Ramadhan Berkemajuan Disuarakan di UMM, Aisyiyah Jatim Tekankan Integritas Umat

Agroredaksi.com-Dihadiri oleh ratusan audiens, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” pada Rabu, 04 Maret 2026. Agenda ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat dan relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.(Sfl/umm)

UMM Tuan Rumah Silaturahmi Aisyiyah Jatim, Serukan Semangat Ramadhan Berkemajuan dan Integritas Umat

Portalbontang.com, Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi tuan rumah perhelatan akbar tingkat provinsi pada Rabu, 4 Maret 2026. Kampus putih ini memfasilitasi kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang dihadiri oleh ratusan audiens dari berbagai daerah. Acara tersebut secara khusus mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak”. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., hadir langsung sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya pemahaman ajaran Islam yang responsif terhadap pesatnya perkembangan zaman. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan, nilai spiritual harus dipadukan dengan kecerdasan intelektual agar umat mampu menghadapi tantangan global. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Selain penguasaan teknologi, semangat Islam Berkemajuan juga mengajak umat Islam untuk aktif memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Momen bulan suci Ramadhan dinilai sebagai waktu yang paling ideal untuk mengimplementasikan seluruh nilai-nilai mulia tersebut. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyoroti peran strategis institusi pendidikan dalam mencetak generasi unggul. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Pihak rektorat berharap sinergi antara kampus dan elemen masyarakat seperti Aisyiyah dapat terus terjalin erat. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. ***

Dulu Jual Lumpia di Kelas, Kini Alumnus UMM Ekspor Keripik Buah ke MancaNegara

Langkah berani tak selalu dimulai dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. Usaha yang dirintis Dzikri sapaan akrabnya memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Inovasi tersebut lahir dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen. Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu. Dzikri mengakui, fondasi mental kewirausahaannya telah terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, perkuliahan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa didorong menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat itu sudah ia tempa sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, ia memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih sangat terbuka. Mahasiswa didorong terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar untuk melakukan analisis usaha. Ia bahkan sempat mengikuti kunjungan industri ke perusahaan skala nasional seperti Indomie, yang memberinya gambaran mengenai manajemen usaha dari skala kecil hingga besar. Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada kemitraan langsung dengan petani desa. Bahan baku diperoleh tanpa perantara, sementara proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Puncaknya, pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti bahwa UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Sahur On The Road, Ajak Tunawisma hingga Tukang Becak Sahur Bareng dengan Konsep Barbeque

MALANGVOICE– Suasana sahur yang berbeda terlihat di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari (5/3). Di pinggir jalan, sejumlah orang tampak menikmati makanan yang dimasak langsung dengan konsep barbeque sederhana. Kegiatan tersebut merupakan program Sahur On The Road (SOTR) yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk makan bersama. Suasana kebersamaan pun terasa hangat di tengah aktivitas kota pada dini hari. Rombongan Sahur On The Road bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di sekitar kawasan alun-alun dan Pasar Besar. Lokasi tersebut diketahui menjadi tempat beristirahat bagi sebagian masyarakat marjinal pada malam hingga dini hari. Para relawan berhenti di beberapa titik untuk membagikan makanan sekaligus mengajak mereka menikmati sahur bersama. Kolaborasi dengan komunitas MURID menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM tersebut ikut bergerak bersama rombongan untuk menjangkau masyarakat di sejumlah lokasi. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang menjadi wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Menurutnya, komunitas tersebut resmi terbentuk pada 2018, meskipun embrionya sudah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat,” ujarnya. Ia menambahkan, penamaan tersebut juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain. Dalam kegiatan sahur bersama ini, makanan dimasak langsung di lokasi menggunakan konsep barbeque sederhana. Cara tersebut menghadirkan pengalaman sahur yang berbeda sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab antara relawan dan masyarakat. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang mampu mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, konsep barbeque sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. “Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” katanya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat nilai kepedulian dan kebersamaan.(der)    

