Kebijakan Sapu Bersih Vape Ancam Pekerja Hulu-Hilir, Ini Peringatan Keras Pakar UMM

Wacana pemerintah untuk melarang peredaran rokok elektrik atau vape kini menuai polemik yang tajam. Di satu sisi, langkah represif ini diklaim otoritas kesehatan sebagai tameng pelindung masyarakat, terutama untuk membendung tren penggunaan di kalangan remaja. Namun, kebijakan sapu bersih ini justru memicu sebuah pertanyaan fundamental: apakah pelarangan mutlak ini benar-benar akan menjadi solusi final, atau sekadar bom waktu yang memindahkan krisis ke ruang gelap tak teregulasi sekaligus mematikan urat nadi perekonomian rakyat kecil? Wacana pengetatan produk tembakau alternatif ini sejatinya didorong kekhawatiran atas minimnya payung hukum dan dampak kesehatan. Sayangnya, rencana tersebut dinilai masih terlalu prematur. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. R. Iqbal Robbie, M.M., membedah isu kontroversial ini secara kritis dari kacamata ekonomi. Ia memperingatkan, kebijakan pelarangan tidak bisa dieksekusi dengan kacamata kuda, sebab ada ancaman konsekuensi finansial masif yang mengintai. Target pertama yang akan hancur lebur adalah pelaku usaha ritel yang napas operasionalnya bergantung penuh pada perputaran omzet harian. Ia menjelaskan bahwa tanpa masa transisi dan peta jalan regulasi pemerintah yang jelas, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak akan memiliki ruang untuk beradaptasi secara strategis. “Dampaknya bukan lagi sekadar grafik penjualan yang menukik, melainkan berpotensi memicu hilangnya sumber penghidupan pelaku usaha kecil yang selama ini menggantungkan hidupnya di sektor vape,” tegasnya 17 April lalu pada tim Humas UMM. Lebih jauh, pakar manajemen ini menyoroti ancaman efek domino yang tampaknya luput dari kalkulasi otoritas. Tekanan pelarangan ini bukan cuma menghantam etalase toko ritel di hilir, melainkan bakal meluluhlantakkan seluruh ekosistem rantai pasok industri di hulu. Mulai dari pekerja peracik cairan (liquid), hingga produsen perangkat alat hisap (device), semuanya akan merasakan guncangan struktural yang sama. “Sistem industri ini hidup layaknya sebuah mesin. Ketika satu roda gigi dipaksa berhenti berputar, maka komponen lain dalam rantai tersebut akan ikut rontok. Industri ini memiliki jaring keterhubungan yang kuat, sehingga daya rusak dari pelarangan ini pasti meluas tak terkendali,” paparnya. Masalah lain yang tak kalah pelik adalah asimetri informasi. Iqbal menilai, selama ini publik dijejali narasi ketakutan yang cenderung satu arah. Minimnya edukasi komprehensif membuat vape selalu diposisikan sebagai musuh tunggal tanpa melihat aspek pengurangan bahayanya. “Masyarakat sangat perlu mendapatkan penjelasan yang lebih utuh dan objektif, bukan sekadar pelarangan buta, agar tidak terbentuk persepsi keliru di ruang publik,” urainya. Dari perspektif bisnis, larangan mutlak justru memicu anomali pasar. Para pelaku usaha secara naluriah akan mencari celah (loopholes) demi bertahan hidup, termasuk bermanuver mengalihkan inovasi ke produk-produk modifikasi yang belum tersentuh radar regulasi. Pada akhirnya, sebuah kebijakan publik tidak seharusnya mengambil keputusan krusial secara sepihak dan arogan. “Apapun format kebijakannya, ruang dialog lintas sektoral untuk membicarakan hal ini adalah syarat mutlak. Dengan perumusan bersama, solusi yang dilahirkan tidak akan berpihak pada satu kubu saja, melainkan mampu mengakomodasi berbagai kepentingan yang lebih luas,” tutupnya.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Buka Jalur Influencer, Konten Kreator Bisa Jadi Mahasiswa Baru Tanpa Tes

