ini akan membuat kericuhan di sekitarnya seperti iri dan serakah,” pungkas Fauzan. (riz/can)
Cegah Anak Antisosial dengan Berpetualang dan Berkebun

“Tidak ada habisnya!” mungkin kalimat tersebut sangat cocok disematkan kepada Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tidak pernah berhenti melahirkan sebuah karya dan juga manfaat. Melalui program praktikum Public Relations (Event Management), kelompok “Costa Consultant” membuat sebuah terobosan baru dengan menggelar kegiatan berpetualang bersama maskot lucu bernama Gogo (7/7). Kegiatan yang bekerjasama dengan tempat wisata Tlogoland Lawang Kabupaten Malang ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang tua. Dalam kegiatan ini anak-anak diajak untuk mengembangkan kreativitasnya. Adapula yang dilakukan yakni melukis pot, farmer dance, menanam bibit, konsultasi psikologi, dongeng teatrikal yang ditampilkan oleh Gerakan Dongeng Indonesia (Gendong), hingga outbond serta hadirnya Mobil Kaca UMM. Nabella Azhariana, akrab disapa Bella, selaku programmer acara “Petualangan Bersama Gogo” mengungkapkan, program tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi anak-anak terlalu gandrung dengan gadget pada saat ini. Pasalnya, kata Bella, banyak anak-anak yang mengisi masa liburan dengan bermain gadget. Padahal, kecanduan gadget memiliki dampak kurang baik terhadap masa perkembangan anak kita. Utamanya anak jadi sulit bersosialisasi. “Setidaknya dapat mengalihkan perhatian anak dari gadget. Lebih jauh lagi, beragam aktivitas dan kreativitas dapat mengembangkan saraf motorik anak. Salah satu kegiatan menarik lainnya yakni berkebun,” ungkap Bella. Tlogoland sendiri, sambung bella, memang terus berupaya untuk menjaga lingkungan hidup melalui penghijaun. Sehingga kelompok ini tertarik untuk mengangkat pesan ini sebagai point yang disampaikan kepada pengunjung. Menurut orang tua dari salah satu peserta yakni Ika, merasa sangat senang dengan diadakannya kegiatan seperti ini. Karena kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi anak usia dini untuk lebih mencintai dan menjaga lingkungan. “Anak-anak yang biasanya main di Mall atau main gadget, akhirnya dapat menikmati kegiatan lain. Ini bisa jadi kegiatan alternatif anak, misal berkebun saat di rumah,” kata Ika, pengunjung dari Sawojajar yang turut berkegiatan. (Zak/Can)
BAPOMI Jatim Beri Mandat ke UMM Helat Pomda Futsal

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diserahkan tugas sebagai panitia penyelenggara Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) Futsal oleh Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Jawa Timur untuk Zona Malang dan Surabaya serta tuan rumah kualifikasi Regional Jawa Timur. Dr. Haris Thofly, SH., M.Hum selaku ketua pelaksana yang juga Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Malang mengatakan, Pomda Regional Jawa Timur terbagi ke dalam delapan zona. “Yakni Zona Surabaya, Zona Malang, Zona Jember, Zona Madura, Zona Bojonegoro, Zona Madiun, Zona Kediri, dan Zona Ponorogo,” ujarnya. Dilanjutkan Haris, bahwasanya masing-masing juara dari delapan zona tersebut akan dipertemukan kembali dalam putaran final atau kualifikasi regional pada tanggal 22 hingga 24 Juli di Dome UMM, “Saat ini masih Pra Kualifikasi untuk menentukan juara dari zona-zona,” tuturnya disela-sela pembukaan Pomda. UMM sendiri, sambung Haris di GOR Ken Arok, pada Pomda kali ini mendapatkan regulasi khusus sebagai panitia penyelenggara berupa Wild Card. Sehingga tanpa mengikuti Pra Kualifikasi tim, Futsal UMM lolos otomatis dan menunggu di babak kualifikasi bersama para juara antar zona Regional Jawa Timur. Pada Pra Kualifikasi Zona Malang kali ini diikuti oleh empat Tim. Yakni dari Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijawa (UB), Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) dan Universitas Tribhuana Tunggadewi (Unitri). Berlangsung dari tanggal 8-10 Juli di GOR Ken Arok, Malang. Sedangkan untuk Zona Surabaya diikuti oleh sembilan tim. Yakni dari Universitas Narotama, Universitas Hang Tuah, Uisla, Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Wijaya Kusuma, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan PGRI Adi Buana. Kegiatan ini dijadikan sebagai muara untuk mewakili Tim Pomnas Jatim pada September mendatang. “Karena separuh pemain untuk Pomnas akan diambil dari tim-tim yang juara, sedangkan setengahnya akan diseleksi dari pemain tim-tim yang tidak lolos juara,” ungkap pria yang juga pembantu Dekan II FH UMM. “Karena kualifikasi yang disebut Pak Haris itu ialah untuk mencari yang terbaik dari yang terbaik. Mudah-mudahan niat yang tulus dari UMM dalam mengembangkan acara ini dapat berfungsi dengan baik,” pungkas Dr. Sidik Sunaryo, SH., M.Si, M.Hum, dalam pidato sambutannya di hadapan berbagai elemen yang hadir. (riz/can)
UMM Terjunkan Mahasiswa KKN di 6 Negara

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. KKN Internasional yang diikuti 97 mahasiswa ini dilaksanakan di enam negara yakni Turkey, Thailand, Malaysia, China, Kamboja & Taiwan. Para mahasiswa akan mengabdi selama enam minggu dan menjalankan program di tiga bidang. Yakni bidang lingkungan, pendidikan dan kesehatan. Prof. Dr. Yus Mochammad Cholily, M.Si, Direktur DPPM, menekankan para mahasiswa yang akan berangkat untuk benar-benar dapat menjadi pribadi yang bermanfaat. Selain itu, ia juga berharap sepulangnya dari KKN, para mahasiswa dapat menjadi penggerak perubahan. “Anda memang harus keluar negeri supaya bisa bersyukur memiliki Indonesia dan UMM,” katanya saat pelepasan, Kamis (4/7). Indonesia adalah surga terindah yang mesti dijaga dengan terus menggerakkan kesadaran masyarakat. KKN di luar negeri juga memperluas wawasan. Juga menjadi proses evaluasi dan upaya perbandingan hal-hal yang dapat dibawa dan diterapkan di kampung halaman, Indonesia. Semisal tepat waktu, kebersihan, antre dan menepati janji. “Jangan membawa hal-hal buruk dan tidak cocok dengan kita, misal dunia bebas,” tutur Yus. Bagi Guru Besar Matematika ini, UMM yang bernaung di bawah Persyarikatan Muhammadiyah telah menitipkan amanah ke masing-masing mahasiswa Kampus Putih untuk selalu bermanfaat kepada sesama. “Maka, segala perilaku adalah cermin mahasiswa Indonesia dan khususnya mahasiswa UMM,” tandas Yus. Sementara, pada penyelenggaraan KKN Reguler semester ganjil 2019/2020, UMM melepas 4835 mahasiswa. Dr. Sidiq Sunaryo, SH., M.Si, M.Hum, Wakil Rektor III menegaskan bahwa mahasiswa yang akan mengikuti KKN diharapkan dapat menjaga nama baik Kampus Putih, menjaga kedisiplinan dan menghargai waktu. (mir/can)