Ramadhan Berkemajuan Disuarakan di UMM, Aisyiyah Jatim Tekankan Integritas Umat

MALANG | JATIM1NEWS.COM: Dihadiri oleh ratusan audiens, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” pada Rabu, 04 Maret 2026. Agenda ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat dan relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.(Ans)

Santri PPI-AMF Ubah Limbah Jagung Jadi Produk Ramah Lingkungan, Raih Medali Nasional

Agroredaksi.com-Tiga siswa kreatif dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) berhasil menciptakan solusi inovatif untuk mengatasi limbah pertanian sekaligus meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Melalui produk bernama Bonggol Arum, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim berhasil mengolah bonggol jagung menjadi biochar aromatik yang fungsional. Perwakilan tim, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, menjelaskan bahwa ide pembuatan Bonggol Arum berawal dari pengamatan terhadap melimpahnya limbah pertanian di Kabupaten Malang. Sebagai salah satu sentra jagung terbesar di Jawa Timur, wilayah ini menghasilkan sekitar 51 ribu ton bonggol jagung yang sering kali dibuang atau dibakar oleh petani. Para santri melihat kondisi tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang pemanfaatan limbah biomassa yang belum optimal. “Di sisi lain, kualitas udara dalam ruangan seperti bau apek dan kelembapan sering menjadi masalah kesehatan pernapasan,” ujar Farrell dalam wawancara pada 2 Maret lalu. Berangkat dari permasalahan itu, tim AMF menghadirkan solusi berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah bonggol jagung melalui proses pirolisis terkendali. Proses ini menghasilkan biochar berpori luas yang efektif menyerap polutan. Berbeda dengan produk desikan sintetis di pasaran yang berpotensi beracun dan menambah sampah plastik, Bonggol Arum dirancang lebih aman dan berkelanjutan. Produk ini memiliki inovasi 3-in-1 multi action, yakni menyerap bau tidak sedap, mengontrol kelembapan ruangan, serta menyerap polutan udara ringan seperti amonia dan etanol. Farrell menjelaskan, proses pembuatan dimulai dengan pirolisis bonggol jagung kering pada suhu 300–600 derajat Celcius selama 1 hingga 4 jam untuk menghasilkan biochar padat. Setelah itu, biochar didinginkan dengan cepat dan dibersihkan. Sementara itu, pewangi alami dibuat dengan merebus bahan organik seperti kayu manis, serai, atau daun jeruk selama 20–30 menit. Larutan tersebut kemudian ditambahkan etanol food grade untuk mengikat aroma, lalu disaring hingga jernih. Pada tahap akhir, sebanyak 100 gram biochar dicampur dengan 20–30 mililiter ekstrak pewangi. Campuran tersebut didiamkan dalam wadah tertutup selama 24–48 jam agar aroma terserap optimal. Selanjutnya, bahan dikeringkan kembali pada suhu 40–50 derajat Celcius sebelum dikemas dalam kantung teh dan pouch kain goni. Inovasi ini juga berhasil mengantarkan tim SMA AMF meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Olympicad VIII yang diselenggarakan di Makassar pada Februari 2026, tim Bonggol Arum berhasil meraih medali perak dengan nilai 84,7 dan menempati peringkat kedelapan. Guru pendamping tim, Rachmadanti Chairatul Nisa, mengaku bangga atas capaian tersebut. Selama proses pengembangan, Rachmadanti memberikan berbagai pendampingan, mulai dari validasi ide dan perumusan solusi, penyusunan proposal, hingga proyeksi keuangan. Ia juga membimbing tim dalam pembuatan prototipe produk, penyusunan pitching deck, pelatihan public speaking, serta memberikan motivasi selama proses kompetisi. “Saya sangat bangga dengan capaian tim ini. Mereka tidak hanya mampu melihat persoalan limbah bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi juga berhasil mengolahnya menjadi produk inovatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Rachmadanti Chairatul Nisa. Ia menjelaskan bahwa selama proses pengembangan, tim mendapatkan pendampingan secara bertahap. Mulai dari validasi ide dan perumusan problem solution, penyusunan proposal penelitian, hingga perhitungan proyeksi keuangan produk. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan riset yang dilakukan para santri mampu melahirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.(Sfl)

