Pasca Banjir Banyak Penyintas Stres: Dokter Muda FK UMM Lakukan Psikososial

MALANG POST – Berada di hadapan para penyintas yang kehilangan rumah dan keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda yang akrab disapa Dana ini harus belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme saat mendampingi korban banjir bandang Sumatra melalui layanan psikososial. Dana merupakan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) asal Banjarmasin. Ia tergabung dalam program tanggap bencana UMM yang berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek) yang berfokus pada pelayanan medis dan psikososial. Para relawan diterjunkan ke Sumatra barat sepanjang bulan Desember 2025 untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang. Dalam program tersebut, Dana dipercaya bergabung sebagai anggota tim psikososial, yang bertugas mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana. “Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar Dana. Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen awal Dana bersentuhan langsung dengan realitas bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dihuni penyintas dari Kecamatan Palembayan, wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan tinggi. “Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah, bahkan banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” katanya. Dana menjelaskan bahwa mayoritas penyintas yang ia dampingi mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan. Pendampingan dilakukan melalui asesmen, konseling, relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua minggu. “Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” ungkapnya. Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi Kec. Lubuk Basung lokasi penyintas dari Kec. Palembayan, salah satu zona merah dengan dampak paling parah. “Saya bertemu seorang ayah yang rela mengkorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat sebelum akhirnya tergerak untuk melukai diri agar bisa terbebas selamat dari jeratan galodo setelah mendengar pertanyaan, ayah setelah ini kemana? Ayah ikut kan?. Cerita mereka benar-benar menggoyahkan saya secara personal,” tutur Dana. Meski pernah menjalani stase kejiwaan saat koas, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberi pelajaran yang jauh lebih dalam. “Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya. Dana berharap kehadiran program UMM bersama KemendiktiSaintek yang fokus kepada layanan medis dan psikososial ini dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas pascabencana.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Kuliah Praktisi UMM: Membedah Peran Pekerja Sosial di Dunia Pemasyarakatan

pwmu.co –Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak tenaga profesional yang siap terjun ke masyarakat.Selasa (23/12/2025), bertempat di Basement Dome Kampus III UMM, digelar Kuliah Praktisi bertajuk “Tantangan dan Peluang Pekerja Sosial Koreksional di Pemasyarakatan”. Acara ini menjadi ruang diskusi strategis untuk membedah peran krusial pekerja sosial dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Kegiatan resmi dibuka oleh Wakil Rektor I UMM Prof. Akhsanul In’am, setelah sebelumnya diawali dengan sambutan dari Dekan FISIP Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si, dan Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Hutri Agustino, Ph.D. “Praktik pekerja sosial dalam ranah koreksional memiliki urgensi tinggi dalam mendukung proses pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan,” kata Hutri Agustino. Menurut dia, terdapat dua fokus utama dalam intervensi ini: Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS): Menitikberatkan pada rehabilitasi sosial, penguatan kapasitas personal, serta pembentukan perilaku adaptif bagi warga binaan selama menjalani masa pidana. Balai Pemasyarakatan (BAPAS): Berperan penting dalam pendampingan klien saat menjalani pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, maupun asimilasi agar mereka mampu kembali berfungsi secara sosial. “Pemasyarakatan yang humanis membutuhkan pekerja sosial yang kompeten, reflektif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Dengan intervensi yang tepat, risiko pengulangan tindak pidana (residivisme) dapat ditekan secara signifikan,” tegas Hutri. Kepala BAPAS Kelas I Malang, Karto Rahardjo, Bc. IP, SH, MH, hadir sebagai pemateri yang membedah realita di lapangan. Ia tidak menampik bahwa pekerja sosial koreksional saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Beberapa kendala utama yang dihadapi meliputi dinamika permasalahan sosial klien yang semakin beragam, keterbatasan sumber daya pendukung, stigma negatif masyarakat yang masih melekat kuat pada mantan warga binaan.   Meski demikian, Karto menekankan bahwa kebijakan nasional yang kini mulai bergeser ke arah keadilan restoratif (restorative justice) dan reintegrasi sosial justru menjadi peluang besar. “Pekerja sosial dituntut tidak hanya memahami aspek hukum, tetapi juga mampu membaca kondisi sosial, psikologis, dan lingkungan klien secara komprehensif. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan meningkatkan profesionalisme serta sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga sosial, dan dunia pendidikan,” ungkap Karto. Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM, Prof. Dr. Oman Sukmana, M.Si, menegaskan bahwa posisi pekerja sosial koreksional adalah kunci untuk menjembatani aspek hukum dan kemanusiaan. Oman menjelaskan, intervensi tidak boleh hanya berhenti pada penyelesaian masalah individu, melainkan harus berbasis asesmen komprehensif yang mencakup relasi keluarga dan faktor lingkungan. “Intervensi pekerja sosial koreksional sejalan dengan paradigma pemasyarakatan modern yang menempatkan pemulihan dan rehabilitasi sebagai tujuan utama. Tanpa intervensi yang tepat, proses reintegrasi sosial akan sulit tercapai,” jelas Oman. Dia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pemasyarakatan tidak bisa berjalan sendiri; dibutuhkan sinergi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat agar klien dapat kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bertanggung jawab. “Kuliah praktisi ini diharapkan mampu membekali mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM dengan pemahaman utuh mengenai praktik intervensi di lapangan,” terang Oman. Dengan melihat langsung tantangan dan peluang yang ada, para mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi pekerja sosial yang tidak hanya melakukan pembimbingan administratif, tetapi juga pendampingan yang humanis dan berkelanjutan. Melalui penguatan kapasitas ini, UMM berharap dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan sistem pemasyarakatan di Indonesia yang lebih humanis, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan sosial yang nyata. (*) *) Penulis : Abdus Salam *) Editor : Agus Wahyudi

