Zakiyuddin Baidhawy: Dosen AIK Juga Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

GURU BESAR IAIN Salatiga, Zakiyuddin Baidhawy bertandang ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam rangka mengisi kuliah tamu untuk dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Sabtu (10/11). Gelaran ini bertemakan “Rekonstruksi AIK Sebagai Pendidikan Nilai”. Dalam penyampaiannya, Direktur Pascasarjana IAIN Salatiga itu menekankan agar para dosen AIK mengikuti perkembangan zaman yang membawa tatanan baru. Editor In Chief Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) ini juga mengatakan, untuk bisa menyesuaikan dengan pendidikan masa kini, seorang pendidik juga harus bisa memanfaatkan skill digital agar tidak terdisrupsi tatanan baru. “Google kapan lalu membuka lowongan kerja yang tidak memandang ijazah sebagai syarat. Maka secara tidak langsung Google mendisrupsi perguruan tinggi di seluruh dunia,” jelas Zakiyuddin. Hadirnya revolusi industri 4.0, menurutnya, mengacak-acak tatanan lama dan menggantinya dengan tatanan baru. Ia mencontohkan perusahaan taksi di zaman sekarang (taksi online), yang meskipun tidak memiliki satu armada pun tetap bisa menjalankan usahanya. Demikian akhirnya perusahaan taksi konvensional kalah saing. “Di zaman sekarang itu harus mempunyai data benar dan rapi agar kebijakan yang dibuat bisa tepat sasaran,” papar Zakiyuddin. Ia lantas mengajak peserta kuliah tamu untuk iuga mengambil pelajaran dari Indomaret dan Alfamart dalam meriset wilayah untuk didirikan outlete-nya. “Mereka itu meriset kebutuhan wilayah sampai memang pantas didirikan outlet di sana. Seandainya Alfamart sudah buka, disusul Indomaret. Nah, Indomaret tidak usah riset lagi karena sudah percaya hasil riset Alfamart. Seperti itu kekuatan data,” lanjutnya. Zakiyuddin menjelaskan bahwa di era sekarang tidak cukup hanya menghafal Al-Quran dan Hadits. Seorang pendidik juga musti membekali dirinya dengan banyak data. “Karena kalau hafal Ayat dan Hadits ya buat apa kalau tidak punya data? Kan jadi gak tepat sasaran. Jadi kita harus punya data yang banyak agar bisa dakwah dengan tepat sasaran,” pungkasnya. (usa/can)
Dosen HI UMM Jadi Dosen Tamu di 3 Kampus Taiwan

UNTUK kali ketiga, dosen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Toni Dian Effendi, M.Si, pergi ke Taiwan sejak pertama kali pada tahun 2015 sebagai peneliti tamu di Institute of International Relations, National Cheng Chi University. Toni memperoleh program penelitian Taiwan Fellowship yang disponsori Pemerintah Taiwan. “Meskipun basis penelitian saya ada di Taipei, namun dalam proses penelitian saya juga melakukan wawancara sampai ke wilayah selatan di daerah Kaohsiung,” terang Toni saat diwawancarai Senin (30/10). Pada saat itu, Toni melakukan wawancara di tiga tempat yaitu di National Kaohsiung Normal University, National Sun Yat Sen University dan organisasi TASAT atau Trans Asia Sister Association in Taiwan. “Saat itu memang topik penelitian saya yakni tentang hubungan people-to-people di antara masyarakat Indonesia dan Taiwan,” terang Tony. Selepas kembali ke Indonesia, Toni melanjutkan jaringan dan pertemanan dengan beberapa orang yang ditemuinya di Taiwan. Hasil dari kegiatan ini kemudian ditindaklanjuti dengan digagasnya kegiatan KKN Internasional mahasiswa HI UMM ke Taiwan pada tahun 2017. “Kegiatan ini didukung oleh MPA atau Meinong People’s Association di mana saat itu mahasiswa KKN melakukan kegiatannya di