Dipercaya UNESCO, UMM Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

Sketsamalang.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen “Kampus Berdampak” ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. PLTMH UMM di Sumber Maroon Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Langkah strategis kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkasnya.(*)

Mendunia! UMM Jadi Mitra Resmi UNESCO Urus Kelestarian Air, Garap Subak Bali hingga NTT

MALANG, SurabayaPost.id – Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendunia. Kampus Putih resmi ditunjuk UNESCO sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem tahun 2026. Dengan status ini, UMM masuk jajaran elit: satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya UNESCO mengawal isu kelestarian air global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menyebut capaian ini bukan kebetulan. “Ini buah dedikasi panjang riset dan pengabdian. Visi UMM untuk berdampak di level internasional membuat kami terus berinovasi sampai akhirnya diakui UNESCO,” tegasnya, Minggu (13/4/2026). Status mitra resmi UNESCO membawa tiga mandat besar bagi UMM. Garap Subak Bali, Selamatkan Resapan Air Kegiatan Pengembangan dan Pemeliharaan Subak Bali oleh UMM Misi pertama adalah menyelamatkan sistem irigasi Subak di Tabanan, Bali yang sempat krisis. Penggunaan pestisida kimia berlebihan membuat tanah mengeras dan kesuburan merosot drastis. Banyak petani akhirnya alih fungsi sawah jadi vila. Akibatnya, daerah resapan air hilang. UMM turun tangan dengan green farming dan smart farming. Hasilnya, kesehatan tanah pulih dan efisiensi panen naik. Petani pun kembali bertahan di sawah. “Kita tidak merawat airnya langsung, tapi lewat smart farming dan energi terbarukan, kita otomatis menyelamatkan daerah resapan. Dari sanalah, 2024 lalu UMM dapat penghargaan UNESCO atas konservasi Subak,” terang Salis. 52 Akademisi Diterjunkan ke NTT Misi kedua menyasar Indonesia Timur. UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Tugasnya tiga: memetakan titik sumber air baru, membangun ketahanan pangan, dan menekan stunting. Sebagai kelanjutan, UMM kini menyiapkan teknologi desalinasi bertenaga surya. Harapannya, warga NTT bisa dapat pasokan air bersih tanpa tergantung musim. Sulap Brantas Jadi Listrik, Hidupkan Ekowisata Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro milik UMM Misi ketiga adalah pembuktian di sektor energi terbarukan. Lewat PLTMH 1 dan 2 di kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, UMM menyulap aliran Sungai Brantas jadi listrik ramah lingkungan. UMM juga ekspansi membantu PLTMH di daerah lain, termasuk menghidupkan ekowisata Sumber Maron dan Boonpring Turen, Kabupaten Malang. Salis menegaskan, status UNESCO Chair adalah amanah, bukan piala untuk dipajang. “Visi ini sejalan dengan Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Kita berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan. Anak cucu kita butuh lingkungan yang sustain, termasuk airnya,” pungkasnya. Dengan status baru ini, UMM berkomitmen jadi motor kolaborasi riset dan aksi lapangan. Dari Malang, untuk kelestarian air dunia. (lil).

