Respons Tantangan Zaman, FKIP UMM Resmi Berganti Nama Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH)

Dokumentasi Penyampaian Sambutan oleh Rektor UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ekosistem akademik yang dinamis, adaptif, dan responsif. Guna memacu kolaborasi lintas disiplin, Kampus UMM mendorong fleksibilitas tata kelola sampai pada tingkatan program studi (prodi) agar mampu bergerak lebih leluasa tanpa terhambat sekat nomenklatur yang kaku. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., di sela-sela peresmian perubahan nama dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) di Gedung Kuliah Bersama 1 UMM, Senin (6/7/2026). Menurut Prof. Nazaruddin, restrukturisasi ini sengaja dilakukan untuk mempermudah terjadinya kolaborasi strategis antar-disiplin ilmu. Ia menegaskan, inovasi keilmuan dan riset akan mandek jika perguruan tinggi terlalu membatasi diri pada birokrasi nomenklatur lama. “Perubahan nama ini dilakukan agar prodi memiliki fleksibilitas tata kelola yang lebih luas. Dengan begitu, kita lebih leluasa bergerak mengembangkan bidang keilmuan di dalamnya. Kalau hanya terbatas pada sekat nomenklatur, terutama nomenklatur prodi, maka keilmuan itu tidak akan berkembang,” tegas Prof. Nazaruddin. Ia memberi gambaran konkret mengenai implementasi peleburan sekat keilmuan tersebut ke depan. Di antaranya: Riset Konstitusi Berbasis Pendidikan: Berkolaborasi erat dengan Fakultas Hukum untuk memperkuat literasi konstitusi. Penelitian Bidang Biologi (Human Biology): Disinergikan dengan Fakultas Kedokteran guna menghasilkan inovasi metode regenerasi sel tubuh. Pendekatan Pembelajaran Siber (Cybernetic Learning): Berbasis digital yang didukung penuh oleh rumpun informatika. “Jika suatu prodi hanya bernama ‘Pendidikan’, stressing-nya cenderung hanya pada pengajaran saja. Tetapi dengan nama dan tata kelola yang baru, mereka bisa meluas dan berkolaborasi tanpa menghilangkan aspek esensi pendidikannya,” tambahnya. Langkah adaptif ini bukan hal baru bagi Prof. Nazaruddin. Saat menjabat sebagai Dekan terdahulu, ia sukses menginisiasi perubahan nama Fakultas Ekonomi menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) untuk merespons kebutuhan pasar. Ke depan, fleksibilitas ini membuka peluang besar bagi UMM untuk terus membuka program studi baru yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Sementara itu, Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menyampaikan bahwa perubahan nama fakultas ini bukan sekadar urusan administratif atau identitas kelembagaan semata. “Perubahan ini merupakan sebuah pernyataan arah, tekad, dan cita-cita untuk menghadirkan ruang akademik yang lebih terbuka, lebih kolaboratif, dan lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,” kata Prof. Mahfud. Ia memperjelas bahwa pendidikan bertugas membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, dan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan beriringan agar kemajuan teknologi tidak kehilangan arah. FPSH diproyeksikan menjadi pusat lahirnya inovasi pendidikan, penelitian berdampak, pengabdian masyarakat, serta wadah yang melahirkan guru inspiratif dan ilmuwan inovatif. Visi utamanya adalah tumbuh menjadi fakultas yang unggul dan berdaya saing global dengan berlandaskan nilai keislaman, kemuhammadiyahan, keilmuan, dan kemanusiaan. Pada kesempatan yang sama, pesan khusus juga disampaikan kepada 15 doktor baru yang hadir. Mereka diingatkan untuk tidak melupakan jabatan fungsionalnya, mengingat jabatan tertinggi bagi seorang dosen adalah menjadi Guru Besar (Profesor). Selain itu, keberhasilan sebuah fakultas diukur dari sejauh mana lulusannya mampu beradaptasi dan menciptakan solusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar dari kuantitas kelulusan semata.
