Akademisi: Pemenuhan Ruang Hijau Tanggung Jawab Pemerintah dan Publik

Perbesar Ir. Sunarto, Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) dan Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). (Dyah Ayu Pitaloka/TIMES Indonesia) Times Indonesia – RUANG TERBUKA hijau punya fungsi penting dalam fungsi ekologis, mencegah bencana, mempengaruhi kesehatan, dan ruang pertemuan bagi warganya. Tanpa RTH yang cukup, kualitas hidup akan menurun. Tanggung jawab mempertahankan RTH ada di seluruh penghuni kota, mulai dari pemerintah, warga dan juga sektor swasta. Dosen Teknil Sipil Universitas Muhammadiyah Malang Sunarto menyebut, sempitnya RTH menjadi masalah yang banyak dihadapai perkotaan di Indonesia. Mulai dari Bandung yang hanya 12 persen, Yogyakarta 14 persen, dan DKI Jakarta yang disebutnya tak lebih dari 5 persen. “Surabaya itu menjadi kota yang RTHnya bahkan melampui syarat minimal RTH publik. Strateginya menambah RTH di perkotaan juga mangrove di pesisir. Dampaknya memang terasa, meski secara angka turunnya suhu tak banyak,” kata Sunarto kepada Times Indonesia, Selasa 24 Februari 2026. Langkah penting untuk menjaga RTH adalah mempertahankan RTH tersisa lebih dahulu. Menurut dia, pemerintah tak boleh mengalihfungsikan RTH tersisa, dan kemudian berusaha menambah luasannya. Ia menyebut sejumlah titik yang bisa dimanfaatkan untuk area RTH baru. Seperti di sempadan dan median jalan, gedung dan aset milik pemerintah, juga area bantaran sungai. “Misalnya area di belakang pom bensin Jalan Bandung, itu bisa dijadikan RTH. Sekarang jadi area parkir mobil,” katanya. Bila area RTH tak bisa bertambah, pemerintah bisa meningkatkan kualitas RTH yang sudah ada. Caranya dengan meningkatkan kerimbunan tanaman, juga menambah sumur resapan. Pemerintah juga bisa mengoptimalkan kantor dengan lahan yang luas. Seperti aset pemerintah di Jalan Bengkel. “Di situ sangat potensial jadi RTH. Juga di area Taman Krida Budaya,” ujar Sunarto. Secara administratif, ada banyak area yang bukan berada dalam kewenangan pemerintah Kota Malang. Namun kerja sama lintas lembaga penting untuk menyediakan RTH sesuai kebutuhan. “Memang harus ada kerja sama antara lembaga lokal, provinsi, juga nasional. Saya kira itu bisa dilakukan untuk RTH,” kata dia. Penertiban dan penindakan tegas juga harus dilakukan pemda atas terjadinya alih fungsi di wilayah RTH. Seperti lokasi yang berubah fungsi menjadi hunian dan kegiatan yang bukan peruntukannya. “Bantaran sungai memang sudah lama menjadi hunian warga, tetapi seharusnya tidak boleh bertambah luas. Harus ada penegakan dan bukan pembiaran,” kata Sunarto. Surat Edaran Wajib Sumur Resapan Tanggung jawab untuk memenuhi RTH juga bukan hanya di pundak pemerintah. Perumahan baik besar dan kecil harus menyediakan RTH di bangunan mereka. “Perumahan klaster itu juga harus punya RTH. Tapi biasanya nakal. RTHnya dalam bentuk jalan perumahan,” kata Sunarto. Selain itu, masyarakat juga punya tanggung jawab. Setiap rumah menurutnya wajib memiliki area resapan. Fungsinya terutama untuk menyimpan air hujan yang turun di area rumah, sehingga tak jatuh ke jalan raya. “Ada surat edaran Walikota Malang nomor 2 tahun 2021. Mewajibkan seluruh pengembang membangun sumur resapan sebagai syarat perizinan. Masyarakat didorong untuk memiliki juga,” Sunarto mengingatkan. Menurut dia, sumur resapan sangat mudah dibuat. Cukup gali lubang layaknya sumur air, dengan kedalaman 3 hingga 5 meter dan diameter kurang dari 1 meter. Jumlah sumur bisa disesuaikan dengan luas bangunan. Biayanya juga tak mahal. Sunarto yakin, pengembang akan mematuhi surat edaran itu, bila penegakan izinnya tegas. Pemkot cukup meminta syarat sumur resapan dalam gambar perumahan untuk mendapatkan izin. Setelah proses pembangunan, pemkot juga bisa memastikan keberadaan sumur resapan di lokasi. “Kalau ternyata tak ada sumur resapan ya izin bisa dicabut. Jangan sampai seperti banjir Soekarno Hatta kemarin. Itu karena perumahan di Griya Santa tak bisa menampung air hujan yang turun di sana,” kata dia. RTH juga bisa diupayakan dengan menggunakan tanaman di dalam pot di setiap rumah. “Area RTH di setiap bangunan itu idealnya sebesar 20 persen dari luas wilayah,” kata Sunarto.
Bukan Gorengan! Aksi Mahasiswa Asing UMM Bagikan Takjil Buah Bikin Warga Gresik Antusias

