Cacingan Dapat Menghambat Prestasi Anak? Ini Penjelasan Dokter UMM

Cacing adalah salah satu parasit yang dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan gejala penyakit. Kondisi tersebut disebut sebagai cacingan. Cacingan biasanya terjadi pada anak-anak sebab mereka belum dapat menjaga dan membersihkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi anak berumur lebih dari dua tahun untuk mengonsumsi obat cacing. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Hawin Nurdiana, M.Kes., Sp.A. mengatakan bahwa efek infeksi cacing pada anak dapat mengganggu pertumbuhan dan mengganggu prestasi sekolah. “Ada beberapa akibat dari infeksi cacing pada anak. Yaitu dapat membuat anak lemas, lesu, pucat, serta nafsu makan menjadi berkurang. Jika nafsu makan anak berkurang, maka pertumbuhan pada anak pun akan terganggu. Jika anak lemas, lesu, dan pucat, maka saat menyerap pelajaran pun akan kesulitan,” ujar Hawin, sapaan akrabnya. Tak hanya itu, dokter yang juga praktek di RSU UMM ini menyampaikan gejala cacingan lainnya yakni muncul dalam bentuk diare yang berlendir hingga berdarah. Namun, tidak semua diare berlendir dan berdarah itu disebabkan oleh cacingan. Sehingga tinjanya harus diperiksakan lebih lanjut lagi dan mendapatkan penanganan. “Jika sudah bergejala sampai mengganggu kesehatan anak, maka mengonsumsi obat cacing bisa dicoba sebagai terapi. Dengan mengonsumsi obat cacing, harapannya bisa mengatasi infeksi cacing,” jelasnya. Hawin memberikan beberapa tips untuk menghindari penyakit cacingan. Pertama, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), misalnya dengan mencuci tangan sebelum makan dan minum. Kedua, memakai alas kaki, utamanya di luar rumah agar kulit tidak melakukan kontak langsung dengan tanah. Ketiga, memperhatikan kebersihan makanan. Contohnya, mencuci sayur dan buah sebelum di konsumsi. Sebab, hal itu merupakan salah satu sumber penularan. Bisa saja terdapat telur cacing pada makanan dan minuman yang ingin kita konsumsi. Keempat, memotong kuku seminggu sekali. Kelima, mengkonsumsi obat cacing secara rutin terutama di lingkungan yang endemis. Keenam, menjaga kebersihan secara umum seperti menjaga kebersihan rumah, sprei, halaman, dan lainnya. Ketujuh, rutin mengonsumsi obat cacing enam bulan sekali. “Misalnya ada cacing kremi yang ditularkan lewat sprei. Cacing kremi biasa keluar dari anus anak pada malam hari, sehingga kena sprei dan tempat sekelilingnya. Jika kita tidak menjaga kebersihannya, maka bisa menular ke orang sekitar,” pungkasnya. Terakhir, Hawin berharap agar sekolah dan masyarakat sekitar bisa  lebih sering memberikan edukasi terkait infeksi cacing. “Ini tidak boleh diremehkan. Infeksi ini akan sangat merugikan generasi Indonesia, mengingat anak-anak merupakan generasi muda Indonesia yang sangat berharga,” pungkasnya. (Dev/Wil)

Tumbuhkan Potensi Kewirausahaan, Agribisnis UMM Adakan Lomba Inovasi Pangan bagi SMA

