Puasa Jadi Instrumen Pengendali Kuasa
Polemik Prioritas Beasiswa LPDP Pentingnya Integrasi STEM dan Ilmu Sosial-Humaniora
Polemik Prioritas Beasiswa LPDP: Pentingnya Integrasi STEM dan Ilmu Sosial-Humaniora

Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si. (Foto: Istimewa) MALANG POST – Kebijakan Beasiswa LPDP yang memprioritaskan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dibandingkan ilmu sosial-humaniora menuai sorotan tajam dari Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si. Ia menegaskan bahwa polemik LPDP yang belakangan ramai diperbincangkan tidak bisa dibaca semata sebagai kebijakan teknis pendidikan. Melainkan sebagai refleksi arah pembangunan nasional yang sedang dipertaruhkan. Terutama dalam cara negara memaknai peran ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. “Peristiwa yang ramai soal LPDP itu menjadi evidence sosial bahwa ada yang perlu dibenahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.” Melihat fenomena sebagian penerima beasiswa yang setelah lama menempuh studi di luar negeri justru merasa lebih nyaman menetap di sana dan perlahan menjauh dari ikatan kebangsaan.” “Itu bukan sekadar persoalan individu, tetapi tanda bahwa orientasi pembangunan dan penguatan nasionalisme kita belum sepenuhnya kokoh,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa prioritas terhadap STEM lahir dari paradigma lama yang menganggap ilmu eksakta sebagai motor utama pembangunan ekonomi. Sementara ilmu sosial dan humaniora ditempatkan sebagai pelengkap yang tidak mendesak. Padahal dalam perspektif sosiologi pembangunan, sejatinya tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan angka dan kemajuan teknologi. Tetapi juga menyangkut pembentukan etika publik, kesadaran kolektif, serta kohesi sosial yang menjadi fondasi keberlanjutan sebuah bangsa. “Paradigma dikotomi antara eksakta dan sosial itu harus diubah karena tidak mungkin ilmu sosial diabaikan dalam mengawal pembangunan.” “Karena menekankan bahwa ilmu sosial-humaniora berfungsi mengasah kepekaan nurani dan membangun keseimbangan antara rasionalitas, iman, dan nilai kemanusiaan.” “Ilmu sosial itu menyentuh hati, menyentuh religiositas atau spiritualitas, sehingga manusia tidak hanya cerdas secara teknis tetapi juga matang secara moral,” tegasnya. Wahyudi juga melihat bahwa orientasi pembangunan Indonesia tidak berdiri sendiri. Melainkan mengikuti arus global sejak era Millennium Development Goals hingga Sustainable Development Goals. Di mana arah kebijakan nasional kerap selaras dengan prioritas lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank yang secara tidak langsung memengaruhi strategi penyiapan sumber daya manusia berbasis kebutuhan pasar global dan daya saing ekonomi. “Risikonya, kita hanya menjadi potret dari pemikiran dunia, bukan perumus arah kita sendiri melainkan struktur sosial yang timpang.” “Mobilitas vertikal akan semakin sulit dijangkau oleh kelompok kelas menengah ke bawah jika akses pendidikan unggul dan jejaring global hanya terbuka bagi segelintir orang.” “Sehingga kesenjangan sosial-ekonomi berpotensi melebar sebagai konsekuensi logis dari pembangunan yang kurang sensitif terhadap realitas kelas,” ujarnya. Ia pun mengingatkan bahaya lahirnya generasi teknokratik yang kaku apabila dominasi STEM tidak diimbangi perspektif humanistik, dengan merujuk pada positivisme Auguste Comte yang terlalu menekankan rasionalitas empiris. Menurutnya, jika hanya berpikir positifistik, orang bisa kehilangan sensitivitas kemanusiaan dan terjebak pada parameter-parameter rasional semata, padahal manusia harus tetap berjalan di wilayah kemanusiaannya. “Maka dari itu, negara perlu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan penguatan nilai melalui paradigma profetik sebagaimana diperkenalkan Kuntowijoyo.” “Karena pembangunan tidak cukup