IKA UMM Kaltim Terima Hibah Tanah untuk Dirikan Politeknik Milenia

Baru-baru ini Ikatan Alumni Universitas Muhammadiyah Malang (IKA UMM) regional Kalimantan Timur (Kaltim) mendapat amanah  dari pemerintah provinsi Kaltim untuk mengelola lahan bekas tambang batu bara menjadi pusat pendidikan, yakni Politeknik Milenia. IKA UMM dipercaya mengelola 3 lahan di 3 lokasi berbeda. Semua fasilitas sudah tersedia, tinggal membutuhkan penggerak dari alumni UMM lain untuk memperlancar program ini. “Karena jika ini berhasil terealisasikan, maka akan menjadi peluang bagus bagi lulusan UMM untuk dapat bekerja di politeknik milenia,” kata salah satu penggagasnya, Nur Alamsyah Syahid,S.Pd.,M.P.H., Selasa (2/7). “Harapan kami IKA UMM dapat menghidupkan kembali wilayah tambang yang saat ini sudah mulai ditinggalkan menjadi ramai kembali, dan semoga kita dapat menjadi pionir untuk perusahaan besar yang akan beroperasi di wilayah tersebut. Baik di bidang pendidikan, pertanian, peternakan, kesehatan dan lainnya,” tutur Alam. Mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan juga pemerintah Provinsi Kaltim membuat para pengurus dan anggota IKA UMM Regional Kaltim mengaku semangat untuk merealisasikan pendirian politeknik yang tahap awal pembangunannya akan fokus pada keilmuan peternakan dan pertanian. Lokasi pertama berada di desa Karang Tunggal kecamatan Tenggarong Seberang. Di desa ini tersedia lahan dan bangunan 2 lantai seluas 1,8 hektar. Bangunan yang rencana awalnya digunakan untuk badan diklat pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara ini memiliki model bangunan layaknya tempat perkuliahan. Untuk lokasi kedua, berada di Desa Bangun Rejo Kecamatan Tenggarong Seberang. Rencananya lokasi kedua yang memiliki luas lahan 4 hektar ini akan dijadikan laboratorium mini, khususnya di bidang pertanian dan perkebunan, mengingat kontur tanah di Kaltim sangat cocok untuk ditanami hasil pertanian maupun perkebunan. Lokasi terakhir merupakan lokasi yang menjadi fokus utama pemerintah provinsi Kaltim yakni lahan seluas 400 hektar bekas pertambangan batu bara. Di lokasi ini akan dibangun masjid di sekitarnya boarding school yang mengelilingi masjid. tahapan yang saat ini sedang ditempuh adalah mengurus administrasi lahan. “Melihat ketiga lahan tersebut mengingatkan kami pada UMM yang memiliki 3 kampus dengan lokasi yang berbeda. Rencananya lahan eks batu bara tersebut nantinya akan menjadi pusat dari Politeknik Milenia ini layaknya UMM dengan kampus tiga nya,” ujar Alam saat kesempatan sejenak bernostalgia ke almamater kebanggaannya. (zak/can)

