Harkitnas 2026: Menjaga tunas bangsa, menyongsong masa depan Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Tema Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, 20 Mei 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang mendalam. Tema itu tidak sekadar berbicara tentang anak-anak dan generasi muda sebagai penerus bangsa. Lebih dari itu, tema ini mengajak kita membaca ulang makna kebangkitan nasional. Sebab sebuah bangsa tidak benar-benar bangkit hanya karena memiliki sejarah besar, melainkan karena mampu menjaga generasi yang kelak akan meneruskan sejarah itu. Kata “tunas” sendiri menarik untuk direnungkan. Tunas adalah sesuatu yang masih muda dan rapuh, tetapi menyimpan kemungkinan untuk tumbuh. Ia baru muncul, belum menjadi pohon besar, belum menghasilkan buah. Karena itu pula, tunas masih rentan diterpa angin kencang dan hujan badai. Ia membutuhkan perlindungan agar mampu bertahan dan berkembang. Merawat tunas, pada akhirnya, adalah merawat masa depan. Dalam konteks kebangsaan, tunas bangsa tentu merujuk pada anak-anak, remaja, dan generasi muda hari ini. Namun maknanya tidak berhenti pada usia biologis semata. Tunas bangsa juga dapat dimaknai sebagai seluruh potensi yang sedang tumbuh di tengah masyarakat, mulai dari kreativitas anak muda, kemampuan literasi, kecerdasan digital, daya inovasi, kepekaan sosial, semangat kewirausahaan, hingga kesadaran kebangsaan. Semua itu merupakan modal penting bagi masa depan Indonesia. Karena itu, menjaga tunas bangsa bukan hanya soal melindungi generasi muda dari ancaman fisik. Lebih jauh, ia berarti memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat, baik secara pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, maupun digital. Generasi muda juga tidak cukup hanya dibekali nasihat tentang nasionalisme. Yang mereka perlukan adalah pendidikan yang berkualitas, akses pengetahuan yang luas, ruang untuk berkreasi, pekerjaan yang bermartabat, lingkungan digital yang aman, serta kehadiran negara yang mampu membuat mereka percaya bahwa masa depan masih layak diperjuangkan. Dalam konteks itulah, hubungan antara tunas bangsa dan kedaulatan negara menjadi penting untuk dipahami. Selama ini, kedaulatan kerap dimaknai sebatas urusan batas wilayah, kekuatan militer, hukum, dan relasi antarnegara. Padahal, di tengah dinamika dunia modern, kedaulatan tidak hanya dijaga di garis perbatasan. Ia juga dipertaruhkan di ruang kelas, pasar kerja, pusat data, laboratorium, sawah, laut, kawasan industri, media sosial, hingga di dalam keluarga. Sebuah negara mungkin memiliki wilayah yang luas, tetapi jika generasi mudanya rapuh secara pendidikan, kedaulatan jangka panjangnya akan mudah goyah. Negara yang kaya sumber daya alam, tetapi tertinggal dalam penguasaan teknologi, pada akhirnya akan bergantung pada pihak lain. Begitu pula negara yang memiliki jutaan pengguna internet, tetapi rendah dalam literasi digital. Mereka akan mudah diguncang hoaks, penipuan daring, dan manipulasi informasi. Bahkan ketika ekonomi tampak tumbuh, tetapi anak-anak mudanya kehilangan harapan terhadap masa depan, sesungguhnya negara itu sedang menghadapi krisis kedaulatan dalam bentuk yang lebih halus dan sering kali tidak disadari. Tantangan kebangsaan Karena itulah, tema Harkitnas 2026 mengajak kita memahami makna kedaulatan secara lebih luas. Kedaulatan bukan semata kemampuan negara mengatakan “tidak” terhadap tekanan dari luar, melainkan juga kemampuan bangsa ini mengatakan “ya” terhadap masa depan rakyatnya sendiri. Kedaulatan tidak hanya soal menjaga wilayah dari ancaman eksternal, tetapi juga memastikan tunas bangsa tidak kehilangan pijakan di negerinya sendiri. Tantangan itu tentu tidak ringan. Di bidang pendidikan dan literasi, misalnya, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah yang besar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 74 persen. Padahal, Level 2 merupakan ambang minimum untuk memahami gagasan