Bukber Jadi Ajang Membandingkan Diri dengan Orang Lain? Ini Penjelasan Psikolog UMM

Malangpariwara.com – Kegiatan buka puasa bersama yang sejatinya menjadi momen mempererat hubungan sering kali tanpa disadari berubah menjadi ruang untuk membandingkan diri dengan orang lain. Obrolan seputar karier, usaha, pendidikan, hingga pernikahan dapat memicu sebagian orang untuk menilai kembali posisi dan pencapaian dirinya dibandingkan dengan orang lain. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa minder bukan disebabkan oleh kegiatan bukber itu sendiri. Perasaan tersebut muncul ketika seseorang bertemu teman dengan perkembangan hidup berbeda sehingga tanpa sadar melakukan upward social comparison. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 04 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Bertemu Teman Lama Berikan Dorongan Untuk Membandingkan Diri Ia menambahkan bahwa dorongan membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama. Faktor kesamaan latar belakang membuat orang merasa memiliki titik awal yang sama sehingga menjadikan teman sebagai tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Teman sekolah atau kuliah sering dianggap memiliki perjalanan awal yang serupa sehingga memicu perbandingan yang terasa lebih personal. Semakin besar rasa kemiripan tersebut, semakin besar pula kecenderungan menjadikannya sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri, baik dari segi karier, relasi, maupun finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama. Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Menurutnya, proses membandingkan diri tidak selalu berdampak negatif. Jika dimaknai secara sehat, perbandingan tersebut justru dapat memotivasi seseorang untuk berkembang sekaligus menumbuhkan rasa syukur. Media Sosial Berpengaruh pada Kecenderungan Membandingkan Diri Atika juga menyoroti peran media sosial yang sering memperkuat kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Paparan kehidupan orang lain secara terus-menerus dapat memengaruhi cara individu menilai dirinya. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki. Padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk menjaga kepercayaan diri saat bertemu banyak orang, ia menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada pencapaian orang lain. Penting untuk melihat perjalanan hidup secara lebih proporsional serta memusatkan energi pada pengembangan diri. Ia juga menyarankan kebiasaan sederhana seperti menuliskan beberapa perkembangan positif yang telah dicapai sebagai pengingat proses pertumbuhan pribadi. Jika perasaan cemas atau overthinking berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi solusi yang tepat. (Djoko W)
Ramadan Berkemajuan Disuarakan di UMM, Aisyiyah Jatim Tekankan Integritas Umat

Sketsamalang.com – Dihadiri oleh ratusan audiens, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” Rabu (4/3/2026). Agenda ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat dan relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.(*)
Bukber Tak Perlu Minder, Psikolog UMM: Tiap Orang Punya Ritme Hidup Berbeda

MALANG POST – Buka bersama yang semestinya menjadi ruang silaturahmi kerap berubah menjadi arena perbandingan sosial ketika obrolan tentang karier, bisnis, studi, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisinya sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan. Bahwa rasa minder bukan muncul karena bukbernya. Melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda, sehingga tanpa sadar seseorang melakukan upward social comparison saat melihat pencapaian orang lain yang dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya. Tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita.” “Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 4 Maret 2026 pada Tim Humas UMM yang disampaikan ke Malang Post. Ia menambahkan bahwa dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama. Lantaran ada faktor kemiripan yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau teman kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama. Sehingga secara tidak sadar, dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Semakin besar rasa kemiripan yang dirasakan, semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama.” “Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Lebih lanjut, Atika menegaskan bahwa proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses bisa menjadi sumber motivasi untuk berkembang. Sementara melihat orang dengan capaian berbeda juga dapat menumbuhkan rasa syukur dan memperkuat kepercayaan diri, selama individu mampu memaknainya secara proporsional. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial.” “Semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki, padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk tetap percaya diri saat bertemu banyak orang, dosen psikologi tersebut menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang. Serta membiasakan diri menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme berbeda. Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menekankan bahwa bantuan profesional selalu tersedia.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
