Mahasiswa Informatika UMM Sabet Juara Umum Motocross Papua

Di era gempuran digitalisasi di mana mahasiswa teknologi kerap diidentikkan dengan gaya hidup sedentary atau minim gerak di depan layar komputer, Javier Bhagawanta justru membuktikan ketangguhannya di atas medan berlumpur. Mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2023 ini sukses mendobrak stereotip tersebut dengan menaklukkan ganasnya sirkuit di ujung timur Indonesia. Ia berhasil mengukir sejarah dengan meraih gelar bergengsi Juara Umum pada ajang balap ekstrem Motocross & Grasstrack Kejurda Bupati Keerom Cup Seri II 2026. Berlaga pada 15 hingga 17 Mei 2026 di Sirkuit Yuwanain, Arso II, Kabupaten Keerom, Papua, Javier menunjukkan dominasi mutlak yang mengundang decak kagum. Berdasarkan hasil akhir kejuaraan, ia tidak hanya mengamankan satu podium, melainkan memborong tujuh piala sekaligus. Javier dinobatkan sebagai Juara Umum Setanah Papua U-23 setelah menyapu bersih posisi pilar: Juara 1 Kelas Sport & Trail (Kategori JU Setanah Papua U-23) dan Juara 2 Kelas Trail Standar 4L 155cc. Tak berhenti di situ, ia juga mendominasi Kategori JU Setanah Papua dengan meraih Juara 3 Kelas Sport & Trail, Juara 4 Kelas Bebek Modif 4T Tune Up, dan Juara 5 Kelas Special Engine 125-250cc, serta melengkapinya dengan menjuarai posisi ke-2 di Kelas Bebek Standar 2T 4T Open. Perjalanan menyabet deretan trofi tersebut dilaluinya dengan rintangan yang tak mudah, mengingat ia sempat mengalami penurunan kondisi fisik drastis hingga harus total menghentikan porsi latihannya seminggu sebelum keberangkatan. Setibanya di arena balap, ia juga dipaksa cepat beradaptasi dengan karakter sirkuit yang menantang serta menghadapi kepungan pembalap-pembalap level nasional dari Merauke. “Tantangannya cukup sulit karena sirkuitnya tidak sebagus pada umumnya, ditambah saya juga bermain dan bersaing langsung bersama para atlet nasional,” ungkapnya. Untuk mengatasi tekanan berat di lintasan, Javier menyadari bahwa kesiapan mental adalah fondasi utama yang harus dibangun berdampingan dengan manajemen waktu. Ia sangat disiplin menyeimbangkan rutinitas kuliahnya dengan lari sore di lapangan kampus UMM dan rutin pulang ke Kediri setiap akhir pekan untuk mengasah kendali motor. Ia meyakini bahwa nyali yang ciut saat menatap pesaing di garis start adalah awal dari sebuah kekalahan. “Kalau mental tidak terbentuk, kita melihat lawan itu pasti sudah down duluan. Maka dari itu, mental dalam olahraga motocross ini sangat penting,” tegas pemuda yang sudah rutin mengikuti kejuaraan sejak dini ini. Pencapaian luar biasa ini tak lepas dari ekosistem pembinaan non-akademik Kampus Putih UMM yang sangat inklusif. Universitas secara nyata mewujudkan dukungannya melalui pemberian kemudahan perizinan akademik hingga skema insentif prestasi yang memberikan ruang bebas bagi mahasiswa untuk bersinar dan berdampak di luar disiplin ilmu utamanya. Kini, deretan piala kebanggaan tersebut ia persembahkan untuk kedua orang tua dan sahabatnya di Papua, seraya mematangkan ketahanan fisik dan mesin motor untuk menyambut Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Regional pada Juli mendatang. Di akhir, ia menitipkan pesan pembuktian bagi generasi muda agar tidak ragu mengeksplorasi potensi diri di luar zona nyaman. “Jangan pernah takut mencoba, jalani saja sembari kuliah, jangan malu-malu untuk menunjukkan kemampuan di bidangmu selagi itu positif,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD Tuai Sorotan, Pakar UMM Desak Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja menggulirkan kebijakan pelonggaran batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun. Langkah ini memicu sorotan tajam dari pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd. Ia menilai, aturan tersebut menyimpan bom waktu jika tidak segera dibarengi dengan perombakan manajemen sekolah dasar dan peningkatan kompetensi pedagogi guru secara masif guna mencegah stres pada anak. Arina menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Jika dipaksakan tanpa adaptasi, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegasnya 25 Mei pada tim Humas UMM. Untuk mencegah kekacauan di lapangan, manajemen sekolah dasar dituntut melakukan tiga adaptasi krusial. Sekolah wajib mendesain Kelas 1 Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Selain kesiapan manajemen, Arina turut membagikan trik praktis bagi para pendidik agar siswa tidak tertekan di minggu-minggu pertama pembelajaran. Mengingat rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” urai dosen PGSD tersebut. Sebagai pesan penutup, Arina mengingatkan pemerintah agar pelonggaran usia ini tidak diberlakukan secara pukul rata. Kebijakan ini idealnya tetap bersifat opsional dan didasarkan memberi pengetatan asesmen kesiapan psikologis anak. Pemerintah dituntut segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sambut Calon Gen 26, UTBK UMM Padukan Pengamanan Berlapis dan Keseruan Fun Games

Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Fakultas Kedokteran (FK) dan Farmasi yang identik dengan ketegangan, terasa jauh berbeda di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menyambut lebih dari 1.000 calon mahasiswa baru yang memperebutkan kursi Gen 26 pada 21-23 Mei 2026, Kampus Putih menghadirkan kejutan seru lewat Mobil Kamis Membaca (KaCa). Kehadiran kendaraan edukasi multifungsi ini sukses menyulap wajah tegang para peserta menjadi tawa lepas melalui aneka fun games usai mereka berjibaku memeras otak di ruang ujian. Daya tarik prodi kesehatan di UMM ini terbukti sukses menjangkau seluruh nusantara. Hal ini terlihat dari asal pendaftar yang sangat beragam, dengan peserta terjauh tercatat datang langsung dari Papua demi mengejar mimpi menjadi tenaga medis profesional. Tensi tinggi setelah perjalanan jauh dan ujian yang ketat langsung luntur saat panitia mengajak para peserta bersantai di area Mobil KaCa. Mereka tidak hanya disuguhi ratusan bahan bacaan inspiratif, tetapi juga diajak melepas penat dengan aneka games berhadiah, hingga asyik membuat konten seru di platform TikTok. Meski menghadirkan atmosfer yang fun dan ramah di luar ruangan, UMM tetap tidak memberikan ruang sedikit pun bagi pelanggaran akademik. Merespons tingginya animo peserta dari berbagai pelosok negeri serta maraknya isu perjokian di prodi favorit, Kampus Putih secara konsisten menerapkan standar pengamanan tingkat tinggi dan berlapis. Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM, Dr. Moh. Wahyu Kurniawan, M.Pd., menjelaskan bahwa lonjakan pendaftar wajib diimbangi dengan proses seleksi yang bersih dan adil. Pihaknya menyiapkan prosedur keamanan ketat, mulai dari pengecekan fisik menggunakan metal detector, pelarangan membawa alat komunikasi jenis apa pun, hingga menggandeng aparat kepolisian setempat. “Pelaksanaan UTBK dengan pengawasan ketat ini sudah kami rutinkan sejak beberapa tahun lalu guna mengantisipasi pergerakan joki maupun bentuk kecurangan teknis lainnya. Di setiap ruangan, kami menyiagakan pengawas yang teliti serta teknisi yang sigap membantu peserta jika sewaktu-waktu terjadi kendala perangkat,” tegas Wahyu. Keseimbangan antara pelayanan yang menghibur dan tata kelola ujian yang profesional ini menuai apresiasi dari para wali peserta yang turut mendampingi. Novi Damayanti, salah satu orang tua peserta, secara khusus menyoroti kesiapan infrastruktur serta rekognisi internasional UMM. Ia sangat terkesan melihat langsung gedung baru yang megah dan berteknologi canggih khusus untuk praktik mahasiswa kedokteran dan farmasi. “Semoga anak saya bisa mendapatkan hasil maksimal, diterima di UMM, dan kelak menjadi generasi unggul di bidang kesehatan. Saya sangat yakin, dengan fasilitas semumpuni ini, UMM bisa mengantarkan anak saya menjadi tenaga medis profesional yang kiprahnya bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Novi. Pada akhirnya, UTBK Kedokteran dan Farmasi UMM bukan sekadar ajang adu kecerdasan akademis. Lebih dari itu, proses ini adalah wujud nyata komitmen Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, berintegritas tinggi, namun tetap memiliki ruang untuk kreativitas. Ke depannya, Gen 26 yang berhasil lolos diharapkan mampu tumbuh menjadi pionir perubahan yang siap mengabdi untuk menyelesaikan persoalan kesehatan di tingkat nasional, dari Aceh hingga Papua, bahkan di kancah global.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bangun Kesadaran Ekologi Sejak Dini, Riset Dosen UMM Latih Siswa SD Kelola Sampah