Meinong, Kaohsiung. Sebelumnya, delegasi dari MPA berkunjung ke Malang termasuk juga ke kampus UMM,” tuturnya. Pada pertengahan tahun 2018, delegasi dari MPA kembali datang ke Malang bersama dengan beberapa anak muda yang memainkan musik tradisional Ba In di UMM. Pada saat itu mereka juga mengikuti upacara bendera peringatan kemerdekaan Indonesia di UMM. Pada bulan Oktober 2018 ini, beberapa kolega Toni di Taiwan kembali mengundangnya untuk datang ke Taiwan, khususnya di Kaohsiung dan Meinong. Pada awalnya Professor Lee Leong Sze dari National Kaohsiung Normal University mengundang Toni untuk memberikan kuliah tamu di kampusnya. “Namun dalam perkembangannya ada 2 kampus lagi yaitu National Sun Yat Sen University dan Meiho University yang juga mengundang saya untuk berbagi penelitian yang saya lakukan. Dalam kegiatan kuliah tamu ini saya diundang untuk berbicara terkait dengan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Memang selain kajian HI di Asia Timur dan Diplomasi, kajian masyarakat Tionghoa menjadi minat penelitian saya.” jelasnya. Kuliah tamu pertama dilaksanakan di National Kaohsiung Normal University pada 23 Oktober 2018, di mana Toni menyampaikan kuliah bertopik tentang “Chinese Indonesian Identity and Culture Expression in Post Reform Indonesia”. Pada topik ini, selain bercerita tentang masyarakat Tionghoa pasca reformasi, Toni juga menceritakan bagaimana citra tentang Tionghoa yang muncul dalam beberapa film di Indonesia. Kuliah tamu kedua dihelat di National Sun Yat Sen University pada 24 Oktober 2018, di program Graduate Institute of Sociology. Toni juga menyampaikan topik tentang Tionghoa dalam beberapa publikasi buku di Indonesia pasca reformasi. “Awalnya dikampus ini saya agak nervous karena kampus ini adalah salah satu kampus terbaik di Taiwan dan saya mengetahui beberapa orang yang hadir dalam presentasi saya adalah beberapa profesor yang terkenal dan juga hadir seorang profesor Indonesianist,” ceritanya. Namun karena suasana pertemanan dalam konteks akademik yang hangat, Toni justru sangat bersyukur karena dapat berbagi dan berdiskusi dengan mereka serta mendapatkan banyak pengetahuan tambahan yang penting dalam penelitiannya. Jika di National Kaohsiung Normal University dan National Sun Yat-Sen University, kuliah tamu dihadiri oleh mahasiswa pasca sarjana dan beberapa profesor, kuliah tamu di Meiho University pada 25 Oktober 2018 dihadiri oleh mahasiswa S1 dan beberapa orang dosen. Kuliah tamu di Meiho University ini menjadi menarik karena Toni dapat berjumpa dengan mahasiswa S1 semester 1 dan 3 dengan ekspresi dan diskusi yang hangat. “Saya sangat beruntung dalam kesempatan ini karena selain dapat berbagi, juga mengetahui bagaimana mahasiswa S1 di Taiwan. Ini adalah kali pertama saya datang ke Meiho University yang terletak di Beipu, Pingtung, Taiwan Selatan,” ungkapnya. (*)
Geser ITB dan IPB, Dosen UMM Juara Pertama Dosen Berprestasi Tingkat Nasional

BARU saja menyabet 2nd Runner-up ASEAN Best Practices Competition untuk kategori Bangunan Hemat Energi pada penganugerahan ASEAN Energy Award 2018, UMM kembali mendapatkan kado kedua. Kali ini hadiah tersebut datang dari seorang Djoko Sigit Sayogo, S.E., M. ACC., Ph.D. Ia meraih Juara Pertama dalam perhelatan pemilihan finalis Dosen Berprestasi Tingkat Nasional bidang Sosial Humaniora dari Kemenristekdikti, Senin (29/10). Djoko yang telah memiliki 9 publikasi bereputasi internasional ini, pada tahap presentasi disanding