Fenomena Quiet Ambition ASN, Jabatan Struktural Kini Mulai Dihindari

Pengamat Pemerintahan UMM, Ali Roziqin. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT — Fenomena quiet ambition ASN mulai terasa di sejumlah daerah. Jabatan struktural yang dulu menjadi incaran kini justru cenderung dihindari sebagian aparatur sipil negara. Alih-alih berlomba naik posisi, tidak sedikit ASN memilih bertahan di zona aman. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru dalam tubuh birokrasi, apakah jabatan struktural masih menjadi simbol prestise, atau justru berubah menjadi beban penuh risiko? Isu tersebut mencuat setelah disinggung Wali Kota Batu, Nurochman, dalam apel pagi di Balai Kota Among Tani, Senin (30/3/2026). Ia menyoroti kecenderungan ASN yang tidak lagi agresif mengejar jabatan struktural. Pengamat pemerintahan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ali Roziqin, menilai fenomena itu bukan terjadi secara tiba-tiba. Ada pergeseran cara pandang ASN terhadap jabatan struktural. Hindari Risiko Beban Kerja “Fenomena quiet ambition ASN ini muncul karena banyak ASN, khususnya generasi X dan Y, melihat jabatan struktural sebagai tambahan beban dan risiko pekerjaan,” ujarnya. Menurut Ali, meningkatnya tanggung jawab, tekanan kerja, hingga potensi risiko hukum membuat posisi struktural tidak lagi menarik. Apalagi di tengah sistem birokrasi yang masih menyisakan persoalan. Ia menyebut, sebagian ASN kini lebih memilih pola kerja yang lebih tenang atau slow working. Orientasi karier pun berubah. Jika sebelumnya jabatan tinggi menjadi tujuan utama, kini keseimbangan hidup dan pekerjaan menjadi pertimbangan penting. Baca Juga  Teknik Mesin UMM dan Puspalad Kolaborasi Kembangkan Prototipe Alat Militer “Ketika jabatan struktural identik dengan tekanan tinggi dan pengawasan ketat, banyak ASN memilih jalur fungsional yang dinilai lebih stabil,” tambahnya. Selain faktor beban kerja, Ali juga menyoroti lemahnya perlindungan hukum bagi pejabat struktural. Kondisi ini membuat risiko personal semakin besar. Stigma Tekanan Hukum “Dalam beberapa kasus, bawahan bisa ikut terdampak ketika terjadi persoalan hukum. Ini yang menimbulkan ketakutan di kalangan ASN,” jelasnya. Tidak hanya itu, dinamika politik birokrasi juga dinilai turut memperkuat fenomena ini. Penempatan jabatan yang belum sepenuhnya berbasis kompetensi memunculkan persepsi negatif di kalangan ASN. “Masih ada anggapan bahwa untuk menduduki jabatan tertentu harus dekat dengan lingkaran kekuasaan. Ini membuat kompetensi seolah bukan faktor utama,” tegasnya. Akibatnya, jabatan struktural tidak lagi dipandang sebagai puncak karier, melainkan posisi dengan risiko tinggi dan ketidakpastian. Ali menegaskan, kondisi ini perlu segera dibenahi. Salah satunya melalui penerapan sistem talent management berbasis merit yang transparan, serta penguatan perlindungan hukum bagi ASN. Butuh Transparansi Sistem Kerja Menurutnya, jika sistem karier dapat dibangun lebih adil dan profesional, jabatan struktural bisa kembali diminati. “Kalau sistemnya jelas dan adil, jabatan struktural akan kembali dipandang sebagai ruang pengabdian dan prestasi,” ujarnya. Baca Juga  Untuk Instansi yang Sudah Siap, Menpan-RB Persilakan Angkat CASN Mulai April 2025 Fenomena quiet ambition ASN menjadi sinyal penting bagi reformasi birokrasi. Jika kecenderungan ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak pada regenerasi kepemimpinan di sektor publik. Minimnya minat ASN untuk menduduki posisi strategis berpotensi menghambat kualitas tata kelola pemerintahan ke depan. Karena itu, pembenahan sistem karier yang transparan, berbasis kompetensi, dan memberikan jaminan perlindungan hukum menjadi kunci. Dengan begitu, ambisi ASN tidak padam, tetapi tumbuh sehat untuk mendorong birokrasi yang profesional dan berintegritas.

