Tak Perlu Minder Saat Bukber, Psikolog UMM Ingatkan Setiap Orang Punya Ritme Hidup Berbeda

Buka bersama yang semestinya menjadi ruang silaturahmi kerap berubah menjadi arena perbandingan sosial ketika obrolan tentang karier, bisnis, studi, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisinya sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa minder bukan muncul karena bukbernya, melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda, sehingga tanpa sadar seseorang melakukan upward social comparison saat melihat pencapaian orang lain yang dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 04 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama karena adanya faktor kemiripan yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau teman kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama, sehingga secara tidak sadar dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Semakin besar rasa kemiripan yang dirasakan, semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama. Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Lebih lanjut, Atika menegaskan bahwa proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses bisa menjadi sumber motivasi untuk berkembang, sementara melihat orang dengan capaian berbeda juga dapat menumbuhkan rasa syukur dan memperkuat kepercayaan diri, selama individu mampu memaknainya secara proporsional. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki, padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk tetap percaya diri saat bertemu banyak orang, dosen psikologi tersebut menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang, serta membiasakan diri menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme berbeda. Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menekankan bahwa bantuan profesional selalu tersedia.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Santri PPI-AMF Ubah Limbah Jagung Jadi Produk Ramah Lingkungan, Raih Medali Nasional

Tiga siswa kreatif dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) berhasil menciptakan solusi inovatif untuk mengatasi limbah pertanian sekaligus meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Melalui produk bernama Bonggol Arum, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim berhasil mengolah bonggol jagung menjadi biochar aromatik yang fungsional. Perwakilan tim, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, menjelaskan bahwa ide pembuatan Bonggol Arum berawal dari pengamatan terhadap melimpahnya limbah pertanian di Kabupaten Malang. Sebagai salah satu sentra jagung terbesar di Jawa Timur, wilayah ini menghasilkan sekitar 51 ribu ton bonggol jagung yang sering kali dibuang atau dibakar oleh petani. Para santri melihat kondisi tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang pemanfaatan limbah biomassa yang belum optimal. “Di sisi lain, kualitas udara dalam ruangan seperti bau apek dan kelembapan sering menjadi masalah kesehatan pernapasan,” ujar Farrell dalam wawancara pada 2 Maret lalu. Berangkat dari permasalahan itu, tim AMF menghadirkan solusi berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah bonggol jagung melalui proses pirolisis terkendali. Proses ini menghasilkan biochar berpori luas yang efektif menyerap polutan. Berbeda dengan produk desikan sintetis di pasaran yang berpotensi beracun dan menambah sampah plastik, Bonggol Arum dirancang lebih aman dan berkelanjutan. Produk ini memiliki inovasi 3-in-1 multi action, yakni menyerap bau tidak sedap, mengontrol kelembapan ruangan, serta menyerap polutan udara ringan seperti amonia dan etanol. Farrell menjelaskan, proses pembuatan dimulai dengan pirolisis bonggol jagung kering pada suhu 300–600 derajat Celcius selama 1 hingga 4 jam untuk menghasilkan biochar padat. Setelah itu, biochar didinginkan dengan cepat dan dibersihkan. Sementara itu, pewangi alami dibuat dengan merebus bahan organik seperti kayu manis, serai, atau daun jeruk selama 20–30 menit. Larutan tersebut kemudian ditambahkan etanol food grade untuk mengikat aroma, lalu disaring hingga jernih. Pada tahap akhir, sebanyak 100 gram biochar dicampur dengan 20–30 mililiter ekstrak pewangi. Campuran tersebut didiamkan dalam wadah tertutup selama 24–48 jam agar aroma terserap optimal. Selanjutnya, bahan dikeringkan kembali pada suhu 40–50 derajat Celcius sebelum dikemas dalam kantung teh dan pouch kain goni. Inovasi ini juga berhasil mengantarkan tim SMA AMF meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Olympicad VIII yang diselenggarakan di Makassar pada Februari 2026, tim Bonggol Arum berhasil meraih medali perak dengan nilai 84,7 dan menempati peringkat kedelapan. Guru pendamping tim, Rachmadanti Chairatul Nisa, mengaku bangga atas capaian tersebut. Selama proses pengembangan, Rachmadanti memberikan berbagai pendampingan, mulai dari validasi ide dan perumusan solusi, penyusunan proposal, hingga proyeksi keuangan. Ia juga membimbing tim dalam pembuatan prototipe produk, penyusunan pitching deck, pelatihan public speaking, serta memberikan motivasi selama proses kompetisi. “Saya sangat bangga dengan capaian tim ini. Mereka tidak hanya mampu melihat persoalan limbah bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi juga berhasil mengolahnya menjadi produk inovatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Rachmadanti Chairatul Nisa. Ia menjelaskan bahwa selama proses pengembangan, tim mendapatkan pendampingan secara bertahap. Mulai dari validasi ide dan perumusan problem solution, penyusunan proposal penelitian, hingga perhitungan proyeksi keuangan produk. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan riset yang dilakukan para santri mampu melahirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Ibadah Bukan Transaksi. Safari Ramadan di RSU UMM Sentil Etika Tenaga MedisIbadah Bukan Transaksi. Safari Ramadan di RSU UMM Sentil Etika Tenaga Medis