Bonggol Arum Antar Santri SMA AMF Raih Medali Perak Olympicad

  pwmu.co –  Tiga siswa kreatif dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) berhasil menciptakan solusi inovatif untuk mengatasi limbah pertanian sekaligus meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Melalui produk bernama Bonggol Arum, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim berhasil mengolah bonggol jagung menjadi biochar aromatik yang fungsional. Perwakilan tim, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, menjelaskan bahwa ide pembuatan Bonggol Arum berawal dari pengamatan terhadap melimpahnya limbah pertanian di Kabupaten Malang. Sebagai salah satu sentra jagung terbesar di Jawa Timur, wilayah ini menghasilkan sekitar 51 ribu ton bonggol jagung yang sering kali dibuang atau dibakar oleh petani. Para santri melihat kondisi tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang pemanfaatan limbah biomassa yang belum optimal. “Di sisi lain, kualitas udara dalam ruangan seperti bau apek dan kelembapan sering menjadi masalah kesehatan pernapasan,” ujar Farrell, (Senin 2/3/2026). Berangkat dari permasalahan itu, tim AMF menghadirkan solusi berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah bonggol jagung melalui proses pirolisis terkendali. Proses ini menghasilkan biochar berpori luas yang efektif menyerap polutan. Berbeda dengan produk desikan sintetis di pasaran yang berpotensi beracun dan menambah sampah plastik, Bonggol Arum dirancang lebih aman dan berkelanjutan. Produk ini memiliki inovasi 3-in-1 multi action, yakni menyerap bau tidak sedap, mengontrol kelembapan ruangan, serta menyerap polutan udara ringan seperti amonia dan etanol. Farrell menjelaskan, proses pembuatan dimulai dengan pirolisis bonggol jagung kering pada suhu 300–600 derajat Celcius selama 1 hingga 4 jam untuk menghasilkan biochar padat. Setelah itu, biochar didinginkan dengan cepat dan dibersihkan. Sementara itu, pewangi alami dibuat dengan merebus bahan organik seperti kayu manis, serai, atau daun jeruk selama 20–30 menit. Larutan tersebut kemudian ditambahkan etanol food grade untuk mengikat aroma, lalu disaring hingga jernih. Pada tahap akhir, sebanyak 100 gram biochar dicampur dengan 20–30 mililiter ekstrak pewangi. Campuran tersebut didiamkan dalam wadah tertutup selama 24–48 jam agar aroma terserap optimal. Selanjutnya, bahan dikeringkan kembali pada suhu 40–50 derajat Celcius sebelum dikemas dalam kantung teh dan pouch kain goni. Inovasi ini juga berhasil mengantarkan tim SMA AMF meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Olympicad VIII yang diselenggarakan di Makassar pada Februari 2026, tim Bonggol Arum berhasil meraih medali perak dengan nilai 84,7 dan menempati peringkat kedelapan. Guru pendamping tim, Rachmadanti Chairatul Nisa, mengaku bangga atas capaian tersebut. Selama proses pengembangan, Rachmadanti memberikan berbagai pendampingan, mulai dari validasi ide dan perumusan solusi, penyusunan proposal, hingga proyeksi keuangan. Dia juga membimbing tim dalam pembuatan prototipe produk, penyusunan pitching deck, pelatihan public speaking, serta memberikan motivasi selama proses kompetisi. “Saya sangat bangga dengan capaian tim ini. Mereka tidak hanya mampu melihat persoalan limbah bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi juga berhasil mengolahnya menjadi produk inovatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Rachmadanti Chairatul Nisa. Dia menjelaskan bahwa selama proses pengembangan, tim mendapatkan pendampingan secara bertahap. Mulai dari validasi ide dan perumusan problem solution, penyusunan proposal penelitian, hingga perhitungan proyeksi keuangan produk. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan riset yang dilakukan para santri mampu melahirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.(*) *) Penulis : Faqih *) Editor : Satria

