Begini Penjelasan Islam yang Berkemajuan

Islam yang berkemajuan merupakan bentuk transformasi Al Maun untuk menghadirkan dakwah dan tajdid dalam pergulatan kehidupan keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Agama Islam yang bercorak maju dan mencerahkan merupakan wujud dari pandangan keagamaan yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengembangkan ijtihad di tengah kehidupan modern di abad ke-21 yang kompleks. “Islam yang berkemajuan menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan dan kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh ummat manusia,” demikian pesan utama yang diuraikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M. Ag. dalam kesempatan menjadi khatib pelaksanaan shalat Idul Adha di lapangan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (10/8) pagi. “Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia, baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi. Islam yang menggelorakan anti perang, anti terorisme, anti kekerasan, anti penindasan, anti keterbelakangan, dan anti dalam segala bentuk pengrusakan di muka bumi, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang menghancurkan kehidupan ummat manusia,” urai Agung.Islam yang secara positif, lanjut Agung, melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan suku, ras, bangsa, golongan dan kebudayaan ummat manusia di muka bumi. Karakter Islam yang berkemajuan telah memberikan kekuatan yang dinamis, dalam menghadapkan Islam dengan perkembangan zaman. Dalam penghadapan Islam atas realitas zaman itu dikembangkan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Islam dalam pergumulan dengan kehidupan sepanjang zaman, sambung Agung, harus diwujudkan dalam amal. Islam sangat menjunjung tinggi amal, sejajar dengan iman dan ilmu. Sehingga Islam hadir dalam paham keseimbangan sekaligus membumi dalam kehidupan. Dalam kehidupan yang konkrit, tidak ada manisfestasi lain dari Islam, kecuali dalam amal shaleh. “Islam memiliki pandangan tentang masyarakat yang dicita-citakan, yakni masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam pesan Al Qur’an, masyarakat Islam diidealisasikan sebagai perwujudan khaira ummah (ummat terbaik) yang memiliki posisi dan peran sebagai ummatan washatan (ummat tengahan), dan syuhada alannas (pelaku sejarah) dalam kehidupan manusia,” papar Agung. Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang di dalamnya ajaran Islam berlaku dan menjiwai seluruh bidang kehidupan yang dicirikan oleh pertama, bertuhan dan beragama. Kedua, berpersaudaraan atau ukhuwah. Ketiga, berakhlak dan beradab. Keempat, berhukum syar’i. Kelima, kesejahteraan. Keenam, bermusyawarah. Ketujuh, berikhsan. Kedelapan, berkemajuan. Sembilan, berkepemimpinan. Kesepuluh, berketertiban. Dengan demikian masyarakat Islam menampilkan corak yang bersifat tengahan yang melahirkan format kebudayaan dan peradaban yang berkeseimbangan. “Masyarakat Islam yang dicita-citakan tersebut, memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat Madani atau civil society yang maju, adil, makmur, demokratis, mandiri, bermartabat, berdaulat dan berakhlak mulia, yang dijiwai nilai-nilai Ilahiyah,” terang Agung. Masyarakat Islam sebagai kekuatan Madani, menjunjung tinggi kemajemukan agama, dan pemihakan terhadap kepentingan seluruh elemen masyarakat, perdamaian dan nir-kekerasan. “Serta menjadi tenda besar bagi golongan dan seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi,” tandas Agung. Sementara itu, terkait dengan penyediaan hewan kurban, UMM telah menyiapkan 7 sapi dan 13 kambing. Hewan kurban ini didistribusikan ke beberapa titik, seperti di wilayah dakwah UMM yang ada di Malang Selatan, serta sejumlah titik di penempatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata. Selain itu, tentunya di bagikan ke sekitar masyarakat Kampus III UMM. Kampus Putih sendiri melaksanakan shalat Idul Adha di dua tempat berbeda. Shalat Idul Adha di Kampus III UMM Jalan Raya Tlogomas diimami oleh Ustadz Anry Oktapiansyah, S.Sy. Sementara di Kampus II UMM Jalan Bendungan Sutami yang berlaku sebagai khatib, ialah Azhar Muttaqin, M.Ag, sementara imam Ustadz Wahyu Hidayat. (riz/can)