Ancaman krisis iklim dan darurat penumpukan sampah di Kabupaten Malang menuntut solusi berbasis riset yang komprehensif. Menjawab tantangan tersebut, Dosen sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, S.Pd., M.Pd., memimpin riset edukasi ekologi yang menyasar siswa Sekolah Dasar (SD) ini bahkan sukses menyisihkan ribuan proposal dalam ajang pendanaan bergengsi tingkat nasional pada program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek ) yang diselenggarakan dan diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Penelitian ini bermula dari analisis tajam Beti terhadap kondisi kelestarian lingkungan dan minimnya literasi ekologi pada anak usia dini. Ia menyoroti bagaimana volume sampah yang terus melonjak setiap tahun di Kabupaten Malang ternyata berbanding terbalik dengan penerapan edukasi sistematis di bangku sekolah dasar, sehingga menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat. “Sekarang ini produksi sampah di Kabupaten Malang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara edukasi pengolahan sampah yang sistematis di sekolah dasar masih sangat minim. Karena itu, melalui riset ini, kami ingin memulai dari pendidikan dasar agar menjadi pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Dalam desain penelitiannya, Beti tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng tim lintas disiplin dari program studi Matematika, Teknik Mesin, hingga Biologi. Riset ini mengaplikasikan metode living lab, sebuah pendekatan saintifik yang tidak sekadar berfokus pada pemahaman teoretis, tetapi memfasilitasi siswa mempraktikkan langsung proses memilah, mendaur ulang, hingga mengolah sampah menjadi produk bermanfaat. Menurutnya, inovasi metode riset ini merupakan wujud nyata langkah mitigasi krisis ekologi di sektor pendidikan. “Harapan kami, penelitian ini bisa berdampak jangka panjang untuk mengarahkan dan juga memberikan kontribusi nyata terhadap mitigasi climate change yang memang menjadi fokus kita bersama,” paparnya. Penelitian berskala besar yang turut melibatkan mahasiswa ini akan dijalankan selama satu tahun melalui delapan tahapan komprehensif, mulai dari analisis awal, pembuatan purwarupa, hingga diseminasi hasil. Didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Majelis Dikdasmen Kabupaten Malang, riset ini menjadikan tiga SD Muhammadiyah di Kepanjen, Karangploso, dan Tumpang sebagai pilot project. Capaian lolos pendanaan yang diraih tim peneliti UMM ini menjadi bukti kualitas riset di tengah seleksi yang sangat kompetitif. “Persaingan dalam program pendanaan ini sangat ketat, dari total 8.951 akun pendaftar, hanya 122 program yang dinyatakan lolos. Kami berharap luaran riset ini mampu meningkatkan keterampilan pengolahan sampah siswa secara terukur dan secara efektif membantu sekolah menekan timbunan sampah ke TPA,” ungkapnya. Riset ini semakin menegaskan posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam kajian teoretis, tetapi juga adaptif merumuskan produk penelitian untuk merespons isu global. Ke depannya, model penelitian pendidikan lingkungan berbasis living lab ini diharapkan dapat direplikasi oleh berbagai institusi lain, guna mencetak generasi masa depan yang tanggap secara ekologis dan terbiasa dengan gaya hidup berkelanjutan.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

​Banyak yang Terjebak Formalitas, Rektor UMM Ingatkan Kembali Marwah Guru Sebagai Pembangun Peradaban