Komitmen meneguhkan nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan melalui Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama dan diikuti oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. Agenda tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga ruang refleksi bagi institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan dengan persoalan kemanusiaan. Ramadan dimaknai sebagai momentum menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, dan meluruskan orientasi pengabdian. Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional. Ia menyampaikan pesan tersebut melalui kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan. “Saya ingin mengangkat kisah seorang pemuda yang mencoba ‘menguji’ makna sedekah setelah mendengar tausiyah seorang ustaz. Karena dorongan ingin membuktikan kebenaran secara cepat, ia menyedekahkan seluruh uang yang dimilikinya dengan harapan balasan akan datang seketika. Namun yang ia rasakan justru kegelisahan, karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya Menurutnya, ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika seseorang beramal hanya demi imbalan cepat, maka yang muncul adalah kekecewaan. Sebaliknya, jika amal dilakukan sebagai bentuk kepatuhan dan penghambaan, ketenangan akan hadir tanpa perlu menunggu balasan. Ramadan, kata dia, mengajarkan proses itu secara bertahap melalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Tahap awal adalah kesadaran normatif bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap yang lebih matang, seseorang mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa tidak dipandang sebagai privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini, menurutnya, sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menambahkan, kepatuhan bukan bentuk kelemahan, melainkan fondasi karakter yang mencegah penyalahgunaan wewenang. Di rumah sakit, sikap patuh pada nilai dan etika menjadi penyangga profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Zen juga menekankan bahwa ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif dan preventif. Artinya, ajaran tersebut tidak hanya mengatur batasan benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Dalam konteks rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, dan kepercayaan publik. Karena itu, Ramadan harus menjadi ruang evaluasi agar profesionalisme berjalan seiring dengan integritas spiritual. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Ia menegaskan bahwa takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi, termasuk di bidang pendidikan dan layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran, baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Safari Ramadan UMM Tekankan Ramadan Jadi Laboratorium Etika, Bukan Sekedar Tradisi Semata

Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang pada 24 Februari lalu. Mengusung tema “Ramadhan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial”, giat ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. yang menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan sistematis untuk mengendalikan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap kekuasaan dan kenikmatan dunia. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, menurutnya, yang seharusnya terbakar bukan hanya dosa, melainkan juga keserakahan manusia. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah awal manusia sejak Nabi Adam, yang jatuh akibat godaan keabadian dan kekuasaan. Dalam perspektif itu, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual yang terus diulang setiap tahun agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar lapar dan haus. Orang yang makan atau minum karena lupa tetap sah puasanya. Artinya, esensi puasa bukan pada rasa lapar, tetapi kemampuan mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri pasti jatuh baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa,” ujarnya. Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian umat yang memahami ibadah secara kaku tanpa membuka ruang ijtihad pada aspek instrumental. Ia mencontohkan dinamika penentuan awal Ramadan di lingkungan Muhammadiyah yang bertransformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan kalender hijriah global tunggal. Menurutnya, perubahan metode tersebut bukan inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan, tegasnya, hanya berlaku pada instrumen, sementara substansi ibadah mahdhah tetap merujuk pada tuntunan Nabi Muhammad. Ia juga memaparkan tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani berkaitan dengan pengendalian fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sedangkan puasa ruhani berorientasi pada kedekatan spiritual dengan Allah. “Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, Allah tidak memiliki kepentingan dengan lapar dan dahaganya,” tegasnya. Tema Safari Ramadan dinilai relevan bagi dunia akademik yang kerap berada di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang mudah melahirkan kesombongan akademik. Melalui kegiatan ini, kampus menegaskan diri bukan hanya sebagai ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tempat mahasiswa dan akademisi belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa, kerakusan jabatan, serta pengabaian terhadap sesama. Pada akhirnya, Ramadan diposisikan bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama takbir Idulfitri, melainkan laboratorium etika yang melatih manusia agar tidak terjatuh pada nista. Safari Ramadan menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Tarawih 36, 20 atau 11? Akademisi UMM: Konsekuensi Logis Perbedaan Metodologi