UMM Gelar Buka Bersama Media, Rektor: Kampus Tumbuh Bersama Insan Pers

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat hubungan dengan insan pers melalui kegiatan temu media dan buka bersama yang digelar pada Kamis, (5/32026). Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU UMM ini dihadiri oleh berbagai media lokal, nasional, influencer, serta media persyarikatan Muhammadiyah. Sejumlah media mainstream dan media persyarikatan yang hadir di antaranya PWMU.CO, Suara Muhammadiyah, Maklumat.id, hingga Majelistabligh.id. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik beserta jajaran wakil rektor. Acara diawali dengan kultum Ramadan yang memberikan penguatan spiritual bagi para tamu undangan sebelum memasuki sesi dialog dan silaturahmi media. Dalam sambutannya, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menegaskan bahwa hubungan antara UMM dan media bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan tumbuh secara alami seiring kebutuhan kampus untuk hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, sejak lama UMM menyadari pentingnya media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan gagasan, aktivitas, serta kontribusi kampus kepada publik. “UMM itu tumbuh bersama media dan insan pers. Ini semua tidak disetting, tetapi memang kebutuhan kampus agar dikenal orang, agar kita bisa memahami masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, melalui media, kampus juga dapat menangkap berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat sehingga dapat meresponsnya secara lebih peka. “Kampus harus memahami masyarakat, memiliki kepekaan terhadap apa yang dialami masyarakat. Kampus harus bisa merasakannya,” tambahnya. Prof. Nazaruddin Malik juga berbagi pengalaman terkait dunia jurnalistik. Ia mengaku pernah merasa cocok menjadi wartawan. Namun, ketika itu ia mendapatkan pesan dari mantan Rektor UMM Prof. Muhadjir Effendy. “Saya dulu sepertinya cocok menjadi wartawan. Tapi Prof. Muhadjir Effendy bilang, jangan jadi wartawan nanti seperti saya,” ujarnya sambil tersenyum, disambut tawa hadirin. Meski demikian, ia menilai bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini membuat fungsi jurnalistik menjadi semakin terbuka bagi banyak orang. Menurutnya, di era media sosial sekarang, hampir setiap orang dapat menjalankan fungsi kewartawanan dalam mendistribusikan informasi. “Sekarang semua orang bisa menjalankan fungsi wartawan karena media sosial hari ini sangat terbuka dan kompleks dalam mendistribusikan informasi,” jelasnya. Di akhir sambutannya, Rektor UMM juga mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam merespons berbagai dinamika global yang berkembang saat ini, terutama di bulan Ramadan. “Kita belajar menahan diri untuk tidak ikut perang. Perangnya di Iran, puasanya di Indonesia,” pungkasnya. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi silaturahmi UMM dengan media yang telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor Prof. Muhadjir Effendy. Selain mempererat hubungan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang dialog antara kampus dan insan pers dalam membangun ekosistem informasi yang sehat dan produktif.
UMM Perkenalkan Tagline Baru: Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda Buka Puasa Bersama Media pada Kamis (5/3/2026) di Aula Badan Administrasi Umum (BAU) UMM.Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara UMM dan insan pers sekaligus memperkenalkan tagline baru kampus, yakni “UMM Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak.” Acara diawali dengan kultum yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Fatoni. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya literasi dalam Islam. Menurutnya, perintah Iqra’ menjadi landasan bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi tradisi membaca, menulis, dan menyebarkan pengetahuan. “Wahyu pertama menunjukkan bahwa Islam adalah agama literasi. Karena itu, umat Islam didorong untuk terus belajar, memahami, dan menyebarkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan,” ujarnya. Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video bertajuk Wartawan di Hati UMM yang menggambarkan hubungan erat antara UMM dan para jurnalis yang selama ini turut mengawal perkembangan kampus. Dalam sambutannya, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menuturkan bahwa tradisi buka puasa bersama media sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor UMM sebelumnya, Prof. Muhadjir Effendy. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan hubungan antara kampus dan media. “UMM tumbuh bersama media dan insan pers. Kebutuhan untuk dikenal dan dipahami masyarakat itu bersifat natural, dan di situlah peran media menjadi sangat penting,” jelasnya. Menurutnya, dunia media saat ini juga mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya didominasi media arus utama, kini berkembang berbagai platform baru baik mainstream maupun non-mainstream dengan pola produksi informasi yang semakin beragam. Hal ini menuntut pengelola perguruan tinggi untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam membangun komunikasi publik. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan arah baru pengembangan UMM melalui tagline “UMM Kampus Inovasi Mandiri & Berdampak.” Tagline ini menegaskan komitmen UMM untuk tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Menutup sambutannya, Prof. Nazar mengajak seluruh pihak untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum muhasabah dan memperkuat nilai ketakwaan. Ia menekankan bahwa inti dari berbuat baik adalah bekerja dengan sepenuh hati tanpa didorong kepentingan pribadi atau golongan. “Jika ingin berbuat baik, bekerjalah sekeras mungkin dengan penuh keikhlasan, fokus pada tujuan bersama, dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Dengan cara itu, kita bisa memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. Melalui kegiatan ini, UMM berharap hubungan baik dengan media terus terjaga sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menyebarluaskan berbagai inovasi dan kontribusi kampus kepada masyarakat luas.(*)
Buka Bersama Media, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik Kenang Tradisi 25 Tahun sejak Zaman Prof Muhadjir Effendy

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempererat hubungan dengan insan pers melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025) pukul 15.30 WIB. Rektor Nazaruddin Malik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hubungan antara UMM dan insan pers telah terjalin sangat lama, bahkan lebih dari dua dekade. Tradisi buka bersama dengan media, sudah dimulai sejak masa kepemimpinan rektor sebelumnya, Muhadjir Effendy. “Kalau kita flashback ke belakang, pertemuan dengan teman-teman media seperti ini sudah dimulai sejak masa Rektor Prof. Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Menurut Nazaruddin Malik, hubungan antara universitas dan media memiliki peran strategis dalam membaca dan menyampaikan dinamika masyarakat. Di masa lalu, kata dia, media arus utama seperti media cetak menjadi sumber utama informasi publik. Namun saat ini perkembangan teknologi telah mengubah lanskap media secara signifikan. “Dulu kita semua mengamati media mainstream, terutama media cetak. Sekarang medianya berkembang sangat pesat, termasuk media digital dan media sosial yang membuat siapa saja bisa menjadi penyampai informasi,” jelasnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan pers tetap sangat penting sebagai mitra strategis bagi perguruan tinggi dalam menyampaikan gagasan, kritik, dan pemikiran akademik kepada masyarakat luas. Rektor juga menilai perguruan tinggi harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap kondisi masyarakat. Kepekaan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong perubahan besar dalam kehidupan bangsa. “Universitas harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Kepekaan itulah yang sering kali menjadi pemicu lahirnya perubahan,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Rektor Nazaruddin Malik juga menegaskan komitmen UMM untuk menjadi universitas berdampak, yakni kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Ia menjelaskan bahwa semangat tersebut harus dilandasi oleh nilai berbuat baik secara tulus tanpa didorong kepentingan pribadi maupun kelompok. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari hasrat untuk keuntungan pribadi atau golongan. Kita bekerja agar banyak orang merasakan manfaatnya,” ungkapnya. Menurutnya, semangat berbuat baik harus diwujudkan melalui kerja keras yang dilakukan dengan sepenuh hati, penuh konsentrasi, komitmen tinggi, serta dilandasi keikhlasan. “Kalau ingin berbuat baik, bekerjalah sekeras mungkin, dengan sepenuh hati, dengan orientasi pada tujuan dan manfaat bersama, serta hanya mengharap ridho Allah SWT,” tuturnya. Ia pun berharap kolaborasi antara UMM dan insan pers terus terjalin dengan baik, sehingga dapat melahirkan gagasan, inovasi, dan budaya baru yang mampu mendorong kemajuan bangsa. Kegiatan buka puasa bersama ini dihadiri jajaran wakil rektor, pimpinan struktural di lingkungan UMM, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media di Malang Raya. Suasana berlangsung hangat dan penuh keakraban sebagai ajang silaturahmi sekaligus refleksi bersama di bulan suci Ramadan.
