Tim Mahasiswa Fikes UMM Kembangkan Alat Kontrasepsi dari Buah Leunca

Saat ini variasi produk alat kontrasepsi bagi pria masih terbilang minim. Utamanya yang dapat digunakan secara praktis. Hal ini menginspirasi Adinda Shakira Pundi Laras, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UMM bersama timnya menciptakan alat kontrasepsi nabati menggunakan formula tansdermale patch berbahan dasar buah leunca. Alat ini dinilai mampu menjadi antifertilitas nabati bagi individu. Adinda mengatakan, penggunaan alat kontrasepsi nabati ini mudah dan sederhana. Yakni hanya dengan menempelkan ke bagian tubuh tertentu dan membiarkan zat meresap ke dalam tubuh. Tak butuh waktu lama, inovasi ini mampu memberikan efek terhadap penurunan jumlah rata-rata spermatozoa pada seorang laki-laki. “Alat kontrasepsi nabati yang kami coba ciptakan ini jauh lebih sederhana dalam pemakaiannya, tinggal tempel saja di bagian tubuh tertentu dan efeknya akan langsung bisa dirasakan,” ujar mahasiswa angkatan 2020 itu. Formula tansdermale patch digunakan merupakan media menghantarkan obat melalui kulit. Dikombinasikan dengan beberapa bahan lainnya, seperti HPMV-PVP dengan bahan aktif ekstrak etanol daun binahong memungkinkan produk memiliki elastisitas yang baik serta mampu menyerap air. Mahasiswa yang saat ini menempu pendidikan di program studi farmasi tersebut juga menjelaskan, selain sederhana, penggunaan alat ini relatif aman. “Bahan-bahan tersebut dipilih karena banyak membawa manfaaat. Diantaranya mudah dilepaskan, menghindari degradasi obat di saluran pencernaan, praktis dan nyaman, dan juga mudah dihilangkan apabila ditemukan efek negatif dalam penggunaan,” tambahnya. Pemilihan buah leunca juga tak lepas dari penemuan bahwa buah tersebut telah terbukti secara ilmiah mengandung senyawa tanin, saponin, flavonoid, serta solasodin. Senyawa ini dapat memengaruhi spermatogenesis karena menekan sekresi hormon reproduksi yang diperlukan selama proses reproduksi. “Pemilihan bahan dan media ini diharapkan mampu secara efektif meningkatkan partisipasi laki-laki dalam menunda kehamilan dan kelahiran anak. Sehingga secara sistemik mampu menekan angka pertumbuhan penduduk di Indonesia yang dalam jangka panjang juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas penduduk di Indonesia,” tambahnya. Saat ini, pengembangan produk alat kontrasepsi nabati telah melewati berbagai proses, mulai dari uji pH, uji kelembaban, dan berbagai proses lainnya. Adinda mengatakan, produk tersebut sudah 90% rampung dan baru akan diujicobakan ke kalangan terdekat terlebih dahulu. “Untuk saat ini kita berfokus pada produksi dan penggunaan untuk lingkup terdekat terlebih dahulu. Namun, tidak menutup kemungkinan dalam pengembangannya, produk ini dapat diproduksi dan dipasarkan secara luas sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat banyak,” pungkasnya. (*hil/wil)
Kampus Negeri Ini Belajar Jadi Lebih Kreatif ke UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan Universitas Andalas (Unand), 24 Oktober lalu. Dalam lawatannya, Unand belajar dan mengajak diskusi Kampus Putih terkait banyak aspek. Termasuk inovasi pembelajaran dan program-program berorientasi mencetak generasi unggul. Guru besar Teknik Sipil Unand Prof. Ir. Abdul Hakam, M.T., Ph.D. mengatakan pihaknya ingin belajar banyak terkait bagaimana cara UMM yang mampu terus maju dan berkembang. “Seperti yang kita ketahui bersama, UMM punya kreativitas yang mumpuni serta mampu menjalankan Tridharma perguruan tinggi