Industri Kreatif Indonesia di Persimpangan Zaman

Penulis: Alfadz Fezra R Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang JurnalPost.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan struktur ketenagakerjaan, industri kreatif kembali disebut sebagai salah satu harapan masa depan perekonomian nasional. Ketika sektor-sektor konvensional menghadapi tekanan, aktivitas ekonomi berbasis ide, kreativitas, dan inovasi justru menunjukkan daya lenting. Namun, pertanyaannya bukan lagi sekadar seberapa besar potensi industri kreatif Indonesia, melainkan sejauh mana negara dan masyarakat siap mengelolanya secara serius dan berkelanjutan. Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat. Keragaman budaya, tradisi, dan ekspresi lokal adalah sumber inspirasi yang tidak dimiliki banyak negara. Dari seni pertunjukan, kriya, fesyen, film, hingga konten digital, kreativitas tumbuh hampir di setiap daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan munculnya berbagai produk kreatif lokal yang mampu menembus pasar nasional bahkan internasional, sekaligus membawa identitas budaya Indonesia ke ruang global. Sayangnya, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan dukungan struktural yang memadai. Banyak pelaku industri kreatif, khususnya di daerah, masih bergerak secara mandiri dan sporadis. Persoalan akses permodalan, kepastian usaha, serta perlindungan hak cipta masih menjadi keluhan yang berulang. Tidak sedikit karya kreatif yang berhenti sebagai tren sesaat, viral di media sosial tetapi sulit berkembang menjadi usaha yang berumur panjang. Kondisi ini menunjukkan bahwa kreativitas saja tidak cukup. Industri kreatif membutuhkan lingkungan usaha yang sehat dan konsisten. Tanpa sistem pendukung yang jelas, pelaku kreatif akan terus berada pada posisi rentan. Mereka dipuji ketika karyanya sukses, tetapi sering kali ditinggalkan ketika menghadapi persoalan produksi, distribusi, atau keberlanjutan pasar. Di sinilah peran negara dan pemerintah daerah menjadi sangat penting. Industri kreatif tidak seharusnya hanya dirayakan dalam bentuk festival, pameran, atau seremoni tahunan. Dibutuhkan kebijakan nyata yang memudahkan perizinan, membuka akses pembiayaan, serta memberikan perlindungan hukum atas karya dan ide. Pemerintah daerah juga perlu melihat industri kreatif sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi, bukan sekadar pelengkap sektor pariwisata atau hiburan. Selain kebijakan, persoalan sumber daya manusia juga perlu mendapat perhatian serius. Sistem pendidikan nasional masih cenderung menempatkan kreativitas sebagai aktivitas tambahan, bukan kompetensi utama. Padahal, industri kreatif menuntut individu yang tidak hanya kreatif, tetapi juga adaptif, mampu bekerja lintas disiplin, dan memahami teknologi. Tanpa pembenahan di sektor pendidikan, industri kreatif akan kesulitan mencetak pelaku yang siap bersaing dalam jangka panjang. Perkembangan teknologi digital sebenarnya membuka peluang besar bagi industri kreatif. Media sosial, platform distribusi digital, dan perdagangan daring memungkinkan pelaku kreatif menjangkau pasar yang lebih luas tanpa bergantung sepenuhnya pada jalur konvensional. Namun, peluang ini juga membawa tantangan baru. Persaingan semakin ketat, posisi kreator kecil sering tidak seimbang, dan karya mudah dieksploitasi tanpa perlindungan yang jelas. Lebih dari sekadar sektor ekonomi, industri kreatif memiliki peran strategis dalam membentuk citra dan jati diri bangsa. Melalui film, musik, desain, dan seni pertunjukan, Indonesia dapat berbicara kepada dunia dengan bahasanya sendiri. Karena itu, pengembangan industri kreatif tidak boleh dilepaskan dari upaya menjaga keberagaman dan nilai budaya yang menjadi akarnya. Ke depan, tantangan terbesar industri kreatif Indonesia adalah mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Hal ini hanya dapat dicapai melalui sinergi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas. Tanpa arah yang jelas dan kerja bersama, industri kreatif akan terus tumbuh terpisah-pisah dan sulit mencapai skala yang signifikan. Industri kreatif Indonesia saat ini berada di persimpangan zaman. Pilihannya jelas: dikelola secara serius sebagai pilar ekonomi masa depan, atau dibiarkan berjalan sendiri dengan segala keterbatasannya. Jika dikelola dengan tepat, industri kreatif bukan hanya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, tetapi juga wajah Indonesia yang kreatif, berdaya saing, dan berakar kuat pada budaya sendiri.

