BIPA UMM Kenalkan Budaya Gotong Royong Lewat Diplomasi Kemanusiaan

Momen Ramadhan rupanya dimanfaatkan sekelompok mahasiswa asing ini dengan cara berbeda. Sekelompok mahasiswa dari Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari berbagai negara berbagi kepada sesama di Panti Asuhan Putri Aisyiyah, Dau, Selasa (14/5) sore. Kepala UPT BIPA UMM, Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si. menerangkan, kegiatan filantropi ke Panti Asuhan dan ke beberapa tempat khusus lain nantinya, sebagai bentuk usaha BIPA UMM untuk melakukan diplomasi kemanusiaan. Yakni mempererat hubungan negara asal mahasiswa asing melalui kegiatan berbagi atau kemanusiaan. Karena nilai-nilai kebaikan itu sifatnya universal. Di Indonesia, sambung Arif, salah satu sikap yang menonjol adalah gotong royong. Budaya ini bisa diartikan juga dengan berbagi. “Kebetulan, baru terselenggara tahun ini, di Ramadhan ini, melalui kegiatan buka bersama. Sejauh ini baru di panti asuhan Aisyiyah,” beber Arif. Yang kedua, yaitu mendekatkan kepada masyarakat. Jadi, mengenalkan kepada masyarakat sebuah pergaulan internasional. “Anak yatim juga kita perkenalkan sebuah wawasan global karena mereka mendapat kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang-orang asing dari banyak negara,” ungkap Arif saat ditemui (15/5). Selain itu, dilanjutkan Arif, kegiatan ini juga bersifat rekreatif. Kegiatan ini dimaksudkan agar para mahasiswa BIPA UMM tidak jenuh belajar di kelas. “Mereka keluar kelas untuk mengunjungi tempat khusus, yaitu tempat mereka untuk berbagai, tempat mereka untuk menjalin sebuah komunikasi yang berkesetaraan,” ungkap Arif. Bantuan yang diberikan tidak hanya yang bersifat intelektual, seperti pembelajaran bahasa. Pembelajaran ini dilakukan agar mahasiswa BIPA tidak hanya mengenal budaya dan wisata. Lebih dari itu, mahasiswa juga memahami dinamika sosial yang ada di sekitar tempat mereka tinggal selama belajar budaya dan bahasa. Mahasiswa BIPA antusias mengikuti kegiatan tahunan ini. Bagi mahasiswa asing muslim, kegiatan ini menarik karena mereka menemukan pengalaman tak biasa. Tidak seperti kebiasaan yang mereka alami di negaranya. Bagi non-muslim, pengalaman buka bersama dengan masyarakat lokal sebagai pembelajaran keragaman. “Setelah saya mengikuti acara itu, saya senang sekali karena bisa melihat bagaimana panti asuhan di Indonesia. Mulai dari sistemnya, jadwal pelajarannya, dan yang mereka lakukan. Selain itu, saya menjadi tahu karena melihat langsung bagaimana tradisi orang Indonesia ketika berbuka puasa,” ungkap Vuly, mahasiswa asal Mesir. (bel/can)
Pakar Energi UMM: Air, Angin, dan Surya Jadi Sumber Listrik Masa Depan

Ahli di bidang Perencanaan Jaringan Pipa Air Minum dan Bendungan Kecil Ir. H Suwignyo, MT. menyebut bahwa di masa depan, seluruh energi pembangkit listrik akan beralih ke air, angin dan juga surya atau matahari. Mengingat, katanya, ketersediaan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan lainnya, yang semakin menipis. Salah satu teknologi yang bisa digunakan untuk mengantisipasi kelangkaan ini adalah dengan mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Beberapa tahun terakhir ini, Suwignyo banyak melakukan penelitian terhadap teknologi yang mulai jadi perhatian dunia untuk mengantisipasi kelangkaan energi. Ditemui di ruangannya, Rabu (15/5), dosen kelahiran Jember ini menyampaikan bagaimana peluang dan perkembangan PLTMH di masa depan. Berkat dedikasi dan kesungguhannya bergelut di bidang energi, dosen Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik ini dinobatkan sebagai Dosen dengan Penghargaan Khusus UMM 2019. Dimulai sejak tahun 2000 bersama ke enam mahasiswanya, Suwignyo memulai studi tentang PLTMH pertamanya yakni PLTMH Sengkaling 1. Setelah melalui beberapa