dengan baik. Mereka sudah jauh memikirkan tentang masa depan, misalnya saja Center for Future Work yang berorientasi masa depan. Ini sangat menarik,” tambahnya. Selain itu, Hakam juga tertarik dengan program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (PPPM). Bagaimana penelitian dan kolaborasi yang dilakukan mampu memberikan manfaat secara luas. Hal ini dijawab langsung oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. Ia menjelaskan bahwa PPPM ini bertugas untuk mengatasi problem yang ada d imasyarakat daerah. Semua langkah berangkat atas dasar kesadaran. Menurutnya, masalah masyarakat tidak bisa diselesaikan secara parsial, namun harus secara komprehensif. “Caranya yakni bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda). Salah satu yang kami lakukan adalah dengan menggaet Jember,” kata Fauzan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa agar bisa diperhatikan oleh orang lain, perlu adanya upaya mengambil jalan yang berbeda. Misalnya saja program UMM Pasti. Inovasi itu muncul dari kesadan bahwa orangtua ingin anaknya bisa lulus tepat waktu. Kemudian juga apakah anak-anaknya bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat setelah lulus. “Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut, lahirlah UMM Pasti. Pasti lulus tepat waktu, pasti bekerja, dan pasti mandiri,” jelasnya. Langkah pertama yakni pasti lululs tepat waktu. Hal ini bisa dicapai dengan melakukan re-design, affirmation, dan recognition. UMM selalu berusaha mengapresiasi prestasi-prestasi yang diciptakan dan diraih oleh mahasiswa. Sehingga, saat ini mahasiswa bisa lulus tanpa skripsi selama bisa menciptakan karya. “Prestasi yang diraih serta mahakarya yang ciptakan oleh mahasiswa pun bisa menjadi pengganti skripsi atau tugas akhir,” ujarnya. Kedua, menjadikan mahasiswa yang lulus dapat mandiri dan bekerja. Di semester 6, mahasiswa dianjurkan untuk mengikuti Center of Excelent (CoE). Sehingga saat lulus, mahasiswa dapat dipastikan telah memiliki kompetensi yang bisa membantukan di dunia kerja. Fauzan mengatakan bahwa mendirikan CoE juga tidak boleh asal-asalan. Syaratnya adalah harus bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki reputasi nasional maupun internasional. “Dengan langkah ini, UMM bisa dikatakan menjadi perguruan tinggi semi ikatan dinas,” pungkas Fauzan. (*dev/wil)
Latih Para Guru, UMM-PWM-INOVASI Targetkan Peningkatan Kualitas SDM

Perubahan zaman identik dengan perubahan masyarakat. Jika dulu pendidikan dapat diperoleh mellaui perpusatakaan atau guru. Namun kini siswa bisa mengakses sendiri pendidikan yang diinginkan. Hal itulah yang mendasari gelaran acara Training of Trainers yang diadakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur berkolaborasi dengan Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) dan INOVASI Indonesia, akhir Oktober ini. Acara tersebut digelar tiga hari berturut-turut di Kapal Garden Hotel UMM. Ketua Majelis Dikdasmen PWM Dr. khozin, M.Si mengatakan bahwa acara ini dihadiri oleh 55 pengajar dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya tentu untuk menggaungkan gerakan literasi dan numerasi bagi SD kelas 1,2,3 dan dilakukan secara mandiri. “Acara ini bukan kali pertama dilakukan. Sampai saat ini kami sudah melaksanaknnya tiga kali dan saat ini UMM menjadi tuan rumahnya,” katanya. Sementara itu, menurut Ingga Danta Vistara selaku Sistem and Policy Advisor INOVASI, acara seperti ToT ini penting untuk dilakukan bagi pengajar. Apalagi literasi adalah