UMM-Insan Media Bukber: Refleksi Silaturahmi Kampus dan Jurnalis

MALANG POST – Suasana hangat penuh keakraban terasa memenuhi aula Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat acara buka puasa bersama (bukber) insan media pada Kamis 5 Maret 2026. Kegiatan ini bukan sekadar ajang berbuka, melainkan momen silaturahmi serta refleksi panjangnya hubungan antara kampus dengan para jurnalis yang selama ini menjadi jembatan informasi antara kampus dan masyarakat. Dalam sambutannya, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa perkembangan kampus tidak bisa dipisahkan dari peran media. Media telah menjadi saluran penting untuk menyampaikan gagasan, inovasi, dan dinamika dunia perguruan tinggi kepada publik. “Niat baik menjalin komunikasi antara kampus dan media sudah berlangsung lama. Bahkan sejak era kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Muhadjir Effendy, hubungan dengan insan pers telah terbangun dengan baik,” ujar Nazaruddin. Ia menambahkan bahwa perubahan di dunia media turut merombak cara masyarakat mengakses informasi. Dahulu, arus utama berupa media cetak mendominasi; kini, siapa saja bisa memiliki platform sendiri dan menyebarkan informasi dengan mudah melalui teknologi. “Dulu kita mengenal media mainstream, terutama media cetak. Sekarang hampir setiap orang bisa memiliki platform sendiri untuk membagikan berita,” imbuhnya. Namun, bagi Nazaruddin, peran kampus tetap penting sebagai ruang refleksi sosial yang peka terhadap masalah-masalah masyarakat. Sejak dulu, kampus menjadi tempat lahirnya gagasan melalui forum-forum diskusi yang mendorong perubahan sosial. “Kampus adalah tempat bertemunya ide dan cita-cita untuk membangun bangsa yang lebih baik. Dari ruang-ruang diskusi di kampus lahir banyak pemikiran tentang perubahan sosial di Indonesia,” katanya. Nazaruddin juga menegaskan bahwa UMM tumbuh dan berkembang bersama media serta insan pers, yang selama ini menjadi penghubung informasi antara kampus dan publik. Melalui momentum buka puasa bersama ini, ia berharap hubungan yang erat antara perguruan tinggi dan media terus terjalin. Tujuannya adalah menghadirkan informasi yang konstruktif dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas, terutama dalam masa-masa penuh tantangan dan peluang seperti sekarang. Kegiatan hari itu diwarnai tawa, obrolan hangat, dan sharing pengalaman antara dosen, mahasiswa, serta rekan-rekan jurnalis. Suara riang anak-anak sekolah pekik di kejauhan, sementara para tamu membahas isu-isu aktual yang sedang berkembang, menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan media tetap relevan untuk membentuk wacana publik yang lebih manusiawi dan berimbang. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Prof Nazaruddin Malik Pimpin 4 Universitas Muhammadiyah, Strategi Berbagi Sumber Daya Jadi Kunci

JATIMTIMES – Kepercayaan besar datang kepada Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. Akademisi yang dikenal sebagai ekonom dan pengelola pendidikan tinggi ini kini memegang amanah memimpin empat perguruan tinggi Muhammadiyah di berbagai wilayah Indonesia. Situasi yang tidak lazim ini membuat namanya menjadi perbincangan di kalangan akademisi, karena jarang ada satu figur yang dipercaya memimpin beberapa universitas sekaligus. Saat ini, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang untuk periode 2024 hingga 2028. Namun kepercayaan terhadapnya tidak berhenti di kampus yang bermarkas di Malang tersebut. Ia juga resmi ditetapkan memimpin tiga perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Di kawasan timur Indonesia, ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Manado untuk periode 2025 sampai 2029. Amanah lain juga datang dari Universitas Muhammadiyah Kupang yang melantiknya sebagai rektor untuk periode 2025 hingga 2027. Sementara di wilayah Jawa Barat, ia juga dipercaya memimpin Universitas Muhammadiyah Indonesia di Bekasi untuk periode 2025 sampai 2029. Empat kampus dengan karakter wilayah yang berbeda kini berada dalam lingkup kepemimpinannya. Bagi Nazaruddin Malik, kepercayaan tersebut bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab besar yang tidak ringan. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan dirinya dipilih untuk memimpin beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut. Namun ia menduga keputusan itu berkaitan dengan pengalaman manajerial yang ia jalankan selama memimpin Universitas Muhammadiyah Malang. Menurutnya, kemungkinan besar pimpinan Muhammadiyah melihat praktik pengelolaan pendidikan yang telah berkembang di UMM dapat menjadi model untuk mempercepat perkembangan universitas Muhammadiyah di daerah lain. “Saya sendiri tidak tahu persis apa dasar menunjuk saya secara pribadi. Yang paling mungkin karena saya sedang menjadi rektor di UMM, sehingga praktik manajemen pendidikan yang diterapkan di sini bisa ditransfer ke kampus lain,” ujarnya, Kamis, (5/3/2026). Ia menilai pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah di beberapa daerah memang membutuhkan percepatan. Karena itu, dibutuhkan proses transfer pengalaman dan praktik baik yang sudah berjalan di kampus yang lebih mapan. Bagi Nazaruddin Malik, tugas tersebut bukan perkara sederhana. Mengelola satu universitas saja sudah menuntut energi besar, apalagi jika harus mendampingi beberapa kampus yang berada di wilayah berbeda dengan tantangan yang tidak sama. Karena itu ia memilih pendekatan berbagi sumber daya sebagai strategi utama. Dalam skema ini, ia tetap menjalankan tugas utama di Malang, sementara penguatan manajemen di kampus lain dilakukan dengan menempatkan sejumlah dosen dari UMM. Setiap universitas yang sedang didampingi biasanya ditempatkan satu atau dua dosen dari UMM. Para dosen tersebut tidak hanya mengajar, tetapi juga memegang peran strategis dalam pengelolaan kampus. Mereka ditugaskan sebagai sekretaris pelaksana rektor atau koordinator pelaksana rektor. Peran ini membuat mereka menjadi penghubung antara sistem manajemen yang dikembangkan di UMM dengan kebutuhan pengembangan di kampus tujuan. “Simbolisnya memang menempatkan orang. Tapi sebenarnya yang kita lakukan adalah mentransfer knowledge management. Jadi bagaimana sistem pengelolaan kampus yang berjalan di UMM bisa diterapkan di tempat lain,” kata Nazaruddin. Proses transfer pengetahuan manajemen ini menjadi inti dari strategi percepatan pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah. Melalui pendekatan tersebut, pengalaman pengelolaan akademik, tata kelola kelembagaan, hingga sistem pengembangan sumber daya manusia dapat dibagikan secara langsung. Namun tantangan terbesar yang ia hadapi bukan sekadar persoalan administratif. Setiap kampus memiliki karakter daerah yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan tidak bisa disamakan. Menurutnya, karakter sosial masyarakat di Malang berbeda dengan Bekasi yang berada di kawasan perkotaan besar dan dekat dengan pusat pemerintahan serta industri. Sementara itu, dinamika sosial di Manado memiliki latar budaya yang berbeda dengan masyarakat di Nusa Tenggara Timur, termasuk Kupang. Perbedaan karakter tersebut juga memengaruhi cara pengelolaan kampus, pola komunikasi dengan masyarakat, hingga strategi pengembangan institusi. “Karakter di daerah sangat berbeda. Karakter Malang berbeda dengan Bekasi, dan tentu berbeda lagi dengan Manado maupun Kupang. Itu tantangan yang cukup berat,” jelasnya. Selain faktor sosial dan budaya, kondisi organisasi Muhammadiyah di setiap daerah juga memengaruhi perkembangan perguruan tinggi yang dikelolanya. Ia menilai organisasi Muhammadiyah di beberapa wilayah masih dalam tahap penguatan, sehingga membutuhkan waktu untuk berkembang sekuat di Jawa Timur. Perbedaan tingkat kematangan organisasi tersebut turut memengaruhi kecepatan pengembangan kampus. Karena itu, strategi yang diterapkan juga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Meski menghadapi berbagai tantangan, Nazaruddin Malik melihat Muhammadiyah memiliki kekuatan organisasi yang cukup solid. Tradisi kepatuhan terhadap keputusan pimpinan membuat seluruh elemen organisasi biasanya bergerak bersama ketika ada program pengembangan yang ditetapkan. Dalam tradisi Muhammadiyah, prinsip taat asas menjadi pegangan. Ketika pimpinan pusat memberikan arahan mengenai arah pengembangan perguruan tinggi, maka seluruh unsur organisasi biasanya menjalankannya secara kolektif. Selain penguatan manajemen internal, Nazaruddin Malik juga mendorong kolaborasi akademik antar perguruan tinggi Muhammadiyah. Gagasan ini tengah didorong oleh Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai bagian dari integrasi jaringan kampus Muhammadiyah di Indonesia. Salah satu program yang sedang disiapkan adalah skema pertukaran mata kuliah atau transfer kredit antar kampus. Melalui skema ini, mahasiswa dari satu universitas Muhammadiyah dapat mengambil beberapa mata kuliah di kampus lain. Nilai dari mata kuliah tersebut nantinya tetap diakui oleh universitas asal mahasiswa. Dengan cara ini, mahasiswa dapat merasakan pengalaman akademik yang lebih luas tanpa harus berpindah universitas secara permanen. Tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, UMM juga mulai membuka peluang kerja sama akademik dengan perguruan tinggi nasional. Salah satu rencana yang sedang dipersiapkan adalah kolaborasi dengan Universitas Indonesia. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa UMM berkesempatan mengambil mata kuliah di Universitas Indonesia selama satu semester. Mata kuliah yang diambil nantinya akan diakui sebagai bagian dari kurikulum di UMM. Bagi Nazaruddin Malik, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat peningkatan kualitas pendidikan tinggi Muhammadiyah di berbagai daerah. Ia menyadari bahwa amanah memimpin beberapa universitas sekaligus bukan hal biasa. Namun baginya, yang terpenting adalah bagaimana perguruan tinggi yang didampingi dapat berkembang lebih cepat dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
Strategi ‘Out of The Box’ Prof Nazaruddin Malik Besarkan 4 Universitas Muhammadiyah

Malang (beritajatim.com) – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dipercaya untuk mengemban amanah sebagai rektor di empat perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Dalam kesempatan wawancara sosok ekonom senior menjelaskan strategi out of the box dalam mengemban amanah di PTM yang tersebar di berbagai penjuru nusantara. Menjalankan empat amanah sekaligus tentu mustahil dilakukan sendirian tanpa sistem yang kuat. Prof. Nazaruddin menjelaskan bahwa ia tetap berbasis di Malang, namun menempatkan representasi kuat di setiap kampus dampingan. “Format manajemennya adalah berbagi sumber daya. Di setiap universitas, saya menempatkan satu atau dua dosen UMM di sana. Mereka menjabat sebagai Sekretaris Pelaksana Rektor,” jelas Prof Nazaruddin pada beritajatim.com, Kamis (5/3/2026). Para dosen pilihan dari UMM ini berfungsi sebagai koordinator pelaksana di lapangan. “Ibaratnya, di UMM ini dapurnya. Menu-menu kebijakan dan standar mutunya digodok di sini, lalu diimplementasikan di sana oleh para sekretaris pelaksana tersebut,” tambahnya. Berdasarkan data yang dihimpun, Prof. Nazaruddin menjabat di empat kampus berbeda dengan rincian: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk periode 2024–2028. Universitas Muhammadiyah Manado pada periode 2025–2029. Universitas Muhammadiyah Kupang untuk periode 2025–2027. Kemudian Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI) Bekasi untuk periode 2025–2029. Situasi ini tergolong tidak lazim dalam birokrasi akademik nasional. Biasanya, satu figur hanya fokus memimpin satu institusi. Namun, kepiawaian Prof. Nazaruddin dalam mengelola manajemen pendidikan membuat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memberikan mandat khusus untuk melakukan akselerasi mutu di tiga kampus lainnya. Memimpin kampus di lokasi yang berbeda secara geografis dan kultural mendatangkan tantangan tersendiri. Karakter masyarakat di Bekasi yang urban dan dekat pusat pemerintahan tentu berbeda jauh dengan kultur di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau Sulawesi Utara. Selain faktor budaya, Prof. Nazaruddin menyoroti perbedaan tingkat kematangan organisasi Muhammadiyah di tiap daerah. Di Jawa Timur, struktur organisasi sudah sangat solid, yang memudahkan akselerasi universitas. Kondisi ini belum tentu sama di wilayah lain. “Tantangan terberat adalah karakter daerah dan perkembangan organisasi Muhammadiyah setempat yang belum sebagus di Jawa Timur. Itulah yang menentukan kecepatan proses pengembangan universitas tersebut,” tuturnya. Menariknya, Prof. Nazaruddin secara terbuka mengakui bahwa secara normatif-birokratis, memimpin empat kampus sekaligus mungkin menabrak aturan umum. Namun, dalam semangat dakwah dan kemajuan pendidikan Muhammadiyah, efisiensi menjadi prioritas utama. “Kalau di aturan (umum) mungkin tidak boleh ya. Tapi di Muhammadiyah, yang penting adalah bagaimana kita mendorong kemajuan. Hal-hal yang sifatnya birokratis terkadang bisa kita kesampingkan demi meningkatkan kualitas perguruan tinggi secara cepat,” tegasnya. Saat dikonfirmasi mengenai penunjukan beruntun ini, Prof. Nazaruddin mengaku bahwa mandat tersebut adalah tugas berat yang