Mahasiswa BSI Modern UMM Pentaskan Dua Lakon Teater Sarat Konflik

Sketsamalang.com – Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mementaskan dua lakon teater sarat konflik dalam rangka luaran mata kuliah Penyutradaraan. Pementasan tersebut berlangsung selama dua hari, 11–12 Januari 2026, di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Dua naskah yang dipentaskan ialah *Lakon Elegi Musim Panas* karya Chandra Kudapawarna pada hari pertama dan *Orang Kasar* karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra pada hari kedua. Pementasan ini menjadi wadah pembelajaran mahasiswa dalam mengasah kemampuan penyutradaraan, keaktoran, serta pembacaan dan penafsiran teks drama. *Lakon Elegi Musim Panas* mengisahkan Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Perselingkuhan tersebut merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Tanpa disadari, perempuan yang terlibat hubungan tersebut mengalami kebangkrutan serta keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa relasi yang ia jalani hanyalah bentuk manipulasi. Lakon ini dibangun dengan suasana emosional yang kuat, menonjolkan tema pengkhianatan, tipu daya, dan kehancuran perasaan. Sementara itu, *Orang Kasar* menghadirkan nuansa yang lebih dinamis dan sarat ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi. Dalam situasi tersebut, tumbuh benih cinta antara keduanya, sehingga sang nyonya berada dalam dilema antara kesetiaan dan perasaan baru. Adegan-adegan komikal yang lahir dari gengsi dan kecanggungan tokoh membuat penonton terpancing emosi hingga akhir pertunjukan. Salah satu adegan dalam pementasan teater Mahasiswa BSI Modern UMM Pembina mata kuliah Penyutradaraan, Dr. Hari Sunaryo, M.Si., menilai pementasan ini sebagai ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Menurutnya, kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan serta kedewasaan dalam pengolahan adegan. “Dalam proses pendampingan, saya melihat naskah-naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan tertentu. Jika tidak cermat, ada kemungkinan masuk ke wilayah sensor. Oleh karena itu, penting bagi sutradara dan pemain untuk tetap mengusung nilai-nilai. Proses ini menjadi pelajaran berharga bagi mahasiswa sebagai pribadi yang menjalani kehidupan sekaligus menjaga kehidupan,” ujarnya. Apresiasi juga disampaikan Kepala Program Studi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menilai proses panjang yang dilalui mahasiswa selama produksi, termasuk dinamika suka dan duka latihan, turut memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. “Banyak proses yang mereka lalui selama produksi. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga alur cerita sulit ditebak oleh penonton. Plot twist yang memancing reaksi jengkel justru menunjukkan keberhasilan aktor dalam mendalami peran,” tuturnya. Ia berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif. Menurutnya, pertunjukan teater memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa setelah lulus, terutama bagi mereka yang akan berkecimpung di dunia kerja yang berkaitan dengan seni peran dan keaktoran. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pementasan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan serta profesionalitas mahasiswa dalam bidang seni pertunjukan.

