Tak Sekadar Pulihkan Cedera, Alumnus UMM Ini Bawa Standar Baru Fisioterapi Atlet Indonesia

Dunia fisioterapi olahraga Indonesia kembali memunculkan nama yang patut diperhitungkan. Fauzan Algifari, alumnus Sarjana dan Profesi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, resmi bergabung sebagai fisioterapis Dewa United Basketbal. Langkah ini bukan sekadar perpindahan peran, melainkan sinyal kuat hadirnya generasi baru fisioterapis olahraga dengan jam terbang elite. Sosok yang akrab disapa Algi ini telah lebih dulu mengasah kapasitasnya di level tertinggi. Pada 2023, ia dipercaya menangani Tim Nasional Bola Voli Indonesia, sebuah posisi krusial yang menuntut ketepatan klinis di tengah tekanan kompetisi. Setahun berselang, ia kembali dipercaya memperkuat Pelatnas Voli Indonesia U-20, mendampingi talenta muda menghadapi atmosfer pertandingan global yang sarat tuntutan fisik dan mental. Rekam jejaknya kian solid ketika pada 2025 ia terlibat langsung dalam pengawalan Timnas Voli Indonesia U-21 di ajang internasional yang digelar Fédération Internationale de Volleyball. Pada level ini, fisioterapi bukan lagi sekadar pemulihan cedera, melainkan sistem presisi yang menggabungkan diagnosis cepat, manajemen beban latihan, hingga pendekatan berbasis evidence yang menentukan keberlangsungan performa atlet. Di tengah perjalanan karier yang terus menanjak, Algi tak menampik peran besar kampus dalam membentuk fondasi profesionalnya. Ia menilai pengalaman akademik dan praktik klinis yang didapat selama kuliah menjadi bekal penting saat harus bekerja di lingkungan olahraga profesional yang serba cepat dan menuntut ketepatan tinggi. “Banyak hal yang saya terapkan sekarang justru berasal dari kebiasaan yang dibentuk saat kuliah di UMM, mulai dari disiplin dalam pencatatan medis, cara berpikir berbasis evidence, sampai keberanian mengambil keputusan klinis di lapangan. Kampus tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga membentuk cara saya bekerja dan bersikap sebagai tenaga kesehatan,” ungkapnya. Kini, kehadiran Algi di Dewa United menjadi langkah strategis di tengah ketatnya persaingan Indonesian Basketball League 2026. Ia tidak hanya datang membawa pengalaman, tetapi juga visi membangun sistem pencegahan cedera yang lebih progresif, integrasi sport rehabilitation dengan sport performance, serta optimalisasi data medis sebagai fondasi keputusan tim. Sebagai klub multikategori yang berdiri sejak 2020, Dewa United terus memperkuat setiap lini. Di balik capaian prestasi, termasuk gelar juara IBL 2025, ada kesadaran bahwa kekuatan tim tidak hanya dibangun dari taktik dan pemain, tetapi juga dari sistem pendukung seperti fisioterapi yang presisi dan berkelanjutan. Dengan pendekatan modern, terukur, dan berbasis teknologi, Algi optimistis mampu memberi dampak nyata. “Target saya sederhana tapi krusial: menjaga performa tetap stabil sepanjang musim dan membantu atlet mencapai potensi maksimalnya,” tambahnya. Kehadiran Algi menegaskan satu hal bahwa fisioterapi olahraga di Indonesia tengah bergerak ke arah yang lebih maju. Perannya kini bukan lagi sekadar penyembuh cedera, melainkan bagian vital dari strategi kompetisi menentukan kesiapan fisik, menjaga durabilitas, hingga memperpanjang usia performa atlet di tengah kerasnya tuntutan olahraga profesional.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mahasiswa UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Sabun dengan Mesin Inovatif

Kepedulian terhadap persoalan lingkungan kembali diwujudkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui inovasi teknologi tepat guna. Minyak jelantah yang kerap terabaikan kini dapat diolah menjadi sabun berkat Re-Oil to Soap Refiner Machine. Prototipe ini lahir dari proses pembelajaran di mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) Teknik Industri. Inovasi tersebut digagas oleh Aulia Chandra Subrolarang, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama tim yang terdiri dari 10 orang. Berangkat dari banyaknya minyak jelantah yang dibuang tanpa pengolahan, mereka melihat peluang untuk menghadirkan solusi sederhana namun berdampak. “Banyak minyak jelantah yang