Rektor UMM: Kepemimpinan Islam Amanah Suci, Bukan Sekadar Kuasa

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kepemimpinan dalam perspektif Islam sejatinya bukanlah panggung untuk memamerkan kekuasaan atau mengejar privilese jabatan. Sebaliknya, ia adalah amanah suci yang berlandaskan pada penegakan keadilan dan visi kemajuan demi keberkahan umat. Hal tersebut ditegaskan secara lugas oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., dalam pembukaan kegiatan Baitul Arqom Organisasi Kemahasiswaan di Pusdiklat UMM, Rabu (4/3) kemarin. Di hadapan para aktivis kampus, Prof. Nazar menjelaskan bahwa dalam Islam, kepemimpinan adalah tanggung jawab spiritual yang kelak akan dipertanggungjawabkan langsung di hadapan Allah SWT. Merujuk pada hadis Nabi, ia mengingatkan bahwa setiap individu adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, dan setiap tindakan kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban. ”Kepemimpinan tanpa keadilan akan kehilangan legitimasi moralnya. Tanpa visi yang jelas, organisasi hanya akan berjalan tanpa arah,” tegas Prof. Nazar. Ia menguraikan bahwa fondasi kepemimpinan dalam Al-Quran berpijak pada konsep manusia sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah: 30), perintah berlaku adil (QS. Shad: 26), serta pentingnya musyawarah (syura) sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran: 159. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah sebagai instrumen strategis. Keadilan, menurutnya, harus diwujudkan dalam praktik nyata—mulai dari distribusi sumber daya yang transparan hingga pengambilan keputusan yang setara tanpa diskriminasi. Di era modern yang penuh tekanan kepentingan, pemimpin dituntut untuk terus beradaptasi dengan inovasi tanpa meninggalkan prinsip dasar Al-Quran. Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menyampaikan bahwa Baitul Arqom merupakan agenda rutin strategis untuk menjaga keberlanjutan kader Muhammadiyah. Kegiatan ini dirancang agar estafet kepemimpinan intelektual di lingkungan UMM tidak terputus. ”Kami telah merancang strategi besar pengembangan kemahasiswaan melalui tiga pendekatan: partisipatif, diferensiasi, dan defensif,” ungkap Tatag. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat jiwa kepemimpinan mahasiswa, khususnya mereka yang tergabung dalam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa). Melalui penggemblengan di Baitul Arqom, mahasiswa diharapkan mengalami transformasi kualitas diri, baik dari segi adab, mental, maupun sikap. Dengan mengedepankan budaya umpan balik, kerja tim yang solid, serta keteladanan (uswah hasanah), UMM optimistis dapat mencetak generasi pemimpin visioner yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga adil dan produktif bagi kemajuan bangsa.(imm/lim)
Safari Ramadan RSU UMM: Ibadah Bukan Transaksi, Tapi Pengabdian

pwmu.co – Komitmen meneguhkan nilai-nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan oleh Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom dalam ceramahnya pada kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (3/3/2026). Hadir sebagai penceramah utama, Dr. Zen menyampaikan tausiyah di hadapan jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. K egiatan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, melainkan ruang refleksi bersama bagi sebuah institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan langsung dengan persoalan kemanusiaan. Dalam suasana Ramadan yang sarat makna, ia mengajak seluruh elemen rumah sakit untuk menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, serta meluruskan orientasi pengabdian. Menurutnya, pelayanan kesehatan bukan hanya soal profesionalitas dan kompetensi teknis, tetapi juga menyangkut keikhlasan dan integritas moral. Ibadah Bukan Logika Transaksional Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional memberi lalu menuntut balasan instan. Ia mengisahkan seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah setelah mendengar tausiyah. Pemuda itu menyedekahkan seluruh uangnya dengan harapan balasan datang seketika. Namun yang muncul justru kegelisahan karena harapannya tak segera terpenuhi. “Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya. Menurutnya, ibadah bukan mekanisme sebab-akibat yang instan. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika amal dilakukan semata demi imbalan cepat, kekecewaan mudah muncul. Sebaliknya, jika dilandasi kepatuhan dan penghambaan, ketenangan hadir tanpa harus menunggu balasan. Ramadan, lanjutnya, mengajarkan proses tersebut secara bertahapmelalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Kuasa sebagai Amanah, Bukan Privilege Zen juga menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Pada tahap awal, seseorang memahami bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap lebih matang, ia mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa, menurutnya, bukanlah privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Di rumah sakit, kepatuhan pada nilai dan etika menjadi fondasi profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, serta kepercayaan publik. Karena itu, ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif sekaligus preventif—tidak hanya mengatur batas benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran agar penyimpangan dapat dicegah sejak dini. Ramadan sebagai Energi Peradaban Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Menurutnya, takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi baik di bidang pendidikan maupun layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Konsolidasi Nilai dalam Pelayanan Publik Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Melalui refleksi Ramadan, RSU UMM menegaskan bahwa profesionalisme dan integritas spiritual bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan fondasi utama dalam membangun layanan kesehatan yang humanis dan berkeadaban.