Dosen UMM Soroti Fenomena Quiet Ambition, ASN Kini Pilih Stabilitas

PWMU – Fenomena “quiet ambition” di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai menjadi perhatian. Jabatan struktural yang sebelumnya dianggap sebagai puncak karier kini justru cenderung dihindari oleh sebagian pegawai. Isu ini mengemuka setelah Wali Kota Batu menyinggungnya dalam apel pagi di Balai Kota Among Tani pada Senin (30/3/2026). Menanggapi hal tersebut, Kepala Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ali Roziqin, menilai bahwa fenomena tersebut dipengaruhi oleh perubahan cara pandang ASN terhadap jabatan struktural yang kini dianggap lebih berisiko dibandingkan prestisius. Menurutnya, ASN dari generasi X dan Y cenderung menghindari jabatan strategis karena meningkatnya beban tanggung jawab serta risiko pekerjaan. Ia menjelaskan bahwa munculnya fenomena tersebut berkaitan dengan kekhawatiran terhadap sistem birokrasi yang dinilai belum sepenuhnya sehat, serta kecenderungan sebagian ASN yang lebih memilih pola kerja yang stabil. Selain itu, perubahan orientasi kerja juga memengaruhi pilihan karier ASN. Generasi saat ini dinilai lebih mengutamakan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan dibandingkan ambisi jabatan. Ketika jabatan struktural identik dengan tekanan tinggi, pengawasan ketat, serta potensi konsekuensi hukum, banyak ASN memilih jalur karier fungsional yang dianggap lebih aman dan minim konflik. Ali juga menyoroti aspek perlindungan hukum bagi pejabat struktural yang dinilai masih lemah, serta dinamika politik birokrasi yang belum sepenuhnya sehat. Ia menyebut bahwa dalam beberapa kasus, pejabat yang memiliki kekuatan politik cenderung mengorbankan bawahan ketika terjadi pelanggaran, sehingga menimbulkan rasa khawatir di kalangan ASN. Selain itu, ia mengkritisi sistem penempatan jabatan yang dinilai belum sepenuhnya berbasis kompetensi. Praktik penunjukan yang masih dipengaruhi kedekatan tertentu dinilai menimbulkan persepsi bahwa kompetensi bukan menjadi faktor utama dalam promosi jabatan. Menurutnya, solusi dari fenomena ini adalah penerapan sistem manajemen talenta yang transparan, berbasis merit, serta penguatan kompetensi ASN sejak awal. Dengan sistem yang adil serta adanya perlindungan hukum yang jelas, jabatan struktural diharapkan kembali dipandang sebagai ruang pengabdian sekaligus prestasi. Fenomena “quiet ambition” dinilai menjadi sinyal penting bagi upaya reformasi birokrasi. Jika jabatan struktural terus dipersepsikan sebagai beban penuh risiko, maka minat ASN untuk mengambil peran kepemimpinan akan semakin menurun. Kondisi tersebut berpotensi menghambat regenerasi serta kualitas tata kelola pemerintahan. Oleh karena itu, pembenahan sistem karier yang transparan, adil, dan akuntabel menjadi kunci untuk mendorong birokrasi yang profesional dan berintegritas. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Dosen UMM Tanggapi Fenomena Quiet Ambition, ASN Pilih Stabilitas daripada Ambisi Jabatan

Dosen UMM Soroti Fenomena “Quiet Ambition”, ASN Kini Pilih Stabilitas daripada Ambisi Jabatan MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fenomena quiet ambition di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai menjadi perhatian. Jabatan struktural yang dulu dianggap sebagai puncak karier kini justru mulai dihindari sebagian pegawai. Alih-alih berlomba mengejar posisi strategis, banyak ASN memilih bertahan di zona aman dengan prioritas stabilitas kerja dan keseimbangan hidup. Fenomena ini mencuat setelah Wali Kota Batu menyinggung kondisi tersebut dalam apel pagi di Balai Kota Among Tani, Senin (30/3/2026). Menanggapi hal tersebut, Kaprodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang, Ali Roziqin, M.PA., menilai bahwa fenomena quiet ambition tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menyebut adanya pergeseran cara pandang ASN terhadap jabatan struktural yang kini dinilai lebih berisiko dibandingkan prestisius. Menurutnya, ASN generasi X dan Y cenderung menghindari jabatan strategis karena meningkatnya beban tanggung jawab serta risiko pekerjaan. “Munculnya fenomena ini tidak lain karena kondisi mentalitas ASN generasi X dan Y yang menganggap jabatan struktural akan menambah tanggung jawab dan risiko pekerjaan. Ada ketakutan terhadap sistem yang patologis, terutama bagi mereka yang lebih menginginkan pola kerja slow working,” ujarnya, Selasa (31/3/2026). Ia menambahkan, perubahan orientasi kerja generasi saat ini turut memengaruhi pilihan karier