FKIP UMM Berubah Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora, Jawab Tuntutan AI

Dekan FPSH UMM Prof. Moh. Mahfud Effendi (kiri) dan Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik di momen peluncuran nama baru FPSH (Foto: RRI/Hanum) RRI.CO.ID, Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengubah nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Perubahan nama ini sebagai strategi merespons perubahan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, serta dinamika dunia kerja yang semakin dipengaruhi transformasi digital dan kecerdasan artifisial (AI). Perubahan yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan pada 30 Mei 2026 itu menjadi langkah UMM memperluas ruang pengembangan keilmuan yang selama ini dinilai tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada pendidikan keguruan. Hal ini diungkapkan Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M. di momen peluncuran nama baru fakultas, Senin (6/7/2026). “Ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi perubahan arah pengembangan fakultas agar mampu menjawab kebutuhan zaman. Kalau hanya menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, ruang pengembangannya terbatas. Padahal matematika, biologi, dan bidang ilmu lainnya memiliki banyak cabang yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu kami memperluas menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora agar bisa berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu,” katanya. Mahfud menilai, perkembangan teknologi, termasuk pesatnya pemanfaatan AI berpotensi menghadirkan bidang-bidang keilmuan baru yang membutuhkan kompetensi lintas disiplin. Karena itu, FPSH akan mengembangkan berbagai bidang baru seperti data science, bioinformatika, hingga kajian lingkungan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak bisa bertahan dengan model pendidikan lama jika ingin tetap relevan. Sehingga kita harus merespons perkembangan zaman. Apa yang dibutuhkan masyarakat, itu yang harus kita siapkan. Kalau kita hanya menawarkan apa yang kita miliki tanpa melihat kebutuhan pasar, maka kita akan tertinggal,” tutur Mahfud. Selain mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi tersebut juga dipengaruhi perubahan minat calon mahasiswa. Mahfud mengakui program studi kependidikan kini menghadapi tantangan menurunnya daya tarik, terutama di kalangan generasi muda yang menginginkan pilihan karier lebih luas. Terlebih isu gaji tenaga pendidik yang dinilai kecil juga mempengaruhi minat generasi muda menekuni bidang keguruan. “Kami melihat minat terhadap bidang keguruan tidak sebesar dulu. Generasi sekarang menginginkan fleksibilitas dan peluang karier yang lebih beragam. Karena itu fakultas harus menyediakan ruang yang lebih luas agar lulusannya dapat berkiprah di berbagai sektor, bukan hanya menjadi guru,” jelasnya. Meski demikian, Mahfud menegaskan identitas pendidikan tetap menjadi fondasi utama fakultas. Unsur sains dan humaniora justru dihadirkan untuk memperkuat kompetensi lulusan sehingga mampu menghadapi tantangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menekankan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi nyata dalam budaya akademik. “Jangan sekadar mengubah papan nama. Yang lebih penting adalah perubahan substantif, mulai dari pola pikir, kreativitas, inovasi, hingga kemampuan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Perguruan tinggi harus adaptif terhadap perubahan dan mampu menjadi pusat solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya. Melalui transformasi tersebut, Prof. Nazaruddin berharap FPSH menjadi fakultas yang mampu mengintegrasikan pendidikan, sains, dan humaniora dalam satu ekosistem pembelajaran. “Sehingga bisa menghasilkan lulusan yang adaptif, inovatif, serta memiliki daya saing tinggi di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi,” tutupnya.
Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora Sebagai Transformasi FKIP, Rektor UMM Beri Imbauan Ini

Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik. (Tri Sukma) Malanginspirasi.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengubah nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian ini dihadiri langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., yang menegaskan bahwa perubahan tersebut harus menjadi momentum transformasi yang substansial, bukan sekadar seremonial. Dalam sambutannya pada Senin (6/7/2026) di GKB I, Prof. Nazaruddin menyampaikan bahwa langkah ini merupakan sebuah ikhtiar baru yang membawa optimisme sekaligus ruang spekulatif yang menantang demi kemajuan institusi. Para civitas akademika menghadiri peluncuran nama baru FKIP menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora. (Tri Sukma) “Saya terus berpikir bahwa kekuatan dari dalam diri sebuah institusi atau dorongan dari dalam yang disebut Indigenous Forces berupaya terus-menerus mencari praktik terbaik, menemukan bentuknya sehingga dapat dirasakan keberadaannya, dan direspons oleh seluruh stakeholder, terutama masyarakat dengan baik,” ujarnya dalam sambutan. Perubahan nomenklatur ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem akademik yang lebih dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman. Kendati demikian, Rektor mengingatkan seluruh sivitas akademika agar tidak terjebak pada perubahan formalitas belaka. Pernyataan ini sengaja dilontarkan sebagai pemantik diskusi dan refleksi mendalam bagi internal fakultas maupun universitas. “Jadi ini bisa dipakai sebagai referensi atau wacana diskusi. Bahwa jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi secara substantif harus terjadi perubahan gradual dan dampak signifikan (significant impact) yang harus dicapai,” tegas Prof. Nazaruddin. Dengan wajah baru ini, Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora UMM dituntut untuk melahirkan inovasi-inovasi pendidikan yang lebih relevan, memperkuat integrasi antara ilmu sains dan nilai-nilai humaniora, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
Ini Alasan UMM Ubah Nama FKIP Jadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Istimewa/UMM jatim.tribunnews, Suasana dalam kegiatan pergantian nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB 1) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (6/7/2026). Laporan Wartawan TribunJatim.com, Rifky Edgar TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengubah nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH), Senin (6/7/2026). Peresmian yang digelar di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 itu menjadi penanda arah baru pengembangan UMM dalam menjawab dinamika dunia pendidikan, perkembangan ilmu pengetahuan, serta tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks. Perubahan nama tersebut dilakukan setelah terbitnya Surat Keputusan (SK) perubahan nama fakultas pada 30 Mei 2026. UMM menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat. Dekan FPSH UMM, Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM, mengatakan perubahan nama dari FKIP menjadi FPSH bukan sekadar pergantian identitas, melainkan representasi visi besar yang ingin dibangun kampus. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar perkembangan teknologi dan inovasi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama FKIP menjadi FPSH ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita,” “Karena pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” kata Mahfud. Momentum peresmian FPSH juga dirangkai dengan kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan fakultas tersebut. Mahfud menilai kehadiran belasan doktor baru menjadi modal penting dalam memperkuat kualitas akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap para doktor tersebut terus mengembangkan kapasitas keilmuan hingga mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan,” “Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ucapnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi nyata dalam budaya organisasi dan pola kerja.
FKIP UMM Resmi Ganti Nama Jadi FPSH, Ingin Lulusannya Adaptif Hadapi Perkembangan Zaman

Link copied! lihat foto Dok. UMM suryamalang, GANTI NAMA FAKULTAS – Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi saat memberikan sambutan dalam kegiatan pergantian nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB 1) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (6/7/2026). Menurut Rektor, UMM harus mampu memosisikan diri sebagai pelopor praktik terbaik sekaligus menjadi pusat solusi unggulan atau excellent solution center yang terus tumbuh dan berkembang di tengah perubahan zaman yang dinamis. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif,” tegas Nazaruddin secara terbuka. “Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tandasnya mengakhiri arahan. Menurut Rektor, UMM harus mampu memosisikan diri sebagai pelopor praktik terbaik sekaligus menjadi pusat solusi unggulan atau excellent solution center yang terus tumbuh dan berkembang di tengah perubahan zaman yang dinamis. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif,” tegas Nazaruddin secara terbuka. “Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tandasnya mengakhiri arahan.