kunci untuk membuka pintu belajar bagi anak-anak. Literasi bisa dijadikan pembelajaran dasar bagi anak-anak agar dapat lebih memahami suatu konteks yang diberikan. “Jika sedari kecil anak-anak tidak dibiaskan dengan literasi, maka bisa jadi ke depannya mereka hanya memiliki kemampuan penyerapan informasi yang terbatas,” imbuhnya. Adapun INOVASI adalah program kerjasama antara Australia dan Indonesia untuk penguatan literasi dan numerasi yang sudah berjalan tujuh tahun. Program ini memberikan pendidikan kepada guru agar siap menghadapi perubahan sistem pendidikan dan menyiapkan pendidikan yang berkualitas. Apalagi ada banyak sekali guru yang hanya menyelesaikan kewajibannya untuk mengajar tanpa melihat apakah murid-muridnya paham akan materi tersebut. “Maka dari itu, adanya ToT ini bisa menjadi bahan ajar bagi para guru untuk bisa menerapkan praktek literasi dan numerasi. Utamanya kepada anak-anak SD/MI sederajat,” tegas Ingga. Turut hadir dalam kesempatan itu, Rektor UMM Prof Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas siswa adalah dengan pendidikan karakter. Contoh penerapannya adalah dengan adanya organisasi. “Kita harus memberi kebebasan berorganisasi bagi siswa agar mereka dapat cepat dan tanggap dalam menanggapi perubahan dunia,” tambahnya. Ia memberi contoh UMM yang me-redesain kurikulum, rekognisi, dan ekuivalensi untuk memfasilitasi mahasiswa. Sehingga mereka tidak hanya memahami materi dari bangku kuliah, namun juga memiliki skill yang bermanfaat bagi dirinya di masa depan. Hal tersebut dikemas dalam program Center of Excellent (CoE). Mahasiswa juga disiapkan untuk pasti lulus 3,5 hingga 4 tahun dengan skill sesuai passion mereka. (*tri/wil)
Hadir di UMM, Direktur BCA Sebut Ketahanan Ekonomi Indonesia Kuat

Saat ini, Indonesia menjadi negara yang kuat dalam sektor ekonomi meskipun dilanda dengan pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Hal itu ditegaskan Direktur Bank Central Asia (BCA) Antonius Widodo Mulyono di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 25 Oktober lalu. Gelaran kuliah tamu tersebut bertajuk “Resilience in the Era of Encertainty”. Lebih lanjut, Widodo mengatakan bahwa Indonesia diprediksi oleh banyak ahli ekonomi hanya akan mengalami inflasi sebanyak 2%. Hal itu juga dibuktikan dengan dengan gross domestic product (GDP) Indonesia yang berada di angka diatas rata-rata dibandingkan negara-negara lain. “Covid masuk ke indonesia tahun 2020 dan aktivitas mulai kembali normal pada tahun 2023 awal. Yang mengejutkan adalah saat ini inflasi kita kecil, yakni berada di kisaran 2% yang mana itu sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Dan GDP kita berada di lebih dari 5% di saat negara-negara lain ada di bawah 3% saja. Itu menjadi bukti bahwa indonesia bisa bertahan dari goncangan pandemi covid,” tegasnya. Menurutnya, hal itu menjadi prestasi yang harus dibanggakan dan itu tidak lepas dari spirit masyarakat Indonesia dalam berjuang untuk menstabilkan ekonomi. Baik itu para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), industri, pihak swasta, hingga pelaku menyedia layanan keuangan atau bank. Widodo juga sempat berpesan kepada seluruh anak muda untuk mengambil peran pada visi Indonesia Emas 2045. Langkah, inisiatif, dan inovasi anak muda menjadi penentu keberlangsungan suatu bangsa. Termasuk negara Indonesia yang akan menyongsong generasi terbaik. Dihadapan ribuan audiens, Widodo Mulyono juga member apresiasi tinggi kepada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat. “Di