berhenti pada aturan, strategi, dan target pertumbuhan, tetapi harus menyentuh hakikat keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, serta martabat manusia sebagai tujuan akhir,” ujarnya. Pada akhirnya, Wahyudi mengingatkan bahwa LPDP dan kebijakan pendidikan nasional seharusnya tidak terjebak pada logika angka dan pertumbuhan ekonomi semata. Sebab tanpa sentuhan nilai dan kepekaan sosial, pembangunan hanya akan melahirkan generasi yang unggul secara teknis tetapi miskin empati. Sementara tujuan sejati pembangunan adalah memerdekakan dan memartabatkan manusia Indonesia secara utuh(M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Beasiswa LPDP dan Dominasi STEM, Akademisi UMM Ingatkan Pentingnya Humaniora

Guru Besar UMM, Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Kebijakan beasiswa LPDP yang memprioritaskan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dibandingkan ilmu sosial-humaniora memantik perhatian akademisi. Salah satunya datang dari Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si. Menurut Wahyudi, polemik beasiswa LPDP tidak bisa dibaca semata sebagai kebijakan teknis pendidikan. Ia menilai, arah prioritas tersebut mencerminkan orientasi pembangunan nasional yang tengah dipertaruhkan, terutama dalam memaknai peran ilmu pengetahuan di tengah arus globalisasi. “Ramainya beasiswa LPDP itu menjadi evidence social, bahwa ada yang perlu dibenahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa fenomena sebagian penerima beasiswa yang setelah lama studi di luar negeri justru merasa lebih nyaman menetap. Menurutnya ini bukan persoalan individu, tetapi cerminan bahwa penguatan nasionalisme belum sepenuhnya kokoh. Pentingnya Sentuhan Teknokratik dan Humanistik Wahyudi menjelaskan, prioritas STEM lahir dari paradigma lama yang menempatkan ilmu eksakta sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, ilmu sosial-humaniora kerap diposisikan sebagai pelengkap. Padahal, dalam perspektif sosiologi pembangunan, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan dan lompatan teknologi. “Pembangunan juga menyangkut pembentukan etika publik, kesadaran kolektif, dan kohesi sosial. Ilmu sosial-humaniora berfungsi mengasah kepekaan nurani dan menjaga keseimbangan antara rasionalitas, iman, serta nilai kemanusiaan,” tegasnya. Ia mengingatkan, dikotomi antara eksakta dan sosial harus diakhiri. Dominasi pendekatan teknokratik tanpa sentuhan humanistik berpotensi melahirkan generasi yang unggul secara teknis, tetapi rapuh secara moral. Wahyudi bahkan merujuk pemikiran Auguste Comte tentang positivisme yang menekankan rasionalitas empiris. Jika diterapkan secara kaku, pendekatan itu bisa mengikis sensitivitas kemanusiaan. “Manusia tidak cukup berpikir rasional-empiris. Ia harus berpijak pada nilai dan kemanusiaannya,” imbuhnya. Perluas Akses Pendidikan Lebih jauh, ia menilai orientasi pembangunan Indonesia tak lepas dari arus global sejak era MDGs hingga SDGs. Kebijakan nasional, termasuk strategi penyiapan sumber daya manusia, sering kali selaras dengan kebutuhan pasar global dan daya saing ekonomi internasional. Risikonya, akses pendidikan unggul dan jejaring global hanya dinikmati kelompok tertentu. Mobilitas sosial bagi kelas menengah ke bawah menjadi semakin terbatas, sehingga kesenjangan sosial-ekonomi berpotensi melebar. Karena itu, ia mendorong negara menyeimbangkan inovasi teknologi dengan penguatan nilai. Wahyudi menyebut paradigma profetik ala Kuntowijoyo sebagai salah satu rujukan penting, yakni pembangunan yang tidak berhenti pada target pertumbuhan, tetapi menyentuh keadilan sosial dan martabat manusia. “Beasiswa LPDP seharusnya tidak terjebak pada logika angka dan pertumbuhan ekonomi semata. Tanpa sentuhan nilai dan kepekaan sosial, pembangunan hanya melahirkan generasi teknis yang miskin empati,” tandasnya.
