Food Waste Program Makan Bergizi Gratis Disorot, Akademisi Nilai Penyaluran Perlu Lebih Tepat Sasaran

Food Waste Program Makan Bergizi Gratis Disorot, Akademisi Nilai Penyaluran Perlu Lebih Tepat Sasaran Tingginya limbah makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis menjadi sorotan. Akademisi menilai program tersebut perlu lebih tepat sasaran dan disertai edukasi agar makanan tidak terbuang sia-sia. MALANG – Salah satu persoalan yang mulai mendapat sorotan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah tingginya sisa makanan atau food waste. Ironisnya, sebagian besar limbah tersebut merupakan edible food, yakni makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi. Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan sekitar 1,1 hingga 1,4 juta ton limbah makanan dari program MBG terbuang. Dari jumlah tersebut, sekitar 451 ribu hingga 603 ribu ton di antaranya merupakan makanan yang masih bisa dimakan. Melansir dari The Conversation berdasarkan penelitian Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan makanan dari program MBG banyak terbuang. Pertama adalah preferensi makanan, di mana sebagian siswa kurang menyukai menu tertentu seperti sayur, telur rebus, atau buah dengan tekstur tertentu. Faktor kedua berkaitan dengan kesegaran bahan makanan. Dalam sejumlah temuan, sayur dan buah yang disajikan terkadang mengalami perubahan tekstur, warna, hingga bau. Sementara faktor ketiga adalah sistem pengelolaan sampah yang dinilai belum optimal. Menanggapi fenomena tersebut, akademisi sekaligus dokter Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. Febri Endra Budi S., M.Kes., FISPH., FISCM, menilai salah satu penyebab lainnya adalah penerima program yang belum sepenuhnya tepat sasaran. “MBG seharusnya difokuskan pada sekolah yang memang siswanya diketahui kurang gizi atau yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya. Baca juga Legenda Ken Dedes dan Joko Lulo, Mitos Pernikahan Polowijen–Dinoyo di Kota Malang Menurut dr. Febri, pemerintah perlu melakukan analisis lebih mendalam terhadap sekolah penerima program MBG, karena tidak semua sekolah memiliki kebutuhan yang sama. Bahkan, beberapa sekolah dari kalangan ekonomi menengah ke atas diketahui menolak program tersebut karena merasa mampu memenuhi kebutuhan makan siswanya secara mandiri. Hal ini juga sejalan dengan penelitian dari CELIOS yang menyebutkan bahwa distribusi program MBG secara merata dinilai kurang efisien dibandingkan program bantuan sosial lainnya seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), atau Program Indonesia Pintar (PIP). Penelitian tersebut merekomendasikan agar program MBG dijalankan secara lebih selektif dengan memprioritaskan anak-anak yang paling membutuhkan, seperti mereka yang mengalami malnutrisi atau stunting, hidup dalam kemiskinan ekstrem, serta tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dr. Febri menambahkan bahwa jika program MBG benar-benar diberikan kepada kelompok yang membutuhkan, potensi makanan terbuang dapat ditekan. “Jika diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, terutama yang bahkan kesulitan untuk makan sehari-hari, kemungkinan besar makanan tidak akan terbuang,” jelasnya. Harga Minyak Dunia Tembus US$113 per Barel, Ekonom UB Ingatkan Dampak Serius bagi Ekonomi Indonesia Ia juga menyarankan agar pengelolaan program MBG dapat melibatkan kantin sekolah. Menurutnya, pengelola kantin biasanya memiliki kedekatan dengan siswa sehingga lebih memahami selera dan kebutuhan mereka. Selain itu, sekolah juga dapat memberikan edukasi kepada siswa terkait manfaat menu makanan yang disajikan dalam program MBG. “Guru bisa menjelaskan, misalnya hari ini menunya ikan, ikan memiliki manfaat untuk membantu perkembangan otak,” pungkasnya. (*)

Patrol Sahur Kebalen Malang Semarak, UMM Sajikan Sahur Hotel Bintang Empat untuk Warga