Viral Skor IQ Indonesia, Dosen UMM Ini Tegaskan Kecerdasan Tak Sesederhana Angka

Isu skor IQ Indonesia yang disebut berada di angka 78 kembali ramai diperbincangkan publik. Angka tersebut memicu perbandingan antarnegeri hingga muncul narasi sensasional yang menyesatkan. Menanggapi hal itu, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), May Lia Elfina, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa skor IQ tidak bisa dimaknai secara sederhana, apalagi dijadikan label kecerdasan suatu bangsa. May menjelaskan, IQ pada dasarnya merupakan indikator kemampuan kognitif umum, seperti penalaran, pemecahan masalah, pemahaman verbal, dan kemampuan belajar. Angka IQ diperoleh melalui tes psikologi standar dengan kerangka ukur tertentu. Karena itu, membahas IQ tanpa memahami konsep dan metodologinya berpotensi melahirkan kesimpulan keliru. Perdebatan publik mencuat setelah data World Population Review tahun 2022 mencatat rata-rata IQ Indonesia di angka 78,49. Menurut May, data tersebut perlu dibaca dengan sangat hati-hati. “Menurut saya itu data yang tidak representatif, karena bisa jadi merupakan kompilasi dari berbagai sumber dengan metodologi, alat ukur, dan jumlah sampel yang berbeda-beda. Ini yang perlu ditinjau ulang,” jelasnya saat diwawancara tim Humas UMM, 18 Desember lalu. Ia menambahkan, dalam kajian psikologi, kemampuan kognitif suatu bangsa tidak dapat direduksi menjadi satu angka agregat. Berbagai penelitian menunjukkan hasil yang beragam, mulai dari kisaran 70-an hingga di atas 90, tergantung alat tes dan konteks penelitian yang digunakan. May juga menyoroti munculnya klaim bahwa IQ Indonesia mendekati IQ gorila. Menurutnya, perbandingan tersebut merupakan kesalahan interpretasi ilmiah yang serius. “Penelitian tentang kecerdasan gorila sendiri masih pro dan kontra. Gorila jelas bukan manusia, baik secara biologis maupun psikologis,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa skor IQ sangat dipengaruhi faktor lingkungan, terutama dalam konteks lintas budaya. Perbedaan bahasa, budaya, akses pendidikan, hingga kondisi kesehatan dapat memengaruhi hasil tes. Karena itu, IQ tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan struktural masyarakat. May juga menolak anggapan bahwa IQ adalah penentu utama kesuksesan hidup. Menurutnya, keberhasilan seseorang lebih banyak dipengaruhi faktor lain, seperti motivasi, kepribadian, kecerdasan emosional dan sosial, kreativitas, serta lingkungan yang mendukung. Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa IQ bukan vonis yang bersifat tetap. “IQ bisa berkembang jika lingkungannya mendukung,” ujarnya. Ia berharap publik lebih bijak memaknai kecerdasan dan mulai menaruh perhatian pada pemenuhan gizi, stimulasi dini, serta pemerataan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi kualitas sumber daya manusia bangsa. (bil/faq)   Penulis: Zlatan Abil Ibrahim | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Kisah Haru Dokter Muda UMM Pulihkan Trauma Korban Banjir Sumbar