Tiga Persepektif tentang Indonesia Berkemajuan menurut Muhammadiyah

Dalam rangka menerjemahkan masyarakat Islam dalam konteks Indonesia kontemporer, maka Muhammadiyah merumuskan konsep Indonesia Berkemajuan sebagai sumbangsih Muhammadiyah terhadap konsep Indonesia ke depan. Indonesia Berkemajuan dimaknai sebagai negara utama atau Al Madinatul Fadhillah atau negara berkemakmuran dan berkeadaban dan negara yang sejahtera. Demikian pesan utama yang diuraikan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M. Ag. dalam kesempatan menjadi khatib pelaksanaan shalat Idul Adha di lapangan Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (10/8) pagi. Dihadiri oleh ribuan jamaah dari seantero Malang Raya. Shalat pun berlangsung penuh khidmat. Karenanya negara yang Berkemajuan, lanjut Agung, adalah negara yang mendorong terciptanya fungsi kerisalahan dan kerahmatan yang didukung sumberdaya manusia yang cerdas, berkepribadian, dan berkeadaban mulia. Karena itu, negara berkemajuan harus mampu menegakkan kedaulatan. “Baik di bidang wilayah, politik, hukum, ekonomi dan budaya; bisa mendatangkan kemakmuran; terpenuhinya sandang, pangan dan papan; mewujudkan kehidupan material dan spiritual; menjamin kebebasan berpikir, berekspresi dan beragama; menghormati hak asasi manusia, dan; menciptakan keamanan dan jaminan masa depan,” ungkapnya. Pertama, dalam perspektif politik Indonesia Berkemajuan adalah negara demokrasi yang dijiwai oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, berdasarkan hukum yang berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keberadaban. Demokrasi dalam kehidupan kebangsaan yang berkemajuan harus beretika tinggi yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, pemusyawaratan, dan keadilan. “Etika politik berdemokrasi ini ditunjukan dalam sistem tindakan yang mengedepankan perilaku jujur, damai, kesatria, dan saling menghormati. Dan menolak tindakan-tindakan anarkis, praktik menghalalkan segala cara, kekerasan dan kecurangan,” ungkap pendakwah yang juga dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Kedua, dalam perspektif ekonomi. Disambung pria kelahiran Kulonprogo, 24 Januari 1968 ini, Indonesia Berkemajuan dicirikan oleh terciptanya sistem ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan yang berkedaulatan, berkeadilan, dan berkelanjutan dengan keseimbangan pendayagunaan potensi darat, laut dan udara. “Indonesia Berkemajuan harus berdaulat secara ekonomi,” katanya. Hal ini terutama berkaitan dengan upaya untuk menciptakan keadilan distributif bagi warga negara guna memperoleh akses dan kepemilikan serta pengelolaan sumber daya ekonomi dan menyediakan sumber kehidupan dan lapangan pekerjaan untuk seluruh rakyat Indonesia yang layak. Paradigma pembangunan ekonomi yang dianut dan dilaksanakan merupakan sistem ekonomi yang mengupayakan keadilan dan kedaulatan bangsa. Serta, pada saat yang sama mampu membawa kemakmuran bagi seluruh warga negara. Sementara, lebih jauh lagi, di persepktif ketiga atau perspektif sosial-budaya, Indonesia Berkemajuan ditandai oleh berkembangnya budaya nasional yang merupakan puncak-puncak budaya daerah dan terbuka pada budaya baru