dengan delapan finalis lainnya. Delapan finalis tersebut, lima berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan tiga sisanya dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Setiap finalis diberi waktu 15 menit untuk menyampaikan filosofi riset, pengajaran dan pengabdian, menjelaskan terkait risetnya dan prestasi-prestasi yang telah dicapai dengan riset tersebut. Saat presentasi, Djoko menuturkan, ia diuji terkait kebermanfaatan risetnya bagi negara dan masyarakat. Pria yang menjabat sebagai Wakil Direktur III Bidang Hilirisasi & Komersialisasi Hasil Penelitian dan Pengabdian DP2M UMM ini, mengaku sangat bangga saat diuji hampir tiga puluh menit oleh dewan juri. Di bidang Sosial Humaniora, Djoko menyisihkan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). “Saya menjelaskan bagaimana kita dapat mengurangi information asymmetry (pihak penjual yang memiliki informasi lebih banyak tentang produk dibandingkan pembeli, red.) dan meningkatkan trust (kepercayaan, red.) dengan memfasilitasi konsumen melakukan penelusuran informasi sepanjang rantai suplai produk melalui teknologi informasi,” terang Djoko yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini. UMM memiliki Lembaga Pengembangan Publikasi Ilmiah (LPPI) yang menyediakan intensif khusus bagi mereka yang jurnalnya diterbitkan di jurnal internasional bereputasi atau terindeks Scopus. Meski begitu, sebut Wakil Rektor I yang membidangi akademik, Prof Syamsul Arifin MSi, budaya prestasi dosen UMM ini tidak hanya dinilai dari torehannya di bidang akademik, melainkan juga singgungannya dengan bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Syamsul menyebut bahwa pihaknya terus mendorong seluruh dosen UMM untuk terus memacu prestasi publikasi di jurnal bereputasi internasional. “Terus terang, raihan Pak Djoko ini melebihi ekspektasi kami. Ke depan, materi ajar yang disampaikan dosen seharusnya merupakan hasil riset yang telah dikerjakan dirinya. Demikian yang kita sebut sebagai dosen berkompetensi,” tukasnya. (*)
Komitmen Sebagai Kampus Pelopor Energi Baru Terbarukan, UMM Kembali Terima ASEAN Energy Awards

UNTUK kesekian kalinya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat penganugerahan ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings. UMM dianugerahi sebagai 2nd Runner-up sub kategori bangunan tropis (tropical building) untuk Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa). Penghargaan diterima langsung Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. di Singapura hari ini, Senin (29/10). Rusunawa UMM dibangun pada tahun 2008 untuk mendukung Program Pengembangan Kepribadian & Kepemimpinan (P2KK) bagi mahasiswa baru UMM. Bangunan berkonsep hemat energi ini memiliki banyak ruangan besar dengan atap tinggi serta pintu utamanya dibiarkan terbuka. Tidak ada AC dan hanya bergantung pada sirkulasi udara alam. Sekira 90% penerangan bangunan menggunakan cahaya alami selama siang hari. Pengukuran anemometer kawat dengan tiruan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics (CFD) menunjukkan bahwa laju kecepatan udara dalam ruangan pada bangunan ini adalah 0,6 m/detik dan suhunya adalah 26,5OC . Temperatur ini sesuai dengan persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007/MENKES/PER/ V/2001 (18 – 30OC) dan juga memenuhi persyaratan Standar ASHRAE 55 Pengukuran intensitas cahaya di ruangan pada bangunan ini adalah 567-765 lux. Hal tersebut memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1007 / MENKES / PER / V / 2011 yang minimumnya 60 lux dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-6197-2011 yang minimumnya adalah 250 lux untuk kamar tidur dan 350 lux untuk kelas. Rusunawa UMM sepenuhnya menggunakan sumber energi terbarukan yang disediakan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling I. Lokasinya berjarak 600 meter sebelah barat Rusunawa UMM. PLTMH Sengkaling I menghasilkan daya total 100 KW. Cara kerjanya dengan memanfaatkan Sungai Brantas melalui saluran irigasi Sengakling I dan dijatuhkan dari ketinggian 18 meter untuk menggerakkan turbin dan generator listrik. Rusunawa UMM menggunakan sekitar 23 KW, yaitu sebanyak 23% total kapasitas dari PLTMH Sengkaling I. Setiap tahun, Rusunawa UMM menggunakan daya sebesar 70,000 kWh. Jika faktor emisi koefisien untuk jaringan transmisi Jawa –Madura-Bali sebesar 0.891 t-CO2/kWh, maka dapat mengurangi gas emisi rumah kaca sebesar 62.37 t-CO2/tahun. “Selain berupa bangunan hemat energi, UMM memang telah lama berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar pada inovasi pengembangan energi alternatif, yakni sebagai kampus pelopor Energi Baru Terbarukan. Dan pada penganugrahan ini UMM adalah satu-satunya dari perguruan tinggi, selainnya dari perusahaan di wilayah ASEAN,” kata Fauzan saat diwawancarai via telepon dari Marina Bay Sands, Singapura. Selain PLTMH I dan II yang ada dilingkungan UMM, melalui program pengabdian dalam mengembangkan PLTMH di Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pendirian PLTMH Sumber Maron terbukti berhasil. Pada tahun 2009, 1100 warga sekitar Sumber Maron masih mengandalkan energi listrik dan PLN. Sejak dibangun tahun 2014, jumlah warga yang menggunakan listrik yang bersumber dari PLTMH meningkat menjadi 1800. Dari situ, mulailah dibangun sarana dan prasarana pendukung, yaitu tempat wisata yang pada akhirnya memberi outcome positif bagi pembangunan desa. (Humas UMM)
Lulusan Fisioterapi Ini Sukses Berkiprah Jadi Fisioterapis Profesional PS Barito Putera

TERWUJUDNYA cita-cita adalah harapan setiap orang. Begitulah yang dialami Dian Erfianto Pambudi. Alumni lulusan Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2017 ini menjadi fisioterapis profesional salah satu klub sepak bola papan atas Liga 1 Indonesia. Klub yang ia tangani yakni Persatuan Sepak (PS) Bola Barito Putera. Erfianto menjadi fisioterapis profesional klub sepak bola yang berbasis di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini sejak awal 2018. Berawal dari hobinya pada olahraga sepak bola, Erfianto bercita-cita menjadi fisioterapis profesional di dunia olahraga. Setelah menamatkan pendidikan strata satunya di UMM, pria kelahiran Bondowoso 24 tahun silam ini mulai mencari peluang untuk mengejar cita-citanya. Ceritanya dimulai sejak PS Barito Putera tengah mengadakan training center (TC) di Kota Batu, Jawa Timur. Erfianto ditawari mendampingi PS Barito Putera sebagai tenaga fisioterapis selama TC yang berlangsung dua minggu. Tanpa pikir panjang, Erfianto mengambil tawaran ini. Selama menjalankan tugas, para pemain dan fisioterapis tetap di Barito Putera sangat senang dengan kinerjanya. Hingga salah satu pengelola Barito Putera meminta Erfianto masuk ke dalam tim fisioterapis tetap. Hal ini membuatnya senang karena mimpinya tercapai. Sempat terkendala proses perekrutannya karena masalah manajemen, Erfianto pada akhirnya resmi menjadi bagian dari fisioterapis inti PS Barito