Malang (beritajatim.com) – Di tengah puing kehancuran akibat banjir bandang yang melanda Sumatra Barat (Sumbar), kehadiran tenaga medis menjadi secercah harapan. Namun, bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana, tugas kemanusiaan ini bukan sekadar mengobati luka fisik, melainkan menyelami palung trauma para penyintas yang kehilangan segalanya. Dokter muda dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) yang akrab disapa Dana ini, membagikan kisah emosionalnya saat terjun langsung ke lokasi bencana sepanjang bulan Desember 2025. Dana merupakan salah satu relawan yang tergabung dalam program tanggap bencana, hasil kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek). Program ini memfokuskan diri pada dua aspek vital yaitu pelayanan medis dan dukungan psikososial. Dalam misi tersebut, Dana mendapat mandat khusus sebagai anggota tim psikososial. Tugas utamanya adalah mendampingi para penyintas yang mengalami guncangan mental akibat trauma pascabencana. “Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar dokter muda asal Banjarmasin tersebut. Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen yang membuka mata hati Dana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dipenuhi pengungsi dari Kecamatan Palembayan wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan paling parah. Di sana, Dana berhadapan langsung dengan realitas bencana yang sesungguhnya. “Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah. Bahkan, banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” tuturnya dengan nada prihatin kepada beritajatim.com, Selasa (23/12/2025). Berdasarkan asesmen lapangan, Dana mengungkapkan bahwa mayoritas penyintas mengalami kecemasan berat (severe anxiety), gangguan panik, dan tekanan emosional mendalam akibat kehilangan orang terkasih. Untuk menangani hal ini, tim melakukan pendampingan intensif meliputi konseling, terapi relaksasi, hingga pemberian obat-obatan yang dipantau berkala selama dua minggu. Di antara ratusan wajah berduka, ada satu kisah yang paling membekas di benak Dana dan mengguncang sisi profesionalismenya. Peristiwa ini terjadi saat ia bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi, Kecamatan Lubuk Basung. Dana bertemu seorang ayah yang selamat dari galodo dengan cara yang dramatis dan memilukan. Ayah tersebut rela mengorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat lebih dulu. “Cerita yang paling menggoyahkan saya secara personal adalah saat mendengar seorang ayah yang rela melukai dirinya sendiri agar bisa terbebas dan selamat dari jeratan galodo (lumpur banjir bandang). Keputusan nekat itu ia ambil setelah mendengar pertanyaan lirih dari anaknya: ‘Ayah, setelah ini kita mau ke mana? Ayah ikut, kan?’,” ungkap Dana menirukan percakapan tersebut. Momen tersebut mengajarkan Dana bahwa di balik diagnosis medis, ada kekuatan cinta dan insting bertahan hidup yang luar biasa dari para korban. “Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” tambahnya. Bagi Dana, terjun ke lokasi bencana memberikan perspektif yang tidak bisa didapatkan di balik dinding ruang kuliah atau rumah sakit pendidikan. Meski pernah menjalani stase kejiwaan (psikiatri) saat masa koas, pengalaman lapangan ini terasa jauh lebih dalam dan personal. “Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter. Belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme di situasi ekstrem adalah pelajaran berharga,” tegasnya. Dana berharap, kehadiran program UMM bersama Kemendikti Saintek ini dapat mempercepat proses pemulihan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan sosial bagi masyarakat terdampak di Sumatra Barat. (dan/ian)

UMM Beri Pendampingan Psikologis Mahasiswa Terdampak Bencana

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah konkret untuk mendukung mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana di wilayah Sumatera, termasuk Aceh. Melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK), UMM membuka pendampingan psikologis bagi mahasiswa yang berada di Malang, sebagai upaya memastikan mereka tetap memiliki ketahanan mental di tengah kondisi krisis yang memengaruhi keluarga. Kepala BK UMM Dr Cahyaning Suryaningrum MSi menjelaskan bahwa layanan ini fokus pada mahasiswa yang keluarganya terdampak, karena kelompok ini paling cepat dijangkau dan berpotensi mengalami tekanan psikologis yang memengaruhi aktivitas akademik. “Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, shock, hingga gangguan konsentrasi belajar sehingga membutuhkan dukungan psikologis sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah lebih berat,” ujarnya, Selasa (23/12/2025). Pendampingan ini bersifat responsif terhadap bencana, sekaligus bagian dari komitmen jangka panjang UMM dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa. BK UMM menggunakan pendekatan kuratif, promotif, dan preventif, termasuk edukasi kesehatan mental melalui berbagai konten, agar mahasiswa mampu mengelola emosi secara mandiri dan membangun ketahanan psikologis di tengah krisis. “Tujuan utama kami adalah memberdayakan mahasiswa agar mampu menghadapi situasi sulit, bukan membuat mereka bergantung pada layanan konseling. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menjalani perkuliahan secara optimal meski berada dalam kondisi emosional yang menantang akibat bencana,” kata Cahyaning. Layanan konseling BK UMM dapat diakses melalui pendaftaran daring, datang langsung ke kantor BK, atau melalui layanan chat. Pendampingan daring juga tersedia, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan mahasiswa. Melalui inisiatif ini, UMM menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mental mahasiswa. BK UMM menjadi ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan psikologis, sekaligus menegaskan bahwa kesehatan mental adalah kebutuhan mendasar dalam ekosistem pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. (Faqih/AS)