PSIB UMM Gelar Refleksi Awal Tahun, Bahas Percepatan Indonesia Emas 2045

qudeta.co, Malang — Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar refleksi awal tahun dengan mengusung tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar ini menghadirkan sejumlah akademisi serta pemangku kebijakan, termasuk Wali Kota Batu sebagai keynote speaker. Forum refleksi tersebut bertujuan meninjau capaian pemerintah sekaligus merumuskan langkah strategis untuk mempercepat transformasi menuju Indonesia Emas 2045. Urgensi transformasi ini mencakup berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga pembangunan sumber daya manusia (SDM). Acara dibuka dengan sambutan Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D. Ia menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi kebijakan berbasis riset bagi pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Lebih lanjut, Gonda menjelaskan bahwa kegiatan refleksi awal tahun ini merupakan bagian dari komitmen PSIB UMM dalam mendukung terwujudnya generasi emas 2045. “Dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya. Wali Kota Batu, Nurochman, S.H., M.H., yang hadir sebagai keynote speaker, menegaskan bahwa keterlibatan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mencapai Indonesia Emas 2045. Ia menilai, transformasi harus berangkat dari nilai-nilai lokal yang selaras dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya. Dalam konteks pembangunan SDM unggul, Nurochman menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan sejumlah program strategis. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya. Sementara itu, pemateri lain, Luthfi J. Kurniawan, memaparkan pentingnya transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia menilai bahwa pencapaian Indonesia Emas 2045 menuntut fokus serius pada pembangunan SDM dan ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” tuturnya. Luthfi juga mengingatkan bahwa tanpa persiapan yang matang, bonus demografi justru dapat berubah menjadi ancaman. “Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” imbuhnya. Pandangan serupa disampaikan Muhammad Mirdasy, S.IP. Dia menilai awal tahun sebagai momentum strategis untuk melakukan refleksi dan reposisi arah pembangunan bangsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Mirdasy juga menekankan pentingnya kajian Islam multidisipliner dalam merespons tantangan zaman. “Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Sebagai pemateri terakhir, Abdus Salam, pakar sosiologi politik UMM, memaparkan berbagai persoalan struktural yang masih dihadapi Indonesia, khususnya kemiskinan. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup,” katanya. Dia menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi pada sektor ketenagakerjaan dan wilayah. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” ucapnya. Moderator acara, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menilai bahwa seluruh pemaparan narasumber bermuara pada dua isu utama, yakni pembangunan SDM dan tata kelola pemerintahan yang baik. Pada sesi penutup, ia menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sinergi lintas sektor. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, PSIB UMM berharap lahir rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak, guna mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045. (*/muz)

Refleksi Awal Tahun PSIB UMM: Wali Kota Batu Paparkan Program Unggulan Membangun SDM

www.majelistabligh.id –Wali Kota Batu Nurochman, SH, MH menyampaikan, dalam mencapai Indonesia emas 2045 perlu keterlibatan pemerintah daerah, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya saat menjadi narasumber refleksi awal tahun  yang diselenggarakan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin (12/1/2026). Acara yang mengangkat tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045” dilangsungkan di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar. M Mirdasy dari LHKP PMW Jatim hadir sebagai salah satu narasumber di refleksi awal tahun PSIB UMM. (ist) Lebih lanjut, Nurochman memaparkan, dalam menyiapkan generasi emas yang unggul, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan beberapa program yang secara spesifik membangun SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,”ujarnya. Sebelumnya Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, PhD menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Lebih lanjut, Gonda memaparkan bahwa agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045 “. Refleksi awal tahun diharapkan dapat menawarkan inovasi-inovasi dan  melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak. Sementara itu, Luthfi J Kurniawan memaparkan materi tentang transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia melihat, dalam mencapai Indonesia emas 2045, pemerintah harus lebih fokus dalam membangun SDM yang unggul serta ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapannya. Lebih lanjut Lutfi menyampaikan kalau tidak adanya persiapan yang matang dalam segala aspek, tidak menutup kemungkinan bonus demografi akan menjadi ancaman. “Jika Pendidikan, Kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,”tuturnya. Sementara Muhammad Mirdasy S.IP melihat bahwa awal tahun ini merupakan momentum dalam melakukan refleksi dan reposisi strategis bagsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Lebih lanjut Mirdasy melihat,  kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespon tantangan zaman. “Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Abdus Salam selaku pemateri terakhir juga memaparkan bahwa hari ini Indonesia menghadapi  banyak problem. Sebagai pakar sosiologi politik Universitas Muhammadiyah Malang, Abdus Salam melihat bahwa saat ini Indonesia menghadapi kemiskinan struktural. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup”, katanya. Abdus Salam juga menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi di sektor pekerjaan dan kemiskinan regional. “Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” ucapnya. Diki Wahyudi,S.Sos., M.IP sebagai moderator melihat problem yang disampaikan oleh seluruh pemateri terpusat pada pembangunan SDM dan tata kelola pemerintah yang baik.  Di sesi penutup, Diki Wahyudi menyimpulkan bahwa percepatan transformasi menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen bangsa. “Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya. (diki wahyudi)

Inovasi Akuaponik UMM Ubah Lahan Sempit Warga Jetis Jadi Sumber Pangan dan Ekonomi