Dari Malang untuk Indonesia: FEB UMM Tawarkan Solusi Atasi Ketimpangan Ekonomi

Melalui kolokium doktoral, enam akademisi FEB UMM menghadirkan rekomendasi strategis berbasis potensi lokal, integrasi nilai spiritual, serta penguatan sumber daya manusia guna mendorong pemerataan pembangunan ekonomi berkelanjutan nasional. Tagar.co – Di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global, kebutuhan akan strategi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) menggelar Colloquium Post Doctoral bertajuk “Risalah Ekonomi dan Bisnis Berkemajuan: Integrasi Business Sustainability dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan.” Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 14 April 2026, di Aula GKB 4 UMM ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan serta mendiseminasikan hasil riset para dosen yang baru menyelesaikan studi doktoral. Kolokium ini sekaligus memetakan kepakaran akademik dan memperkuat kontribusi keilmuan FEB UMM dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi yang inklusif. Sebanyak enam dosen mempresentasikan disertasi mereka, yakni M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D.; Dr. Ida Nuraini, M.Si.; Yeyen Pratika, MBA., Ph.D.; Dr. Sri Wahjuni L., M.M., Ak., CA.; Fika Fitriasari, M.M., Ph.D.; dan Novita Ratna Satiti, M.M., Ph.D. Forum ini juga bertujuan memastikan bahwa temuan disertasi tidak berhenti pada ranah akademik, tetapi dapat diaplikasikan secara luas oleh pemangku kebijakan dan masyarakat. Baca Juga:  Prof. Chun-Yen Chang: AI Bisa Gerus Daya Pikir Kritis, Guru Tetap Kunci Pendidikan Pendekatan Spiritual dalam Mengukur Kesejahteraan Dalam presentasinya, M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D. menyoroti persoalan kemiskinan dan ketimpangan global. Ia menilai bahwa indikator kesejahteraan yang digunakan lembaga internasional seperti World Bank dan UNDP masih terlalu materialistik serta belum mengakomodasi dimensi moral dan spiritual. Melalui perspektif ekonomi Islam, ia menawarkan pendekatan holistik dengan mengukur kesejahteraan berdasarkan penjagaan terhadap lima dimensi utama (maqashid syariah), yakni agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. “Selama ini kesejahteraan sering diukur dari angka ekonomi semata. Kita memerlukan indikator yang lebih utuh. Integrasi nilai spiritual menjadi kunci agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat manusia,” tegasnya. Mengatasi Ketimpangan Wilayah Berbasis Potensi Lokal Sementara itu, Dr. Ida Nuraini, M.Si. mengangkat isu ketimpangan ekonomi antarwilayah, khususnya kesenjangan antara kawasan barat dan timur Indonesia. Ia mengkritik kebijakan pembangunan daerah yang cenderung seragam atau copy-paste, tanpa mempertimbangkan potensi dan karakteristik lokal. “Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Perencanaan pembangunan harus berbasis data serta kebutuhan nyata masyarakat lokal,” ungkapnya. Baca Juga:  UMM Salurkan THR Rp314,6 Juta untuk 525 Guru dan Karyawan AUA di Malang Sebagai solusi, Ida mengusulkan pendekatan berbasis ekologi wilayah yang dipadukan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia guna mendorong pemerataan pembangunan. Dorongan Akselerasi Kepakaran dan Kolaborasi Global Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa kolokium ini merupakan agenda strategis untuk pengembangan institusi sekaligus identifikasi kepakaran dosen. Ia juga mendorong para doktor baru untuk segera mengakselerasi kenaikan jabatan akademik menuju guru besar. “FEB memiliki potensi besar untuk melahirkan banyak guru besar. Momentum ini perlu diiringi dengan inovasi seperti program mikrokredensial dan kolaborasi internasional guna meningkatkan daya saing institusi,” ujarnya. Refleksi Arah Pembangunan Ekonomi Indonesia Secara keseluruhan, Colloquium Post Doctoral FEB UMM menjadi refleksi kritis terhadap arah pembangunan ekonomi Indonesia. Integrasi aspek ekonomi, sosial, dan spiritual yang diusung para akademisi diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan ekosistem ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui forum ini, FEB UMM menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan ilmu ekonomi dan bisnis yang berkemajuan serta relevan dengan tantangan global. (#)

Program Terpadu UMM, Lulus S1-S2 Cuma 5 Tahun Biaya Terjangkau Hingga Gratis

Raih dua gelar sekaligus dalam lima tahun bukan lagi sekadar impian. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendobrak tradisi akademik dengan meluncurkan Program Pendidikan S1-S2 Terpadu 10 Semester. Terobosan ini menjadi jawaban atas kebutuhan efisiensi waktu dan biaya bagi mahasiswa yang ingin menuntaskan jenjang sarjana hingga magister secara maraton tanpa jeda. Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran UMM, Zulfatman, Ph.D., menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mempermudah transisi akademik mahasiswa sekaligus memangkas birokrasi dan biaya pendidikan. “Kita ingin membuka peluang selebar-lebarnya kepada alumni UMM untuk melanjutkan studi di kampusnya sendiri. Dengan begitu, adaptasinya lebih mudah, keberlanjutan riset dan publikasinya terjamin, dan yang terpenting pembiayaannya jauh lebih terjangkau dibandingkan jalur reguler,” ungkapnya. Salah satu keunggulan paling menarik dari skema ini adalah fasilitas perkuliahan transisi. Mahasiswa yang telah berada di semester tujuh atau delapan dan sedang fokus mengerjakan skripsi, sudah diperbolehkan mengambil mata kuliah S2 secara gratis. “Nantinya saat resmi menjadi mahasiswa S2, mata kuliah yang sudah diikuti sebelumnya akan langsung dikonversi. Selama masa transisi ini, biayanya jauh lebih murah karena hanya disetarakan dengan biaya semester delapan S1,” jelasnya. Kabar baiknya, jalur istimewa ini tidak bersifat eksklusif. Mahasiswa bertalenta dari berbagai perguruan tinggi luar kampus dipersilakan mendaftar saat mereka resmi menginjak semester tujuh, dengan peluang konversi mata kuliah yang ekuivalen. Mobilitas mahasiswa juga dijamin sangat fleksibel berkat penerapan sistem pembelajaran hybrid dan blended learning. Bahkan, mahasiswa berprestasi tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga uang. “Banyak kemudahan yang bisa dinikmati. Mulai dari proses studi yang cepat selesai, peluang mendapatkan hibah riset dalam maupun luar negeri bersama dosen, hingga potensi besar untuk kuliah S2 secara gratis,” tegas Zulfatman. Saat ini, jalur kesinambungan tersebut telah tersedia untuk 15 Program Studi Magister (S2) dari hampir seluruh rumpun keilmuan S1 di UMM. Pendaftaran program ini dibuka pada setiap awal semester 7 atau 8, bertepatan dengan jadwal pengisian KRS. Untuk dapat bergabung, pendaftar harus berstatus sebagai mahasiswa aktif yang telah menyelesaikan minimal 130 SKS dan telah mengantongi SK Tugas Akhir (Skripsi). Selain itu, calon peserta juga diwajibkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,25, serta membawa surat rekomendasi dari Ketua Program Studi asal yang dibarengi dengan persetujuan dari Kaprodi S2 tujuan. Melalui lompatan strategis ini, UMM menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengutamakan efisiensi. Program S1-S2 Terpadu ini diharapkan menjadi karpet merah bagi generasi muda dalam mengakselerasi diri menjadi tenaga profesional yang berdaya saing global.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantar | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Enam Doktor UMM Rumuskan Strategi Ekonomi Inklusif Hadapi Krisis Global