Demi menumbuhkan minat dan potensi anak muda di bidang bisnis pangan, Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selenggarakan AGRIFAIR: National Business Plan Competition. Terhitung, ada 78 tim SMA sederajat dari seluruh Indonesia yang berebut juara. Berlangsung sejak September hingga final pada 12 Oktober lalu. Sebelumnya, tim yang ikut diseleksi melalui proposal berdasarkan judul yang diajukan. Dari sekian banyak kelompok, hanya ada 20 tim yang berhak berkompetisi di babak berikutnya. Mereka memberikan presentasi gagasan-gagasan teranyar di depan para juri yang berpengalaman. Berbagai gagasa itu berfokus pada sektor agribisnis dan teknologi di Indonesia. Ary Bakhtiar, SP., M.Si. selaku Ketua Program Studi Agribisnis UMM mengapresiasi semangat dan kualitas peserta dalma ajang tersebut. Menurutnya, mereka telah membawa semangata kewirausahaan ke tingkat yang lebih tinggi. Memberikan inovasi solutif pangan dengan strategi penjuaalan yang baik pula. “Para peserta menjadi bukti bahwa anak muda memiliki jiwa inovatif dan bisnis yang tinggi. Semoga mereka bisa mengembangkannya dan memberikan manfaat bagi sesama,” tegas Ary. Adapun pemenang pada kompetisi ini adalah SMA Muhammadiyah 02 Genteng, Banyuwangi sebagai juara pertama. Disusul MA Husnul Khotimah sebagai juara kedua dan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi sebagai juara ketiga. Sebagai tim terbaik, SMA Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi mempresentasikan inovasi solutif untuk pengananan stunting melalui produk olahan nugget berbahan dasar daun kelor atau moringa oleifera. Mereka juga menggagas makanan ringan yakni snackbar dengan variasi penambahan daun kelor yang diberi  nama “Moringa Island”. Monica, salah satu anggota tim SMA Muhammadiyah 02 Genteng Banyuwangi menyampaikan kebanggaannya bisa turut serta dalam kompetisi ini. Ia berharap, ajang ini menjadi penyemangat anak muda lain seusianya untuk yang menelurkan ide-ide kretif khususnya dalam hal pangan. “Terimakasih untuk Agribisnis UMM yang mampu menghadirkan semangat baru bagi saya dan teman-teman untuk meneruskan inovasi. Harapannya bisa bermanfaat bagi kemajuan negeri. Semoga selanjutnya banyak kegiatan serupa di berbagai tempat lain,” katanya mengakhiri. (rev/wil)

Tim Mahasiswa UMM Juara Sidang Nasional berkat Kaji Perdagangan Manusia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak pernah bosan mengharumkan namanya di perlombaan level nasional. Terbaru, kabar gembira datang dari  tim mahasiswa jurusan Hukum UMM yang berhasil memenangkan National Moot Court Competition (NMCC) Anti Human Trafficking. Pada kompetisi yang dilaksanakan di Universitas Lampung pada 8 Oktober 2023 itu, mereka memenangkan kategori Berkas Penyidik Terbaik. Abdillah Cahya sebagai ketua delegasi mengaku sangat bangga dapat membawa pulang juara. Apalagi kompetisi itu merupakan hal yang bergengsi karena diadakan oleh Asian Law Student’s Association (ALSA).  Cahya, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa proses pemberkasan dan latihan sudah mereka lakukan sejak enam bulan lalu. Mereka mengkaji kasus terkait perdangan manusia yang tidak pernah selesai di Indonesia, khusunya Lampung. “Selama 6 bulan itu kami selalu berdiskusi. Bahkan bersama para polisi langsung sehingga banyak hal yang kami dapat untuk bahan kajian. Bahkan kami seringkali berdiskui hingga shubuh tiba,” ceritanya. Cahya mengaku, ia kurang begitu percaya diri saat melihat tim-tim lain yang terlihat lebih siap dan keren. Namun, perasaan itu ia tampik karena melihat anggota timnya yang juga sudah bekerja keras demi memenangkan lomba. Berkas-berkas ang disiapkan sudah mencukupi dan akhirnya kepercayaan dirinya bertambah. “Kalau boleh jujur, kami tidak berharap banyak pada pengumuman juara. Tentu kami ingin bisa mendapatkan juara, apalagi dengan berbagai persiapan yang kami lakukan. Alhamdulillah saat tim UMM terpanggil sebagai pemenang, rasanya rasanya perjuangan kami selama 6 bulan sangat terbayar dengan lunas,” ungkapnya. Menurutnya, juri tertarik dengan isi berkas yang mereka kaji karena semua berkas yang dibuat sangat sesuai dengan KUHP yang ada di Indonesia. Tidak hanya itu, Cahya juga mengatakan kalau kerjasamanya bersama polisi secara langsung membawa mereka ke titik kemenangan tersebut. “Dalam kasus itu, kami menggali mengenai perekrutan dan penampungan korban perdagangan manusia. Dari sana kami mengambil pasal 2, pasal 7 ayat 2, dan pasal 17 UU No 21 Tahun 2007,”  jelasnya. Cahya juga mengatakan kalau kasus perdagangan manusia yang terjadi di Lampung telah lama terjadi. Sampai saat ini, masih banyak yang belum tertangkap. Korban yang diperdagangkan juga merupakan mantan pasien rehabilitas yang kemudian dipenjarakan di salah satu instansi. Korban diperlakukan tidak seperti manusia dan mendapatkan kekerasan fisik maupun verbal. Tidak hanya itu, Cahya juga mengatakan bahwa dalam kasus tersebut ada korban meninggal dunia saat masih berada di penampungan. Hal ini menjadikan Cahya dan tim memberikan kesimpulan bahwa terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 13 tahun dan juga denda sebanyak 450 juta rupiah. “Dengan adanya kasus ini, saya sebagai seorang mahasiswa dan rakyat Indonesia berharap tidak akan terjadi lagi perdagangan manusia. Begitupun dengan pelaku lainnya agar bisa cepat terdeteksi,” pungkasnya. (ri/wil)