Seratus Lulusan UMM Dicetak Jadi Digipreneur

Siapa tak ingin bekerja atau membuat sendiri perusahaan Startup terkemuka seperti Bukalapak, Tokopedia, GOJEK dan lainnya? Kesempatan inilah yang mungkin saja diraih lulusan baru Prodi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui beasiswa Digital Talent Scholarship 2019 (DTS 2019). Program ini merupakan kerjasama UMM dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI. Melalui program Fresh Graduate Academy (FGA) DTS 2019, selama sebulan 100 lulusan terseleksi digembleng agar memiliki kompetensi secara profesional dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era revolusi industri 4.0. Mereka mendapat tema pelatihan yakni Artificial Intelligence, Big Data Analytics, Cloud Computing, Cybersecurity, Internet of Things, dan Machine Learning. “Penyelenggaraan program FGA ini berlangsung selama 144 jam pelajaran yang meliputi kegiatan pelatihan tatap muka (offline), kelas pendamping atau add on, uji kompetensi, dan sertifikasi. Kelas pendamping atau add-on yang akan didapat oleh peserta FGA yaitu kewirausahaan digital (Digipreneur) dan Soft Skills Development,” kata Gita Indah Marthasari, S.T, M.Kom Kaprodi Teknik Informatika, Senin (1/7) Sedangkan, Soft Skills Development bertujuan agar Peserta Digital Talent Scholarship 2019 menjadi pribadi yang mampu bersaing di era digital, memiliki inisiatif, bertindak secara efektif serta dapat menyesuaikan diri dengan dunia kerja. Pelatihan akan dilakukan secara online melalui platform e-learning. “Materi akan disampaikan oleh tenaga profesional dalam bentuk video dan presentasi,” terang Gita. Pelatihan ini akan diselenggarakan setiap hari Senin-Jumat mulai pukul 08.00-12.00 WIB di beberapa laboratorium Teknik Informatika yang berlokasi di Gedung Kuliah Bersama 3 Lantai 6. “Harapannya dengan bekal ini kita dapat lebih meningkatkan kemampuan dan percaya diri, serta peluang-peluang ke depan akan semakin terbuka lebar,” tutur Dr. Ir. Samin, MT. selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Teknik. UMM menjadi salah satu universitas dari sebelas universitas swasta yang tersebar di seluruh Indonesia yang bekersama dengan Kominfo RI dalam penyelenggaraannya. Universitas dalam program ini berperan menjadi penyedia sarana dan prasarana serta instruktur pelatihan sesuai dengan skema pelatihan. Pada akhir pelatihan, peserta pelatihan akan disertifikasi kompetensi oleh global tech companies. (zak/can)

Langganan Juara Nasional, Bikin Nazar Sisihkan Separuh Hadiah Buat Sedekah

Ada banyak sebab di balik kesuksesan setiap orang. Seperti cerita yang dialami tim debat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang mengaku banyak menang di medan laga tersebab ‘Faktor X’. Belum genap paruh tahun 2019, tim debat hasil kolaborasi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Fakultas Hukum UMM ini sukses mencatatkan skor terbaiknya di empat event debat level nasional. Yang terbaru, tim komposisi Wildan Arif (Prodi Ilmu Hukum angkatan 2016), Ana Fauzia (Prodi Ilmu Hukum angkatan 2018), dan Muhammad Fitrah Ashary Bangun (Prodi Manajemen angkatan 2017) memenangi ajang Debat Competition for University (ECOFU) Universitas Katolik Darma Cendika, Surabaya, 29 Juni 2019 lalu. Mereka berhasil menduduki posisi runner up, menyisihkan banyak pesaing lainnya. “Setiap kali kita mau lomba, kita bakal nentukan nazar bahwa lima puluh persen hadiah kami kasih ke orang yang tidak mampu,” ungkap Wildan Arif selaku ketua kelompok bernama UMMI Team ini. Inisiatif ini mereka lakukan untuk turut membagikan kebahagiaan. Bagi mereka, kesulitan yang berbuah kemenangan juga harus ditularkan kepada mereka yang kurang mampu. Praktik ini sakaligus sarana berdakwah. Selain menunaikan nazar, faktor dominan yang menjadi kunci kesuksesan tim yang lahir dari warung kopi ini yakni menjalankan ibadah dan doa orang tua. “Meski kita banyak membaca dan berlatih, jika tak melakoni ritual keduanya terlebih dulu, saat menjalani perlombaan merasa ada sesuatu yang kurang dan tidak maksimal,” kata Fitrah menyambung ucapan Wildan saat diwawancara Senin, (1/7) siang. Ada cerita unik juga pada pemberian nama kelompok ini. Mereka menamai kelompok, yang makin lengkap dengan hadirnya si junior Ana Fauzia, dengan sebutan UMMI Team. “Suatu waktu kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing. Tak disangka, panggilan kami untuk ibu kami adalah Ummi. Terciptalah nama tim ini,” kisah Fitrah. UMMI kemudian diakronimkan dari asal frase “UMM Indonesia”. Mengaku tak ada persiapan matang, perkawinan disiplin ilmu Hukum dan Ekonomi yang sudah teruji di banyak event nasional membuat mereka percaya diri. Terlebih tema yang ditetapkan panitia bertajuk, “Perekonomian Indonesia yang Berorientasi pada Infrastruktur” menjadi tema khusus Ekonomi yang juga dimenangkan di empat ajang lomba sebelumnya. “Pagi jelang lomba, kami sempat ketiduran,” ceritanya. UMMI Team berhasil menang dengan skor tipis di bawah Institut Pertanian Bogor (IPB). IPB memperoleh 1222 poin, sementara UMM 1212 poin. Peringkat ketiga diraih STIE Perbanas dengan perolehan skor 1194, disusul di peringkat keempat dengan skor 1190 IAIN Salatiga Yogyakarta. Ke depan mereka berencana menjajal debat berbahasa Inggris di kompetisi tingkat nasional dalam waktu dekat. (can)