  Malang (beritajatim.com) – Suasana dini hari di kawasan Kebalen Wetan Gang 8, Kota Malang, mendadak riuh dan semarak pada Minggu (8/3/2026). Ratusan warga mengikuti tradisi patrol sahur yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk). Kegiatan bertajuk Sahur Bareng Gerpakkk ini tidak hanya sekadar membangunkan warga untuk makan sahur, tetapi juga menghadirkan pengalaman sahur istimewa dengan menu standar hotel bintang empat. Selain itu, warga juga mendapat fasilitas edukasi literasi di tengah pemukiman padat penduduk. Lebih dari 300 warga dari berbagai usia antusias berkeliling kampung menyuarakan musik patrol. Warga Kebalen memiliki lagu patrol khusus yang menjadi identitas lokal dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga menciptakan harmoni yang kompak saat mengiringi langkah para peserta. Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya kampus untuk lebih dekat dengan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal selama Ramadan. “Kami ingin meramaikan budaya lokal. Selain ikut patrol, kami menghadirkan live cooking dengan menu dari hotel milik UMM, yaitu Rayz UMM Hotel. Semoga ini menjadi penyemangat warga untuk menjaga ibadah puasa,” ujarnya. Salah satu daya tarik utama kegiatan ini adalah penyajian lebih dari 300 porsi hidangan sahur premium. Warga berkesempatan mencicipi masakan standar hotel bintang empat yang dimasak langsung di lokasi melalui konsep live cooking. Sembari menunggu waktu imsak, warga juga disuguhi aktivitas literasi melalui kehadiran Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Perpustakaan keliling tersebut menyediakan ratusan koleksi buku bacaan yang dapat dinikmati anak-anak di lokasi kegiatan. Koordinator Mobil KaCa, Hassanalwildan, menjelaskan bahwa armada literasi tersebut aktif berkeliling di berbagai daerah sebagai bagian dari rangkaian program Ramadan. “Mobil KaCa aktif bergerak di berbagai titik, mulai dari agenda Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor,” paparnya. Kemeriahan acara juga dirasakan para ibu di kawasan Kebalen yang diajak mengikuti berbagai permainan interaktif dengan hadiah menarik berupa doorprize. Salah satu pemuda setempat, Naufal Adnan, mengaku senang dengan kolaborasi antara kampus dan masyarakat tersebut. Menurutnya, kehadiran fasilitas kampus di tengah lingkungan perkampungan memberikan warna baru bagi tradisi Ramadan di wilayah tersebut. “Sangat senang ada fasilitas lengkap seperti ini. Harapannya, UMM bisa terus berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain untuk membuat agenda unik, tidak hanya saat Ramadan saja,” pungkasnya. [dan/beq]

Dari Patrol ke Live Cooking: Inovasi Sahur UMM & Gerpakkk Hidupkan Budaya Lokal Malang Raya

MALANG POST – Tradisi patrol sahur yang melekat di hati masyarakat Indonesia kembali hidup malam itu. Di Kebalen Wetan Gang 8, wilayah Kebalen Wetan, 8 Maret 2026. Suasana sahur di bulan Ramadan terasa lebih bersahabat berkat inisiatif gabungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk). Mereka menampilkan sebuah patrol sahur yang unik. Tidak sekadar keliling kampung. Melainkan juga menghadirkan pengalaman kuliner dan edukasi yang menyemai nilai kebersamaan. Lebih dari sekadar ritual dini hari, kegiatan ini menarik perhatian lebih dari 300 warga yang ikut serta berkeliling kampung dengan irama lagu patrol khas setempat. Uniknya, lagu patrol tersebut telah dihafal hingga ke berbagai lapisan masyarakat, membuat suasana dini hari itu terasa semakin semarak dan kompak. Ritme kebersamaan melengkapi kesan hangat yang tumbuh sejak langkah pertama patrol. Aktivitas tidak berhenti pada keliling kampung. UMM menghadirkan pengalaman sahur premium di tengah permukiman warga melalui pertunjukan live cooking masakan kelas hotel bintang empat. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah wujud kontribusi kampus dalam meramaikan budaya lokal di bulan suci. “Selain ikut patrol, kami juga menyediakan live cooking dan makanan dari Rayz Hotel UMM, hotel kebanggaan kampus putih. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” ujarnya dengan penuh harap. Tak kurang dari 300 porsi hidangan disajikan dan dinikmati warga pada pagi hari itu. Sembari menunggu waktu imsak, warga mendapat fasilitas tambahan berupa perpustakaan keliling, Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Koordinator KaCa, Hassanalwildan, menyampaikan bahwa Mobil KaCa membawa ratusan buku bacaan yang menjadi hiburan edukatif bagi anak-anak. Tak ketinggalan, para ibu diajak ikut berpartisipasi dalam beragam games interaktif yang menyuguhkan doorprize menarik. “Sebelumnya, Mobil KaCa juga telah aktif keliling, menyediakan bacaan di berbagai kegiatan seperti Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor beberapa waktu lalu,” tambah wildan, sapaan akrabnya. Inovasi sahur bersama ini menuai respons positif dari warga setempat. Naufal Adnan, salah satu peserta patrol, mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran UMM yang membawa fasilitas menarik. Ia berharap kolaborasi semacam ini bisa terus diperluas dengan berbagai komunitas lain, sehingga agenda yang lebih unik bisa diselenggarakan tidak hanya pada momen Ramadan, tetapi juga di kala-kala istimewa lainnya. Transformasi sederhana dari tradisi patrol sahur menjadi sebuah peristiwa komunitas yang merangkum hiburan, edukasi, dan kehangatan sosial telah memberikan contoh nyata bagaimana kampus bisa berperan sebagai penggerak budaya lokal. Di tengah-tengah kebersamaan, warga Kebalen Wetan pun merasakan pesan Ramadan yang penuh makna: berbagi, menjaga solidaritas, dan merajut keterhubungan melalui sederet pengalaman yang tak terlupakan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Penyuluh Jadi Kunci Peningkatan Kompetensi Peternak

