Aris, Alumnus UMM Di Balik Sistem Pengujian Bermotor Indonesia

Agro Redaksi – Keselamatan kendaraan bukan sekadar urusan teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab besar terhadap nyawa manusia. Di balik sistem pengujian kendaraan bermotor berstandar internasional yang kini dimiliki Indonesia, ada peran penting alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang ikut memastikan setiap kendaraan layak melaju di jalan raya. Wahana Aris Munandar namanya, lulusan Teknik Mesin UMM tahun 2016 yang kini dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Passive Safety BPLJSKB Kementerian Perhubungan. Aris, sapaannya, menjelaskan bahwa BPLJSKB merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Lembaga ini memiliki mandat strategis dalam pengujian tipe kendaraan bermotor di Indonesia. Pada 2025, BPLJSKB resmi mengoperasikan fasilitas Proving Ground berstandar internasional. Fasilitas ini menjadi tonggak peningkatan sistem pengujian kendaraan nasional. Salah satu fasilitas kuncinya adalah Laboratorium Passive Safety. Laboratorium ini berfokus pada pengujian keselamatan kendaraan. Pengujian meliputi kursi, sabuk pengaman, hingga uji tabrak mobil. Laboratorium Passive Safety menjadi satu-satunya di Indonesia yang mampu melakukan uji tabrak kendaraan secara komprehensif. “Peran utama laboratorium ini adalah memastikan kendaraan yang digunakan di Indonesia, baik produksi dalam negeri maupun impor, benar-benar memenuhi standar keselamatan yang tinggi,” ujar Aris. Kepercayaan memimpin laboratorium tersebut tidak lepas dari latar belakang akademiknya di Teknik Mesin UMM. Selama kuliah, Aris ditempa dengan mata kuliah dasar seperti mekanika kekuatan material, struktur, dan material teknik yang membentuk pola pikir analitis. Kompetensi tersebut kini menjadi fondasi penting dalam menganalisis hasil pengujian serta menentukan metode uji yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain akademik, pengalaman praktikum desain dan pemodelan tiga dimensi juga memberikan kontribusi nyata. Kemampuan membaca dan mengevaluasi desain kendaraan sebelum pengujian menjadi bagian penting dalam proses kerja di laboratorium. Di sisi lain, keterlibatannya dalam Unit Kegiatan Mahasiswa, seperti International Language Forum (ILF) dan Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM, memperkuat keterampilan komunikasi dan penulisan laporan teknis yang kini sangat dibutuhkan dalam kerja sama internasional. “UMM tidak hanya mengajarkan ilmu teknik, tetapi juga membiasakan kami berpikir sistematis, berani berdiskusi, dan mampu menyampaikan gagasan secara profesional,” terang Aris. Aris menilai nilai-nilai khas UMM, khususnya integrasi keilmuan dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, turut membentuk etos kerja yang jujur, bertanggung jawab, dan mandiri, serta menjadi kompas moral dalam kariernya sebagai ASN. Prinsip bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa harus diawasi menjadi bekal penting saat ia memasuki dunia kerja yang sarat regulasi dan hierarki. Pengalaman lintas sektor, dari industri manufaktur hingga pemerintahan, semakin menguatkan pandangannya bahwa lulusan teknik UMM memiliki ruang karier yang luas. Menurutnya, kementerian dan lembaga negara membutuhkan insan teknik yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter. “UMM membentuk kami untuk siap bekerja dan terus belajar di mana saja, sehingga bekal yang saya peroleh sejak kuliah membuat saya mampu memanfaatkan berbagai kesempatan pengembangan sumber daya manusia di pemerintahan. Mulai dari pelatihan hingga beasiswa double degree di UGM dan University of Leeds,” pungkasnya. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa Universitas Muhammadiyah Malang terus melahirkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap berkontribusi di berbagai sektor strategis, baik nasional maupun global. (Sfl/hms)