Putera. Saat diwawancarai via telepon, Minggu (28/10), anak laki-laki dari pasangan Jarimin dan Windiah Tanti Utari ini lantas menceritakan kesibukannya selama bertugas. “Kegiatannya bisa dibilang sibuk-sibuk santai. Kalau banyak pemain cidera kita harus bisa ngatur jadwal treatment (perawatan, red.). Juga membantu bagian perlengkapan untuk memenuhi kebutuhan pemain. Mulai dari baju sampai peralatan yang menunjang latihan. Kalau pekerjaan sudah selesai semua baru bisa bersantai,” jelasnya diakhiri dengan tawa kecil. Diakui Erifianto, menempuh perkuliahan di Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UMM sangat menunjang karirnya sebagai fisioterapis professional. Selama menempuh perkuliahan di Fikes UMM, Erfianto menyebut punya dosen favorit yang menginspirasinya. Ia adalah Dimas Sondang Irawan, SST.Ft., M.Fis. Menurut Erfianto, dosen favoritnya ini tidak hanya mengajarkan teori dalam kelas. Dimas, diceritakan Erifianto, kerap kali mengajarkan banyak hal di luar kelas. Juga, seringkali menginspirasi dan memberi motivasi untuk berdedikasi tinggi di dunia fisioterapi. Peluang menjadi fisioterapi profesional menurut Erfianto masih terbuka sangat lebar. Apalagi di dunia olahraga. Hanya saja, sambung Erfianto yang sering diketahui orang hanya di cabang olahraga sepak bola. Padahal, cabang olahraga lainnya juga punya peluang yang sama besarnya untuk menjadi fisioterapis profesional. “Barito Putera sangat mengesankan bagi saya. Di sini kekeluargaanya bagus banget! Keagamaannya kuat. Selain itu, dari manajemen dan pelatih sampai pemain semuanya baik dan saling membantu,” tukasnya. (mir/can)
Malik Fadjar: Kampus Ini Besar Karena Inspirasi

ANGGOTA Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia yang juga merupakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM), Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., Senin (29/10), menginjeksi energi baru kepada dosen dan karyawan UMM. Malik memberi pengajian umum sebagai salah satu wujud dari pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di UMM. Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Senat dan Auditorium BAU. Dalam penyampaianya, Malik menyampaikan bahwa Kampus Putih besar karena inspirasi yang dilahirkan darinya. Ditegaskan Malik, kepala unit, karyawan, dosen hingga kalangan akar rumput juga mesti memberi inspirasi antara satu dengan yang lainnya. Memberi inspirasi itu, kata Malik, bisa berupa hadirnya figur-figur inspiratif, sepak terjang yang positif, juga langkah-langkah yang menginspirasi. “Inspirasi inilah yang mesti ditumbuh kembangkan di lingkungan kita. Sama halnya juga di keluarga kita. Kita juga mesti menumbuhkan inspirasi. Inspirasi itu tumbuh di ruang kerja, ruang kelas, juga apa-apa yang kita jalani sehari-harinya,” ungkapnya. Demikian Rektor UMM juga pada hari ini, untuk kesekian kalinya, menerima ASEAN Energy Award 2018 dengan kategori ASEAN Best Practices Competition for Energy Efficient Buildings sub kategori Tropical Building. Banyak kampus yang lebih dulu besar. Namun begitu, sebut Malik, kiprahnya sedikit saja bahkan tidak sedikitpun memberikan inspirasi bagi sekitarnya. Terlebih bagi dunia pendidikan pada khususnya. “Seluruh pejabat struktural harus memberikan inspirasi, tidak hanya di unitnya, tapi juga ditingkatan universitas, juga jika memungkinkan di tingkatan yang lebih luas lagi,” pesannya. “Bagaimana seorang pemimpin unit, pejabat struktural, dosen dapat memberikan inspirasi bagi unit kerja