memerlukan strategi manajemen yang presisi. Ia menjelaskan bahwa alasan di balik penunjukan ini adalah upaya percepatan perkembangan kampus Muhammadiyah di daerah. “Mungkin ini adalah bagian dari knowledge transfer. Bagaimana praktik-praktik baik (best practices) dan manajemen pendidikan yang sudah mapan di UMM bisa diterapkan di tiga tempat tersebut,” ujar Prof. Nazaruddin. Ia menegaskan bahwa perannya bukan sekadar simbolis. Fokus utamanya adalah membawa standar kualitas UMM yang sudah dikenal sebagai salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia ke Manado, Kupang, dan Bekasi. Kepemimpinan lintas kampus ini juga membuka peluang emas bagi mahasiswa. Saat ini, PP Muhammadiyah tengah mendorong sistem di mana mahasiswa dari kampus-kampus tersebut bisa mengambil mata kuliah di UMM dan kreditnya diakui di kampus asal. Tak hanya internal Muhammadiyah, Prof. Nazaruddin juga membocorkan rencana kerjasama besar dengan Universitas Indonesia (UI). “Dalam waktu dekat, mahasiswa UMM diperbolehkan mengambil mata kuliah yang diminati di Universitas Indonesia selama satu semester, dan hasilnya akan diakui oleh UMM. Begitu pula sebaliknya,” jelasnya. Menanggapi isu adanya sentimen negatif atau rasa iri dari internal kampus setempat, Prof. Nazaruddin menanggapinya dengan santai. “Budaya di Muhammadiyah adalah Sami’na wa Atho’na (kami mendengar dan kami taat) terhadap instruksi pimpinan pusat demi kepentingan bersama,” katanya menutup pembicaraan. (dan/but)
UMM Perkuat Kemitraan dengan Media Lewat Buka Puasa Bersama di Kampus 3

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjalin kedekatan dengan kalangan media melalui kegiatan buka puasa bersama yang berlangsung di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (05/03/2025) sore. Acara ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan insan pers di Malang Raya. Rektor UMM, Nazaruddin Malik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hubungan antara UMM dan media telah terbangun sejak lama dan menjadi bagian penting dalam perjalanan perkembangan kampus. Tradisi berbuka puasa bersama dengan wartawan, menurutnya, telah berlangsung sejak masa kepemimpinan rektor sebelumnya. Ia menuturkan bahwa kegiatan tersebut telah berjalan lebih dari dua dekade, menandakan bahwa UMM tumbuh bersama dukungan berbagai pihak. Termasuk para jurnalis yang turut menyampaikan informasi mengenai berbagai aktivitas dan pemikiran akademik kepada masyarakat. Nazaruddin menjelaskan bahwa peran media dalam kehidupan masyarakat terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi. “Jika dahulu media cetak menjadi rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi, kini media digital dan media sosial semakin mendominasi arus penyebaran berita,” ujarnya. Posisi Strategis Pers Meski begitu, ia menilai keberadaan pers tetap memiliki posisi strategis. Terutama dalam menjaga kualitas informasi dan menyampaikan berbagai gagasan yang lahir dari lingkungan akademik kepada publik secara lebih luas. Menurutnya, perguruan tinggi juga dituntut memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Kepekaan tersebut diyakini dapat menjadi pendorong munculnya ide dan inovasi yang mampu memberikan solusi bagi kehidupan bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Nazaruddin juga menegaskan komitmen UMM untuk terus berkembang sebagai kampus yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan sebuah universitas tidak hanya diukur dari prestasi akademik. Tetapi juga dari sejauh mana kontribusinya dirasakan oleh masyarakat luas. Ia menambahkan bahwa semangat memberikan manfaat bagi orang banyak harus dilandasi dengan niat tulus tanpa dilatarbelakangi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi dasar dalam menjalankan berbagai program pengabdian dan pengembangan kampus. Melalui kegiatan buka puasa bersama ini, pihaknya berharap hubungan baik antara UMM dan media dapat terus terjaga. “Kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu menghadirkan gagasan, inovasi, serta budaya baru yang mendukung kemajuan masyarakat,” tandas Nazaruddin. Acara tersebut turut dihadiri para wakil rektor, pimpinan unit kerja di lingkungan UMM, tim Humas UMM, serta sejumlah wartawan dari berbagai media di Malang Raya. Suasana berlangsung hangat dan penuh keakraban, menjadikan kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi sekaligus refleksi bersama di bulan suci Ramadan. (Djoko W)