utama dalam sebuah teks, menemukan informasi, serta merefleksikan tujuan bacaan secara sederhana. Data tersebut penting dibaca dalam konteks Hari Kebangkitan Nasional. Ingatan kita kerap kembali pada tahun 1908, ketika Budi Utomo lahir dan kemudian dipahami sebagai salah satu penanda awal tumbuhnya kesadaran kebangsaan modern Indonesia. Organisasi itu lahir dari kesadaran kaum terdidik bahwa pengetahuan dapat menjadi jalan menuju perubahan. Karena itu, jika hari ini kita berbicara tentang kebangkitan untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan, maka literasi seharusnya ditempatkan sebagai fondasinya. Bangsa yang berdaulat tidak cukup hanya memiliki kekayaan sumber daya alam. Ia juga harus memiliki sumber daya manusia yang mampu membaca dengan kritis, berpikir jernih, menimbang informasi, memahami kompleksitas persoalan, serta menciptakan pengetahuan baru. Selain itu, kebangkitan ekonomi juga berkaitan erat dengan masa depan tunas bangsa. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Angka tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, meskipun pada saat yang sama nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar AS. Tekanan terhadap rupiah tentu perlu segera dipulihkan. Sebab, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen hanya akan menjadi kebangkitan yang benar-benar bermakna apabila mampu menghadirkan ruang hidup yang lebih baik bagi generasi muda. Bagi generasi muda, ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan di atas kertas. Ekonomi hadir dalam pertanyaan-pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: setelah lulus apakah mereka bisa memperoleh pekerjaan? Apakah gaji cukup untuk hidup layak? Apakah penghasilan memungkinkan mereka membeli rumah? Apakah kreativitas mereka mendapat ruang untuk berkembang? Apakah desa dan kota-kota kecil juga menyediakan peluang, atau seluruh harapan harus ditumpuk di kota besar? Ketika pertanyaan-pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, tunas bangsa akan tumbuh dalam kecemasan, bukan optimisme. Lebih dari itu, ruang digital menghadirkan lapisan tantangan baru. Generasi muda Indonesia hidup di dalam dunia yang semakin terkoneksi. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 menunjukkan tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72 persen. Situasi ini tentu membuka peluang besar. Akses digital dapat memperluas pendidikan, membuka kesempatan usaha, mendorong kreativitas, dan memperkuat partisipasi publik. Namun, konektivitas yang luas juga membawa berbagai risiko, mulai dari kecanduan layar, kekerasan berbasis digital, penipuan daring, hoaks, ujaran kebencian, hingga budaya serba instan. Karena itu, menjaga tunas bangsa di era digital tidak cukup hanya dengan menyediakan akses internet. Yang jauh lebih penting adalah membangun literasi digital, etika bermedia, kemampuan memilah informasi, serta daya tahan mental agar generasi muda tidak mudah terseret arus disinformasi dan tekanan sosial di ruang digital. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mereka juga perlu menjadi pencipta, pengkritik, dan pengendali teknologi. Di sinilah kedaulatan digital bertemu dengan kedaulatan manusia. Spirit Harkitnas Oleh sebab itu, melalui spirit Harkitnas 2026, menjaga tunas bangsa berarti memastikan generasi muda tumbuh tanpa mengalami kelaparan pengetahuan. Remaja tumbuh tanpa kehilangan arah. Mahasiswa menjalani masa

​Jadi Mitra DUDI CoE Ruminansia UMM, PT Greenfields Puji Daya Adaptasi Tinggi Mahasiswa Kampus Putih