revisi dan juga evaluasi, baik studi maupun desain, akhirnya PLTMH sengkaling mulai dibangun pada tahun 2007 dan mulai beroperasi pada awal tahun 2008. Selanjutnya pada tahun 2012 dibangun pula PLTMH di Sumber Maron Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang yang dimana studi PLTMH ini dimulai sejak tahun 2009. Di tahun 2015 dibangun pula PLTMH sengkaling 2, melanjutkan studi yang dimulai sejak 2001. Dan yang terbaru yakni PLTMH di Wisata Andeman Boonpring. Secara sederhana, kata Suwignyo, untuk menentukan besar kecilnya listrik yang dihasilkan, tergantung kepada ukuran turbin dan juga tinggi jatuhnya air. Sedangkan untuk PLTMH di wisata Andeman Boonpring sendiri memiliki diameter turbin 30 cm, dan diperkirakan mampu menghasilkan energi sebesar 15.000 watt tenaga listrik. Terkait dengan gelar penghargaan kategori Pengembang Energi Terbarukan yang Suwignyo terima, dia mengaku terkejut dan tidak menduga. Ia sendiri tidak pernah terbesit sedikitpun sebelumnya untuk mendapat, apalagi mengejar gelar yang rutin diberikan pada upacara peringatan Hardiknas di UMM ini beberapa waktu lalu. ”Ya, mungkin itu bentuk apresiasi dari Universitas Muhammadiyah Malang terhadap karya civitas akademika. Tentunya, semoga diraihnya penghargaan ini dapat menginspirasi teman-teman dosen yang lain untuk berkarya dan berinovasi. Walaupun (sesungguhnya, red.) saya tidak bertujuan untuk itu,” ungkapnya. Mimpi besarnya sebelum pensiun, Suwignyo ingin membuat sebuah desain pembangkit energi dari turbin penghasil listrik di sepanjang Jembatan Selat Bali yang panjangnya sekitar 39 KM. “Apabila ini benar-benar terealisasi dampaknya akan luar biasa. Karena mampu menghasilkan daya listrik yang sangat besar,” tandasnya optimis. (zak/can)
Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Pesan Ahmad Dahlan yang Diamalkan Bu Mei

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” menjadi mantra ampuh Mei Suciptowati menghabiskan lebih dari seperempat abadnya mengabdi di Kampus Putih, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dedikasi dan keiklasan Bu Mei, begitu ia disapa, menuntaskan tugasnya sebagai tenaga kependidikan tetap di UMM dengan predikat ‘khusnul khatimah’. Ulet dan teliti, itulah karakter yang tercermin dari seorang Bu Mei. Tepat 26 tahun 6 bulan sudah ia mengabdi di perguruan tinggi yang berjargon “Dari Muhammadiyah Untuk Bangsa” ini. “Pengabdian yang didasari oleh keikhlasan akan berbuah berbagai rezeki yang baik,” ungkap Bu Mei di hari terakhirnya aktif sebagai tenaga kependidikan tetap di kesekretariatan Rektorat UMM, sekaligus di Kampus Putih (14/5). Tulusnya Bu Mei dalam bekerja terpancar dari sorot jernih matanya saat membagikan ceritanya. Perempuan yang menamatkan pendidikan tingginya di Administrasi Bisnis ini memulai karirnya di UMM pada tahun 1992. Ia beberapa kali berpindah instansi yang terang berbeda dengan bidang minatnya. “Saya kira itu tantangan, saya suka itu,” tuturnya. Ia pernah empat tahun di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM. Selama empat tahun itu, Bu Mei berusaha memberikan kinerja terbaiknya. Kontribusi yang tak boleh dilupakan dari perempuan kelahiran Blitar, 4 Mei 1963 adalah papan jadwal yang saat ini ada di bagian Tata Usaha FEB. Dulu, terangnya, belum ada penjadwalan yang rinci dan efektif. Mei bersama tiga orang karyawan lainnya menggagas sistem penjadwalan yang lebih efektif yakni melalui papan. Papan jadwal tersebut pada akhirnya menjadi sebuah karya monumental yang banyak diadaptasi oleh fakultas-fakultas lainnya di UMM, karena dinilai lebih efektif. “Saya belajar dari nol terkait penjadwalan,” kata Bu Mei. Tantangan bagi Bu Mei adalah hal yang mutlak bagi seorang staf kependidikan. Sebagai seorang pegawai pula, pesannya, harus memberikan