Ramadan Refleksi, Integritas Tanpa Transaksi: Safari Ramadan RSU UMM

MALANG (SurabayaPost.id) – Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Safari Ramadan 1447 Hijriah di Aula RSU UMM, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, dan sivitas akademika, dengan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama. Zen Amirudin menekankan bahwa ibadah bukanlah mekanisme transaksional, melainkan proses ketundukan dan keikhlasan. “Ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menyampaikan kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan, namun justru merasakan kegelisahan karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, menambahkan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. “Takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi,” katanya. Safari Ramadan di RSU UMM menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan integritas spiritual tenaga medis dan akademisi. Dengan tema “Ibadah Bukan Transaksi”, Safari Ramadan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. (lil).
Ibadah Bukan Transaksi. Safari Ramadan di RSU UMM Sentil Etika Tenaga Medis

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Komitmen meneguhkan nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan melalui Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama dan diikuti oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. Agenda tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga ruang refleksi bagi institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan dengan persoalan kemanusiaan. Ramadan dimaknai sebagai momentum menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, dan meluruskan orientasi pengabdian. Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional. Ia menyampaikan pesan tersebut melalui kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan. “Saya ingin mengangkat kisah seorang pemuda yang mencoba ‘menguji’ makna sedekah setelah mendengar tausiyah seorang ustaz. Karena dorongan ingin membuktikan kebenaran secara cepat, ia menyedekahkan seluruh uang yang dimilikinya dengan harapan balasan akan datang seketika. Namun yang ia rasakan justru kegelisahan, karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya Menurutnya, ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika seseorang beramal hanya demi imbalan cepat, maka yang muncul adalah kekecewaan. Sebaliknya, jika amal dilakukan sebagai bentuk kepatuhan dan penghambaan, ketenangan akan hadir tanpa perlu menunggu balasan. Ramadan, kata dia, mengajarkan proses itu secara bertahap melalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Tahap awal adalah kesadaran normatif bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap yang lebih matang, seseorang mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa tidak dipandang sebagai privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini, menurutnya, sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menambahkan, kepatuhan bukan bentuk kelemahan, melainkan fondasi karakter yang mencegah penyalahgunaan wewenang. Di rumah sakit, sikap patuh pada nilai dan etika menjadi penyangga profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Zen juga menekankan bahwa ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif dan preventif. Artinya, ajaran tersebut tidak hanya mengatur batasan benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Dalam konteks rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, dan kepercayaan publik. Karena itu, Ramadan harus menjadi ruang evaluasi agar profesionalisme berjalan seiring dengan integritas spiritual. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Ia menegaskan bahwa takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi, termasuk di bidang pendidikan dan layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran, baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi.(ANS)
Langit Memerah di UMM, HKI Tegaskan Gerhana Bukan Sekadar Fenomena Sains