SINEMASTORIA: Mahasiswa UMM Hadirkan Screening Film Pendek “The Observer” sebagai Ruang Refleksi atas Hal-Hal yang Tak Terucapkan

Kabar Nusantara – Malang, 6 Juni 2026 – Malang Creative Center (MCC) di Kecamatan Blimbing, Kota Malang, sukses menyelenggarakan SINEMASTORIA, sebuah event screening eksklusif yang menampilkan penayangan perdana film pendek “The Observer”. Dengan mengusung tema “The Unspoken Truth” yang diinisiasi oleh mahasiswa Praktikum Audio Visual 3 bekerjasama dengan Tim Produksi Kamera Depan. Sebanyak 174 audiens menonton Film “The Observer”. Berbeda dengan screening film pada umumnya, SINEMASTORIA mengajak audiens untuk terlibat langsung. Melalui cerita anonim, audiens diajak bercerita melalui link anonim. Sutradara Film “The Observer” mengapresiasi jalannya kegiatan yang dinilai mampu menghadirkan pengalaman menonton film yang berbeda bagi audiens. “SINEMASTORIA keren banget, yang paaling saya suka itu bagian bercerita. disana beberapa orang ada yang berkeluh kesah, mereka tuh kaya bener2 gen z banget klo pesan tu nyampe kesaya” ujar Getar, Sutradara Film “The Observer” SINEMASTORIA tidak hanya menghadirkan sesi screening film tetapi juga sesi diskusi dan tanya jawab bersama tim produksi. Melalui sesi ini, penonton dapat mengenal lebih dekat proses kreatif di balik film sekaligus memahami isu yang menjadi latar pengembangannya. Melalui kegiatan ini, Maxtep dan Kamera Depan terus berupaya dapat menghadirkan ruang apresiasi film yang tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga membuka ruang percakapan dan refleksi mengenai pengalaman yang sering kali hadir tanpa banyak dibicarakan.
Prof Mahfud Effendi: Prodi Perguruan Tinggi Harus Relevan dengan Zamannya

Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M. (FOTO: Dok. Humas UMM) timesindoensia, MALANG – Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menilai perguruan tinggi harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membuka program studi baru serta memperkuat kolaborasi lintas disiplin ilmu. Menurutnya, transformasi tersebut menjadi kebutuhan karena karakter calon mahasiswa dan tuntutan pasar kerja terus berkembang. “Contohnya perubahan nama fakultas merupakan respons terhadap perkembangan zaman. Kita tidak bisa hanya bertahan, tetapi harus memperluasnya,” ujar Mahfud, Senin (6/7/2026). Menurut Dekan Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH) UMM itu, perubahan nomenklatur fakultas bukan sekadar pergantian nama, melainkan bagian dari strategi membuka ruang kolaborasi antarbidang ilmu. Ia menilai selama ini sejumlah disiplin ilmu masih dipandang berdiri sendiri, padahal memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pendekatan multidisiplin. Mahfud juga menyoroti perubahan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, yang memiliki cara belajar, minat, dan harapan berbeda dibanding generasi sebelumnya. “Sekarang zamannya Gen Z dan Alpha, maka didiklah anak sesuai zamannya dan sesuai kebutuhannya. Sebagai institusi pendidikan, kita tidak bisa hanya diam saja,” katanya. Advertisement Menurutnya, perubahan preferensi tersebut turut memengaruhi minat calon mahasiswa terhadap sejumlah program studi, terutama bidang keguruan. Karena itu, UMM bersama sejumlah perguruan tinggi lain melakukan penyesuaian, salah satunya dengan mengubah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH). “Calon mahasiswa sekarang tidak begitu tertarik pada bidang keguruan. Selain faktor kesejahteraan, generasi sekarang juga tidak ingin terlalu terkungkung. Mereka ingin berpikir lebih bebas, dan itu yang kami sediakan,” ujarnya. Mahfud menambahkan, transformasi tersebut harus diikuti dengan pengembangan program studi yang sesuai kebutuhan masa depan. Di lingkungan FPSH UMM, misalnya, kampus berencana menambah Program Studi Sains Aktuaria dan Data Science untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di bidang analisis data dan industri berbasis teknologi. “Perubahan nama fakultas tidak cukup hanya pada nomenklatur. Program studi di dalamnya juga harus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya. Meski hingga kini belum ada regulasi yang mewajibkan perguruan tinggi membuka program studi baru, Mahfud meyakini arah kebijakan pendidikan tinggi akan semakin mendorong kampus untuk lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja. (*)
UMM Resmikan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora, Perkuat Sinergi Pendidikan, Sains, dan Nilai Kemanusiaan