MALANG POST – Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Tak jarang, perbedaan angka seolah menjadi tolok ukur sah atau tidaknya ibadah. Padahal, di balik variasi tersebut tersimpan khazanah ijtihad yang panjang, argumentatif dan kaya dalam tradisi fikih Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan. Bahwa perbedaan itu bukan bentuk pertentangan. Melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam. “Perbedaan jumlah rakaat tarawih terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, ijma’ dan qiyas. Al-Qur’an memang memerintahkan salat melalui ayat-ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih.” “Karena itu, hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas terhadap ayat-ayat yang bersifat global. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, maka perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan,” ujarnya 24 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih jauh, Tanzil sapaan akrabnya menjelaskan. Secara historis umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode istinbat hukum berbeda. Sehingga melahirkan variasi praktik yang sama-sama memiliki landasan. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk pada praktik penduduk Madinah. Sementara itu, Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung menetapkan 20 rakaat dengan dasar hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafat Nabi. Sedangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat dengan merujuk pada hadis Aisyah tentang praktik salat malam Rasulullah. “Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan.” “Riwayat muttafaq ‘alaih itu menjelaskan bahwa Nabi salat empat rakaat dengan panjang dan kekhusyukan yang luar biasa. Lalu empat rakaat berikutnya dengan kualitas serupa.” “Kemudian ditutup tiga rakaat witir. Dari sinilah dipahami formasi 4-4-3 yang menjadi dasar praktik 11 rakaat di kalangan Muhammadiyah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail. Karena itu, tarawih tidak terlepas dari witir sebagai penutup salat malam. Variasi seperti 2-2-2-2-1 atau 4-4-3 merupakan bentuk teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Dalam beberapa riwayat, Nabi juga pernah melaksanakan witir sembilan rakaat atau dengan formasi lainnya. Dalam perspektif qiyas, karena salat malam tidak dibatasi jumlahnya, maka komposisi rakaat tarawih dipahami secara fleksibel selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip dasar syariat. “Yang menjadi persoalan justru ketika suatu amalan tidak memiliki dalil, atau dalilnya lemah bahkan maudhu’. Itu yang harus dihindari. Karena itu, umat Islam seharusnya tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai sumber perpecahan.” “Keragaman tersebut menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam. Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah bukan perpecahan, melainkan kekayaan dalam memahami dalil,” tegasnya. Pada akhirnya, Tanzil menekankan bahwa esensi tarawih bukan terletak pada angka, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa semangat qiyamul lail tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan usai, sebab salat malam merupakan sunnah yang dicontohkan Nabi sepanjang tahun. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mahasiswa KKN Kelompok 10 UMM, Pasang Papan Edukasi “Waktu Urai Sampah”