Halojember – Dunia pendidikan tinggi terus mengikuti perkembangan zaman. Kini, bukan hanya nilai ujian yang jadi tiket masuk kampus, tetapi juga jejak digital di media sosial. Langkah itu terlihat dari kebijakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang resmi membuka jalur influencer untuk penerimaan mahasiswa baru tahun 2026. Program ini memberi kesempatan bagi konten kreator untuk kuliah tanpa tes tulis konvensional. Pendaftaran jalur ini sudah dibuka sejak 1 April dan akan berlangsung hingga 25 Juni 2026. Kebijakan tersebut menjadi salah satu terobosan kampus dalam merespons perkembangan pesat dunia digital. Namun, di balik kemudahan tanpa tes, ada standar yang tetap dijaga. Kampus tidak hanya melihat angka pengikut, tetapi juga kualitas konten yang dibuat calon mahasiswa. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menegaskan, perubahan ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi,” jelasnya. Ia melihat para kreator digital sebagai representasi generasi masa kini yang memiliki pengaruh besar di ruang publik. Karena itu, kampus hadir untuk mengarahkan potensi tersebut agar lebih terarah. “Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar,” tegasnya. Dengan kebijakan ini, jalur menuju pendidikan tinggi kini semakin terbuka lebar, termasuk bagi mereka yang tumbuh dan berkembang dari dunia digital.*
Perkuat Toleransi di Era Gen-Z, Mahasiswa PGSD UMM Bedah Strategi MODESTA di Ruang Kelas Digital

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah tamu tematik MODESTA di Ruang Kelas Digital: Penguatan Moderasi Beragama melalui Literasi Digital pada Pembelajaran SD, Rabu (15/4) 2026. Tema ini bertujuan menjawab tantangan gempuran informasi digital sehingga penguatan nilai moderasi beragama menjadi krusial bagi calon pendidik sekolah dasar. Hal ini sesuai dengan opening pemateri pertama Dosen Pendidikan Agama Islan (PAI) UMM, Fakhrudin Mukhlis, M.Irkh, yang membahas konsep filosofis moderasi beragama yang harus adaptif dengan perkembangan teknologi. Bahwa guru masa kini harus mampu menjadi filter di tengah riuhnya konten digital. Mahasiswa PGSD UMM ketika menyimak materi bahasan Dosen PAI UMM, Fakhrudin Mukhlis, M.Irkh, membahas konsep filosofis moderasi beragama yang harus adaptif dengan perkembangan teknologi. “Moderasi beragama (wasathiyah) merupakan sikap beragama yang berada di tengah, seimbang, dan tidak ekstrem, dengan menilai keadilan, toleransi, serta keseimbangan antara dunia dan akhirat maupun akal dan wahyu. Di era digital, moderasi beragama menjadi sangat penting untuk menangkal hoaks, ujaran kebencian, dan paham radikalisme. Oleh karena itu, generasi digital dituntut untuk bijak dalam bermedia, mampu menyaring informasi, serta menjaga etika dalam berkomunikasi,” ujar Fakhrudin. Berikutnya, Dosen PGSD Universitas Ahmad Dahlan, Muhammad Ragil K, M.Pd, memberikan perspektif praktis implementasi literasi digital. Bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai, melainkan kemampuan berpikir kritis dalam menerima informasi. Dalam sesi simulasi, mahasiswa diajak merancang media pembelajaran kreatif yang mengandung unsur MODESTA (Moderasi Beragama Berbasis Literasi Digital). Strategi ini diharapkan dapat mencegah penyebaran paham radikalisme atau intoleransi sejak usia dini melalui pendekatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Literasi digital dalam moderasi Islam menekankan pentingnya kecakapan digital yang diimbangi integritas moral agar mampu menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat. Di era revolusi terdapat kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kesiapan kompetensi manusia. Dosen PGSD Universitas Ahmad Dahlan, Muhammad Ragil K, M.Pd, memberikan perspektif praktis implementasi literasi digital. Sehingga diperlukan kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan pembelajaran sepanjang hayat. Perubahan karakter generasi digital yang cenderung serba instan menuntut penguatan karakter serta pemanfaatan teknologi secara bijak. Sebagai tambahan, menarik saat kuliah tamu kali ini sebab berbeda dengan acara kuliah tamu sebelumnya, peserta diminta mengisi