Seni Drama Jadi Media Efektif Tumbuhkan Karakter Anak

Anak-anak saat ini cenderung berperilaku dewasa, jauh melampaui usianya. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti tayangan televisi yang tidak mendidik, atau abainya orang tua saat anak mengakses internet. Drama, dinilai oleh sejumlah kalangan menjadi salah satu media pembelajaran efektif untuk menumbuhkan karakter. “Penyampaian pesan moral dalam drama disampaikan secara halus. Karena anak perlu dicontohkan agar lebih paham,” jelas Aldhina Ramadhani, ketua pementasan Drama Anak bertajuk “Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Anak”. Diadakan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dhina bersama kawan-kawannya berharap, anak-anak dapat bertumbuh kembang sesuai dengan tahap yang sudah ideal. “Anak-anak harus tumbuh dengan alami. Tidak dewasa sebelum waktunya. Agar pula menjadi pribadi yang baik yang dapat membangun bangsa di hari mendatang,” ungkapnya di sela acara, (29/6). Gelaran seni bermain peran ini setidaknya memuat nilai religiusitas, nasionalisme, gotong royong, kemandirian. Masing-masingnya memiliki pesan moral yang kuat. Sub-tema tersebut berangkat dari keresahan Dhina dan kawan-kawan. Drama tersebut dimainkan langsung oleh para mahasiswa yang juga disaksikan secara umum. Ujian praktik mahasiswa Prodi PGSD semester empat ini bertujuan membangun karakter anak. “Materi di kelas saja kurang, maka perlu ada penerapan secara langsung,” jelas Arina Restian, S. Pd., M. Pd., sekretaris Prodi PGSD. Baginya, segala hal yang dipelajari harus benar-benar dipraktikkan agar melekat dalam pikiran. (mir/can)