Ruang Menulis untuk Indonesia Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya. MALANG – Program Doktor Ilmu Pertanian Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meluluskan doktor baru.  Adil resmi meraih gelar Doktor setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka yang digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM, Malang. Promosi doktoral tersebut dilaksanakan di hadapan dewan penguji yang terdiri dari para profesor dan pakar di bidang pertanian dan ilmu sosial ekonomi pertanian. Sidang terbuka berlangsung khidmat dan akademis dengan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Sutawi, M.P, Assoc. Prof. Dr. Bambang Yudi Ariadi, MM, Dr. Sapar, S.E., M.Si, Assoc. Prof. Dr. Diah Karmiyati, Prof. Dr. Lili Zalizar, MS, dan Prof. Dr. Ir. Wahyu Widodo, MS. Para penguji memberikan pertanyaan kritis, masukan konstruktif, serta pendalaman akademik terhadap hasil penelitian yang dipaparkan. Latar Belakang Penelitian Sektor peternakan, khususnya komoditas sapi potong, memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Namun, rendahnya kompetensi peternak dalam aspek manajerial, teknis, dan pengembangan usaha masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Luwu. Di sisi lain, penyuluh pertanian dan peternakan merupakan ujung tombak pembangunan sumber daya manusia petani dan peternak. Kinerja penyuluh yang optimal diyakini mampu mempercepat adopsi inovasi, meningkatkan kapasitas usaha, dan mendorong kemandirian peternak. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi kinerja penyuluh serta dampaknya terhadap kompetensi peternak. Judul dan Fokus Disertasi Disertasi yang dipertahankan berjudul “Faktor Kinerja Penyuluh dan Pengaruhnya terhadap Kompetensi Peternak di Kabupaten Luwu.” Baca juga Tindakan Sosial Pengasuh Pondok Pesantren Tentang Bantuan Program Inkubasi Bumpes Penelitian ini berfokus pada analisis hubungan antara karakteristik penyuluh, motivasi kerja, pemanfaatan teknologi informasi, serta penggunaan media sosial terhadap kinerja penyuluh, dan bagaimana kinerja tersebut berdampak pada peningkatan kompetensi peternak sapi potong. Tujuan Penelitian Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kinerja penyuluh serta menguji peran kinerja penyuluh sebagai variabel mediasi dalam meningkatkan kompetensi peternak. Penelitian ini juga bertujuan menghasilkan model empiris yang dapat digunakan sebagai dasar perumusan kebijakan penguatan sistem penyuluhan peternakan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Objek penelitian meliputi penyuluh pertanian/peternakan dan peternak sapi potong di Kabupaten Luwu. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan langsung dan tidak langsung antarvariabel. Analisis ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi peran mediasi kinerja penyuluh dalam model penelitian. Baca juga Wali Kota Malang Tutup Semarak Ramadan Berbagi BPKH dengan Pantun Hasil atau Temuan Utama Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik penyuluh, motivasi kerja, pemanfaatan teknologi informasi, dan penggunaan media sosial berpengaruh signifikan terhadap kinerja penyuluh. Selanjutnya, kinerja penyuluh terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi peternak. Temuan paling penting dalam disertasi ini adalah teridentifikasinya kinerja penyuluh sebagai variabel mediasi yang memperkuat hubungan antara faktor internal dan eksternal penyuluh dengan peningkatan kompetensi peternak. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi faktor klasik (karakteristik dan motivasi) dengan faktor kontemporer (teknologi informasi dan media sosial) dalam satu model struktural yang komprehensif. Hasil ini menunjukkan bahwa transformasi digital dalam penyuluhan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi elemen penting dalam meningkatkan efektivitas kerja penyuluh dan kapasitas peternak di era modern. Manfaat dan Kontribusi Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan teori penyuluhan pertanian dengan memperkuat konsep kinerja penyuluh sebagai variabel mediasi dalam model peningkatan kompetensi peternak. Baca juga Banyaknya Polemik MBG, Akademisi UMM Soroti Kurangnya Monitoring dan Evaluasi Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah, dinas pertanian, dan lembaga penyuluhan dalam merancang program peningkatan kapasitas penyuluh, termasuk pelatihan berbasis teknologi informasi dan optimalisasi media sosial sebagai sarana komunikasi penyuluhan. Implementasi model ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, serta kesejahteraan peternak. Penutup Dalam ujian terbuka tersebut, dewan penguji memberikan apresiasi atas kontribusi ilmiah dan relevansi praktis penelitian yang diangkat. Dengan keberhasilan ini, Adil resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Pertanian. Hasil penelitian ini sudah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi serta akan direkomendasikan sebagai rujukan kebijakan penguatan sistem penyuluhan peternakan di tingkat daerah maupun nasional. Diharapkan, model yang dihasilkan dapat menjadi pijakan strategis dalam membangun sektor peternakan yang lebih modern, adaptif, dan berdaya saing. *** *) Oleh: Adil, Mahasiswa Program Doktor Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.