Di tengah tingginya isu kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan riil dunia industri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru tampil memberikan solusi konkret. Melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Ruminansia yang diinisiasi oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), mahasiswa Kampus Putih berhasil menembus ketatnya standar raksasa industri susu, PT Greenfields Indonesia. Kemitraan strategis ini bukan sekadar program magang biasa, melainkan bukti sahih bahwa UMM sukses menyelaraskan kurikulum akademiknya dengan dinamika Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai Kampus Inovasi yang mencetak SDM unggul berdaya saing global. ​Keberhasilan nyata dari program CoE ini langsung dirasakan di lapangan. PT Greenfields Indonesia, sebagai perusahaan peternakan berskala masif, menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa. Di sana, mereka dibimbing langsung oleh Wijayanto, Supervisor Heifer Raising yang memegang peran krusial dalam divisi replacement atau manajemen pengembangan indukan. Wijayanto, yang intens mendampingi peserta magang, menilai bahwa mahasiswa FPP UMM tidak hanya datang dengan bekal teori yang matang, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan kecepatan adaptasi yang luar biasa dalam menghadapi Standar Operasional Prosedur (SOP) ketat di industri modern. ​”Sejak awal datang dan mendapat penjelasan mengenai aturan serta SOP di Greenfields, mahasiswa UMM cepat memahami dan menerapkannya di lapangan,” puji pria yang akrab disapa Wije tersebut 20 Mei lalu. ​Lebih lanjut, ritme kerja yang dibangun selama program magang memaksa mahasiswa untuk proaktif di setiap lini operasional. Mereka dirotasi secara berkala untuk memahami siklus penuh peternakan modern, mulai dari penanganan awal anak sapi yang baru lahir hingga tahap manajemen pemeliharaan sapi dewasa. Kecekatan dalam merespons dinamika lapangan inilah yang menumbuhkan tingkat kepercayaan absolut dari pihak industri, yang pada akhirnya menjadikan Kampus Putih sebagai perguruan tinggi tunggal yang dipercaya memegang tanggung jawab operasional di perusahaan tersebut. ​”Sampai saat ini yang dari perguruan tinggi, yang magang di Greenfields itu hanya dari UMM saja,” tegas Wijie. ​Sinergi yang diwadahi oleh CoE Ruminansia ini memang didesain secara holistik untuk membentuk manajer masa depan, bukan sekadar pekerja teknis. Wije menjelaskan bahwa pada fase awal, mahasiswa diwajibkan mengikuti ritme operator di lapangan untuk memahami akar masalah operasional, sebelum akhirnya mereka diberikan beban tanggung jawab berbasis individu untuk merumuskan solusi strategis dan mempresentasikannya di hadapan manajemen tingkat atas. ​“Kolaborasi ini sangat penting karena sebelum benar-benar menjadi supervisor, mereka sudah dibekali pengalaman dan pembelajaran dari dasar terlebih dahulu,” pungkasnya. Pada akhirnya, kepercayaan penuh dari raksasa industri sekelas PT Greenfields menjadi legitimasi tak terbantahkan atas ketangguhan lulusan Kampus Putih. Keberhasilan program CoE Ruminansia FPP UMM ini tidak sekadar meruntuhkan menara gading perguruan tinggi, tetapi secara revolusioner sukses mendobrak sekat antara teori akademik dan kerasnya realitas lapangan. Pencapaian ini sekaligus mengirimkan pesan kuat bagi ekosistem pendidikan nasional, mencetak generasi emas masa depan tidak akan pernah cukup jika hanya dilakukan dari balik meja kelas. Mahasiswa harus berani diterjunkan langsung ke jantung industri, memecahkan masalah nyata, demi lahirnya para inovator dan pemimpin strategis yang siap mengambil alih kemudi kemajuan bangsa.(*ali/faq)     Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kembali Dipercaya Kemendikdasmen, UMM Resmi Jadi Tuan Rumah OSN 2026