Perang Irak-Israel Ancam Inflasi Nasional, Bisa Terasa Hingga Malang Raya

MALANG POST – Pakar Ekonomi dan Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Murpin Josua Sembiring, SE., M.Si., mengatakan, jika perang di Timur Tengah meluas dalam satu bulan ke depan, nilai tukar rupiah bisa tembus hingga Rp17 ribu per dolar AS. Kondisi itu dinilai berbahaya, karena bisa mendorong inflasi nasional naik sampai 6 persen dan membuat target pertumbuhan ekonomi 4 persen sulit tercapai. Pernyataan itu disampaikannya, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk, yang disiarkan langsung Radio City Guide 911 FM, Kamis (5/3/2026). Menurut Prof. Murpin, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak ke banyak sektor. “Ketika BBM naik, pelaku usaha biasanya ikut menaikkan harga jual.” “Karena itu, masyarakat juga akan merasakan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Apalagi di Jawa Timur termasuk Malang Raya, yang banyak ditopang industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga,” katanya. Prof. Murpin juga mengingatkan, beban subsidi energi bisa semakin berat jika harga minyak terus naik. Anggaran subsidi dan kompensasi berpotensi membengkak. Jika kondisi itu berlangsung lama, dampaknya bukan hanya ekonomi biasa. Tapi bisa mempengaruhi stabilitas daerah karena faktor geopolitik dan geoekonomi. Kepala Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Haryo Prasodjo, MA., menambahkan,  konflik Iran dan Israel yang juga melibatkan Amerika Serikat, berpotensi membuat harga minyak dunia melonjak. Dampaknya bisa ikut terasa sampai ke Malang Raya/. “Karena Iran punya posisi strategis karena berada di sekitar Selat Hormuz, yakni jalur penting yang dilalui sekitar 10-30 persen pasokan energi dunia.” “Jika jalur itu terganggu, harga minyak bisa naik tajam. Bahkan ada kemungkinan terjadi krisis minyak ketiga seperti yang pernah terjadi tahun 1973 dan 1979,” jelasnya. Dia memperkirakan, harga BBM bisa naik hingga Rp4 ribu/liter, yang tentu akan menambah beban subsidi dan memberi tekanan pada keuangan negara. Terkait peluang damai, Haryo menyebut situasinya masih belum pasti. Dari analisis geopolitik, katanya, Iran belum membuka ruang diplomasi secara luas dan siap menghadapi konflik jangka panjang. “Meski begitu, semua ini masih sebatas analisis perkembangan terbaru. Untuk masyarakat Malang Raya, yang perlu diwaspadai adalah potensi kenaikan harga energi dan dampaknya pada kebutuhan sehari-hari,” pesannya. Sementara itu, Area Manager Communication Relation & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi memastikan, stok BBM di Malang Raya saat ini masih aman, meski sempat muncul kekhawatiran soal ketahanan stok 20 hari. Menurutnya, angka 20 hari yang sebelumnya disampaikan Menteri ESDM – Bahlil Lahadalia itu sifatnya dinamis dan bukan berarti setelah 20 hari pasokan langsung berhenti. “Setiap hari pengiriman dan penerimaan BBM tetap berjalan. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Di Jawa Timur sendiri ada sekitar 60 terminal BBM. Walaupun tanpa kiriman tambahan, rata-rata stok bertahan belasan hari.” “Khusus Malang Raya, stok rata-rata berada di kisaran 11-13 hari, disuplai dari Terminal BBM Malang serta terminal terdekat lainnya,” jelasnya. Selain itu, Ahad juga menegaskan, distribusi sudah dipetakan dengan baik. Termasuk untuk kebutuhan menjelang mudik Lebaran. Untuk BBM subsidi harga dipastikan tetap. Sementara BBM non-subsidi fluktuatif karena menyesuaikan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. “Kalau sempat ada BBM kosong di SPBU, biasanya karena distribusi terlambat akibat faktor cuaca. Bukan karena stok nasional maupun regional habis,” tandasnya. (Faricha Umami/Ra Indrata)

Simbiosis 25 Tahun, Rektor UMM Tegaskan Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Peran Pers