ASN. Banyak pegawai kini lebih menekankan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Ketika jabatan struktural identik dengan tekanan tinggi, pengawasan ketat, serta potensi konsekuensi hukum, maka jalur karier fungsional menjadi pilihan yang dinilai lebih stabil dan minim konflik. Selain itu, Ali juga menyoroti lemahnya perlindungan hukum bagi pejabat struktural serta dinamika politik birokrasi yang dinilai belum sepenuhnya sehat. Menurutnya, kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan ASN untuk mengambil jabatan strategis. “Jika pejabat kuat secara politik, cenderung akan mengorbankan bawahannya ketika ada kasus pelanggaran hukum. Ini yang semakin ditakuti oleh para ASN saat ini,” imbuhnya. Tak hanya itu, ia juga mengkritisi sistem penempatan jabatan yang dinilai belum sepenuhnya berbasis kompetensi. Praktik penunjukan pejabat yang masih dipengaruhi kedekatan atau “lingkaran tertentu” dinilai memunculkan persepsi bahwa kompetensi bukan faktor utama dalam promosi jabatan. “Kalau mau dipilih sebagai pejabat ya harus ikut berpolitik meskipun ASN tidak boleh berpolitik, tapi faktanya demikian,” terangnya. Ali menegaskan bahwa solusi dari fenomena ini adalah penerapan talent management yang transparan, berbasis merit, serta penguatan kompetensi ASN sejak awal. Dengan sistem yang adil dan perlindungan hukum yang jelas, jabatan struktural diharapkan kembali dipandang sebagai ruang pengabdian sekaligus prestasi, bukan sekadar posisi penuh risiko. Menurutnya, fenomena quiet ambition menjadi sinyal penting bagi reformasi birokrasi. Jika jabatan struktural terus dipersepsikan sebagai beban penuh risiko, maka akan semakin sedikit ASN yang bersedia mengambil peran kepemimpinan. Kondisi ini berpotensi menghambat regenerasi dan kualitas tata kelola pemerintahan. Karena itu, pembenahan sistem karier yang transparan, adil, serta memberikan perlindungan hukum dinilai menjadi kunci agar jabatan struktural kembali menarik dan bermakna sebagai ruang pengabdian. Dengan demikian, ambisi ASN tidak lagi redup, melainkan tumbuh sehat untuk mendorong birokrasi yang profesional dan berintegritas. (ANS)

Kisah Qodri Tembus Erasmus: Dukungan UMM Antar Mahasiswa Kuliah Gratis ke Polandia

Kisah Qodri Tembus Erasmus pwmu.co –Dukungan penuh kampus membuka jalan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menembus panggung global. Melalui pendampingan, fasilitasi sertifikasi bahasa, hingga konversi mata kuliah, M. Qodri Alwahid berhasil lolos program pertukaran internasional Erasmus dan menjalani studi di Polandia. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam memperkuat internasionalisasi mahasiswa. Program tersebut berlangsung selama lima bulan, mulai 15 Februari hingga 17 Juli 2026. Keikutsertaan Qodri merupakan bagian dari kerja sama strategis UMM melalui International Relations Office (IRO). Ia mengungkapkan bahwa program Erasmus memberikan dukungan penuh, mulai dari uang saku hingga biaya transportasi, sehingga peserta dapat fokus pada penguatan akademik dan pertukaran budaya. “Erasmus ini peluang besar karena kerja samanya antar-kampus sudah jelas. Kami sudah di-provide semua, jadi bisa fokus belajar dan bertukar budaya tanpa harus memikirkan biaya lagi,” ujarnya. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari rekam jejak organisasinya. Selama kuliah di UMM, Qodri aktif di Putra Putri Kampus dan AIESEC, serta terlibat dalam proyek Incoming Global Volunteer yang mengelola relawan internasional di Indonesia. Pengalaman ini membentuk kemampuan komunikasi lintas budaya sekaligus memperkuat kecakapan bahasa Inggrisnya. Proses seleksi yang ia jalani tergolong kompetitif, mulai dari pemberkasan hingga wawancara. Saat itu, Qodri bahkan tengah menjalani magang di Jakarta. Namun, dukungan program studi dan IRO membantu memfasilitasi kebutuhan administrasi sesuai standar Eropa, seperti penyusunan CV Europass dan esai berbahasa Inggris. Untuk syarat bahasa, ia memanfaatkan sertifikasi TAEP (Test of Academic English Proficiency) milik UMM. Pendampingan juga dilakukan dalam proses konversi mata kuliah agar tetap selaras dengan kurikulum UMM. Sistem konversi dilakukan per mata kuliah sehingga capaian pembelajaran di kampus tujuan tetap relevan dengan standar akademik di kampus asal. Selama mengikuti perkuliahan di Polandia, Qodri merasakan perbedaan metode pembelajaran yang signifikan. Kelas dibagi menjadi sesi teori dan exercise dengan jumlah mahasiswa terbatas. Mahasiswa dituntut aktif menyampaikan