Kelompok 14 KKN Berdampak Raih Nominasi Ter-Digital dalam Pameran Karya Inovasi di Universitas Muhammadiyah Malang

Pada kesempatan tersebut, Kelompok 14 KKN Berdampak yang mengabdi di Kampung Tematik Kampung Budaya Polowijen berhasil meraih nominasi Ter-Digital. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas upaya digitalisasi dan inovasi berbasis teknologi yang telah dilakukan dalam mendukung promosi serta penge (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG-Kegiatan Pameran Karya Inovasi KKN Berdampak sukses diselenggarakan pada Rabu, 25 Februari 2026, bertempat di halaman GKB 1 Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini menjadi ajang apresiasi sekaligus unjuk karya bagi seluruh kelompok KKN Berdampak yang telah melaksanakan program pengabdian di berbagai wilayah. Kegiatan diawali dengan pemaparan dan sambutan dari pihak kampus yang memberikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi yang solutif dan berkelanjutan bagi masyarakat. Setelah sesi pembukaan, suasana halaman GKB 1 dipenuhi dengan stand-stand pameran dari setiap kelompok. Masing-masing kelompok menampilkan hasil inovasinya melalui media poster berukuran A1 yang informatif dan menarik, serta mempresentasikan program unggulan yang telah dijalankan selama masa KKN. Pada kesempatan tersebut, Kelompok 14 KKN Berdampak yang mengabdi di Kampung Tematik Kampung Budaya Polowijen berhasil meraih nominasi Ter-Digital. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas upaya digitalisasi dan inovasi berbasis teknologi yang telah dilakukan dalam mendukung promosi serta penge (HO/KLIKTIMES.COM) Beragam inovasi dipamerkan, mulai dari pengembangan potensi desa, pemberdayaan UMKM, hingga digitalisasi kampung tematik. Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya mahasiswa dan dosen yang berkeliling mengunjungi setiap stand untuk mengetahui lebih jauh dampak program yang telah dilaksanakan. Kegiatan Pameran Karya Inovasi KKN Berdampak sukses diselenggarakan pada Rabu, 25 Februari 2026, bertempat di halaman GKB 1 Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini menjadi ajang apresiasi sekaligus unjuk karya bagi seluruh kelompok KKN Berdampak yang telah melaksanakan program pengabdian (HO/KLIKTIMES.COM) Pada kesempatan tersebut, Kelompok 14 KKN Berdampak yang mengabdi di Kampung Tematik Kampung Budaya Polowijen berhasil meraih nominasi Ter-Digital. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas upaya digitalisasi dan inovasi berbasis teknologi yang telah dilakukan dalam mendukung promosi serta pengembangan kampung budaya. Kebahagiaan dan rasa bangga terpancar dari Ki Demang selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen yang turut memberikan dukungan penuh terhadap program yang dijalankan mahasiswa. Begitu pula dengan seluruh anggota Kelompok 14 yang merasa sangat bersyukur dan terharu atas nominasi yang diraih. Penghargaan ini tidak hanya menjadi pencapaian bagi tim, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Kebahagiaan dan rasa bangga terpancar dari Ki Demang selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen yang turut memberikan dukungan penuh terhadap program yang dijalankan mahasiswa. Begitu pula dengan seluruh anggota Kelompok 14 yang merasa sangat bersyukur dan terharu atas nominasi yang diraih. (HO/KLIKTIMES.COM) Melalui kegiatan pameran ini, diharapkan semangat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dapat terus terjalin, serta inovasi-inovasi yang telah dihasilkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan di masa mendatang.