Rajin Meneliti dan Publikasi, Mahasiswa UMM Ini Terbang ke Portugal

Pengalaman menarik dirasakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini datang dari Marco Trisna Omar Farrasy, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2023 asal Tulungagung, yang berhasil lolos program beasiswa Erasmus dan merasakan studi di University of Minho, Portugal. Capaian tersebut diraih setelah melalui proses panjang, perjuangan, dan penuh tantangan. Sejak awal masa perkuliahan, Marco telah menaruh minat besar pada aktivitas berskala internasional. Ia aktif mencari berbagai peluang untuk memperoleh pengalaman yang memiliki exposure global, mulai dari mengikuti konferensi internasional hingga terlibat dalam kegiatan organisasi akademik dengan relasi internasional. Baginya, interaksi lintas budaya menjadi bekal penting untuk membentuk karakter, wawasan, serta daya saing di tingkat global. Keinginan untuk menempuh studi di luar negeri tidak berhenti sebatas mimpi. Marco mempersiapkan diri secara serius dengan membangun portofolio akademik dan non-akademik. Ia melengkapi curriculum vitae (CV) dengan berbagai pengalaman, mulai dari kegiatan organisasi, praktikum, hingga keterlibatan dalam forum ilmiah internasional. Seluruh pengalaman tersebut dijadikan sebagai modal untuk menunjukkan kapasitas, kredibilitas, serta komitmennya dalam dunia akademik. Proses pendaftaran program Erasmus yang dijalani Marco cukup kompleks. Selain memenuhi persyaratan dari UMM, ia juga harus mengikuti prosedur dari pihak universitas mitra. Tahapan yang dilalui meliputi pengajuan dokumen secara daring, seleksi wawancara, penyusunan learning agreement bersama program studi, hingga pembuatan motivation letter. Menurut Marco, motivation letter menjadi salah satu aspek paling krusial dalam proses seleksi. Ia menyusunnya dengan pendekatan naratif dan emosional, mengangkat latar belakangnya sebagai mahasiswa dari kota kecil di Jawa Timur. “Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun berasal dari daerah kecil, saya punya semangat besar untuk berkembang dan memberi dampak,” tuturnya. Selain menyusun dokumen, Marco juga menerapkan strategi dengan mengenali karakter kampus tujuan. Ia mempelajari profil University of Minho, komunitas riset, serta kesesuaiannya dengan minat dan pengalamannya yang juga ia tuangkan dalam motivation letter. Ia juga menambahkan ketertarikannya pada komunitas penelitian di kampus tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk memilih Minho sebagai destinasi studi. Selama menempuh pendidikan di Portugal, Marco mengambil sejumlah mata kuliah yang relevan dengan bidang Public Relations, seperti media literacy, marketing, dan specialized practice in public relations. Sistem pembelajaran yang diterapkan relatif serupa dengan UMM, yakni mengombinasikan teori dan praktik berbasis studi kasus. Menurut Marco perbedaannya terletak pada sistem evaluasi yang hanya diujikan pada Ujian Akhir Semester tanpa adanya Ujian Tengah Semester. Dalam proses adaptasi, Marco menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah kendala bahasa. Perkuliahan di Program Studi Komunikasi sebagian besar menggunakan bahasa Portugis. Meski demikian, ia bersyukur bahwa dosen pengajarnya sangat terbuka untuk dirinya dan selalu memberi kesempatan untuk diskusi lebih lanjut. Marco juga menambahkan bahwa keberadaan komunitas Erasmus Volunteer disana sangat membantunya dalam memahami materi perkuliahan. Sebagai mahasiswa yang aktif dan produktif, Marco telah mengikuti berbagai konferensi internasional. Ia kerap mempresentasikan hasil penelitiannya dalam forum diskusi akademik lintas kampus. Pengalaman tersebut tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis, analitis, dan komunikasi ilmiah. Tak hanya itu, prestasi lain yang tak kalah membanggakan adalah keberhasilannya dalam menembus publikasi internasional melalui Springer Book Chapter. Sebuah bab buku yang diterbitkan oleh penerbit internasional terkemuka. Melalui penelitian bibliometrik dan bibliografi analisis berbasis data Scopus, Marco memetakan tren penelitian sebelumnya untuk membantu para peneliti menemukan referensi yang relevan. Karyanya menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan budaya riset di kalangan mahasiswa. Bagi Marco, kesempatan belajar di luar negeri merupakan batu loncatan penting dalam membangun masa depan akademik dan profesional. Ia berharap pengalaman ini dapat membuka peluang karier sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani mencoba hal baru. “Saya ingin pengalaman ini menjadi stepping stone yang kuat untuk masa depan, sekaligus memotivasi teman-teman agar tidak takut mencari peluang internasional,” ujarnya. Menutup kisahnya, Marco berpesan kepada mahasiswa dan anak muda agar tidak minder dengan keterbatasan yang dimiliki. Ia mengajak generasi muda untuk mengenali potensi diri, memaksimalkan kemampuan, serta selalu menjadi versi terbaik dengan tidak membandingkan diri dengan orang lain. (rik/wil)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Aris, Alumnus UMM Di Balik Sistem Pengujian Bermotor Indonesia