pendapat serta mengaitkan materi dengan kondisi negara asal. “Di kelas internasional, kami ditanya satu per satu tentang pendapat kami. Dosen sering bertanya, misalnya apa produk unggulan yang bisa dijual dari Indonesia. Hal ini membuat kami terlibat langsung dan tidak hanya mendengarkan ceramah,” jelasnya. Pengalaman akademik tersebut semakin berkesan karena dijalani bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia merasakan suasana puasa di musim dingin dengan durasi relatif singkat, di mana waktu imsak dan berbuka hampir bersamaan sekitar pukul lima. Tantangan mencari makanan halal disiasatinya dengan memasak bersama rekan asrama dari Turki dan Kirgistan. Selain itu, hidup di negara dengan penggunaan bahasa Inggris yang terbatas melatih kemandirian dan kesiapan mentalnya untuk keluar dari zona nyaman. Ia juga aktif membangun relasi melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan komunitas Erasmus Student Network (ESN). “Jangan takut mencoba meski merasa kemampuan bahasa masih terbatas. Percayalah, pikiran kitalah yang sering membatasi. Kita harus berani mencoba untuk benar-benar tahu rasanya melangkah di dunia luar,” pesannya. Keberhasilan Qodri menegaskan bahwa sistem akademik UMM yang adaptif dan didukung pendampingan intensif mampu mendorong mahasiswa menembus panggung global sekaligus memperkuat jejak internasional kampus. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Halal Bi Halal UMM, Dari Spirit Ramadan ke Penguatan Ukhuwah, Ada juga Doorprize Umrah hingga Tabungan Haji

Halal bi halal bukan sekadar tradisi tahunan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum ini dimanfaatkan sebagai ruang refleksi pasca-Ramadan sekaligus penguat solidaritas akademik. Ratusan dosen dan karyawan, termasuk unit bisnis UMM, memadati kegiatan bertajuk “Idul Fitri Menguatkan Akidah dan Merajut Ukhuwah” yang digelar pada 30 Maret 2026. Selain silaturahmi, acara ini juga diramaikan dengan pembagian doorprize menarik, mulai dari paket umrah hingga belasan tabungan haji bagi dosen dan karyawan terpilih. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang juga Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menegaskan bahwa puasa harus dipahami sebagai instrumen untuk mengembalikan jati diri manusia. Menurutnya, manusia tidak hanya dilihat dari sisi fisik, tetapi juga dimensi spiritual yang diperkuat melalui ibadah Ramadan. “Puasa secara terminologi berarti menahan. Melalui proses menahan itu, manusia diajak kembali pada hakikat dirinya,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Ramadan menjadi momentum memperbaiki citra kemanusiaan melalui amal kebajikan. Setelah Ramadan, hadir bulan Syawal yang secara terminologis berarti terangkat. Artinya, mereka yang berhasil menjalani ibadah Ramadan dengan baik akan mengalami peningkatan derajat. Namun, tantangan terbesar justru hadir setelah Ramadan berakhir. “Yang paling sulit bukan saat Ramadan, tetapi bagaimana mempertahankan kualitas ibadah setelahnya. Ramadan tidak boleh berhenti pada ritual, melainkan harus naik ke dimensi spiritual,” tambahnya. Sementara itu Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya mengutip Surat An-Nahl ayat 126 yang menekankan pentingnya membalas dengan kebaikan dan kesabaran. Ia menafsirkan bahwa puasa diharapkan melahirkan kemampuan mengendalikan diri sekaligus memaafkan sesama. “Dengan memaafkan, lahir kekuatan. Pasca-Ramadan, kekuatan itu menjadi modal untuk membangun hubungan sosial dan profesional yang sehat,” jelasnya. Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri tercermin dari ibadah seperti i’tikaf, sementara kebiasaan memaafkan mampu meningkatkan sensitivitas terhadap lingkungan. Sikap tersebut juga membantu mempercepat pengambilan keputusan yang lebih bijak dalam kehidupan kerja. “Dari budaya memaafkan, kita belajar memahami orang lain dan menjadi lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa UMM berkomitmen terus meningkatkan talenta serta melakukan transformasi menuju kampus yang berkelanjutan dan relevan dengan perkembangan zaman. Halal bi halal ini, lanjutnya, bukan hanya seremoni, tetapi juga penguat ekosistem kemanusiaan yang mendorong sivitas akademika lebih peduli, produktif, dan berdaya saing. Halal bi halal ini menegaskan bahwa semangat Idul Fitri tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi energi memperkuat solidaritas, meningkatkan profesionalisme, dan menumbuhkan kepekaan sosial sivitas akademika. Dari tradisi saling memaafkan, UMM meneguhkan komitmen untuk terus bertransformasi sebagai kampus yang adaptif, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir rahman