UMM dan Gerpakkk Hidupkan Tradisi Patrol Sahur, Warga Nikmati Sahur Premium di Kampung

Keseruan Tradisi Patrol Sahur yang dilaksanakan oleh UMM dan Gerpakkk. (Ist) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk) menggelar patrol sahur di kawasan Kebalen Wetan Gang 8 pada 8 Maret lalu. Diikuti Lebih dari 300 Warga Kegiatan ini menarik partisipasi lebih dari 300 warga yang ikut berkeliling kampung bersama. Suasana semakin meriah karena masyarakat setempat memiliki lagu patrol khas yang hampir dihafal oleh seluruh warga. Kemeriahan acara tidak hanya berlangsung saat patrol keliling kampung. UMM juga menghadirkan pengalaman sahur berbeda melalui pertunjukan live cooking dengan menu hidangan standar hotel bintang empat di tengah lingkungan warga. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus dalam mendukung dan meramaikan tradisi lokal di bulan Ramadan. Inisiatif ini diharapkan dapat mempererat kebersamaan sekaligus menambah semangat masyarakat menjalankan ibadah puasa. “Selain ikut patrol, kami juga menyediakan live cooking dan makanan dari hotel yang kampus putih miliki, yakni Rayz Hotel UMM. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” tegas Maharina. Tercatat lebih dari 300 porsi hidangan sahur disajikan bagi warga yang mengikuti kegiatan tersebut. Antusiasme masyarakat terlihat sejak dini hari saat menikmati menu sahur bersama di tengah suasana kampung. Perputakaan Keliling KaCa UMM Hadir Berikan Kegiatan Literasi Sambil menunggu waktu imsak, warga juga disuguhi kegiatan literasi melalui kehadiran perpustakaan keliling Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Fasilitas ini membawa ratusan buku yang dapat dibaca oleh anak-anak maupun masyarakat sekitar. Koordinator Mobil KaCa, Hassanalwildan, menjelaskan bahwa layanan tersebut sering hadir di berbagai kegiatan sosial dan literasi. Kehadirannya dalam acara sahur patrol diharapkan dapat menjadi hiburan edukatif bagi warga. “Sebelumnya, Mobil KaCa ini juga sudah aktif keliling menyediakan bacaan di berbagai kegiatan seperti Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor beberapa waktu lalu,” tambah wildan sapaan akrabnya. Games dan Hadiah Menarik Undang Antusias Warga Selain literasi untuk anak-anak, panitia juga mengadakan permainan interaktif bagi para ibu. Beragam games dengan hadiah menarik turut memeriahkan suasana sahur bersama. Kegiatan sahur kolaboratif ini mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat setempat. Warga menilai kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman Ramadan yang berbeda sekaligus mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat. Naufal Adnan, salah satu peserta patrol, mengaku senang dengan berbagai fasilitas yang dibawa oleh UMM dalam kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dengan melibatkan lebih banyak komunitas di masa mendatang. (Djoko W) Gerpakkk Tradisi Patrol Sahur UMM Editor: Ainun Muslihatun Najibah Rozi