Keselamatan kendaraan bukan sekadar urusan teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab besar terhadap nyawa manusia. Di balik sistem pengujian kendaraan bermotor berstandar internasional yang kini dimiliki Indonesia, ada peran penting alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang ikut memastikan setiap kendaraan layak melaju di jalan raya. Wahana Aris Munandar namanya, lulusan Teknik Mesin UMM tahun 2016 yang kini dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Passive Safety BPLJSKB Kementerian Perhubungan. Aris, sapaannya, menjelaskan bahwa BPLJSKB merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Lembaga ini memiliki mandat strategis dalam pengujian tipe kendaraan bermotor di Indonesia. Pada 2025, BPLJSKB resmi mengoperasikan fasilitas Proving Ground berstandar internasional. Fasilitas ini menjadi tonggak peningkatan sistem pengujian kendaraan nasional. Salah satu fasilitas kuncinya adalah Laboratorium Passive Safety. Laboratorium ini berfokus pada pengujian keselamatan kendaraan. Pengujian meliputi kursi, sabuk pengaman, hingga uji tabrak mobil. Laboratorium Passive Safety menjadi satu-satunya di Indonesia yang mampu melakukan uji tabrak kendaraan secara komprehensif. “Peran utama laboratorium ini adalah memastikan kendaraan yang digunakan di Indonesia, baik produksi dalam negeri maupun impor, benar-benar memenuhi standar keselamatan yang tinggi,” ujar Aris. Kepercayaan memimpin laboratorium tersebut tidak lepas dari latar belakang akademiknya di Teknik Mesin UMM. Selama kuliah, Aris ditempa dengan mata kuliah dasar seperti mekanika kekuatan material, struktur, dan material teknik yang membentuk pola pikir analitis. Kompetensi tersebut kini menjadi fondasi penting dalam menganalisis hasil pengujian serta menentukan metode uji yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain akademik, pengalaman praktikum desain dan pemodelan tiga dimensi juga memberikan kontribusi nyata. Kemampuan membaca dan mengevaluasi desain kendaraan sebelum pengujian menjadi bagian penting dalam proses kerja di laboratorium. Di sisi lain, keterlibatannya dalam Unit Kegiatan Mahasiswa, seperti International Language Forum (ILF) dan Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM, memperkuat keterampilan komunikasi dan penulisan laporan teknis yang kini sangat dibutuhkan dalam kerja sama internasional. “UMM tidak hanya mengajarkan ilmu teknik, tetapi juga membiasakan kami berpikir sistematis, berani berdiskusi, dan mampu menyampaikan gagasan secara profesional,” terang Aris. Aris menilai nilai-nilai khas UMM, khususnya integrasi keilmuan dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, turut membentuk etos kerja yang jujur, bertanggung jawab, dan mandiri, serta menjadi kompas moral dalam kariernya sebagai ASN. Prinsip bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa harus diawasi menjadi bekal penting saat ia memasuki dunia kerja yang sarat regulasi dan hierarki. Pengalaman lintas sektor, dari industri manufaktur hingga pemerintahan, semakin menguatkan pandangannya bahwa lulusan teknik UMM memiliki ruang karier yang luas. Menurutnya, kementerian dan lembaga negara membutuhkan insan teknik yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter. “UMM membentuk kami untuk siap bekerja dan terus belajar di mana saja, sehingga bekal yang saya peroleh sejak kuliah membuat saya mampu memanfaatkan berbagai kesempatan pengembangan sumber daya manusia di pemerintahan. Mulai dari pelatihan hingga beasiswa double degree di UGM dan University of Leeds,” pungkasnya. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa Universitas Muhammadiyah Malang terus melahirkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap berkontribusi di berbagai sektor strategis, baik nasional maupun global. (ali/wil)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain

Indonesia Gabung Board of Peace, Prabowo Diingatkan Potensi Risiko Ini

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keputusan Indonesia jika bergabung dengan Board of Peace (BoP) mendapat banyak respons dan sorotan kritis dari pihak. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengatakan salah satu poin krusialnya adalah ketidakikutsertaan Palestina dalam dewan perdamaian besutan Presiden AS Donald Trump. “Sebagai anggota Board of Peace, apa saja red flags dan risiko yang harus diwaspadai Indonesia? Ada banyak. Yang paling mendasar, sama sekali tidak ada perwakilan Palestina dalam Board of Peace,” ujar Dino dalam video yang diunggah di Instagram @Dinopattidjalal, dikutip Senin (9/2/2026). Dia menambahkan, Indonesia juga harus mewaspadai dominasi Donald Trump dalam BoP. Sebab, dominasi itu berpotensi membajak dewan perdamaian oleh Trump untuk kepentingan pribadi atau politik domestik AS. Kemudian, BoP juga bisa menjadi alat untuk memuluskan proyek pembangunan properti yang mengabaikan hak-hak rakyat Palestina, berpotensi mengecilkan peran PBB, hingga risiko kegagalan karena kebijakan BoP ditentang rakyat Palestina. “Dan Perdana Menteri Israel, Bibi Netanyahu, juga bisa mengontrol agenda Board of Peace melalui Presiden Trump,” imbuhnya. Namun demikian, Dino menegaskan bahwa risiko itu bisa dicegah melalui kemampuan diplomasi yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia dalam mengarungi dinamika forum tersebut. “Pertanyaannya, mampukah Indonesia? Dan ini tentunya tergantung dari kemampuan kita untuk berdiplomasi,” pungkasnya. Sementara itu Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P. menilai bahwa secara akademis, tujuan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP) untuk kemerdekaan Palestina, sulit dibuktikan dan justru menyiratkan hal yang sebaliknya. Menurutnya, keberadaan BoP turut memantik diskusi terkait efektivitas, peran negara anggota, serta dampaknya terhadap isu kemanusiaan global, termasuk Palestina dan Gaza. “Jika merujuk pada piagam resmi BOP, terdapat sejumlah aspek yang masih menjadi perhatian, salah satunya terkait tidak disebutkannya secara eksplisit Palestina dan Gaza,” katanya. Dikatakannya, hal ini menjadi bahan kajian dalam perspektif akademis, terutama terkait posisi masyarakat yang terdampak dalam proses pengambilan keputusan internasional. Dia menilai, keikutsertaan Indonesia sebagai strategi untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dari dalam forum, sah secara politis. Namun, secara akademis, klaim tersebut sulit dibuktikan selama piagam BoP tidak mengakui secara jelas Palestina dan Gaza sebagai subjek utama dalam upaya perdamaian. Dia menegaskan pula, bahwa tidak adanya keterlibaran Palestina dalam forum tersebut berpotensi memunculkan persepsi bahwa nasib negara Palestina ditentukan oleh negara-negara luar. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi hak Palestina dalam menentukan masa depannya sendiri. Sehingga menurutnya, hal ini perlu dikritisi agar upaya perdamaian benar-benar berjalan atas dasar keadilan dan kedaulatan. Di sisi lain, Dion menilai ada dua sisi risiko maupun dampak dari bergabungnya Indonesia ke BoP. Hal ini dapat dilihat dari dua perspektif, yakni internasional dan domestik. Secara internasional, kredibilitas Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, atau lebih umum dalam mempertahankan politik luar negeri bebas aktif, akan semakin dipertanyakan. Hal itu karena BoP merupakan inisiatif Trump secara pribadi, tidak melalui persetujuan DPR AS, maupun melalui mekanisme PBB. Sementara secara domestik, isu Palestina memiliki sensitivitas yang tinggi di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan isu tersebut berpotensi memunculkan beragam pandangan di masyarakat Indonesia. Pemerintah dinilai perlu terus memperkuat komunikasi publik secara terbuka dan informatif agar masyarakat dapat   memahami tujuan, mekanisme, serta dampak dari kebijakan yang diambil. Sementara itu dari sisi keuntungan, kata dia, keikutsertaan Indonesia dalam BOP membuka peluang bagi Indonesia untuk berperan aktif dalam mendukung program kemanusiaan dan pembangunan di wilayah terdampak konflik. Selain itu, langkah ini juga dinilai mampu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten dan berkomitmen aktif dalam isu perdamaian dunia. Meski demikian, menurutnya, keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga dapat dipahami sebagai bagian dari strategi diplomasi aktif di tingkat global. Dalam konteks kebijakan luar negeri, Indonesia selama ini dikenal memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia, sebagaimana tertuang dalam konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif. kbc10