yang sesuai dengan kepribadian bangsa. “Untuk dapat mewujudkan konsep Indonesia Berkemajuan, yang merupakan tafsir kontemporer ke-Indonesiaan atas konsep baldatun thoyibatun warabbun ghafur tersebut, dibutuhkan komitmen yang kuat dari seluruh warga masyarakat,” tegas Agung. Indonesia Berkemajuan adalah cita-cita kita bersama sebagai realisasi tugas kerisalahan ummat manusia sebagai abdi dan hamba Allah di muka bumi. “Menjadi tugas kita bersama Bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin, untuk merealisasikannya,” tandas Agung. Sementara itu, terkait dengan penyediaan hewan kurban, UMM telah menyiapkan 7 sapi dan 13 kambing. Hewan kurban ini didistribusikan ke beberapa titik, seperti di wilayah dakwah UMM yang ada di Malang Selatan, serta sejumlah titik di penempatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata. Selain itu, tentunya di bagikan ke sekitar masyarakat Kampus III UMM. Kampus Putih sendiri melaksanakan shalat Idul Adha di dua tempat berbeda. Shalat Idul Adha di Kampus III UMM Jalan Raya Tlogomas diimami oleh Ustadz Anry Oktapiansyah, S.Sy. Sementara di Kampus II UMM Jalan Bendungan Sutami yang berlaku sebagai khatib, ialah Azhar Muttaqin, M.Ag, sementara imam Ustadz Wahyu Hidayat. (riz/can)
Satu-satunya Perwakilan PT Swasta, Luthfin Belajar Industri Peternakan Ke Australia

Dua puluh mahasiswa Indonesia yang berasal dari 14 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 1 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), terpilih untuk mengikuti program dari NTCA Indonesia Australia Pastoral Program (NIAPP) 2019 di Australia. Mahasiswa yang terpilih berkesempatan untuk belajar industri peternakan di Australia. Salah satunya, mahasiswi Prodi Peternakan UMM angkatan 2016, Luthfin ‘Abidah, yang merupakan satu-satunya mahasiswi dari PTS yang lolos serangkaian tes seleksi program NIAPP 2019 yang ketat. Terdiri dari seleksi administrasi, tes tulis mengenai pengetahuan industri sapi potong Indonesia dan Australia serta tes fisik. Luthfin mengaku sangat bersyukur dan bangga bisa terpilih menjadi salah satu dari 20 peserta terpilih. Terlebih lagi yang menjadi saingannya adalah mahasiswa dari universitas bergengsi di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran dan lainnya. “Selain tes fisik, kami juga harus presentasi dan interview di hadapan profesor juga dosen bidang industri sapi potong dan para alumni NIAPP 2018. Di Seleksi akhir, presentasi dan wawancara dengan perwakilan NTCA dari Australia, PD 3 FAPET UB, ISPI, dan alumni NIAPP 2018,” ungkap mahasiswa asal Ponorogo, Jawa Timur. Setelah dinyatakan lulus, Luthfin dan 19 peserta lainnya harus mengikuti pelatihan pre-departure terlebih dahulu. Pelatihan akan dilaksanakan di Cianjur, Jawa Barat pada tanggal 12-16 Agustus 2019 mendatang. Pada sesi ini peserta dibekali terkait pengendalian ternak, kesejahteraan hewan, hingga sejarah program NIAPP. Selanjutnya, Lutfin juga akan berada di Kementrian Pertanian RI untuk melaksanakan acara pelepasan oleh Dirjen Peternakan. Perjalanan Luthfin di Australia akan berlangsung selama 10 minggu yang berisi pelatihan dan magang di Nothern Territory, Australia terhitung mulai tanggal 25 Agustus hingga 31 Oktober 2019 nanti. Ternyata, keputusan Luthfin berangkat ke Australia harus meninggalkan kesempatan lainnya. “Sebenernya aku sedikit dilema waktu diterima NIAPP. Pasalnya tiga minggu sebelumnya aku dinyatakan lolos TF Scale (Temasek Foundation Specialists’ Community Action and Leadership Exchange) ke Singapura,” ungkapnya. “TF Scale adalah mimpiku sejak semester dua, pun program NIAPP juga mimpiku sejak semester tiga. Akhirnya setelah ku fikirkan matang-matang, NIAPP