Keren, Kontribusi Aktif Atasi Covid-19 Bawa UMM Raih Jatim Bangkit Award

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih penghargaan Jatim Bangkit dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, 18 Oktober lalu. Hal itu tak lepas dari kontribusi sigap UMM dalam mengantisipasi dan menangani pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Hadir secara langsung Rektor UMM di Surabaya untuk menerima penghargaan kategori lembaga pendidikan dengan dukungan terhadap pemulihan dampak pandemi terbaik itu. Beberapa hal yang dilakukan Kampus Putih UMM di antaranya membangun rumah sakit lapang penanganan Covid-19 dengan peralatan dan fasilitas lengkap, menjadi rujukan untuk penderita Covid-19 hingga menyediakan lokasi untuk vaksin. Begitupun dengan menyediakan gedung khusus untuk isolasi bagi penderita Covid-19. Relawan dari UMM juga memberikan dampak positif untuk meringankan masyarakat di tengah pandemi. Dalam malam penganugerahan itu, Gubernur Jawa Timur Dr. Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa acara tersebtu juga meneguhkan bahwa tidak ada kesuksesan yang bisa dilakukan sendirian. Perlu adanya saling bantu dan kerjasama, termasuk dalam menangani Covid-19. Begitupun dengan aspek penanganan untuk percepatan pertumbuhan ekonomi. Semua elemen saling bantu untuk mengatasi kondisi tersebut. Para lurah dan kades juga menjadi lini penting di berbagai daerah. Melihat dan mendata siapa saja yang sudah divaksin hingga memastikan apakah sistem aplikasinya berjalan atau tidak. “Kawan-kawan BUMD, lembaga pendidikan, DPRD kabupaten dan kota, dan berbagai pihak juga kami ajak untuk turut serta di banyak program. Termasuk turut serta dalam gowes dalam rangka memulihkan ekonomi. Jadi kita berhenti tiap dua kilometer, belanaja dan memang harus belanja sebagai bentuk pemberina insentif,” jelas Khofifah. Menurutnya, saat itu, semua orang berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan nyawa dan jiwa masyarakat. Saat itu pula, Khofifah menilai bahwa semua orang berindonesia lahir dan batin 100 persen. “Maka dari itu, mari tetap berindonesia lahir dan batin meskipun dinamikanya berbeda. Meskipun kondisinya juga berbeda. Sekali lagi, kami ucapkan terimakasih atas segala upaya yang teman-teman lakukan,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. mengaku bangga karena upaya dan kerja keras UMM diapresiasi oleh pemerintah provinsi Jatim. Menurutnya, hal ini menghidupkan budaya apresiatif konstruktif dna memunculkan berbagai elemen untuk melakukan hal baik. “Semoga capaian ini bisa memotivasi sivitas akademika dan juga warga UMM untuk selalu memberikan yang terbaik. Memberikan manfaat untuk sesama di berbagai kondisi dan situasi,” katanya mengakhiri. (wil)