Kuatkan Transformasi AUMSos : MPKS PWM Gelar Rakorwil

08/02/2026 Komentar Bagikan Situasi saat pelaksanaan Rakorwil MPKS PWM Jawa Timur (foto: for harianjatim) Malang-harianjatim.com. Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (8/2/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri atas pengurus MPKS Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA), serta pengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Timur. Ketua MPKS PWM Jawa Timur, M. Himawan Sutanto mengatakan, pelaksanaan rakorwil ini untuk mensosialisasikan program-program MPKS PWM Jawa Timur tahun 2026 sekaligus memperkuat koordinasi dan sinergi antara MPKS PDM dan LKS dalam pengembangan layanan kesejahteraan sosial. Selain itu kata dia dilaksanakannya Rakorwil sebagai forum strategis untuk menyatukan visi dan langkah gerak seluruh unsur MPKS dan LKS. “Penguatan koordinasi ini penting agar program kesejahteraan sosial Muhammadiyah dapat berjalan efektif, terukur, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Ketua PWM Jawa Timur Bidang Kesejahteraan Sosial dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah, Muh. Khoirul Abduh menegaskan pentingnya profesionalisme dalam tata kelola LKS. “LKS Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel agar semakin berdaya serta mendapatkan kepercayaan public. Dan mulai periode ini tata Kelola LKS akan kita digitalisasi agar semua potensi LKS dapat dengan mudah diakses publik” tegasnya. Ia menambahkan bahwa tantangan kesejahteraan sosial ke depan menuntut LKS untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat sistem manajemen, serta menyesuaikan diri dengan regulasi dan perkembangan teknologi. Rangkaian Rakorwil diisi dengan pemaparan program kerja MPKS PWM Jawa Timur tahun 2026, diskusi bersama, serta penyusunan rencana tindak lanjut. Melalui kegiatan ini, MPKS PWM Jawa Timur berharap terbangun sinergi yang lebih kuat untuk memperluas jangkauan dan kualitas pelayanan sosial Muhammadiyah di Jawa Timur.