tengah ketidakpastian ekonomi ini, saya takjub dan apresiasi penuh UMM yang menciptakan ekosistem ekonomi. Bagaimana UMM memiliki banyak unit usaha dan mampu memperkuat ekonomi,” katanya. Hal itu dibuktikan dengan UMM yang mampu memberikan kebutuhan pokok berupa fasilitas, sarana prasana, mulai dari stasiun pengisian bahan bakar (SPBU), hotel, rumah sakit, hingga tempat wisata. Menurutnya, semua jelas memberikan efek ekosistem ekonomi yang optimal sehingga perputaran aset yang ada di lingkungan kampus putih menjadi efektif dan terjaga. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa saat ini dunia memasuki zaman yang sangat kompetitif. Jika tidak selalu update dengan kebutuhan masyarakat, pasar, hingga dunia usaha dunia industri (DUDI), pastinya akan mengalami ketertinggalan yang jauh. Maka untuk mengatasi hal tersebut, UMM menciptakan suatu program yakni Center of Excellence (COE) sebagai ikhtiar dalam memberikan wadah kepada mahasiswa untuk menghadapi dunia yang semakin dinamis. (*Faq/Wil)
Mahasiswa UMM Terbitkan Buku 17 Juta Pembaca, Jadikan Tugas Akhir Pengganti Skripsi

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tak pernah habis melahirkan mahasiswa yang kreatif dan potensial. Salah satunya Eldelafimeta, mahasiswa baru jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia yang sukses menerbitkan dua buku novel. Menariknya, buku tersebut sudah dibaca hingga 17,6 juta kali. El, begitu ia kerap disapa, mengatakan kalau hobi menulisnya dimulai dari keisengan di tahun 2018 yang ia unggah di platform online yaitu Wattpad. Saat itu, baginya menulis hanya untuk mengisi kekosongan waktunya saja, namun tidak disangka di tahun 2021 tulisannya viral di Tiktok. Dari situlah awal mula perjalanannya menjadi seorang penulis buku. “Aku juga tidak tahu kenapa tulisan aku viral di Tiktok. Dari situ akhirnya aku dihubungi Coconut Books untuk bekerja sama dalam penyusunan dan pembuatan buku pertamaku,” katanya dengan riang. Ia merasa seperti mimpi bisa menerbitkan sebuah buku. Awalnya ia menulis hanya untuk mengisi kekosongan, apalagi ia juga menunda kuliah selama beberapa tahun. “Langkah awalku untuk menulis juga terinspirasi dari Kak Luluk, alumnus UMM yang juga menulis buku novel Mariposa saat menjadi mahasiswa. Kemudian novel Kak Luluk juga sukses dibikin film. Dari situ aku bertekad untuk bisa menjadi seperti dia,” tegasnya. Lebih lanjut, El mengatakan bahwa untuk buku keduanya, ia bekerja sama dengan beberapa penulis hebat, salah satunya penulis buku Dear Nathan. Mereka akan menerbitkan buku series. Adapun ia termasuk di series kedua yang saat ini sudah dibaca hingga kurang lebih 32 ribu pembaca. “Dengan buku kedua ini, aku tambah semangat dan menargetkan diri untuk bisa menerbitkan tiga buku dalam satu tahun. Kalau bisa, tulisanku ini juga bisa dijadikan film seperti karya Kak Luluk,” ucapnya optimis. Tidak hanya itu, gadis asli kota Kediri itu juga telah menyiapkan siniar yang diunggah ke berbagai platform, termasuk Spotify. Harapannya ia bisa mengembangkan tulisan ke berbagai genre dan memotivasi orang-orang lewat podcast-nya. Menurutnya, satu dari banyak cara untuk berguna bagi sekitar yakni membuat karya yang positif. Mendorong masyarakat untuk bisa belajar dari novel dan mengamalkan kebaikan yang ada di dalamnya. El juga berencana untuk menjadikan karyanya sebagai tugas akhir di perkuliahan. Apalagi mengingat komitmen UMM untuk selalu mendukung serta mengapresiasi mahasiswanya. Termasuk mendorong mahasiswanya untuk bisa lulus tanpa skripsi, yakni dengan karya. “Aku sangat berterimakasih kepada UMM karena selalu mendukung setiap karyaku. Insyaallah aku akan terus menyumbangkan karya yang bermanfaat dan prestasi yang membanggakan,” pungkasnya. (*ri/Wil)
