Ekosistem EBT UMM Dorong Peserta BTI 2026 Rancang Prototipe Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan

Ekosistem EBT UMM Dorong Peserta BTI 2026 Rancang Prototipe Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan pwmu.co –Ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dikembangkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi inspirasi bagi peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 dalam melahirkan inovasi teknologi kelistrikan. Salah satunya dirasakan Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang. Ia mengaku memperoleh banyak inspirasi dari fasilitas dan kepakaran dosen bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) UMM untuk mengembangkan purwarupa teknologi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Sebagai peserta binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Luthfi mengikuti pemusatan BTI di UMM pada 1–7 Juli 2026. Menurutnya, kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) binaan UMM di Sumber Maron memberikan pengalaman sekaligus ide baru dalam merancang teknologi kelistrikan bagi masyarakat. “Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Pakar-pakar UMM yang dihadirkan selama workshop juga sangat menarik, memberikan kami bekal keilmuan STEM yang nyata untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” tegasnya kepada Humas UMM, 6 Juli 2026. Terinspirasi dari pengalaman tersebut, Luthfi bersama timnya mengembangkan purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan slogan “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!”. Purwarupa tersebut dirancang sebagai solusi pemanfaatan energi terbarukan yang memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik dengan biaya relatif rendah dan ramah lingkungan. Selain menghasilkan energi listrik, inovasi itu juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) yang mampu memantau berbagai kondisi secara real time. Menurut Luthfi, sistem tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas pembangkit, memantau debit air, mendeteksi potensi banjir bandang, hingga mengidentifikasi kerusakan sistem secara otomatis. “Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real-time dari jarak jauh. Jadi, inovasi ini tidak sekadar memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, tetapi juga memastikan ekosistem alamnya tetap terjaga dengan aman,” urainya. Purwarupa tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam memperluas akses listrik di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menegaskan komitmen UMM dalam mendukung pengembangan talenta muda Indonesia melalui penyediaan fasilitas riset dan pembinaan inovasi. “UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup yang sesungguhnya bagi para pelajar. Kami sangat berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga tahap hilirisasi dan produksi nyata, sehingga kemandirian energi nasional benar-benar terwujud lewat tangan generasi penerus kita,” pungkasnya. Melalui ekosistem EBT yang dikembangkan di lingkungan kampus, UMM berharap dapat terus menjadi ruang belajar dan laboratorium inovasi yang mendorong lahirnya berbagai solusi teknologi berkelanjutan bagi masyarakat. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Ubah Paradigma ‘Horor’ Matematika, Mahasiswa Doktor UMM Gagas Model I-WARM demi Kesejahteraan Emosional Siswa