dan lingkungannya. Yakni lewat cara memotivasi, bersikap ramah, tidak egois. Juga selalu menyebarkan virus-virus energi positif. Tak kalah penting, berinteraksi dengan lainnya,” tutur Malik. Demikianlah prinsip ini merupakan perwujudan komitmen yang telah dicanangkan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Tak kalah penting, seorang pemberi inspirasi harus mampu membaca tanda-tanda zaman. Yang dimaksud membaca tanda-tanda zaman, kata Malik, adalah ia yang melihat segala sesuatu secara optimis. “Contohnya, dulu ketika Kampus III ini dibangun, tidak ada yang berpikir bahwa kemudian kampus ini bakal menjadi sebesar ini. Mereka cuma bisa bilang, tanah kayak gini (tidak strategis, kontur tanah buruk, red.) kok dibeli,” ceritanya. Inspirasi itu dapat muncul, sambung Malik, jika kita senantiasa berpositif thinking atau berpikiran positif. Dalam istilah lain, kita senantiasa berpikir huznudzon atau berprasangka baik. Dengan berprasangka baik, kita bakal melahirkan cinta. Karena cinta lah yang lantas melahirkan komitmen-komitmen positif. “Kampus ini besar karena kaya akan inspirasi. Inspirasi melahirkan imajinasi yang berwujud mimpi dan pikiran-pikiran besar,” pungkasnya. (can)
Safety Watch, Alat Deteksi Denyut Jantung Cegah Kecelakaan Akibat Mengantuk Buatan Mahasiswa UMM

PENYEBAB kecelakaan dapat terjadi kapanpun dan di manapun. Faktor penyebab kecelakaan terbesar menurut korps lalu lintas Kepolisian Republik Indonesia 2017 adalah faktor manusia, dengan presentase lebih dari 50%. Sisanya adalah sikap manusia dengan presentase 40%, terjadi karena mengantuk. Berangkat dari latar belakang itu, Ari Devianto mahasiswa program studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) bersama 2 rekannya, Adwin Nugriho dan Fikri Febrianto, membuat ide karsa cipta berjudul “Safety Watch”; arloji pintar sebagai penstabil frekuensi denyut nadi saat berkendara. Oktober lalu, ide tersebut dikompetisikan dalam Program Kreatifitas Mahasiswa Forum Grup Diskusi Teknologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PKM FGDT-PTM) yang merupakan acara tahunan bagi Fakultas Teknik perguruan tinggi Muhammadiyah se-Indonesia. Karsa cipta yang dibimbing Dosen Teknik UMM Mohammad Chasrun Hasani ST., MT dan Ir. Nur Alif Mardiyah MT ini mendapat juara 1 dalam kompetisi tersebut. Keunggulannya, Safety Watch ini sudah berbasis Internet of Things (IoT), atau perangkat yang terhubung dengan konektifitas internet. Di mana pada era revolosi industri 4.0, sudah mumpuni untuk digunakan. Dewan juri tertarik dengan alat tersebut. Pada awalnya tim mereka masih takut saat diujikan. Meskipun alat kejut mereka sudah memenuhi standar. Untuk menguji alat tersebut layak digunakan manusia, mereka mendaftarkan safety watch kepada Ethical Clearance (EC) atau kelayakan etik sehingga dinyatakan layak digunakan oleh manusia. Kedepannya mereka akan melakukan pendaftaran hak cipta dan mengembangkan alat tersebut berbasis IoT itu, sehingga terintegrasi dengan smartphone. “Tujuannya agar penggunan Safety Watch dapat memantau denyut nadi melalui aplikasi smartphone. Juga dapat mengirimkan pesan kepada keluarga apabila pengguna mengalami bahaya, dilihat dari frekuensi denyut nadi,” imbuh Ari Devianto selaku ketua PKM tersebut. (bel/can)
Anak Muda Wajib Kritis dan Cerdas Pilih Caleg