Dosen UMM: Begini Cara Sekolah Cegah Kasus Bullying

Belakangan ini, kasus bullying atau perundungan kian marak terjadi, terutama di lingkup sekolah. Tidak jarang bahkan menjadi menjadi sorotan publik. Ironisnya, lingkungan pendidikan yang sudah selayaknya menjadi ruang aman bagi siswa, justru menjadi tempat yang mengerikan. Fenomena itu menarik perhatian Wakil Dekan III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Bayu Hendro Wicaksono, S.Pd., M.Ed., Ph.D. Menurutnya, jika bullying semakin meningkat, maka akan terjadi ancaman kemunduran pendidikan. Kasus tersebut secara langsung mengafirmasi bahwa saat ini masih ada kelompok yang kurang memahami komunikasi budaya yang tepat. Bullying seringkali hanya terlihat seperti candaan sehari-hari yang diucapkan kepada teman sebaya. Namun sayangnya, tindakan sederhana tersebut dapat menimbulkan dampak serius. “Korban perundungan bisa mengalami luka psikis atau emosional yang menyakitkan. Dampak ini bisa berlangsung lama karena mempengaruhi ingatan jangka panjang mereka,” tegasnya. Menurut Bayu, upaya pencegahan perundungan bisa dimulai dengan meningkatkan iklim sekolah serta melibatkan guru-guru sebagai contoh komunikasi positif. Di samping itu, penegakan aturan juga harus tegas tanpa menambah tekanan siswa. Adapula beberapa aspek yang harus menjadi fokus utama sekolah dalam mengurangi kasus bullying. Pertama, pendidikan komunikatif dan kolaboratif yang dapat diintegrasikan dalam kurikulum. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana berkomunikasi dengan efektif. Kedua, pemikiran kritis juga menjadi pondasi utama dalam membentuk pola pikir yang sehat. “Siswa diajarkan untuk tidak mudah menerima informasi begitu saja, tetapi mampu menganalisis informasi dan memahami berbagai perspektif sebelum membuat keputusan,” tambah dosen Program Studi Bahasa Inggris tersebut. Bayu juga menyoroti pentingnya menerapkan konsep sekolah ramah anak yang sesuai dengan kebijakan pemerintah. Sayangnya, banyak sekolah yang belum menerapkannya dengan masif. Menurutnya, kurikulum pendidikan kini semakin detail, jumlah mata pelajaran bertambah, dan tekanan nilai belajar meningkat. Akibatnya, beban siswa pun semakin besar. Di akhir Bayu menyampaikan bahwa kunci menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung, bukan hanya dari segi akademik, tetapi juga dari segi kesejahteraan fisik dan mental siswanya. “Melalui hal ini sekolah dapat menjadi tempat yang aman dan produktif. Kemudian mampu mengarah pada perkembangan yang sehat bagi setiap siswa,” pungkasnya. (*lai/wil)
Dosen HI UMM Tegaskan Perang Palestina-Israel Bukan Konflik Agama

Konflik antara Israel dan Palestina tak kunjung mereda. Bahkan perang terbaru kembali pecah saat Hamas menyerang Israel 7 Oktober lalu dan di balas Israel dengan serangan udara. Dalam hal ini, Septifa Leiliano Ceria, S.Sy., M.MECAS. Dosen Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan bahwa perang Palestina dan Israel bukanlah konflik agama. Dia menjelaskan, pada zaman sebelum Turki Usmani itu runtuh, bangsa arab di wilayah yerusalem sangat damai dan tentram. Bangsa arab tersebut terdiri dari berbagai agama, meliputi agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun terjadi