Gelar Rakorwil di UMM, Muhammadiyah Jatim Dorong Digitalisasi Tata Kelola Panti Asuhan dan LKS

Portalbontang.com, Malang – Transformasi layanan sosial menjadi fokus utama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Melalui Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS), PWM Jatim menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (8/2/2026). Kegiatan strategis ini dihadiri lebih dari 200 peserta yang terdiri atas pengurus MPKS Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA), serta para pengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Timur. Forum ini bertujuan untuk menyosialisasikan program kerja MPKS tahun 2026 sekaligus memperkuat sinergi antar-lembaga dalam mengembangkan layanan kesejahteraan sosial yang lebih berdampak. Ketua MPKS PWM Jawa Timur, M. Himawan Sutanto, M.Si., menegaskan bahwa Rakorwil ini bukan sekadar pertemuan rutin. Ini adalah momen penyatuan visi seluruh unsur pelaksana layanan sosial persyarikatan. “Penguatan koordinasi ini penting agar program kesejahteraan sosial Muhammadiyah dapat berjalan efektif, terukur, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas,” ujar Himawan. Era Baru Digitalisasi LKS Sorotan penting disampaikan oleh Wakil Ketua PWM Jawa Timur Bidang Kesejahteraan Sosial dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah, Muh. Khoirul Abduh, M.Si. Ia menekankan urgensi profesionalisme dalam tata kelola amal usaha bidang sosial. Menurutnya, LKS Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (seperti panti asuhan dan santunan) tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara konvensional semata. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk meraih kepercayaan publik. “Mulai periode ini, tata kelola LKS akan kita digitalisasi. Tujuannya agar semua potensi LKS dapat dengan mudah diakses oleh publik,” tegas Khoirul Abduh. Baca Juga:Dukung Keberlanjutan Swasembada Pangan, Pupuk Indonesia Resmikan Modernisasi Pabrik Tertua Pupuk Kaltim Ia menambahkan, tantangan masalah sosial ke depan menuntut pengelola LKS untuk terus meningkatkan kapasitas SDM, memperkuat manajemen, serta adaptif terhadap regulasi dan perkembangan teknologi. Rangkaian Rakorwil diisi dengan pemaparan program kerja, diskusi panel, serta penyusunan rencana tindak lanjut (RTL). Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun sinergi yang solid untuk memperluas jangkauan dan kualitas pelayanan sosial Muhammadiyah di Jawa Timur. ***

Tampil Gemilang, Tim Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional Piala Kemenpora

UKM Karakter Universitas Muhammadiyah Malang pada perhelatan Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membawa pulang enam medali Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora, Bandung, Jawa Barat. Ajang kompetisi nasional tersebut dihadiri oleh lebih dari 1.200 atlet profesional dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Melalui kompetisi tersebut, tim karate UMM yang beranggotakan enam atlet, berhasil meraih empat medali perak dan dua medali perunggu. Arif Tri Dermawan (Manajemen) membuka raihan prestasi dengan menyabet Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Kemudian disusul keberhasilan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan), meraih Juara 2 Kata Beregu Senior Putri. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menambah medali melalui Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri dan Ilma Mazida (Teknologi Pangan) mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” tutur Miranti. Menurutnya, tantangan terbesar mereka adalah menjaga tim agar tetap kompak, khusunya bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas sekaligus. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” tambahnya. Selain itu, keberhasilan tim juga berangkat dari disiplin latihan yang tinggi, kekompakkan, hingga komitmen para atlet yang terus dipertahankan selama mempersiapkan lomba. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ary Bakhtiar, menilai raihan cemerlang UKM Karate UMM tersebut merupakan bukti pembinaan kemahasiswaan secara berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” ujarnya.

Tetap Optimal di Musim Hujan, Mahasiswa UMM Ciptakan Inovasi Pengering Gabah bagi Petani

Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang memperkenalkan inovasi teknologi pengering gabah (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Empat mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan alat pengering gabah (bed dryer) yang efektif digunakan petani walaupun saat musim hujan. Inovasi yang dikepalai oleh Malikul Arifin tersebut berangkat dari permasalahan di lapangan, yang kerap dialami oleh petani saat musim hujan tiba, yakni kesulitan untuk mengeringkan hasil tani secara optimal. Hal tersebut menyebabkan kualitas panen yang dihasilkan pun turun drastis, “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” tutur Malikul. Bed dryer yang tim kembangkan bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah, hasil dari kain dan tisu yang telah dibakar sebelumnya. Hasilnya, panas yang dihasilkan terbukti stabil sehingga proses pengeringan hasil tani juga lebih merata dan optimal. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” tambahnya. Bed dryer, alat pengering gabah yang dikembangkan tim (umm.ac.id) Selama proses pengembangan bed dryer, tim mengalami kendala saat pemilihan bahan material yang akan digunakan. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” tuturnya. Sampai saat ini, bed dryer tersebut masih berbentuk sample uji coba dengan skala 1:10 dari ukuran alat sebenarnya. Walaupun masih berbentuk sample, bed dryer tersebut telah berhasil melewati berbagai tahap uji coba dengan hasil akhir yang memuaskan.