Universitas Malaysia Ini Belajar Pengelolaan Amal Usaha ke UMM

UNIVERSITAS Muhammadiyah Malang (UMM) menerima lawatan Universiti Malaysia Kelantan (UMK), Jum’at (29/3). Diterima langsung Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., UMK membawa tujuh jajaran fungsional universitas. Diantaranya hadir Wakil Rektor bidang Akademik dan Hubungan Internasional, Prof. Dr. Mohd Rafi Bin Yacob. Dalam kedatangannya ke Kampus Putih, UMK ingin belajar pengelolaan perguruan tinggi dan amal usaha milik UMM. Mengingat UMM sudah 55 tahun berdiri dan menjadi kampus mandiri yang terus berupaya mengembangkan berbagai amal usaha. Tujuannya untuk memperkecil biaya operasional yang dibebankan kepada mahasiswa. “Kami ingin belajar upaya-upaya UMM dalam mengembangkan perguruan tinggi yang sudah 55 tahun berdiri ini,” ungkap Rafi. Saat ini, sambungnya, UMK masih berusia 12 tahun dan masih ingin belajar dengan perguruan-perguruan tinggi sukses lainnya. Menurutnya, relasi dengan instansi lain perlu dibangun dengan baik. Amal usaha yang dimiliki diantaranya RS UMM, bengkel motor dan mobil Rinjani , SPBU, UMM Farm, UMM dome, Klinik Surya Medika Sumbawa, Taman Rekreasi Sengkaling UMM, Kapak Garden Hotel dan Race Hotel. Hotel Kapal menjadi salah satu amal usaha terbaru UMM untuk kebutuhan para wisatawan. Disamping itu, UMK juga ingin bekerjasama di bidang kewirausahaan. Terlebih UMM telah membangun iklim kewirausahaan di kalangan mahasiswa. “Kami ingin mempertemukan mahasiswa UMM dengan UMK dalam forum diskusi kewirausahaan. Selain itu kami akan menghadirkan dosen UMM untuk mengajar di UMK,” tutur Rafi. Fauzan merencanakan kerjasama tersebut dalam bentuk proyek inovasi sosial Learning Express (LEx) yang sudah dijalankan sebelumnya bersama Singapore Polytechnic. “Program ini akan berfokus dalam penyelesaian masalah yang digali melalui observasi lapangan dan berorientasi pada terciptanya produk kewirausahaan,” tandasnya. Selain itu, Fauzan menginginkan untuk menindaklanjuti kerjasama dengan UMK dengan menghadirkan Indonesia Corner di UMK dan begitu pula sebaliknya. “Tujuannya untuk penguatan hubungan antar kebudayaan dan berfungsi, tidak hanya untuk universitas saja, melainkan berfungsi untuk masyarakat juga,” pungkasnya. (zak/can)

Aksi Terorisme di New Zealand, Dosen UMM: Islam adalah Jalan Keselamatan

AKSI TEROR yang terjadi beberapa waktu lalu di Christchuch, New Zealand mengganggu harmonisasi keberagaman umat beragama di berbagai belahan dunia. Aksi yang menewaskan lima puluhan orang ini disebut mengatasnamakan supremasi ras kulit putih, serta pembalasan atas tragedi teror yang dilakukan oknum umat Islam. Padahal, berdasarkan hasil survey yang dilakukan Global Peace Index tahun 2017, New Zealand disebut sebagai negara paling aman kedua di dunia. Pemeringkatan ini didasarkan pada penilaian kondisi keamanan, perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), ketertiban lingkungan, serta praktik kriminalitas. Merespon hal ini, Nafik Muthohirin, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerangkan, ada sebuah terminologi yang mengatakan bahwa Islam itu kekerasan. Padahal Islam itu adalah jalan keselamatan. “Jadi tidak mungkin Islam itu mengajarkan kekerasan apalagi terorisme,” katanya. Penyerangan yang dilakukan Brandon Tarrant tentu sangat mengejutkan publik dunia. Aksi ini tidak serta merta membuat masyarakat muslim New Zealand menjadi takut. Tepat sepekan setelah teror, masyarakat berduyun-duyun untuk datang ke masjid, bahkan azan disiarkan secara besar-besaran di beberapa stasiun televisi. “Itu membuktikan bahwa masyarakat di New Zealand memiliki pengetahuan dan toleransi yang tinggi dengan mereka turun kelapangan, memakai hijab, sebagai bentuk empati.  Mereka juga bisa membedakan mana yang terorisme dan mana yang tidak, dan mereka tahu bahwa islam itu adalah agama yang damai,” tuturnya Kamis (27/3). Islam mengajarkan ketenangan, perdamaian, toleransi, dan nilai-nilai universal yang semua agama juga meyakini itu. “Hanya saja banyak pihak-pihak tertentu mempolitisasi atau menjustifikasi dalil agama atau dalil Islam khususnya, untuk kepentingan tertentu,” kata direktur penelitian Pusat Studi Islam dan Multikulturalisme (PUSAM) UMM ini. Hal ini disebabkan Islamofobia yang tengah melanda masyarakat dunia belahan Barat. Islam sendiri telah diajarkan di surat Al-Hujurat ayat 13, bahwa setiap umat bahkan setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, berbangsa-bangsa, bersuku-suku, supaya saling mengenal. Inilah konsep multikulturalisme dalam Islam. Berbagai aksi kekerasan berlatar belakang agama ini, disebut Nafik, paling tidak disebabkan oleh dua faktor dominan. Yakni yang pertama, sambungnya, praktik populisme agama yang hadir di ruang publik, yang dibumbui dengan nada kebencian terhadap pemeluk agama, ras, dan suku tertentu. Sementara yang kedua, beberapa kelompok yang beraliran politik sektarian yang sengaja menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk menjustifikasi kebenaran manuver politik tertentu. “Paham ekstrim ini menggiring masyarakat ke arah konservatisme radikal secara pemikiran,” terang Nafik. Dilanjutkan penulis buku fundamentalisme Islam ini, Islam juga ada begitu banyak mengajarkan kepada kita untuk bertoleransi, seperti menganjurkan supaya umat muslim berlaku adil (al-Maidah: 8-10), peduli terhadap sesama (al-Maun: 1-7), larangan saling bermusuhan (al-Hujurat: 12), serta merajut kebersamaan (al-Hujurat: 10). (riz/can)