pwmu.co – Di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, kebutuhan pendekatan baru dalam pembangunan berkelanjutan kian mendesak. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang menggelar Colloquium Post Doctoral bertajuk “Risalah Ekonomi dan Bisnis Berkemajuan: Integrasi Business Sustainability dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan”.Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (14/4/2026) di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai forum diseminasi hasil riset dosen yang baru menyelesaikan studi doktoral. Sebanyak enam dosen mempresentasikan hasil disertasinya, yaitu: M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D. Ida Nuraini, M.Si. Yeyen Pratika, MBA., Ph.D. Sri Wahjuni L., M.M., Ak., CA. Fika Fitriasari, M.M., Ph.D. Novita Ratna Satiti, M.M., Ph.D. Kolokium ini bertujuan memetakan kepakaran dosen sekaligus memperkuat kontribusi akademik dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi yang inklusif. Dalam pemaparannya, M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D., menyoroti indikator kesejahteraan global dari lembaga seperti World Bank dan UNDP yang dinilai masih terlalu materialistik. Ia menawarkan pendekatan berbasis nilai Islam yang lebih holistik, mencakup lima dimensi utama: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. “Kita perlu indikator utuh. Integrasi nilai spiritual penting agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat manusia,” tegasnya. Sementara itu, Dr. Ida Nuraini, M.Si. menyoroti ketimpangan ekonomi antara wilayah barat dan timur Indonesia. Menurutnya, kebijakan pembangunan sering kali tidak mempertimbangkan karakteristik lokal. “Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Perencanaan harus berbasis data dan kebutuhan nyata,” ujarnya. Ia mengusulkan pendekatan berbasis ekologi wilayah serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai solusi. Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM, Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa kolokium ini merupakan langkah strategis dalam pengembangan institusi. “FEB memiliki potensi besar melahirkan banyak guru besar. Momentum ini harus diiringi inovasi seperti mikrokredensial dan kolaborasi internasional,” ujarnya. Secara keseluruhan, kolokium ini menjadi refleksi penting terhadap arah pembangunan ekonomi Indonesia. Integrasi aspek ekonomi, sosial, dan spiritual diharapkan mampu menciptakan sistem ekonomi yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia, dari Subak Bali hingga Desalinasi NTT