Dosen HI UMM Tanggapi Pro Kontra Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace

Dosen Hubungan Internasional UMM, Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.), dalam menanggapi tuaian pro kontra Indonesia tergabung dalam Board of Peace. (Ist) Malangpariwara.com – Di tengah dinamika politik global yang terus berkembang, keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) memunculkan perbincangan luas di ruang publik. Kebijakan ini dinilai menghadirkan peluang bagi Indonesia untuk berperan aktif secara langsung dalam mendukung program perdamaian dunia. Sekaligus membawa tantangan yang memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. BoP merupakan forum internasional yang dibentuk untuk mendorong dialog dan kerja sama dalam upaya menciptakan perdamaian, khususnya di wilayah konflik. Namun, dalam perkembangannya, keberadaan BoP turut memantik diskusi terkait efektivitas, peran negara anggota. Serta dampaknya terhadap isu kemanusiaan global, termasuk Palestina dan Gaza. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana P., M.Hub.Int, Ph.D (cand.), menjelaskan bahwa jika merujuk pada piagam resmi BOP. Terdapat sejumlah aspek yang masih menjadi perhatian, salah satunya terkait tidak disebutkannya secara eksplisit Palestina dan Gaza. Menurutnya, hal ini menjadi bahan kajian dalam perspektif akademis, terutama terkait posisi masyarakat yang terdampak dalam proses pengambilan keputusan internasional. Strategi Suarakan Kemerdekaan Palestina Dion juga menilai bahwa keikutsertaan Indonesia sebagai strategi untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina dari dalam forum, sah secara politis. Namun, secara akademis, ia menilai klaim tersebut sulit dibuktikan selama piagam BoP tidak mengakui secara jelas Palestina dan Gaza sebagai subjek utama dalam upaya perdamaian. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak adanya keterlibatan Palestina dalam forum tersebut berpotensi memunculkan persepsi bahwa nasib negara Palestina ditentukan oleh negara-negara luar. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi hak Palestina dalam menentukan masa depannya sendiri. Sehingga menurutnya, hal ini perlu dikritisi agar upaya perdamaian benar-benar berjalan atas dasar keadilan dan kedaulatan. Risiko dan Dampak Tergabung dalam BoP Di sisi lain, Dion menilai ada dua sisi risiko maupun dampak dari bergabungnya Indonesia ke BoP. Hal ini dapat dilihat dari dua perspektif, yakni internasional dan domestik. Secara internasional, kredibilitas Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Atau lebih umum dalam mempertahankan politik luar negeri bebas aktif, akan semakin dipertanyakan. Hal itu karena BoP merupakan inisiatif Trump secara pribadi, tidak melalui persetujuan DPR AS, maupun melalui mekanisme PBB. Sementara secara domestik, isu Palestina memiliki sensitivitas yang tinggi di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan isu tersebut berpotensi memunculkan beragam pandangan di masyarakat Indonesia. Pemerintah dinilai perlu terus memperkuat komunikasi publik secara terbuka dan informatif agar masyarakat dapat memahami tujuan, mekanisme, serta dampak dari kebijakan yang diambil. Sementara itu dari sisi keuntungan, keikutsertaan Indonesia dalam BOP membuka peluang bagi Indonesia. Dengan membawa tujuan untuk berperan aktif dalam mendukung program kemanusiaan dan pembangunan di wilayah terdampak konflik. Selain itu, langkah ini juga dinilai mampu memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten dan berkomitmen aktif dalam isu perdamaian dunia. Meski demikian, keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga dapat dipahami sebagai bagian dari strategi diplomasi aktif di tingkat global. Dalam konteks kebijakan luar negeri, Indonesia selama ini dikenal memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia, sebagaimana tertuang dalam konstitusi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Buka Pintu Ruang Dialog Keikutsertaan Indonesia dalam BOP juga membuka ruang dialog yang lebih luas dengan berbagai negara, baik dari kawasan Timur Tengah maupun negara-negara lain. Hal ini dapat memperluas jaringan kerja sama serta memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan global. Meski demikian, timbul berbagai pandangan dan respons masyarakat yang beragam. Hal ini dinilai oleh Dion sebagai bagian dari dinamika demokrasi. “Pro dan kontra terhadap kebijakan luar negeri merupakan hal yang wajar, selama disampaikan secara rasional dan bertanggung jawab. Keberagaman pendapat justru dapat menjadi penyeimbang dalam proses pengambilan kebijakan publik,” katanya. Sebagai penutup, ia mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk menyikapi isu internasional secara rasional dan bijak. Kepedulian terhadap isu global juga perlu dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif, agar tidak terjebak pada informasi yang belum jelas kebenarannya. (Djoko W)