Kembangkan Ekosistem Gizi Halal Berbasis AI, UMM Gandeng RSML

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan (RSML) untuk mengembangkan ekosistem rantai pasok makanan halal dan thoyyib berbasis Artificial Intelligence (AI). Inisiasi kerja sama riset tersebut ditandai dengan kunjungan strategis tim riset UMM ke RSML, Selasa (23/12/2025).Rombongan tim riset UMM dipimpin langsung oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Kehadiran mereka disambut oleh Direktur RS Muhammadiyah Lamongan, dr. M. Asro’ Abdih Y., Sp.U., M.B.A., didampingi tim PPMP, TIMKORDIK, Instalasi Gizi, serta tim teknologi informasi RSML di Ruang TIMKORDIK. Dalam sambutannya, Salis Yuniardi menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan menghadirkan pendekatan teknologi mutakhir dalam layanan rumah sakit, khususnya pada sektor gizi. Tim riset UMM berencana mengembangkan sistem audit digital serta model produksi risiko halal thoyyib berbasis kecerdasan buatan. “Sistem yang kami bangun nantinya berbasis AI dan dirancang khusus untuk mendukung serta memperkuat layanan Gizi Halal di RS Muhammadiyah Lamongan,” ungkapnya. Rencana strategis tersebut mendapat sambutan positif dari Direktur RSML. dr. Asro’ Abdih Y. menyatakan bahwa sinergi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus efisiensi operasional. “Kami sangat mendukung riset ini. Harapannya, kualitas layanan gizi halal thoyyib di RSML semakin meningkat dan mampu memberikan efisiensi yang lebih baik dalam operasional pelayanan gizi,” ujarnya. Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dan produktif. Kedua belah pihak terlibat diskusi intensif terkait alur pelayanan gizi yang telah berjalan di RSML, sekaligus potensi pengembangan sistem berbasis teknologi digital. Sebagai tindak lanjut konkret, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara RS Muhammadiyah Lamongan dan Universitas Muhammadiyah Malang. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan site visit ke Instalasi Gizi RSML untuk meninjau langsung proses produksi makanan bagi pasien. *) Penulis : Bagus Pribadi | Editor : Aalimah Qurrata Ayun

Humas UMM Kembali Borong Penghargaan Anugerah Diktisaintek 2025

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Prestasi demi prestasi terus diraih Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Terbaru, Humas UMM sukses membawa pulang dua penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025 yang diadakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, 19 Desember 2025 lalu. Humas UMM berhasil meraih silver medal kategori pengelolaan laman dan bronze medal untuk pengelolaan media sosial. Terkait kemenangan ini, Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro, M. Ikom. bersyukur dan merasa bangga. Menurutnya, ini menjadi bukti konsistensi performa humas UMM. Utamanya dalam menyebarkan informasi di bidang pendidikan tinggi, termasuk program Kampus Berdampak. “Kami sangat bersyukur atas penghargaan ini. Setiap tahun kami berhasil meraih penghargaan Anugerah Diktisaintek ini. Bahkan kali ini mempertahankan dua raihan penghargaan sekaligus,” katanya. Maharina, panggilan akrabnya, menilai bahwa penghargaan ini adalah bentuk pengakuan dari pemerintah atas kinerja Humas UMM selama ini. Terutama dalam menyuarakan berbagai program universitas yang sejalan dengan kebijakan Kemdiktisaintek. Keberhasilan ini juga tak lepas dari strategi publikasi yang dilakukan secara terukur dan sesuai dengan kebutuhan publik. “Kami berusaha membuat konten yang bisa diterima masyarakat luas. Misalnya konten yang relevan dengan tren generasi muda, seperti Gen Z, melalui platform seperti Instagram dan TikTok. Selain itu, kami juga rutin merilis berita bernuansa ilmiah dan berdampak yang tetap menarik,” tegasnya. Tim Humas UMM, lanjutnya, juga aktif mempromosikan program-program berdampak. Salah satu yang unik dari UMM adalah kehadiran Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah inovasi dan penelitian yang sudah dihilirasi. Berbagai inovasi dan kontribusi pengabdian dilahirkan, tidak hanya di Jawa tapi juga di berbagai wilayah lainnya. Terbaru, melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM berupaya mengatasi stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur. “Jadi Direktorat Saintek ini menjadi katalisator dan mempercepat UMM untuk terus berdampak bagi masyarakat. Berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menebar kebermanfaatn. Ini menjadi salah satu program yang senantisa kami sebarluskan melalui beragam media,” tambahnya. Terakhir, Maharina menegaskan prestasi ini menjadi motivasi bagi Humas UMM untuk terus meningkatkan kualitas. Menyebarkan informasi baik dan membangun negeri agar semakin berdampak untuk Indonesia.(imm/lim)