Mahfud MD dan Khofifah Jadi Cawapres Paling Favorit di Jatim

Muhaimin Iskandar memang paling awal memegang tiket calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Anies Baswedan. Situasi itu membuat tren elektabilitas Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut melonjak naik di Jawa Timur. Berdasarkan survei yang dilakukan Pusat Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Jawa Timur pada September 2023 dengan responden sebanyak 1.000 orang, Muhaimin naik dari 5,8 persen pada Juli 2023 menjadi 10,9 persen pada September 2023. Meski begitu, angkanya masih berada di urutan kelima, di bawah Mahfud MD (19,4 persen), Khofifah Indar Parawansa (14,5 persen), Ridwan Kamil (11,1 persen), dan Sandiaga Uno (10,9 persen). Mahfud yang menjabat sebagai  Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia (Menko Polhukam) mengalami kenaikan elektabilitas dari 15 persen pada Juli 2023 menjadi 19,4 persen pada September 2023. ”Masih ada beberapa nama lain yang muncul dalam survei cawapres ini. Mereka antara lain Erick Thohir (10 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (6 persen), Yenny Wahid (4,5 persen), dan Gibran Rakabuming (4,2 persen),” kata Ruli Inayah Ramadhoan, S.Sos, M.Si, koordinator tim survei Pusat Studi Ilmu Politik UMM. Apabila ditilik lebih detail berdasarkan wilayah aglomerasi kultural, Mahfud MD unggul di tiga wilayah, yakni Arek (22,9 persen), Mataraman (16,5 persen), dan Pantura (23,1 persen). ”Mahfud asal Sampang, Madura, tapi justru kalah dukungan ketimbang Muhaimin dengan 28,8 persen di  Pulau Garam itu, meski selisihnya tidak banyak dengan perolehan Mahfud (26,3 persen),” ujar dosen Hubungan Internasional UMM tersebut. Adapun Khofifah unggul di wilayah Tapal Kuda. Hanya, di wilayah tersebut persaingan di antara ketiganya terhitung ketat. Khofifah unggul dengan 17,5 persen, lalu menyusul Mahfud (14,5 persen), dan Muhaimin (12 persen). Kemudian, kalau dari afiliasi ormas, di mana NU menjadi yang paling dominan di antara 1.000 responden pada survei kali ini dengan 75,8 persen, Mahfud menjadi yang paling unggul (19,5 persen). Khofifah berada di urutan berikutnya dengan 15,6 persen dan Muhaimin (10,7 persen). ”Terlepas dari itu, ketika dilakukan simulasi pasangan capres-cawapres, baik dengan pasangan Khofifah maupun Mahfud, Prabowo selalu unggul tipis atas Ganjar. Sangat tipis,” terang Ruli. Ya, ketika Prabowo dipasangkan dengan Khofifah yang kini berstatus Gubernur Jawa Timur, mereka unggul dengan 49,3 persen berbanding pasangan Ganjar-Mahfud (48,6 persen). Situasi yang tidak berbeda jauh ketika pasangannya ditukar. Dalam simulasi pasangan Prabowo dengan Mahfud, mereka unggul dengan 49,6 persen berbanding Ganjar-Khofifah yang meraih 48,7 persen. Ruli menambahkan, detail hasil survei yang didanai secara mandiri oleh UMM tersebut akan dipaparkan Pusat Studi Ilmu Politik UMM pada Rabu, 18 Oktober 2023 di Ruang Sidang Senat UMM. ”Survei dilakukan selama September di seluruh desa/kelurahan di Jatim yang dipilih acak. Jumlah responden adalah 1.000 orang dengan sampling error kurang lebih 3,1 persen,” jelas Ruli. Dia menambahkan, responden tersebar secara proporsional pada 100 kelurahan dan desa terpilih di 36 kabupaten/kota di Jatim. Proporsi responden laki-laki dan perempuan berimbang 50:50. Juga, proporsi responden yang tinggal di pedesaan dan perkotaan. (wil)