Tak Ada Mudik, Tak Ada Libur Panjang, Begini Kisah Lebaran Sunyi Dosen UMM di Tengah Minoritas Muslim

Di tengah gemerlap Lebaran di Indonesia, salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru merayakan Idulfitri dalam suasana yang jauh lebih sunyi tanpa libur panjang, tanpa mudik, dan tanpa keramaian khas kampung halaman. Namun dari kesederhanaan itu, lahir pengalaman bermakna tentang menjadi Muslim minoritas di negeri multikultural. Hasnan Bachtiar, MIMWAdv, dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM, saat ini tengah menempuh studi doktoral di Australia melalui beasiswa Deakin University Postgraduate Research Scholarship (DUPRS). Ia tinggal di Glen Waverley, wilayah Monash, Melbourne, bersama keluarganya. Tahun ini, Idulfitri di Australia jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, bertepatan dengan penetapan 1 Syawal oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Berbeda dengan Indonesia, hari raya tersebut bukan hari libur nasional. Aktivitas masyarakat berjalan normal, termasuk kegiatan sekolah anak-anak. “Di Australia, Idulfitri bukan hari libur seperti di tanah air. Karenanya aktivitas sehari-hari tetap berjalan, termasuk sekolah anak-anak. Untuk mengikuti shalat Id, kami harus menempuh perjalanan cukup jauh dengan transportasi umum. Meski tidak semudah di Indonesia, situasi ini justru membuat kami lebih menghayati menjadi bagian dari minoritas,” ujar Hasnan 27 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Meski jauh dari kampung halaman, Hasnan dan keluarga tetap menjaga tradisi silaturahmi. Mereka menerima tamu dari sesama diaspora Indonesia, termasuk para aktivis Muhammadiyah yang berada di Melbourne. Komunikasi dengan keluarga di Indonesia juga terus terjalin melalui panggilan video bersama orang tua, kerabat, dan sahabat. Usai shalat Id, mereka berkumpul dengan komunitas Muslim dari berbagai negara untuk berbagi cerita dan hidangan sederhana. Momen tersebut menjadi ruang interaksi lintas budaya sekaligus mempererat ukhuwah di tengah keterbatasan perayaan. “Perbedaan paling mencolok terletak pada suasana sosio-kultural Idulfitri. Di Indonesia identik dengan mudik dan keramaian keluarga besar. Sementara di Australia lebih tenang karena Muslim merupakan minoritas. Tidak ada libur panjang, tetapi kami justru mendapat kesempatan bertemu Muslim dari berbagai negara. Itu pengalaman berharga yang memperkaya cara kami memaknai Idulfitri,” jelasnya. Di tengah lingkungan multikultural, aktivitas keagamaan tetap berjalan dinamis. Hasnan aktif mengikuti pengajian dan diskusi isu global, baik di kampus maupun komunitas sosial. Anak-anaknya pun tetap mengikuti program Tahfiz Al-Qur’an Tematik (TQT) secara daring. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa menjaga tradisi keislaman tetap bisa dilakukan secara konsisten meski berada di tengah masyarakat modern. Pengalaman hidup sebagai Muslim minoritas juga memengaruhi perspektif akademiknya. Dalam penelitian doktoralnya, Hasnan mengkaji penggunaan hukum keagamaan informal dan emosi dalam mobilisasi politik oleh kelompok populis sayap kanan. Ia menyoroti bagaimana syariah dipadukan dengan emosi untuk kepentingan politik di Indonesia, khususnya sejak Pilgub DKI Jakarta 2017 hingga Pilpres 2019 dan 2024. Bagi Hasnan, merayakan Idulfitri di Australia bukan sekadar perbedaan suasana, melainkan proses pembelajaran tentang makna kebersamaan. Dalam kesederhanaan dan keberagaman, Idulfitri justru menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkuat identitas keumatan, serta merefleksikan nilai-nilai kebersamaan dalam konteks global.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dosen UMM Kembangkan Desain Batik Berbasis AI, Motif Nitik Ramaikan Varian Batik Modern