Maria Martini Aba, Mahasiswa Doktor Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. timesindonesia, MALANG – Selama puluhan tahun, matematika menduduki takhta ganda dalam dunia pendidikan: ia dipuja sebagai fondasi berpikir logis-analitis, namun di saat yang sama, ia menjadi subjek yang paling ditakuti di ruang kelas. Ruang ujian sering kali berubah menjadi panggung ketegangan emosional, di mana siswa merasa cemas, enggan bertanya, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Melihat fenomena yang terus berulang ini, Maria Martini Aba, seorang Mahasiswa Doktor Pendidikan di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan sebuah terobosan akademik. Melalui penelitian disertasinya, ia mencoba merombak cara pandang konvensional terhadap pembelajaran matematika yang selama ini terlalu berorientasi pada nilai angka. Berawal dari Kegelisahan Akademik di Ruang Kelas Perjalanan riset ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kegelisahan akademik dan pengalaman empiris Maria selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan matematika. Ia kerap menemui siswa yang sebenarnya memiliki potensi akademik luar biasa, namun mendadak “lumpuh” secara mental saat berhadapan dengan angka dan rumus. “Mereka merasa takut melakukan kesalahan, khawatir memperoleh nilai rendah, enggan bertanya, bahkan menghindari pelajaran matematika karena merasa cemas,” ungkap Maria dalam keterangannya. Berdasarkan observasi awal yang dilakukannya pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), mayoritas siswa terindikasi mengalami mathematics anxiety (kecemasan matematika) pada tingkat sedang. Sumber kecemasan terbesar bersumber dari proses evaluasi, ujian, serta momok ketakutan akan berbuat salah. Fenomena ini rupanya bukan cuma masalah lokal, melainkan isu global. Berbagai riset dunia mengonfirmasi bahwa kecemasan matematika mampu menyumbat kemampuan berpikir, memangkas motivasi belajar, menurunkan partisipasi aktif, hingga dalam jangka panjang, memengaruhi keputusan karier masa depan siswa. Menggeser Sudut Pandang Lewat Mathematical Well-Being Di tengah membanjirnya penelitian yang mengulik kelemahan, hambatan, dan dampak negatif matematika, Maria mengambil arah yang berbeda. Ia menyadari bahwa masih sangat sedikit peneliti yang mau melihat dari sudut pandang positif: apa yang bisa membuat siswa bertahan dan merasa nyaman dengan matematika? Advertisement Dari situlah Maria berpaling pada konsep mutakhir bernama mathematical well-being (kesejahteraan matematika). Konsep ini secara radikal menggeser fokus pembelajaran. Target utama bukan lagi sekadar seberapa cepat atau tepat siswa menyelesaikan soal rumit, melainkan: ·       Bagaimana siswa merasakan pengalaman belajar matematika yang menyenangkan? ·       Bagaimana mereka memaknai matematika dalam kehidupan sehari-hari? ·       Bagaimana mereka membangun rasa percaya diri atas kemampuan mereka sendiri? ·       Bagaimana lingkungan sekolah dan guru mendukung pertumbuhan emosional serta psikologis mereka? Melalui risetnya, Maria mengajukan pertanyaan mendasar: Apakah siswa dengan tingkat kesejahteraan matematika yang baik akan memiliki kecemasan yang lebih rendah? Bisakah konsep ini menjadi tameng protektif bagi siswa? Membedah Isi Kepala Siswa dengan Metode Campuran Untuk mengupas fenomena psikologis yang kompleks ini secara tuntas, Maria mengadopsi metode penelitian mixed methods dengan sequential explanatory design. Menurutnya, kesejahteraan dan kecemasan emosional tidak akan pernah cukup jika hanya digambarkan melalui deretan angka statistik belaka. Penelitian ini berjalan secara sistematis melalui beberapa tahapan krusial: 1.    Studi Literatur Mendalam: Mengintegrasikan teori-teori besar seperti Self-Determination Theory, Control-Value Theory, dan Teacher Support Theory. 2.    Pengembangan Instrumen: Menyusun dimensi kesejahteraan matematika dan indikator kecemasan yang divalidasi oleh para ahli agar memenuhi standar ilmiah. 3.    