INDOZONE.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat inovasi sistem akuaponik agar masyarakat di Dusun Jetis, Desa Mulyoagung, Malang, tetap produktif meskipun mempunyai keterbatasan lahan. Melalui sistem tersebut, warga di lingkungan Jalan Margojoyo kini dapat menciptakan area terbatas menjadi tempat budidaya ikan dan tanaman sayur secara terpadu. Program ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat UMM, yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. ‎Kegiatan yang berlangsung dari Juli hingga Desember 2025 tersebut melibatkan tim lintas ilmu, mulai dari ahli biologi, perikanan, hingga ekonomi. Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, mengungkapkan bahwa akuaponik dipilih karena sifatnya yang ramah lingkungan, sesuai dengan kondisi lahan, dan sangat efisien untuk kemandirian pangan keluarga. ‎ ‎“Akuaponik memungkinkan masyarakat memproduksi pangan secara mandiri dengan memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling menguntungkan,” jelasnya.    ‎Dalam pelaksanaannya, warga tidak hanya menjadi penonton. Dibawah bimbingan Dony Prasetyo dari Fakultas Perikanan, warga diajak terjun langsung mulai dari merancang instalasi, memilih benih, hingga merakit sistem akuaponik. “Kami lakukan bersama warga agar mereka benar-benar mandiri,” tutur Dony. Adapun komoditas yang dipilih meliputi ikan lele serta berbagai sayuran hijau seperti kangkung, sawi pakcoy, bayam, dan seledri. ‎Selain untuk kebutuhan dapur sendiri, program ini juga membidik peningkatan ekonomi warga. Dr. Erna Retno Rahadjeng membantu ibu-ibu PKK dalam mengolah hasil panen menjadi produk yang lebih awet dan bernilai jual, seperti abon lele dan keripik sayur. Melalui pemasaran digital, produk-produk tersebut diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga. ‎Warga menyambut inisiatif ini dengan antusias karena sistem akuaponik dianggap sebagai solusi nyata untuk menambah penghasilan tanpa memerlukan lahan luas. Selain itu, program UMM ini menjadi langkah nyata dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengentaskan kemiskinan di level komunitas.

Pusat Studi Islam Berkemajuan UMM Gelar Refleksi Awal Tahun

MALANG, PIJARNEWS.ID – Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara refleksi awal tahun dengan mengangkat tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar pada Senin (12/1/2026) ini dilaksanakan dalam rangka meninjau kembali pencapaian pemerintah serta merumuskan langkah strategis untuk mencapai Indonesia emas tahun 2045, terkhusus mempercepat proses transformasi di berbagai sektor, termasuk ekonomi hingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Prof. Gonda Yumitro, Ph.D, selaku kepala PSIB UMM. Ia menekankan pentingnya peran akademisi dalam memberikan rekomendasi berbasis riset untuk pembangunan daerah maupun nasional. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya. Ia juga memaparkan bahwa agenda ini merupakan salah satu langkah PSIB UMM dalam mendukung upaya mewujudkan generasi emas 2045. “Dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” terangnya. Lebih lanjut, Wali Kota Batu Nurochman, S.H., M.H yang hadir sebagai keynote speaker menyampaikan bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045 perlu keterlibatan pemerintah daerah. Dalam hal ini, ia memaparkan bahwa peran pemerintah daerah dalam mendorong transformasi menuju Indonesia emas perlu diawali dari menjunjung tinggi nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan visi nasional dan global. “Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam menyiapkan generasi emas yang unggul, Pemerintah Kota Batu telah menyiapkan beberapa program yang secara spesifik membangun SDM unggul. “Dalam menjawab tantangan kedepan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya. Sementara itu, Luthfi J Kurniawan memaparkan materi tentang transformasi kepemimpinan di era masyarakat madani. Ia melihat bahwa dalam mencapai Indonesia emas 2045, pemerintah harus lebih fokus dalam membangun SDM yang unggul serta ekonomi berkelanjutan. “Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan Pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapnya. Ia juga menyampaikan kalau tidak adanya persiapan yang matang dalam segala aspek, tidak menutup kemungkinan bonus demografi akan menjadi ancaman. Menurutnya, jika pendidikan dan kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi Pembangunan Indonesia emas 2045. “Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” tuturnya. Begitupun Muhammad Mirdasy S.IP yang melihat bahwa awal tahun ini merupakan momentum dalam melakukan refleksi dan reposisi strategis bagsa. “Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, dimana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya. Ia menilai bahwa kajian Islam multidisipliner diperlukan untuk merespon tantangan zaman. Sebab tantangan zaman hari ini cukup begitu kompleks. “Hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, dimana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Diakhir, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam memaparkan bahwa hari ini Indonesia menghadapi banyak problem. Ia melihat bahwa saat ini Indonesia menghadapi kemiskinan struktural. “Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup”, katanya. Ia juga menambahkan bahwa kemiskinan struktural juga terjadi di sektor pekerjaan dan kemiskinan regional. Seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. “Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai”, ucapnya. Dengan diselenggarakannya acara ini, diharapkan muncul rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pihak, mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045.