terobosan-terobosan yang kreatif serta inovatif. Selain pernah menjadi tenaga kependidikan bidang keadministrasian FEB UMM, Bu Mei juga pernah di Biro Administrasi Umum (BAU), dan pada 2008 sampai 2019 di Rektorat UMM. Ia diminta Rektor Muhadjir Effendy secara langsung kala itu. Tugasnya, melayani tamu-tamu Rektor dalam hal hidangan ramah tamah. “Saya jabarkan sendiri bagaimana melayani tamu yang baik itu, pokoknya terbaik,” jelasnya. Pelayanan yang diberikan Bu Mei bahkan diakui oleh Menteri Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan (periode 2009-2014) dalam kesempatan bertandang ke UMM. Bu Mei sampai mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih khusus dari sang Menteri. “Pak Menteri mencari-cari saya ke dapur untuk mengucapkan terima kasih karena sudah dijamu dengan hidangan kesukaannya,” ungkapnya sembari tertawa kecil. Rentang waktu pengabdian yang sangat panjang tersebut, Bu Mei membagikan kunci keistiqomahannya. Baginya, ikhlas dalam setiap pekerjaan yang dilakukan adalah hal yang paling penting. “Rezeki Allah yang mengatur, pokoknya ikhlas seperti perkataan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang tentunya sudah sangat kita hapal, Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” ungkapnya. Puluhan tahun Mei mengabdi di UMM, ia telah melayani Rektor Prof. H.A. Malik Fadjar, M.Sc., Rektor Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. hingga Rektor Dr. Fauzan, M.Pd UMM saat ini. Ia mengaku tak mengharapkan banyak hal dari UMM. Niatnya adalah mengabdi, karena ia mengikuti pertumbuhan UMM dari kampus dua hingga memiliki kampus tiga. Ia berharap, UMM semakin baik dan berkemajuan. (mir/can)
LSP UMM Jadi Percontohan Penerima Hibah Retooling Vokasi Ristekdikti

Sebanyak 384 mahasiswa Vokasi Keperawatan, Elektro dan Perbankan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti uji kompetensi Program Retooling Pendidikan Tinggi Vokasi Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti – Ristekdikti di Kampus II UMM (11-13/5). Uji kompetensi ini sekaligus penanda terpilihnya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM sebagai percontohan penerima hibah retooling vokasi. Periode kali ini terdapat enam skema yang diuji, yaitu Rohaniawan Rumah Sakit, Kewirausahaan Industri, Funding Representatif, Teknisi Akuntansi Ahli, Network Administrator Muda, dan Perancang Sistem Elektronik. Sebanyak dua tim dari Ristekdikti, yaitu tim monev dan tim media dikerahkan untuk memonitoring dan mengevaluasi jalannya uji kompetensi. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Menariknya, tim media ini datang secara khusus untuk merekam kegiatan dan akan digunakan sebagai video profile Dirjen Kelembagaan Ristekdikti. Ristekdikti menilai, ada skema khas yang dimiliki LSP UMM. Yaitu pada skema Rohaniawan Rumah Sakit. Dr. Ihyaul Ulum, S.E., M.Si., Ak, CA. selaku Direktur LSP UMM mengatakan bahwa dari sekian banyak skema yang diujikan, skema Rohaniawan Rumah Sakit dianggap unik. Dikarenakan adanya penggabungan aspek kesehatan, psikologi dan kerohaniawan. “Banyak yang mengabaikan pentingnya pelayanan spiritual, padahal syarat sehat adalah fisik, mental dan spiritual. Sebagai universitas yang mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan nilai-nilai Islam, sehingga skema ini penting untuk diujikan bagi lulusan D3 Keperawatan,” ujar Ulum saat ditemui di ruangannya (13/5). Terdapat 87 mahasiswa yang mengikuti skema rohaniawan rumah sakit pada periode ini. Peserta akan menjalani dua tahap dalam pengujian, yakni ujian tulis dan ujian demonstrasi. “Kita akan menguji pengetahuan mahasiswa dalam pemberian pelayanan sebagai seorang rohaniawan, dengan memperhatikan etika-etika keperawatan,” sebut Faqih Ruhyanudin, M.Kep.,Sp.Kep.MB., Asesor Skema Rohaniawan