Prof Nazaruddin Malik Pimpin 4 Universitas Muhammadiyah, Strategi Berbagi Sumber Daya Jadi Kunci

JATIMTIMES – Kepercayaan besar datang kepada Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. Akademisi yang dikenal sebagai ekonom dan pengelola pendidikan tinggi ini kini memegang amanah memimpin empat perguruan tinggi Muhammadiyah di berbagai wilayah Indonesia. Situasi yang tidak lazim ini membuat namanya menjadi perbincangan di kalangan akademisi, karena jarang ada satu figur yang dipercaya memimpin beberapa universitas sekaligus. Saat ini, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang untuk periode 2024 hingga 2028. Namun kepercayaan terhadapnya tidak berhenti di kampus yang bermarkas di Malang tersebut. Ia juga resmi ditetapkan memimpin tiga perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Di kawasan timur Indonesia, ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Manado untuk periode 2025 sampai 2029. Amanah lain juga datang dari Universitas Muhammadiyah Kupang yang melantiknya sebagai rektor untuk periode 2025 hingga 2027. Sementara di wilayah Jawa Barat, ia juga dipercaya memimpin Universitas Muhammadiyah Indonesia di Bekasi untuk periode 2025 sampai 2029. Empat kampus dengan karakter wilayah yang berbeda kini berada dalam lingkup kepemimpinannya. Bagi Nazaruddin Malik, kepercayaan tersebut bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab besar yang tidak ringan. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan dirinya dipilih untuk memimpin beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut. Namun ia menduga keputusan itu berkaitan dengan pengalaman manajerial yang ia jalankan selama memimpin Universitas Muhammadiyah Malang. Menurutnya, kemungkinan besar pimpinan Muhammadiyah melihat praktik pengelolaan pendidikan yang telah berkembang di UMM dapat menjadi model untuk mempercepat perkembangan universitas Muhammadiyah di daerah lain. “Saya sendiri tidak tahu persis apa dasar menunjuk saya secara pribadi. Yang paling mungkin karena saya sedang menjadi rektor di UMM, sehingga praktik manajemen pendidikan yang diterapkan di sini bisa ditransfer ke kampus lain,” ujarnya, Kamis, (5/3/2026). Ia menilai pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah di beberapa daerah memang membutuhkan percepatan. Karena itu, dibutuhkan proses transfer pengalaman dan praktik baik yang sudah berjalan di kampus yang lebih mapan. Bagi Nazaruddin Malik, tugas tersebut bukan perkara sederhana. Mengelola satu universitas saja sudah menuntut energi besar, apalagi jika harus mendampingi beberapa kampus yang berada di wilayah berbeda dengan tantangan yang tidak sama. Karena itu ia memilih pendekatan berbagi sumber daya sebagai strategi utama. Dalam skema ini, ia tetap menjalankan tugas utama di Malang, sementara penguatan manajemen di kampus lain dilakukan dengan menempatkan sejumlah dosen dari UMM. Setiap universitas yang sedang didampingi biasanya ditempatkan satu atau dua dosen dari UMM. Para dosen tersebut tidak hanya mengajar, tetapi juga memegang peran strategis dalam pengelolaan kampus. Mereka ditugaskan sebagai sekretaris pelaksana rektor atau koordinator pelaksana rektor. Peran ini membuat mereka menjadi penghubung antara sistem manajemen yang dikembangkan di UMM dengan kebutuhan pengembangan di kampus tujuan. “Simbolisnya memang menempatkan orang. Tapi sebenarnya yang kita lakukan adalah mentransfer knowledge management. Jadi bagaimana sistem pengelolaan kampus yang berjalan di UMM bisa diterapkan di tempat lain,” kata Nazaruddin. Proses transfer pengetahuan manajemen ini menjadi inti dari strategi percepatan pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah. Melalui pendekatan tersebut, pengalaman pengelolaan akademik, tata kelola kelembagaan, hingga sistem pengembangan sumber daya manusia dapat dibagikan secara langsung. Namun tantangan terbesar yang ia hadapi bukan sekadar persoalan administratif. Setiap kampus memiliki karakter daerah yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan tidak bisa disamakan. Menurutnya, karakter sosial masyarakat di Malang berbeda dengan Bekasi yang berada di kawasan perkotaan besar dan dekat dengan pusat pemerintahan serta industri. Sementara itu, dinamika sosial di Manado memiliki latar budaya yang berbeda dengan masyarakat di Nusa Tenggara Timur, termasuk Kupang. Perbedaan karakter tersebut juga memengaruhi cara pengelolaan kampus, pola komunikasi dengan masyarakat, hingga strategi pengembangan institusi. “Karakter di daerah sangat berbeda. Karakter Malang berbeda dengan Bekasi, dan tentu berbeda lagi dengan Manado maupun Kupang. Itu tantangan yang cukup berat,” jelasnya. Selain faktor sosial dan budaya, kondisi organisasi Muhammadiyah di setiap daerah juga memengaruhi perkembangan perguruan tinggi yang dikelolanya. Ia menilai organisasi Muhammadiyah di beberapa wilayah masih dalam tahap penguatan, sehingga membutuhkan waktu untuk berkembang sekuat di Jawa Timur. Perbedaan tingkat kematangan organisasi tersebut turut memengaruhi kecepatan pengembangan kampus. Karena itu, strategi yang diterapkan juga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Meski menghadapi berbagai tantangan, Nazaruddin Malik melihat Muhammadiyah memiliki kekuatan organisasi yang cukup solid. Tradisi kepatuhan terhadap keputusan pimpinan membuat seluruh elemen organisasi biasanya bergerak bersama ketika ada program pengembangan yang ditetapkan. Dalam tradisi Muhammadiyah, prinsip taat asas menjadi pegangan. Ketika pimpinan pusat memberikan arahan mengenai arah pengembangan perguruan tinggi, maka seluruh unsur organisasi biasanya menjalankannya secara kolektif. Selain penguatan manajemen internal, Nazaruddin Malik juga mendorong kolaborasi akademik antar perguruan tinggi Muhammadiyah. Gagasan ini tengah didorong oleh Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai bagian dari integrasi jaringan kampus Muhammadiyah di Indonesia. Salah satu program yang sedang disiapkan adalah skema pertukaran mata kuliah atau transfer kredit antar kampus. Melalui skema ini, mahasiswa dari satu universitas Muhammadiyah dapat mengambil beberapa mata kuliah di kampus lain. Nilai dari mata kuliah tersebut nantinya tetap diakui oleh universitas asal mahasiswa. Dengan cara ini, mahasiswa dapat merasakan pengalaman akademik yang lebih luas tanpa harus berpindah universitas secara permanen. Tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, UMM juga mulai membuka peluang kerja sama akademik dengan perguruan tinggi nasional. Salah satu rencana yang sedang dipersiapkan adalah kolaborasi dengan Universitas Indonesia. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa UMM berkesempatan mengambil mata kuliah di Universitas Indonesia selama satu semester. Mata kuliah yang diambil nantinya akan diakui sebagai bagian dari kurikulum di UMM. Bagi Nazaruddin Malik, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat peningkatan kualitas pendidikan tinggi Muhammadiyah di berbagai daerah. Ia menyadari bahwa amanah memimpin beberapa universitas sekaligus bukan hal biasa. Namun baginya, yang terpenting adalah bagaimana perguruan tinggi yang didampingi dapat berkembang lebih cepat dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Lewat Sahur On The Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur dan Barbeque di Pinggir Jalan