belum bisa diolah dan akhirnya dibuang. Dari situ kami ingin membuat prototipe agar minyak tersebut bisa dimanfaatkan kembali,” jelas Chaca sapaan akrabnya. Mesin ini dirancang untuk skala rumah tangga dan UMKM. Prosesnya dimulai dari tahap filtrasi untuk memisahkan kotoran padat. Selanjutnya minyak dipanaskan agar lebih encer dan mudah dicampur dengan bahan pendukung. Setelah itu dilakukan proses mixing otomatis hingga menghasilkan adonan sabun yang siap dicetak dan didinginkan. Menurut Chaca, keunggulan utama alat ini terletak pada sistem yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Proses otomatis membantu mengurangi beban kerja manual serta mempercepat produksi. Selain itu, konsepnya sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular karena mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. “Keunggulannya ada pada proses yang lebih efisien dan mendukung konsep sustainability serta circular economy,” ujarnya. Selama proses pengembangan, tim menghadapi tantangan pada tahap uji coba. Mereka harus melakukan beberapa kali percobaan untuk memastikan sabun benar-benar terbentuk dengan baik. Diskusi intensif bersama dosen pembimbing juga menjadi bagian penting dalam penyempurnaan desain dan sistem kerja mesin. Meski masih berupa prototipe dengan kapasitas 1,5 liter, Chaca optimis alat ini dapat dikembangkan lebih lanjut. Ia berharap kapasitas produksi dapat ditingkatkan hingga 5 liter serta sistem mixing dibuat lebih cepat agar semakin efisien. Dari sisi sosial, inovasi ini berpotensi membantu masyarakat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah. Dari sisi ekonomi juga, produk sabun yang dihasilkan dapat menjadi peluang usaha baru bagi UMKM setelah melalui pengujian lanjutan. Bagi Chaca, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang kolaborasi dan keberanian menuangkan ide. “Jangan takut menyampaikan ide, karena siapa tahu ide tersebut bisa menjadi solusi yang bermanfaat,” pesannya. Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai bahwa inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan rekayasa produk dengan isu keberlanjutan. Menurutnya, melalui mata kuliah P3, mahasiswa dilatih untuk peka terhadap masalah nyata serta mampu merancang solusi berbasis teknologi proses. “Ke depan, sistem ini berpotensi dikembangkan menjadi mesin daur ulang pintar dengan fitur monitoring produksi, kontrol kualitas otomatis, serta analisis efisiensi energi dan biaya operasional,” jelasnya. Melalui pembelajaran berbasis proyek seperti P3, UMM kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus inovatif dan mandiri yang mendorong lahirnya karya aplikatif dari ruang kelas. Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa dari ruang kelas UMM, lahir gagasan yang mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan.(ali/ faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Rayakan Lebaran dengan Langkah Baru, UMM Buka Pendaftaran Gratis Sebagai Kado Lebaran

Momentum Idul Fitri tahun ini membawa kabar gembira bagi para calon mahasiswa. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan kado spesial berupa pembebasan biaya pendaftaran bagi pendaftar baru. Program ini berlaku mulai 18 hingga 25 Maret 2026, menjadi peluang emas bagi generasi muda untuk melangkah ke dunia perkuliahan tanpa terbebani biaya awal. Di tengah suasana Lebaran yang identik dengan kebersamaan dan meningkatnya kebutuhan, kebijakan ini hadir sebagai bentuk kepedulian nyata kampus kepada masyarakat. Calon mahasiswa cukup memanfaatkan periode tersebut untuk mendaftarkan diri dan berkesempatan menjadi bagian dari Generasi 2026 UMM. Program ini berlaku khusus untuk program studi non-Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes). Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa kebijakan ini menjadi bagian dari nilai pengabdian kampus, khususnya dalam menghormati bulan Ramadan dan momentum Idul Fitri. “UMM itu selalu punya kepedulian dalam rangka menghormati bulan Ramadan ini. Ini juga bagian dari pengabdian kami,” ujarnya. Ia menjelaskan, keputusan untuk menggratiskan biaya pendaftaran juga mempertimbangkan kondisi masyarakat yang cenderung memiliki banyak pengeluaran saat Lebaran. Oleh karena itu, UMM berupaya memberikan kemudahan agar kesempatan melanjutkan pendidikan tetap terbuka luas. “Kami ingin memberi kemudahan bagi masyarakat. Di sela-sela kesibukan merayakan Idul Fitri, mereka masih punya kesempatan untuk mendaftar ke UMM tanpa terbebani biaya. Apalagi pada momen ini pengeluaran juga cukup banyak,” tambahnya. Lebih lanjut, kebijakan ini diharapkan mampu mendorong minat generasi muda untuk tidak menunda pendidikan tinggi. UMM ingin memastikan bahwa momentum Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga titik awal untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Dengan adanya program ini, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam membuka akses pendidikan seluas-luasnya. “Kado Lebaran” ini bukan sekadar simbol, melainkan peluang nyata bagi calon mahasiswa untuk meraih cita-cita dan menjadi bagian dari kampus yang berorientasi pada kemajuan dan kebermanfaatan.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Beda Awal, Beda Akhir, Fenomena Baru Ramadan yang Disorot Dosen UMM

Bolehkah memulai puasa bersama pemerintah, tetapi merayakan Lebaran bersama Muhammadiyah? Pertanyaan ini kembali mengemuka di tengah masyarakat seiring perbedaan penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah. Fenomena “ibadah campuran” tersebut kian sering ditemui, memunculkan perdebatan sekaligus kebingungan di kalangan umat Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Ahda Bina Afianto, Lc., M.H.I. menilai praktik tersebut mencerminkan adanya kesenjangan pemahaman masyarakat terkait dasar-dasar penentuan kalender Hijriah. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak sekadar soal pilihan praktis, tetapi juga berkaitan dengan konsistensi dan integritas dalam menjalankan ibadah. “Secara integritas keilmuan tentu praktik campuran ini kurang tepat. Biasanya hal ini terjadi karena masyarakat belum memahami duduk perkara teknis dan landasan hukumnya. Namun, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan masyarakat. Justru ini menjadi momentum untuk meningkatkan literasi keagamaan agar umat bisa memahami perbedaan secara lebih utuh,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perbedaan penentuan awal bulan Hijriah antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah hal baru. Muhammadiyah menggunakan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mengedepankan kepastian waktu secara global. Sementara itu, pemerintah Indonesia mengacu pada kriteria lokal berbasis kesepakatan MABIMS yang mengombinasikan metode hisab dan rukyatul hilal. Perbedaan pendekatan tersebut, lanjutnya, menjadi faktor utama yang kerap memunculkan perbedaan dalam penetapan awal Ramadan maupun Syawal. Namun, mencampur dua acuan dalam satu rangkaian ibadah dinilai berisiko, terutama dari sisi keabsahan jumlah hari puasa. “Jika seseorang memulai puasa mengikuti satu otoritas tetapi berlebaran mengikuti otoritas lain, ada kemungkinan jumlah puasanya menjadi tidak sah secara syar’i. Bisa kurang dari 29 hari atau justru lebih dari 30 hari. Karena itu, penting bagi umat untuk memiliki pendirian yang jelas dan konsisten dalam menentukan sikap,” tegasnya. Meski demikian, Ahda menekankan bahwa perbedaan penetapan hari besar Islam tidak perlu dipandang sebagai sumber perpecahan. Ia menyebut perbedaan tersebut berada di ranah metodologis dalam ilmu falak, bukan pada aspek teologis yang mendasar. Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa sikap bijak dalam menyikapi perbedaan menjadi kunci menjaga harmoni di tengah masyarakat. Umat diimbau untuk tidak sekadar ikut arus, melainkan memahami dasar keilmuan dari pilihan yang diambil. Dengan konsistensi dan pemahaman yang baik, perbedaan justru dapat menjadi sarana pendewasaan dalam beragama, bukan sumber kebingungan apalagi perpecahan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Di Balik Tradisi Mudik, UMM Soroti Makna Retret Spiritual dan Kultural Idul Fitri

Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga sebagai momentum penting untuk melakukan retret kultural dan spiritual. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Biyanto, M.Ag dalam khutbah Idul Fitri di Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jumat, 20 Maret 2026. Dalam khutbahnya, Biyanto menekankan bahwa tradisi mudik yang melekat dalam masyarakat Indonesia memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar perjalanan pulang kampung. Ia menyebut mudik sebagai bentuk retret kultural yang memperkuat identitas sosial sekaligus retret spiritual yang mengembalikan manusia pada nilai-nilai fitrah. “Melalui mudik, masyarakat tidak hanya melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk kembali pada akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya. Menurutnya, retret kultural tercermin dalam upaya masyarakat menjaga tradisi silaturahmi, mempererat hubungan keluarga, serta merawat kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi. Tradisi saling mengunjungi, bermaaf-maafan, hingga berkumpul bersama keluarga besar menjadi bagian penting dari proses tersebut. Di sisi lain, retret spiritual hadir melalui refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Momentum Idul Fitri dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan. Biyanto menegaskan bahwa kedua dimensi ini tidak dapat dipisahkan. Retret kultural tanpa spiritualitas akan kehilangan makna, sementara retret spiritual tanpa sentuhan sosial dan budaya akan terasa hampa dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan, seperti empati, kepedulian, dan pengendalian diri, seharusnya terus dijaga setelah Idul Fitri. Dalam konteks ini, mudik menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. “Idul Fitri adalah momentum untuk kembali ke fitrah, bukan hanya secara personal, tetapi juga dalam relasi sosial. Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara dimensi budaya dan spiritual,” tuturnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan momentum Idul Fitri sebagai sarana mempererat kembali hubungan sosial yang mungkin sempat renggang. Ia menegaskan bahwa Idul Fitri harus menjadi titik balik untuk membangun persaudaraan dan kekerabatan sebagai manifestasi ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ia juga menekankan pentingnya kepedulian sosial sebagai buah dari ibadah puasa yang dijalankan secara lebih mendalam. Menurutnya, puasa pada tingkat khawas al-khawas tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menaklukkan hawa nafsu yang berlebihan terhadap urusan dunia. “Dengan demikian, kita menjadikan dunia ini jalan perbaikan, amal ihsan, sebagai wujud kesejatian manusia,” ujarnya. Di akhir pernyataannya, Nazaruddin Malik menyampaikan ucapan Idul Fitri kepada seluruh jamaah sekaligus permohonan maaf atas kekurangan selama penyelenggaraan Ramadan hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri. Dengan demikian, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi menyeluruh menguatkan dimensi kultural dan spiritual sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Inovasi Santri PPI AMF, Keluak Disulap Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan

Inovasi unik datang dari santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Zulva Wahyu Pradana. Ia mengembangkan tinta spidol ramah lingkungan berbahan dasar buah keluak, yang selama ini lebih dikenal sebagai bumbu masakan tradisional. Ide tersebut berangkat dari pengamatan sederhana terhadap potensi keluak yang memiliki pigmen hitam alami. Melalui riset dan serangkaian uji coba, Zulva menemukan bahwa kandungan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar tinta yang aman dan berkelanjutan. “Awalnya saya melihat keluak hanya digunakan untuk memasak, seperti rawon. Dari situ saya berpikir, apakah pigmen hitamnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain, salah satunya tinta,” ujarnya. Berbeda dengan tinta spidol konvensional yang umumnya mengandung bahan kimia, tinta berbahan keluak ini bersifat biodegradable, lebih aman bagi anak-anak, serta tidak menimbulkan dampak berbahaya saat terhirup. Inovasi ini juga dirancang agar tetap fungsional, baik sebagai tinta permanen maupun non-permanen. Dalam proses pengembangannya, Zulva menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menemukan formulasi