Rumah Sakit. Selain itu, peserta akan diberi dua kasus dalam uji demonstrasi. Kasus yang di uji berupa penanganan kerohanian pada pasien penderita kanker darah yang sedang cemas karena takut meninggal. Dan pada pasien Ibu muda yang mengalami krisis kerohanian setelah kehilangan anak pada saat kelahirannya. “Dalam kasus tersebut kita akan melihat bagaimana mereka menangani spiritual pasien,” kata Faqih. Dalam pengujiannya, peserta uji kompetensi Rohaniawan Rumah Sakit akan mempraktekan komunikasi terapeutik, yakni kemampuan atau keterampilan perawat dalam berinteraksi untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain. Secara khusus melakukan sentuhan kerohanian terhadap pasien. (bel/can)
Tes Masuk Gelombang 1 UMM Didominasi Camaba Kedokteran

Camaba Kedokteran UMM menunjukan kartu peserta. (Foto: Rizki/Humas) Sebanyak 2600 calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti tes seleksi Jalur Reguler Gelombang 1, Sabtu (11/5) pagi. Mereka bersaing untuk mendapat kursi sebagai mahasiswa tingkat strata 1 dan diploma Kampus Putih. Ujian dipusatkan di lingkungan Kampus III UMM, yakni di Gedung Kuliah Bersama (GKB) I hingga IV, dan Gedung Auditorium BAU UMM. Pada tes gelombang pertama ini, Fakultas Kedokteran masih menjadi favorit para peserta ujian. Sekitar 850 peserta memilih program studi Kedokteran. Bahkan, untuk mengantisipasi kecurangan, UMM sampai mengerahkan petugas bantuan dari pihak kepolisian dan keamanan internal. Hal ini dilakukan untuk menghindari praktik perjokian. Yakni dengan melakukan penggeledahan ke tiap kelas. Dr. Saiman, M.Si. selaku kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UMM menyatakan, pagu penerimaan pada gelombang 1 ini antara 20 hingga 25 persen. Sementara gelombang 2 dan 3, antara 25 hingga 30 persen. Khusus untuk fakultas kedokteran, pelaksaan tes seleksi gelombang 3 tidak lagi menerima peserta seleksi. Serta, beberapa program studi yang telah memenuhi kuota. Selain itu Rektor UMM Dr. H. Fauzan, M.Pd juga menyampaikan, untuk tes masuk UMM berikutnya akan dilakukan sistem Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk mengikuti perkembangan yang terjadi saat ini. “Ini tahun terakhir UMM melaksanakan ujian tes masuk menggunakan cara konvensional (tulis, red). Nantinya akan menggunakan Ujian Tulis Berbasis Komputer itu,” terangnya. UMM sudah memiliki sekitar empat ratus komputer untuk mempersiapkan UTBK yang rencananya akan mulai dilaksanakan pada tes gelombang 3. Nantinya akan dibagi ke dalam beberapa shift, tergantung dari jumlah peserta yang mendaftar dan kapasitas tempat. “Selain mengikuti perkembangan teknologi dan juga mengantisipasi kecurangan pada saat tes ujian masuk,” terang Fauzan di gedung Rektorat. Setelah menerima camaba dari jalur prestasi dan gelombang 1, UMM akan kembali menyelenggarakan pendaftaran tes jalur regular gelombang II sejak 9 Mei hingga 10 Juli 2019. Sementara pendaftaran gelombang III mulai tanggal 11 Juli hingga 16 Agustus 2019. Para camaba UMM dihimbau memantau lini informasi seputar PMB UMM di kanal pmb.umm.ac.id dan mendaftar di online.umm.ac.id. (zak/can)
Kedokteran UMM Diminati Hingga Ujung Timur Negeri

Gema Universitas Muhammadiyah malang (UMM) tak hanya terdengar di kota Malang dan sekitarnya, tapi hingga ke pelosok negeri. Seperti Priambudi Kesuma Ramadhani sebagai peserta seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Gelombang I yang berasal dari kota asal tim Mutiara Hitam Jayapura, Provinsi Papua. “Saya ke UMM karena rekomedasi dari guru yang ada di sekolah. Selain itu orang tua juga turut merekomendasikan, sehingga saya mencoba untuk mendaftar dan mengikuti tes dan pilihan saya jatuh kepada Fakultas Kedokteran kampus ini,” ungkap Priambudi Kesuma Ramadhani yang kerap disapa Rama ini. Selain itu, Ismaliyah Kurnia Tiara Wati asal Nabire juga punya cerita serupa. “Saya ke sini karena rekomendasi dari guru. Orang tua juga turut mendukung. Tak hanya itu, di lingkungan saya juga terdapat beberapa alumni yang berasal dari kampus ini,” jelas Nia yang juga mengambil Program Studi (Prodi) Kedokteran. Tak kalah menarik, orang tua Ismaliyah turut membagikan cerita perjalannya dalam menemani putrinya. “Saya ke sini karena mengikuti kemauan dan cita-cita putri saya yang sangat ingin berkuliah di UMM. Selain itu kampus ini sudah punya nama di tempat saya,“ ujar Mrakih, saat menemani putrinya selesai ujian seleksi. Dilanjutkan oleh Mrakih, bahwa putrinya sudah dia tawarkan untuk memilih kampus-kampus yang tersebar di berbagai kota di Pulau Jawa lainnya. “Sudah saya tawarkan mulai dari Semarang, Jogja, Solo, serta Universitas Cendrawasih yang ada di Jayapura. Namun Ia tetap kekeuh untuk memilih di sini,” ungkapnya. Pada tes gelombang pertama ini, Fakultas Kedokteran masih menjadi favorit para peserta ujian. Sekitar 850 peserta memilih program studi Kedokteran. Bahkan, untuk mengantisipasi kecurangan, UMM sampai mengerahkan petugas bantuan dari pihak kepolisian dan keamanan internal untuk menghindari praktik perjokian. Setelah menerima camaba dari jalur prestasi dan gelombang 1, UMM akan kembali menyelenggarakan pendaftaran tes jalur regular gelombang II sejak 9 Mei hingga 10 Juli. Sementara pendaftaran gelombang III mulai tanggal 11 Juli hingga 16 Agustus. Pengumuman peserta lolos gelombang 1 tanggal 20 Mei 2019. (riz/can)
Formula Modal Intelektual Dosen UMM Dipakai Banyak Peneliti Asing

Selama lima tahun terakhir, Dr. Ihyaul Ulum banyak bergelut di dunia intellectual capital (modal intelektual). Bahkan, dia menciptakan model ukuran dari intellectual capital (IC). Temuan formula ini dinamainya dengan Modified Value Added Intellectual Coefficient (MVAIC). Fungsinya, untuk mengukur kinerja dari organisasi yang memiliki modal intelektual. “Karena selama ini (modal intelektual, red.) tidak terukur,” katanya. Buah pemikirannya itu kini sudah terbit di salah satu jurnal internasional di Amerika Serikat (AS). MVAIC juga sudah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham). Bahkan, diakuinya, model MVAIC telah dipakai banyak peneliti asing untuk mengukur kinerja perusahaan publik di Hongkong, Amerika, Australia, hingga London. Tak hanya menelurkan formula MVAIC. Di tahun 2016, Ulum juga sudah menerbitkan buku dengan judul “Intellectual Capital: Model Pengukuran, Framework Pengungkapan & Kinerja Organisasi”. “Buku ini disusun dengan semangat untuk meng-Indonesia-kan isu tentang IC,” ungkapnya. Secara internasional, ditambahkan Ulum, kajian tentang IC telah mulai berkembang sejak akhir tahun 1990-an. Termasuk di Indonesia. Atas dedikasinya pada pengembangan ilmu pengetahuan, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu, Ulum diganjar penghargaan sebagai Dosen Berprestasi UMM Tahun 2019. Dinobatkannya Ulum di peringkat pertama dosen berprestasi UMM didasarkan pada kiprah Ulum di karya Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Publikasi, serta Pengabdian kepada Masyarakat. Event tahunan pemilihan Dosen Berprestasi UMM ini menyesuaikan dengan agenda pemilihan dosen berprestasi di tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII dan nasional. Seleksi dimulai di tingkat perguruan tinggi. Pemenang, dalam hal ini Ulum, akan mewakili UMM untuk berkompetisi di tingkat LLDIKTI Wilayah VII. Jika kembali terseleksi, Ulum akan mewakili LLDIKTI Wilayah VII ke nasional. Untuk diketahui, pada ajang pemilihan Dosen Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2018, UMM telah menorehkan catatan membanggakan. Dosen UMM, Djoko Sigit Sayogo, Ph.D. meraih Juara Pertama dalam perhelatan pemilihan finalis Dosen Berprestasi Tingkat Nasional bidang Sosial Humaniora dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI). (riz/can)
Baru Berdiri, PBA UMM Raih Akreditasi B BAN-PT

Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) patut berbangga, pasalnya baru saja memperoleh nilai akreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Putusan ini didasarkan pada sertifikat akreditasi No. 1379/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2019. Visitasi perdana ke Prodi PBA UMM yang dilaksanakan pada 2 Mei lalu ini juga menjadi pencapaian yang sangat baik bagi PBA. Pasalnya, PBA baru saja berdiri pada 14 Maret 2014. Empat tahun kemudian sudah mendapatkan akreditasi yang baik, yakni B. Agustus nanti sudah dapat meluluskan mahasiswanya. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., Ketua Prodi PBA menerangkan jika Prodinya tak membutuhkan waktu yang lama saat proses visitasi. “Hanya 45 menit,” ungkap Fatoni. Singkatnya proses visitasi ini bukan tanpa sebab. Borang yang telah disusun oleh Prodi PBA telah dianggap sangat baik oleh para asesor dari BAN-PT. Salah satu pertimbangan para asesor memutuskan memberikan akreditasi B adalah dari prestasi mahasiswanya. “Kemarin kami undang 22 mahasiswa terbaik kami untuk mengikuti rangkai kegiatan visitasi,” tutur Fatoni. Banyaknya prestasi yang diraih mahasiswa PBA menjadi poin pemaksimalan nilai. Prodi PBA juga menerapkan sistem pembelajaran melalui mekanisme pemaksimalan teknologi pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0. menerapkan mata kuliah berbasis digital seperti Information and Communication Technology (ICT). Salah seorang diantaranya adalah Mohammad Romli yang meraih juara 3 debat Bahasa Arab Tingkat Nasional di Universitas Ahmad Dahlan. Selain itu, Romli juga pernah menyabet Best Speaker Debat Bahasa Arab Tingkat Nasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bulan Desember 2018 lalu. Diperolehnya akreditas tersebut tidak membuat puas Prodi PBA. Tantangan kedepan adalah peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) agar terus membaik. Hal tersebut dibutuhkan sinergisitas seluruh elemen civitas akademika Prodi PBA, baik mahasiswa maupun dosen juga karyawan. (mir/can)
Penggagas Sistem Kepegawaian Ini Raih Titel Karyawan Berprestasi

Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) selalu memberikan apresiasi kepada setiap karyawan dan dosennya yang punya catatan baik. Satu diantaranya Sukam, S.T., dari unit kerja Biro Hukum dan Kepegawaian. Dia didaulat sebagai tenaga kependidikan berprestasi tahun 2019. Awalnya, Sukam diajukan oleh unitnya untuk menjadi kandidat karyawan berprestasi. Lantas ia diminta untuk membuat deskripsi diri serta mengumpulkan kelengkapan administrasi lainnya. “Awalnya pesimis tidak akan masuk. Nyatanya saat pengumuman ternyata masuk. Alhamdulillah,” ungkap Sukam saat ditemui di kantornya (7/5). Bukan tanpa alasan, Sukam adalah pengagas juga pencipta Sistem Informasi Manajemen Administrasi Kepegawaian (SIMKEP). Sistem ini mempermudah proses monitoring dan kearsipan kepegawaian. Pada awalnya, sistem ini dibuat untuk mempermudah pekerjaannya. “Yang diurusi ribuan, perlu sistem yang baik dan terintegrasi,” jelasnya. Sistem tersebut akhirnya diadaptasi UMM dan digunakan untuk mempermudah proses kerja keadministrasian para pegawai. Sistem yang dirintis sejak delapan tahun lalu ini ia kerjakan saat waktu luang. “Dasarnya memang suka utak-atik,” tuturnya. Sistem tersebut dibangun pelan-pelan. Pada akhirnya menjadi sebuah sistem yang utuh. Selain Sukam, tenaga kependidikan UMM lainnya yang berprestasi yakni Dewi Sulistiyowati, S.T. dari Fakultas Teknik, Arianto Permadi, S.P. dari Biro Adminsitrasi Akademik, Sri Haryati, Amd.Kep. dari L. Keperawatan, Shobbah Sabilil M., dari Lembaga Infokom, dan Zulkifli Agusta F., S.Kom.I dari Lab. Komunikasi. Sementara, daftar dosen berprestasi yakni dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, peringkat I oleh Dr. Ihyaul Ulum, SE., M.Si., Ak., CA. (Prodi Akuntansi) dan peringkat II oleh Dr. Widayat, SE., MM. (Prodi Manajemen, serta Risa Herlianita, S.Kep, Ns., MSN. dari Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Ilmu Keperawatan di peringkat III. Selain itu, penghargaan khusus kepada dosen di empat kategori. Yakni pemilik Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak Prof. Ishomudin, publikasi buku teks dan motivator penulis mahasiswa Nurudin, M.Si, pengembang energi terbarukan Ir. Wignyo, M.T., dan inspirator dan motivator karya kreatif dan inovatif mahasiswa Jamroji, M.Sc. Pada kesempatan menjadi inspektur upacara Hardiknas 2 Mei lalu, Rektor UMM Dr. Fauzan berpesan, semua civitas akademika UMM harus memancarkan energi positif, harus membangun kekuatan yang memiliki resonansi positif. “Baik resonansi itu bertaraf regional maupun nasional, bahkan internasional,” sebut Fauzan. Fauzan juga lantas mengajak seluruh peserta upacara yang dihadiri siswa-siswi Sekolah Dasar, peserta kuliah sehari Kids on Campus, untuk terus melakukan inovasi. “Karena, jika kita tidak berinovasi maka kita akan mati. Bagi UMM, harus ada sesuati yang baru. Bukan hanya setiap tahun, tapi juga setiap bulannya,” tandasnya. (mir/can)
Sambut Ramadhan, Mahasiswa PBSI UMM Bedol Desa

Baru-baru ini Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan bakti sosial (Baksos) di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Agenda yang mengusung tema “Mengabdi untuk Negeri” ini dikemas dalam bentuk bedol desa. Agenda melibatkan ratusan mahasiswa ini berlangsung tiga hari, yakni 26-28 April. Baksos terbagi ke berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, keagamaan, sosial dan lingkungan. Diantaranya program Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Mengajar, yakni memperkenalkan profesi kepada siswa SD. Juga Sasindo Mendongeng, pelatihan profesionalisme guru, pelatihan membatik, donasi sembako, bersih mushola, hingga pemutaran film oleh Bioskop Keliling (Bioling) UMM. Terlebih, kegiatan ini dihadirkan untuk menyambut bulan Ramadhan 1440 Hijriyah serta Hari Pendidikan Nasional. Salah satu program di bidang agama misalnya program Bersih Mushola. Meliputi pengecatan dinding Mushola, tadarus bersama (Ngaji Bareng), penyerahan donasi peralatan sholat serta al-Quran. Berbagai kalangan turut andil diantaranya mahasiswa, pengurus mushola hingga warga sekitar. Bersih Mushola dilakukan di empat dusun berbeda di Desa Kedung Salam. Yakni Musholla Baitul Rohim Dusun Ngliyep, Musholla Manarul ‘Ilmi Dusun Krajan, Musholla Jabal Nur Dusun Salamrejo, ”Serta Musholla Al azhar dan Musholla An-Nur yang berlokasi di dusun Sumbersih,” ungkap Fida Pengesti S.Pd., M.A. salah satu dosen PBSI, selaku ketua panitia saat berbincang di sela kegiatan (26/4). Program bersih-bersih dan pengecatan Musholla dimulai sedari Sabtu pagi hingga siang hari. Setelah itu, agenda dilanjutkan dengan Ngaji Bareng hingga pukul 15.30 WIB. Kegiatan lantas ditutup dengan penyerahan donasi alat sholat dan al-Quran. “Tak hanya itu saja, Divisi Sosial juga memberikan donasi sembako yang berlangsung di balai Desa Kedungsalam dengan fokus janda, lansia dan difabel,” ujarnya. “Semoga kegiatan bakti sosial menyambut bulan ramadhan ini menjadi agenda rutin dari Prodi PBSI UMM. Sehingga dua tujuan utama baksos, yakni penguatan karakter mahasiswa dan pemberian kontribusi nyata kepada masyarakat dapat tercapai. Tentu dalam hal ini lokasi baksos akan berkembang, sehingga masyarakat yang mendapat manfaat kegiatan ini bisa lebih luas lagi,” tandas Fida. (Riz/Can)