Mengusung konsep yang berbeda dari tradisi pada umumnya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan SMA Muhammadiyah 3 Gresik menggelar kegiatan pembagian takjil kepada masyarakat pada 12 Maret lalu. Menariknya, takjil yang dibagikan bukanlah makanan ringan atau gorengan, melainkan paket buah-buahan segar. Kegiatan penuh kebersamaan ini dilangsungkan di kawasan Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Paket takjil sehat yang dibagikan kepada para pengguna jalan dan masyarakat sekitar ini terdiri dari berbagai macam buah bernutrisi tinggi, mulai dari jeruk, apel, anggur, hingga kurma yang memang dianjurkan untuk dikonsumsi saat membatalkan puasa. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa inisiatif unik ini merupakan wujud nyata ajakan kepada masyarakat luas untuk mulai menerapkan pola hidup sehat. Menurutnya, gaya hidup sehat bisa dimulai dari langkah kecil, yakni mengubah menu berbuka puasa. “Melalui pembagian takjil buah ini, kami ingin memberikan edukasi langsung kepada masyarakat bahwa membatalkan puasa tidak harus selalu dengan makanan yang tinggi gula atau gorengan. Berbuka dengan buah segar jauh lebih menyehatkan bagi pencernaan setelah seharian perut kosong,” ungkap Maharina. Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini terasa sangat spesial karena menggandeng langsung SMAM 3 Gresik yang merupakan salah satu sekolah binaan unggulan dari UMM. Selain konsep takjil yang menyehatkan, suasana sore itu semakin semarak dengan kehadiran sejumlah mahasiswa asing UMM yang ikut terjun langsung ke jalan. Salah satunya adalah Ammiridinov Dilshodbek, mahasiswa asing asal Uzbekistan. Bagi Ammiridinov, momen berbagi takjil ini memberikan pengalaman kultural yang luar biasa. “Kegiatan ini sangat seru dan berkesan bagi saya pribadi. Turun langsung ke jalan, menyapa warga lokal, dan melihat senyuman mereka saat menerima takjil adalah pengalaman yang menghangatkan hati. Tradisi seperti ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan, toleransi, dan kepedulian masyarakat Indonesia di bulan suci Ramadan, sesuatu yang sangat berharga untuk saya pelajari,” tutur Amir sapaan akrabnya. Masyarakat pengguna jalan di sekitar Melirang menyambut antusias kegiatan ini. Ratusan paket takjil buah tersebut ludes dalam waktu singkat menjelang kumandang azan Magrib. Ke depannya, UMM dan sekolah-sekolah binaannya berharap dapat terus menghadirkan program pengabdian yang tidak sekadar bernilai amal, tetapi juga membawa dampak edukasi yang baik bagi masyarakat. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan

UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan INFOMU.CO | Malang – Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga aktivitas edukatif mewarnai suasana ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburead juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngebuburead menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya.(*)
Dosen UMM: Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial

Oleh : Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.AgDosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pwmu.co – Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan semata, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan. Momentum tersebut dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat, terutama di tengah berbagai tantangan moral yang dihadapi masyarakat modern. Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial saja. Menurutnya, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya. Makna Nuzulul Qur’an Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa tersebut dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad SAW, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai kebutuhan dakwah pada masa itu. “Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya. Peristiwa Turunnya Wahyu Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadan, sekitar tahun ke-13 sebelum Hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama. Fatoni menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian. Selain itu, proses tersebut juga memudahkan umat Islam dalam memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat pada masa itu. “Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya. Menghidupkan Nilai Al-Qur’an Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, peringatan tersebut juga menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.