Semai Nilai Perdamaian dan Tangguh Bencana Lewat Boardgames

BANYAK cara yang dilakukan untuk mengedukasi masyarakat agar siap menghadapi segala kemungkinan saat terjadi bencana. Seperti yang dilakukan Izza Amalia, mahasiswa Prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menggunakan media boardgames untuk mewujudkan sekolah-sekolah di daerah rentan bencana alam dan sosial, menjadi sekolah yang ceria, damai, dan siaga bencana. Izza, demikian ia akrab disapa, menggunakan media permainan berbasis papan atau meja bermain untuk mengajarkan kebencaan dan perdamaian. Melalui berbagai tema, Izza beserta kesepuluh kawan-kawan seprogramnya di Sekolah Cerdas, inisiasi MDMC, Lazizmu, dan Peace Generation Indonesia, menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Izza ditempatkan di Cianjur, Jawa Barat selama tiga bulan hingga Mei mendatang. “Selain mengajarkan modul materi di Sekolah Cerdas, kami menggunakan boargames. Jadi di sini kami lebih ke bermain dan belajar. Tidak melulu materi. Materi kita sampaikan selingan saja. Kebanyakan kami menggunakan boardgames. Karena memang modul dan boardgames ini lebih relevan atau lebih cocoknya digunakan untuk SD dan SMP,” kata Izza saat diwawancarai Rabu (28/3) via WhatsApp. Boardgames dinilai bisa dijadikan media mitigasi atau penanggulangan bencana. Boardgames dinilai mampu meningkatkan kreativitas anak-anak. Game juga mampu melatih perkembangan motorik anak-anak. Yang paling penting, boardgames dapat meningkatkan respon anak-anak dalam upaya pengurangan resiko bencana. Karena secara teknik, game ini berisikan banyak edukasi seputar kebencanaan. Seperti boardgames “Bencana” yang memuat pelajaran untuk menjaga lingkungan dan keharmonisan alam. Permainan kompetisi dan menjaga harmoni alam antara pulau satu dan lainnya untuk mewujudkan pulau yang aman dari bencana. Selain itu, ada boardgames “Galaxy Obscurio”, di mana para pemain harus menjaga perdamaian melalui penjagaannya dari para virus jahat yang menyerang planet. Sebelumnya Izza telah melalui tahap seleksi ketat yang dilakukan Peace Generations. Dari ratusan pendaftar, Izza terpilih sebagai salah satu relawan yang dikirim ke berbagai wilayah rawan bencana. Seperti di Nusa Tenggara Barat, Maluku, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur. Para calon relawan berbagai latar belakang ini telah mengikuti karantina sebelum benar-benar diterjunkan ke lapangan. Selain bermain dan penyampaian materi, lanjutnya, Ia juga mengadakan simulasi kebencanaan yang pelaksanaannya bekerjasama dengan Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD), Pemadam Kebakaran (Damkar), Palang Merah Indonesia (PMI), Puskesmas, Desa Tangguh Bencana (Destana) dan pihak-pihak terkait. Juga mengajak komunitas-komunitas kebencanaan dan lingkungan di Cianjur. “Kami tidak hanya berhenti di edukasi pra-bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Bukan hanya tentang bencana alam saja, tetapi kami juga akan membicarakan bencana sosial yang akan diberikan materi tentang 12 nilai perdamaian. Diantaranya menerima diri, memahami prasangka, menghormati perbedaan etnis, menghormati perbedaan agama, dan nilai-nilai perdamaian lainnya,” pungkasnya. (bel/can)