yang tepat agar tinta dapat digunakan secara optimal. Ia harus melakukan riset mendalam serta uji coba berulang kali hingga mendapatkan hasil yang sesuai. “Prosesnya cukup panjang karena harus mencoba berkali-kali untuk mendapatkan kualitas tinta yang stabil dan aman digunakan. Tapi dari situ saya banyak belajar tentang penelitian dan pengembangan produk,” katanya. Dari sisi biaya, inovasi ini tergolong terjangkau. Zulva menyebutkan bahwa bahan utama berupa keluak mudah ditemukan di pasar dengan harga relatif murah. Sementara itu, kebutuhan biaya lebih banyak dialokasikan pada penggunaan alat laboratorium untuk pengujian. Guru pembina, Yolanda Pradiva, menambahkan bahwa proses pendampingan tidak hanya berfokus pada penyempurnaan produk, tetapi juga pada pembentukan pola pikir inovatif dan keberlanjutan riset. Ia menjelaskan bahwa santri didorong untuk memahami potensi bahan lokal sekaligus mengembangkannya menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. “Kami tidak hanya membimbing dari sisi teknis pembuatan produk, tetapi juga bagaimana ide ini bisa berkembang dan memiliki dampak jangka panjang. Harapannya, inovasi seperti ini tidak berhenti di tahap penelitian, tetapi bisa terus disempurnakan hingga benar-benar siap digunakan di masyarakat,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam proses pengembangan, baik antar santri maupun dengan guru dari berbagai bidang. Menurutnya, pendekatan tersebut membuat inovasi yang dihasilkan menjadi lebih matang, baik dari sisi konsep, fungsi, maupun penyajiannya. Ke depan, Yolanda berharap inovasi tinta berbahan keluak ini dapat terus dikembangkan, termasuk dalam skala produksi dan pengujian lebih lanjut, sehingga berpotensi menjadi alternatif produk ramah lingkungan yang dapat digunakan secara luas. Sebagai penutup, inovasi sederhana berbasis bahan lokal ini menjadi bukti bahwa kreativitas santri mampu menghadirkan solusi berkelanjutan, sekaligus membuka peluang lahirnya produk-produk ramah lingkungan dari lingkungan pesantren.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Mudik Lebih Irit BBM, Dosen UMM Tekankan Pentingnya Eco Driving

Mudik Lebaran tak hanya soal sampai ke kampung halaman, tetapi juga bagaimana perjalanan bisa ditempuh secara efisien. Salah satu cara yang dinilai efektif adalah menerapkan eco driving, yakni gaya berkendara yang mampu menghemat bahan bakar sekaligus menekan emisi kendaraan hingga mendekati 50 persen. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan Ammar Putra, ST., MT. Ia menegaskan bahwa pola berkendara yang tepat sangat berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar, terutama dalam perjalanan jarak jauh seperti mudik. “Eco driving pada dasarnya adalah cara mengoperasikan kendaraan agar kerja mesin dan sistem pembakaran tetap optimal. Dengan menjaga putaran mesin di rentang ideal, konsumsi bahan bakar bisa ditekan dan pembakaran menjadi lebih efisien,” jelasnya. Dalam praktiknya, Fauzan menyebut menjaga kecepatan tetap konstan menjadi kunci utama. Ia menilai lonjakan konsumsi bahan bakar paling besar terjadi saat kendaraan berakselerasi secara agresif. “Konsumsi bahan bakar terbesar terjadi ketika kendaraan berakselerasi. Karena itu, pengemudi sebaiknya menjaga laju tetap stabil dan menghindari perubahan kecepatan yang drastis agar mesin tidak bekerja terlalu berat,” ujarnya. Selain itu, penggunaan transmisi yang tepat juga menentukan efisiensi. Menahan gigi rendah terlalu lama akan membuat putaran mesin tinggi dan boros bahan bakar. Sebaliknya, perpindahan gigi pada waktu yang tepat membantu menjaga keseimbangan antara tenaga dan efisiensi. Fauzan menambahkan bahwa pengelolaan Revolutions Per Minute (RPM) juga perlu diperhatikan. Mesin memiliki rentang putaran ideal untuk menghasilkan pembakaran paling efisien. RPM yang terlalu tinggi akan meningkatkan konsumsi bahan bakar, sementara RPM terlalu rendah membuat mesin bekerja lebih berat. Ia juga menyoroti kebiasaan membuka jendela saat berkendara yang kerap dianggap sepele. Padahal, secara aerodinamika hal tersebut dapat meningkatkan hambatan udara dan berdampak pada konsumsi bahan bakar. “Lebih baik