agaknya akan banyak memberiku ilmu tentang peternakan dan pengalaman skala internasional, maka aku putuskan untuk mengundurkan diri dari TF Scale,” katanya Sabtu (10/8). Beruntungnya, Luthfin mendapatkan pembiayaan akomodasi program ini secara penuh (full funded). NTCA, pemerintah Australia dan Indonesia-Australia Red Meat and Cattle Partnership akan membiayai seluruh kegiatan sejak keberangkatan dari Bali menuju Darwin, Australia serta akomodasi selama sepuluh pekan di Australia. Luthfin berharap perjalanannya sejak seleksi hingga selesai program NIAPP 2019 dapat menginspirasi semua pihak, utamanya mahasiswa jurusan peternak UMM sehingga dapat terus berkiprah di dunia peternakan hingg ke skala internasional. “Tak ada usaha yang sia-sia, gemparkan langit dengan doa-doa,” tandasnya. (*can)
Mensesneg di UMM: Ilmu Sosial adalah Pemimpin Ilmu

MENTERI Sekertaris Negara (Mensesneg) Republik Indonesia Prof. Dr. Pratikno saat menjadi pembicara kunci Konvensi Nasional Ilmu-ilmu Sosial Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) menyampaikan materi dengan fokus pada Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) dari Perspektif Ilmu Sosial. Bertempat di Teater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (8/8), Menteri Pratikno menyampaikan akumulasi dari pengalamannya selama menjadi praktisi ilmu sosial, khususnya saat dirinya menjadi rektor UGM. Dari pengalamannya tersebut, ia mengungkapkan bahwa ilmu sosial adalah pemimpin segala ilmu. “Untuk mengetahui masyarakat, keinginan masyarakat, kita perlu memiliki ilmu sosial. Produk, yang bagus tidak akan sampai pada masyarakat, tanpa adanya ilmu sosial. Sehingga boleh dikatakan bahwa ilmu sosial adalah pemimpin ilmu” tuturnya di hadapan pengurus HIPIIS dan civitas akademika Kampus Putih, UMM. Lebih lanjut, ia mengungkapkan ilmu sosial tidak lagi ilmu yang berdiri sendiri. Dengan pengalamannya, analogi pohon ilmu yang selama ini dikenalkan sudah tidak dapat dipakai lagi saat ini. Ilmu, dalam konteks revolusi industry 4.0 bertransformasi menjadi pohon belantara, dimana ilmu pengetahuan tidak ada lagi yang monodisiplin. “Sudah saatnya perguruan tinggi menggunakan pendekatan interdisiplin, di mana pemecahan suatu masalah, juga harus dengan menggunakan sudut pandang ilmu yang lainnya. Misalnya seorang direktur rumah sakit sarjana yang ia tempuh kedokteran, tapi magisternya bisa saja mengambil disiplin ilmu manajemen,” sebut Praktikno. Pratikno lantas memberikan contoh pada perusahaan teknologi Gojek. Nadiem Makarim, yang merupakan orang ilmu sosial membangun bisnis dengan misi sosial. Ia mengidentifikasi masalah yang ada pada masyarakat saat ini. Akhirnya ia memberikan solusi dengan memanfaatkan Big Data dengan pendekatan data science. lewat pendekatan ini, ilmu sosial dapat diolah dengan teknologi dan menjadi sesuatu yang bernilai. “lmu sosial adalah di mana sebuah masalah bisa diidentifikasi, dan solusi dapat ditemukan. Terlebih, di Indonesia saat ini memasuki era Revolusi Industri 4.0. yang mana segala solusi bisa juga diselesaikan dengan teknologi,” tuturnya. Berangkat dari hal tersebut, Pratikno lantas menuturkan bahwa SDM yang unggul dan dapat berkembang apabila memiliki karakter ilmuwan sosial masa kini. Di antara karakter unggul ilmuan sosial itu yakni dia berwawasan luas, melihat segala hal dengan perspektif yang berbeda, fleksibel dan responsif, serta cakap berargumentasi. “Pembangunan sumberdaya manusia ke depan harus dilandasi jiwa pejuang, determinasi tinggi untuk maju dan belajar berdasarkan empati dan sosiability. Agar generasi masa depan Indonesia dapat membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkemajuan serta mampu menghadapi segala tantangan,” tutupnya. (bel/can)