ketimpangan tatkala Turki Usmani runtuh dan negara di timur dikuasai oleh Inggris. Diperparah dengan efek perang dunia pertama di mana banyak sekali etnis Yahudi di luar wilayah Yerusalem tertindas pada masa kekuasaan Nazi. Hal tersebut menyebabkan banyak sekali etnis Yahudi yang berbondong-bondong untuk mengungsi di Yerusalem. Fenomena itu juga tidak lepas dari janji negara Inggris yang akan memberikan wilayah kedaulatan bagi etnis Yahudi di tanah Yerusalem. “Wilayah tersebut adalah Palestina. Hal itulah yang mendorong etnis Yahudi terus melakukan perluasan wilayah di tanah itu. Oleh beberapa pihak dan oknum, isu yang harusnya perebutan wilayah digeser menjadi perang agama,” jelasnya. Ano, begitu ia kerap disapa, memberikan beberapa strategi yang dilakukan untuk menyelesaikan perebutan wilayah tersebut. Di antaranya dengan melakukan negosiasi antar negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Amerika, serta tentunya Israel untuk melalakukan kesepakatan terhadap hak asasi warga palestina. Setelah itu dilanjutkan dengan membuat kesepakatan batas-batas wilayah antara Palestina dengan Israel. Hal itu bertujuan untuk menentukan batas-batas wilayah teritorial masing-masing negara. “Seperti yang kita ketahui, Israel memang tidak menghendaki pengurangan wilayahnya, namun perlindungan hak warga palestina harus diperhatikan. Harus ada perjanjian khusus yang mengatur hal tersebut, kemudian baru dilanjutkan dengan kesepakatan atas pembagian wilayah,” ungkapnya. Dia juga menawarkan beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh Indonesia dalam konflik tersebut. Misalnya saja terkait isu kemanusiaannya dengan memberikan bantuan logistik makanan, pendidikan, hingga pengobatan bagi para korban perang “Isu kemanusiaan perlu kita angkat secara intensif. Apalagi mengingat jarak yang jauh antara Indonesia dan Palestina. Sehingga kecil kemungkinan untuk melakukan bantuan secara diplomasi,” ujarnya mengakhiri. (*faq/wil)
Bahas Efek Tidur untuk Pasien Paru, Mahasiswa UMM Juara Lomba Nasional

Adalah Gendhis Endtrinasari Almira Dewanty, mahasiswi Program Studi (Prodi) Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil meraih juara 2 dalam kejuaraan nasional Fisio Olympics pada cabang lomba esai. Kejuaraan tersebut diselenggarakan oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta beberapa waktu lalu. Dia berhasil mengalahkan ratusan peserta dari berbagai universitas yang ada di penjuru Indonesia. Mahasiswa yang memiliki hobi membaca jurnal itu menjelaskan, isu yang ia angkat dalam esainya mengenai kualitas hidup pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Di dalamnya, ia membahas “Tidur yang Penting atau yang Penting Tidur?”. Hal terebut seringkali dilupakan oleh pasien PPOK untuk menyongsong hidup berkualitas saat menua. Seseorang yang terjangkit PPOK akan mengalami beberapa gangguan tambahan di luar gejala utamanya yaitu batuk. Gangguan tambahan ini seperti depresi, tanda-tanda vital yang tidak stabil, dan masih banyak lagi. Namun, terdapat satu gangguan berupa gangguan tidur yang seringkali terlupakan untuk dirawat tenaga kesehatan, karena menganggap gangguan tidur adalah hal yang sepele. “Padahal, dalam meningkatkan kualitas hidup, manusia perlu tidur yang cukup. Oleh karena itu saya mengangkat esai ini agar orang-orang sadar akan pentingnya tidur dalam meningkatkan kualitas hidup pasien PPOK,” Jelasnya. Lebih lanjut, dia juga menyampaikan bahwa nantinya output dalam esai tersebut yakni melakukan pengembangan