KETIK, MALANG – Fenomena gerhana bulan total tak hanya menjadi peristiwa langit biasa bagi sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum tersebut dimaknai lebih dalam sebagai ruang integrasi antara sains dan keimanan. Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam (FAI) UMM menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM, Selasa, 3 Maret 2026 pukul 16.00–21.00 WIB. Kegiatan ini diikuti mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari pembelajaran ilmu falak yang dikemas secara reflektif. Dosen Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa observasi ini bukan sekadar agenda melihat fenomena astronomi, tetapi juga penguatan dimensi spiritual mahasiswa. “Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami gerhana sebagai fenomena sains yang kering dari makna. Melalui observasi langsung, mereka belajar bahwa sains dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keimanan, melainkan sarana untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT,” ujarnya. Menurutnya, pendidikan Islam tidak cukup berhenti pada teori pergerakan benda langit dan hitungan astronomis. Lebih dari itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa setiap fenomena alam memiliki pesan ketuhanan yang menguatkan iman. Ia menambahkan, pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter akademik yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. “Inilah esensi pendidikan yang ingin kami hadirkan mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan komitmen keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi cahaya bulan. Proses tersebut dapat dijelaskan secara rasional melalui kajian astronomi. Namun dalam perspektif Islam, gerhana juga menjadi momen untuk memperbanyak dzikir, doa, dan melaksanakan shalat khusuf. Tanzil menegaskan bahwa shalat khusuf merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan saat terjadi gerhana. Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Melalui hadis tersebut, ia menekankan bahwa gerhana bukanlah pertanda mistis ataupun berkaitan dengan nasib seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah SWT yang patut disikapi dengan ibadah dan refleksi diri. Lewat kegiatan observasi ini, Prodi HKI UMM berharap mahasiswa tidak hanya memahami gerhana sebagai fenomena astronomi, tetapi juga sebagai panggilan spiritual untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah SWT. (*)
Paradoks Keberagamaan: Ibadah Ramai, Moral Sosial Melemah

Aktivitas ibadah umat kian meningkat, tetapi korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan belum juga mereda. Karena itu, takwa tidak boleh berhenti pada ritual, melainkan harus menghadirkan dampak sosial yang nyata. Tagar.co — Orang pintar yang tidak dibimbing ketakwaan kepada Allah Swt. dapat menjadi bencana bagi dunia. Pesan itu disampaikan Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., dalam Pengajian Perserikatan dan Peningkatan SDM bertema Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026). Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut menegaskan bahwa ibadah, khususnya puasa Ramadan, tidak boleh berhenti pada ritual tahunan. Ibadah harus melahirkan energi moral yang berdampak pada kehidupan sosial dan peradaban. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya di hadapan peserta pengajian. Menurut Dadang, Ramadan merupakan momentum konsolidasi vertikal kepada Allah sekaligus penguatan horizontal untuk menjangkau dan memuliakan sesama. Takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus terinternalisasi dalam karakter sosial. Baca Juga: Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Jatim Resmi Guru Besar, Ini Gagasannya tentang Nilai-Nilai Dasar Ekosistem Sekolah Ia menegaskan, salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Orang bertakwa, lanjutnya, ditandai dengan sikap dermawan, mampu menahan amarah, serta mudah memaafkan. “Problem besar umat hari ini bukan pada minimnya ritual, melainkan lemahnya dampak sosial dari keberagamaan,” tegasnya. Dadang menilai realitas tersebut melahirkan paradoks: aktivitas ibadah meningkat, tetapi tidak selalu sejalan dengan menurunnya korupsi, ketidakadilan, maupun krisis kemanusiaan. Dalam konteks itu, sekularisasi tidak semata