Keren! Mahasiswa UMM Rancang Irigasi Otomatis Bertenaga Surya untuk Pertanian Modern

Solar Powered Automatic Irrigation System karya Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (umm.ac.id) INDOZONE.ID – Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menorehkan prestasi melalui penciptaan alat irigasi inovatif, yang dinamakan Solar Powered Automatic Irrigation System. Inovasi tersebut merupakan sistem irigasi tetes otomatis yang dirancang khusus untuk mendukung sektor pertanian skala kecil agar lebih efisien dan ramah lingkungan. Proyek ini lahir dari mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3) sebagai bentuk nyata dukungan kampus terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya merasakan keprihatinan terhadap kondisi petani di Indonesia. Mereka mengamati, bahwa mayoritas petani masih menggunakan metode penyiraman manual yang sangat menyita waktu serta tenaga. Selain itu, teknik tradisional bisa berisiko menyebabkan pemborosan air. Menanggapi masalah yang terjadi, tim mahasiswa berusaha menghadirkan solusi teknologi yang cerdas namun tetap hemat energi. Secara teknis, sistem irigasi ini mengandalkan panel surya sebagai pemasok listrik utama. Energi matahari yang ditangkap akan disimpan ke dalam baterai untuk menjalankan perangkat berbasis Arduino. “Melalui sensor kelembapan tanah, sistem bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” ungkap Isti. Isti menjelaskan bahwa sistem akan memastikan tanaman mendapatkan asupan air sesuai kebutuhan, sehingga tidak ada air yang terbuang sia-sia. Meski sekarang masih dalam bentuk prototipe, alat tersebut memiliki fleksibilitas tinggi untuk diterapkan pada berbagai jenis lahan dan tanaman. Penggunaan energi surya menjadi keunggulan utama karena dapat membantu petani menekan pengeluaran operasional dan mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Alat ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi sistem perawatan tanaman yang terintegrasi, di mana penyaluran pupuk cair dan nutrisi bisa dilakukan secara otomatis melalui saluran irigasi. Dosen pembimbing, Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi tinggi terhadap karya para mahasiswa sebagai wujud nyata integrasi teknologi Internet of Things (IoT) dalam pertanian presisi. “Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” ujarnya. Baca juga:Kolaborasi UPH dan Singapore Polytechnic Hadirkan Inovasi Nyata bagi Lingkungan dan Masyarakat Inovasi yang ditampilkan pada Industrial Engineering Expo 2026 membuktikan bahwa mahasiswa mampu menciptakan solusi teknologi tepat guna. Bagi Isti dan timnya, pengalaman ini mengajarkan bahwa sebuah inovasi yang hebat tidak harus rumit, asalkan mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan banyak orang.