Di tengah maraknya keluhan pendidik terkait beratnya beban birokrasi yang kerap menyita waktu mengajar, sebuah kritik tajam dan reflektif justru mengemuka dari mimbar akademik. Kualitas pendidikan dipastikan tidak akan pernah menguat jika sekolah terus terjebak mengejar formalitas administrasi, tetapi abai dalam membangun ekosistem belajar yang sehat. Peringatan ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Acara ini dihadiri oleh puluhan akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya, Jumat (22/5). Dalam stadium generale tersebut, Nazar sapaan akrabnya menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu akar utama menurunnya mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak tenaga pengajar yang terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Ironisnya, di tengah keterbatasan itu, sekolah justru terus ditekan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi ini tidak hanya menggerus kualitas pembelajaran, tetapi juga mengancam kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik. “Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya. Lebih lanjut, ia mengkritik keras fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai semakin mencengkeram kebebasan berekspresi institusi pendidikan. Banyak sekolah kini perlahan berubah menjadi sekadar institusi pengejar pengakuan administratif dan terlalu fokus memoles citra luar, sehingga melupakan urgensi school leadership. Oleh karenanya, pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah dituntut untuk tidak sekadar mengekor pada pola kerja birokrasi, melainkan harus berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial sekitarnya. “Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya. Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan masih melekatnya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan keliru ini diam-diam membuat banyak generasi muda berprestasi enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama. Padahal, maju mundurnya kualitas pendidikan masa depan sangat bergantung pada sejauh mana profesi mulia ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual. “Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya. Sebagai pesan penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah sejatinya adalah seni membangun sistem yang hidup, bukan sekadar urusan mengelola tumpukan dokumen dan laporan. Kualitas pendidikan sejati tidak pernah lahir dari deretan slogan besar, melainkan dari konsistensi merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat bukan hanya yang mampu meluluskan siswa bernilai akademik tinggi, tetapi yang sukses mencetak manusia berkarakter tangguh untuk menghadapi kerasnya dinamika perubahan zaman.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Berbekal Ilmu dari CoE UMM, Alumnus Ilmu Pemerintahan Ini Berkarier di Industri Tambang

Tren karier generasi muda kini semakin dinamis, mendobrak batasan linieritas antara program studi di bangku kuliah dan realitas dunia kerja. Hal ini terbukti nyata di tengah masifnya industri pertambangan di Kalimantan Timur yang menyerap puluhan ribu tenaga teknis. Siapa sangka, peran krusial menjaga keselamatan operasional para pekerja tambang justru dipegang oleh seorang lulusan Ilmu Pemerintahan. Berbekal berbagai pengalaman berharga selama berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya dengan mengikuti kelas Center of Excellence (CoE), Resky Maharani Ma’mur berhasil menembus kerasnya sektor ekstraktif dan berkarier sebagai Safety Officer. Menjalani peran vital di area operasional PT Pangansari Utama, Resky memikul tanggung jawab besar di Departemen Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE). Alumnus Ilmu Pemerintahan angkatan 2020 ini dituntut untuk terus mengawasi penerapan regulasi Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH), Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP), hingga menjaga standar keamanan pangan (Food Safety). Meski sekilas pekerjaannya jauh dari urusan administrasi negara, ia justru menyadari bahwa ilmu tata kelola yang dipelajarinya menjadi fondasi kuat. Ia menjelaskan bahwa ilmu dari bangku kuliah menyadarkannya tentang pentingnya pengawasan implementasi sebuah regulasi melalui proses monitoring agar berjalan efektif. “Ilmu Pemerintahan mengajarkan saya bagaimana kebijakan tidak hanya dibuat secara administratif, tetapi juga harus diawasi implementasinya melalui monitoring dan evaluasi agar benar-benar berjalan efektif di lapangan,” tegasnya. Lebih lanjut, kemampuannya beradaptasi di industri swasta ini sangat ditunjang oleh keputusannya mendalami kelas CoE Analis Kebijakan. Langkah strategis tersebut amat relevan dengan kebutuhan industri masa kini yang bertumpu pada data. Kompetensi membedah data terbukti amat krusial ketika dirinya dituntut menyusun laporan HSE, memantau capaian Key Performance Indicators (KPI), hingga merumuskan mitigasi insiden kerja di area tambang yang penuh risiko. Menurutnya, kurikulum yang ditawarkan dalam kelas unggulan Kampus Putih tersebut sangat aplikatif karena langsung menargetkan penguasaan keterampilan teknis seperti pengolahan hingga visualisasi data. “Keunggulan program CoE ini lebih fokus pada praktik dan skill yang dibutuhkan dunia kerja, seperti pengolahan, analisis, dan visualisasi data, bukan hanya teori perkuliahan,” ungkapnya. Selain ketajaman analitis, keluwesan Resky saat berkomunikasi dengan pemangku kepentingan maupun pekerja teknis merupakan buah manis dari proses berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) dan keterlibatannya di Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Guna melengkapi profesionalismenya, ia bahkan berhasil mengantongi sertifikasi Ahli K3 Umum dari Kementerian Ketenagakerjaan. Mengingat rekam jejak kariernya yang inspiratif tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa harus peka terhadap peluang dari kampus dan bersabar dalam menekuni satu bidang keahlian secara mendalam. “Manfaatkan program CoE sebaik mungkin karena skill analisis data sangat dibutuhkan. Dalami skill yang disukai, ketika kita sudah tahu apa bidang yang kita sukai, dalami, sabar juga menjadi yang paling utama,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dosen Kedokteran UMM Ungkap Bahaya Hantavirus Saat Musim Hujan dan Banjir