MALANG, PENAJATIM – Sahur di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari, 5 Maret 2026. Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara civitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan Sahur On The Road untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat di tengah kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat. Konsep barbeque ini sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” ujarnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan.

Ancaman Krisis Energi Global, Pakar HI UMM Ingatkan Dampak Eskalasi Konflik AS-Israel dan Iran bagi Indonesia

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini menjadi sorotan dunia karena potensi dampaknya yang meluas hingga ke sektor ekonomi global. Persaingan yang berakar pada masalah keamanan eksistensial ini diprediksi akan terus berlanjut dan memicu ketidakpastian stabilitas energi. Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand)., menjelaskan bahwa konflik ini sulit dipadamkan karena kedua belah pihak merasa keberadaan lawan adalah ancaman bagi kelangsungan hidup negara masing-masing. “Persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial. Iran adalah ancaman bagi Israel, begitu pula sebaliknya. Selama salah satu pihak merasa eksistensinya terancam oleh kehadiran pihak lain, konflik ini akan terus ada,” ujar Dion Maulana, Kamis 5 Maret 2026. Menurut Dion, kebuntuan diplomasi nuklir antara Washington dan Teheran menjadi bensin yang memperparah situasi. Iran dianggap mengancam sekutu AS di Timur Tengah serta basis-basis militer Amerika di kawasan tersebut. Hal ini memicu tindakan-tindakan militer yang berisiko tinggi. Dampak yang paling nyata dan berbahaya saat ini adalah ancaman terhadap jalur energi dunia di Selat Hormuz. Jika jalur distribusi minyak paling vital ini benar-benar ditutup secara permanen akibat perang, guncangan ekonomi global tidak akan terhindarkan. “Terganggunya distribusi energi internasional melalui Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga minyak dunia. Bagi Indonesia, ini berarti ancaman inflasi dan krisis energi yang harus segera diantisipasi,” tambahnya. Meski situasi memanas, Dion meminta masyarakat untuk tetap tenang dan kritis terhadap informasi yang beredar. Ia menekankan bahwa klaim mengenai pecahnya Perang Dunia Ketiga masih terlalu dini dan membutuhkan verifikasi kompleks terkait keterlibatan negara besar seperti Rusia atau China. “Proses menuju perang global sangat kompleks. Publik harus melakukan cek dan ricek terhadap informasi yang beredar agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan yang memicu kepanikan massal,” pungkasnya.(edr)