Puluhan Tahun Bersama Pers, Rektor UMM Tegaskan Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Media.

Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi perubahan besar dalam dunia media, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media menjadi sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi. Dari proses tersebut lahir berbagai pemikiran yang dapat mendorong perubahan sosial. Universitas juga menjadi ruang penting untuk merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Ia menambahkan bahwa hubungan UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. Perkembangan media yang terus berubah juga memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Meski begitu, komitmen UMM untuk menjalin kolaborasi dengan insan pers tetap sama. Menurutnya, keberadaan media turut membawa UMM berkembang menjadi universitas yang berdampak. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut harus dilandasi niat tulus untuk berbuat baik tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, kerja keras juga menjadi nilai penting yang sering kali diabaikan dalam proses pembangunan. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya. (faq)     Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Lewat Sahur On The Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur dan Barbeque di Pinggir Jalan

Sahur di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari, 5 Maret 2026. Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara civitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan Sahur On The Road untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat di tengah kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat. Konsep barbeque ini sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” ujarnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Safari Ramadan RSU UMM Tekankan Ketulusan Tenaga Medis

Malang (beritajatim.com) – Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) melaksanakan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU UMM, Selasa (3/3/2026). Jajaran tenaga medis dan pimpinan diajak untuk merefleksikan kembali makna pengabdian yang jauh dari sekadar logika untung-rugi. Kegiatan ini menghadirkan Zen Amirudin sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, ia menyoroti fenomena logika transaksional yang kerap menyusup dalam niat beribadah maupun bekerja, yang jika dibiarkan dapat menggerus etika profesionalisme di ruang publik seperti rumah sakit. Dr. Zen Amirudin mengawali paparannya dengan sebuah analogi tentang seorang pemuda yang mencoba menguji kekuatan sedekah. Pemuda tersebut memberikan seluruh hartanya dengan harapan mendapatkan balasan instan dari Tuhan, namun justru berakhir dengan kegelisahan karena ekspektasinya tidak terpenuhi seketika. “Ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional. Ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima,” tegas Zen di hadapan sivitas akademika dan tenaga kesehatan UMM. Menurutnya, jika seorang tenaga medis atau pegawai bekerja hanya demi imbalan cepat atau pengakuan materiil, maka yang akan muncul adalah kekecewaan saat ekspektasi tidak tercapai. Sebaliknya, Ramadan mengajarkan ketundukan dan keikhlasan. “Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah. Dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” tambahnya. Lebih lanjut, Zen menjelaskan bahwa dalam lingkungan pelayanan kesehatan, kepatuhan pada nilai dan etika bukan sekadar formalitas, melainkan penyangga kemanusiaan. Ia membagi tingkatan kesadaran manusia dalam memandang kuasa dan tanggung jawab sebagai kesadaran bahwa setiap amanah memiliki konsekuensi moral. Kedua, seseorang menjalankan peran tanpa dorongan kepentingan pribadi atau privilese, melainkan sebagai kewajiban etis. “Ajaran Islam tentang kuasa bersifat preventif. Ini membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Di rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien dan integritas profesi,” jelasnya. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menekankan bahwa Ramadan harus dipandang sebagai momentum pembangunan peradaban. Ia mengingatkan bahwa nilai takwa semestinya bertransformasi menjadi energi positif dalam etos kerja dan disiplin. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, baik itu materi, waktu, pikiran, maupun komitmen untuk memperbaiki kualitas diri,” ujar Prof. Nazaruddin. Ia berharap semangat Safari Ramadan ini mampu menjaga konsistensi RSU UMM sebagai pusat pelayanan kesehatan yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki kedalaman integritas spiritual. (dan/kun)