menggunakan AC dengan pengaturan yang bijak, termasuk memanfaatkan mode resirkulasi udara. Saat kaca dibuka, hambatan udara meningkat dan mesin harus bekerja lebih keras, sehingga bahan bakar menjadi lebih boros,” terangnya. Meski penerapan eco driving di lapangan kerap menghadapi berbagai tantangan, Fauzan menilai pengemudi tetap bisa menerapkannya dengan menjaga ritme berkendara yang tenang. “Walaupun kondisi lalu lintas tidak selalu ideal, pengemudi tetap bisa mengontrol gaya berkendara. Hindari menekan pedal gas secara mendadak dan usahakan ritme kendaraan tetap stabil agar efisiensi bahan bakar tetap terjaga,” katanya. Tak hanya berdampak pada efisiensi, eco driving juga berkontribusi pada aspek keselamatan. Gaya berkendara yang halus dan terkontrol membuat pengemudi lebih antisipatif terhadap situasi di jalan serta mengurangi kelelahan selama perjalanan panjang. Terkait beban kendaraan saat mudik, ia mengingatkan agar pengemudi tidak membawa muatan berlebih dan tetap memperhatikan tekanan angin ban sesuai rekomendasi pabrikan. “Beban berlebih akan meningkatkan kerja mesin dan risiko overheat. Jika memungkinkan, sebagian barang bisa dikirim melalui jasa ekspedisi agar kendaraan tidak kelebihan muatan,” ungkapnya. Sebagai penutup, Fauzan menegaskan bahwa eco driving bukan sekadar upaya menghemat bahan bakar, melainkan bagian dari berkendara yang lebih bijak. “Dengan gaya berkendara yang halus, stabil, dan terkontrol, perjalanan mudik bisa menjadi lebih hemat, aman, dan sekaligus ramah lingkungan,” pungkasnya.(rik/ faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Hindari Interaksi pada Bayi, Pakar UMM Ungkap Bahaya Penularan Campak

Momen Lebaran yang identik dengan silaturahmi dan interaksi antar keluarga justru menyimpan potensi bahaya penularan penyakit menular, salah satunya campak. Tingginya mobilitas masyarakat saat mudik serta intensitas pertemuan dalam suasana penuh keakraban dinilai dapat mempercepat penyebaran virus, terutama pada anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan. Meningkatnya mobilitas masyarakat saat momen Lebaran turut memunculkan kewaspadaan baru di bidang kesehatan. Keramaian selama mudik hingga tradisi silaturahmi keluarga dinilai berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit menular, salah satunya campak. Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap infeksi tersebut. Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus dokter spesialis anak, Dr. dr. Pertiwi Febriana Chandrawati, M.Sc., Sp.A, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak. Menurutnya, virus campak merupakan salah satu penyakit infeksi yang sangat mudah menyebar di lingkungan dengan interaksi sosial yang tinggi. Pertiwi menjelaskan bahwa penularan campak dapat terjadi melalui percikan droplet ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Virus tersebut bahkan dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu setelah penderita meninggalkan ruangan. Oleh karena itu, keramaian seperti perjalanan mudik, transportasi umum, hingga pertemuan keluarga besar berpotensi meningkatkan risiko penularan. “Mobilitas masyarakat saat mudik memang dapat meningkatkan potensi penyebaran campak, terutama karena banyak interaksi di ruang tertutup seperti transportasi umum maupun kerumunan keluarga,” jelasnya 17 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini. Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu melawan infeksi virus secara optimal. Kondisi tersebut membuat anak lebih mudah tertular ketika berada di lingkungan yang padat interaksi. Selain faktor imun, kondisi nutrisi juga memengaruhi ketahanan tubuh anak terhadap infeksi. Kekurangan nutrisi tertentu dapat memperburuk kondisi ketika anak terpapar virus campak. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga infeksi pada sistem saraf. Di sisi lain, kebiasaan masyarakat saat Lebaran juga berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit. Banyak orang secara spontan menggendong atau mencium bayi ketika bertemu dalam acara silaturahmi. Menurut Pertiwi, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dibatasi demi melindungi kesehatan anak. “Kebiasaan memeluk, menggendong, atau mencium bayi dapat meningkatkan peluang penularan penyakit yang menyebar melalui droplet,” ujarnya. Apabila seorang anak terpapar virus campak, gejala biasanya tidak langsung muncul. Umumnya terdapat masa inkubasi sekitar 10 hingga 12 hari sebelum tanda penyakit terlihat. Setelah itu, anak dapat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam pada kulit. Pada fase awal tersebut, anak sudah dapat menularkan virus kepada orang lain. Karena itu, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, atau ruam yang mengarah pada campak. Pertiwi menegaskan bahwa langkah pencegahan paling efektif adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal. Imunisasi membantu tubuh membentuk perlindungan yang kuat terhadap virus campak serta menurunkan risiko komplikasi. “Imunisasi campak adalah perlindungan terbaik agar anak memiliki imunitas yang kuat dan terhindar dari komplikasi berat,” tuturnya. Melalui edukasi kesehatan yang terus dilakukan, UMM berharap masyarakat semakin memahami bahwa interaksi selama Lebaran perlu disikapi dengan bijak. Dengan menjaga kebersihan, membatasi kontak langsung dengan anak kecil, serta memastikan imunisasi lengkap, keluarga tetap dapat merayakan Lebaran dengan aman tanpa mengabaikan risiko penularan penyakit. (vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Perbedaan Metode dan Prediksi 1 Syawal antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dan NU

Mengamati hilal dalam menentukan 1 Syawal. (FOTO: Tempo.co) TIMES INDONESIA – MALANG – Penentuan awal Hari Raya Idul Fitri dalam kalender Hijriah tidak hanya didasarkan pada perkiraan tanggal, tetapi melalui perhitungan astronomi dan pengamatan hilal. Proses tersebut menjadi dasar bagi berbagai organisasi Islam dan pemerintah dalam menetapkan awal bulan Syawal. Pakar Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM Malang), M. Syamsu Alam D., S.H., M.Ag.,  menjelaskan bahwa penentuan awal bulan Qomariyah, termasuk Syawal 1447 Hijriah, dilakukan dengan metode yang berbeda di tiap organisasi. Muhammadiyah, misalnya, kini menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang bersifat global. “Dalam KHGT, penentuan awal bulan tidak lagi berbasis wilayah lokal, tetapi melihat terpenuhinya kriteria secara global. Jika di suatu wilayah di dunia hilal sudah memenuhi syarat, maka awal bulan bisa ditetapkan,” jelasnya saat diwawancarai pada Senin (16/3/2026). Berdasarkan perhitungan hisab astronomi versi Muhammadiyah, konjungsi atau ijtimak pada akhir Ramadan 1447 H diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB. Karena pada tanggal 29 Ramadan belum terjadi konjungsi, maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Kontingen LKS Dikmen Kabupaten Malang Diberangkatkan, Usung Target Juara Umum Pengamatan penetapan 1 Syawal versi Muhammadiyah. (FOTO: Tangkapan Layar PPT) Dengan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Sementara itu, menurut Syamsu, bagi pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kriteria MABIMS dalam menentukan awal bulan Hijriah. Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari minimal 6,4 derajat. Dari hasil perhitungan astronomi, tinggi hilal di wilayah timur Indonesia seperti Jayapura pada 19 Maret diperkirakan hanya sekitar 1 derajat dengan elongasi sekitar 4 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria MABIMS. Panduan Lengkap Isi Form Beasiswa 1000 Sarjana Kota Batu, Ini Alurnya Namun di wilayah barat Indonesia, seperti Sabang di Aceh, tinggi hilal diperkirakan mencapai sekitar 3 derajat, meskipun elongasinya masih berada di sekitar 6 derajat. Berdasarkan data tersebut, kemungkinan besar pemerintah dan NU akan menetapkan awal Syawal pada Sabtu, 21 Maret 2026, menunggu hasil sidang isbat. Keduanya sama-sama menggenapkan bulan puasa 30 hari. Selain metode perhitungan, kondisi alam juga menjadi faktor penting dalam pengamatan hilal. Faktor cuaca seperti mendung atau hujan dapat menghambat proses rukyatul hilal. Bangga, 66 Siswa SMAN 1 Harau Lolos SNBP 2026, Dua Tembus Universitas Indonesia “Cuaca menjadi faktor utama dalam pengamatan hilal. Jika langit tertutup awan atau