google form (pre Test) terlebih dahulu bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta kuliah tamu dapat memahami tentang tema yang dibawakan pemateri. Sebab fokus utama kegiatan ini adalah membekali para calon guru agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan keberagaman ke dalam kurikulum sekolah dasar melalui platform digital. Foto bersama antara unsur dosen PGSD UMM, pemateri, serta peserta kuliah tamu MODESTA di Ruang Kelas Digital: Penguatan Moderasi Beragama melalui Literasi Digital pada Pembelajaran SD. Antusiasme peserta tampak ketika sesi tanya jawab tentang tantangan menghadapi konten negatif di media sosial yang sering diakses oleh siswa SD. Dengan terselenggaranya kuliah tamu ini, diharapkan lulusan PGSD kedepan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi agen perdamaian yang moderat di dunia pendidikan. Opening kuliah tamu ceremony lagu kebangsaan, mars muhammadiyah, serta doa. Hiburan musikalisasi puisi dan foto bersama peserta, unsur dosen, dan nara sumber. Sementara closingnya aksi menyanyi kolaborasi mahasiswa PGSD angkatan 2023 dan 2025. (humas pgsd umm/najwa andiena putri)
Mesin Pengering Mie Otomatis Karya Mahasiswa UMM, Bisa Pangkas Biaya Produksi dan Waktu Produksi

Cuaca yang tak menentu dan tingginya biaya operasional oven listrik seringkali menjadi hambatan utama bagi produktivitas UMKM, khususnya produsen mie kering. Merespons kebutuhan mendesak masyarakat ini, tim mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer. Ini adalah solusi mesin pengering canggih, ekonomis, dan praktis yang dirancang khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi UMKM secara masif. Ketua tim, Hanum Salsabila Djirimu, memaparkan bahwa karya ini lahir dari empati dan observasi langsung. Bersama tim solidnya yakni Berlinda Amalia Diami, Aisyah Leilani Salsabillah, Nadhea Aurelie Salsabila, dan Frisca Shannon Alexandra. Mereka blusukan memantau pelaku UMKM mie kering. “Kami melihat mereka masih kewalahan menggunakan oven listrik berkapasitas kecil, di mana waktu pengeringannya bisa menyita waktu lebih dari tiga jam. Dari keresahan itulah, kami bertekad merancang jalan keluar yang lebih efisien,” papar Hanum. Berbeda dengan metode konvensional, alat ini cerdas memadukan sumber panas gas dengan sistem sirkulasi udara mutakhir. Blower di dalamnya memastikan panas tidak hanya mengendap di bawah, tetapi menyebar merata ke seluruh sudut ruang pengering. Lebih canggih lagi, mesin ini dibekali sensor pintar penstabil suhu dan timer otomatis. “Kalau suhu melebihi batas, sistem akan otomatis menyesuaikan. Hasil pengeringan pun jauh lebih konsisten dan pelaku usaha tidak perlu lagi pusing memikirkan cuaca buruk,” tambahnya. Aspek ekonomi juga dipikirkan matang-matang. Tim menyimpulkan bahan bakar gas jauh lebih ramah kantong bagi UMKM ketimbang listrik atau panel surya yang menuntut modal awal fantastis. Prototipe yang menghabiskan dana produksi sekitar tiga juta rupiah ini terbukti ampuh memangkas biaya operasional, menjadikannya investasi yang sangat realistis bagi usaha kecil. Terobosan ini kembali menegaskan komitmen Kampus Putih UMM yang terus mendorong mahasiswanya untuk peka dan hadir memberikan solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Kuncinya hanya berani mencoba dan peka terhadap masalah di sekitar kita. Dari sanalah, inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas bisa lahir,” pungkas Hanum memberikan pesan inspiratif. Keberhasilan tim ini tentu tidak lepas dari tangan dingin sang dosen pembimbing, Adhi Nugraha S.T., M.BA. Ia mengaku sangat bangga melihat anak didiknya mampu menerjemahkan teori-teori keteknikan di ruang kelas menjadi sebuah mesin tepat guna yang langsung menyelesaikan persoalan riil di masyarakat. Menurutnya, analisis tajam yang dilakukan oleh tim membuktikan kematangan mahasiswa dalam melihat masalah, tidak hanya