ke tahap penelitian. Utamanya untuk mengetahui bagaimana menciptakan kualitas tidur yang terbaik bagi penderita PPOK. Sekaligus sebagai anjuran agar tidak meremehkan impak dari kualitas tidur terhadap peningkatan kualitas hidup. Gendhis juga berterimakasih kepada UMM yang telah memberikan dukungan penuh kepadanya. Baik dari segi fasilitas atau bimbingan yang membuatnya mendapatkan ide dan bahasan yang lebih baik. “Banyak sekali dukungan dari UMM, terutama terkait diskusi-diskusi dari para dosen yang memiliki kompetensi tinggi. Mereka membimbing, mengarahkan, sekaligus menjadi fasilitator bagi saya dalam mengikuti berbagai kejuaraan,” imbuhnya Terakhir, dia berpesan kepada para anak muda dan mahasiswa untuk terus berusaha untuk breprestasi di berbagai kancah kompteisi. Dengan begitu mereka bisa mengharumkan nama diri sendiri, membanggakan orang tua, dan juga kampus. “Kita harus sadar diri bahwa kita berada di bawah naungan sebuah institusi dan membawa nama institusi di berbagai kompetisi hingga memenangkannya adalah hal yang membanggakan. Semoga teman-teman lain bsia terpacu dan mampu memberikan yang terbaik,” pesannya. (*faq/wil)
Kapal Cepat dan Mobil Hemat Energi UMM Ikuti Laga Nasional

Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kirimkan tim terbaik untuk berlaga di kejuaraan yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Melalui Lembaga Semi Otonom (LSO) Mekatronik yang ada di FT UMM, mereka siap untuk bertanding dalam Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) dan Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN). Kejuaraan tersebut dilaksanakan di Universitas Indonesia (UI) pada 22 Oktober hingga 03 November 2023. Dalam ajang tersebut, tim UMM akan bersaing dengan berbagai kampus terbaik di seluruh negeri. Ada UI, ITS, UGM, Undip, UB dan kampus lainnya. Setidaknya, tim Mekatronic akan mengikuti dua kategori perlombaan dalam masing-masing kontes. Untuk KMHE, mereka bersaing di kategori proto etanol dan urban gasoline. Sedangkan KKCTBN berlaga pada kategori electric remote control dan fuel engine remote control. Dalam momen pemberangkatan, Wakil Rektor III UMM Dr. Nur Subeki, ST. MT. menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari mahasiswa, dosen pendamping, dan pihak-pihak sponsor. Keberangkatan tim tersebut menjadi salah satu bukti nyata keberhasilan kurikulum FT UMM yang tidak hanya memberikan teori saja. Namun mahasiswa juga bisa mengimplementasikannya menjadi sebuah temuan dan alat. Apalagi dilombakan di kejuaraan nasional hingga internasional. “Ini pasti diapresiasi, terutama saat lolos membawa pulang juara. Juara yang diraih akan sangat berarti untuk UMM. Berikan yang terbaik dan berusahalah dengan apik,” jelasnya. lebih lanjut, dia juga menegaskan bahwa UMM selalu siap memberikan wadah sekaligus fasilitas bagi mahasiswa yang ingin unjuk gigi dalam berbagi bidang akadamik dan non-akademik. “Mahasiswa boleh ikut lomba apa saja dan tentu akan kami dukung sepenuhnya,” tegas Eki, sapaannya. Di sisi lain, salah satu mahasiswa dari Tim Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional yakni Abi Mufid Octavio menegaskan bahwa ia dan tim sudah siap seratus persen. Kesiapan tersebut dibuktikan dengan melakukan latihan sebanyak tiga kali dalam sehari dengan memanfaatkan danau kampus serta danau yang ada di taman rekreasi UMM. Selain itu juga dengan melakukan upaya trial and error untuk mendapatkan efisiensi serta performa maksimal yang dimiliki oleh mesin kapal. “Kami sudah siap untuk bertanding di kejuaran tersebut. Latihan juga sudah kami maksimalkan serta juga melakukan banyak sekali riset. Mulai dari peingkatan performa dari mesin hingga arena yang nanti akan digunakan untuk pertandingan. Kami tentu optimis bisa meraih juara di kompetisi ini,” tegasnya mengakhiri. (Faq/Wil)