Pengumpulan Data Seimbang: Maria menjaring perspektif dari dua arah, yaitu guru SMA selaku pengelola pembelajaran dan siswa SMA selaku pihak yang merasakan langsung pengalaman belajar tersebut. Temuan Penting: Hubungan Kuat Antara Kebahagiaan Belajar dan Prestasi Riset Maria berhasil memetakan sejumlah temuan penting yang membuka mata para praktisi pendidikan. Pertama, kesejahteraan matematika terbukti merupakan konstruksi multidimensional yang kaya. Di dalamnya mencakup aspek prestasi, kognisi, keterlibatan (engagement), makna, ketekunan, emosi positif, hingga hubungan sosial yang sehat. Kedua, riset ini mengidentifikasi akar penyebab utama kecemasan matematika pada siswa, yang meliputi: ·       Tekanan akademik yang terlalu tinggi. ·       Ketakutan ekstrem terhadap kesalahan. ·       Rendahnya rasa percaya diri. ·       Pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan di kelas matematika. ·       Metode mengajar guru yang terlalu berorientasi pada hasil akhir (result-oriented). ·       Kurangnya dukungan sosial di lingkungan belajar. Ketiga, hasil analisis kuantitatif menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara mathematical well-being dan kecemasan matematika. Artinya, semakin tinggi tingkat kesejahteraan matematika yang dirasakan oleh seorang siswa, maka akan semakin merosot tingkat kecemasan yang mereka derita. Ini menjadi bukti empiris kuat bahwa kenyamanan emosional berbanding lurus dengan kesiapan mental siswa dalam belajar. Melahirkan Model Konseptual I-WARM Sebagai buah manis dari sintesis teori dan temuan lapangannya, Maria merancang sebuah model pembelajaran inovatif yang diberi nama Model I-WARM (Integrative Well-Being and Anxiety Reduction in Mathematics Model). Model ini mengintegrasikan tiga pilar utama yang saling bertumpu: Dimensi Model I-WARM Fokus Utama Dimensi Pedagogis Menekankan praktik pembelajaran di kelas yang mendukung keterlibatan aktif, kebermaknaan materi, dan pencapaian keberhasilan belajar siswa. Dimensi Psikologis Berorientasi pada penguatan kompetensi internal, pemupukan rasa percaya diri, kemandirian (otonomi), serta penumbuhan emosi positif siswa. Dimensi Sosial Menitikberatkan pentingnya kehadiran dukungan guru, solidaritas teman sebaya, serta penciptaan iklim kelas yang aman, inklusif, dan bebas dari intimidasi. Dalam model ini, guru diposisikan sebagai mediator utama yang menjembatani siswa untuk meraih kesejahteraan psikologis sekaligus mengikis habis rasa cemas terhadap matematika. Meski demikian, Maria memberikan catatan objektif bahwa Model I-WARM yang dihasilkannya saat ini masih berada pada level model konseptual. Model ini belum diimplementasikan atau diuji efektivitasnya secara eksperimental di dalam kelas nyata. Ke depan, model ini membutuhkan rangkaian riset lanjutan seperti pengembangan perangkat ajar, validasi skala luas, uji coba terbatas, hingga evaluasi dampak nyata terhadap hasil belajar siswa. Memanusiakan Ruang Kelas Matematika Sebagai penutup disertasinya, Maria menyampaikan harapan besar bagi masa depan wajah pendidikan di Indonesia. Ia memimpikan sebuah pergeseran paradigma, di mana keberhasilan pelajaran matematika tidak lagi melulu diukur dari lembar nilai ujian yang kaku. “Selama ini, keberhasilan pembelajaran matematika sering diukur melalui angka, nilai, dan capaian akademik. Padahal di balik setiap angka tersebut, ada manusia yang memiliki perasaan, harapan, kecemasan, dan kebutuhan psikologis yang perlu dihargai,” pungkas Maria hangat. Ia berharap Model I-WARM dapat memicu gelombang inovasi pembelajaran yang humanis, inklusif, reflektif, dan berkelanjutan. Target akhirnya bukan sekadar mencetak generasi yang mahir berhitung, melainkan melahirkan siswa yang merasa bahagia, percaya diri, tangguh, dan mampu menjadikan matematika sebagai sahabat peralanan hidup mereka.