Ganjar Memimpin Simulasi Tiga Capres di Jatim, Prabowo Unggul Head-to-Head

Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto menjadi sosok paling unggul elektabilitasnya dalam survei yang dilakukan Pusat Studi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selama September 2023. Ganjar unggul dalam simulasi tiga calon atas Prabowo dan Anies Baswedan, sedangkan Prabowo unggul dalam simulasi dua calon atau head-to-head. Tidak berbeda jauh dengan survei sebelumnya pada Juni 2023 lalu, Ganjar yang diusung PDIP dan PPP memimpin dengan 42,8 persen atau naik 0,5 persen ketimbang survei Juni 2023. Itu terjadi saat simulasi tren pilihan tiga calon presiden (capres). Namun, ketika diadu dalam simulasi dua calon atau head-to-head, Prabowo berbalik unggul dengan angka 50,7 persen atas Ganjar yang memperoleh 47,4 persen. ”Jadi, bisa dibilang, saat putaran kedua apabila bertemu, maka Prabowo lebih unggul atas Ganjar di Jatim,” ujar Ruli Inayah Ramadhoan, S.Sos, M.Si, koordinator tim survei Pusat Studi Ilmu Politik UMM. Survei dilakukan Pusat Studi Ilmu Politik UMM di Jawa Timur dengan responden sebanyak 1.000 orang. Itu tersebar secara proporsional pada 100 kelurahan atau desa di 36 kota/kabupaten di Jatim. Adapun survei ini adalah penelitian ilmiah independen yang didanai secara mandiri oleh UMM. ”Pada survei yang pertama dengan responden 800 orang, kali ini dengan responden lebih banyak, yakni 1.000 orang. Survei kami lakukan selama September 2023 dengan sampling error kurang lebih 3,1 persen,” lanjut Ruli yang merupakan dosen Hubungan Internasional UMM. Berdasarkan data survei, meningkatnya angka dukungan responden kepada pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar yang merupakan pasangan paling awal deklarasi capres-cawapres, menggerus angka Prabowo. Meski tetap tertinggal di urutan ketiga, tapi Anies mengalami kenaikan 9,1 persen, dari 10,4 persen pada survei Juli 2023 menjadi 19,5 persen pada September 2023. Apabila digali lebih detail menggunakan wilayah aglomerasi kultural, maka Ganjar unggul di wilayah Mataraman (54,6 persen) dan Arek (47,9 persen). Kemudian, Prabowo unggul di Tapal Kuda (47,6 persen) dan Pantura (41,5 persen). Sedangkan, Anies unggul di Madura (47,5 persen). ”Ganjar populer di kalangan santri dengan 38,8 persen memilih kader PDIP tersebut. Namun, di kalangan non-santri, Ganjar pun kembali unggul dengan 43,3 persen,” terang Ruli. Ketika dipilah dari sisi usia, ternyata Baby Boomers (59-85 tahun) dan Gen-Z (17-26 tahun) paling banyak memilih Prabowo dengan angka 41,3 persen dan 45,6 persen. Sedangkan, Gen X (43-58 tahun) dan Gen Y (27-42 tahun) didominasi pemilih Ganjar dengan 44 persen dan 43,6 persen. ”Mayoritas responden kami sebanyak 75,8 persen berafiliasi dengan ormas NU. Kemudian Muhammadiyah 3,2 persen, non-afiliasi 20,1 persen, sisanya beberapa ormas lain rata-rata nol koma sekian persen. Dan, dari data itu, responden yang berafiliasi NU dan Muhammadiyah cenderung memilih Ganjar Pranowo,” kata Ruli. Sesuai dengan data yang didapatkan di lapangan, 41,6 persen responden yang berafiliasi dengan NU cenderung memilih Ganjar. Prabowo pada urutan kedua dengan 39,3 persen, lalu Anies pada urutan ketiga dengan 18,2 persen. Sedangkan di Muhammadiyah, selisihnya sangat tipis. Ketat di antara ketiga calon. Ganjar memimpin dengan 34,4 persen, lalu Prabowo dan Anies berimbang dengan sama-sama 31,3 persen. ”Tadi pagi PDIP telah mengumumkan Mahfud MD sebagai pasangan cawapres mendampingin Ganjar. Nah, kami juga sudah membuat simulasi itu dan Mahfud merupakan tokoh yang sesuai survei kami paling tinggi dipilih responden di Jawa Timur,” terang Ruli. Dia menambahkan, Mahfud menjadi cawapres favorit di Jatim dengan angka 19,4 persen, unggul atas Khofifah yang berada di urutan kedua (14,5 persen). Sedangkan, Muhaimin yang merupakan cawapres dari Anies Baswedan berada di urutan kelima (10,9 persen). Selain itu, dalam simulasi tiga pasangan capres-cawapres, Ganjar-Mahfud memimpin dengan 42,7 persen, lalu Prabowo-Khofifah (36,3 persen), dan terakhir Anies-Muhaimin (19,7 persen). Pasangan Ganjar-Mahfud berdasarkan wilayah aglomerasi kultural unggul di wilayah Arek dengan 48,8 persen dan Mataraman (55 persen). Di wilayah Tapal Kuda dan Pantura mereka berada di bawah Prabowo-Khofifah, sedangkan di Madura, mereka paling sedikit didukung (17,5 persen). ”Mahfud memang berasal dari Madura, tapi di daerah tersebut dikuasai Anies-Muhaimin dengan 47,5 persen, lalu Prabowo-Khofifah (35 persen). Di Madura memang ketika dilakukan survei cawapres, Muhaimin lebih tinggi ketimbang Mahfud,” jelas Ruli. Sementara itu, Pusat Studi Ilmu Politik UMM juga melakukan survei untuk mengetahui seberapa besar daya endorse Presiden Joko Widodo terhadap pasangan capres-cawapres. ”Masyarakat di Jatim menilai arahan Jokowi tidak mempengaruhi mereka. Sama halnya dengan pilihan Parpol juga tidak benar-benar sejalan dengan pilihan masyarakat Jatim akan pasangan capres-cawapres,” kata Ruli. Berdasarkan survei, sebanyak 53,9 persen responden menyatakan, arahan atau dukungan dari Jokowi tidak berpengaruh. Bahkan, ada 9 persen yang menyatakan sama sekali tidak berpengaruh. Sedangkan yang menilai berpengaruh berada di angka 28 persen. (wil)