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi kembali ditunjuk oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA tahun 2026. Kepercayaan untuk kedua kalinya ini diberikan berkat rekam jejak Kampus Putih yang sukses menghadirkan fasilitas dan atmosfer akademik berstandar dunia pada penyelenggaraan sebelumnya. ​Keputusan Kemendikdasmen untuk kembali menggandeng UMM tentu telah melewati serangkaian proses evaluasi dan kurasi yang amat ketat. Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, S.E., M.Si., memaparkan bahwa pemerintah sangat menyoroti kesiapan infrastruktur fisik, kelengkapan fasilitas laboratorium tingkat tinggi, serta profesionalitas kerja panitia lokal. Lebih dari itu, langkah strategis ini diambil guna memberikan pengalaman langsung bagi para peserta didik SMA untuk merasakan atmosfer pembelajaran di perguruan tinggi yang unggul. Kepuasan terhadap ekosistem belajar UMM tersebut bahkan diamini langsung oleh para dewan juri, yang sebagian besar diisi oleh guru besar dan penilai olimpiade kaliber internasional. ​”Review dari para juri yang ada, mereka mengatakan bahwa tahun lalu ini adalah OSN yang terbaik karena diadakan di tempat yang atmosfer akademiknya benar-benar terasa,” jelas Maria 20 Mei lalu menegaskan alasan kuat di balik penunjukan UMM. ​Berbicara mengenai skala kompetisi, OSN 2026 di UMM dipastikan akan berjalan sangat kompetitif. Ajang prestisius ini akan mempertemukan sekitar 600 talenta siswa-siswi berprestasi dari seluruh penjuru Nusantara, yang telah sukses menyisihkan lebih dari 946 ribu pendaftar pada tahapan seleksi daerah. Menyadari besarnya potensi para peserta, Puspresnas tahun ini merancang sebuah terobosan edukatif agar siswa tidak hanya tegang menghadapi ujian keilmuan semata. Di sela-sela jadwal ujian kompetisi, para peserta akan dilibatkan dalam program baru bertajuk “Bina Talenta Indonesia Kolaboratif”. Sebuah langkah maju yang difokuskan pada penguatan jejaring, kolaborasi, dan kecerdasan emosional anak bangsa. ​”Anak-anak lintas bidang ilmu, lintas daerah, dan sekolah akan kita buatkan suatu program kolaborasi untuk memperkuat kemampuan problem solving mereka melalui OSN ini yang nantinya diselenggarakan di UMM,” ungkapnya. ​Sebagai penutup, perhelatan akbar OSN 2026 di lingkungan UMM diharapkan bukan sekadar menjadi ajang seremonial pemberian medali, melainkan kawah candradimuka sesungguhnya bagi generasi emas Indonesia. Kolaborasi strategis antara Kemendikbudristek dan UMM ini membawa pesan penting bahwa institusi pendidikan harus terus berinovasi menyiapkan pemimpin masa depan. Melalui kompetisi berstandar tinggi di UMM inilah, nantinya akan diseleksi delegasi-delegasi paling tangguh yang siap mengharumkan nama Merah Putih di olimpiade sains tingkat dunia. ​”Harapannya adalah hasil anak-anak juara ini benar-benar layak dan kompetitif untuk bisa lanjut di ajang internasional dengan hasil yang terbaik,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pakar Hukum Islam UMM Luruskan Mitos Larangan Potong Kuku Jelang Hari Kurban

Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, linimasa media sosial dan ruang diskusi masyarakat kerap diwarnai oleh polemik tahunan yang berulang. Bolehkah memotong kuku dan rambut bagi mereka yang hendak berkurban, Menjawab kebingungan massal yang sering kali mengganggu kekhusyukan ibadah ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kepakaran akademisnya hadir memberikan pencerahan. Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM, Soni Zakaria, S.Sy., M.H., membedah tuntas landasan syariat di balik silang pendapat tersebut agar umat Islam dapat menjalankan ibadah kurban dengan keyakinan penuh dan tanpa rasa waswas. ​Soni menguraikan bahwa anjuran menahan diri dari memotong kuku dan rambut ini secara spesifik ditujukan kepada shohibul qurban atau pihak yang menanggung biaya kurban. Aturan ini diterapkan secara proporsional. Sebagai contoh, jika seorang ayah berkurban untuk keluarganya, maka hanya sang ayah yang disunahkan menahan diri. Sebaliknya, jika kurban ditunaikan melalui praktik patungan sapi oleh tujuh orang, maka seluruh pesertanya otomatis terkena anjuran ini. Masa berlakunya dihitung sejak hilal bulan Dzulhijjah terlihat, dan berakhir sesaat setelah hewan kurban disembelih. ​”Memang benar ada tuntunan dari Rasulullah agar seseorang yang berniat berkurban untuk tidak memotong kuku dan rambut mulai dari awal Dzulhijjah hingga hewan itu disembelih,” paparnya. ​Terkait hal yang kerap memantik perdebatan, yakni