Refleksi Awal Tahun PSIB UMM, Membedah Strategi Percepatan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh : Roudhotul Mufarikha Mahasiswa semester 5 Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) Universitas Muhammadiyah Malang Kota Malang kerap dibanggakan sebagai kota kreatif. Julukan itu tidak lahir tanpa dasar. Sejalan dengan semangat Tri Bina Cita Kota Malang, potensi kota ini sejatinya ditopang oleh kampus-kampus yang melahirkan talenta muda, komunitas seni dan digital yang dinamis, serta geliat ekonomi kreatif yang digerakkan generasi muda. Kehadiran Malang Creative Center (MCC) bahkan kerap dipromosikan sebagai simbol keseriusan pemerintah kota dalam membangun ekosistem kreatif. Namun, di balik kenyataan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di kalangan pelaku, apakah Malang benar-benar sedang membangun industri kreatif, atau sekadar merawat citra kota kreatif. Secara potensi, Kota Malang berada pada posisi yang sangat strategis. Dengan lebih dari 72 perguruan tinggi, 123 SMA/SMK, serta 125 lembaga pendidikan nonformal, Malang lahirkan ribuan talenta muda setiap tahun yang menjadi motor penggerak sektor kreatif. Pemerintah kota mencatat ada 142 komunitas media art, 30 studio game, 40 start-up digital, 50 studio desain komunikasi visual, serta puluhan ruang kreatif dan lembaga pendanaan yang aktif berkolaborasi di ekosistem kreatif kota ini. Malang Creative Center (MCC), yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Malang, telah menjadi ruang utama aktivitas kreatif. Sejak awal pembukaan hingga November 2025, tercatat lebih dari 13.958 event kreatif yang diadakan, melibatkan 2.867 pelaku ekonomi kreatif dan memberi manfaat bagi lebih dari 708 ribu orang, termasuk pelatihan, diskusi, pameran, dan kolaborasi lintas disiplin. Angka-angka ini menunjukkan bahwa aktivitas kreatif di Kota Malang hidup dan penuh dinamika. Namun, hidupnya aktivitas tersebut tidak selalu berarti kuatnya sebuah industri. Kenyatannya, masih banyak pelaku kreatif masih beroperasi dalam skala kecil dan rapuh. Kegiatan sering kali bersifat temporer berbasis event, festival, atau program jangka pendek. Setelah acara usai, tidak sedikit dari mereka yang kembali berjuang dengan persoalan klasik seperti keterbatasan modal, akses pasar yang sempit, dan minimnya pendampingan usaha. Dukungan pemerintah kota sejauh ini memang terlihat, tetapi cenderung belum menyentuh akar persoalan. Pembangunan gedung kreatif dan penyelenggaraan event sering kali menjadi wajah utama kebijakan ekonomi kreatif. Namun, aspek krusial seperti pembiayaan berkelanjutan, perlindungan hak cipta, serta akses distribusi produk kreatif masih berjalan lambat. Banyak pelaku kreatif mengaku kesulitan mengakses skema pendanaan formal karena model usaha mereka tidak berbasis aset fisik sehingga tidak memenuhi standar perbankan konvensional. Masalah lain yang tak kalah penting adalah lemahnya