Cegah Penyakit Degeneratif, Dosen FK UMM Sebut Pola Hidup Sehat Kuncinya

Penyakit degeneratif ialah penyakit yang disebabkan oleh penurunan fungsi sel. Semakin bertambahnya usia, maka fungsi sel pun akan semakin menurun. Penyakit ini memiliki berbagai macam jenis, seperti demensia, parkinson, osteoporosis, multiple sclerosis, stroke, alzheimer, dan lain sebagainya. dr. Aan Dwi Prasetio, Sp.N selaku dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muahmmadiyah Malang (UMM) menyatakan, penyebab awal dari penyakit ini adalah genetik atau keturunan. Jika orang tua memiliki riwayat parkinson misalnya, maka hal tersebut beresiko besar akan diturunkan kepada anak-anaknya. Penyebab kedua ialah gaya hidup atau lifestyle. Penyakit degeneratif biasanya akan muncul di usia 65  tahun keatas. Namun, gaya hidup yang kurang atau tidak sehat menyebabkan penyakit ini lebih sering muncul dibawah usia tersebut. “Lifestyle sekarang itukan sudah macam-macam, seperti makan junkfood hingga mengonsumsi gula berlebih. Ditambah juga jarangnya berolahraga, makannya tidak teratur, yang malah hal tersebut mempercepat penyakitnya muncul. Contohnya sekarang banyak pasien stroke di usia 30 tahunan, padahal dulu penyakit ini biasa muncul di usia 50 tahun keatas,” ucapnya. Aan mengatakan bahwa gejala dari penyakit degeneratif ini pastinya berbeda-beda. Jika terkena parkinson, maka gejala yang akan dialami penderitanya adalah tremor dan kaku. Namun penyakit degeneratif yang paling sering muncul ialah Alzheimer. Dikatakan Alzheimer jika daya ingatnya menurun sebelum usia 65 tahun. Jika mengidap penyakit ini, penderitanya pun tidak bisa melakukan aktivitas sendiri. Penyakit degeneratif tidak dapat disembuhkan secara total, sebab berkaitan dengan penambahan usia. Jadi penyakit ini hanya bisa dikurangi morbiditas atau kecacatannya. Obat-obatan hanya membantu agar penyakit tersebut tidak semakin berat, serta menjaga agar kualitas hidupnya lebih baik. “Meski demikian, tidak perlu khawatir karena penyakit ini dapat dicegah. Caranya adalah dengan tetap menjaga pola makan dan hidup sehat di usia muda seperti rajin berolahraga, tidak merokok dan tidak minum alkohol,” jelasnya. Aan pun mengingatkan bahwa gaya hidup di masa muda akan sangat berpengaruh pada kualitas masa tua seseorang. Jadi sangat penting untuk memperhatikan Kesehatan sedini mungkin. “Masa muda itu akan sangat menentukan succesfull aging atau masa tua kita. Jika kita menerapkan pola hidup sehat pada usia muda, maka saat sudah berada pada usia di atas 50 tahun akan terjadi proses penyakit degeneratif yang lebih minimal,” jelas Aan mengakhiri. (Dev/Wil)