Konflik AS–Israel–Iran Picu Ancaman Inflasi, Pakar Hubungan Internasional UMM: Harga BBM Bisa Naik

Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P, menyebut konflik di Timur Tengah berpotensi memicu inflasi di Indonesia. (Foto: Humas UMM) Internasional KETIK, MALANG – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu dampak ekonomi hingga ke Indonesia. Eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut dinilai dapat mengganggu distribusi energi global dan mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P Ph.D. (cand.), menilai situasi yang memanas di kawasan strategis tersebut dapat berimbas pada lonjakan harga minyak dunia, terutama jika jalur distribusi energi terganggu. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang,” ujarnya, dilansir dari rilis UMM. Senin, 2 Maret 2026. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi menekan pasokan global dan memicu kenaikan harga energi. Menurut Dion, dampak gangguan yang terjadi di Selat Hormuz akan terasa langsung di dalam negeri. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” katanya. Ia menjelaskan, konflik yang terjadi bukan sekadar persoalan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang dipicu kebuntuan negosiasi nuklir serta persoalan keamanan kawasan. Meski demikian, ia meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa situasi ini akan berkembang menjadi perang dunia. “Banyak informasi yang beredar harus dicek dan ricek lagi. Proses menuju konflik global itu sangat kompleks,” ujarnya. Dion menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak ekonomi global, terutama dalam menjaga stabilitas harga energi dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian geopolitik. (*)
Pengamat UMM: Konflik AS Israel Iran Berpotensi Guncang Ekonomi Indonesia

Pengamat UMM: Konflik AS Israel Iran Berpotensi Guncang Ekonomi Indonesia, Foto: Ist/PWMU.CO pwmu.co – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekhawatiran dampak global, termasuk terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.Di tengah meningkatnya spekulasi publik soal kemungkinan perang berskala besar, pengamat menilai konflik tersebut bukan sekadar persoalan militer sesaat, melainkan akumulasi rivalitas panjang yang berakar pada persoalan keamanan eksistensial antarnegara. Rivalitas Eksistensial Israel–Iran Pakar hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int., Ph.D (cand.), menjelaskan bahwa hubungan Israel dan Iran sejak lama berada dalam situasi saling mengancam secara fundamental. Menurutnya, dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit mencapai rasa aman selama pihak lawan masih dianggap sebagai ancaman utama terhadap eksistensi negara. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya pada 2 Maret kepada Tim Humas UMM. Dion menilai, konflik ini bersifat struktural dan tidak mudah diselesaikan hanya melalui kesepakatan jangka pendek. Kebuntuan Nuklir dan Peran Donald Trump Eskalasi terbaru, lanjut Dion, dipicu kebuntuan negosiasi nuklir antara Iran dan Washington yang berlangsung sejak tahun sebelumnya. Dialog yang sempat berjalan kembali menemui jalan buntu hingga terjadi serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran di tengah proses diplomasi. Ia menyebut keputusan Presiden Donald Trump tidak hanya dipengaruhi isu pengayaan nuklir, tetapi juga tekanan keamanan kawasan. “Alasannya dua. Pertama soal pengayaan nuklir yang dikhawatirkan menjadi senjata. Kedua, Iran dianggap mengancam sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama Israel dan basis militer Amerika di kawasan,” katanya. Namun demikian, Dion mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menyimpulkan konflik ini akan berujung pada Perang Dunia Ketiga. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga, karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” ujarnya. Selat Hormuz dan Ancaman Ekonomi Global Situasi dinilai semakin berbahaya setelah jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz dilaporkan ditutup. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia. Penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang dampaknya dapat dirasakan hingga negara berkembang, termasuk Indonesia. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” kata Dion. Ia menjelaskan, terganggunya arus distribusi energi internasional dapat mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak pada harga bahan bakar dan kebutuhan pokok di Indonesia. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujarnya. Kritik terhadap Tawaran Mediasi Indonesia Terkait langkah pemerintah Indonesia, Dion juga mengkritisi tawaran mediasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, dalam teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan selama pertempuran masih berlangsung. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” katanya. Ia juga menyoroti posisi diplomatik Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BOP) pasca serangan terhadap Iran. Dion menilai kredibilitas forum perdamaian harus diukur dari konsistensi tindakan para anggotanya. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” ujarnya. Menurutnya, Indonesia perlu mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional. “Indonesia harus berani bersikap tegas dan tidak boleh takut terintimidasi. Kalau hukum internasional terus diinjak-injak, tinggal menunggu waktu negara lain juga bisa menjadi korban,” pungkasnya. Dampak Nyata bagi Indonesia Konflik di Timur Tengah bukan hanya isu regional, tetapi berpotensi membawa implikasi langsung bagi perekonomian nasional. Lonjakan harga energi, inflasi, hingga tekanan terhadap kebijakan luar negeri Indonesia menjadi risiko yang perlu diantisipasi sejak dini. Pengamat menilai, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi ekonomi serta strategi diplomasi yang terukur agar dampak konflik global tidak semakin membebani masyarakat. *) Penulis : Dion Maulana P *) Editor : Satria