Peduli Kesehatan Mental Remaja, Mia Bawa Isu Bullying di Indonesia ke Korea

Miarti Amanah Riesky, mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini baru saja kembali ke tanah air setelah beberapa waktu lalu mengikuti International Conference Asia Pasific Youth Week 2019 yang diadakan di Seoul, Korea. Mengusung tema “Leading the Generation Unlimited to Prepare for 2030”, kegiatan yang diadakan oleh United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat) yang bekerja sama dengan Studec International kali ini diikuti 130 peserta dari 25 negara. Mulai dari negara berkembang seperti India, Kamboja, Indonesia sampai negara maju seperti Inggris, Australia dan Singapura. Berbekal esai berjudul “The importance of Mental Health for Young Generation”, Mia berhasil terpilih untuk berangkat bersama 29 peserta lain dari Indonesia. Dikisahkan Mia, esai ini diangkatnya dari pengalaman pribadi dimana ia pernah mengalami bulliying di lingkungan SMA nya yang berada di ibu kota Jakarta. “Saya ingin menyampaikan kepada dunia, bahwa kondisi remaja di Indonesia sangat rawan bulliying,” tandas Mia (Rabu, 27/3).  Acara yang diselenggarakan selama lima hari empat malam ini membahas tentang berbagai isu yang sedang marak dikalangan milenial seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan juga budaya. Selain itu, program ini juga memberikan pengalaman serta pengetahuan non akademis tentang budaya Korea, diantaranya memakai Hanbok atau pakaian khas korea, upacara pembuatan teh dan juga membuat Kimchi (makanan khas Korea). “Selain itu kami juga berkesempatan mengunjungi stasiun televisi nasional Korea yakni NBC TV  dan belajar seluk beluk media yang ada di negeri tersebut,” tambah Mia. Diakui Mia, keberangkatannya ke Korea bukan tanpa hambatan. Perempuan 20 tahun ini sempat terhalang izin orang tua lantaran harus pergi sendiri tanpa pendampingan. Namun setelah memberikan pengertian, restu sang ibu pun didapatkan. “Saat disana, mama malah yang paling bangga,” ungkapnya. Meski telah sering mengikuti berbagai kegiatan internasional di dalam negeri,  anak kedua dari tiga bersaudara ini merasakan pengalaman yang sangat berbeda saat berada di Korea pada Februari hingga awal Maret lalu. Selain dari  perbedaan cuaca yang sangat drastis, budaya orang Korea juga membuat Mia kagum. “Awalnya saya kaget dengan cuaca, suhu disana mencapai -5 derajat celcius. Selain itu, saya juga takjub dengan budayanya, dari segi pendidikan saja siswa SMP harus menimba ilmu di sekolah selama hampir 14 jam setiap harinya,” tambahnya. Di akhir Mia berpesan kepada mahasiswa lain untuk selalu aktif mencari informasi terkait kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan, termasuk diluar dunia akademis. “Kita sebagai mahasiswa harus aktif mencari informasi diluaran sana untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri, baik di akademis maupun non akademis,” pungkasnya. (zak/sil)

Pendidikan Kebencanaan: Bukan Cuma Harus, Tapi Mendesak!