  pwmu.co – Tingginya curah hujan yang memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue (DBD), tetapi juga ancaman penyakit berbahaya lain yang ditularkan hewan pengerat, yakni hantavirus.Penyakit ini perlu diwaspadai karena memiliki gejala awal yang mirip DBD dan dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru maupun ginjal apabila terlambat ditangani. Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM., menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Menurut Febri, hantavirus berbeda dengan leptospirosis atau penyakit kencing tikus yang disebabkan oleh bakteri. “Hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara,” jelasnya. Ia menerangkan bahwa virus dapat menular kepada manusia melalui urin maupun gigitan langsung hewan pengerat. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui aerosol atau udara yang mengandung partikel virus dari kotoran tikus yang terhirup manusia. “Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia,” jelasnya. Secara klinis, Febri memaparkan bahwa infeksi hantavirus terbagi menjadi dua kondisi utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang mengganggu sistem pernapasan. Gejala awal penyakit ini umumnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas seperti flu biasa. Namun, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas, perdarahan, hingga muncul ruam kulit yang khas. “Yang membedakan dengan DBD, biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” tegasnya. Hingga kini, belum ditemukan obat spesifik maupun vaksin untuk menangani hantavirus. Penanganan medis yang dilakukan masih berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap stabil. Febri menjelaskan, risiko penularan virus ini meningkat saat musim hujan dan banjir karena tikus cenderung keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap rumah. “Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” tambahnya. Merespons ancaman kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun disiplin menerapkan langkah pencegahan. Mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, seperti rutin membersihkan lingkungan dan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker, sarung tangan, dan sepatu saat membersihkan gudang atau area yang berpotensi menjadi sarang tikus. Selain itu, menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup dinilai penting untuk memperkuat sistem imun tubuh. “Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Waspada Penyakit dari Tikus, Akademisi Kedokteran UMM Ungkap Gejala dan Pencegahan Hantavirus

MALANG POST- ​Tingginya curah hujan yang kerap memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya membawa ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD), tetapi juga penyakit berbahaya lain yang ditularkan oleh hewan pengerat, yakni Hantavirus. Memiliki gejala awal yang sangat menyerupai DBD, penyakit ini patut diwaspadai karena dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru dan ginjal jika terlambat ditangani. ​Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM., menjelaskan. Bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Berbeda dengan leptospirosis (penyakit kencing tikus) yang disebabkan oleh bakteri, hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara. ​“Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia,” jelasnya. ​Secara klinis, Febri memaparkan bahwa infeksi virus ini terbagi dalam dua kondisi utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang mengganggu fungsi ginjal, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan. Gejala awalnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas layaknya flu biasa. Namun seiring waktu, pasien bisa mengalami sesak napas, perdarahan, hingga munculnya ruam kulit yang spesifik. ​“Yang membedakan dengan DBD, biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” tegasnya. ​Hingga saat ini, belum ada obat spesifik maupun vaksin yang ditemukan untuk mematikan hantavirus. Penanganan medis hanya berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap berjalan dengan baik. Risiko penularan virus ini akan semakin melonjak saat musim hujan dan banjir, di mana kawanan tikus kerap keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap di dalam rumah. ​“Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” tambah Febri. ​Merespons ancaman kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap mengedepankan tindakan preventif secara disiplin. Langkah mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, yakni dengan rutin membersihkan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu dan sarung tangan saat membersihkan gudang. Menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup juga sangat vital untuk membentuk sistem imun tubuh. ​“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Pencegahan Hantavirus, Dokter: Tingkatkan Daya Tahan Tubuh