Alumni UMM Tembus Karier Eropa, Jadi Engineer di Inggris

Alumni UMM Tembus Karier Eropa, Jadi Engineer di Inggris, Foto: Syariful Rizqi/PWMU.CO pwmu.co – Berkarier di kancah internasional menjadi impian banyak anak muda. Namun bagi Syariful Rizqi, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hal tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan realitas yang kini ia jalani.Pria yang akrab disapa Eki itu berhasil menembus pasar kerja Eropa sebagai Field Technical Engineer di perusahaan asal Inggris (UK). Ia mendapat penugasan klien onsite di Ukraina, Polandia, hingga kawasan Europe, Middle East, and Africa (EMEA). Tanggung Jawab Krusia Eki merupakan alumnus Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMM angkatan 2015. Dalam kesehariannya, ia memegang tanggung jawab penting memastikan operasional bisnis klien berjalan tanpa gangguan. Tugasnya meliputi penanganan masalah perangkat lunak dan perangkat keras, desktop support, hingga network troubleshooting di sejumlah kantor klien, khususnya di Polandia. “Tanggung jawab saya memastikan seluruh sistem pendukung kerja berjalan optimal. Prinsip kerja di sini menuntut ketepatan, kecepatan, dan efektivitas. Ada istilah zero mistake tolerance yang membuat saya harus benar-benar fokus dan teliti dalam setiap tugas,” ungkap Eki kepada tim humas pada 24 Februari. Standar profesional yang tinggi tersebut menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga dalam perjalanan karier globalnya. Pengalaman Internasional Kesuksesan Eki menembus karier internasional tidak lepas dari pengalaman yang ia bangun selama menempuh pendidikan di UMM. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan internasionalisasi melalui International Relations Office (IRO) UMM. Ia kerap memfasilitasi profesor dari luar negeri serta terlibat dalam proyek sosial kolaborasi mahasiswa lintas negara. “Pengalaman di UMM, terutama saat berinteraksi dengan mahasiswa dan pakar dari berbagai negara, sangat mengubah cara pandang saya. Jaringan internasional yang saya bangun saat itu masih memberikan dampak positif hingga perjalanan karier saya sekarang,” jelasnya. Menurut Eki, keterlibatan dalam kegiatan internasional sejak dini membentuk mental adaptif dan memperluas jejaring profesional yang sangat berguna saat memasuki dunia kerja global. Budaya Kerja Eropa Berbicara mengenai budaya kerja, Eki menyoroti perbedaan signifikan antara lingkungan kerja di Indonesia dan Eropa. Ia menilai aspek work-life balance sangat dijunjung tinggi. Rekan kerjanya menghargai waktu istirahat dan tidak bekerja pada hari libur. Selain itu, struktur organisasi serta deskripsi pekerjaan ditetapkan secara jelas. Karyawan memiliki batas tanggung jawab yang tegas dan berhak menolak tugas di luar kewenangannya. Sistem meritokrasi berjalan profesional, di mana penilaian kinerja berbasis kompetensi dan hasil kerja. Meski bekerja di lingkungan internasional yang kompetitif, Eki mengaku tidak mengalami culture shock berarti. Ia justru merasa lingkungan kerja yang suportif membantunya berkembang secara profesional. Pesan untuk Mahasiswa UMM Kepada mahasiswa UMM, Eki berpesan bahwa kemampuan teknis memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan. Menurutnya, sikap rendah hati, etika kerja, serta kemampuan komunikasi menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang di lingkungan global. “Konsistensi dalam sikap dan etika kerja inilah yang akhirnya membuat saya bisa bertahan dan terus berkembang bekerja di luar negeri,” pungkasnya. Kisah Eki menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia memiliki peluang besar bersaing di tingkat internasional, asalkan dibarengi kesiapan kompetensi, jaringan, dan karakter profesional yang kuat. *) Penulis : Faqih *) Editor : Satria
Perang Iran Memanas, RI Terancam Krisis Energi dan Pangan

Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, memprediksi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi dan pangan di Indonesia. Dion menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur energi strategis di Selat Hormuz dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. (Istimewa) Malang, Beritasatu.com – Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, memprediksi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi dan pangan di Indonesia. Dion menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur energi strategis di Selat Hormuz dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Menurutnya, gangguan distribusi minyak dunia akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dampaknya, harga kebutuhan pokok ikut terdongkrak dan berpotensi memicu inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujar Dion di Malang, Selasa (3/3/2026). Ia menjelaskan, penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut tidak hanya berdampak pada harga minyak dunia, tetapi juga dapat memicu perubahan kebijakan luar negeri negara-negara besar. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” jelasnya. Dion juga meminta pemerintah Indonesia mengantisipasi potensi lonjakan harga energi dan pangan akibat tekanan eksternal tersebut.