Pakar Ilmu Sosial di Konvensi HIPIIS: Perlu Keseimbangan Pembangunan Infrastruktur dan SDM

Sesi pertama Konvensi Ilmu-ilmu Sosial Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPISS) di Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (8/8), fokus menanggapi isu perihal respon ilmu sosial yang terkait dengan Pembangunan Infrastruktur dan Implikasinya terhadap Perubahan Sosial. Konvensi yang dimoderatori Dr. M. Alfan Alfian ini menghadirkan Prof. Dr. Ravik Karsidi, Dra, Fransisca Saveria Sika Ery Seda, MA, PhD (Sosiolog UI), dan Prof. Dr. Bagong Suyatno, (Sosiolog Unair). Sosiolog UI Ery Seda dalam pemaparannya menyebut ada beberapa implikasi sosial dari pembangunan infrastruktur yang perlu diperhatikan lebih jauh oleh para pegiat ilmu-ilmu sosial. Secara umum, implikasi pembangunan infrastruktur diharapkan dapat mendukung pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, pemerataan hasil pembangunan untuk mengurangi kesenjangan wilayah, memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara langsung, serta meningkatkan konektivitas. “Yakni meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pelayanan sistem logistik nasional bagi penguatan daya saing bangsa di lingkup global yang berfokus pada keterpaduan konektivitas daratan dan maritim, mengurangi disparitas antar wilayah, antar kawasan, dan antar pendapatan masyarakat termasuk masyarakat miskin dalam upaya pemerataan pembangunan. Serta, menggerakkan ekonomi riil serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar khususnya di sektor jasa konstruksi,” papar Ery. Namun sebaliknya, pembangunan infrastruktur juga memiliki implikasi negatif. Dua kasus yang dipaparkan Ery di antaranya konflik Agraria karena pembebasan lahan. Seperti pada kasus yang terjadi di pembangunan infrastruktur Trans Papua dan kasus pembangunan Trans Jawa. Disebutnya, pembangunan infrastruktur ini berpotensi menimbulkan deagrarianisasi serta mendorong urbanisasi. “Dari kasus ini kita perlu membedakan, secara konseptual tentang dampak dengan perubahan sosial,” kata Ery. Sementara, Ketua dewan pertimbangan HIPISS Prof. Dr. Ravik Karsidi menyebut, pada periode kedua ini pemerintag telah mencanangkan prioritas pembangunan Infrastruktur dan pengembangan sumberdaya manusia. “Untuk investasi infrastruktur kembali modalnya akan berlangsung lama, sementara pengembangan SDM modal malah mungkin tidak akan kembali, tetapi merupakan sesuatu yang wajib diadakan agar kita bisa mengikuti perkembangan dunia yang menuntut berubah,” kata Ravik. Di sisi lain, Sosiolog Unair Prof. Dr. Bagong Suyatno justru mengkritik fokus pembangunan infrastruktur dengan mengajukan pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dalam pembangunan infrastruktur. Menurutnya, di setiap pembangunan infrastruktur selalu ada pihak yang diuntungkan dan bahkan dirugikan. “Kalau satu daerah yang kurang maju dihubungkan melalui sebuah infrastruktur ke daerah yang lebih maju, apakah selalu menguntungkan daerah yang kurang maju?” ungkapnya. “Kuncinya adalah pada peningkatan kualitas SDM-nya. Sejalan yang dikatakan Pak Ravik, agar pembangunan infrastruktur bisa menghasilkan dampak positif bagi perubahan sosial yakni diperlukan integrasi yang baik di bidang infrastruktur, ekonomi, sosial dan administrasi. Selain itu juga diperlukan strategi khusus membangun SDM melalui reformasi bidang pendidikan, mental dan birokrasi khususnya capability yang mampu menyesuaikan tuntutan baru perubahan sosial,” tandas Bagong.(can)
Peneliti Liverpool University di UMM: Kebisingan Berdampak Besar Pada Psikologis dan Fisiologis Seseorang