HI UMM-Eurasia Foundation Kolaborasi Adakan Program Internasional

Menggandeng Eurasia Foundation from Asia, jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selenggarakan program kelas berstandar internasional. Program tersebut dilaksanakan sepanjangn September hingga Desember 2023 ini. Kehadiran Eurasia Foundation yang berkantor di Jepang itu memberikan nuansa dan ilmu baru bagi para peserta dan mahasiswa. Kepala pusat studi Asia UMM, Dedik Fitra Suhermanto menjelaskan, melalui program ini para peserta bisa merasakan bagaimana diajar oleh pendidik dari luar negeri. Jadi tidak hanya melulu dosen dari Indonesia saja. Misalnya pengajar yang berasal dari Jepang, Selandia Baru, India, Taiwan, dan Uzbekistan. Materinya juga beragam, mulai dari pengantar hingga hal-hal spesifik lainnya terkait HI. Adapun ketertarikan Eurasia Foundation untuk bekerjasama dengan HI UMM lantaran program ini dinilai dapat menjadi katalisator internasionalisasi bagi kedua belah pihak. Dari sisi EF, kemitraan dengan institusi akademik di Indonesia yang memiliki iklim multikultur seperti UMM dapat menjadi pendorong harmonisasi di Asia yang merupakan bagian dari visi utama mereka. Sementara bagi HI UMM, hal ini strategis untuk meningkatkan standar internasional program studi. Bagi EF, kata Dedik, UMM memiliki potensi untuk menciptakan iklim pendidikan yang multikultur. Latar belakang mahasiswa yang berbeda-beda, baik itu budaya, negara, dan lainnya tentu memiliki nilai lebih. Lebih dari itu, UMM juga memiliki sumber daya yang mumpuni untuk menjadikan pendidikan lebih mengglobal. Sementara itu, Prof. Gonda Yumitro, salah satu pengajar pada program ini memaparkan, keragaman budaya dan etnis di Asia merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Untuk mewujudkan multikulturalisme yang harmonis, diperlukan kerja sama dari semua pihak. “Sebab itulah, mata kuliah yang diajarkan di program internasional ini diharapkan dapat memberikan mahasiswa pemahaman dan keterbukaan perspektif yang komprehensif tentang multikulturalisme di Asia,” ujarnya. Menariknya, pemateri bukan hanya berasal dari akademisi saja. Namun juga para praktisi yang memiliki pengalaman multikultural di berbagai negara Asia maupun dunia. Tentu hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa HI UMM yang selepas lulus tertarik untuk berkiprah di dunia internasional. (*/Wil)

UNESCO Apresiasi Pengembangan dan Pemeliharaan Subak Bali oleh UMM

Upaya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan dan melindungi warisan dunia Subak Bali berhasil diapresiasi langsung oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Pada 14 Oktober lalu, tim UNESCO datang dan mengamati bagaimana pengembangan dari Subak Bali, utamanya dalam aspek air, lingkungan, hingga pangan. Ini juga bagian dari UMM untuk mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Turut hadir perwakilan UNESCO dan sekretaris daerah Kabupaten Tabanan. Adalah Julia Baribeau dan Prof. Adv. Giuseppe Musumeci yang mewakili UNESCO. Mereka mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi usaha Kampus Putih dalam memelihara Subak Bali. Mereka juga ikut serta mengunjungi ke hulu sungai, temuku air di sawah, titik demplot, dan akhir dari aliran air. Tanggapan Julia dan Masumeci juga positif terkait berbagai inovasi dan upaya UMM selama ini. “Jangan hanya dilakukan di Tabanan saja, tapi UMM juga harus meluaskan jangkauannya di berbagai daerah di Bali. Bahkan bisa diimplementasikan se-provinsi Bali agar manfaatnya juga bisa dirasakan orang banyak,” kata mereka. Sementara itu, ketua tim pengembangan Subak UMM Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P. senang karena demonstration site (demplot) yang ada di Subak bisa diakui oleh organisasi dunia. Hal itu juga tak lepas dari upaya UMM mengajukan ke UNESCO agar mendapakat rekognisi internasional. Bukan hanya sebagai sebagai lokasi pengembangan dan pemeliharaan air, tapi juga budaya, lingkungan dan pangan. “Beberapa waktu lalu, tim kami juga sempat mepresentasikan dan mengajukannya di workshop UNESCO yang bertempat di Tiongkok. Kami menjelaskan bahwa UMM ingin menjalankan smart organic farming untuk meningkatkan Subak Bengkel sebagai pusat pangan, lingkungan, dan budaya. Kemudian tim Ecohydrology UNESCO datang dan mengapresiasi dan menyetujui pengajuan kami ini,” katanya. Implementasi teknologi dalam pertanian ini juga memberikan dampak yang positif. Terhitung ada 9-12 ton per hektar yang dihasilkan di sembilan titik. Indah dan tim juga mendampingi prosesnya dari awal hingga akhir. Misalnya saja dengan berkoordinasi terkait teknologi, pemanfaatan limbah di tempat pengelolaan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R) menjadi pupuk organik, hingga penggunaan pestisida alami. “UMM juga memiliki biofarm yang digunakan dalam pengembangan ini. Biofarm mampu memberishkan lahan dari residu kimia dan juga meningaktkan kesuburan tanah. Otomatis produktivitas tanahnya juga meningkat serta mempercepat waktu panen,” jelas Indah. Adapun sertifikat dan legitimasi atas pengakuan ini akan diserahkan langsung pada Desember mendatang. Indah mengatakan, penetapan Subak sebagai demonstratio site memotivasi timnya untuk menghadapi tugas berat. Salah satunya berupaya agar sistem subak dan pertanian di sana tidak berbubah menjadi hunian rumah. Begitupun dengan menciptakan lingkungan yang baik dan terpelihara. “Langkah-langkah yang kami lakukan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani, menstabilkan harga dan inflasi, menciptakan industri berbasis desa yang mengolah dan mengelola produk pertanain. Ujungnya yakni turut membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebelumnya, hal serupa juga sukses dilaksanakan UMM di Bondowoso dan kami berharap bisa melakukannya di Bali ini,” pungkasnya. (*wil)