dari segi teknis mesin, tetapi juga dari kacamata keberlangsungan bisnis UMKM. “Saya sangat mengapresiasi kepekaan sosial dan kerja keras tim ini. Mereka tidak sekadar mengejar gengsi dalam berinovasi, tapi juga memikirkan aspek keekonomian agar alat ini benar-benar realistis, bisa dijangkau, dan langsung diaplikasikan oleh pelaku usaha kecil. Inilah esensi sebenarnya dari pendidikan teknik kita, yakni hadir membawa solusi praktis yang mendorong ekonomi warga,” tegasnya. Pada akhirnya, lahirnya inovasi Gas Heated Air Circulation Dryer ini menjadi bukti nyata kontribusi nyata civitas akademika UMM dalam mendukung kemandirian sektor UMKM. Harapannya, mesin pengering ramah kantong ini tidak hanya berhenti pada etalase pameran atau tahap prototipe, melainkan dapat segera diproduksi massal dan menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kecil di seluruh penjuru negeri untuk terus berkembang dan naik kelas.(*alg/faq) Penulis: Musthofa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Mahasiswa UMM Tembus Riset Semikonduktor Taiwan, Kembangkan Teknologi Prediksi Cacat Produksi

INDOZONE.ID – Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil menembus ketatnya persaingan industri teknologi dunia. Melalui program magang internasional bertajuk Formosa Talent Internship Program di National Formosa University (NFU) Taiwan, Adrian mengambil peran penting dalam pengembangan teknologi masa depan. Sejak mulai menetap di Taiwan pada Februari 2026, ia bergabung dengan Lean Management Laboratory, sebuah laboratorium yang berfokus pada efisiensi industri berbasis data. Prioritas utama risetnya adalah merancang algoritma pembelajaran mesin (machine learning) yang mampu memprediksi kerusakan atau cacat pada proses produksi semikonduktor. Hal ini sangat berpengaruh, karena dalam industri semikonduktor, kesalahan sekecil apa pun tidak diperbolehkan dan dapat menyebabkan kerugian besar. Dengan memprediksi cacat produksi lebih awal, penggunaan bahan baku yang bernilai tinggi dapat dioptimalkan, sehingga meningkatkan efisiensi perusahaan secara signifikan. Adrian mengungkapkan bahwa belajar di Taiwan memberikan perspektif baru yang sangat luas baginya. Ia tidak hanya belajar mengenai teknik manufaktur, tetapi juga bagaimana riset industri sangat dipengaruhi oleh isu-isu global, seperti kebijakan ekonomi internasional dan kondisi politik dunia. Lingkungan akademis di NFU sangat menekankan penggunaan data yang akurat dalam setiap pengambilan keputusan industri. “Integrasi internasional di sini sangat terasa. Semua topik diarahkan ke tingkat global, dan itu yang menurut saya masih jarang saya temui sebelumnya,” ungkapnya. Tentu saja, perjalanannya tidak selalu mulus. Adrian harus beradaptasi dengan budaya penelitian yang sangat disiplin dan standar akademik yang jauh lebih tinggi. Ia dituntut untuk memiliki pola pikir ilmiah yang kuat serta ketelitian ekstra dalam setiap langkah risetnya. Namun, tantangan tersebut berhasil ia lalui berkat dukungan penuh dari kampus asalnya, UMM. Pihak universitas juga memberikan kemudahan administrasi, terutama dalam hal penyetaraan nilai atau konversi SKS, sehingga ia bisa fokus sepenuhnya pada program di Taiwan tanpa kendala akademik di tanah air. Berkat dedikasi dan kerja kerasnya, Adrian kini mendapatkan peluang emas untuk melanjutkan pendidikan magister melalui jalur cepat (fast track) di NFU Taiwan. Program ini memungkinkannya untuk meraih gelar master dalam waktu singkat, sekaligus menjadi modal kuat untuk bersaing di pasar kerja internasional. “Kalau ingin merasakan dunia kerja global, program seperti ini sangat layak untuk dicoba. Pengalamannya benar-benar berbeda dan membuka banyak peluang,” ujarnya. Keberhasilan Adrian menjadi bukti bahwa UMM mampu mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap terjun ke dalam ekosistem industri canggih di tingkat dunia.
Dicintai Allah Ta’ala: Jalan Sederhana Meraihnya

Oleh : Dr. Ajang KusmanaDosen AIK Universitas Muhammadiyah Malang pwmu – Di antara sifat fi’liyyah (sifat yang berkaitan dengan perbuatan) Allah Azza wa Jalla adalah mencintai. Sifat ini telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena itu, kita wajib mengimani sifat ini tanpa mentakwilkan atau mengubah maknanya, sebab hal tersebut termasuk penyimpangan. Salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Mahabbah (cinta), yaitu Allah mencintai hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan siapa saja yang dicintai oleh Allah. Banyak orang ingin dicintai Allah dan juga dicintai manusia. Namun, tahukah kita bahwa ada amalan sederhana yang dapat mengantarkan pada keduanya? Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ؟ فَقَالَ: «اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ “Ada seseorang datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.’ Beliau menjawab, ‘Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu’.” (HR Ibnu Majah: 4102) Hadis ini menunjukkan bahwa kunci dicintai Allah dan manusia adalah zuhud. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Orang yang zuhud akan lebih yakin dengan balasan di sisi Allah daripada apa yang ada di dunia. Ia tidak takut miskin ketika bersedekah, dan tidak berputus asa saat tertimpa musibah. Sebaliknya, ia berharap pahala dan ridha Allah sebagai tujuan utama hidupnya. Penetapan sifat cinta Allah juga dijelaskan dalam berbagai hadis, di antaranya: عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ :لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada perang Khaibar: “Aku akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang Allah memberikan kemenangan melalui tangannya. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya.” (HR. Bukhari no. 2942; Muslim no. 6376) Hadis ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul menjadi sebab mendapatkan cinta dari Allah. Dalam hadis lain disebutkan: عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup (kaya hati), dan tersembunyi (tidak mencari popularitas).” (HR. Muslim no. 2965) Hadis ini menegaskan bahwa hamba yang dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa, tidak bergantung pada dunia, dan tidak mencari pujian manusia. Jika ingin dicintai Allah dan manusia, maka latihlah hati untuk tidak bergantung pada dunia. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama. Karena sejatinya, ketenangan dan kemuliaan hidup hanya dapat diraih ketika seseorang lebih dekat kepada Allah.
Dosen UMM Ciptakan Aplikasi Medis Berbasis AI, Deteksi Anemia Kini Cukup Pakai Kamera HP

KLIKMU.CO – Di era serbadigital, urusan cek kesehatan pun makin praktis dan berada di ujung jari. Menepis ketakutan banyak orang terhadap jarum suntik, dosen vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Ir Lailis Syafa’ah MT sukses menciptakan aplikasi deteksi anemia mandiri. Hanya bermodal kamera smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membaca citra mata, tes hemoglobin kini bisa dilakukan kapan saja dari rumah. Terobosan teknologi medis ini tidak digarap secara individual. Lailis menggandeng tim dosen dan mahasiswa Vokasi UMM lintas disiplin, termasuk La Febry Andira Rose Cynthia ST MT dan Zulfatman PhD. Lewat kolaborasi ini, mereka berupaya menghadirkan layanan deteksi dini kesehatan yang inklusif, praktis, dan mendobrak ketergantungan pada fasilitas klinis konvensional. “Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena malas harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani prosedur ambil darah yang tidak nyaman. Padahal, deteksi dini itu krusial untuk mencegah kondisi yang lebih serius. Saya ingin membuat solusi praktis agar masyarakat bisa lebih sadar dan rutin mengecek kesehatannya secara mandiri,” kata Lailis, Selasa (14/4/2026). Perempuan yang juga menjabat dekan vokasi tersebut menjelaskan bahwa secara teknis aplikasi ini bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva (selaput lendir) mata sebagai indikator visual. Foto mata yang diambil melalui kamera ponsel akan langsung diproses oleh AI yang telah dilatih dengan basis data khusus. Sistem membaca pola kecerahan dan karakteristik warna mata yang berkorelasi dengan kadar hemoglobin (Hb), lalu mengklasifikasikannya menjadi estimasi nilai. Mekanisme ini menggeser praktik uji laboratorium menjadi cukup melalui sentuhan jari di layar perangkat pribadi. “Yang kami kembangkan bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah sistem canggih yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi kesehatan medis. Proses ini membutuhkan pemodelan yang sangat presisi agar hasilnya tetap akurat ketika digunakan oleh berbagai pengguna dengan kondisi berbeda,” jelasnya. Gagasan ini bukan proyek instan. Risetnya bermula dari studi doktoral Lailis di bidang kedokteran yang berfokus pada pemodelan kesehatan melalui variabel citra. Dalam pengembangannya, sistem ini terus “belajar” menghubungkan kondisi mata dengan kadar hemoglobin. Hingga kini, tingkat akurasi aplikasi telah menyentuh kisaran 80 persen, sebuah indikator menjanjikan untuk riset yang masih dalam tahap pengembangan lanjutan. “Karena riset ini bertumpu pada machine learning, maka semakin banyak dan beragam datanya, hasil analisisnya akan semakin tajam. Saat ini sistemnya terus kami sempurnakan agar klasifikasinya makin presisi untuk penggunaan massal,” ungkapnya. Ke depan, Lailis memproyeksikan aplikasi ini menjadi alat deteksi mandiri harian bagi masyarakat luas. Secara spesifik, pengembangannya juga difokuskan untuk membantu kelompok rentan yang membutuhkan pemantauan hemoglobin rutin tanpa rasa sakit, seperti ibu hamil. “Harapannya, teknologi seperti ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Deteksi dini tidak harus selalu menunggu antrean di rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari kesadaran individu dari rumah masing-masing untuk memantau kondisi tubuhnya,” tuturnya optimistis. (Faqih/AS)
Hebat! Kampus UMM Raih Kemitraan UNESCO demi Jaga Kelestarian Air Dunia lewat Inovasi Cerdas

Portalbontang.com, Malang – Komitmen nyata dalam menjaga ekosistem lingkungan hidup kembali membawa institusi pendidikan tanah air ke panggung dunia. Prestasi membanggakan ini diraih melalui dedikasi panjang dalam melakukan riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak luas. Kampus UMM secara resmi ditetapkan sebagai mitra global untuk menjalankan program ekosistem air yang berkelanjutan. Pencapaian ini mengukuhkan posisi institusi sebagai pemegang status Kemitraan UNESCO yang hanya dimiliki tiga kampus di Indonesia. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari inovasi yang terus dikembangkan. Salah satu fokus utama dalam misi Kelestarian Air Dunia ini adalah penyelamatan sistem irigasi tradisional di kawasan Bali. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Inovasi pertanian cerdas tersebut terbukti mampu mengembalikan kesehatan tanah yang sebelumnya rusak akibat penggunaan pestisida kimia. Langkah ini secara otomatis mencegah alih fungsi lahan sawah menjadi kawasan vila yang mengancam ketersediaan air bersih. Selain di Bali, pengerahan puluhan akademisi ke wilayah NTT juga dilakukan untuk memetakan titik sumber air baru bagi warga. Penerapan teknologi desalinasi bertenaga surya menjadi proyek lanjutan guna menjamin pasokan air bersih di wilayah timur tersebut. Di sektor energi, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro menjadi bukti nyata kapasitas kampus sebagai eksekutor solusi. Aliran Sungai Brantas berhasil diolah menjadi sumber listrik ramah lingkungan melalui fasilitas PLTMH yang dibangun secara mandiri. Pengakuan internasional ini diharapkan menjadi pemacu semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus konsisten menjaga lingkungan. ***
UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes untuk Influencer dan Konten Kreator, Syaratnya Cuma Satu?