status hukum larangan tersebut, Soni membedah bahwa akar perbedaannya terletak pada metode ulama dalam merumuskan fikih. Mazhab Hanbali memaknai hadis secara tekstual sehingga memvonis perbuatan itu diharamkan. Sebaliknya, mayoritas ulama (jumhur) seperti mazhab Syafi’i dan Maliki menurunkannya menjadi makruh. Sejalan dengan jumhur ulama, Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan instruksi tersebut murni sebagai adab kesunahan. Meski aturan ini menyerupai larangan bagi jamaah haji yang sedang berihram, pekurban tetap memiliki kelonggaran, seperti kebolehan berpakaian biasa dan memakai wewangian. Jika pekurban terpaksa merapikan diri akibat alasan medis atau kebersihan, pahalanya tidak akan gugur. ​”Menurut Majelis Tarjih, memotong kuku atau rambut pada periode tersebut sama sekali tidak membatalkan ibadah kurban. Kurban yang ditunaikan tetap sah secara syariat,” tegasnya. ​Lebih jauh, tersimpan pesan spiritual yang agung di balik anjuran syariat ini. Soni memaparkan bahwa seluruh anggota tubuh yang terjaga dari potongan kelak akan menjadi saksi ketaatan di akhirat, sekaligus menjadi pembuka jalan ampunan Allah. Namun, karena polemik ini memicu silang pendapat yang murni berada di ranah cabang fikih (furu’iyyah), Muhammadiyah sangat menekankan pentingnya sikap saling menghargai (tasamuh). Menghadapi derasnya arus debat keagamaan di era digital, ia menyarankan masyarakat agar senantiasa memvalidasi dalil ke lembaga otoritatif. ​”Keluarga adalah institusi pertama dan madrasah utama. Kalau komunikasi dan diskusi keagamaan di dalam keluarga sudah terbangun kuat, masyarakat kita tidak akan mudah terombang-ambing,” pesan Soni. ​Pada akhirnya, esensi dari ibadah kurban bukanlah sekadar perdebatan tak berkesudahan tentang ranting-ranting hukum fikih, melainkan tentang keikhlasan total dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan sesama. Pemahaman agama yang moderat, komprehensif, serta dibangun dari literasi keluarga yang kuat diyakini akan menjadi benteng tangguh bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai dinamika perbedaan pendapat di tengah masyarakat.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Waspada Penyakit dari Tikus, Dosen Kedokteran UMM Ungkap Gejala dan Pencegahan Hantavirus

Tingginya curah hujan yang kerap memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya membawa ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD), tetapi juga penyakit berbahaya lain yang ditularkan oleh hewan pengerat, yakni Hantavirus. Memiliki gejala awal yang sangat menyerupai DBD, penyakit ini patut diwaspadai karena dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru dan ginjal jika terlambat ditangani. ​Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM., menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Berbeda dengan leptospirosis (penyakit kencing tikus) yang disebabkan oleh bakteri, hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara. ​“Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia,” jelasnya. ​Secara klinis, Febri memaparkan bahwa infeksi virus ini terbagi dalam dua kondisi utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang mengganggu fungsi ginjal, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan. Gejala awalnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas layaknya flu biasa. Namun seiring waktu, pasien bisa mengalami sesak napas, perdarahan, hingga munculnya ruam kulit yang spesifik. ​“Yang membedakan dengan DBD, biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” tegasnya. ​Hingga saat ini, belum ada obat spesifik maupun vaksin yang ditemukan untuk mematikan hantavirus. Penanganan medis hanya berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap berjalan dengan baik. Risiko penularan virus ini akan semakin melonjak saat musim hujan dan banjir, di mana kawanan tikus kerap keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap di dalam rumah. ​“Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” tambah Febri. ​Merespons ancaman kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap mengedepankan tindakan preventif secara disiplin. Langkah mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, yakni dengan rutin membersihkan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu, dan sarung tangan saat membersihkan gudang. Menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup juga sangat vital untuk membentuk sistem imun tubuh. ​“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” pungkasnya.