MALANG, PENAJATIM.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukir sejarah baru di kancah global. Kampus Putih resmi ditetapkan UNESCO sebagai _UNESCO Chair and Host Institution_ untuk program _Sustainable Water Ecosystem_ tahun 2026. Dengan status ini, UMM menjadi satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengawal misi kelestarian air dunia. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan capaian ini bukan hasil kerja semalam. “Ini buah dedikasi panjang riset dan pengabdian. Visi UMM untuk berdampak di level internasional membuat kami terus berinovasi sampai akhirnya tembus kemitraan UNESCO,” ujarnya, Minggu (13/4/2026). Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM mengemban amanah besar lewat tiga program strategis. 1. Selamatkan Subak Bali dari Krisis Alih Fungsi Lahan Program pertama menyasar krisis air di sistem irigasi Subak, Tabanan, Bali. Penggunaan pestisida kimia berlebihan selama bertahun-tahun membuat struktur tanah mengeras dan kesuburan anjlok. Kondisi itu mendorong banyak petani mengambil jalan pintas: mengubah sawah menjadi vila. Dampaknya fatal, daerah resapan air hilang. Rektor UMM Resmikan Program Air Bersih Berbasis Masyarakat di Desa Tliu, NTT. (Sumber Humas UMM). UMM hadir membawa solusi nyata lewat _green farming_ dan _smart farming_. Teknologi ini memulihkan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen, sehingga petani kembali melihat sawah sebagai sumber penghidupan. “Kita tidak merawat airnya langsung saat itu. Tapi lewat smart farming dan energi terbarukan, kita otomatis menyelamatkan daerah resapan. Dari sanalah, tahun 2024 lalu UMM mendapat penghargaan UNESCO atas konservasi Subak,” jelas Salis. 2. Terjunkan 52 Akademisi ke NTT, Siapkan Desalinasi Tenaga Surya Program kedua menyasar Indonesia Timur. UMM menerjunkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan tiga misi utama: memetakan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Tak berhenti di pemetaan, UMM kini menyiapkan proyek lanjutan berupa teknologi desalinasi bertenaga surya. Tujuannya jelas: menjamin pasokan air bersih berkelanjutan bagi warga NTT yang selama ini kesulitan akses air layak. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro milik UMM. (Sumber Humas UMM). 3. Sulap Sungai Brantas Jadi Listrik Lewat PLTMH Di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan diri sebagai eksekutor. Lewat PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi listrik ramah lingkungan. Kiprah UMM meluas ke daerah lain. Kampus Putih turut membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen, Kabupaten Malang. Amanah Jangka Panjang untuk Anak Cucu Salis menegaskan, pengakuan UNESCO bukan garis finis. “Ini amanah dan penyemangat agar UMM konsisten di garda terdepan isu keberlanjutan. Visi ini sejalan dengan napas Islam Berkemajuan milik Muhammadiyah,” katanya. Ia menambahkan, UMM berpikir jauh ke depan. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkas Salis. Dengan status _UNESCO Chair_, UMM berkomitmen memperkuat kolaborasi riset, kebijakan, dan aksi lapangan demi ekosistem air yang lestari, dari Malang untuk dunia. (Zai).

UMM Terima Mahasiswa Baru TA 2026/2027 Jalur Influencer, Tanpa Tes Masuk, Ini Syaratnya

MALANGRAYA.CO – Bagi para kreator konten, ada kabar menarik. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka jalur penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2026/2027 khusus bagi influencer dan content creator. Sudah dibuka mulai 1 April hingga 25 Juni 2026, program ini menjadi terobosan menarik karena memberikan kesempatan bagi kreator digital untuk melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus mengikuti ujian tulis. Sebagai gantinya, calon mahasiswa dapat memanfaatkan portofolio digital serta jumlah pengikut di media sosial sebagai syarat utama seleksi. Melansir keterangan resminya, untuk mendaftar, peserta diwajibkan memiliki minimal 5.000 subscriber di YouTube atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Meski begitu, jumlah pengikut bukan satu-satunya penilaian. UMM menegaskan bahwa kualitas konten tetap menjadi faktor utama, dengan kriteria harus kreatif, edukatif, dan membawa dampak positif. “Kebijakan ini merupakan bentuk adaptasi kampus terhadap perkembangan zaman, khususnya dalam menghadapi era digital dan karakter generasi Z,” tutur Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda. Menurutnya, dunia pendidikan perlu memperluas cara pandang dalam menilai potensi dan kecerdasan generasi muda. Kreator konten dinilai memiliki peran penting sebagai penyampai pesan sekaligus representasi komunikasi publik di era modern. “Jalur ini tidak sekadar mencari popularitas, melainkan menjaring individu yang memiliki pengaruh positif di masyarakat,” sambung dia. Program ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga memiliki etika dan tanggung jawab sosial. “Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Kini Kini, karya kreatif di media sosial bukan hanya soal eksistensi, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk menuju pendidikan tinggi dan masa depan yang lebih cerah.***

Kamu Konten Kreator? UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes Untuk Kamu