Peneliti dari Liverpool University, United Kingdom (UK) Sang Hee Park, PhD menyebut, noise atau kebisingan yang merupakan persepsi terhadap suara yang mengganggu ternyata berdampak besar pada psikologis dan fisiologis manusia. Simpulan ini ia paparkan saat kuliah tamu di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (8/8). Secara fisiologis, kebisingan dapat berdampak pada tekanan darah, ritme jantung, dan juga kinerja syaraf. Sementara, lanjut Sang Hee Park secara psikologis noise juga memiliki dampak sangat besar pada stress dan depresi seseorang. Hal ini Sang Hee Park tuangkan dalam penelitiannya yang bertema Psychological and Physiological Effects of Noise. Ia bercerita jika di Korea Selatan, negara asalnya, yang kebanyakan orang tinggal di apartemen, beberapa kasus pembunuhan terjadi akibat stresnya penghuni apartemen akibat kebisingan dari penghuni lantai atasnya. Namun demikian ia juga menambahkan bahwa selain dampak obyektif yang salah satunya ditentukan oleh besaran desibel dari kebisingan. “Sejauh mana dampak kebisingan juga dipengaruhi kepribadian dan kondisi psikologis orang. Seperti contohnya, seorang penghuni apartemen yang punya anak kecil akan lebih empati dan tolerir terhadap kebisingan di lantai atasnya yang diakibatkan anak-anak berlarian atau lompat-lompat,” terangnya di hadapan civitas akademika Fakultas Psikologi UMM. Selain mengisi kuliah tamu, Sang Hee Park juga berdiskusi peluang-peluang kerjasama khususnya riset antara Fakultas Psikologi UMM dengan Liverpool University. “Pemaparannya ini membuka perspektif terutama bagi mahasiswa Psikologi bahwa area cakupan Psikologi sangat luas,” ungkap Dekan Fakultas Psikologi UMM Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Psikolog. (can)
Saatnya Indonesia Investasi Pengembangan SDM Unggul

NEGARA yang maju, nyatanya tidak hanya memprioritaskan pembangunan fisik semata. Pembangunan sumber daya manusia juga musti dimasifkan. “Kita punya bermacam-macam sumber daya alam yang tidak semua negara-negaramaju miliki. Manusianya musti mampu mengolahnya untuk kemajuan negara,” tutur Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., saat keynote speech pada Konvensi Nasional Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Rabu (7/8) sore. Di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menurut salah satu perintis HIPIIS ini, Indonesia sudah saatnya berani berinvestasi pada target pengembangan sumber daya manusia (SDM). Hal ini dapat dilakukan dengan bercermin pada negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang. Dua negara ini jelas tidak memiliki banyak sumber daya alam, namun mampu menaklukan dunia. Mereka dapat berkembang pesat karena berani berinvestasi besar untuk SDM. Majunya negara-negara besar saat ini juga dilatari penguatan identitas yang telah dilakukan melalui budaya. “Betapa kuatnya kultur Jepang mempengaruhi dunia seiring dengan perkembangan kecanggihan teknologinya. Indonesia yang memiliki beragam budaya sebenarnya punya kesempatan besar lebih maju daripada negara-negara yang hanya memiliki satu macam budaya saja,” ujarnya di hadapan pengurus HIPIIS, guru IPS se-Malang Raya, dan civitas akademika UMM. Pembangunan fisik memang harus dilakukan. Tetapi, sambung Malik yang juga Ketua Badan Pembina Harian UMM, jangan sampai melupakan SDM yang akan menjalankan hasil pembangunan tersebut. HIPIIS, ungkap Malik menegaskan, memiliki peran yang strategis untuk berkontribusi melalui ilmu-ilmu sosial. Keanekaragaman sosial yang ada di Indonesia menjadi peluang besar meraih Indonesia yang berkemajuan. Yakni maju manusianya dan maju negaranya. Momentum peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-74 ini, bagi Malik menjadi titik puncak untuk melihat betapa besarnya Indonesia. Fokus pembangunan SDM unggul sudah tepat bila menjadi agenda besar negara. “Cita-cita menjadi negara yang maju dan dapat memaksimalkan SDMnya sudah di depan mata. Semoga HIPIIS terus dapat berkontribusi melalui gagasan-gagasannya untuk mewujudkan Indonesia yang unggul,” tandas Malik. (mir/can)