Asian Harmony Iftar, Sensasi Berbuka dengan Nuansa Maroko di Rayz UMM Hotel

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, MALANG – Agenda ‘buka bersama’ atau ‘bukber’ kerap menjadi kegiatan rutin yang melekat saat bulan Ramadhan. Tribun Jatim Timur menyorot salah satu rekomendasi tempat buka puasa terbaru di Malang yang menyuguhkan sajian hidangan unik dengan nuansa estetik. Momentum Ramadan 2026 kali ini Rayz UMM Hotel Malang menghadirkan pengalaman berbuka puasa bertajuk Asian Harmony Iftar, sebuah konsep all you can eat dengan sentuhan cita rasa khas Maroko dan pilihan venue eksklusif. Tamu dapat memilih lokasi berbuka di SKY Rooftop dengan panorama pegunungan dan gemerlap kota dari ketinggian, atau di Sunshine Restaurant yang nyaman dengan fasilitas gratis akses playground untuk anak-anak. Konsep ini memberikan keleluasaan bagi keluarga untuk menikmati momen berbuka dengan lebih santai dan menyenangkan. Asian Harmony Iftar menghadirkan beragam menu signature khas Maroko seperti Spanish Paella Rice, Roasted Moroccan Chicken, Saffron Rice, Fettuccine Alfredo, Baklava Kurma, hingga Umm Ali. Untuk menjaga variasi dan memberikan pengalaman berbeda setiap harinya, menu akan diganti secara berkala agar tamu tidak merasa bosan. Dengan harga yang terjangkau, Rp125.000 net per orang, tamu sudah dapat menikmati sajian all you can eat lengkap. Tak hanya itu, tersedia pula fasilitas pendukung seperti mushola yang luas serta akses WiFi gratis untuk menambah kenyamanan selama berbuka. Menariknya, setiap hari Minggu akan diadakan pengundian grand prize berupa menginap di Villa 2 Bedrooms dengan kolam renang air hangat. Kesempatan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu yang ingin merasakan pengalaman menginap eksklusif. Gustam Duga Prasetya, Marketing Communication Manager Rayz UMM Hotel, menambahkan, “Selain banyak venue yang bisa dipilih untuk Iftar, kami juga memberikan menu-menu terbaik yang terinspirasi dari Maroko. Tamu bisa menikmati akses gratis ke playground untuk anak-anak agar momen berbuka lebih leluasa bagi orang tua. Harga yang kami tawarkan juga terjangkau dibandingkan Iftar lainnya, dan yang paling menarik, tamu dapat menikmati pengalaman private Iftar di SKY Rooftop dengan pemandangan yang menakjubkan.” Momentum Asian Harmony Iftar berlangsung setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 20.30 WIB, menjadikan pengalaman berbuka semakin berkesan dengan suasana hangat, menu istimewa, serta pilihan tempat yang beragam. Untuk reservasi dan informasi lebih lanjut, tamu dapat menghubungi kontak resmi Rayz UMM Hotel Malang melalui whatsapp dengan nomor 081944244554 Nice People, Nice Place, Rayz the Moments Mengenai Rayz UMM Hotel Hotel bintang 4 di Malang, memiliki 152 kamar dan 5 villa dengan kolam renang pribadi. Berkonsep city resort, Rayz UMM Hotel memiliki fasilitas yang lengkap seperti ballroom, meeting room, restoran, tempat fitness, sky lounge, dan kolam renang. Hotel yang dimiliki oleh Universitas Muhammadiyah Malang ini mempunyai khas dengan dominan warna hitam dan emas dengan 5 tipe kamar yaitu deluxe, super deluxe, executive, family, dan suite. Villa yang berada satu lokasi dengan hotel memiliki 2 tipe yaitu Villa Eureka atau Credo dengan 2 kamar dan Villa Ambasador dengan 3 kamar. (*)