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Solusi Petani Cengkeh: Mahasiswa UMM Ciptakan Clove Separator EVO

MALANG POST – Di tengah tuntutan efisiensi biaya pertanian dan ancaman tingginya inflasi bahan pokok yang membayangi kesejahteraan petani lokal, inovasi teknologi tepat guna menjadi kunci kelangsungan usaha tani. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan mesin pemisah cengkeh semi-otomatis bernama Clove Separator EVO. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret bagi petani cengkeh di Dusun Karanggongso, Trenggalek, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya tenaga kerja dan lambatnya proses panen secara manual. Mesin ini merupakan karya inovatif Risqi Andy Sulbi Sasmita dan timnya dari Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2022. Sebelumnya, proses pemisahan bunga dan tangkai cengkeh secara tradisional memakan waktu sangat lama, di mana tenaga manusia hanya sanggup menghasilkan maksimal dua kilogram per jam. Risqi menjelaskan bahwa inovasi mesin ini dirancang secara khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi petani hingga puluhan kali lipat namun dengan harga beli yang ramah di kantong. “Tujuan utama kami memang untuk meningkatkan kapasitas produksi petani hingga berkali-kali lipat dibandingkan cara manual. Apalagi, alat ini kami proyeksikan memiliki harga jual yang jauh lebih kompetitif, yaitu sekitar enam hingga tujuh juta rupiah, dibandingkan mesin serupa di pasaran yang bisa mencapai belasan juta,” ujar Risqi. Melalui Clove Separator EVO, kapasitas pengolahan melonjak drastis hingga 50 kilogram per jam dengan hanya membutuhkan satu hingga dua operator. Mesin ini beroperasi secara sistematis; bunga cengkeh yang masuk ke dalam corong akan melewati rotor penggilingan, lalu disaring menggunakan sistem ayakan bergetar untuk memisahkan bunga dan tangkai secara utuh. Tim mahasiswa UMM ini juga memastikan rancangan alat tersebut tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna berkat arahan langsung dari para dosen pembimbing. Alat yang lahir dari proyek mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) ini juga menawarkan kemudahan perawatan harian. Rencananya, purwarupa Clove Separator EVO akan dikirim ke Desa Tasikmadu pada bulan Juni mendatang untuk menjalani uji coba lapangan secara langsung saat masa panen raya. Ia berharap karya mahasiswa dari Kampus Putih UMM ini bisa memantik semangat sivitas akademika lain untuk terus berkreasi memecahkan persoalan riil di masyarakat. “Kami berharap mahasiswa lain tidak perlu mencari ide terlalu jauh, cukup peka dengan kebutuhan di sekitar kita. Sebab, sekecil apa pun inovasi yang kita buat sangat berarti bagi masyarakat,” pungkasnya. Kehadiran Clove Separator EVO menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi riset di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar wacana akademis. Kolaborasi antara kepekaan sosial mahasiswa dan dukungan fasilitas kampus terbukti mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi kerakyatan. Harapannya, inovasi ini segera mendapatkan dukungan untuk diproduksi secara massal agar kesejahteraan petani cengkeh di berbagai pelosok Nusantara dapat terus melesat.(M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Pakar Ekonomi UMM Bagikan Strategi Amankan Dompet Saat Dolar Melonjak