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Upaya meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat terus digalakkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) periode 2026. Melalui langkah inovatif, tim mahasiswa memasang papan edukasi bertajuk “Waktu Urai Sampah” di Dusun Wiyu Desa Wiyurejo Kecamatan Pujon. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman visual kepada warga mengenai bahaya jangka panjang limbah terhadap lingkungan desa. Inisiatif ini dijalankan oleh Siti Nurhaliza (Ilmu Pemerintahan), Aswin Wiranata (Teknik Sipil), dan Aurelia Daneilla Feriska Putri (Pendidikan Bahasa Inggris). Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Amaliah Nur Adibah, M.P.W.K., program ini menitikberatkan pada penguatan literasi lingkungan. “Kami ingin masyarakat menyadari bahwa sampah yang dibuang hari ini akan berdampak hingga ratusan tahun ke depan,” ujar Amaliah menekankan pentingnya pemahaman konsekuensi ekologis jangka panjang. Papan edukatif tersebut berfungsi sebagai pengingat permanen dengan menampilkan data ilmiah mengenai durasi penguraian berbagai jenis limbah secara konkret. Informasi yang disajikan mencakup botol plastik yang membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai, kaleng minuman selama 200 tahun, hingga styrofoam yang dikategorikan tidak dapat terurai. Koordinator KKN Kevin Dwiky Kurniawan menjelaskan bahwa visualisasi ini diharapkan menjadi bahan perenungan warga untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Kehadiran papan di ruang terbuka memungkinkan pesan lingkungan terus terlihat, sehingga secara perlahan membentuk kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah,” tambahnya. ​Kepala Desa Wiyurejo Mufid Farid, S.H., turut mengapresiasi kegiatan ini karena dinilai mampu memperkuat pemahaman masyarakat secara praktis. “Harapannya, masyarakat tidak hanya mengetahui, tetapi juga menerapkan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab,” ungkap Mufid. Melalui pemasangan papan ini, Desa Wiyurejo diharapkan bertransformasi menjadi desa sadar lingkungan yang lebih bijak. ​Mahasiswa juga mengajak warga mulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah nyata pasca-edukasi. Seluruh dokumentasi kegiatan pengabdian ini dapat dipantau masyarakat luas melalui akun Instagram dan TikTok @kknberdampak.10wiyurejo sebagai bentuk transparansi publikasi digital. (imm/adv/lim)

Hadirkan Inovasi Berkelanjutan, KKN UMM Sasar Solusi Riil Masyarakat

Kota Malang, Bhirawa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi yang berdampak nyata. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 2026, ribuan mahasiswa diterjunkan bukan sekadar untuk menjalankan rutinitas, melainkan membawa solusi konkret atas persoalan di desa hingga ke level internasional. Puncak dari program ini ditampilkan dalam pameran produk dan inovasi mahasiswa KKN yang digelar Rabu (25/2) kemarin. Sebanyak 450 mahasiswa yang terbagi dalam 17 kelompok memamerkan hasil pendampingan masyarakat, termasuk capaian membanggakan dari kelompok pengabdian internasional di Penang, Malaysia. Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa pascapandemi, UMM mengembalikan model KKN berbasis tinggal bersama masyarakat (live-in). Namun, standar yang ditetapkan kini jauh lebih tinggi dengan prinsip “KKN Berdampak”. “Program KKN harus memberikan kontribusi yang tidak mungkin ada jika mahasiswa tidak hadir di sana. Jadi bukan sekadar mengajar atau menjadi panitia lomba, tetapi harus menghadirkan sesuatu yang baru, baik itu teknologi tepat guna maupun penguatan ekonomi lokal,” tegas Prof. Salis. Ia menambahkan, kampus kini mulai menyusun data dasar (baseline) pengembangan desa agar program tidak mangkrak setelah mahasiswa pulang. Targetnya, dalam tiga hingga lima tahun ke depan, terjadi perubahan struktural di lokasi KKN. Mahasiswa periode berikutnya akan melanjutkan estafet solusi yang sudah dirintis, bukan memulai dari nol. Beberapa karya nyata yang dihasilkan antara lain optimalisasi sistem irigasi berbasis partisipasi warga untuk efisiensi distribusi air pertanian. Di sektor pariwisata, mahasiswa melakukan revitalisasi Kampung Warna-Warni Jodipan melalui pelatihan bahasa asing bagi warga demi menyambut wisatawan mancanegara. Tak hanya di dalam negeri, pengabdian lintas negara dilakukan di Malaysia dengan menyasar anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Di sana, mahasiswa memberikan penguatan literasi dan motivasi pendidikan agar anak-anak migran tetap memiliki akses belajar yang layak. Inovasi mahasiswa ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Malang. Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Malang, Dr. Ir. Ricky Meinardi, S.T., M.T., menyebut pola KKN UMM sebagai model pengabdian ideal. “Mahasiswa tidak hanya menjalankan program, tapi memberi solusi atas problem desa. Kami berharap sinergi ini diperkuat agar inovasi mahasiswa benar-benar memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan Kabupaten Malang secara keseluruhan,” ujar Ricky. [mut.wwn]