hujan, maka hilal tidak dapat terlihat,” imbuhnya. Selain itu, polusi cahaya dari lampu kota maupun sisa cahaya syafaq juga dapat mengganggu pengamatan. Faktor lain yang memengaruhi adalah ketinggian hilal dari cakrawala. “Itulah mengapa pengamatan dilaksanakan tepat setelah matahari terbenam,” lanjutnya. Semakin rendah posisi hilal, semakin sulit untuk diamati karena kontras cahayanya sangat tipis dan tertutup cahaya syafaq. Oleh karena itu, meskipun perhitungan astronomi dapat memprediksi posisi hilal, pengamatan langsung tetap dilakukan untuk memastikan keberadaannya. “Hisab memberikan panduan posisi hilal, sementara rukyat menjadi pembuktian visual di lapangan. Kedua metode ini saling melengkapi,” pungkasnya. (*) Pewarta: Miranda Lailatul Fitria

Perbedaan Metode dan Prediksi 1 Syawal antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dan NU

TIMES JATIM – MALANG – Penentuan awal Hari Raya Idul Fitri dalam kalender Hijriah tidak hanya didasarkan pada perkiraan tanggal, tetapi melalui perhitungan astronomi dan pengamatan hilal. Proses tersebut menjadi dasar bagi berbagai organisasi Islam dan pemerintah dalam menetapkan awal bulan Syawal. Pakar Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM Malang), M. Syamsu Alam D., S.H., M.Ag.,  menjelaskan bahwa penentuan awal bulan Qomariyah, termasuk Syawal 1447 Hijriah, dilakukan dengan metode yang berbeda di tiap organisasi. Muhammadiyah, misalnya, kini menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang bersifat global. “Dalam KHGT, penentuan awal bulan tidak lagi berbasis wilayah lokal, tetapi melihat terpenuhinya kriteria secara global. Jika di suatu wilayah di dunia hilal sudah memenuhi syarat, maka awal bulan bisa ditetapkan,” jelasnya saat diwawancarai pada Senin (16/3/2026). Berdasarkan perhitungan hisab astronomi versi Muhammadiyah, konjungsi atau ijtimak pada akhir Ramadan 1447 H diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB. Karena pada tanggal 29 Ramadan belum terjadi konjungsi, maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Pengamatan penetapan 1 Syawal versi Muhammadiyah. (FOTO: Tangkapan Layar PPT) Dengan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Napak Tilas Armusna Bekal Mental dan Fisik Jelang Haji Sementara itu, menurut Syamsu, bagi pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kriteria MABIMS dalam menentukan awal bulan Hijriah. Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari minimal 6,4 derajat. Dari hasil perhitungan astronomi, tinggi hilal di wilayah timur Indonesia seperti Jayapura pada 19 Maret diperkirakan hanya sekitar 1 derajat dengan elongasi sekitar 4 derajat, sehingga belum memenuhi kriteria MABIMS. Namun di wilayah barat Indonesia, seperti Sabang di Aceh, tinggi hilal diperkirakan mencapai sekitar 3 derajat, meskipun elongasinya masih berada di sekitar 6 derajat. Berdasarkan data tersebut, kemungkinan besar pemerintah dan NU akan menetapkan awal Syawal pada Sabtu, 21 Maret 2026, menunggu hasil sidang isbat. Keduanya sama-sama menggenapkan bulan puasa 30 hari. Selain metode perhitungan, kondisi alam juga menjadi faktor penting dalam pengamatan hilal. Faktor cuaca seperti mendung atau hujan dapat menghambat proses rukyatul hilal. “Cuaca menjadi faktor utama dalam pengamatan hilal. Jika langit tertutup awan atau hujan, maka hilal tidak dapat terlihat,” imbuhnya. Ahli Waris Ojek Online di Kota Batu Terima Santunan Rp42 Juta Selain itu, polusi cahaya dari lampu kota maupun sisa cahaya syafaq juga dapat mengganggu pengamatan. Faktor lain yang memengaruhi adalah ketinggian hilal dari cakrawala. “Itulah mengapa pengamatan dilaksanakan tepat setelah matahari terbenam,” lanjutnya. Semakin rendah posisi hilal, semakin sulit untuk diamati karena kontras cahayanya sangat tipis dan tertutup cahaya syafaq. Oleh karena itu, meskipun perhitungan astronomi dapat memprediksi posisi hilal, pengamatan langsung tetap dilakukan untuk memastikan keberadaannya. “Hisab memberikan panduan posisi hilal, sementara rukyat menjadi pembuktian visual di lapangan. Kedua metode ini saling melengkapi,” pungkasnya. (*) Pewarta: Miranda Lailatul Fitria — Sumber: TIMES INDONESIA