hilirisasi karya di Malang. Kota ini dikenal produktif secara ide terutama di lingkungan kampus namun belum kuat dalam mengubah ide menjadi nilai ekonomi nyata. Banyak karya mahasiswa atau komunitas kreatif hanya berputar di lingkaran kampus atau komunitas, berhenti pada pameran dan portofolio, tanpa koneksi industri yang jelas. Kondisi ini diperparah oleh belum optimalnya basis data ekonomi kreatif. Di tengah potensi besar tersebut, hingga kini pemetaan pelaku industri kreatif secara komprehensif mulai dari skala usaha, kontribusi ekonomi, hingga tantangan per subsektor masih terbatas. Akibatnya, kebijakan yang lahir kerap bersifat umum tanpa benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Padahal, subsektor kreatif seperti film, games, kuliner, dan kriya memiliki karakter, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda. Mirisnya, banyak kemajuan ekosistem kreatif Malang yang justru lahir dari inisiatif komunitas dan kampus. Inkubator bisnis, pameran alternatif, hingga kolaborasi lintas disiplin sering digerakkan secara oleh anak muda dengan sumber daya terbatas. Peran pemerintah sering kali hadir di tahap akhir sebagai fasilitator acara, bukan sebagai perancang sistem kebijakan jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa kekuatan kreatif Malang tumbuh dari bawah, sementara kebijakan dari atas belum sepenuhnya mengikuti ritme tersebut. Jika Kota Malang ingin melangkah lebih jauh dari sekadar kota kreatif secara simbolik, maka pendekatan kebijakan harus berubah. Pertama, pemerintah kota perlu memperkuat skema pembiayaan kreatif yang adaptif, seperti dana bergulir, hibah berbasis proyek berkelanjutan, atau kemitraan dengan investor yang memahami karakter industri kreatif. Akses modal tidak boleh hanya dinikmati pelaku yang sudah mapan. Kedua, pembangunan infrastruktur harus diarahkan pada ruang produksi, bukan hanya ruang pamer. Studio bersama, makerspace, laboratorium digital, dan fasilitas produksi yang terjangkau akan membantu pelaku kreatif naik kelas dari sekadar komunitas menjadi industri. Ketiga, pemerintah perlu membangun basis data ekonomi kreatif yang terintegrasi agar kebijakan benar-benar berbasis bukti, bukan asumsi. Terakhir, status dan branding kota kreatif seharusnya dimanfaatkan untuk membuka akses pasar yang lebih luas. Promosi produk kreatif Malang ke tingkat nasional dan global harus menjadi agenda serius, bukan sekadar jargon. Tanpa itu, kreativitas akan terus berputar di ruang lokal yang sempit. Kota Malang memiliki semua modal untuk menjadi kota kreatif yang kuat. Adanya sumber daya manusia, ide, dan energi muda menjadi modal besar. Yang masih kurang adalah keberanian kebijakan untuk berpihak secara nyata. Jika tidak segera dibenahi, potensi besar itu akan terus berjalan di tempat ramai aktivitas, tetapi minim dampak. Karena sejatinya Kota Kreatif diukur dari dampak, bukan dari seberapa sering kreativitas dipamerkan.