Kisah Dana, Dokter Muda FK UMM yang Terjun Psikososial pasca Bencana di Sumbar

Berada di hadapan para penyintas yang kehilangan rumah dan keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda yang akrab disapa Dana ini harus belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme saat mendampingi korban banjir bandang Sumatra melalui layanan psikososial. Dana merupakan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) asal Banjarmasin yang tergabung dalam program tanggap bencana UMM yang berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek) yang berfokus pada pelayanan medis dan psikososial. Para relawan diterjunkan ke Sumatra barat sepanjang bulan Desember 2025 untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang. Dalam program tersebut, Dana dipercaya bergabung sebagai anggota tim psikososial, yang bertugas mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana. “Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar Dana. Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen awal Dana bersentuhan langsung dengan realitas bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dihuni penyintas dari Kecamatan Palembayan, wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan tinggi. “Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah, bahkan banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” katanya. Dana menjelaskan bahwa mayoritas penyintas yang ia dampingi mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan. Pendampingan dilakukan melalui asesmen, konseling, relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua minggu. “Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” ungkapnya. Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi Kec. Lubuk Basung lokasi penyintas dari Kec. Palembayan, salah satu zona merah dengan dampak paling parah. “Saya bertemu seorang ayah yang rela mengkorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat sebelum akhirnya tergerak untuk melukai diri agar bisa terbebas selamat dari jeratan galodo setelah mendengar pertanyaan “ayah setelah ini kita mau kemana? ayah ikut kan?”. Cerita mereka benar-benar menggoyahkan saya secara personal,” tutur Dana. Meski pernah menjalani stase kejiwaan saat koas, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberi pelajaran yang jauh lebih dalam. “Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya. Dana berharap kehadiran program UMM bersama KemendiktiSaintek yang fokus kepada layanan medis dan psikososial ini dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas pascabencana. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Buka Pendampingan Psikologis untuk Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera dan Aceh