dipahami sebagai pemisahan agama dan dunia, melainkan kegagalan menghadirkan nilai-nilai ilahiah di ruang publik. Karena itu, menurutnya, gagasan Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus tampil sebagai etos perubahan yang nyata menyentuh struktur sosial, bukan sekadar wacana normatif. Ia juga mengingatkan pentingnya integritas intelektual. Al-Qur’an, kata Dadang, tidak pernah mengajarkan kebencian, merendahkan, atau mencaci orang lain. Ilmu tanpa iman, lanjutnya, dapat melahirkan kesombongan bahkan kehancuran. Ia mencontohkan kemajuan teknologi yang melahirkan senjata pemusnah massal sebagai bukti bahwa kecerdasan tanpa nilai takwa dapat berujung pada malapetaka. “Kalau intelektualitas tidak disertai integritas, ia bisa menjadi alat manipulasi,” ujarnya. Dalam konteks peningkatan sumber daya manusia (SDM), Dadang menekankan pentingnya membangun tradisi membaca dan belajar. Rendahnya literasi, menurutnya, menjadi salah satu penyebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama dalam Al-Qur’an telah memerintahkan membaca sebagai jalan membangun peradaban. Karena itu, penguatan spiritualitas harus berjalan beriringan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. “SDM Muhammadiyah harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” tuturnya. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si dalam Pengajian Perserikatan dan Peningkatan SDM yang diikuti ratusan peserta di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026). Napas Gerakan Muhammadiyah Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa etos kerja dan kepedulian sosial merupakan napas gerakan Muhammadiyah yang harus terus dirawat. Ia menyebut Ramadan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat empati dan kerja sama lintas elemen kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar kampus tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Melalui momentum Ramadan, semoga kita diberi kekuatan hati untuk berbahu-bahu memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa,” ujarnya. Menurut Nazaruddin, pengajian tersebut tidak sekadar menjadi forum tausiyah, tetapi juga ruang konsolidasi nilai. “Di sini spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan sebagai wajah persyarikatan yang mencerahkan,” ujarnya. (*)
AS-Israel Serang Iran, Akademisi Soroti Wacana Mediasi Prabowo dan BoP

Malang, Beritasatu.com – Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto yang ingin memediasi negara-negara yang berperang. Dalam teori resolusi konflik, mediasi dinilai sulit dilakukan jika pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” ujarnya di Malang, Selasa (3/3/2026). Dion juga mendorong evaluasi posisi diplomatik Indonesia di forum internasional Board of Peace (BoP) pascaserangan Iran. Ia menilai kredibilitas forum perdamaian harus tercermin dari tindakan nyata anggotanya. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengeklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” kritiknya. Menurut Dion, Indonesia perlu bersikap lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional dan tidak sekadar mengikuti arus politik global. Dion menjelaskan konflik Iran dan Israel sudah berada pada level ancaman eksistensial. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit merasa aman selama pihak lawan dianggap ancaman utama. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebuntuan negosiasi nuklir Iran dengan Washington yang terjadi sejak tahun lalu, hingga akhirnya memicu serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran. Presiden Donald Trump, menurut Dion, mempertimbangkan isu pengayaan nuklir serta ancaman terhadap sekutu AS di Timur Tengah, terutama Israel dan pangkalan militer Amerika. Meski situasi memanas, Dion meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan konflik tersebut akan berujung pada Perang Dunia Ketiga. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” pungkasnya. Dion menegaskan eskalasi konflik saat ini masih berada dalam kerangka rivalitas regional, meski dampaknya bisa meluas ke sektor energi, pangan, dan stabilitas ekonomi global.
