Jelang Idul Adha, Pakar UMM Ingatkan Masyarakat: Pilih Hewan Kurban Jangan Hanya Terkecoh Ukuran

Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., pakar UMM yang mengimbau masyarakat teliti dan mengetahui ketentuan memilih hewan kurban untuk Idul Adha./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau oleh pakar UMM untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. Menurut Lili, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ungkap Prof Lili kepada Tim Humas UMM, 7 Mei lalu. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” imbuhnya. Lili juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. Kemudian, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Ilustrasi sapi dan kambing sehat dan layak menjadi hewan kurban./dok. Istimewa Ilustrasi kambing sehat dan dapat menjadi hewan kurban./dok. Istimewa Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. Melalui edukasi ini, Lili berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama. *** Editor: YAN

BRIN: UMM adalah Kampus Swasta Paling Agresif-Progresif Berkolaborasi dengan Industri

Foto: Republika.co.id Kampus UMM di Tlogomas, Kota Malang, Jawa Timur. REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria memuji Universitas Muhammadiyah Malang yang terus bertransformasi menjadi universitas berbasis inovasi (innovation university). Menurut dia, kampus yang masyhur dikenal sebagai UMM itu adalah perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak,’ ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi innovation university,” ujar Prof Arif dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (9/5/2026).

BRIN: UMM adalah kampus swasta paling agresif-progresif berkolaborasi dengan industri

Kampus UMM di Tlogomas, Kota Malang, Jawa Timur.© Republika.co.id REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria memuji Universitas Muhammadiyah Malang yang terus bertransformasi menjadi universitas berbasis inovasi (innovation university). Menurut dia, kampus yang masyhur dikenal sebagai UMM itu adalah perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak,’ ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi innovation university,” ujar Prof Arif dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (9/5/2026). Transisi menuju innovation university mengharuskan sebuah institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced laboratorium. Kampus pun mesti memperkuat riset terapan (applied research) dan keterkaitan dengan dunia industri (industrial engagement). Arif mengapresiasi langkah agresif UMM yang dinilainya sangat tepat guna menjembatani fenomena valley of death (lembah kematian riset). Itu merujuk pada kondisi yang di dalamnya banyak hasil inovasi kampus “layu sebelum berkembang” karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik dan disrupsi teknologi masif, seperti agentic artificial intelligence dan transisi energi. Ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama. Secara spesifik, mantan rektor IPB University ini menantang para peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo. Lebih-lebih, lokasi operasional tersebut tidak begitu jauh dari kampus UMM, yakni sama-sama di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi BRIN tersebut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menyatakan, UMM sedang mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem solution center of excellence (CoE).

BRIN apresiasi UMM bertransformasi menjadi “Innovation University”

Antara jatim – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengapresiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sedang bertransformasi menjadi Innovation University. Arif Satria dalam kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM di Malang, Sabtu, mengatakan sebagai perguruan tinggi swasta UMM yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, Inovasi Mandiri dan Berdampak, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” kata Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM. Menurut dia, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced laboratorium. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang, karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama. Ia juga secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi BRIN tersebut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menyatakan bahwa UMM sedang mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. “Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh, karena didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin. Ia menekankan jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil, seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2 persen saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” ucapnya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia. Pewarta: Endang Sukarelawati Editor : Vicki Febrianto

Psikologi UMM Kuliah Internasional: Hadirkan Pakar Universiti Kebangsaan Malaysia

MALANG POST – Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi stroberi. Layaknya buah stroberi yang tampak segar dan memikat di luar, mereka dianggap sangat rentan memar dan hancur ketika mendapat sedikit saja tekanan. Stigma ini seolah menjadi bayang-bayang kelam yang terus mengikuti anak muda di tengah kerasnya arus tuntutan zaman. Menyadari fenomena krisis tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menolak untuk diam. Kampus inovasi ini berupaya menulis ulang narasi itu dengan tekad mencetak mahasiswa yang tangguh secara mental. Pada Jumat (8/5/2026), Fakultas Psikologi UMM secara khusus menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4. Menghadirkan pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Dr. Nasrudin Subhi, forum ini membedah anatomi ketahanan jiwa di era digital. Dalam paparannya, ia menbedah realitas bahwa ancaman bagi mahasiswa saat ini telah bermutasi secara drastis. “Ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas makalah atau ujian akhir yang menegangkan. Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya. Lebih jauh, ia menyoroti akar masalah yang kerap bermula dari pola asuh keluarga modern yang terlalu memanjakan anak. Akibatnya, saat remaja masuk ke dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian ekstrem, benturan realitas atau culture shock tidak dapat dielakkan. Jika krisis transisi ini dibiarkan tanpa kendali, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari memicu depresi hingga tindakan agresi. Untuk memutus rantai kerentanan itu, pria itu menawarkan penawar berupa resiliensi mental. Langkah esensial pertama adalah berani membangun sikap asertif di lingkungan pertemanan kampus. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Selain regulasi emosi yang proporsional, pertahanan diri ini wajib ditopang oleh jejaring dukungan sosial (social support). “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pesannya. Langkah strategis menghadirkan akademisi mancanegara ini merupakan wujud nyata visi besar kampus. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, S.Psi., M.A., menuturkan kolaborasi dengan kampus dari negeri jiran tersebut dirancang agar mahasiswa siap menghadapi realitas zaman. “Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang luar biasa kompleks. Oleh sebab itu, mereka perlu dibekali cara mengenali faktor risiko sekaligus membangun resiliensi agar dapat berkembang secara adaptif,” urainya. Pada akhirnya, UMM membuktikan komitmennya melalui langkah preventif ini. “Melalui forum kolaborasi ini, kami tidak hanya mentransfer pengetahuan teoritis semata, melainkan juga membekali mereka dengan jejaring wawasan global,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Perkuat Resiliensi Mental Mahasiswa lewat Kuliah Tamu Internasional

Kuliah Tamu Internasional UMM, Resiliensi Mahasiswa. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co –Generasi Z kerap mendapat stigma sebagai generasi stroberi, yakni generasi yang terlihat kuat dan menarik dari luar, tetapi dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan. Di tengah derasnya tuntutan era digital, stereotip tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi anak muda masa kini. Melihat kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berupaya membangun ketahanan mental mahasiswa melalui pendekatan psikologis yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Fakultas Psikologi UMM menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4 pada Jumat (8/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Nasrudin Subhi. Dalam pemaparannya, Nasrudin menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini tidak lagi sebatas tugas kuliah atau tekanan akademik. Menurutnya, generasi muda kini juga dihadapkan pada ancaman di ruang digital, seperti perundungan siber hingga penyalahgunaan zat berbahaya yang dapat memengaruhi kondisi mental. Ia juga menyoroti pola asuh modern yang dinilai terlalu protektif sehingga membuat sebagian remaja kesulitan beradaptasi ketika memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian. Kondisi tersebut dapat memicu culture shock dan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan psikologis apabila tidak ditangani dengan baik. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Nasrudin menekankan pentingnya membangun resiliensi mental sejak dini. Salah satu langkah utama yang perlu dimiliki mahasiswa adalah sikap asertif, yakni kemampuan untuk menentukan batasan dan berani mengatakan “tidak” demi kebaikan diri sendiri. Selain itu, ia menilai dukungan sosial atau social support memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa. Menurutnya, lingkungan pertemanan yang sehat dapat menjadi ruang saling menguatkan, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit. Sementara itu, Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, menyampaikan bahwa kolaborasi internasional tersebut merupakan bagian dari upaya kampus dalam membekali mahasiswa menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. “Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang sangat dinamis. Karena itu, mereka perlu memahami faktor risiko sekaligus memiliki kemampuan resiliensi agar mampu berkembang secara adaptif,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, UMM tidak hanya menghadirkan wawasan akademik, tetapi juga memperluas perspektif mahasiswa melalui jejaring internasional. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk membangun mental yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim

UMM dan SMAN 1 Pandaan Edukasi Pelajar Kurangi Jejak Ekologis Lewat Program “Jejakku, Bumiku”

kolaborasi lintas institusi pendidikan UMM dan SMAN 1 Pandaan bersinergi Gelar Program “Jejakku, Bumiku” PASURUAN, JAPOS.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  bersama menggelar program edukasi lingkungan bertajuk “Jejakku, Bumiku” untuk meningkatkan kesadaran ekologis di kalangan pelajar. Program yang berlangsung pada Jumat (17/4/2026) itu mengajak siswa memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari manusia dengan dampaknya terhadap lingkungan. Dalam kegiatan tersebut, para pelajar diberikan edukasi mengenai langkah sederhana untuk mengurangi jejak ekologis, seperti mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi, menghemat listrik, memanfaatkan barang daur ulang, hingga mengurangi konsumsi daging harian. Melalui penerapan kebiasaan tersebut secara konsisten, jejak ekologis seseorang diperkirakan dapat berkurang hingga 30 persen. Penurunan itu dinilai mampu membantu menekan defisit ekologis global sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Selain itu, program “Jejakku, Bumiku” juga mendorong penerapan gaya hidup ramah lingkungan atau green lifestyle di kalangan siswa. Beberapa kebiasaan yang diperkenalkan antara lain penggunaan air secara bijak, pengurangan sampah plastik, hingga penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Tak hanya fokus pada pengurangan limbah dan emisi, kegiatan ini juga mengenalkan konsep restorasi ekologi secara menyeluruh. Para siswa diberikan pemahaman bahwa pemulihan lingkungan tidak cukup hanya melalui penanaman pohon, tetapi juga harus mencakup upaya mengembalikan fungsi ekosistem agar keseimbangan alam tetap terjaga. Kolaborasi antara dan ini menjadi upaya bersama dalam membangun kesadaran lingkungan sejak di bangku sekolah. Melalui edukasi tersebut, generasi muda diharapkan mampu menerapkan gaya hidup hijau dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga kelestarian bumi di masa depan.(Wio)

Rahasia Mental Baja Generasi Z, UMM Bongkar Pentingnya Sikap Asertif dan Social Support

Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi stroberi. Layaknya buah stroberi yang tampak segar dan memikat di luar, mereka dianggap sangat rentan memar dan hancur ketika mendapat sedikit saja tekanan. Stigma ini seolah menjadi bayang-bayang kelam yang terus mengikuti anak muda di tengah kerasnya arus tuntutan zaman. Menyadari fenomena krisis tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menolak untuk diam. Kampus inovasi ini berupaya menulis ulang narasi itu dengan tekad mencetak mahasiswa yang tangguh secara mental. Pada Jumat (8/5/2026), Fakultas Psikologi UMM secara khusus menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4. Menghadirkan pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Dr. Nasrudin Subhi, forum ini membedah anatomi ketahanan jiwa di era digital. Dalam paparannya, ia menbedah realitas bahwa ancaman bagi mahasiswa saat ini telah bermutasi secara drastis. “Ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas makalah atau ujian akhir yang menegangkan. Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya. Lebih jauh, ia menyoroti akar masalah yang kerap bermula dari pola asuh keluarga modern yang terlalu memanjakan anak. Akibatnya, saat remaja masuk ke dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian ekstrem, benturan realitas atau culture shock tidak dapat dielakkan. Jika krisis transisi ini dibiarkan tanpa kendali, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari memicu depresi hingga tindakan agresi. Untuk memutus rantai kerentanan itu, pria itu menawarkan penawar berupa resiliensi mental. Langkah esensial pertama adalah berani membangun sikap asertif di lingkungan pertemanan kampus. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Selain regulasi emosi yang proporsional, pertahanan diri ini wajib ditopang oleh jejaring dukungan sosial (social support). “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pesannya. Langkah strategis menghadirkan akademisi mancanegara ini merupakan wujud nyata visi besar kampus. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, S.Psi., M.A., menuturkan kolaborasi dengan kampus dari negeri jiran tersebut dirancang agar mahasiswa siap menghadapi realitas zaman. “Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang luar biasa kompleks. Oleh sebab itu, mereka perlu dibekali cara mengenali faktor risiko sekaligus membangun resiliensi agar dapat berkembang secara adaptif,” urainya. Pada akhirnya, UMM membuktikan komitmennya melalui langkah preventif ini. “Melalui forum kolaborasi ini, kami tidak hanya mentransfer pengetahuan teoritis semata, melainkan juga membekali mereka dengan jejaring wawasan global,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dinobatkan BRIN Sebagai Kampus Paling Porgresif, UMM Mantap Melangkah Jadi Innovation University

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Dalam Kuliah Tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (09/05/2026), ia menyebut Kampus Putih sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak’, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” tegas Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM. Menurutnya, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced lab. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Lebih jauh, Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Merespons hal tersebut, ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama . Ia bahkan secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa Kampus Putih memang tengah mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. “Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan matching dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh karena sangat didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin. Ia juga menekankan, jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2% saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” pungkasnya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN ini diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

​Pakar UMM Ingatkan Masyarakat, Pilih Hewan Kurban Jangan Hanya Terkecoh Ukuran

Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. ​Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. ​Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. ​“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya 7 Mei lalu pada Tim Humas UMM. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. ​Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. ​Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. ​Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. ​Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. ​Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. ​Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. ​Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. ​Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmaad Wafir Rahman