Di tengah situasi bencana yang berdampak di Sumatera, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah konkret. Melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK), UMM membuka pendampingan psikologis bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana di wilayah Sumatera, termasuk Aceh. Layanan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memastikan mahasiswa tetap memiliki ketahanan mental di tengah kondisi krisis yang memengaruhi keluarga mereka. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) UMM, Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., menjelaskan bahwa layanan ini merupakan bagian dari fungsi BK dalam melayani sivitas akademika, yang meliputi mahasiswa, dosen, dan karyawan. Namun, dalam konteks bencana, fokus utama sementara ini yaitu pendampingan diarahkan pada mahasiswa UMM yang berada di Malang tetapi memiliki keluarga di wilayah terdampak. Pendekatan ini dipilih karena mahasiswa merupakan kelompok yang paling cepat dijangkau dan berpotensi mengalami tekanan psikologis yang berdampak pada aktivitas akademiknya. “Yang paling memungkinkan untuk kami dampingi secara cepat adalah mahasiswa yang keluarganya berada di wilayah terdampak bencana. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, shock, hingga gangguan konsentrasi belajar sehingga membutuhkan dukungan psikologis sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat,” ujarnya. Dalam konteks yang lebih luas, BK UMM memposisikan diri sebagai bagian dari sistem pendukung kesehatan mental sivitas akademika. Pendampingan psikologis ini tidak hanya bersifat responsif terhadap situasi bencana, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang kampus dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa. Menurut Cahyaning, tekanan emosional yang tidak tertangani berpotensi memengaruhi keberlangsungan studi mahasiswa. Pendekatan yang digunakan BK UMM tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Edukasi kesehatan mental terus dilakukan melalui berbagai konten yang disebarluaskan agar mahasiswa memiliki pemahaman dan kemampuan dalam mengelola emosi secara mandiri. Upaya ini diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun ketahanan psikologis, terutama ketika menghadapi situasi krisis yang berkaitan dengan kondisi keluarga. “Tujuan utama kami adalah memberdayakan mahasiswa agar mampu menghadapi situasi sulit, bukan membuat mereka bergantung pada layanan konseling. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menjalani perkuliahan secara optimal meskipun berada dalam kondisi emosional yang menantang akibat bencana yang menimpa keluarga mereka,” ujarnya. Sebagai bentuk dukungan konkret, BK UMM membuka layanan konseling yang dapat diakses melalui beberapa mekanisme. Mahasiswa dapat memanfaatkan layanan ini dengan mendaftar secara daring, datang langsung ke kantor BK, maupun melalui layanan komunikasi awal berbasis chat. Selain itu, BK UMM juga membuka kemungkinan pendampingan secara daring melalui platform digital, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan mahasiswa. Melalui layanan konseling ini, UMM menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mental mahasiswa. BK UMM diharapkan menjadi ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan psikologis, sekaligus mempertegas bahwa kesehatan mental merupakan kebutuhan mendasar yang mendapat perhatian serius dalam ekosistem pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. (wil)   Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain

Layani Warga Pascabanjir Sumbar, Dokter Posko UMM Sebut Banyak Korban Mengeluhkan Penyakit Kulit

MAKLUMAT – Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar), kebutuhan layanan kesehatan bagi warga terdampak masih menjadi perhatian serius. Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka posko kesehatan gratis di kawasan Maninjau, Kabupaten Agam. Posko kesehatan ini beroperasi sejak 16 hingga 25 Desember dan setiap harinya melayani puluhan warga terdampak banjir. UMM menurunkan satu dokter umum dan satu perawat dari Rumah Sakit UMM, serta tiga dokter muda dari Fakultas Kedokteran UMM untuk memberikan pelayanan medis langsung kepada masyarakat. Kegiatan kemanusiaan tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam penanganan pascabencana. Dokter umum RS UMM, dr. Ilham Setya Wicaksono, mengungkapkan bahwa keluhan kesehatan yang paling banyak dialami warga adalah penyakit kulit, terutama gatal-gatal. Hal ini dipicu oleh penggunaan air yang keruh serta keterbatasan akses air bersih pascabanjir. “Sebagian besar pasien datang dengan keluhan penyakit kulit. Akses air bersih masih sangat terbatas, sehingga berdampak langsung pada kesehatan warga,” jelas dr. Ilham. Selain layanan pengobatan umum, posko kesehatan UMM juga menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis, meliputi cek tekanan darah, gula darah, asam urat, hingga kolesterol. Tim medis turut memberikan edukasi kesehatan agar warga lebih memahami cara penanganan awal penyakit dan menjaga kondisi tubuh di tengah situasi pascabencana. Baca Juga  Gusdurian Nilai Kapolri Gagal, Desak Mundur Usai Kekerasan Aparat dr. Ilham juga menceritakan kondisi medan menuju lokasi posko yang masih memprihatinkan. Sejumlah jalan, rumah, jembatan, dan area persawahan mengalami kerusakan parah. Material batu dan kayu sisa terjangan banjir masih terlihat di berbagai titik. “Kondisinya memang berat, tapi ini bagian dari tugas kemanusiaan. Kami berharap kehadiran posko ini bisa membantu warga menjaga kesehatan mereka,” ujarnya. Sementara itu, bidan setempat, Afrida Arianti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim kesehatan dari UMM. Menurutnya, layanan kesehatan gratis ini sangat membantu warga yang kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan akibat dampak banjir. “Kami sangat berterima kasih. Kehadiran tim UMM membuat warga tidak perlu jauh-jauh mencari layanan kesehatan, terutama dalam kondisi yang masih sulit seperti sekarang,” tuturnya. Melalui kolaborasi berbagai pihak, UMM berharap proses pemulihan pascabencana di Sumatra Barat dapat berjalan lebih cepat, terutama dalam menjaga kesehatan masyarakat terdampak. *) Penulis: Edi Aufklarung