Puluhan Tahun Bersama Pers, Rektor UMM Tegaskan Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Media

MALANG, PENAJATIM – Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi perubahan besar dalam dunia media, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media menjadi sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi. Dari proses tersebut lahir berbagai pemikiran yang dapat mendorong perubahan sosial. Universitas juga menjadi ruang penting untuk merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Ia menambahkan bahwa hubungan UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. Perkembangan media yang terus berubah juga memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Meski begitu, komitmen UMM untuk menjalin kolaborasi dengan insan pers tetap sama. Menurutnya, keberadaan media turut membawa UMM berkembang menjadi universitas yang berdampak. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut harus dilandasi niat tulus untuk berbuat baik tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, kerja keras juga menjadi nilai penting yang sering kali diabaikan dalam proses pembangunan. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya

Ratusan Peserta Hadiri Silaturahmi Aisyiyah Jatim di UMM

  pwmu.co – Ratusan peserta menghadiri kegiatan Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang membahas konsep Islam Berkemajuan dalam momentum Ramadhan.Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” pada Rabu (04/03/2026). Kegiatan ini menghadirkan ratusan peserta dari berbagai unsur organisasi dan masyarakat. Agenda tersebut menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang tetap berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Konsep Islam Berkemajuan Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Integrasi Nilai Agama dan Ilmu Pengetahuan Lebih lanjut, Dalilah menegaskan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat Islam mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Membangun Sikap Moderat dan Integritas Dalilah juga menyampaikan bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ramadhan sebagai Momentum Refleksi Menurutnya, bulan Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Nilai Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menilai kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mampu mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat serta relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. *) Penulis : Faqih *) Editor : Satria

Ajang Bukber Sering Bikin Minder? Psikolog UMM Ungkap Cara Hadapi Social Comparison Saat Reuni

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Buka bersama (bukber) yang semestinya menjadi ruang hangat untuk menyambung silaturahmi, tak jarang berubah menjadi arena perbandingan sosial. Obrolan seputar karier, bisnis, studi, hingga status pernikahan sering kali membuat sebagian orang merasa minder dan mempertanyakan posisi hidup mereka sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa rendah diri tersebut bukan muncul karena acara bukbernya, melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda. Hal ini memicu upward social comparison, yaitu kondisi saat seseorang membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih unggul. “Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, secara tidak sadar kita membandingkan diri kita. Responnya bisa berupa perasaan iri, cemas, hingga minder,” terang Atika, Kamis 5 Maret 2026. Menurut Atika, dorongan perbandingan ini terasa lebih kuat saat bertemu teman lama, seperti rekan SMA atau kuliah. Adanya sejarah dan titik awal yang sama membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Seseorang cenderung merasa posisi hidupnya seharusnya tidak jauh berbeda dengan teman seangkatannya. Padahal, Atika menegaskan bahwa setiap individu memiliki ritme perkembangan yang unik. “Meskipun perasaan minder itu normal, kita harus mampu memaknainya secara proporsional. Membandingkan diri dengan yang lebih sukses sebenarnya bisa menjadi motivasi, asalkan tidak menjatuhkan harga diri,” jelasnya. Atika juga menyoroti peran media sosial yang sering memperburuk kondisi ini. Konten yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan kecil kesuksesan yang tidak merepresentasikan realitas secara utuh. Terlalu sering mengamati kehidupan orang lain secara dangkal terbukti dapat menurunkan self-esteem seseorang. Untuk tetap percaya diri saat bukber, Atika menyarankan agar individu mulai fokus pada pengembangan diri sendiri. Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri menuliskan perkembangan pribadi yang telah dicapai, sekecil apa pun itu. “Penting untuk menyadari bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme yang berbeda. Jangan biarkan standar orang lain merusak kebahagiaan silaturahmi Anda,” pungkasnya.(edr)