Ketua Umum HIPIIS: Pembangunan SDM Adalah Bentuk Pembangunan Sesungguhnya

KONVENSI Nasional pertama Himpunan Indonesia untuk Perkembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (7/8) hari ini. Ketua Umum pengurus pusat HIPIIS Prof. Dr. Muhadjir Effendy menyatakan, tema yang diangkat “Sumbangan Ilmu-ilmu Sosial dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia bagi Kemajuan Bangsa” sengaja disinkronkan dengan program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode 2. “Saya kira ini momentum bagus, mumpung pembangunan insfrastruktur sedang berjalan. Sebaiknya kita (HIPIIS) juga segera memberikan masukan terhadap perkembangan-perkembangan yang sudah terjadi. Dan perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dengan adanya pembangunan infrastruktur yang, bisa dibilang, besar-besaran pada periode kepemimpinan Bapak Jokowi yang pertama,” ungkap Muhadjir yang juga Mendikbud RI di Hall Dome UMM. Tentu saja, sambung Muhadjir, pembangunan sumber daya manusia yang diharapkan pada era pemerintah Joko Widodo yang kedua adalah dalam konteks bagaimana mengoptimalkan, mengapitalisasi, memultiplayerkan, serta melipatgandakan manfaat infrastruktur yang sudah ada. Karena infrastruktur, katanya, pada dasarnya baru prasyarat pembangunan. Adapun pembangunan sesungguhnya, ketika sudah menyentuh dan menangani manusianya itu sendiri. “Karena itu kita bisa katakan bahwa pembangunan infrastruktur adalah prasyarat dari pembangunan yang sesungguhnya. Ibarat shalat, infrastruktur itu baru wudhunya, baru menutup auratnya, tapi belum shalat itu sendiri. Dan shalatnya itu, ketika membangun sumber daya manusia itu sendiri,” ungkap Muhadjir di hadapan para tamu undangan yakni pengurus HIPIIS dari 13 wilayah di Indonesia, guru ilmu pengetahuan sosial (IPS) se-Malang Raya, serta civitas akademika UMM. Fokus pembangunan SDM, menurut Muhadjir, taruhannya lebih besar. Lebih besar ketimbang pembangunan infrastruktur itu sendiri. Karena membangun manusia, tidak bisa “dipanen” dalam waktu yang singkat. Tapi, mungkin, baru akan bisa dipanen satu atau dua dekade ke depan. “Tentu saja pembangunan ini akan menjadi masalah ketika, pembangunan sumber daya manusia ini ditunggu-tunggu didak ada umpan balik atau feedback dari apa yang kita lakukan,” terang Muhadjir. Sehingga, Muhadjir yang juga wakil ketua Badan Pembina Harian UMM ini berharap, Konvensi yang diselenggarakan ini betul-betul bisa intens memberikan masukan, kritik, dan saran yang sifatnya konstruktif untuk masyarakat Indonesia, khususnya masukan untuk Kabinet Kerja periode kedua agar betul-betul bisa sejalan seiring dengan cita-cita nasional kita. Yaitu, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, sesuai dengan cita-cita dari kemerdekaan kita,” ungkapnya. (riz/can)
Rawat Budaya, Mahasiswa UMM Gaungkan Kembali Seni Barongan