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, M.Sc, memberikan strategi praktis agar masyarakat tetap tangguh secara finansial saat Pelemahan mata uang Rupiah atas Dolar AS. Pelemahan mata uang Rupiah ini dinilai sebagai ancaman nyata yang mulai menyusup ke dapur masyarakat luas. Yunan menjelaskan bahwa lonjakan kurs Dolar AS memicu efek domino yang langsung membebani pos pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini terjadi lantaran tingginya ketergantungan Indonesia terhadap sejumlah komoditas impor di pasar internasional. ​”Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkap Yunan kepada Tim Humas UMM pada Selasa (19/5/2026). Menurut Yunan, banyak masyarakat yang keliru dan merasa aman hanya karena tidak membeli barang impor secara langsung. Padahal, biaya hidup masyarakat dipastikan akan tetap membengkak seiring dengan merangkaknya biaya produksi pada sektor industri lokal. ​”Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegas pakar ekonomi UMM tersebut. ​Menghadapi situasi makroekonomi yang fluktuatif ini, Yunan mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Langkah awal yang paling krusial untuk dilakukan saat ini adalah mengamankan ketersediaan dana darurat dan menunda konsumsi yang sifatnya tidak mendesak. ​”Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelasnya. ​Di samping itu, Yunan juga menyoroti ancaman inflasi yang diperparah oleh perilaku keuangan masyarakat yang gemar memanfaatkan layanan kredit instan. Kebiasaan ini dinilai menciptakan ilusi finansial yang berpotensi menguras habis tabungan di masa depan. ​”Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambah Yunan mengingatkan. ​Kendati situasi ekonomi tampak menantang, Yunan justru mendorong generasi muda untuk jeli melihat penguatan Dolar AS sebagai momentum emas. Fluktuasi kurs ini dapat dimanfaatkan untuk mencari peluang penghasilan mandiri berbasis pasar global. ​”Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urainya optimis. ​Sebagai langkah penyelamatan jangka pendek, masyarakat diharapkan segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadi masing-masing. Langkah darurat seperti berhenti berlangganan layanan digital yang tidak krusial serta memangkas gaya hidup konsumtif wajib diambil. ​”Sebab, dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang diperoleh, melainkan dari seberapa sehat dan rasional mereka mengelola keuangan,” kata Yunan Syaifullah, menutup. (dan/ted)

UMM Hadirkan Beragam Program Beasiswa untuk Dukung Talenta Muda Indonesia

UMM Hadirkan Beragam Program Beasiswa untuk Dukung Talenta Muda Indonesia. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang atau UMM menyiapkan puluhan program beasiswa inklusif bagi lebih dari 6.000 calon mahasiswa baru.Kebijakan ini menjadi bentuk komitmen kampus dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menghapus anggapan bahwa kuliah berkualitas identik dengan biaya mahal. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menuturkan bahwa keberagaman program beasiswa tersebut merupakan bagian dari pengelolaan keuangan universitas yang berorientasi pada keadilan dan keberlanjutan. Menurutnya, pendanaan kampus dikelola secara strategis agar program bantuan pendidikan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak mahasiswa berprestasi. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan implementasi nyata semangat filantropi pendidikan Muhammadiyah melalui Kampus Putih. Sejalan dengan visi universitas, berbagai skema beasiswa itu dirancang untuk menjaring talenta terbaik dari seluruh daerah di Indonesia tanpa memandang latar belakang ekonomi. UMM ingin membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda agar dapat mengakses pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing global. Program beasiswa yang ditawarkan juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satunya Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas yang memberikan potongan 