60 Ribu Guru Memasuki Masa Pensiun, Dosen UMM Sebut Perlu Anak Muda yang Menggantikan

Profesi guru di Indonesia memiliki peran sentral dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di balik prestasi siswa, ada peran guru dalam membentuk karakter dan pengetahuan mereka. Namun, profesionalisme dan kesejahteraan guru seringkali disepelekan. Alhasil, banyak generasi muda yang ragu untuk memilih guru sebagai pilihan karirnya. Isu itu pun ditepis oleh Dr. Iin Hindun, M.Kes., selaku Ketua Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Iin menyoroti bahwa mobilitas guru pada periode tahun 2023 hingga 2030 mengalami peningkatan yang signifikan. Setiap tahun sekitar 60 ribu guru memasuki masa pensiun, sehingga diperlukan regenerasi baru dalam dunia pendidikan. “Namun, menjadi seorang guru tidak cukup hanya dengan kualifikasi akademik dan ijazah. Sertifikasi profesi melalui PPG menjadi syarat utama untuk memasuki dunia pendidikan,” ujar Iin. Ia menambahkan, pada kenyataannya masih banyak guru yang belum tersertifikasi PPG. Hal itu pun memantik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk membuka formasi PPG pra-ASN. Menariknya, program tersebut diperuntukkan oleh fresh graduate yang akan dibiayai oleh pemerintah selama satu tahun lamanya. “Setelah lulus dari program ini, mereka siap untuk menggantikan guru yang pensiun. Ini bukan hanya janji, tetapi sudah terbukti berhasil. Program ini memberikan peluang bagi lulusan untuk mengikuti Program Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P3K) dan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN),” ungkap Iin, yang juga seorang dosen Pendidikan Biologi. Dalam hal ini banyak yang bertanya-tanya mengenai penempatan guru yang bersangkutan. Menanggapi hal ini, Iin menambahkan bahwa para guru tersebut diberi kesempatan untuk memilih lokasi sesuai domisili. Hanya saja, apabila domisili tersebut sudah terpenuhi, maka akan ditugaskan ke daerah yang membutuhkan peran guru. “Hal ini memberikan fleksibilitas yang penting untuk memastikan bahwa setiap daerah memiliki guru yang berkualitas,” ujar Iin. Tantangan lainnya menjadi seorang guru adalah perkembangan zaman. Di mana teknologi kian beranak cucu yang mengakibatkan sering bergantinya sistem kurikulum pendidikan. Sebagai tenaga pendidik, Iin menyadari bahwa kurikulum selalu mengikuti zaman. “Prinsipnya sama, yakni untuk menyempurnakan seperangkat rencana yang akan diimplementasikan dalam dunia pendidikan,” katanya. Menurutnya, saat ini guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Oleh karena itu, guru harus bisa memfasilitasi bagaimana siswa belajar dengan memanfaatkan teknologi yang ada. “Ini adalah perkembangan yang tidak bisa dihindari, tetapi bisa dijadikan acuan untuk pembelajaran yang lebih efektif dan anak muda punya semangat ini,” tandasnya. Kemudahan dalam profesi guru saat ini membuka peluang baru bagi generasi guru muda untuk berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Iin pun optimis, masa depan Pendidikan Indonesia terus jadi lebih baik. Dengan inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, masa depan pendidikan di tanah air tentu akan semakin cerah. (*lai/wil)