fin.co.id – Kabar menarik datang dari dunia pendidikan tinggi Indonesia. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka jalur pendaftaran mahasiswa baru tanpa tes khusus bagi influencer dan konten kreator. Program ini menjadi salah satu inovasi kampus dalam merespons perkembangan era digital yang semakin pesat. Pendaftaran jalur khusus ini telah dibuka sejak 1 April 2026 dan akan berlangsung hingga 25 Juni 2026. Dengan adanya jalur ini, para kreator digital memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus mengikuti seleksi tes akademik konvensional. Syarat Utama Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan bahwa syarat pendaftaran jalur ini sangat relevan dengan keseharian generasi muda saat ini. Calon mahasiswa cukup menunjukkan eksistensi mereka di media sosial dengan jumlah pengikut tertentu. Adapun syarat minimalnya adalah: 5.000 subscriber di YouTube atau 10.000 followers di Instagram atau 10.000 followers di TikTok Namun demikian, jumlah pengikut yang tinggi bukan satu-satunya faktor penilaian. Menurut Ahmad Juanda, pihak kampus tetap menerapkan filter ketat terhadap kualitas konten yang diproduksi calon mahasiswa. UMM menegaskan bahwa jalur ini tidak sekadar mencari popularitas di media sosial. Kampus tetap menilai substansi dan kualitas konten yang dihasilkan oleh calon mahasiswa. Konten yang diproduksi harus: kreatif edukatif memberikan energi positif bagi masyarakat Hal ini menjadi bagian dari komitmen kampus untuk tetap menjaga nilai akademik dan etika digital. “UMM tetap memasang filter ketat. Konten yang diproduksi wajib kreatif, edukatif, dan menularkan energi positif,” ujar Ahmad Juanda Menurut Ahmad Juanda, program ini merupakan bentuk adaptasi dunia pendidikan terhadap perkembangan zaman, khususnya dalam menghadapi literasi digital generasi Z. Ia menilai institusi pendidikan tidak boleh menutup mata terhadap munculnya profesi-profesi baru yang lahir dari perkembangan teknologi dan media sosial. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi,” jelasnya. Ia juga menilai para konten kreator memiliki peran penting dalam memengaruhi generasi mereka. Dalam pandangannya, influencer dan kreator digital dapat menjadi public relations bagi generasi mereka sendiri. Mereka memiliki panggung, algoritma, serta pengaruh besar di media sosial yang mampu menjangkau jutaan orang. Melalui jalur khusus ini, UMM ingin mengarahkan potensi tersebut agar tidak hanya berhenti pada popularitas semata. “Para konten kreator ini punya panggung dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral,” katanya. Selain membuka peluang bagi para influencer, program ini juga menjadi strategi UMM untuk mencetak lulusan yang tidak hanya kreatif secara digital tetapi juga memiliki integritas akademik. Menurut Ahmad Juanda, kampus ingin membekali para kreator digital dengan dasar pendidikan yang kuat agar mereka mampu memberi dampak yang lebih luas bagi masyarakat. “Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional,” ujarnya. Dengan begitu, para kreator digital dapat berkembang menjadi figur yang tidak hanya populer, tetapi juga berkontribusi positif bagi publik. Hadirnya jalur influencer ini diharapkan dapat menarik lebih banyak talenta muda dari dunia digital untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga memperkuat posisi UMM sebagai kampus yang mampu membaca perubahan zaman. Menurut Ahmad Juanda, kampus harus proaktif menghadapi perkembangan teknologi dan pola karier generasi muda. Dengan pendekatan ini, karya kreatif di dunia maya tidak lagi sekadar menjadi hiburan atau tren sesaat. “Kini saatnya mengubah karya kreatif di dunia maya menjadi tiket menuju masa depan yang cerah,” pungkasnya. (*)
UMM Sasar Kreator Digital, Buka Jalur Masuk Tanpa Tes Tulis

www.majelistabligh.id – Universitas Muhammadiyah Malang membuka jalur penerimaan mahasiswa baru khusus influencer dan konten kreator mulai 1 April hingga 25 Juni 2026. Lewat jalur ini, calon mahasiswa bisa mendaftar tanpa ujian tulis, cukup dengan modal jumlah pengikut dan portofolio digital. Syaratnya, pendaftar harus memiliki minimal 5.000 subscriber di YouTube atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun, UMM tetap menekankan kualitas konten—harus kreatif, edukatif, dan berdampak positif—sebagai syarat utama, bukan sekadar popularitas. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk adaptasi kampus terhadap perkembangan literasi digital generasi Z. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan fondasi akademik yang matang dan berintegritas,” tegasnya. Ia menambahkan, program ini menjadi langkah strategis untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga beretika. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Melalui jalur ini, UMM berharap dapat menjaring talenta digital potensial sekaligus memperkuat posisinya sebagai kampus yang adaptif terhadap perkembangan zaman. (*/tim)