Bakti Sosial UMM Hadir di Bungah Gresik dengan Program Sosial dan Literasi Anak

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial Ramadan di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada Kamis (12/3/2026).Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga yang tampak antusias mengikuti berbagai program sosial dan edukatif yang disiapkan oleh tim UMM sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Beragam Layanan untuk Warga Dalam kegiatan bakti sosial tersebut, UMM menghadirkan berbagai layanan bagi masyarakat, mulai dari pembagian sembako, fun games, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Selain itu, anak-anak juga dapat mengikuti beragam aktivitas edukatif yang dikemas secara menarik oleh panitia sehingga suasana kegiatan berlangsung meriah. Kehadiran Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) milik UMM turut menambah semarak kegiatan tersebut. Dua mobil perpustakaan keliling itu menghadirkan berbagai aktivitas literasi untuk menumbuhkan minat baca sekaligus meningkatkan budaya literasi pada anak-anak sejak dini. Dukungan Warga Bungah Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menyampaikan rasa senang melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan bakti sosial ini diharapkan dapat membawa keberkahan bagi masyarakat Bungah sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan di bulan suci Ramadan. “Alhamdulillah saya sangat senang melihat banyak warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah dan tim UMM, serta menjadi jalan bagi kita semua untuk mencapai ketakwaan yang sesungguhnya,” ujarnya. Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungah, Drs. Suhali, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada tim UMM yang telah memilih Kecamatan Bungah sebagai lokasi pelaksanaan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki fasilitas yang mendukung untuk pelaksanaan kegiatan sosial dan pendidikan. “Saat dihubungi pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjutinya dengan mempersiapkan tempat ini. Fasilitasnya sangat mendukung, mulai dari lembaga pendidikan, masjid, aula, hingga halaman yang luas,” ungkapnya. Pembagian Takjil untuk Pengguna Jalan Selain berpusat di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis di tepi jalan raya bagi para pengguna jalan yang melintas. Takjil berupa buah-buahan tersebut bahkan habis dalam waktu kurang dari 10 menit karena para pengguna jalan telah tertib mengantre sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat. Tidak hanya sebagai institusi pendidikan, UMM juga berperan sebagai mitra masyarakat yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial serta pemberdayaan warga. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Bakti Sosial UMM Meriahkan Ramadan Warga Bungah Gresik

MAKLUMAT – Ratusan warga Kecamatan Bungah, Gresik, memadati halaman Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kamis (12/3/2026). Mereka antusias mengikuti rangkaian bakti sosial yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menghadirkan program pengabdian langsung bagi masyarakat. Dalam bakti sosial tersebut, UMM menghadirkan beragam layanan yang menyentuh kebutuhan warga. Mulai dari pembagian sembako, pemeriksaan kesehatan gratis, fun games, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Tak hanya itu, anak-anak juga diajak mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang dirancang secara interaktif. Suasana semakin semarak dengan kehadiran dua mobil perpustakaan keliling milik UMM. Keduanya adalah Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang). Melalui fasilitas tersebut, anak-anak diajak mengenal buku dan aktivitas literasi sejak dini. Baksos dan Refleksi Ketakwaan Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa bakti sosial ini merupakan bagian dari upaya kampus untuk berbagi manfaat di tengah masyarakat, khususnya pada momentum Ramadan. “Alhamdulillah kami sangat senang melihat antusiasme warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah maupun tim UMM, sekaligus menjadi jalan bagi kita semua untuk meningkatkan ketakwaan,” ujarnya. Menurut Tri, kegiatan sosial seperti ini juga menjadi sarana bagi perguruan tinggi untuk memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat. Melalui berbagai program yang disiapkan, UMM berharap dapat memberi manfaat nyata bagi warga. Antusiasme Masyarakat dan Dukungan Ranting Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bungah, Drs. Suhali, M.Si., mengapresiasi inisiatif UMM yang memilih wilayah Bungah sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM Melirang dipilih karena memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Di lokasi tersebut terdapat masjid, lembaga pendidikan, aula, serta halaman luas yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat. “Saat dihubungi oleh pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjuti. Fasilitas di sini sangat mendukung untuk berbagai kegiatan,” jelasnya. Peran Kampus sebgai Mitra Warga Selain kegiatan di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis kepada para pengguna jalan di sekitar lokasi. Takjil berupa buah-buahan tersebut habis dalam waktu kurang dari sepuluh menit karena masyarakat telah tertib mengantre sejak sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui bakti sosial ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menegaskan perannya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan warga.
Asal-usul Nuzulul Qur’an: Awal Turunnya Wahyu kepada Nabi Muhammad

KLIKMU.CO – Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Momentum ini dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA UMM) Dr Ahmad Fatoni Lc MAg menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial semata. Menurut dia, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat agar umat Islam terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya, Jumat (13/3/2026). Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa itu dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai dengan kebutuhan dakwah pada masa itu. “Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya. Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadan, sekitar tahun ke-13 sebelum hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama. Dia menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian serta memudahkan umat memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat saat itu. “Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya. Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. (Faqih/AS)
UMM Baksos Ramadan di Bungah Gresik, Layanan Kesehatan hingga Literasi Anak

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada 12 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri ratusan warga setempat yang tampak antusias mengikuti berbagai program yang disiapkan oleh tim UMM. Dalam kegiatan tersebut, UMM menghadirkan beragam layanan untuk masyarakat. Mulai dari pembagian sembako, fun games, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Tak hanya itu, kegiatan untuk anak-anak juga berlangsung meriah dengan berbagai aktivitas edukatif yang disiapkan panitia. Kehadiran Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) milik UMM turut menambah semarak kegiatan. Kedua mobil perpustakaan keliling tersebut menghadirkan berbagai aktivitas literasi sebagai upaya menumbuhkan minat baca serta meningkatkan budaya literasi pada anak-anak sejak dini. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan rasa senang melihat antusiasme warga yang hadir. Ia berharap kegiatan ini dapat membawa berkah bagi semua pihak sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadan. “Alhamdulillah saya sangat senang melihat banyak warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah dan tim UMM, serta menjadi jalan bagi kita semua untuk mencapai ketakwaan yang sesungguhnya,” ujarnya. Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungah, Drs. Suhali, M.Si., menyampaikan terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Kecamatan Bungah sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM dipilih sebagai lokasi kegiatan karena fasilitasnya dinilai strategis untuk mendukung berbagai rangkaian kegiatan berbasis pendidikan dan sosial. “Saat dihubungi pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjutinya dengan mempersiapkan tempat ini. Fasilitasnya sangat mendukung, mulai dari lembaga pendidikan, masjid, aula, hingga halaman yang luas,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya bersama tim PCM setempat siap berkolaborasi kembali dengan UMM dalam kegiatan serupa di masa mendatang. Selain berpusat di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis di tepi jalan raya. Takjil berupa buah-buahan tersebut habis dalam waktu kurang dari 10 menit karena para pengguna jalan telah tertib mengantre sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.(ANS)
Dari Matahari hingga Kompas, Siswa SD di Malang Belajar Ilmu Falak

timesindonesia, MALANG – SD Muhammadiyah 3 Assalaam (SD Mumtas) Arjosari, Kota Malang mengajak siswa memahami langsung terkait cara menentukan arah kiblat melalui praktik ilmu falak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian Pondok Ramadan. Pada dasarnya, siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga praktik lapangan. Sehingga proses belajar terasa lebih hidup dan kontekstual. Dalam mendukung kegiatan ini, sekolah menghadirkan pakar ilmu falak dari Universitas Muhammadiyah Malang, M. Syamsu Alam D., S.H., M.Ag., sebagai narasumber utama. Sebagai permulaan, Syamsu menjelaskan bahwa kiblat merupakan arah menuju Ka’bah di Makkah, yang menjadi arah bagi seluruh umat Islam di dunia ketika melaksanakan salat. “Kiblat merupakan arah bagi seluruh umat islam di dunia ketika akan shalat,” jelasnya di hadapan para murid. Setelah teori selesai, siswa diajak untuk mempraktikkan langsung bagaimana cara menentukan arah kiblat melalui beberapa metode. Baik metode modern atau tradisional turut diperkenalkan. Salah satu metode modern yang digunakan adalah melalui pemanfaatan Google Earth. Dengan aplikasi tersebut, siswa dapat memvisualisasikan posisi geografis sekolah mereka. Berdasarkan data teknis, SD Muhammadiyah 3 Assalaam berada pada koordinat Lintang 07° 55′ 42″ LS dan Bujur 112° 39′ 09″ BT. Dari titik tersebut, terlihat garis lurus yang mengarah langsung menuju Ka’bah di Makkah dengan azimut kiblat 294° 11′ 49″. Akurasi arah kiblat di Masjid Assalaam juga diuji secara langsung menggunakan laser 16 line. Teknologi ini membantu memastikan bahwa arah sajadah dan posisi bangunan masjid telah benar-benar presisi menghadap Ka’bah. Untuk metode tradisional, siswa mempraktekkan penggunaan kompas kiblat dan alat tradisional bernama mizwalah. Mereka belajar bahwa matahari di siang hari dapat berfungsi sebagai “kompas alami raksasa” yang membantu manusia menentukan arah. Siswa juga diajak keluar ruangan untuk mengamati matahari secara langsung menggunakan kacamata khusus matahari (solar eclipse glasses). Pengamatan ini dilakukan untuk memahami fenomena penting dalam ilmu falak yang disebut Istiwa A’zam, yaitu momen ketika matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga arah kiblat dapat ditentukan secara sangat akurat melalui bayangan benda yang berdiri tegak lurus. “Penting juga untuk menyamakan jam dengan jam server BMKG agar hasil pengamatan bayangan kiblat menjadi akurat,” imbuhnya. Kegiatan ini menjadi implementasi dari deep learning di sekolah. Suasana belajar yang eksploratif membuat siswa merasa senang dengan proses belajar (joyfull learning). keterlibatan siswa dalam praktik langsung serta keterkaitan antara ilmu falak, teknologi, dan praktik ibadah memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning). Terakhir, proses pengamatan yang membutuhkan ketelitian, pemahaman konsep, serta kesadaran terhadap keteraturan alam juga melatih siswa untuk belajar secara sadar dan reflektif (mindful learning). (*)
Baksos PCA UMM: Menguatkan Disiplin, Kesabaran, dan Keikhlasan di Bulan Suci Ramadhan

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Universitas Muhammadiyah Malang (PCA UMM) menggelar kegiatan bakti sosial dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan pada hari Sabtu (7/3/2026) atau bertepatan dengan 18 Ramadhan 1447 H. Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang, dihadiri oleh Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah UMM periode 2022- 2027. Sesi penyampaian materi menguatkan rohani peserta yang hadir. Kegiatan bakti sosial (baksos) dengan menyalurkan paket sembako kepada para petugas cleaning service (CS), tenaga harian, serta juru parkir di lingkungan UMM sebagai penerima manfaat. Selain itu bakti sosial ini juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan (general check-up) oleh tenaga medis dan paramedis dari UMC UMM, serta kegiatan screening Tuberkulosis (TB) bagi para peserta. Layanan kesehatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya menjaga kesehatan, terutama di tengah aktivitas kerja sehari-hari. Sambutan Ketua PCA UMM. Acara diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Sang Surya, dan Mars ‘Aisyiyah yang menambah semangat kebersamaan dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah. Selanjutnya, Ketua PCA UMM, Dr. Masiyah Kholmi, M.M., Ak., CA, menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan bakti sosial tersebut. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa tema kegiatan tahun ini adalah “Menguatkan Disiplin, Kesabaran, dan Keikhlasan.” Menurutnya, bulan puasa merupakan momentum spiritual yang sangat penting bagi umat Islam. Penyerahan bingkisan ramadhan 1447 H dari PCA UMM. “Ramadan bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan tindakan spiritual untuk melatih disiplin, kesabaran, serta keikhlasan dalam menjalani kehidupan,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa dana yang berhasil dihimpun dari ibu-ibu dosen, tenaga kependidikan, serta para donatur lainnya di lingkungan UMM, mencapai Rp 28.342.500 plus beras 65 Kg. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ibu Luluk Dwi Kumalasari, M.Si. dengan tema yang sama. Penyampaian materi berlangsung hangat, santai, dan diselingi canda ringan yang membuat suasana tetap hidup meskipun para peserta tengah menjalankan ibadah puasa. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa bulan suci Ramadan harus disambut dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Ramadan merupakan bulan yang mengajarkan umat untuk memperkuat kesabaran, meningkatkan rasa syukur, serta mempererat solidaritas sosial. Tim kesehatan dan perwakilan PCA UMM. “Ramadhan sering dimaknai sebagai bulan pembakaran dosa-dosa. Namun lebih dari itu, Ramadhan adalah perjalanan spiritual yang menghadirkan banyak pelajaran bagi kehidupan kita, baik secara pribadi maupun sosial,” ungkapnya. Suasana kegiatan semakin meriah dengan adanya pembagian doorprize bagi para peserta yang bisa menjawab pertayaan dari panitia bakti sosial, sehingga menambah semangat dan kebahagiaan di tengah rangkaian acara. Di sela-sela kegiatan, Ketua Panitia Patmawati, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa bakti sosial Ramadhan ini merupakan agenda rutin PCA UMM yang terus dilaksanakan setiap tahun. “Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mempererat silaturahmi antara sivitas akademika UMM dengan para tenaga pendukung kampus. InsyaAllah kegiatan ini akan terus berlanjut dan berkembang dengan berbagai program yang lebih bermanfaat di masa mendatang,” tuturnya. Pemeriksaan kesehatan saat baksos. Ia juga berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat, baik panitia, donatur, maupun para penerima manfaat. “Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi amal kebaikan, memperkuat rasa kebersamaan, serta menghadirkan keberkahan bagi kita semua, khususnya di bulan suci Ramadan yang penuh rahmat ini,” pungkasnya. Melalui kegiatan bakti sosial ini, PCA UMM berharap nilai-nilai disiplin, kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial semakin tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat semangat berbagi dan kebersamaan dalam keberkahan Ramadhan. (dewi/pca umm)