Aisyiyah Jatim Ajak Umat Hadirkan Islam yang Kontekstual

Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang menekankan pentingnya menghadirkan ajaran Islam secara kontekstual tanpa meninggalkan prinsip akidah dan akhlak. Tagar.co – Konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah mendorong umat Islam menghadirkan ajaran agama secara kontekstual tanpa meninggalkan prinsip dasar akidah dan akhlak. Hal itu mengemuka dalam Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (4/3/2026). Hadir sebagai pembicara utama, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag. Dia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan menekankan pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan sunah, sekaligus terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah di hadapan ratusan peserta. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong integrasi antara spiritualitas dan kemajuan intelektual. Menurutnya, ajaran agama tidak boleh dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Baca Juga:  Ribuan Mahasiswa Siap Ramaikan KKI dan Abdidaya Ormawa 2025 di UMM “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Sikap Moderat Lebih jauh, Dalilah menegaskan bahwa semangat Islam Berkemajuan juga mendorong umat Islam untuk membangun sikap moderat, menjunjung tinggi integritas moral, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia menilai bulan Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk meneguhkan nilai-nilai tersebut, tidak hanya dalam ibadah personal, tetapi juga dalam sikap dan tanggung jawab sosial sehari-hari. “Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Wakil Rektor V Universitas Muhammadiyah Malang Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si. (kedua dari kanan) menyerahkan cenderamata kepada Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., dalam Silaturahmi ‘Aisyiyah Jawa Timur di UMM, Rabu (4/3/2026). (Tagar.co/Humas UMM) Ruang Refleksi Spiritual Sementara itu, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Baca Juga:  Jiwa Al-Maun Vs Jiwa Kapitalisme “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” ujarnya. (#)

Psikolog UMM: Rasa Minder Saat Bukber Dipicu Perbandingan Sosial

  pwmu.co – Fenomena rasa minder saat buka puasa bersama (bukber) ternyata lebih dipicu oleh kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian teman, bukan karena kegiatan bukber itu sendiri.Hal tersebut dijelaskan oleh dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., yang menilai bahwa perasaan minder sering muncul ketika seseorang bertemu kembali dengan teman lama yang memiliki progres kehidupan berbeda. Menurutnya, dalam situasi seperti itu seseorang tanpa sadar melakukan upward social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap memiliki pencapaian lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya pada 4 Maret kepada Tim Humas UMM. Perbandingan dengan Teman Lama Lebih Personal Lebih lanjut, Atika menjelaskan bahwa dorongan untuk membandingkan diri akan semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama, seperti teman SMA atau teman kuliah. Hal ini terjadi karena adanya faktor kemiripan latar belakang yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Banyak orang menganggap bahwa mereka memiliki titik awal kehidupan yang sama, sehingga secara tidak sadar menjadikan pencapaian teman sebagai tolok ukur keberhasilan diri saat ini. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama,” jelasnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perasaan minder dalam situasi sosial sebenarnya merupakan hal yang normal. Secara alami manusia memang memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri guna mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini. Perbandingan Sosial Tidak Selalu Berdampak Negatif Menurut Atika, proses membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu membawa dampak buruk. Dalam beberapa kondisi, hal tersebut justru dapat menjadi sumber motivasi untuk berkembang. Melihat pencapaian orang lain yang lebih tinggi dapat memicu semangat untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, menyadari bahwa masih banyak orang yang menghadapi tantangan lebih berat juga dapat menumbuhkan rasa syukur. Selama dimaknai secara proporsional, perbandingan sosial justru bisa membantu seseorang memahami perjalanan hidupnya dengan lebih bijak. Media Sosial Memperkuat Perasaan Minder Namun demikian, Atika juga mengingatkan bahwa media sosial sering kali memperkuat kecenderungan seseorang untuk melakukan perbandingan sosial. Menurut berbagai riset, semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain melalui media sosial, maka semakin rendah tingkat self-esteem yang dimiliki. Hal ini terjadi karena konten yang ditampilkan di media sosial umumnya hanya menampilkan potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak sepenuhnya merepresentasikan realitas yang sebenarnya. “Konten di media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang, sehingga orang lain mudah merasa tertinggal jika tidak memaknainya secara bijak,” ujarnya. Cara Mengatasi Rasa Minder Saat Bertemu Banyak Orang Untuk menjaga kepercayaan diri saat menghadiri pertemuan sosial seperti buka puasa bersama, Atika menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada pencapaian orang lain yang terlihat lebih tinggi. Ia mendorong setiap orang untuk melihat perjalanan hidup secara lebih proporsional serta mengalihkan energi pada pengembangan diri. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai dalam hidup. Cara ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap individu bertumbuh dengan waktu dan ritme yang berbeda. Jika perasaan overthinking berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, Atika menegaskan bahwa mencari bantuan profesional juga merupakan langkah yang bijak.

Ramadhan Berkemajuan Disuarakan di UMM, Aisyiyah Jatim Tekankan Integritas Umat

MALANG | JATIM1NEWS.COM: Dihadiri oleh ratusan audiens, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” pada Rabu, 04 Maret 2026. Agenda ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat dan relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.(Ans)