Kreator Digital Antara Jam Kerja, Prestise dan Penghasilan yang Tidak Sebanding

SUARAMALANG.COM–Dimasa sekarang semua orang ingin menjadi konten kreator, semua ingin dikenal, viral di sosial media dan cerita sukses di media sosial. Namun sayangnya kenyataannya berbeda, dibalik layar banyak kreator bekerja setiap hari tanpa kepastian penghasilan. Platform tumbuh dengan cepat dan mengahruskan para Kreator menyesuaikan diri terus. Realita yang terjadi di lapangan yang sering dialami pada industri kreatif digital Indonesia ada pada sistem platform yang menuntut produktivitas tinggi tanpa memberi rasa aman bagi kreator sehingga Kreator diperlakukan seolah oleh menjadi sebuah mesin konten. Ada beberapa poin penting disini, pertama, tekanan unggah konten hadir tanpa berhenti. Kreator diharuskan untuk bangun dengan pikiran yang sama setiap hari. Harus unggah hari ini, Takut tertinggal, Takut dilupakan algoritma, Sekali berhenti, jangkauan turun drastis. Banyak kreator bekerja dari pagi sampai malam. Delapan jam tidak pernah cukup. Tidak ada jam pulang. Tidak ada hari libur. Kerja terasa bebas, tapi sebenarnya terikat. Kedua, penghasilan bergerak tanpa pola yang bisa dipahami. Satu video bisa meledak dan memberi harapan. Puluhan video berikutnya sepi dan tidak menghasilkan apa apa. Kreator tidak tahu apa yang salah. Konten sama. Usaha sama, hasil berubah. Platform tidak memberi penjelasan yang masuk akal. Ketidakpastian ini memaksa kreator terus mencoba, terus memproduksi, meski lelah. Ketiga, kelelahan mental dianggap risiko pribadi. Kreator harus selalu tampil menarik. Wajah boleh lelah, konten tidak boleh turun. Angka tayangan dan komentar menjadi penentu suasana hati. Saat angka turun, rasa gagal muncul. Saat respons negatif datang, tekanan bertambah. Sistem tidak menyediakan ruang istirahat. Tidak ada jeda aman untuk berhenti tanpa dihukum penurunan jangkauan. Keempat, kreator tidak benar benar memiliki audiens. Pengikut ada, tapi kendali tidak di tangan kreator. Semua data dikuasai platform.Ketika akun dibatasi atau ditutup, seluruh kerja bertahun tahun bisa hilang dalam satu hari. Tidak ada penjelasan yang jelas. Proses banding sering tidak dijawab. Kreator kehilangan identitas digital dan sumber penghasilan sekaligus. Kelima, negara hadir lebih banyak lewat kata kata. Pemerintah memuji industri kreatif dalam pidato dan kampanye. Di level kebijakan, kreator dibiarkan berjalan sendiri. Tidak ada perlindungan pendapatan minimum. Tidak ada pengakuan sebagai pekerja digital. Kreator diposisikan sebagai individu mandiri, padahal mereka berada dalam sistem yang sangat terstruktur dan timpang. Industri kreatif digital seharusnya berdiri di atas kerja manusia, bukan mengurasnya. Kreator bukan sekadar pengisi linimasa. Mereka pekerja yang menggerakkan trafik, iklan, dan keuntungan platform. Tanpa kreator, ekosistem digital tidak berjalan. Platform perlu membuka cara kerja sistemnya. Kreator berhak tahu alasan jangkauan turun dan pendapatan berubah. Transparansi algoritma memberi kepastian kerja. Platform juga perlu menetapkan batas produktivitas yang sehat. Insentif tidak boleh hanya berbasis kuantitas unggahan. Kualitas dan keberlanjutan harus dihitung. SKEMA MONETISASI HARUS DIBENAHI Pembagian pendapatan harus lebih proporsional. Kreator kecil perlu akses monetisasi sejak awal, bukan setelah mencapai angka tertentu. Pendapatan dasar berbasis jam tayang atau kontribusi konten bisa menjadi opsi realistis. Negara harus hadir nyata. Kreator perlu diakui sebagai pekerja kreatif digital. Aturan soal transparansi platform dan mekanisme pengaduan harus jelas. Akses jaminan sosial dan perlindungan pendapatan perlu dibuka. Pasalnya, ekosistem ini terus dibiarkan, industri kreatif digital akan melahirkan generasi pekerja lelah tanpa kepastian. Kreativitas tidak tumbuh dalam tekanan terus menerus. Industri ini hanya bisa bertahan jika manusia di dalamnya diperlakukan secara adil. Penulis : Aji Hikmal, Mahasiswa FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Wamendiktisaintek Dorong Kesinambungan Antara Nilai dan Budaya di PTMA

MALANG, Suara Muhammadiyah – Kesinambungan nilai dan budaya organisasi kampus menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika. Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., selaku Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), saat memberikan pengarahan kepada jajaran dosen UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Fauzan menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja, dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung cerita dan sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul mandiri, dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. “Program khusus untuk PTS klaster mandiri sedang kami desain agar ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak,” jelasnya. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH sekaligus Wamendiktisaintek itu menjadi penguat langkah strategis UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Arahan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus bergerak maju dengan pijakan nilai yang kuat,” pungkasnya. (diko)

Peta Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 versi Webometrics Klik untuk baca: https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/Zke1naAk-peta-kampus-terbaik-di-jawa-timur-2026-versi-webometrics Peta Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 versi Webometrics

MEDCOM.ID – Jakarta: Mencari dan memilih perguruan tinggi saat ini semakin mudah. Kamu bisa memanfaatkan data pemeringkatan sebagai rujukan informasi. Dengan data pemeringkatan kamu bisa melihat kualitas dan daya saing sebuah kampus, baik di tingkat nasional maupun global. Salah satu pemeringkatan internasional terbaru dirilis oleh Webometrics. Lembaga pemeringkatan internasional itu baru saja merilis pemeringkatan edisi Januari 2026. Pada edisi Januari 2026, Webometrics kembali merilis pemeringkatan universitas dunia, termasuk perguruan tinggi di Indonesia. Hasil pemeringkatan tersebut memberikan gambaran tentang peta persaingan kampus nasional, sekaligus menunjukkan daerah-daerah yang memiliki kontribusi kuat dalam pengembangan pendidikan tinggi. Di Provinsi Jawa Timur, sejumlah perguruan tinggi tampil menonjol dan masuk jajaran kampus terbaik nasional versi Webometrics. Kampus-kampus tersebut tersebar di berbagai kota, mulai dari Surabaya, Malang hingga Madura. Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember tercatat sebagai kampus dengan peringkat dunia tertinggi di Jawa Timur. Ketiganya menunjukkan konsistensi dalam aspek riset, visibilitas akademik, serta kontribusi ilmiah yang berdampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain perguruan tinggi besar, sejumlah kampus kecil di Jawa Timur juga mencatatkan performa positif. Hal ini menunjukkan ekosistem pendidikan tinggi di provinsi ini terus berkembang dan tidak hanya bertumpu pada segelintir institusi. Pemeringkatan Webometrics ini dapat menjadi bahan pertimbangan awal bagi calon mahasiswa dan orang tua dalam memilih perguruan tinggi. Nah, apa saja kampus terbaik di Jawa Timur versi Webometrics edisi Januari 2026? Berikut daftarnya: 20 kampus terbaik di Jatim versi Webomatrics edisi Januari 2026 1. Universitas Airlangga World Rank: 590 Impact Rank: 694 Opennes Rank: 27720 Excellence Rank: 1056 2. Universitas Brawijaya World Rank: 747 Impact Rank: 572 Opennes Rank: 822 Excellence Rank: 1905 3. Institut Teknologi Sepuluh Nopember World Rank: 888 Impact Rank: 932 Opennes Rank: 1119 Excellence Rank: 1892 4. Universitas Negeri Malang World Rank: 951 Impact Rank: 1005 Opennes Rank: 948 Excellence Rank: 2438 5. Universitas Islam Malang World Rank: 1913 Impact Rank: 1409 Opennes Rank: 1960 6. Universitas Jember World Rank: 1423 Impact Rank: 1070 Opennes Rank: 1276 Excellence Rank: 3654 7. Universitas Negeri Surabaya World Rank: 1340 Impact Rank: 1523 Opennes Rank: 1153 Excellence Rank: 3981 8. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya World Rank: 1985 Impact Rank: 2481 Opennes Rank: 2906 Excellence Rank: 5115 9. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya World Rank: 1921 Impact Rank: 3793 Opennes Rank: 2629 Excellence Rank: 4728 10. Universitas Muhammadiyah Malang World Rank: 1291 Impact Rank: 904 Opennes Rank: 1526 Excellence Rank: 3634 11. Universitas Surabaya World Rank: 2063 Impact Rank: 5313 Opennes Rank: 2262 Excellence Rank: 4191 12. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya World Rank: 2112 Impact Rank: 3526 Opennes Rank: 2756 Excellence Rank: 4730 13. Universitas Muhammadiyah Surabaya World Rank: 2290 Impact Rank: 2371 Opennes Rank: 2674 Excellence Rank: 5984 14. Petra Christian University World Rank: 1974 Impact Rank: 2977 Opennes Rank: 28811 Excellence Rank: 4575 15. Universitas Katolik Widya Karya Malang World Rank: 2415 Impact Rank: 3349 Opennes Rank: 30112 Excellence Rank: 4871 16. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya World Rank: 2611 Impact Rank: 5561 Opennes Rank: 29862 Excellence Rank: 5971 17. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur World Rank: 1738 Impact Rank: 1844 Opennes Rank: 2087 Excellence Rank: 4421 18. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang World Rank: 1300 Impact Rank: 957 Opennes Rank: 29323 Excellence Rank: 4053 19. Universitas Trunojoyo Madura World Rank: 1689 Impact Rank: 1751 Opennes Rank: 3487 Excellence Rank: 4512 20. Universitas Dr Soetomo World Rank: 2746 Impact Rank: 4012 Opennes Rank: 32210 Excellence Rank: 5231. Nah itulah 20 universitas terbaik di Jawa Timur berdasarkan pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2026. Ada incaran kamu?