Bisnis.com, MALANG—Hantavirus, penyakit yang diwaspadai karena dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru dan ginjal jika terlambat ditangani dan lngkah mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, yakni dengan rutin membersihkan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu, dan sarung tangan saat membersihkan gudang. Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),  Febri Endra Budi Setyawan,  menjelaskan hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Berbeda dengan leptospirosis (penyakit kencing tikus) yang disebabkan oleh bakteri, hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara. “Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia,” jelasnya dikutip Rabu (20/5/2026). Secara klinis, kata dia, infeksi virus ini terbagi dalam dua kondisi utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang mengganggu fungsi ginjal, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan. Gejala awalnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas layaknya flu biasa. Namun seiring waktu, pasien bisa mengalami sesak napas, perdarahan, hingga munculnya ruam kulit yang spesifik. “Yang membedakan dengan DBD, biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” tegasnya. Hingga saat ini, dia menegaskan, belum ada obat spesifik maupun vaksin yang ditemukan untuk mematikan hantavirus. Penanganan medis hanya berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap berjalan dengan baik. Risiko penularan virus ini akan semakin melonjak saat musim hujan dan banjir, di mana kawanan tikus kerap keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap di dalam rumah. “Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” ucapnya. Merespons ancaman kesehatan tersebut, dia menyarankan, masyarakat untuk tidak panik namun tetap mengedepankan tindakan preventif secara disiplin. Langkah mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, yakni dengan rutin membersihkan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu, dan sarung tangan saat membersihkan gudang. Menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup juga sangat vital untuk membentuk sistem imun tubuh. “Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” ucapnya. (K24)

Dulu Mengais Limbah di Eropa, Alumnus UMM Ini Jadi Bos Spa Beromzet Ratusan Juta

MALANG POST – Membangun bisnis spa beromzet ratusan juta rupiah per bulan di Polandia bukanlah pencapaian instan bagi Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2011 ini harus merintis karirnya di Eropa dari titik terendah, yakni dengan memeras keringat sebagai petugas kebersihan gudang dan mengurus sisa limbah demi bertahan hidup. Keberangkatannya ke Eropa pada Mei 2021 bukanlah perjalanan yang mulus. Setelah berkali-kali gagal menembus visa kerja ke Australia, Selandia Baru, dan Kanada sejak 2017, ia membidik Polandia yang saat itu minim lirikan pekerja Indonesia. Setibanya di sana, kenyataan keras langsung menyapanya. Galang mengungkapkan bahwa pengalaman awalnya di Eropa sangatlah berat karena ia harus bekerja kasar tanpa modal bahasa asing yang mumpuni. “Sesampainya di Polandia, saya bekerja sebagai petugas kebersihan gudang tanpa membutuhkan kemampuan bahasa khusus. Mulai dari membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membersihkan sisa limbah kerja setiap hari.” “Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau,” tegasnya 18 Mei lalu pada Tim Humas UMM. Tak ingin selamanya menjadi pekerja kasar, Galang beralih profesi menjadi pegawai di sebuah restoran kebab selama hampir tiga setengah tahun. Di sanalah ia mulai menyerap bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji. “Banyak orang datang ke luar negeri hanya bekerja biasa, tapi ada juga yang mencoba membangun sesuatu yang lebih besar,” katanya. Peluang emas itu ia temukan pada bisnis relaksasi bertema Asia yang masih langka di Polandia. Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang. “Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan,” jelas Galang. Kini, berkat insting bisnis yang telah terasah sejak menjadi sales di Indonesia, usaha “Tera Thai Salon Day Spa” miliknya melesat. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, bisnis tersebut meraup omzet Rp500 hingga Rp600 juta per bulan dan bersiap membuka cabang baru di Kota Gdansk. Kisah inspiratif Galang ini memberikan pesan kuat bagi generasi muda bahwa kesuksesan di negeri orang bukanlah undian berhadiah, melainkan hasil dari ketahanan mental, kemauan beradaptasi, dan keberanian mengambil risiko. “Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar,” pungkasnya menutup cerita.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)