Mengawinkan teknologi kecerdasan buatan dengan warisan budaya, dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan terobosan baru, ratusan motif batik dapat tercipta hanya dalam hitungan detik. Inovasi ini bukan sekadar eksperimen akademik, tetapi upaya serius mendorong batik tradisional khususnya motif Nitik agar kembali hidup dan kompetitif di tengah gempuran desain kontemporer. Dr. Ir. Agus Eko Minarno, M.Kom., IPM., mengembangkan teknologi berbasis Artificial Intelligence menggunakan pendekatan Generative Adversarial Network (GANs). Melalui metode ini, komputer dilatih mengenali pola-pola batik yang sudah ada, kemudian mengombinasikannya menjadi motif baru yang segar tanpa meninggalkan nilai tradisi. Teknologi tersebut mampu menghasilkan desain batik secara otomatis berdasarkan data yang dipelajari sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa inovasi batik berbasis AI ini berawal dari riset doktoralnya. Ia menggandeng Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad untuk mengumpulkan data motif sebagai bahan pelatihan sistem. Kolaborasi tersebut menghasilkan kumpulan dataset batik Nitik yang terdiri dari puluhan pola berbeda, yang kemudian digunakan untuk melatih model generatif dalam menciptakan motif baru. Dataset Batik Nitik yang dikembangkan bahkan mencapai 60 kategori dengan total 960 citra, yang memungkinkan pengembangan model AI untuk klasifikasi hingga generasi motif baru. Menurut Agus, pemilihan motif Nitik bukan tanpa alasan. Pola geometrisnya dinilai lebih mudah dipelajari oleh algoritma generatif sekaligus memiliki karakter visual yang kuat. Selain itu, perkembangan batik Nitik relatif lebih lambat dibandingkan batik kontemporer, sehingga membutuhkan inovasi agar tetap relevan di pasar. “Saya melihat potensi besar untuk mengembangkan motif Nitik menjadi lebih variatif tanpa meninggalkan pakem tradisional,” ujarnya. Dengan teknologi ini, komputer tidak hanya meniru motif lama, tetapi menciptakan kombinasi baru yang unik. Hal ini menjadi jawaban atas stagnasi motif yang selama ini terjadi di dunia batik, di mana desain yang beredar cenderung berulang. Pemanfaatan GAN memungkinkan penggabungan berbagai motif sehingga menghasilkan desain baru dengan karakter berbeda namun tetap autentik. Lebih jauh, Agus berharap inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM batik. Motif-motif baru yang dihasilkan AI dapat menjadi sumber inspirasi desain bagi pengrajin, sekaligus membuka peluang produk yang lebih kompetitif di pasar. Dengan demikian, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat kreatif, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi bagi industri batik lokal. “Inovasi ini diharapkan dapat membantu UMKM mengembangkan dan memasarkan batik dengan motif Nitik yang baru. Jika motif berkembang, maka nilai jual meningkat dan pertumbuhan ekonomi pengrajin juga terdorong,” pungkasnya. Melalui perpaduan budaya dan teknologi, Agus menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya milik industri modern, tetapi juga mampu menjadi penjaga sekaligus penggerak warisan tradisi Indonesia.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lebaran di Negeri Jiran, Begini Kisah Mahasiswa UMM Harus Tempuh Kilometer demi Salat Ied

Merayakan Hari Raya Idulfitri jauh dari keluarga menghadirkan pengalaman emosional yang tak biasa. Apalagi ketika momen kemenangan itu dijalani di lingkungan kampus dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim. Pengalaman reflektif tersebut dirasakan oleh Iyaka Samanda Caysar, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2024, yang menjalani Lebaran di Malaysia. Jauh dari kampung halaman, ia menemukan makna baru Idulfitri sebagai perantau. Yaka sapaan akrabnya tengah mengikuti program student mobility di INTI International University, Negeri Sembilan, Malaysia. Program tersebut berlangsung selama Januari hingga Mei 2026. Ia mengungkapkan bahwa suasana Lebaran di sana terasa kontras dibandingkan Indonesia, terutama karena lingkungan kampus yang multikultural dan tidak didominasi mahasiswa Muslim. Menurutnya, pelaksanaan ibadah Idulfitri menjadi tantangan tersendiri. Fasilitas salat Id tidak tersedia di dalam kampus, sehingga ia dan teman-temannya harus mencari masjid di luar area kampus. “Untuk bisa melaksanakan salat Ied, kami harus keluar dari area kampus dan menempuh perjalanan beberapa kilometer menuju masjid terdekat,” ujarnya. Meski demikian, Yaka tetap merasakan kehangatan Lebaran melalui kebersamaan dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Mereka tinggal dalam satu lingkungan hostel, sehingga suasana Idulfitri tetap terasa walau sederhana. Di luar komunitas tersebut, suasana Lebaran cenderung sepi. Banyak mahasiswa internasional memilih berlibur, membuat aktivitas kampus tidak seramai biasanya. Kontras ini membuat Yaka merasakan perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan Lebaran di Indonesia. “Lebaran di sini terasa sangat berbeda, jauh dari pengalaman yang selama ini saya rasakan, karena tidak semeriah di Indonesia,” tuturnya. Di balik kesunyian itu, Yaka justru menemukan makna baru tentang Idulfitri. Ia belajar bahwa kebersamaan di hari kemenangan tidak selalu hadir dalam kemeriahan besar, tetapi juga dapat tumbuh dari komunitas kecil di perantauan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya dalam program student mobility. Ia memperoleh kesempatan itu melalui rekomendasi dosen, kemudian mengikuti proses seleksi hingga dinyatakan lolos. “Kesempatan ini jadi titik penting bagi saya untuk berkembang, karena sejak awal harus melewati proses seleksi dan persiapan yang cukup matang,” ungkapnya. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga memperluas wawasan global. Ia mendapatkan peluang untuk mengasah soft skill sekaligus memahami standar industri teknologi di tingkat internasional. “Program ini saya ikuti untuk mempelajari sistem pembelajaran di luar negeri, sekaligus memahami apa saja yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan besar internasional dari mahasiswa,” jelasnya. Keberanian Yaka keluar dari zona nyaman mencerminkan mental tangguh mahasiswa UMM. Ia menyadari bahwa persaingan akademik di kancah internasional menuntut dedikasi tinggi. Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar mempersiapkan diri sejak dini, terutama meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan memperkuat semangat belajar. Pengalaman Yaka menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam mencetak lulusan berwawasan global. Kampus tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi teknologi informasi, tetapi juga ketangguhan beradaptasi di lingkungan multikultural. Lebaran minoritas di negeri jiran ini pun menjadi saksi keberanian mahasiswa UMM dalam merajut asa dan menapaki panggung dunia.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Solusi Lahan Terbatas, Mahasiswa UMM Kenalkan Budidaya Bioflok Warga Desa Kebobang Kab Malang

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi, mandiri, dan berdampak kembali menghadirkan program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak, mahasiswa UMM menginisiasi budidaya ikan nila berbasis kolam terpal di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Program yang berlangsung selama 30 hari, mulai 24 Januari hingga 22 Februari 2026 ini tidak hanya membangun kolam percontohan, tetapi juga meningkatkan keterampilan warga dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Dosen Pembina Lapangan (DPL), Festy Putri Ramadhani, M.P., menjelaskan bahwa program ini dirancang agar memberi manfaat jangka panjang. “Kami mendorong mahasiswa menghadirkan solusi yang bisa dilanjutkan warga. Budidaya ikan nila dengan kolam terpal dipilih karena mudah diterapkan dan sesuai dengan kondisi lahan masyarakat,” ujarnya. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa lintas disiplin dari bidang agribisnis, komunikasi, hukum, informatika, dan perikanan. Mereka berkolaborasi dengan 20–25 warga desa, mulai dari petani, pemuda karang taruna, ibu rumah tangga, hingga perangkat desa. Dukungan pemerintah desa dan tokoh masyarakat turut memperkuat pelaksanaan program. Menurut Festy, kolaborasi lintas bidang membuat program lebih efektif. “Setiap mahasiswa memiliki peran berbeda, mulai dari teknis budidaya hingga pendampingan komunikasi dan pemasaran. Pendekatan ini memudahkan masyarakat memahami program secara menyeluruh,” tambahnya. Program difokuskan pada budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok di kolam terpal. Metode ini memanfaatkan bakteri untuk mengolah limbah sisa pakan menjadi pakan alami tambahan sekaligus menjaga kualitas air. Sistem bioflok memungkinkan kepadatan tebar lebih tinggi tanpa pergantian air rutin, sehingga lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. “Teknologi bioflok cocok untuk skala rumah tangga karena tidak membutuhkan lahan luas. Selain itu, biaya operasional juga lebih efisien,” jelas Festy. Kolam percontohan berdiameter dua meter dengan tinggi satu meter dibangun menggunakan rangka besi dan terpal standar budidaya. Sebanyak 1.000 benih ikan nila ukuran 5–7 cm ditebar dengan pengelolaan pakan dan kualitas air terjadwal. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman warga dari skor rata-rata 55 menjadi 85. Festy menilai peningkatan tersebut menjadi indikator keberhasilan. “Tujuan utama kami bukan hanya membangun kolam, tetapi memastikan masyarakat mampu mengelola budidaya secara mandiri setelah program selesai,” katanya. Pelaksanaan program diawali observasi kebutuhan desa dan perencanaan partisipatif, dilanjutkan pelatihan pembuatan kolam, pemilihan benih, manajemen pakan, pengendalian kualitas air, hingga strategi panen dan pemasaran. Pendampingan rutin dilakukan untuk mengatasi kendala teknis seperti perubahan cuaca dan stabilitas air. Antusiasme warga menjadi faktor penting keberhasilan program. Meski masa panen belum tercapai sepenuhnya, pertumbuhan ikan menunjukkan hasil positif dengan tingkat kelangsungan hidup tinggi. Hal ini membuka peluang penyediaan protein hewani lokal sekaligus tambahan pendapatan bagi masyarakat. “Respons masyarakat sangat baik. Program sederhana tetapi tepat sasaran dapat memberi dampak nyata bagi ketahanan pangan keluarga,” ujar Festy. Tim KKN merekomendasikan pengembangan lanjutan melalui penambahan kolam, pembentukan kelompok budidaya, serta dukungan modal dan pakan dari pemerintah desa. “Kami berharap model ini bisa diperluas ke desa lain sehingga menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan,” pungkasnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sering Jadi Bahan Guyonan Lebaran, Bolehkah Menikah dengan Sepupu? Pakar UMM Beri Penjelasan

Fenomena berkumpul bersama keluarga saat Idul Fitri kerap menghadirkan berbagai momen hangat. Tidak hanya saling bermaafan, tetapi juga menjadi ajang bertemu kembali dengan saudara lama, termasuk sepupu. Dalam suasana santai tersebut, tak jarang muncul candaan seperti “kapan nikah?” hingga gurauan ingin menikahi sepupu sendiri. Candaan ini sering dianggap biasa, namun sebenarnya memunculkan pertanyaan serius: bagaimana hukum menikah dengan sepupu dalam Islam? Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Idaul Hasanah, S.Ag., M.H.I., menjelaskan bahwa secara umum Islam tidak melarang pernikahan dengan sepupu. Ia merujuk pada ketentuan dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah An-Nisa ayat 23 yang memuat daftar perempuan yang haram dinikahi. Dalam ayat tersebut, sepupu tidak termasuk dalam kategori mahram. “Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 23 dijelaskan orang-orang yang haram dinikahi. Di situ tidak disebutkan sepupu sebagai pihak yang dilarang. Bahkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 50 disebutkan bahwa salah satu yang halal dinikahi adalah sepupu, seperti anak dari saudara perempuan ayah atau anak dari saudara perempuan ibu,” jelasnya 24 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Meski demikian, ia menekankan bahwa ada kondisi tertentu yang membuat pernikahan sepupu menjadi terlarang. Salah satunya jika terdapat hubungan sepersusuan. “Misalnya seorang anak pernah disusui oleh bibinya, sehingga sepupu memiliki hubungan sepersusuan. Itu menjadi haram untuk menikah,” ujarnya. Selain itu, larangan juga berlaku dalam konteks poligami pada waktu yang sama. Seseorang tidak diperbolehkan menikahi kakak atau adik dari sepupu yang telah menjadi istrinya secara bersamaan. Namun, jika pernikahan pertama telah berakhir karena perceraian atau wafat, maka pernikahan dengan sepupu lain tetap diperbolehkan. Lebih lanjut, Idaul sapaan akrabnya menyebut bahwa dalam tradisi masyarakat Arab pada masa Rasulullah, pernikahan dengan sepupu merupakan hal yang lumrah. Meski begitu, beberapa ulama memberikan anjuran untuk mempertimbangkan aspek lain sebelum memutuskan menikah dengan kerabat dekat. Ia menambahkan, dalam kajian kontemporer terdapat beberapa pertimbangan penting. Pertama, aspek sosial yang berkaitan dengan perluasan silaturahmi sebagaimana spirit dalam Surah Al-Hujurat tentang pentingnya saling mengenal antarbangsa dan suku. Menikah di luar lingkar keluarga dekat dinilai dapat memperluas hubungan sosial. Kedua, pertimbangan kesehatan. Pernikahan sepupu memiliki potensi risiko genetik tertentu jika terdapat riwayat penyakit turunan dalam keluarga. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah disarankan untuk meminimalkan risiko tersebut. Ketiga, pertimbangan sosial keluarga besar. Konflik dalam rumah tangga yang melibatkan pasangan sepupu berpotensi berdampak lebih luas karena hubungan kekerabatan yang sudah dekat. “Kalau terjadi konflik suami istri, bisa merembet menjadi konflik keluarga besar. Hubungan yang awalnya baik bisa menjadi renggang,” katanya. Dengan demikian, candaan menikahi sepupu saat momen Lebaran sebenarnya tidak sepenuhnya keliru secara hukum Islam. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keputusan tersebut tetap perlu mempertimbangkan berbagai aspek, baik dari sisi agama, kesehatan, maupun sosial keluarga.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman