Mobil KaCa UMM Sosialisasi Mitigasi Bencana di Lereng Semeru

Banyaknya korban yang terdampak bencana alam di Indonesia, terkhusus Jawa, mendorong Tim Mobil KaCa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan mitigasi bencana. Medium literasi inklsusif berkonsep Mobil Pintar ini terjun ke tengah siswa SD dan SMP yang ada di desa Bambang kecamatan Wajak Kabupaten Malang, Kamis (1/8) untuk memberikan edukasi seputar kebencanaan. Kehadiran Mobil KaCa UMM di tengah siswa-siswi di lereng Semeru ini atas inisiasi kelompok Kuliah Kerja Nyata 18 UMM. Salah satu alasan dipilihnya lokasi ini karena dikenal dengan wilayah yang sering terjadi bencana gampa bumi dan juga longsor. “Mengingat lokasi Desa Bambang Kecamatan Wajak ini berada di lereng gunung Semeru,” kata Fani Wahyu Pamungkas, koordinator desa KKN 18 UMM. Materi mitigasi bencana disampaikan oleh Liyana Nurul Azmi dari Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM yang berafiliasi langsung dengan organisasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Dalam materi mitigasi bencana ini, para siswa diajarkan bagaimana cara menyelamatkan diri ketika suatu bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir dan juga Tsunami sedang terjadi. Materi disampaikan dengan cara yang unik dan menggembirakan agar para siswa dapat menerima materi yang disampaikan dengan maksimal. Metode yang digunakan yakni melalui bernyanyi dan bermain permainan yang kaitannya pada kewaspadaan saat terjadi bencana. Bahkan, sempat dilakukan juga simulasi agar para siswa dapat menerapkan secara langsung materi yang diajarkan melalui beragam metode itu. Selain materi mitigasi bencana, adapula kelas menulis cerita anak yang disampaikan oleh Achmad Sulchan An Nauri. Dalam materi kali ini para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap siswa harus membuat satu buah kalimat yang saling berkaitan sehingga menciptakan sebuah rangkaian kalimat yang padu. Para siswa nampak antusias menceritakan kembali karangan cerita yang mereka rangkai. “Para siswa di desa ini memang sejak awal sangat antusias dalam belajar. Hal itu terlihat ketika kami melaksanakan program mengajar di beberapa sekolah dan juga membuka bimbingan belajar di posko pemondokan mahasiswa. Namun sangat disayangkan, kurangnya tenaga pendidik di desa ini membuat perkembangan belajar mereka sedikit terhambat,” ungkap Fani, mahasiswa Prodi Teknik Industri tersebut. Salah satu siswa asal SDN 2 Bambang juga mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran mobil kaca ini. Terlebih tentang materi kebencanaan. “Saya sangat senang dengan adanya mobil pintar ini. Saya bisa membaca buku dan mendapat pengetahuan tentang cara menyelamatkan diri dari bencana yang terjadi,” tutur Muhammad Hanafi yang pada saat ditemui sedang asik membaca komik Warkop DKI Reborn ini. (zak/can)
Bantu Pasarkan Tape Singkong Banjarsari Lewat Medsos

SINGKONG memang jadi komoditas yang melimpah di Desa Banjarsari Kabupaten Malang. Hanya saja, pengetahuan seputar pemasaran produk masih jadi masalah tersendiri. Potensi yang seharusnya bisa dilejitkan ini ditangkap oleh kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 94 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan mengadakan pelatihan penggunaan media sosial sebagai alat pemasaran, Selasa (27/7) lalu. Pelatihan ini merupakan salah satu program kerja yang dibuat oleh divisi Ekonomi dan Kewirausahaan (KWU) dari kelompok KKN 94 UMM. Pelatihan sehari ini mengundang salah satu dosen Fakultas Pertanian dan Perternakan (FPP) dari UMM yaitu Aprilia Devi Anggraini S.pt, M.sc sebagai pemateri. Aprilia menangkap bahwa potensi olahan singkong berupa tape ini bisa meningkatakn penjualan melalui media sosial. Pelatihan dimulai dengan memberikan tips dan trik dalam pengembangan produk seperti kemasan, label serta inovasi varian olahan tape. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan umum mengenai media sosial yang biasa digunakan sebagai media pemasaran. Setelah dijelaskan mengenai media sosial, peserta langsung diajak untuk mempraktikkan cara menggunakan media sosial untuk pemasaran secara online. Target kami ini Kelompok Wanita Tani (KWT), anggota PKK, dan pelaku wirausaha. “Sebelumnya sudah sering ada pelatihan pemasaran, tapi ini sudah baik karena mengajarkan langsung cara berjualan di Facebook. Tantangannya, masyarakat masih banyak yang kurang paham tentang cara menggunakan hp apalagi media sosial seperti itu” ucap Solikha, ketua Kelompok Wanita Tani yang menjadi salah satu peserta. “Produk di sini sebetulnya sudah sesuai dengan komoditas unggulan yang diharapkan oleh masyarakat. Jadi lebih tepatnya kami cuma membantu melatih dalam pemasaran melalui media social. Selain itu, kami juga mendampingi mereka dalam proses pengemasan serta menyertakan logo produk itu sendiri agar memiliki nilai jual lebih tinggi dari sebelumnya,” ucap Dhiva, ketua pelaksana dari pelatihan tersebut. Banyak cara yang dilakukan untuk mengembangkan usaha tape singkong ini. Hanya saja, selama ini proses pemasarannya belum mampu menaikkan penghasilan yang signifikan. “Tape ini adalah hasil olahan home industry. Biasanya setiap outlet tape menjual produk tapenya dalam bentuk kwintal ke beberapa kota seperti Tulungagung, Blitar, dan Batu. Semoga lewat medsos bisa menaikkan penjualan,” terang Dhiva. (*/can)
Jombang Minta UMM Lejitkan Potensi Daerahnya

Kiprah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan kepada daerah melalui pemaksimalan potensi lokal telah diakui banyak pihak. Apresiasi dan kerjasama tak hanya berangkat dari sesama institusi pendidikan, melainkan juga dari unsur pemerintahan. Kali ini dijalankan dengan Kabupaten Jombang (28/7). Penandatanganan dilakukan langsung Rektor UMM, Dr. H. Fauzan, M.Pd dan Bupati Jombang, Hj. Mundjidah Wahab. UMM-Jombang bekerjasama dalam bidang diklat, bidang penelitian, bidang pengabdian kepada masyarakat, bidang peningkatan kualitas SDM dan bidang peningkatan penerapan dan pengembangan teknologi. Fauzan menyampaikan, jika kerja sama tersebut akan memacu pertumbuhan kualitas segala bidang agar semakin pesat. “Banyak ranah yang dapat dikembangkan bersama,” tuturnya saat memberikan sambutan. Di antaranya pendidikan keahlian teknologi informasi dalam rangka menghadapi tantangan Industri 4.0. Dalam kerja sama tersebut, UMM diminta secara khusus membantu meningkatkan skill SDM pada sektor pertanian, peternakan dan perikanan masyarakat Jombang. Hal ini dipandang strategis untuk ditingkatkan, karena menyangkut potensi ekonomi juga mengingat salah satu hasil bumi terbesar Jombang pada sektor pertanian. Selain itu, sektor pendidikan juga akan digarap oleh UMM. Program yang akan diberikan yakni pemaksimalan kemampuan guru dan ustadz pondok pesantren dalam menguasai teknologi informasi. Menurut Fauzan, sektor ini menjadi sangat penting untuk menciptakan pendidikan yang semakin berkualitas di era digital. UMM juga bakal membina Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk kurangi angka pengangguran . Melalui upaya pembinaan UKM, UMM berharap dapat memberikan kontribusi terbaiknya bagi masyarakat. Tak hanya itu, UMM juga akan upayakan penanganan kepada anak-anak jalanan agar memiliki masa depan yang cerah. Sebelumnya, UMM telah melakukan kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Jombang, tepatnya pada era Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P saat menjadi Rektor. Kerja sama tersebut mengizinkan UMM untuk mendirikan laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) UMM di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. (mir/can)
Dosen UMM Gagas Kaderisasi Petani Kopi Berbasis Literasi

KOMODITAS kopi dan aktivitas ngopi menjadi alat pemersatu utamanya kelompok milenial. Disamping itu, sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa komoditas kopi telah lama menjadi unggulan wilayah beriklim tropis, salah satunya yang berada di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bahkan, kecamatan dengan luas 135,57 kilometer persegi tersebut menyandang predikat sebagai Kota Kopi. Terhitung sudah tiga generasi melakukan budidaya kopi. Salah satu desa di wilayah Kecamatan Dampit yang memiliki keunggulan komoditas perkebunan kopi tersebut adalah Desa Amadanom dengan luas wilayah 6,11 kilometer persegi. Topografi desa yang berbukit ditambah dengan iklim yang mendukung, menjadikan Desa Amadanom sebagai primadona bagi komoditas tanaman kopi berjenis robusta. “Tetapi, meski begitu, potensi tersebut belum di dukung dengan komitmen generasi muda dalam melanjutkan proses regenerasi agar potensi perkebunan kopi robusta tersebut tetap eksis bahkan semakin ekspansif. Tidak sedikit diantara mereka yang lebih memilih menjadi pekerja migran bahkan sampai ke luar negeri,” ungkap M. Saprin Zahidi, akademisi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Fenomena tersebut yang kemudian menginspirasi tim Pengabdian Masyarakat UMM yang diketuai oleh M. Saprin Zahidi dan beranggotakan Hutri Agustino, Havidz Ageng dan Erfan Dani untuk mengajukan proposal Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) ke Ristekdikti untuk pendanaan Tahun 2019. Setelah melalui serangkain seleksi termasuk verifikasi lapang, proposal tersebut dinyatakan layak. Sebagai awal dari pelaksanaan program tahun jamak tersebut adalah launching kelas literasi kopi yang langsung dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Malang, Drs. Suwadji., S.IP. M.Si. Kelas literasi kopi tersebut terbagi dalam delapan sesi tematik dengan melibatkan 25 kader petani kopi usia produktif yang tersebar dari beberapa dusun di wilayah Desa Amadanom. Beberapa tema utama yang disampaikan oleh para narasumber mulai dari membangun mentalitas petani kopi kaum milenial sampai pada pengolahan kulit biji kopi menjadi pupuk cair sebagai nilai tambah (value added). “Di akhir kelas, direncanakan akan digelar festival kopi robusta hasil dari proses kaderisasi yang sekaligus penyerahan sertifikat lulus pelatihan,” terang Saprin, Rabu (31/7). “Kegiatan PPDM yang dilakukan para dosen UMM ini diharapkan mampu memberikan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat lokal. Utamanya bagi mereka yang selama ini beranggapan bahwa menjadi petani kopi tidak memiliki prestis,” tandas Saprin. Kaderisasi petani kopi berbasis literasi ini, lanjutnya, tidak berhenti di sini. Melainkan akan digelar di sejumlah wilayah penghasil kopi lainnya. (*/Can)
BIPA UMM Latih PTN/PTS Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Asing

Sebagai salah satu lembaga yang terbilang senior di Jawa Timur, Lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Universitas Muhammadiyah Malang (BIPA UMM) kerap mendampingi pengajaran bahasa dan budaya Indonesia ke sejumlah instansi. Misalnya 24 orang mahasiswa asing dari berbagai negara mengikuti pembekalan Diplomatik Darmasiswa RI di BIPA UMM pada awal Juli lalu. Mereka berasal dari Papua Nugini, Vietnam, Thailand, Ukraina, Mesir, Yaman hingga Amerika. Para mahasiswa asing ini mengikuti Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KMB) dan Darmasiswa Kemdikbud RI yang diadakan di BIPA UMM. Rekam jejak baik ini yang membikin sejumlah instansi mempercayai BIPA UMM untuk mendampingi mereka. Hal ini juga yang mendasari beberapa PTN/PTS di Jawa Timur seperti Universitas Trunojoyo, Universitas Negeri Surabaya, Universitas PGRI Adibuana Surabaya datang ke UMM untuk mengikuti Pelatihan Pengajaran BIPA Tingkat Pemula, Senin (29/7). Pada acara pembukaan yang dihadiri oleh Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. selaku kapala BIPA UMM ini dihadiri oleh 20 peserta, jumlah ini sengaja dipilih karena dirasa lebih efektif dalam menangkap materi dan juga praktik mengajar yang diberikan. Selain itu turut hadir pula Dr. Ratih Juliati,M.Si. selaku Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kerjasama UMM yang sekaligus membuka acara Pelatihan Pengajaran BIPA Tingkat Pemula secara resmi di Ruang Kelas BIPA . Dalam sambutannya Ratih menyampaikan rasa bangganya kepada peserta yang hadir karena masih banyak yang peduli dan cinta bahasa dan budaya Indonesia. Ia harap semangat ini tidak pernah pudar untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia. Sementara, Arif menyatakan, pelatihan yang didiadakan tiga hari ini ditujukan untuk umum. Terutama untuk dosen dan juga mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap BIPA yang diproyeksikan bisa mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing. Dalam pelatihan yang baru pertama kali diselenggarakan pada tahun 2019 ini, para peserta akan mendapatkan beberapa pembelajaran seperti teori dasar ke-BIPA an, Micro Teaching, dan juga sikap, serta pengetahuan kebudayaan Indonesia. “Karena BIPA kami baru berdiri satu tahun ini, kami perlu sekiranya untuk belajar lagi dan mengeksplore apa saja yang harus dikembangkan. Oleh karena itu kami datang ke pelatihan ini,” ungkap Ferra Dian Andanty, SS., M.Pd dari Universitas PGRI Adi Buana. (can)
Mantri Caino, Media Belajar Matematika Lewat Budaya

Matematika bagi sebagian orang menjadi salah satu pelajaran yang terhitung susah atau perlu ketelatenan untuk menguasainya. Menjawab tantangan ini, Riska Nur Rohmah, Westi Ayu Maulida Permata Sari dan Dimas Galih Dwi Pangasta ,mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi media pembelajaran interaktif berbasis software komputer. Riska dan kedua kawannya, menggunakan metode Computer Assisted Instruction (CAI) untuk media pembelajaran tersebut dan diberi nama Mantri Caino. Nama Mantri Caino sendiri berasal dari Mantri yakni mengobati yang dimaksudkan untuk mengatasi krisis pengetahuan budaya di Indonesia. Caino diambil dari metode CAI dan No diambil dari Etno. Media pembelajaran ini diperuntukkan siswa kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Konten Mantri Caino pun beragam. Mulai dari kompetensi inti, kompetensi dasar dan tersedia pula indikator pencapaian. Kemudian Mantri Caino juga dilengkapi dengan petunjuk penggunaan untuk mempermudah para siswa. “Kami juga menerapkan kurikulum 2013 pada Mantri Caino,” jelas Riska, Selasa (28/5). Selain itu, terdapat pula fitur drill and practice berbasis etnomatematika yang dapat membantu siswa mempelajari dan lebih memahami konsep materi melalui budaya lokal dan nasional. Seperti menampilkan budaya, adat dan sejarah Indonesia. Melalui fitur ini, mereka berusaha menghilangkan stigma bahwa matematika adalah pelajaran menyebalkan. Salah satu caranya dengan menyematkan sebuah game. Inovasi yang diciptakan dalam rangka penyusunan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini sudah pernah diujicobakan kepada siswa yang mengikuti program bimbingan belajar. “Mereka senang dan merasa lebih mudah memahami matematika,” ungkap Dimas Galih. Disamping belajar matematika, sambung Galih, juga dapat memperluas wawasan umum seperti sejarah dan kebudayaan. Untuk mengenalkan Mantri Caino lebih detail, mahasiswa bimbingan Agung Deddiliawan Ismail, M.Pd. ini telah mempublikasikankannya melalui website mantricaino.weebly.com dan Instagram @mantricaino. Kedepan, Riska dan kawan-kawan berharap mendapatkan respon baik masyarakat, serta lolos dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). (riz/mir/can)
Roof Top Hotel Kapal UMM akan Jadi Working Space para Start Up

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali me-launching unit bisnis barunya. Kali ini fasilitas yang diresmikan adalah sebuah kafe di atas Hotel Kapal UMM yang disebut sebagai Roof Top Café and Resto. Rektor UMM, Fauzan, mengklaim kafe baru ini berbeda karena akan menjadi working space bagi pebisnis pemula. Hal itu disampaikan rektor ketika memberi sambutan dalam Silaturahmi dan Buka Bersama jurnalis pendidikan Malang, Selasa (28/05/2019). “Mahasiswa, alumni dan masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas ini untuk melakukan negosiasi, bekerja, dan lobi-lobi produktif sampai bisnisnya deal,” katanya. Konsep working space juga dibenarkan oleh Wakil Rektor II, Nazarudin Malik. Menurutnya, tempat ini memiliki nuansa yang santai tetapi terkesan luxury. Di samping itu, letaknya di ketinggian hotel menjadikan viewnya indah menghadap kota Batu, Karangploso dan kampus III UMM. “Kami belum memberi nama apapun pada kafe ini, jadi untuk sementara kita namai saja Roof Top Resto and Caffee,” tutur Nazar. Bisnis memang menjadi salah satu fokus UMM saat ini. Melalui pembudayaan kewirausahaan atau enterpreunership baik dosen maupun mahasiswa ditantang untuk menjawab peluang untuk mengembangkan bisnis-bisnis produktif. Kewira usahaan bukan saja menjadi kurikulum di dalam kelas melainkan sudah diterapkan dalam bentuk unit-unit bisnis yang melibatkan mahasiswa. Untuk itu, lanjut rektor, pihaknya sudah menyiapkan fasilitas baru berupa Program Vokasional. Saat ini UMM sudah mengambil alih kepemilikan sebuah pabrik dan perkantorannya di daerah Karangploso seluas 11 hektar. “Insya Allah tahun depan kita sudah buka beberapa program vokasi untuk mencetak tenaga ahli yang siap kerja,” tambah rektor. Kehadiran Top Roof ini menjadi icon baru unit bisnis UMM setelah bulan lalu Hotel Kapal diresmikan Wakil Presiden M Jusuf Kalla. Hotel ini merupakan pengembangan perkantoran Taman Sengkaling yang berbentuk kapal pesiar. Di dalamnya terdapat fasilitas 48 kamar dan ratusan tepat tidur berkelas dormitory. “Ini sudah melebihi fasilitas hotel berbintang empat, karena memiliki banyak kolam renang,” kata rektor berkelakar. Sebab, hotel Kapal memang menyatu dengan lokasi Taman Sengkaling yang memiliki beberapa kolam renang, mulai dari untuk anak-anak hingga dewasa. Sementara itu, hotel UMM Inn yang dimiliki UMM sebelumnya saat ini sedang dalam tahap renovasi. Hotel legendaris dan bersejarah karena menjadi penginapan Muktamar Muhammadiyah tahun 2005 itu kini dibangun hingga 150 kamar, dilengkapi kolam renang. “Hotel ini akan menjadi tujuan masyarakat umum dan tamu universitas. Sedangkan untuk mahasiswa asing dan orang tua mahasiswa juga disiapkan fasilitas baru juga berupa dormitory dalam bentuk desain container modern,” terang rektor. Acara buka bersama dihadiri juga Wakil Rektor I, Syamsul Arifin dan Wakil Rektor III Sidik Sunaryo. Selain itu hadir pula para pejabat struktural fakultas hingga universitas. Puluhan wartawan yang selama ini menjadi mitra kerja UMM menikmati hidangan ala Eropa dan Jawa yang kabarnya akan menjadi menu andalan kafe tersebut selain kopi. Kepala Humas UMM, Joko Susilo, menerangkan acara silaturahmi ini merupakan kegiatan rutin yang sudah berjalan sepuluh tahun terakhir. Namun di setiap tahunnya, pihak universitas memberikan sentuhan berbeda. Seperti pada tahun ini, selain diwarnai dengan peresmian Roof Top juga ada acara memancing ikan di kolam pancing Taman Sengkaling, wartawan yang ikut acara ini dapat membawa pulang ikan hasil pancingannya. “Ini merupakan salah satu cara kami untuk mendekatkan diri dengan media sekaligus keluar dari rutinitas kerja,” pungkas Joko. (nas/can)
Perangi Intoleransi, UMM-Komunitas Tionghoa Rawat Persaudaraan

Di tengah maraknya isu intoleransi yang mengancam Kebhinekaan, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terdepan memerangi akar perpecahan ini. Berlangsung hangat, kegiatan silaturahim dan berbuka puasa bersama Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) Malang dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) menjadi energi ekstra bagi UMM untuk membangun kekuatan di tengah keberagaman Indonesia. Masih dalam nuansa indahnya bulan Ramadhan 1440 H, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan acara dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan tahun ini. Kali ini UMM mengadakan silaturrahmi sekaligus buka bersama dengan berbagai etnik Tionghoa di Malang (26/5). Acara yang berlangsung di GKB IV lantai 9 UMM ini dihadiri Wakil Walikota Malang Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko. Selain dihadiri oleh Wakil Walikota Malang, acara ini dihadiri pula oleh Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., selaku Badan Pembina Harian UMM sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Widodo Harsono selaku perwakilan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Dalam acara tersebut diisi dengan beberapa sambutan yang menekankan tentang mengedepankan nilai toleransi. Dalam sambutannya Malik Fadjar mengungkapkan, setiap manusia pasti memiliki perbedaan. “Indonesia memiliki masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita harus mempunyai rasa saling menghormati dan menjaga satu sama lain agar ke-Bhinnekaan kita tetap terjaga dan dapat menjadi kekuatan bagi bangsa,” ungkap mantan rektor UMM periode 1983 – 2000 itu. Widodo Harsono juga memaparkan bahwa dirinya telah melakukan kerjasama dengan UMM selama 36 tahun. Ia juga menceritakan bagaimana rahasianya bisa menjalin kerjasama yang begitu lama dengan UMM. “Rahasianya adalah saling menghormati, saling toleransi dan selalu menjaga kekompakan,” ungkapnya. Selain itu, Harsono juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan. (Zak/Can)
Prodi Peternakan UMM Pamerkan Produk Pakan Ternak Inovatif

Program Studi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pameran sejumlah produk pakan dan formula ternak inovatif, Sabtu (25/5). Mulai dari formula penggemuk sapi, permen sapi, penggemuk unggas, hingga pakan yang dapat meningkatkan produktivitas susu sapi. Berbagai inovasi ternak ini dapat dijumpai di gelaran “Pameran Pakan Ternak” Fakultas Pertanian dan Peternakan. Kegiatan yang terintegrasi dengan mata kuliah Ilmu Teknologi Pangan ini berangkat dari keresahan yang dialami oleh para mahasiswa dan peternak terhadap pakan yang beredar di pasaran yang kurang efektif. Selain faktor tersebut, produk pakan ternak karya mahasiswa ini juga sudah dilakukan beberapa tes dan pengujian langsung kepada hewan ternak yang bersangkutan. Hasilnya cukup memuaskan. “Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini. Meskipun saya baru menginjak semester 4, tapi saya sudah mempu membuat produk pakan ternak yang dapat sedikit menjawab keresahan yang dialami masyarakat mengenai hewan ternaknya,” tutur Bambang Sugiono yang sekaligus inisiator produk formula penggemuk hewan, Murcel (Murah Cepet Lemu) yang diperuntukkan bagi hewan ternak sapi. Memberikan Murcel dua kali sehari, berat badan sapi mampu meningkat 1 kg per harinya. Selain itu ia juga mematok harga yang tergolong cukup murah yakni Rp. 6000 saja per kilonya. Bambang juga mengaku, ia memanfaatkan momentum hari raya Idul Adha untuk memasarkan produknya. Sekaligus membantu mengatasi masalah hewan yang akan dijadikan qurban. Terutama dalam masalah ukuran dan berat. Menurut Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP. selaku dosen pengampu mata kuliah dan pencetus pameran karya inovatif mahasiswa untuk terus melakukan riset dalam pengembangan produk. Selain itu, tujuan pameran ini adalah sebagai sarana agar serius dalam membuat produk sekaligus belajar berwirausaha. Ia mendorong berbagai produk ini untuk diikutkan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kegiatan tahunan yang sudah berlangsung selama tiga tahun ini memang selalu menyita perhatian. Bagaimana tidak? Meski baru berstatus mahasiwa semester empat, mereka mampu menciptakan produk pakan ternak yang inovatif dan memiliki harga jual yang berada di bawah harga pasaran. Tak boleh ditinggalkan, berbagai produk buatan mahasiswa ini punya kualitas yang tidak kalah, bahkan cenderung lebih baik. Selain memperkenalkan beberapa produk, para pengunjung juga dapat memberikan penilaian secara langsung terhadap produk yang mahasiswa pamerkan. Nantinya nilai tersebut diakumulasi dan akan menjadi nilai dari tugas akhir mereka untuk mata kuliah Ilmu Teknologi Pakan. Selain itu, kegiatan ini juga secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk dapat belajar bagaimana cara berwirausaha dengan baik. (Zak/Can)
Mahasiswa UMM Bikin Roti Aman Buat Penderita Diabetes Mellitus

SIAPA yang tak suka roti? Walaupun bukan makanan pokok masyarakat Indonesia, roti menjadi makanan yang cukup digemari. Namun siapa sangka kalau roti memiliki kandungan gula yang tinggi. Hal ini menjadi masalah bagi penderita Diabetes Mellitus yang gemar mengonsumsi panganan berbahan dasar tepung ini. Hal tersebutlah yang melatari Novitasari Dwi Mar’atusholihah, Anggun Nurani, Rehan Almira mahasiswa prodi Ilmu Teknologi Pangan (ITP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menciptakan roti yang ramah bagi para penderita Diabetes Millitus. “Kami campur bahan rotinya dengan ekstrak Okra atau Abelmoschus Esculentus,” tutur Novitasari Dwi Mar’atusholihah, Ketua Kelompok. Tanaman asli Afrika ini menjadi bahan tambahan untuk menekan kadar gula pada roti. Produk tersebut dinamai Rita Ok (Roti Tawar Okra). Buah okra merupakan salah satu tanaman yang tinggi serat dan kandungan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan kimia dari okra diantaranya adalah 67,50% α-selulosa, 15,40% hemiselulosa, 7,10% lignin, 3,40% komponen pektik, 3,90% komponen lemak dan linin serta 2,70% ekstrak air. Efek kimia tersebut memiliki guna sebagai antidiabetes. Mahasiswa semester enam ini juga menerangkan, temuannya sudah disusun sejak awal April lalu. Bukan tanpa sebab, Novita dan kawan-kawannya menggagas Rita Ok dalam rangka diikutkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Penelitian tersebut telah dan sedang dalam masa uji. “Ada dua tahap pengujian. Satu sudah, yakni uji infifo. Tinggal satu lagi, uji serat,” jelas Novita. Buah Okra nantinya akan diekstrak dan akan berbentuk gel. Gel tersebutlah yang akan dicampurkan dalam bahan pembuatan roti. Setelah itu roti akan melalui proses pembuatan roti pada umumnya. “Ada sedikit perbedaan dengan roti pada umumnya, hanya teksturnya agak sedikit lembek. Lainnya sama dengan roti biasanya,” ungkap Novita. Dalam kurun waktu empat bulan, Novita akan memaksimalkan penelitannya. Melalui penelitian ini pula, penelitian bimbingan Dr. Ir. Warkoyo, MP. ini berharap mendapatkan informasi produk ekstrak buah okra yang mampu menurunkan kadar gula dalam darah. Ini dimaksudkan agar dapat dijadikan alternatif produk pangan aman untuk dikonsumsi penderita Diabetes Mellitus. (mir/can)