Cegah Komplikasi Kehamilan, Mahasiswa UMM Ciptakan Aplikasi NEOSENTIA

Bisnis.com, MALANG —Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan aplikasi NEOSENTIA: Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System yang dirancang sebagai pendamping ibu hamil berbasis artificial intelligence yang terhubung langsung dengan tenaga kesehatan serta menggunakan pendekatan data ilmiah, Ketua tim UMM, Vera Miftakul Rahma Kamal, mahasiswa Program Studi Kedokteran, menjelaskan NEOSENTIA merupakan sistem deteksi risiko maternal berbasis AI yang bersifat non-invasif dan dirancang untuk mendukung pemantauan mandiri selama masa kehamilan secara proaktif. “Platform ini mengintegrasikan data perangkat wearable, laporan gejala dari pengguna, serta rekam medis elektronik sehingga mampu melakukan analisis risiko secara berkelanjutan,” katanya, Selasa (24/2/2026). Melalui sistem tersebut, kata dia, potensi komplikasi kehamilan dapat terdeteksi lebih dini sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi secara tepat waktu. Desain multibahasa yang diusung juga memperluas akses penggunaan di berbagai wilayah dan latar belakang pengguna. Selain itu, sistem berbasis website memungkinkan tenaga medis memantau kondisi pasien secara terintegrasi dan real time. Inovasi ini, kata dia,  dinilai relevan dengan upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak, terutama dalam menekan risiko komplikasi kehamilan melalui pendekatan teknologi preventif. Bagi Rahma, pengalaman tampil di forum internasional memberikan pembelajaran penting tentang makna kompetisi yang sesungguhnya. “Kami belajar bahwa kompetisi bukan sekadar soal gengsi atau kemenangan, tetapi tentang keberanian keluar dari zona nyaman, bertukar perspektif dengan mahasiswa dunia, dan terus berkembang,” katanya. Dosen pembimbing, Desy Andari, menilai capaian tersebut menjadi bukti kesiapan mahasiswa UMM bersaing secara global sekaligus menunjukkan kualitas ekosistem akademik yang mendukung lahirnya inovasi berdampak. Dia  berharap inovasi NEOSENTIA dapat terus dikembangkan menuju tahap implementasi nyata di layanan kesehatan serta dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Karya tersebut berhasil meraih medali perak kategori kesehatan pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang diselenggarakan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Kuala Lumpur, Malaysia. Kompetisi ilmiah internasional yang digelar oleh Centre for Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM) UPM pada 14–15 Februari 2026 ini menjadi wadah kolaborasi riset dan inovasi kewirausahaan mahasiswa dari berbagai negara. Sebanyak 100 tim finalis dari delapan negara berhasil melaju ke babak akhir, yakni Indonesia, Malaysia, Kazakhstan, Nigeria, Suriah, Brunei Darussalam, Somalia, dan Thailand. “Kompetisi tersebut melalui proses seleksi yang ketat. “International Student Competition atau ISC merupakan kompetisi ilmiah internasional yang dimulai dari seleksi abstrak, dilanjutkan pengiriman paper lengkap, hingga presentasi final secara langsung di hadapan dewan juri,” ujar Rahma. Tim UMM terdiri atas empat mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Vera Miftakul Rahma Kamali (Kedokteran), Wildan Hidayatullah (Farmasi), Hawa Restu Dwinanta (Pendidikan Bahasa Inggris), serta Khoirul Umar (Ilmu Komunikasi). Kolaborasi multidisipliner tersebut menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya kuat secara konsep ilmiah, tetapi juga matang dari sisi komunikasi, implementasi, hingga keberlanjutan.