PENDIDIKAN kebencanaan di Indonesia masih sangat minim digalakkan. Buktinya, nilai kerugian relatif tinggi di setiap kali terjadi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mencatat, selama kurun waktu 2018, telah terjadi 3.466 peristiwa bencana di Indonesia dengan 4.814 orang meninggal dunia. Melihat hal tersebut, Zakarija Achmat, M.Si, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang merupakan pengurus pusat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan hanya harus, tapi mendesak. “Pendidikan kebencanaan di Indonesia bukan lagi bagaimana bersikap pada saat bencana saja. Tapi sudah mengarah pada bagaimana pengurangan risiko bencana,” tutur Zakarija. Seharusnya, lanjutnya, masyarakat perlu terus belajar, terutama mempelajari potensi bencana dan antisipasi di lingkungan sekitar tempat tinggal. Yang paling dasar, lanjutya, kebiasaan memarkir kendaraan. “Masih banyak kita jumpai kesalahan dalam memarkir kendaraan. Arah mermarkir kendaraan harusnya menghadap keluar. Tujuannya, agar ketika terjadi bencana tidak perlu lagi memundurkan kendaraan,” terangnya saat ditemui di ruangannya, Selasa (26/3). Berkaca dari negara Jepang, yang juga sering terjadi bencana, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bencana masih jauh berbeda. “Masyarakat Jepang sudah siap menghadapi bencana. Edukasi tentang konstruksi bangunan hingga penanganan bencana sering dilakukan, baik di sekolah maupun media,” ungkapnya. “Sudah saatnya pusat-pusat studi menggaungkan dan menyiapkan kurikulum pendidikan kebencanaan juga mengadakan workshop berdasarkan kajian-kajian yang sudah dilakukan. Harapannya usaha ini dapat mengurangi resiko dan kerugian yang dapat ditimbulkan dari dampak bencana di Indonesia,” tuturnya. (bel/can)

Empat Warga Jerman Belajar Energi Alternatif ke PLTMH UMM

Empat warga Jerman, Senin (25/3) lalu belajar pemanfaatan energi alternatif ke Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Empat mahasiswa ini tengah mengikuti program internship dari Hochschule Rhein Main, Jerman di PPPPTK BOE-VEDC, Malang. Mereka ingin tahu sumber pembangkit alternatif yang ada di UMM untuk mendukung Proyek Elektrolisis dari Gas Hidro yang menjadi tugas akhir. Mereka hendak melihat konsep Mikro Hidro lalu ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mempelajari konsep turbin yang menjalankan sumber air menjadi listrik. Adalah Maximillian Grimm, Dena Makaremi, Manuel Miezal, Sauhel Chabra dengan dua orang pembimbing dari dari VEDC yaitu Dr. Agung Suprihatin, S.Pd.,M.si dan Dra. Mundiatun, M.si. ”Tugas proyeknya berkaitan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup,” terang Dr. Agung Suprihatin, S.pd.,M.Si ditemui usai kunjungan. “Setidaknya UMM memiliki 2 pembangkit listrik, jadi kita bawa ke PLTMH 1 yang menjadi satu dengan bendungan. Sedangkan PLTMH 2 tidak menjadi satu dengan bendungan, di sana kita menjelaskan bahwa dari sungai kecil yang keruh bisa menghasilkan listrik,” terang operator PLTMH Nanda Ardiansyah. PLTMH-1 UMM memiliki tiga saringan. Saringan pertama bertujuan menyaring kotoran serta sampah-sampah, pada saringan kedua sampah yang masih lolos dari saringan pertama disaring kembali dan airnya bisa di taruh di bendungan dengan ruas satu ruas jari atau sekitar 2 cm. Serta, saringan ketiga, air diproses untuk sumber listrik. Saat ini, daya listrik terbangkit adalah 100 KW pada musim penghujan dan akan menurun sekitar 80 KW pada 2 bulan kemarau. Dengan daya listrik terbangkit sebesar itu sudah bisa menghemat 25-30 % dari kebutuhan kampus serta mampu memenuhi kebutuhan energi listrik untuk sebagian gedung perkuliahan kantor. “Mereka sedang mencari konsep yang bisa digunakan untuk tugas akhir mereka yang berkaitan dengan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Elekrolisis Air Mikro Hidro. Sebagai energi alternatif dengan penghematan seperti itu sudah sangat bagus. Mereka sangat antusias belajar di sini,“ pungkas Nanda. (riz/can)