Konflik AS–Israel dengan Iran, Ancaman Inflasi dan Krisis Energi bagi Indonesia

RRI.CO.ID, Malang – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran dampak global, termasuk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P.,M.Hub.Int., Ph.D (cand.), menilai konflik yang terjadi bukan sekadar ketegangan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara. Menurtnya, hubungan Israel dan Iran selama ini berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Dalam konsep keamanan ontologis, kedua negara sulit mencapai rasa aman selama masing-masing masih memandang pihak lain sebagai ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran adalah ancaman bagi Israel, begitu pula sebaliknya. Selama satu pihak merasa keberadaan pihak lain mengancam, rasa aman tidak akan pernah tercapai. Karena itu, konflik seperti ini cenderung terus berulang,” katanya, Rabu (4/3/2026). Ia menjelaskan, eskalasi terbaru dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington yang telah berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi. Dion menyebut kebijakan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir yang dikhawatirkan berkembang menjadi senjata, tetapi juga pertimbangan keamanan sekutu Amerika di kawasan. “Pertimbangannya bukan hanya soal nuklir, tetapi juga kekhawatiran terhadap keamanan sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer AS di kawasan,” jelasnya. Meski demikian, ia meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa konflik ini akan berujung pada perang dunia. Menurutnya, proses menuju konflik global membutuhkan dinamika panjang dan kompleks. Informasi terkait dugaan keterlibatan negara besar seperti China, Rusia, maupun Korea Utara, kata dia, perlu diverifikasi secara cermat. “Tidak semua eskalasi regional otomatis menjadi perang dunia. Prosesnya sangat kompleks dan melibatkan banyak variabel politik serta ekonomi,” ujarnya. Dion juga menyoroti laporan penutupan Selat Hormuz sebagai perkembangan yang berpotensi memperparah situasi. Jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia. Jika distribusi energi global terganggu, dampaknya dapat memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang perekonomian internasional. “Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, ekonomi global akan terdampak signifikan. Tekanan ekonomi pada negara-negara besar bisa memengaruhi arah kebijakan luar negeri mereka,” katanya. Ia menyebut, Indonesia berpotensi merasakan dampak langsung terutama pada sektor energi dan pangan. Kenaikan harga minyak dunia dapat mendorong peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM), yang kemudian berimbas pada harga kebutuhan pokok dan inflasi. “Jika harga BBM naik, efek berantainya akan terasa pada harga bahan pokok. Inflasi menjadi risiko yang sulit dihindari,” ujarnya. Terkait sikap pemerintah Indonesia, Dion menilai tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto perlu dipertimbangkan secara matang. Dalam teori resolusi konflik, mediasi umumnya dilakukan setelah kekerasan mereda. “Secara teori, mediator hadir ketika kekerasan berhenti. Jika pertempuran masih berlangsung, tawaran mediasi akan sulit efektif,” katanya. Ia juga mendorong Indonesia mengevaluasi posisi diplomatiknya dalam forum internasional yang berfokus pada perdamaian. Menurutnya, kredibilitas lembaga internasional harus tercermin dari konsistensi antara komitmen dan tindakan para anggotanya. Sebagai langkah strategis, Dion menyarankan Indonesia mengambil sikap diplomatik yang tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia tidak boleh takut bersikap tegas. Jika hukum internasional terus diabaikan, bukan tidak mungkin negara lain akan menjadi korban berikutnya,” pungkasnya.