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH).(Djoko W) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Simbolis resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) rektor dan Dekan FPSH(Djoko W) Peresmian dilakukan oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) I, Senin (6/7/2026), setelah terbitnya Surat Keputusan perubahan nama fakultas pada 30 Mei 2026. Transformasi tersebut menjadi bagian dari strategi UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui FPSH, UMM ingin memperkuat kolaborasi antara pendidikan, sains, dan humaniora agar mampu melahirkan inovasi yang tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M.(Djoko W) Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menjelaskan bahwa perubahan dari FKIP menjadi FPSH bukan sekadar pergantian nama, melainkan penegasan arah pengembangan fakultas di masa depan. Menurutnya, pendidikan memiliki peran membentuk karakter manusia, sains menjadi motor lahirnya inovasi, sementara humaniora memastikan setiap perkembangan ilmu pengetahuan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Momentum peresmian FPSH juga dirangkaikan dengan kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan fakultas tersebut. Kehadiran para doktor baru dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat kualitas akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahfud berharap para doktor tersebut terus meningkatkan kapasitas akademiknya hingga mencapai jabatan fungsional guru besar serta mampu menghasilkan karya yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si.(Djoko W) Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., menekankan bahwa transformasi kelembagaan harus diikuti dengan perubahan yang bersifat substantif, bukan sekadar pergantian identitas. Ia menilai keberhasilan FPSH akan ditentukan oleh kemampuan seluruh sivitas akademika dalam membangun pola pikir yang adaptif, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH sekaligus menjadi tonggak baru bagi UMM dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi di era yang terus berubah. Melalui penguatan sinergi antara pendidikan, sains, dan humaniora, Kampus Putih berkomitmen mencetak pendidik, peneliti, dan pemimpin yang berintegritas, inovatif, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa.(Djoko W)
Lewat ‘Gen Z Talk Social Campaign’, UMM Cetak Agen Perubahan Sosial yang Kreatif

Kegiatan Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 yang digelar Prodi Kesejahteraan Sosial UMM. (Foto: Istimewa) timesindonesia, MALANG – Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses memungkasi rangkaian Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3. Penutupan program dikemas melalui acara interaktif bertajuk “Gen Z Talk Social Campaign” di Nakoa Cafe, Sabtu (4/7/2026). Puncak pembelajaran CoE ini dirancang khusus untuk memperkuat kompetensi profesional mahasiswa di sektor pemberdayaan masyarakat lewat pendekatan praktis, inovatif, dan kolaboratif. Tak sekadar seremonial, agenda ini juga menjadi ruang diskusi yang mempertemukan kalangan akademisi, praktisi, mitra industri, mahasiswa, serta publik untuk membedah peran vital Generasi Z sebagai motor perubahan sosial. Hadir dalam acara tersebut Wakil Rektor IV UMM, Direktur CoE UMM, Dekan FISIP UMM, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial, jajaran mitra strategis, serta mahasiswa peserta CoE Batch 3. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, memberikan apresiasi tinggi kepada Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM yang konsisten menerapkan metode pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Menurutnya bahwa Program CoE menjadi salah satu bentuk komitmen Universitas Muhammadiyah Malang dalam mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus keterampilan profesional. Kolaborasi bersama mitra memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika masyarakat dan tantangan di dunia kerja. Pada kesempatan yang sama, Direktur CoE UMM, Achmad Fauzan Hery Soegiharto, menegaskan keberhasilan Batch 3 menjadi bukti kuatnya sinergi lintas sektor dalam menghadirkan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya bahwa CoE tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga melahirkan individu yang memiliki kemampuan berkolaborasi, berpikir kritis, dan mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial di masyarakat. Dekan FISIP UMM, Fauzik Lendriyono, menambahkan bahwa pemilihan tema kampanye sosial untuk Gen Z dinilai sangat tepat. Hal ini mengingat karakteristik generasi muda saat ini yang lekat dengan ekosistem digital dan punya potensi besar menggerakkan aksi sosial secara kreatif. “Generasi Z memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan media digital untuk menyebarkan nilai-nilai positif. Harapannya, mahasiswa Kesejahteraan Sosial mampu menjadi pelopor kampanye sosial yang tidak hanya viral, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Fauzik. Selaras dengan hal