MAHASISWA Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kelompok Kuliah kerja Nyata 84 UMM 2019 mencoba kembali menggaungkan kesenian khas Jawa Timur, Seni Barongan. Salah satunya melalui Festival Barongan di Lapangan Ndawung Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Sabtu (3/8). Ketua Panitia, Luguh Wasono menjelaskan, festival Barongan ditunjukkan untuk menggaungkan seni budaya Barong agar tetap lestari. Lalu juga untuk meningkatkan kreativitas insan seni budaya serta menciptakan komunikasi dan hubungan baik antar pelaku seni. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi event tahunan. Lomba Barong perorangan ini diikuti sebanyak 44 peserta dari seluruh wilayah Kabupaten Malang. Menariknya perlombaan kali ini tidak hanya diikuti oleh kalangan laki-laki saja, akan tetapi perempuan dan anak-anak. Hal ini membuktikan bahwa kesenian Barongan tidak membatasi gender dan usia pemainnya. Perlombaan dibagi menjadi menjadi dua babak. Antara lain babak penyisihan dan final yang diikuti oleh 30 orang peserta. Sementara kriteria penilaian ditekankan pada kelincahan gerak pemeran Barong dan penjiwaan karakter. “Fashion, tata busana, kostum dan keindahan Barong, serta etika dan tata krama pemeran Barong,” ujar dia. “Selain tentunya melestarikan budaya khas Malangan, agenda ini juga mempromosikan kabupaten Malang itu sendiri, khususnya Desa Kedungsaalam Kecamatan Donomulyo sebagai Desa Budaya. Selain itu juga acara ini digelar utamanya memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-74,” kata Luguh, Senin (5/8) siang. Kesenian ini mencerminkan sifat-sifat kerakyatan, spontanitas, kekeluargaan dan kesederhanaan. Lalu juga sifat kasar, keras, kompak, dan keberanian yang berlandaskan kebenaran. Pemainnya memakai kostum yang menyerupai singo Barong sebagai bentuk samaran makhluk berkaki empat atau dua dengan kepala singa. Selain Barong, festival ini juga mengadakan senam anti narkoba bersama siswa-siswi SDN 4 Kedungsalam. Lalu dilanjutkan dengan senam Lien Tien Kung dan lomba mewarnai tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diikuti 287 peserta. “Seluruh warga sangat antusias,” tambah dia. (*/can)
Libatkan 20 Wasit Profesional, RS UMM Gelar Kompetisi Futsal Antar RS se-Malang Raya

MERAYAKAN hari jadinya yang ke-6 tahun, Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) menggelar berbagai kegiatan, baik kegiatan internal maupun eksternal. Salah satu kegiatan eksternal yang diadakan adalah Kompetisi Futsal antar Rumah Sakit se-Malang Raya, Sabtu-Minggu (3-4/8). Acara yang dibuka langsung oleh Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Malang yakni Haris Thofly ini mendapat antusias di luar ekspektasi penyelenggara. Kompetisi ini telah diikuti oleh puluhan unit kesehatan hingga terkumpul 27 tim. Bahkan ada beberapa unit kesehatan yang mengirimkan lebih dari 1 tim. Kompetisi futsal ini sendiri menggunakan sistem penyisihan, di mana seluruh tim akan dibagi menjadi beberapa grup kecil. Satu grup terdiri dari 3-4 tim untuk memperebutkan juara grup dan runner up sebagai syarat untuk dapat lolos ke babak selanjutnya. Tak tanggung-tanggung, kompetisi ini menghadirkan 20 wasit profesional dari PSSI Malang. Kompetisi berlangsung dua hari, di mana hari pertama difokuskan pada laga penyisihan dan hari kedua difokuskan pada laga knock out hingga laga Final. Menurut dr. Viva Maiga Mahliafa Noor, MMRS. ketua panitia menyampaikan, selain kompetisi futsal, masih banyak rangkaian acara lain. “Kami juga mengadakan kegiatan lain seperti pilling massal, lomba cuci tangan antar unit kesehatan, hingga seminar kecantikan,” ungkapnya. Agenda ini juga sekaligus dijadikan ajang silaturahmi. Karena sebagai unit kesehatan, sambung Viva, bukan untuk berkompetisi namun saling bahu-membahu melayani masyarakat. Selain itu kompetisi ini juga memperebutkan sertifikat, trophy dan juga uang tunai jutaan rupiah. Salah satu pemain dari RS UMM yakni Rifky Harli Putra Pratama mangaku senang dengan kompetisi ini. “Semoga tahun depan dapat terselenggara kembali dengan region yang lebih luas lagi. Se-Jatim misalnya,” ungkap kapten dari tim RS UMM tersebut. (zak/can)