Unik! Prodi Agribisnis UMM Bagikan Ratusan Paket Takjil Berupa Sayur Siap Masak

INDOZONE.ID – Jika biasanya tradisi berbagi takjil identik dengan makanan siap santap atau minuman manis, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru membagikan paket sayuran segar kepada para pengguna jalan. Inisiatif unik ini bertujuan untuk mengajak masyarakat berbuka puasa dengan pola makan yang lebih sehat. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud nyata dari implementasi ilmu agribisnis. Menurutnya, ilmu yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah tidak boleh hanya berhenti pada teori akademik, tetapi harus mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung kepada masyarakat luas. Inovasi Paket Sayur Berbasis Menu Salah satu daya tarik utama dari aksi sosial tersebut adalah cara pengemasannya yang sangat praktis. Mahasiswa tidak memberikan sayuran secara acak, melainkan telah mengelompokkannya ke dalam paket-paket menu masakan tertentu. Setiap kantong plastik sudah berisi bahan lengkap untuk membuat hidangan spesifik, seperti sayur sop, sayur asem, sayur bayam, hingga capcay. Konsep yang dibuat sengaja dirancang agar para penerima bisa langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat tanpa perlu repot mencari bahan tambahan lagi. Melalui langkah ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan hanya soal memproduksi komoditas, tetapi juga tentang menjadi solusi bagi ketahanan pangan dan penggerak gaya hidup sehat di masyarakat. Kolaborasi dengan Dunia Industri Keberhasilan pembagian sayur juga tidak lepas dari dukungan PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut merupakan mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellence (CoE) di UMM. Kualitas sayuran yang dibagikan tetap terjaga, sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk memahami alur rantai pasok agribisnis secara nyata di lapangan. Zul Mazwan menambahkan, bahwa kegiatan ini membawa pesan penting mengenai keberlanjutan dan pemberdayaan produk lokal. “Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” jelasnya. Antusiasme warga tergolong sangat tinggi. Sebanyak kurang lebih 200 paket sayur yang disiapkan oleh para mahasiswa ternyata tak butuh waktu lama untuk ludes. Respon positif dari masyarakat membuktikan bahwa inovasi berbagi bahan pangan segar sangat diminati sebagai alternatif takjil konvensional. Ke depannya, Agribisnis UMM akan melanjutkan inovasi serupa. Program ini diharapkan menjadi ciri khas kampus dalam menyatukan kontribusi akademik, kemitraan industri, dan nilai-nilai kemanusiaan, terutama di bulan suci Ramadan.
Pengajian Persyarikatan di UMM Soroti Krisis Moral, Ibadah Harus Berdampak Sosial

Pengajian Persyarikatan di UMM Soroti Krisis Moral, Ibadah Harus Berdampak Sosial INFOMU.CO | Malang – Orang pintar tanpa bertakwa kepada Allah SWT bisa menjadi bencana bagi dunia. Hal itu ditegaskan langsung oleh Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., dalam Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM bertema Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat, 27 Februari 2026. Pria yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menekankan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban. Baginya, Ramadhan adalah momentum konsolidasi vertikal kepada Allah sekaligus penguatan horizontal untuk menjangkau dan memuliakan sesama. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus terinternalisasi menjadi karakter sosial. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Di situlah agama benar-benar hidup dalam realitas, bukan sekadar simbol. “Problem besar umat hari ini bukan pada minimnya ritual, melainkan pada lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Paradoks meningkatnya aktivitas ibadah yang tidak selalu berbanding lurus dengan menurunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Dalam konteks itu, sekularisasi dipahaminya bukan sekadar pemisahan agama dan dunia, melainkan kegagalan menghadirkan nilai ilahiah di ruang publik. Karena itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus tampil sebagai etos perubahan yang menyentuh struktur sosial, bukan hanya wacana normatif,” tegasnya. Dadang sapaan akrabnya mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kebencian, apalagi merendahkan dan mencaci orang lain. Dari sinilah pentingnya integritas intelektual ditegaskan. Ilmu tanpa iman, menurutnya dapat melahirkan kesombongan bahkan kehancuran. Ia mencontohkan bagaimana kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak dibimbing nilai takwa. Kalau intelektualitas tidak disertai integritas, ia bisa menjadi alat manipulasi. Menautkan langsung dimensi spiritualitas dan intelektualitas dalam tema pengajian tersebut. “Dalam konteks peningkatan SDM, dapat ditekankan bahwa tradisi membaca dan belajar merupakan fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu sebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. Karena itu, penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. SDM Muhammadiyah, harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa etos kerja dan kepedulian sosial adalah napas Muhammadiyah yang harus terus dirawat. Ia menyebut Ramadhan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat empati dan kerja sama lintas elemen kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar kampus tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Melalui momentum Ramadhan, semoga kita diberi kekuatan hati untuk berbahu-bahu memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa. Pengajian ini pun tidak sekadar menjadi forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai tempat spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan sebagai wajah persyarikatan yang mencerahkan,” pungkasnya.(*)