FKIP UMM Bertransformasi Menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan perubahan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora, Senin 6 Juli 2026. Ini  sebagai strategi membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi, Peresmian dilakukan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang di Jembatan Gedung Kuliah Bersama 1, sedangkan Surat Keputusan perubahan fakultas telah diterbitkan pada 30 Mei 2026. Dekan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Moh Mahfud Effendi, mengatakan transformasi tersebut menjadi deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini, pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” jelasnya. Selain peresmian perubahan nama fakultas, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora. Menurutnya, kehadiran 15 doktor baru menjadi modal untuk meningkatkan kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian kepada masyarakat. “Saya percaya masa depan tidak dibangun mereka yang paling kuat. Tetapi mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” lanjutnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof Dr Nazaruddin Malik menegaskan perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi substantif dalam organisasi. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat,” jelasnya. Ia berharap Universitas Muhammadiyah Malang terus menjadi pelopor praktik terbaik dan pusat solusi melalui sinergi pendidikan, sains, dan humaniora. (edr)

Bidang Keguruan Sepi Peminat, UMM Ubah Nama Fakultasnya

Rektor UMM saat peluncuran perubahan nama fakultas (Foto: Aris/jatimnow.com) jatimnow.com – Minimnya minat generasi muda kuliah ke bidang keguruan menjadikan Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) mengubah salah nama salah satu fakultasnya. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang sebelumnya sudah ada diubah namanya menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH), seiring pembukaan pendaftaran tahun akademik mahasiswa baru 2026 – 2027. Dekan FPSH Prof. Moh. Mahfud Effendy menuturkan, perubahan nama fakultas itu menjadi bagian adaptasi dari seiring tantangan zaman. Diakuinya ada peminatan perkuliahan yang tidak sesuai dengan keinginan generasi muda saat ini, utamanya Gen Alpha yang akan masuk di bangku perkuliahan. “Kita kan merespon perkembangan zaman, kita tidak bisa bertahan di zamannya sekarang, DNA kita mencoba memperluas, karena kebermanfaatan dari misi matematik itu kan banyak,” ujar Moh. Mahfud Effendy, saat peluncuran pergantian nama baru di UMM, Senin (6/7/2026). Mahfud mengakui, beberapa pertimbangan mengganti nama fakultas yang lama menjadi lebih kekinian. Selain karena permintaan generasi muda, peminatan calon – calon mahasiswa dari siswa SMA ke bidang keguruan yang menurun jadi pertimbangan utamanya. “Generasi alpha kan mintanya macam-macam, itu kita harus sediakan. Di situ calon mahasiswa baru itu tidak begitu tertarik terhadap keguruan, apalagi kan sekarang kan juga gajinya itu (rendah), dan gen alpha itu kan tidak mau yang terkungkung dan seterusnya. Dia inginnya akan berpikir bebas, itu kita sediakan,” jelasnya. Pergantian nama fakultas itu juga membuat ada beberapa program studi (Prodi) yang akan dibuka. Prodi – prodi itu rencananya akan dibuka untuk penerimaan mahasiswa tahun akademik 2026 – 2027, yang sekarang proses tengah diurus ke Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek). “Ada beberapa prodi baru yang masih di proses ini. Kalau di matematik itu saya mintanya kan ada dua. Yang pertama di proses ini ada sains aktuarial, yang kedua adalah data sains. Kalau di biologi itu ada bioinformatika,” tuturnya. “Kalau Prodi baru ke kementerian, kalau fakultas cukup ke universitas, tapi harus tetap ada nomenklaturnya,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik mengungkapkan, perubahan nama fakultas diiringi dengan perubahan sistem tata kelola di dalamnya. Jadi bagi dia, perubahan itu tidak hanya dari sisi nomenklatur, tapi juga diiringi dengan pengembangan – pengembangan inovasi untuk mengembangkannya. “Ini adalah bentuk perubahan tata kelola agar kita memiliki keleluasaan lebih dalam mengembangkan bidang-bidang di dalamnya. Jika kita hanya terbatas pada sekat-sekat nomenklatur, terutama nomenklatur program studi, maka institusi tidak akan berkembang,” kata Nazaruddin Malik. Perubahan nama itu juga diharapkan memberikan inovasi – inovasi baru yang lebih berdampak kepada kampus dan masyarakat. Jadi penerapan keilmuannya diharapkan tidak sekedar di area ruang kuliah saja, tapi juga diterapkan bagi masyarakat dan mendatangkan manfaat positif. “Itu adalah poin yang paling penting. Saya sudah memberikan contoh nyata pada riset tadi. Riset tersebut pada dasarnya merupakan sebuah model pembelajaran jika diimplementasikan. Namun, penerapannya harus berjalan beriringan dengan pemodelan literasi digital dan didukung oleh infrastruktur IT yang kuat,” jelasnya. Perubahan nama ini juga membuka peluang adanya Prodi baru yang diajukan oleh UMM. Menurutnya, Prodi baru ini akan penting melihat minat dan peluang di luar kampus, kaitannya peran UMM bagi bangsa dan negara. “Bisa jadi Prodi akan bertambah ke depannya. Karena dengan adanya kolaborasi ini, peluang untuk membuka program studi baru yang relevan pasti terbuka lebar,” pungkasnya. Editor :Bramanta