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan silaturahmi dan buka puasa bersama insan pers yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM pada Kamis (5/3/2025). Pada kesempatan ini, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kampus yang berdampak tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Kegiatan yang dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, tim Humas, dan puluhan jurnalis dari berbagai platform media ini menjadi momentum refleksi atas kolaborasi panjang yang telah terbina selama sekitar 25 tahun. Prof. Nazaruddin mengungkapkan bahwa tradisi berkumpul bersama media bukanlah hal baru bagi Kampus Putih. Kebiasaan ini telah diletakkan fondasinya sejak era kepemimpinan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., lebih dari 25 tahun silam. “Tradisi ini sudah berlangsung lebih dari seperempat abad. Dalam setiap etape perjalanan itu, selalu lahir inovasi dan hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini membuktikan bahwa UMM tumbuh dan berkembang beriringan dengan insan pers,” ujar Prof. Nazaruddin. Dalam diskusi yang hangat tersebut, Rektor UMM juga menyoroti transformasi drastis dunia informasi. Ia mengenang masa di mana media cetak arus utama (mainstream) memegang kendali penuh atas narasi publik dan akses informasi. Namun, di era digital saat ini, lanskap media telah bergeser menjadi lebih tidak terinstitusionalisasi dengan pola reproduksi informasi yang sangat beragam. “Dulu, kartu pers adalah kunci pembuka akses ke banyak ruang publik. Sekarang, media berkembang menjadi non-mainstream. Meski polanya berubah, substansi peran pers dalam membentuk pemikiran publik tetap tidak tergantikan,” jelasnya. Bagi UMM, universitas memiliki tanggung jawab moral untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus bertugas menyerap aspirasi sosial, lalu mengolahnya menjadi gagasan serta solusi nyata melalui riset dan pengabdian. Di sinilah peran media menjadi sangat strategis. Media bertindak sebagai kanal yang mendistribusikan gagasan tersebut agar dapat mendorong perubahan sosial dan merawat cita-cita bangsa menuju kesejahteraan. “UMM saat ini tidak ada tanpa media. Perubahan cara berkomunikasi masyarakat menuntut kampus untuk terus adaptif. Semua kolaborasi ini membawa UMM bergerak menjadi impactful university atau universitas yang berdampak,” tegas Prof. Nazaruddin. Menutup narasinya, Prof. Nazaruddin menekankan bahwa menjadi universitas yang berdampak bukan sekadar mengejar capaian akademik atau peringkat semata. Dampak nyata hanya bisa dihasilkan jika dilandasi dengan niat tulus untuk menebar manfaat seluas-luasnya, tanpa sekat kepentingan pribadi maupun golongan. “Berbuat baik adalah ketika kita mampu menjauh dari kepentingan ego. Kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati demi kemaslahatan banyak pihak. Nilai kerja keras inilah yang sering kali terlupakan, namun tetap menjadi napas perjuangan UMM bersama rekan-rekan media,” pungkasnya. [dan/aje]

Tak Perlu Iri Saat Bukber, Psikolog UMM Sebut Setiap Orang Punya Waktu Sukses Berbeda

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Buka bersama yang semestinya menjadi ruang silaturahmi kerap berubah menjadi arena perbandingan sosial ketika obrolan tentang karier, bisnis, studi, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisinya sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa minder bukan muncul karena bukbernya, melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda, sehingga tanpa sadar seseorang melakukan upward social comparison saat melihat pencapaian orang lain yang dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 04 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama karena adanya faktor kemiripan yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau teman kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama, sehingga secara tidak sadar dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Semakin besar rasa kemiripan yang dirasakan, semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama. Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Lebih lanjut, Atika menegaskan bahwa proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses bisa menjadi sumber motivasi untuk berkembang, sementara melihat orang dengan capaian berbeda juga dapat menumbuhkan rasa syukur dan memperkuat kepercayaan diri, selama individu mampu memaknainya secara proporsional. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki, padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk tetap percaya diri saat bertemu banyak orang, dosen psikologi tersebut menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang, serta membiasakan diri menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme berbeda. Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menekankan bahwa bantuan profesional selalu tersedia.(*)