50 persen Biaya Studi Semester I bagi lulusan pendidikan menengah. Selain itu, tersedia Beasiswa Jalur Prestasi Akademik dan Nonakademik yang memungkinkan calon mahasiswa diterima tanpa tes seleksi. Menariknya, UMM juga memberi ruang bagi kreator konten digital. Influencer seperti YouTuber dengan minimal 5 ribu subscriber maupun selebgram dengan minimal 10 ribu pengikut dapat mengikuti jalur ini selama memiliki konten yang kreatif, edukatif, dan bernilai positif. Tidak hanya fokus pada prestasi, UMM juga memberikan perhatian pada aspek sosial melalui Beasiswa Yatim Piatu bagi siswa kurang mampu. Program ini mencakup pembebasan Dana Pengembangan Pendidikan dan SPP hingga delapan semester. Sementara pada jenjang pascasarjana, tersedia Beasiswa 5.000 Doktor untuk kepala dan wakil kepala sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ekosistem pendanaan pendidikan di UMM turut diperkuat melalui kerja sama dengan pemerintah dan dunia industri. Kampus ini juga menyediakan Beasiswa KIP serta Beasiswa Mitra Industri dan Unit Bisnis UMM yang didukung sejumlah perusahaan milik universitas. Selain membantu pembiayaan studi, program tersebut juga membuka peluang magang dan pengembangan karier profesional bagi mahasiswa.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim

Sempat Mengais Limbah di Eropa, Alumnus UMM Ini Jadi Bos Spa Beromzet Ratusan Juta

Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis UMM angkatan 2011, yang kini membangun bisnis beromzet ratusan juta per bulan di Polandia. (Faqih/PWMU.CO). pwmu.co –Membangun bisnis spa beromzet ratusan juta rupiah per bulan di Polandia bukanlah pencapaian instan bagi Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2011 ini harus merintis karirnya di Eropa dari titik terendah. Yakni dengan memeras keringat sebagai petugas kebersihan gudang dan mengurus sisa limbah demi bertahan hidup. Keberangkatannya ke Eropa pada Mei 2021 bukanlah perjalanan yang mulus. Setelah berkali-kali gagal menembus visa kerja ke Australia, Selandia Baru, dan Kanada sejak 2017, ia membidik Polandia yang saat itu minim lirikan pekerja Indonesia. Fase Belajar Bertahan Setibanya di sana, kenyataan keras langsung menyapanya. Galang mengungkapkan bahwa pengalaman awalnya di Eropa sangatlah berat karena ia harus bekerja kasar tanpa modal bahasa asing yang mumpuni. “Sesampainya di Polandia, saya bekerja sebagai petugas kebersihan gudang tanpa membutuhkan kemampuan bahasa khusus. Mulai dari membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membersihkan sisa limbah kerja setiap hari” terang Galang. “Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau” tegasnya pada Senin (18/05/2026) lalu. Tak ingin selamanya menjadi pekerja kasar, Galang beralih profesi menjadi pegawai di sebuah restoran kebab selama hampir tiga setengah tahun. Di sanalah ia mulai menyerap bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji. “Banyak orang datang ke luar negeri hanya bekerja biasa, tapi ada juga yang mencoba membangun sesuatu yang lebih besar” katanya. Jeli Melihat Peluang Peluang emas itu ia temukan pada bisnis relaksasi bertema Asia yang masih langka di Polandia. Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang. “Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan” jelas Galang. Kini, berkat insting bisnis yang telah terasah sejak menjadi sales di Indonesia, usaha “Tera Thai Salon Day Spa” miliknya melesat. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, bisnis tersebut meraup omzet Rp500 hingga Rp600 juta per bulan dan bersiap membuka cabang baru di Kota Gdansk. Kisah inspiratif Galang ini memberikan pesan kuat bagi generasi muda bahwa kesuksesan di negeri orang bukanlah undian berhadiah. Melainkan hasil dari ketahanan mental, kemauan beradaptasi, dan keberanian mengambil risiko. “Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar” pungkasnya menutup cerita. *) Penulis : Faqih Editor : Danar Trivasya Fikri