Hadirkan Pakar Budaya, UMM Kaji Budaya untuk Diplomasi dan Cara Melestarikannya

Budaya Indonesia saat ini telah banyak bergeser. Masyarakat banyak mempelajari budaya lain dibandingkan budaya sendiri yang dirasa terkesan tertinggal. Seperti contohnya saat ini banyak masyarakat Indonesia yang menyukai budaya Korea. Hal itu dijelaskan Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek RI Dr. Restu Gunawan, M.Hum. dalam kuliah tamu, 22 Oktober lalu. Acara yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan tajuk pemajuan kebudayaan dan diplomasi budaya itu diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan “Bukan salah jika menyukai budaya lain, tapi jangan sampai terlupa akan identitas aslinya. Kini masyarakat banyak menyukai budaya luar negeri, contohnya masyarakat yang menyukai budaya Negara Korea seperti KPOP, makanannya, hingga pakainnya. Hal ini merupakan salah satu pengaruh dari perkembangan kolaborasi antara budaya dan juga teknologi,” kata Restu. Resti mengatakan, budaya merupakan identitas suatu bangsa, termasuk Indonesia. Budaya menjadi identitas, jati diri, juga menjadi nama. Menurutnya, budaya bukan tidak boleh dikembangkan. “Mungkin ada beberapa orang yang menyukai pakemnya. Namun tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan sehinnga bisa memberikan nilai lebih pada budaya,” jelasnya. Contoh kolaborasi menurut Restu adalah pakaian atau makanan tradisional yang dikembangkan dari segi rasa, keunikan, hingga bentuknya. Hal ini akan menarik perhatian dunia dan juga dapat digunakan sebagai salah satu cara diplomasi budaya ke mancanegara. Contoh mudahnya adalah pengembangan kain batik sebagai pakaian sehari-hari atau digunakan pada saat bertemu teman. Hal ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk diplomasi mengenai budaya kita kepada masyarakat nasional maupun internasional. Ia menegaskan, pemerintah telah melakukan pelestarian terhadap kebudayaan Indonesia. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan melakukan pencatatan terhadap aksara kuno, dokumentasi benda sejarah, hingga pembuatan film berbasis budaya agar masyarakat mengetahui dan ikut melestarikan. Pemerintah juga membuka program Beasiswa LPDP yang berkolaborasi dengan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) untuk memberikan beasiswa bagi para pelaku budaya yang ingin melanjutkan studi. Sehingga para pelaku senin memiliki banyak peminat dan menjadi ladang diplomasi untuk memperkenalkan budaya ke kancah nasional maupun internasional. “Maka dari itu, jangan sampai budaya Indonesia ini hilang di tangan kalian. Lestarikanlah dengan berbagai cara. Mungkin masyarakat saat ini tidak terlalu menyukai budaya sendiri, namun lima tahun ke depan bisa jadi masyarakat menyukai kembali budayanya,” tambahnya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan M.Pd. juga menjelaskan bahwa budaya adalah identitas. Budaya itu bersifat konstruktif yang artinya membangun untuk menghasilkan sesuatu yang baik. “Orang akan menjadi rapuh jika meninggalkan budaya. Namun jika budaya dilestarikan dan dikembangkan tentu bisa menjadi citra dan wajah kita untuk menghadapi perubahan zaman,” katanya mengakhiri. (Tri/Wil)