itu, Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM, Hutri Agustino, memaparkan bahwa sepanjang mengikuti program CoE Batch 3, mahasiswa ditempa melalui asistensi intensif bersama mitra, berbagai pelatihan, praktik lapangan, hingga eksekusi proyek sosial. Melalui panggung presentasi di acara ini, mahasiswa berkesempatan memaparkan gagasan serta evaluasi empiris mereka. Diskusi pun mengalir interaktif mengulas isu-isu krusial khas anak muda, mulai dari kesehatan mental, pemberdayaan komunitas, kepekaan sosial, hingga urgensi kolaborasi lintas sektor demi perubahan yang berkelanjutan. Selain menyajikan refleksi program, ajang ini sukses mempererat jejaring kemitraan strategis. Rangkaian acara dibuka dengan upacara penutupan resmi, disusul sesi talking social enterprise, serta penandatanganan kerja sama (MoU) dengan Vernon Edu. Aktivitas kemudian dilanjutkan dengan talk show tematik hasil magang, pemutaran video dokumenter, hingga pre-launch buku bertajuk Life Cycle CSR—karya kolaborasi antara mahasiswa dengan mitra CoE, Filantra. Tingginya antusiasme peserta teermin dari dinamisnya pertukaran ide selama sesi berlangsung. Berakhirnya CoE Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat Batch 3 ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya mengejar target akademik, melainkan juga berfokus pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan empati sosial. Melalui program CoE, Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang profesional, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat sesuai dengan semangat kampus berdampak yang diusung oleh Universitas Muhammadiyah Malang. (*)
FKIP UMM Resmi Berganti Nama Menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora

Rektor UMM bersama jajaran pimpinan meresmikan transformasi FKIP menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) di Jembatan GKB 1. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mentransformasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). Peresmian dilakukan langsung oleh Rektor UMM di Jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, Senin (6/7/2026), setelah terbit Surat Keputusan (SK) perubahan pada 30 Mei 2026. Transformasi ini menjadi bagian dari strategi agile UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada solusi atas dinamika perkembangan sains dan kemanusiaan. Dekan FPSH UMM Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM menjelaskan, perubahan dari FKIP menjadi FPSH bukan sekadar pergantian nama, melainkan deklarasi arah pengembangan kelembagaan yang lebih terbuka. Menurutnya, pendidikan, sains, dan humaniora harus berjalan beriringan agar kemajuan teknologi tidak menggerus nilai-nilai kemanusiaan. “Perubahan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora ini merupakan pernyataan tentang arah, tekad, dan cita-cita. Pendidikan membentuk manusia, sains melahirkan inovasi, sedangkan humaniora menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ketiganya harus berjalan bersama,” ujarnya. Selain peluncuran nama baru, UMM juga menggelar kolokium bagi 15 doktor baru dari berbagai program studi di lingkungan FPSH. Mahfud menilai kehadiran para doktor tersebut menjadi modal strategis untuk memperkuat kapasitas akademik, meningkatkan mutu riset dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendorong mereka meraih jabatan fungsional tertinggi sebagai guru besar. “Saya percaya masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan. Jagalah kualitas akademik, bangun kolaborasi, dan pastikan setiap ilmu yang dikembangkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi menegaskan bahwa perubahan nama fakultas harus diikuti transformasi yang substantif dalam organisasi. Keberhasilan FPSH, katanya, tidak ditentukan oleh identitas baru, melainkan oleh perubahan pola pikir, penguatan kolaborasi lintas disiplin, serta kemampuan menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Jangan sekadar mengubah papan nama, tetapi harus terjadi perubahan yang substantif. Agile mindset menjadi kunci agar organisasi mampu meningkatkan kreativitas, inovasi, kolaborasi, serta menghadirkan solusi bagi masyarakat. UMM harus menjadi pelopor praktik terbaik dan excellent solution center untuk terus tumbuh dan berkembang,” ungkapnya. Peresmian FPSH sekaligus lahirnya 15 doktor baru menjadi tonggak penting bagi UMM dalam merespons tantangan masa depan. Melalui sinergi pendidikan, sains, dan humaniora, Kampus Putih diharapkan terus mencetak pendidik, peneliti, dan pemimpin yang berintegritas. Transformasi ini juga menegaskan komitmen UMM menghadirkan inovasi pendidikan tinggi yang berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kepedulian universal demi kemajuan peradaban bangsa. (Faqih/AS)