Resmi! UMM Transformasikan FKIP Menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian dilakukan langsung oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Senin (6/7/2026), setelah terbitnya Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi adaptif UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang kolaboratif, inovatif, dan berorientasi pada solusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta tantangan kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menjelaskan bahwa perubahan dari FKIP menjadi FPSH merupakan deklarasi arah baru pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Pada momentum tersebut, FPSH juga menggelar kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi. Mahfud menilai kehadiran para doktor baru menjadi modal strategis untuk meningkatkan kapasitas akademik, kualitas riset, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia juga mendorong para dosen untuk terus meningkatkan karier akademiknya hingga mencapai jabatan guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi nyata dalam tata kelola organisasi. Menurutnya, keberhasilan FPSH tidak ditentukan oleh identitas baru semata, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, serta kemampuan menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH sekaligus lahirnya 15 doktor baru menjadi tonggak penting bagi UMM dalam merespons tantangan pendidikan tinggi di masa depan. Melalui sinergi antara pendidikan, sains, dan humaniora, Kampus Putih diharapkan terus konsisten melahirkan pendidik, peneliti, serta pemimpin yang berintegritas. Transformasi tersebut juga menjadi penegasan bahwa inovasi pendidikan tinggi harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kebermanfaatan bagi kemajuan peradaban bangsa. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

FKIP UMM Resmi Transformasi Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan transformasi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). ​Peresmian perubahan nama ini dilakukan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Senin (6/7/2026). Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Keputusan (SK) perubahan yang telah terbit pada 30 Mei 2026 lalu. ​Keputusan UMM mengubah identitas fakultas ini merupakan strategi agile institusi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada solusi atas dinamika sains dan kemanusiaan di masa depan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menjelaskan bahwa transformasi dari FKIP menuju FPSH merupakan deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. Ia menekankan bahwa pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar pesatnya inovasi teknologi tidak menggerus nilai-nilai esensial kemanusiaan. ​”Perubahan nama ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita kami. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujar Mahfud. Dekan FPSH menambahkan, tantangan pendidikan saat ini menuntut institusi untuk tidak terpaku pada pola lama. Menurutnya, minat calon mahasiswa baru terhadap jurusan keguruan murni mulai mengalami pergeseran. Ia menyoroti fenomena Generasi Alpha yang cenderung berpikir bebas dan tidak ingin terikat pada stigma keguruan yang konvensional. ​”Kita merespons perkembangan zaman. Kita tidak bisa bertahan di zaman yang sudah lalu. Kami mencoba memperluas cakupan. Jika hanya FKIP, ibaratnya hanya satu RT. Ke depan, kami harus berkolaborasi lintas disiplin,” jelas Mahfud. ​Untuk menjawab tantangan tersebut, FPSH UMM tengah memproses pembukaan program studi (prodi) baru yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja modern. Di antaranya adalah Sains Aktuaria dan Data Science untuk bidang matematika, serta Bioinformatika untuk bidang biologi. ​”Kami sedang mempersiapkan SDM-nya terlebih dahulu. Kami tidak ingin membuat prodi baru tanpa mengoptimalkan potensi internal. Ini adalah upaya kami menyediakan solusi, karena Generasi Alpha memiliki keinginan yang beragam, dan kami harus menyediakannya,” tegasnya. Di tempat yang sama, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa perubahan nama fakultas mutlak harus dibarengi dengan transformasi substantif di dalam tubuh organisasi. Keberhasilan FPSH ke depan, menurutnya, tidak ditentukan oleh identitas baru, melainkan oleh perubahan pola pikir (mindset), penguatan kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan melahirkan inovasi. ​”Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center,” ungkap Nazaruddin. ​Momentum transformasi ini juga diiringi dengan gelaran kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Dekan FPSH menilai kehadiran belasan doktor baru ini sebagai modal strategis untuk mendongkrak kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian masyarakat. ​Ia mendorong para akademisi ini untuk terus mengejar jabatan fungsional tertinggi, yakni guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata,” pungkas Mahfud. (dan/but)

Bangun Ekosistem Pendidikan Tinggi, FKIP UMM Bertranformasi Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Perbesar Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, saat meresmikan transformasi FKIP menjadi FPSH di UMM, Senin (6/7/2026)./Dok. Istimewa Bisnis.com, MALANG — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) setelah terbitnya Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Transformasi ini menjadi strategi UMM membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan sains serta kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Moh. Mahfud Effendi, mengatakan perubahan tersebut menandai arah baru pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar inovasi teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya pada kegiatan transformasi FKIP menjadi FPSH di Kampus UMM, Senin (6/7/2026). Selain peluncuran nama baru, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan gelaran kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Mahfud menilai kehadiran belasan doktor baru ini sebagai modal strategis untuk mendongkrak kapasitas akademik, mutu riset, dan pengabdian, seraya mendorong mereka mencapai jabatan fungsional tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Di sisi lain, Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa pergantian nama fakultas mutlak harus dibarengi dengan transformasi substantif di dalam tubuh organisasi. Dia menilai keberhasilan FPSH ke depan tidak ditentukan oleh identitas barunya, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, dan kemampuan melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH dan lahirnya 15 doktor baru ini menjadi tolok ukur bagi UMM dalam merespons masa depan. Melalui sinergi keilmuan dan kemanusiaan ini, UMM diharapkan terus konsisten mencetak pendidik, peneliti, serta pemimpin berintegritas. “Momentum transformasi ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa inovasi pendidikan tinggi harus selalu berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa,” ujarnya. Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Bangun Ekosistem Pendidikan Tinggi, FKIP UMM Bertranformasi Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora”. Penulis: Choirul Anam – Bisnis.com

UMM Resmikan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora: Perkuat Transformasi Pendidikan Tinggi

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini resmi memiliki Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) sebagai nama baru yang menggantikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Perubahan tersebut diresmikan oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 pada Senin (6/7/2026), menyusul terbitnya Surat Keputusan perubahan nama fakultas pada 30 Mei 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi UMM dalam memperkuat tata kelola pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menyampaikan bahwa pergantian nama ini tidak hanya sebatas perubahan identitas kelembagaan, tetapi juga menjadi simbol arah baru pengembangan fakultas. Ia menjelaskan bahwa pendidikan, sains, dan humaniora merupakan tiga pilar yang saling mendukung dalam mencetak lulusan yang inovatif sekaligus memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan. REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. (Foto: Istimewa) “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita,” “Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Selain peresmian nama baru, FPSH juga menggelar kolokium yang menghadirkan 15 doktor baru dari berbagai program studi. Menurut Mahfud, bertambahnya sumber daya akademik tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kualitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia juga berharap para doktor tersebut terus meningkatkan kapasitas akademiknya hingga mencapai jenjang profesor. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus dibarengi dengan transformasi budaya organisasi. Menurutnya, identitas baru akan bermakna apabila diikuti peningkatan kolaborasi lintas disiplin, penguatan inovasi, dan kemampuan menghasilkan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” tuturnya. Perubahan FKIP menjadi FPSH yang bertepatan dengan pengukuhan 15 doktor baru menjadi salah satu momentum penting bagi UMM dalam memperkuat perannya di dunia pendidikan tinggi. Melalui integrasi pendidikan, sains, dan humaniora, UMM menegaskan komitmennya untuk mencetak pendidik, peneliti, serta pemimpin yang berintegritas dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Transformasi ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi di lingkungan perguruan tinggi tetap harus berpijak pada nilai-nilai keislaman dan semangat kemanusiaan sebagai landasan dalam membangun peradaban yang maju dan berkelanjutan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Ekosistem EBT UMM Picu Inovasi, Peserta BTI Rancang PLTMH Berbasis IoT untuk Daerah 3T

Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang bersama timnya, ia merancang purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT) .(Ist) Malangpariwara.com  – Komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam mengembangkan ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) mulai membuahkan hasil. Tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, ekosistem tersebut juga menginspirasi lahirnya inovasi teknologi dari peserta Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 yang tengah mengikuti pemusatan di Kampus Putih. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT) yang ditujukan untuk memperluas akses listrik di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).(Ist) Salah satu inovasi datang dari Muhammad Luthfi Aziz, siswa kelas XII SMA Darul Ulum 1 Unggulan Peterongan, Jombang. Bersama timnya, ia merancang purwarupa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berbasis Internet of Things (IoT) yang ditujukan untuk memperluas akses listrik di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Luthfi merupakan peserta binaan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengikuti pemusatan BTI di UMM pada 1–7 Juli 2026. Selama mengikuti program tersebut, ia mengaku memperoleh banyak inspirasi setelah melihat secara langsung operasional PLTMH binaan UMM di kawasan Sumber Maron, Kabupaten Malang. Menurutnya, dukungan fasilitas laboratorium, ekosistem EBT, serta pendampingan dosen bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) membuat peserta mampu mengembangkan ide menjadi sebuah prototipe yang aplikatif. “Baru kali ini saya melihat kampus dengan penerapan EBT yang sangat maksimal. Pakar-pakar UMM yang dihadirkan selama workshop juga memberikan bekal keilmuan STEM yang nyata untuk merancang prototipe kelistrikan bagi daerah terpencil,” ujar Luthfi. Berangkat dari pengalaman tersebut, timnya mengembangkan prototipe PLTMH dengan slogan “Airnya Ngalir, Energinya Hadir!”. Inovasi ini menawarkan solusi pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi bersih dengan biaya pembangunan yang relatif terjangkau. Tak hanya menghasilkan listrik, prototipe tersebut juga dibekali teknologi IoT yang mampu memantau stabilitas daya, mengukur debit air secara real time, mendeteksi potensi banjir bandang, hingga mengidentifikasi gangguan pada sistem pembangkit. Seluruh data dapat dipantau dari jarak jauh sehingga meningkatkan keamanan sekaligus efisiensi operasional. “Sistem IoT ini memungkinkan kami memantau stabilitas listrik, debit air, hingga potensi bencana secara real time dari jarak jauh. Jadi, inovasi ini tidak hanya memberikan pemerataan akses listrik bagi masyarakat pedalaman, tetapi juga membantu menjaga ekosistem alam tetap aman,” jelasnya. Luthfi berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu solusi atas tantangan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat, sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menegaskan bahwa UMM akan terus membuka ruang bagi lahirnya inovasi dari generasi muda melalui penyediaan fasilitas riset, laboratorium, dan pendampingan dari para akademisi. Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga laboratorium hidup yang mendorong pelajar menghasilkan karya yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “UMM selalu siap menjadi laboratorium hidup bagi para pelajar. Kami berharap prototipe teknologi hijau karya peserta BTI ini dapat terus disempurnakan hingga memasuki tahap hilirisasi dan produksi, sehingga mampu mendukung terwujudnya kemandirian energi nasional melalui inovasi generasi muda,” pungkasnya. (Djoko W)