Malang, Tugumalang.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur khusus influencer dan konten kreator. Menariknya, jalur kuliah khusus ini diberlakukan tanpa tes. Lewat gebrakan ini, puluhan ribu followers dan portofolio digital di dunia maya kini menjadi ‘paspor’ sakti untuk masuk Kampus Putih tanpa perlu pusing memikirkan ujian tulis. Diketahui, pendaftaran jalur khusus konten kreator ini dibuka mulai 1 April hingga 25 Juni 2026 mendatang. Syarat yang ditawarkan juga sangat mudah dan relevan. Para calon pendaftar cukup membuktikan diri dengan kepemilikan minimal 5.000 subscriber di platform YouTube, atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun, tingginya angka pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. UMM tetap memasang filter ketat: konten yang diproduksi wajib bersifat kreatif, edukatif, dan menularkan energi positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak sedang memburu popularitas semata, melainkan mencari substansi dan rekam jejak digital yang baik. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa langkah ini adalah bentuk nyata adaptasi kampus terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, institusi pendidikan tidak boleh menutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru dari rahim teknologi, termasuk konten kreator. Menurut dia, para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. ”Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan pondasi akademik yang matang dan berintegritas,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini adalah investasi strategis untuk mencetak lulusan yang cakap digital sekaligus beretika. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Dengan hadirnya jalur influencer ini diharapkan tidak hanya menjaring bibit-bibit unggul di ranah digital, tetapi juga mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang proaktif membaca zaman. Kini, saatnya mengubah karya kreatif di dunia maya menjadi tiket menuju masa depan yang cerah.

UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes untuk Konten Kreator, Ini Syaratnya

Bisnis.com, MALANG — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur khusus, yakni tanpa tes, bagi influencer dan konten kreator mulai 1 April hingga 25 Juni 2026 mendatang. Wakil Rektor II UMM,  Ahmad Juanda, mengatakan syarat yang ditawarkan sangat relevan dengan keseharian anak muda masa kini. Para calon pendaftar cukup membuktikan diri dengan kepemilikan minimal 5.000 subscriber di platform YouTube, atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun, tingginya angka pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. “UMM tetap memasang filter ketat: konten yang diproduksi wajib bersifat kreatif, edukatif, dan menularkan energi positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak sedang memburu popularitas semata, melainkan mencari substansi dan rekam jejak digital yang baik,” katanya Selasa (14/4/2026). Menurutnya, langkah ini adalah bentuk nyata adaptasi kampus terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, institusi pendidikan tidak boleh tutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru dari rahim teknologi. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan fondasi akademik yang matang dan berintegritas,” tegasnya. Dia menekankan pula,  program ini adalah investasi strategis untuk mencetak lulusan yang cakap digital sekaligus beretika. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya.

Women Empowerment Bukan Sekadar Tren, UMM Ajarkan Cara Perempuan Ambil Peran Nyata di Masyarakat

pwmu.co – Momentum International Women’s Day dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen dalam memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor.Melalui kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI), digelar webinar nasional bertajuk “Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan” pada 12 Maret 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak UMM (PSP2A) bersama Pusat Studi Gender dan Anak UMJ (PSGA), dan diikuti ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, serta pegiat gender dari seluruh Indonesia. Webinar dibuka oleh Rektor UMJ, Ma’mun Murod, M.Si., yang menegaskan pentingnya peran kampus dalam menghadirkan ruang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses terhadap pendidikan, sumber daya, dan pengambilan keputusan,” tegasnya. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM, Nazaruddin Malik, M.Si. Dalam sesi utama, Tutik Sulistyowati, M.Si., menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama pemberdayaan perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah kunci. Perempuan tidak hanya harus hadir, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa peningkatan akses pendidikan akan memperkuat kapasitas perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Isu pemerataan pendidikan diperkuat oleh Rita Pranawati, S.S., M.A., yang menyoroti kondisi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). “Keterbatasan infrastruktur, geografis, dan budaya masih menjadi hambatan. Akses pendidikan bagi perempuan di wilayah 3T adalah keharusan, bukan pilihan,” tegasnya. Diskusi semakin dinamis saat peserta, Trisakti Handayani, mengangkat isu pengukuran kesetaraan gender dalam pendidikan. Ia menyoroti pentingnya: Indikator berbasis SDGs Dukungan anggaran pemerintah Peran masyarakat sipil dalam pengawasan Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, UMM, UMJ, dan ASWGI berharap gagasan yang dihasilkan tidak berhenti di forum akademik. Lebih dari itu, hasil diskusi diharapkan menjadi langkah konkret dalam: Memperluas akses pendidikan Meningkatkan partisipasi perempuan Mewujudkan pembangunan inklusif Women empowerment bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan nyata dalam pembangunan bangsa. Dengan pendidikan sebagai fondasi, perempuan tidak hanya menjadi bagian dari sistem, tetapi juga menjadi aktor utama perubahan menuju masyarakat yang setara dan berkeadilan. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria