UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes Khusus Konten Kreator

Kabar gembira sekaligus angin segar bagi para kreator muda yang ingin mengasah intelektualitas tanpa harus meninggalkan hobi kreatifnya. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur khusus influencer dan konten kreator mulai 1 April hingga 25 Juni 2026 mendatang. Lewat gebrakan ini, puluhan ribu followers dan portofolio digital di dunia maya kini menjadi ‘paspor’ sakti untuk masuk Kampus Putih tanpa perlu pusing memikirkan ujian tulis. Syarat yang ditawarkan sangat relevan dengan keseharian anak muda masa kini. Para calon pendaftar cukup membuktikan diri dengan kepemilikan minimal 5.000 subscriber di platform YouTube, atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun, tingginya angka pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. UMM tetap memasang filter ketat: konten yang diproduksi wajib bersifat kreatif, edukatif, dan menularkan energi positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak sedang memburu popularitas semata, melainkan mencari substansi dan rekam jejak digital yang baik. Menanggapi terobosan ini, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa langkah ini adalah bentuk nyata adaptasi kampus terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, institusi pendidikan tidak boleh tutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru dari rahim teknologi. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan fondasi akademik yang matang dan berintegritas,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini adalah investasi strategis untuk mencetak lulusan yang cakap digital sekaligus beretika. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Dengan hadirnya jalur influencer ini diharapkan tidak hanya menjaring bibit-bibit unggul di ranah digital, tetapi juga mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang proaktif membaca zaman. Kini, saatnya mengubah karya kreatif di dunia maya menjadi tiket menuju masa depan yang cerah.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Dipercaya UNESCO Kawal kelestarian Air Dunia
Kupilih Jalur Langit Kuras Emosi Penonton
Mahasiswa UMM Taklukkan Lab Rahasia di Taiwan
UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Ekosistem Air Berkelanjutan

(Sumber Humas UMM). BATUAH NEWS.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Status kemitraan global ini menjadikan UMM sebagai salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya UNESCO untuk mengawal isu kelestarian air dan ekosistem secara internasional. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa penetapan ini merupakan hasil dari rekam jejak panjang riset serta pengabdian masyarakat yang konsisten. Menurutnya, visi kampus untuk berkontribusi di level global menjadi pendorong utama lahirnya kemitraan strategis dengan organisasi PBB tersebut. Sebagai mitra resmi, UMM menjalankan tiga mandat besar, salah satunya adalah pemulihan sistem irigasi Subak di Tabanan, Bali, yang terancam degradasi lahan. Melalui inovasi green farming dan smart farming, kampus berupaya mengembalikan kesehatan tanah yang mengeras akibat penggunaan pestisida kimia berlebih sekaligus mencegah alih fungsi lahan menjadi kawasan vila. “Kami memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kami otomatis menyelamatkan daerah resapan air,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM. Selain di Bali, UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan titik sumber air baru dan membangun sistem ketahanan pangan guna menekan angka stunting. Proyek di wilayah Indonesia Timur ini juga mencakup persiapan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi warga setempat. Di sektor energi terbarukan, UMM memanfaatkan aliran Sungai Brantas melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling. Inovasi ini telah dikembangkan lebih luas untuk mendukung sektor ekowisata di wilayah Malang, seperti Sumber Maron dan Boonpring Turen. Status UNESCO Chair ini dipandang sebagai amanah untuk terus melakukan kolaborasi riset dan aksi lapangan demi keberlanjutan lingkungan. Langkah ini sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah untuk menjaga ketersediaan sumber daya alam bagi generasi mendatang dalam jangka panjang.
UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

Rektor UMM Resmikan Program Air Bersih Berbasis Masyarakat di Desa Tliu, NTT. (Foto: Istimewa) MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen “Kampus Berdampak” ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Kegiatan Pengembangan dan Pemeliharaan Subak Bali oleh UMM. (Foto: Istimewa) Pertama, merespon krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro milik UMM. (Foto: Istimewa) Langkah strategis kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). PLTMH UMM di Sumber Maroon. (Foto: Istimewa) Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Satu Keluarga Jadi Pelaku Curanmor di Malang dan Hilangnya Kontrol Moral

KOMPAS.ID – Seorang ayah, anak, dan menantu di Kabupaten Malang, Jawa Timur, diduga terlibat dalam jaringan pencurian kendaraan bermotor atau curanmor. Ketiganya diringkus aparat Kepolisian Resor Malang dalam waktu kurang dari satu pekan. Tiga pelaku dalam satu keluarga itu adalah seorang laki-laki berinisial M (67), warga Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum, anak laki-laki M yang berinisial AK (38) dan menantu perempuan M berinisial DR (38) yang tinggal di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari. DR digelandang lebih dulu pada Minggu (5/4/2026) setelah diamankan warga karena kedapatan berusaha mengambil sepeda motor di area persawahan Dusun Krajan, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari.
UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen “Kampus Berdampak” ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Langkah strategis kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkasnya. (diko)
Bangun 4 PLTMH di Malang, UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

Salah satu PLTMH dari Universitas Muhammadiyah Malang yang berada di Sumber Maroon, menjadi salah satu alasan ditunjuk sebagai mitra UNESCO./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di wilayah di Malang. Pembangunan PLTMH ini sebagai salah satu bukti komitmen UMM sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Keberadaan PLTMH ini juga menjadi bagian dari alasan Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen ‘Kampus Berdampak’ ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” ungkap Salis. Kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. PLTMH di kampus UMM menjadi bukti institusi pendidikan ikut andil membangun ekosistem energi terbarukan. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Keberadaan fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” tegasnya. ***
Incaran Calon Mahasiswa Baru, Intip 4 Kampus di Malang dengan Prodi Manajemen Akreditasi “Unggul”

INCARAN MABA: Manajemen merupakan salah satu prodi dengan persaingan yang tinggi. (Pinterest) MALANG, RADAR MALANG – Suasana “musim maba” kini mulai menyelimuti Kota Malang. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah mulai mencari informasi pendidikan dan platform pendaftaran kampus. Di antara ratusan pilihan program studi, jurusan Manajemen tetap konsisten menduduki takhta sebagai prodi dengan jumlah peminat terbanyak dan keketatan yang tinggi. Kota Malang beruntung memiliki empat kampus yang telah memastikan prodi Manajemen mereka berada di level “Unggul”, yakni Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), UIN Maulana Malik Ibrahim, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Universitas Brawijaya (UB) Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB adalah salah satu yang paling sulit ditembus di Jawa Timur. Prestasi mahasiswanya di ajang Business Plan tingkat nasional dan internasional tak perlu diragukan lagi. Jejaring alumni yang menjamur di berbagai sektor perusahaan bisa menjadi salah satu peluang bagi lulusannya untuk langsung terserap di dunia kerja. Universitas Negeri Malang (UM) Berada di bawah naungan FEB UM, prodi Manajemen di kampus ini menawarkan pembelajaran berkualitas dan berbagai fasilitas unggulan. Salah satunya adalah Laboratorium Manajemen Terpadu. Prestasi mahasiswa UM seringkali menonjol dalam ajang kreativitas dan riset manajemen tingkat nasional. UIN Maulana Malik Ibrahim UIN Maliki Malang menawarkan warna berbeda bagi mereka yang ingin mendalami manajemen dibarengi dengan fondasi etika dan nilai-nilai Islam yang kuat. Berbagai prestasi juga sering ditorehkan oleh mahasiswanya, baik nasional maupun internasional. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sebagai perwakilan perguruan tinggi swasta terbaik, Manajemen UMM membuktikan kualitasnya melalui kurikulum yang sangat adaptif terhadap kebutuhan industri terkini. UMM memiliki terobosan program Center of Excellence (CoE), sebagai kampus swasta unggul selama bertahun-tahun menjamin fasilitas laboratorium manajemen dan jaringan kemitraan dengan dunia usaha (DUDI) yang sangat luas. Hadirnya empat kampus dengan prodi Manajemen terakreditasi Unggul ini makin mengukuhkan posisi Malang sebagai “Kota Pendidikan” yang inklusif. Calon mahasiswa kini tinggal menyesuaikan fokus minat mereka. Yang pasti, lulusan manajemen dari keempat kampus ini telah disiapkan untuk menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan.