Cerita Magang BUMN Mahasiswa UMM di Sulawesi Selatan

SEJUMLAH mahasiswa berasal dari berbagai program studi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta dalam pelaksanaan magang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersertifikat Batch I di PT Kawasan Industri Makassar (KIMA), Sulawesi Selatan. Primahaditya Putra Bintang Adi Pradana, salah satunya. Ia mengaku turut mengikuti program tersebut untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Menurutnya, materi di dalam kelas tidak cukup untuk bekal memasuki dunia kerja. “Magang bisa menjadi bahan pertimbangan kedepannya untuk memilih minat dan bakat dalam kerja. Karena ke depan, kita semua akan melakukan pekerjaan langsung di lapangan,” ujar Prima mahasiswa Fakultas Hukum UMM (23/5). Magang selama enam bulan ini, sambung Prima diwawancarai via WhatsApp, dimulai dengan pembekalan dari perusahaan terkait mengenai magang integrasi dan gambaran umum kondisi kerja, hingga sikap saat mengambil keputusan. Tak cukup sampai disitu, setelah pembekalan peserta akan ditempatkan pada divisi yang sesuai dengan program studi perkuliahan. Prima ditempatkan pada divisi Legal Corporate yang bertanggungjawab terkait masalah hukum di perusahaan. Terutama dalam kawasan industri. “Kebanyakan kegiatan divisi ini seperti review perjanjian, pembuatan surat keputusan, kemudian update peraturan perseroan khusus kawasan industri BUMN. Tidak hanya diberi materi saja, akan tetapi juga dikenalkan mengenai kondisi lapang dan cara mengatasinya,” sebut pria kelahiran Gresik ini. Jika dilihat dari aktivitas magang, sebagian besar yang dilakukan Prima sesuai dengan materi di perkuliahan. Hanya saja saat magang, sambungnya, bersifat praktik atau tugas lapang. Di akhir nanti, katanya, terdapat penilaian terkait kinerja dan penguasan bidang yang digeluti. “Di sini, yang baru saya pelajari dan tidak ada diperkuliahan seperti pembuatan perjanjian penggunaan tanah industri, pembuatan legal opinion dan pembuatan somasi. Jadi, benar-benar banyak hal yang saya pelajari di sini,” ujar Prima. Selain mendapatkan bekal praktik di dunia kerja, peserta magang berintegrasi BUMN ini akan mendapatkan gaji di tiap bulannya. Tidak hanya itu, mereka juga diberi sertifikat tanda partisipasi magang integrasi BUMN yang dapat digunakan melamar kerja di perusahaan BUMN. Asisten Khusus Rektor Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kerjasama, Dr. Ratih Juliati, M.Si. dalam kesempatan lain menyatakan, skema magang bersertifikat ini UMM telah bekerjasama dengan 142 perusahaan BUMN di bawah Forum Human Capital Indonesia (FHCI). Program ini tidak akan mengganggu perkuliahan peserta. Kedepannya akan diterapkan sistem pembelajaran jarak jauh dengan metode blended learning atau pembelajaran berbasis daring. Sehingga peserta tetap dapat melanjutkan perkuliahan yang sedang ditempuh. (mir/bel/can)

Setiawan Mungil, Sepatu 4 in 1 Mahasiswa UMM yang Diminati Mancanegara

Beragam jenis alas kaki diperuntukan berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Hal tersebut memungkinkan kebanyakan wanita untuk memiliki beberapa jenis alas kaki. Jika dihadapkan pada situasi yang berbeda dengan selang waktu yang berdekatan, akan merepotkan penggunannya untuk membawa banyak alas kaki. Berangkat dari hal itulah tiga sekawan dari program studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Syahmi Kafin Fahreza, Dita Fomara Tuasikal, dan Muhammad Fitrah Ashary Bangun, membuat produk Setiawan Mungil (Sepatu Batik Four in One Multifungsi) untuk diikut sertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa – Kewirausahaan (PKM-K) Ristekdikti Tahun 2019. “Ide itu muncul ketika ada keluhan dari konsumen wanita, yang jika berpergian selalu membawa banyak macam sepatu dan sandal. Ya kenapa tidak kita coba untuk membantu memberi solusi all in one,” ungkap Syahmi yang juga seorang wirausahaan sepatu. Selain memiliki keunggulan dalam menjalankan empat bentuk dan fungsi sebagai sneaker, wedje, boot dan juga sandal, sepatu ini juga menggunakan pesona batik untuk menyasar pasar internasional. Untuk memastikan hal itu, mereka melakukan survey ke mancanegara dan mendapatkan hasil yang positif. Menariknya, saat melakukan survey, seorang pemuda asal Jepang menawarkan diri untuk menjadi reseller sepatu tersebut dan akan dibayar dengan harga yang lebih mahal. Sebelumnya produk mereka dibandrol dengan harga Rp. 700.000. “Mereka berani menjual dengan harga Rp 1.500.000 di Jepang. Negara Jepang memang sangat minat terhadap produk-produk inovasi, terlebih produk Setiawan Mungil ini sendiri menyentuh unsur kebudayaan Indonesia,” ungkap Fitrah. Tidak hanya dibuktikan melalui survey saja, produk mereka juga beberapa kali diikut sertakan dalam perlombaan. Penghargaan yang pernah diterima diantaranya, Juara 1 National Bussines Plan Asia Andalas 2019, Juara 1 Expo National Bussines Plan Festival Universitas Kristen Satya Wacana 2019. Setelah lolos pendanaan PKM-K dan mendapat dana hibah sebesar Rp. 7.800.000, dana tersebut digunakan untuk memproduksi dua puluh sepatu yang akan diikut sertakan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2019. (bel/chan)

Mahasiswa Teknik Mesin UMM Ciptakan Mesin Pengayak Pasir Efisien

Berawal dari keresahan sang Ayah melihat para pekerjanya tidak efesien saat mengayak pasir, Fajar Ibrahim Sulaksono beserta kedua teman kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menciptakan mesin pengayak pasir canggih. Mesin yang dinamakan Sinpangsir (Mesin Pengayak Pasir) ini memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya penggunaan waktu yang efesien untuk memilah pasir halus dan kerikil. “Mengayak harusnya bisa dilakukan oleh satu orang saja. Tetapi pada kenyataannya harus dilakukan oleh tiga orang, bahkan lebih,” terang Fajar saat diwawancarai beserta kedua temannya dari Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik UMM (21/5), Sabiq Nugroho dan Amirul Bagus Bintoro. Inovasi ini didaftarkan ke ajang Program Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh Sinpangsir diantaranya tabung pengayak sengaja didesain berbentuk segi delapan. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Setiap sudut dari segi tersebut memiliki fungsi sebagai penghentak sekaligus pemisah antara kerikil dan juga pasir. Selain itu, Sinpangsir juga memiliki penutup pada tabung pengayaknya untuk mencegah berhamburnya pasir dan juga kerikil keluar tabung. Salah satu keunggulan yang cukup menyita perhatian adalah masin ini menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) premium. Sehingga mesin ini dapat di tempatkan di mana saja tanpa harus mencari sumber daya listrik terdekat. Mesin pengayak pasir ini menampung hingga 174 kg pasir dan mampu mengayak sekitar 17 ton per jamnya,” ungkap Fajar. Biaya pembuatan mesin inovatif ini sekitar enam juta rupiah. Berkat ketekunan dan juga kreatifitas mahasiswa bimbingan Iis Siti Aisyah, ST, MT, Ph.D ini berhasil maju ke Program Kreatifitas Mahasiswa tingkat Monitoring dan Evaluasi (Monev) eksternal, sebelum nanti maju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Naional (PIMNAS) akhir Juni mendatang. UMM sendiri berhasil meloloskan 38 tim PKM dari semua kategori skim, untuk didanai dan diwujudkan menjadi bentuk penelitian maupun karya nyata. (zak/can)

UMM Apresiasi Pejuang Pendidikan Berprestasi

Pendidikan menjadi  tiang bagi masa depan seseorang. Jembatan bagi banyak cita-cita. Mereka yang bekerja dalam dunia pendidikan, tak ubahnya seperti pahlawan yang membantu anak negeri meraih jutaan mimpi. Menyadari hal tersebut, pada setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan apresiasi khusus bagi para pejuang pendidikan, baik dosen maupun karyawan di lingkungan internalnya. Atas dedikasi dan karya terbaik yang diciptakan, pada tahun ini  terdapat 9 dosen dan karyawan yang mendapat penghargaan. Untuk Dosen Berprestasi, Peringkat I diraih oleh Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., A.K., C.A., Peringkat II Dr. Widayat, S.E., M.M. dan Peringkat III Risa H., S.Kep., NS., M.SM. Sementara itu, pengharaan bagi Karyawan Berprestasi jatuh kepada Peringkat I Sukam, S.T., Peringkat II Dewi Sulistyowati, S.T. dan Peringkat III Arianto, S.P. Tidak hanya sekedar menyelesaikan tugas dengan berbalut loyalitas, mereka juga telah dengan kesungguhan hati memberikan yang terbaik dalam menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Penasaran dengan kisah Ihyaul Ulum, Sukam, dan Suwignyo?  Berikut narasi lengkapnya. Formula Modal Intelektual Dosen UMM Dipakai Banyak Peneliti Asing Penggagas Sistem Kepegawaian Ini Raih Titel Karyawan Berprestasi Pakar Energi UMM: Air, Angin, dan Surya Jadi Sumber Listrik Masa Depan Selain itu, pada kesempatan yang sama, diberikan juga penghargaan khusus kepada dosen di empat kategori. Yakni pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak Prof. Ishomudin, publikasi buku teks dan motivator penulis mahasiswa Nurudin, M.Si, pengembang energi terbarukan Ir. Wignyo, M.T., dan inspirator dan motivator karya kreatif dan inovatif mahasiswa Jamroji, M.Sc.

Semarakkan Ramadhan, UMM Gelar Bhakti Sosial di Desa Pramuka

Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan 1440 Hijriah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melakukan kegiatan Bakti Sosial sebagai bentuk kepedulian Kampus Putih terhadap masyarakat. Kali ini lokasi yang dipilih adalah Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Desa yang dijuluki desa Pramuka ini memang sudah beberapa kali mendapat kepercayaan untuk mengadakan kegiatan internasional, terutama penyelenggaraan perkemahan Pramuka semenjak tahun 1970-an. Dibuktikan dengan sudah tiga kali even Pramuka tingkat dunia pernah digelar di desa ini. Selain bakti sosial, terdapat pula pengobatan gratis. Kegiatan ini turut didukung oleh Rumah Sakit UMM. Terdapat pula wisata edukasi bagi anak-anak dengan mendatangkan Mobil Pintar dukungan dari Humas UMM. Dalam kegiatan ini ratusan warga kurang mampu berbondong-bondong memanfaatkan kegiatan ini. Menurut salah satu warga, yakni Rumini mengungkapkan, dirinya sangat senang dan antusias dalam mengikuti kegiatan yang jarang diselenggarakan ini. “Ya senang, mas. Biasanya kalau berobat jauh dan bayar. Dengan adanya ini saya bisa berobat gratis, dapat sembako lagi,” kata wanita 67 tahun mengungkapkan kegembiraannya. Belum sampai disitu, dalam kegiatan ini juga diisi ceramah keagamaan yang disampaikan oleh Imamul Hakim, S.E., M.Sh., sekaligus menunggu waktu buka puasa tiba. Dalam ceramahnya Imamul menyampaikan bahwa maksud dan tujuannya kesini adalah untuk menyambung tali silaturrahmi dengan masyarakat. (zak/can)

Gubernur Jawa Timur: Muhammadiyah Berkontribusi Besar Pada Pembangunan Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. hadir dalam perhelatan Kajian Ramadhan 1440 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu (18/5). Khofifah menyampaikan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur saat ini 2000 Trilyun. Sementara APBD Jawa Timur hanya 31 Trilyun. Angka ini idak sampai 2% bisa menstimulir seluruh gerak pembangunan. Bahkan, sambung Khofifah di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), jika seluruh aset pemimpin daerah di Jawa Jimur digabungkan, hanya akan menambah 50 Triliun atau 2,5% dari total PDRB Provinsi. “Saya ingin menyampaikan bahwa betapa penting kekompakan seluruh elemen masyarakat yang ada di seluruh jawa timur,” ungkap di depan ribuan pasang mata. Dilanjutkan Khofifah bahwa pengukuran perbandingan dalam membangun masyarakat Jawa Timur adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Untuk meningkatkan itu, seluruh keluarga besar Muhammadiyah Jawa Timur sangat berperan kuat dan signifikan. Diantaranya melalui lembaga pendidikan, kesehatan, dan melalui lembaga ekonomi yang menjadi komponen penting di dalamnya. “IPM Jawa Timur saat ini berada di urutan ke 15 dari 34 provinsi di Indonesia. Dan ini menjadi yang terendah dari seluruh Pulau Jawa. Kita ingin mendongkraknya. Mungkin tidak bisa dilakukan dengan APBD yang hanya 31 Triliun. Dengan demikian, pembangunan ini tidak akan terwujud tanpa kontribusi yang luar biasa, yaitu keluarga besar Muhammadiyah,” terangnya pada Sabtu (18/5) sore. Sementara disebut Ketua Umum PWM Jawa Timur Dr. KH. Saad Ibrahim, MA., di bawah naungan PWM Jawa Timur, Muhammadiyah saat ini telah memiliki 7 Universitas, 20 lebih Sekolah Tinggi, 82 buah Rumah Sakit dan Klinik, serta 1002 sekolah mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA, 120 rumah panti asuhan, serta 35 usaha di bidang ekonomi termasuk travel Jamaah Haji dan Umroh. Dalam gelaran bertema “Mewujudkan Khairu Ummah” ini, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc. Prof A Malik Fadjar mengajak warga Persyarikatan untuk menjadikan Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriah sebagai tonggak untuk menatap masa depan bahwa keluarga besar Muhammadiyah adalah keluarga Khairu Ummah. Malik menyerukan pada warga Muhamadiyah untuk berkiprah di berbagai bidang. “Semua itu penting untuk memberi makna guna memperkuat pergerakan Muhammadiyah dalam konteks menebarkan fastabiqul khairat untuk Indonesia,” terangnya. Malik menegaskan, Muhammadiyah tidak boleh berhenti untuk bergerak menebar kemanfaatan dan kebaikan untuk umat, bangsa dan kemanusiaan. Di sisi lain, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015 Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin, M.A. mengingatkan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari. “Ada orang-orang yang melubangi dasar perahu. Maka, jika tidak dicegah dan dibiarkan, mereka akan binasa semua. Tapi jika dicegah, semua penumpang akan selamat. Maka, keharusan umat Islam untuk melakukan amar makruf nahi mungkar,” ujar Din. Sebagai Khairu Ummah, umat terbaik dan pilihan, umat Islam harus bisa menghindari konflik yang bisa merusak bangsa. “Jika terjadi political chaos atau kekacauan politik, harganya terlalu mahal. Bukan saja merusak Islam, namun juga merusak persyarikatan. Mengembalikan pada keadaan semula jelas tidak mudah,” ungkapnya (19/5). Islam, tegasnya, harus menjadi warna Khairu Ummah. Dalam gelaran Kajian Ramadhan kemarin, Jumat (18/5), juga diadakan buka bersama. Selain Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, acara juga dihadiri Wakil Bupati Malang  Drs. HM Sanusi, MM., Walikota Malang Drs. H. Sutiaji, Pejabat Eselon 1 Provinsi Jawa Timur, jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan perwakilan jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (riz/can)

Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM Serukan Persatuan Bangsa

Sejumlah akademisi muda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seruan Kebangsaan, di UMM Dome, Senin (20/05). Mereka tergabung dalam Cendekiawan Muda Muhammadiyah UMM yang prihatin kondisi terkini. Juru bicara CMM UMM Pradana Boy menyatakan, sebagai cendekiawan muda pihaknya prihatin atas gejala politik saat ini. Mengutip presiden Sukarno, bahwa persatuan adalah sesuatu yang amat mahal dan terlalu mahal untuk dikorbankan. “Sekali persatuan dikorbankan maka pemulihannya akan sangat lama, bisa ratusan tahun, atau justru tak bisa dipulihkan,” kata Pradana. Pradana juga menyayangkan, saat ini kebenaran faktual tidak lagi merupakan kebenaran sejati. Sebaliknya, kebenaran telah digantikan dengan pembenaran atas opini, propaganda, pandangan, analisis, atau berita bohong. Tingkat kepercayaan kepada “yang dianggap benar”, dan bukan kepada “kebenaran faktual” telah menjadikan wibawa lembaga-lembaga negara yang berkompeten dalam memproduksi informasi pada bidang tertentu, menurun. Bahkan, lanjutnya, kini muncul kecenderungan bahwa lembaga-lembaga negara tak lagi dihormati dan bahkan dianggap sebagai bagian dari konspirasi jahat menghancurkan bangsa. Sebagai bangsa yang berpijak teguh kepada agama, agama dan tokoh-tokoh agama diharapkan memainkan peran dalam meminimalisir konflik, ketegangan dan fragmentasi yang melanda bangsa ini. “Sayangnya, tidak sedikit tokoh agama yang menjadi bagian dari pusaran konflik dan alih-alih menjadi kekuatan perekat, justru sering mengajak masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang tidak agamis,” ujar Pradana. Pradana menambahkan, kegiatan Seruan Kebangsaan ini juga memberikan beberapa pernyataan penting untuk mengingatkan kepada publik, di antaranya mengenai: (1) Menghormati setiap proses demokrasi, memandangnya sebagai mekanisme rutin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan tidak menjadikannya sebagai pemicu fragmentasi dan konflik antar anak bangsa; (2) Mengajak para tokoh masyarakat dan pemimpin agama untuk menjadi perekat umat, penyejuk situasi dan peredam ketegangan; (3) Mendukung pemerintahan sah saat ini untuk bersikap tegas dan kuat dalam menghadapi setiap upaya memecah belah bangsa. (*)

Ramadhan Momentum Membangun Ummat Terbaik dan Bangsa Unggulan

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si, menyebut, di usia kemerdekaan Indonesia ke-73 tahun, perlu ada progres yang terus menerus. Hal ini disampaikan Haedar dalam kesempatan mengisi Kajian Ramadhan tahun 1440 Hijriyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/5) siang. Selain itu, di tengah polariasi kehidupan bangsa Indonesia usai pelaksanaan Pemilu, Haedar menyatakan, Muhammadiyah mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Bawaslu dan semua pihak untuk mengedepankan asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luberjurdil) dalam proses penghitungan, sampai pada tahap pengumuman. Serta, berdiri tegak di atas konstitusi dan hukum yang berlaku. Sudah menjadi sikap resmi Muhammadiyah yang berlaku di Tanah Air, pada 18 April yang lalu, Muhammadiyah mengajak seluruh warga negara dan bangsa untuk berpijak di atas hukum dan konstitusi. “Harus menerima apa yang diputuskan KPU. Bagi yang tidak puas, bahkan jika ada kesalahan dan kecurangan, bawalah ke ranah hukum agar semuanya transparan. Tentu kita harus kawal juga,” ungkapnya. Pemilu itu jangan sampai membuat kita retak sebagai bangsa. Karena persatuan selama ini menjadi kekuatan. Sumbangan ummat Islam untuk bangsa ini besar. Yakni menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Tidak ada negeri muslim yang memberi toleransi yang begitu baik. “Artinya, ummat Islam itu menjadi penyangga persatuan Indonesia. Maka, jangan dirusak,” ujarnya. Sejak Indonesia mengamandemen Undang-undang Dasar tahun 1945, ada satu ayat yang ditambahkan, yang dulu tidak ada di UUD 45 asli. Yakni, “Indonesia negara hukum”. “Kepada mereka yang dulu terlibat dalam amandemen, mohon dibaca kembali. Bahwa Indonesia, negara hukum. Artinya, menyelesaikan segala masalah lewat hukum. Penegak hukum juga harus adil dan menegakkan hukum sebaik-baiknya,” ujarnya. Ketika kita menjujung politik nilai, kata Haedara, kita akan berhadapan dengan politik yang pragmatis-oportunistik. Dalam bahasa lain yakni politik Jahiliyah, atau politik ketertinggalan dan keterbelakangan secara nilai. “Kita ingin mengajak seluruh bangsa Indonesia dan ummat Islam untuk memanfaatkan momentum Ramadhan ini untuk membangun ummat terbaik dan bangsa unggulan,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur DR. KH. Saad Ibrahim, MA. menyampaikan dalam sambutannya, di tengah dinamika kehidupan kebangsaan ini, Pimpinan Wilayah Jawa Timur menangkap momentum dengan mengangkat tema Kajian Ramadhan tahun ini yakni “Mewujudkan Khairu Ummah”. Agenda tahunan ini dihadiri Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jawa Timur. Di sisi lain Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyebut dalam Kajian Ramadhan ini, melalui tema “Mewujudkan Kairu Ummah”, dijadikan sebagai ajang konsolidasi Peryarikatan Muhammadiyah. Lebih jauh lagi, Fauzan menyatakan dalam sambutannya, diselennggarakannya pengajian ini dalam rangka memperkuat Muhammadiyah menjadi aktor yang lebih mencerahkan di daerahnya. (Chan)

Mobil KaCa UMM Berbagi Senyum Ramadhan Bersama Puluhan Anak YPAC

Bulan Ramadhan kali ini, Mobil Kamis Membaca (KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berbagi keceriaan. Kali ini waktunya adik-adik dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Malang yang mendapat kesempatan untuk bermain sekaligus belajar bersama Mobil KaCa, Jumat (17/5). Bekerja sama dengan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM, anak-anak YPAC diajak untuk bermain dan juga belajar bersama beberapa mahasiswa asing. Mahasiswa asing ini beberapa diantaranya berasal dari Kamboja, Korea, Mesir, Afganistan, bahkan Ukraina. Dalam acara ini juga ada beberapa kegiatan hiburan seperti membaca buku, menonton fil edukasitif, bermain dan bernyanyi, hingga acara buka bersama. Tidak cukup hanya di situ saja, ada penampilan spesial yaitu mendongeng yang ditampilkan oleh Indah Rahayuning Tyas mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menurut salah satu mahasiswa asing, Theng Chan Boramey, ia mengaku sangat senang karena bisa berbagi dengan teman-teman yang tidak seberuntung kita. ”Saya sangat senang dengan acara seperti ini, karena kita bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka,” ungkap mahasiswi asal Kamboja tersebut. Salah satu pengasuh YPAC, Edi Siswanto menyatakan, ia sangat senang dengan kehadiran Mobil KaCa. “Saya sangat senang karena bisa melihat anak-anak ceria dan antusias seperti barusan. Saya juga berharap semoga acara seperti ini lebih sering lagi, untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak di sini,” tururnya. Menyambung, Sekretaris Humas UMM Mohamad Isnaini menyebut, selain berbagi keceriaan, acara ini juga sekaligus memberikan pengalaman bagi mahasiswa asing untuk berinteraksi bersama adik-adik yang ada di YPAC. Acara ditutup dengan buka bersama dan juga bernyanyi bersama dengan para penghuni YPAC. “Acara ini sekaligus memperkenalkan pengalaman baru kepada mahasiswa asing untuk berbagi kebahagiaan dengan adik-adik difabel yang ada di YPAC. Karena di negara mereka rata-rata tempat seperti ini sangat tertutup. Berbeda dengan yang ada di indonesia,” ungkap Isnaini. (Zak/Chan)

Seniman Jabung di UMM: Lewat Budaya Kita Menjadi Kaya

Pendiri Gubuk Baca Lentera Negeri Fachrul Alamsyah mencurahkan keprihatinannya kepada anak-anak muda saat ini yang justru lebih mengenal tokoh-tokoh Super Hero dari luar negeri, ketimbang daerah asalnya atau lokal. “Oleh karena itu, kampus harus menjadi corong utama bagi generasi penerus bangsa untuk mengenalkan itu,” jelas Irul di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/5). Dijelaskan pula bahwa sebenarnya budaya bisa membuat seseorang menjadi sangat kaya. Bukan soal materi, tetapi menjadi kaya akan ide, imajinasi serta inspirasi. “Saat ini, di Jabung terdapat seorang maestro topeng yang bernama Mbah Suparjo yang karyanya telah memiki hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI),” tukasnya pada seminar dan workshop budaya yang berlangsung di Auditorium BAU. Pada gelaran workshop yang mengangkat tema menjadi “Enterpreneur Berbasis Budaya” ini, tak hanya mengajarkan proses pembuatan topeng dan gantungan kunci, pemateri juga memperkenalkan Tari Khas Jabung yakni Tari Wayang Topeng Gunung Sari sebagai pembuka. Tarian ini mengisahkan tentang sosok pangeran yang berasal dari kerajaan Kediri atau Doho yang sakti mandraguna, berhati mulia dan baik budi. “Ini adalah kali pertama bagi saya untuk memberikan workshop dalam lingkungan civitas akademika,” ungkap Fachrul Alamsyah yang kerap disapa Irul bersama sejumlah rekan Seniman Ukir Topeng, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Mereka mengajari para mahasiswa pembuatan topeng berbahan dasar Sterofoam serta gantungan kunci Resin atau bahan kimia berbentuk cairan kental seperti lem. “Saya yakin setelah adanya gambaran seperti ini, mungkin akan ada tangan kreatif yang mau mengembangkan dan terus menggerakkan kebudayaan, seiring dengan perkembangan dan kemajuan. Karena membangun entrepreneur yang berbasis budaya, terutama bagi para mahasiswa belum banyak,” pungkas Daroe Iswatiningsih selaku Kepala Lembaga Kebudayaan UMM saat memberikan sambutan. (Riz/Can)