UMM Kenalkan Inovasi Pemanfaatan Trichoderma, Siswa Ubah Sampah Organik Jadi Kokedama

Siswa mengubah sampah organik jadi kokedama bersama tim Pengabdian UMM. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co – Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan bertajuk “Inovasi Pemanfaatan Trichoderma sp. dalam Proses Pre-Komposting untuk Pembuatan Kokedama sebagai Media Edukasi Lingkungan” di SMA Muhammadiyah 1 Malang.Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nasional terkait peningkatan volume sampah, khususnya limbah organik yang mendominasi komposisi sampah rumah tangga di Indonesia. Permasalahan sampah organik yang belum terkelola optimal menjadi tantangan serius dalam pembangunan berkelanjutan. Limbah sisa makanan dan dedaunan kerap berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pengolahan yang memadai. Melalui pendekatan bioteknologi sederhana, tim pengabdian memperkenalkan proses pre-komposting berbasis agen hayati Trichoderma sp. sebagai solusi percepatan dekomposisi sekaligus peningkatan kualitas kompos. Kegiatan ini dipimpin oleh Nur Izzatul Maulidah selaku ketua tim, bersama Agus Zainudin dan Wahid Muhammad Shodiq. Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan penyampaian materi di aula sekolah yang membahas urgensi pengelolaan limbah organik, konsep pre-komposting, serta peran mikroorganisme dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Siswa diperkenalkan teknik kokedama, yaitu metode penanaman tanaman tanpa pot dengan memanfaatkan media tanam berbasis kompos yang dibentuk menyerupai bola. “Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik tidak harus mahal dan rumit. Dengan memanfaatkan Trichoderma sp. dan bahan sederhana seperti nasi, jagung dan sebagainya, proses dekomposisi bisa dipercepat dan hasilnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam,” ujar Nur Izzatul Maulidah dalam sesi diskusi. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik yang dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama adalah perbanyakan Trichoderma sp. menggunakan media jagung. Inokulum yang telah dibuat kemudian disimpan untuk diamati pertumbuhannya satu minggu setelah kegiatan guna memastikan perkembangan jamur berjalan optimal. Tahap kedua berupa pembuatan kompos dari sampah rumah tangga dengan penambahan Trichoderma sp. sebagai aktivator. Boks pembuatan kompos yang digunakan dalam praktik tersebut ditempatkan di lingkungan sekolah agar proses pengomposan dapat terus berlangsung dan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan. Tahap ketiga adalah pembuatan kokedama menggunakan kompos hasil pengolahan. Siswa membentuk bola media tanam, membungkusnya dengan sabut kelapa, lalu menanam tanaman hias sehingga menghasilkan produk yang estetis dan bernilai guna. Hasil kokedama tersebut dibawa pulang oleh masing-masing siswa. Antusiasme terlihat jelas ketika para siswa dengan bangga menunjukkan hasil karya mereka. “Saya baru tahu kalau sampah rumah tangga bisa jadi media tanam yang bagus. Senang sekali bisa membuat kokedama sendiri dan membawanya pulang,” ungkap Shinta Dwi Aurora salah satu siswa peserta kegiatan. Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi dan refleksi untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi dan praktik yang telah dilakukan. Secara umum, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan pemahaman sekaligus membangun kesadaran lingkungan secara lebih efektif. Model edukasi lingkungan berbasis inovasi Trichoderma sp. dan pembuatan kokedama ini dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di berbagai sekolah di Indonesia. Selain sederhana dan berbiaya rendah, metode ini juga sejalan dengan upaya penguatan pendidikan karakter peduli lingkungan serta mendukung gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, inovasi kecil berbasis mikroorganisme ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam membangun budaya pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan di tingkat nasional.(*) *) Penulis : Wahid M. Shodiq *) Editor : Zahrah Khairani Karim