PASCA munculnya polemik terkait dikabulkannya permohonan para mantan narapidana kasus korupsi menjadi calon legislatif (Caleg) pada Pemilu 2019 mendatang, banyak di antara kalangan akademisi melakukan kritisi atas kebijakan tersebut. Disampaikan Asri Rezki Saputra, keberadaan regulasi tersebut secara tidak langsung justru melahirkan cikal bakal penyalahgunaan kekuasaan. Padahal, tindakan korupsi dapat dicegah dimulai dari proses rekrutmennya. “Regulasi ini menurut saya dapat menjadi cikal dari semakun besarnya tindak pidana korupsi,” paparnya. Selain itu, mahasiswa yang aktif menjadi debater ini juga menyatakan sikap bahwa sebagai mahasiswa, sebagai anak muda, kita semua harus kritis dan jeli dalam menanggapi hal-hal semacam ini. Mahasiswa Progran Studi (Prodi) Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga mengkritisi keberadaan mahasiswa yang ada pada posisi sebagai calon legislatif. Baginya, sebagai mahasiswa belum saatnya untuk terjun menjadi anggota legislatif. Justru langkah paling tepat adalah mahasiswa menjadi ujung tombak kritisi dari hasil aspirasi masyarakat. Senada dengan pernyataan Rezki, dosen Fakultas Hukum (FH) UMM Mokhammad Najih, Ph.D juga menyatakan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam ranah menganalisis, mengkritisi, dan menyampaikan buah pikiran mereka. “Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh pembicara sebelumnya, bahwa pemuda memiliki ranah yang luas dalam menganalisis dan mengkritisi polemik ini,” ujarnya, Sabtu (27/10). Penulis buku best seller Hukum Indonesia: Sejarah, Konsep Tata Hukum dan Politik Hukum Indonesia ini berpendapat bahwa regulasi hukum tentang korupsi di Indonesia sudah terlalu berlebihan. Lanjutnya, koruptor di Indonesia semakin diberi regulasi semakin bebas untuk melangsungkan tindakan pidana tersebut. “Regulasi hukum untuk para koruptor di Indonesia ini sudah over regulation yang jatuhnya tidak untuk ditakuti,” tandasnya. Perlu diketahui bersama bahwa terdapat 38 Caleg mantan narapidana kasus korupsi yang namanya sudah terdaftar di Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilu Legislatif. Najih menyampaikan bahwa keberadaan jumlah tersebut harus diawasi dan dianalisis oleh generasi muda yang merupakan pemilih dengan suara yang banyak direbutkan oleh para Caleg tersebut. “Sebagai pemilih dengan suara yang diperebutkan oleh para Caleg, anak muda harus kristis dalam menganalisis,” ungkapnya. (nis/can)
Rektor: Guru Milenial itu yang Kuat Karakter Keagamaan, Intelektual dan Humanisnya

DI TAHUN 2030 nanti, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Artinya di tahun itu, Indonesia akan memiliki lebih banyak warga negara yang berada di usia produktif. Generasi milenial, yang akan hidup di masa itu, tentunya saat ini menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah dan berbagai kalangan. Hal inilah yang mendorong Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Khusus, Kamis (25/10) siang. Acara ini bertajuk, “Penguatan Karakter untuk Mempersiapkan Generasi Milenial”. Pada kesempatan ini Dr. Fauzan, M. Pd, Rektor UMM hadir sebagai pemateri. Ia menyampaikan optimisme bahwa mahasiwa PGSD UMM harus menjadi generasi yang maximize atau generasi unggulan. “Jangan kemudian telat masuk kuliah. Sering alasan, yang penting masuk. Inilah yang dinamakan bermental minimize,” contohnya. Setiap manusia, sambungnya, memiliki potensi yang luar biasa. Namun sangat disayangkan kebanyakan dari diri seseorang, terkhusus para mahasiswa calon guru, masih memelihara kemalasan dan kerap beralasan. Boleh dikatakan, lanjut Fauzan, terlalu terlena dengan zona nyaman. Tak lupa, Fauzan juga menjelaskan betapa pentingnya menjadi seseorang yang bermental pekerja keras. Hal ini nanti tentu harus dimiliki oleh seorang guru. Karena guru, sambung Fauzan, adalah suri tauladan bagi murid-muridnya. Ditegaskan Fauzan, penguatan karakter juga mesti dilakukan dengan maksimal dalam rangka menyiapkan generasi milenial ke depan. Perbedaan gaya hidup dan perilaku di setiap masa akan menjadi tantangan tersendiri bagi guru. “Maka dari itu, penting kiranya calon-calon guru masa kini mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Agar ke depan anak-anak didik yang tak lain adalah generasi penerus bangsa menjadi anak-anak yang kuat dalam karakter keagaamaan, keintektualan dan humanisnya,” tutup Fauzan. (mir/can)
Peringati Bulan Bahasa, Mahasiswa UMM Gelar Aksi Simpatik Peduli Penggunaan Bahasa Indonesia

DOSEN Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hari Windu Asrini, menyebut Bahasa Indonesia tidak lagi menjadi tuan di rumahnya sendiri. Hal itu disampaikan Hari pada aksi long march memperingati Bulan Bahasa yang jatuh hari ini, Jumat (26/10). “Melihat bahwa fakta bahasa ini (Indonesia, red.) tidak tambah baik penggunaannya. Justru bahasa asing lebih menjadi tren. Padahal, di undang-undang sudah tertera jelas jika kita diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar,” jelas Hari di sela long march. Seperti disebut Hari, di undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, utamanya pasal 36 ayat 3 secara terang Bahasa Indonesia, wajib digunakan di semua nama tempat usaha dan instansi. Data ini dikumpulkan hanya dalam waktu sehari. Sebelum aksi simpatik digelar, mahasiswa disebar ke beberapa wilayah di Kota Malang, Kota Batu, dan sebagian Kabupaten Malang untuk mencari nama tempat usaha atau instansi yang masih belum sesuai dengan kaidah bahasa. Berdasarkan temuan mereka, terdapat lebih 2.000 nama usaha dan instansi yang masih belum menggunakan kaidah Bahasa Indonesia. Misalnya pada penamaan Anugrah Elektronik, disarankan menjadi Anugerah Elektronik. Saran lainnya Dian Medica menjadi Toko Alat Medis Dian, dan Central Aromatik menjadi Pusat Aromatik. Hasil dari riset yang telah ditulis dalam bentuk laporan ini telah diserahkan langsung kepada perwakilan Pemerintah Kota Malang. Laporan itu nantinya diharapkan dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat peraturan daerah (Perda) tentang pelabelan nama tempat usaha atau instansi. Dipaparkan salah satu mahasiswa, Rifqi Muhammad Rizky Aryada, keikutsertaan PBSI UMM dalam peringatan Bulan Bahasa ini merupakan upaya membangkitkan semangat untuk melestarikan bahasa dan peningkatan kesadaran penggunaan Bahasa Indonesia. Lebih lanjut, Rifqi menyebut aksi simpatik ini juga sekaligus mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menaati segala aturan di negara Republik Indonesia terutama dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, menerapkan aturan yang berlaku, melestarikan budaya lokal, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia,” tegas Rifqi. Sementara menurut Helmi Mahendri, mahasiswa PBSI lainnya yang juga ikut serta agenda ini menyatakan, dengan tetap menggunakan Bahasa Indonesia dan manaati kaidah-kaidahnya, kita juga turut mendukung pelestarian bahasa daerah. “Dengan menjadi pengguna Bahasa Indonesia yang aktif maka kita juga telah mendukung pelestarian bahasa daerah yang juga banyak diserap ke dalam Bahasa Indonesia,” pungkas mahasiswa semester 7 ini. (nis/can)