Suntuk Skripsi, Mahasiswa UMM Justru Juara Lomba Kepenulisan Nasional

Melampiaskan kebosanan bisa dilakukan lewat berbagai cara. Cara yang dilakukan mahasiswa Ahwal Shakhshiyah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini barangkali patut dicontoh. Berawal dari kesuntukkannya mengerjakan tugas akhir, Abdul Aziz Pranatha justru mendapat gelar di lomba menulis cerita inspiratif nasional di gelaran LDK Fair Madaniyah Universitas Bangka-Belitung (UBB) 2019. “Berawal dari kesuntukkan saya saat menyusun skripsi, akhirnya saya membuka Instagram sejenak untuk merefresh otak. Kemudian menemukan informasi terkait perlombaan yang diadakan oleh organisasi tersebut,” cerita Aziz, Sabtu (4/5). Mengambil judul “Pondok Rehabilitasi Preman” aziz memiliki pesan tersendiri yang ingin disampaikan mahasiswa semester delapan ini. Merasa tidak pede saat memasuki sepuluh besar, justru aziz melangkah maju menempel para pesaingnya hingga menyabet juara kedua. Adapun juara pertama diraih Poltekes Kemenkes Pangkal Pinang. “Apapun kemampuan kita meskipun itu adalah hal yang kita anggap biasa saja dan mudah, namun apabila kita seriusi dan ditekuni, maka akan menjadi hal yang luar biasa,” ungkapnya. Kisah yang ditulisnya berlatar siswa SMP dari keluarga taat beragama. Karena salah memilih teman, anak yang semula baik-baik, berubah menjadi ketua geng preman. Hingga pada puncaknya ketahuan oleh orang tua. Lantas dipesantrenkan. Hingga akhirnya anak tersebut sukses mengejar mimpi duduk di perguruan tinggi. “Saya mengambil cerita berdasarkan kisah dan pengalaman pribadi saya sendiri,” tukas Aziz. “Pesan yang ingin saya sampaikan dalam cerita ini, bahwasanya pondok pesantren itu adalah salah satu opsi terbaik bagi para orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak. Karena selain mendidik dan melatih kedisiplinan. Pesantren juga mengajarkan ilmu agama, yang mencakup akhlak dan budi pekerti yang bagus untuk bekal kehidupan sang anak di masa mendatang,” pungkasnya. (riz/can)

Fakultas Teknik Juara Umum Rektor Cup 2019

Usai sudah seluruh rangkaian Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2019. Juara Umum Rektor Cup kali ini disabet oleh Fakultas Teknik . Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor UMM menutup secara langsung gelaran tahunan ini pada Sabtu sore (4/5). “Semoga gelanggang ini menjadi modal hidup saudara-saudara kedepan. Bahwa hidup adalah kompetisi,” katanya. Fauzan juga memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh mahasiswa yang terlibat. Baik para peserta maupun panitia. “Terima kasih telah menjalankan dengan baik,” ungkapnya. Fauzan juga tak lupa menyampaikan jika semuanya telah menjadi pemenang. Menang melawan ketakutan dalam dirinya untuk meraih cita. Setelah menutup, secara simbolik Fauzan memulai service bola voli untuk pertandingan Voli Putera antara FPP dan Teknik. Pertandingan antar dua fakultas tersebut berlangsung sengit. Pada set satu dan dua, FPP berhasil mengungguli Teknik. Namun, di set ketiga, FPP harus berganti mengakui keunggulan Teknik. Di set keempat, lagi-lagi Teknik mengejar ketertinggalannya. Riuh suporter masing-masing tim menggelorakan para pemain di gelanggang. Akhirnya, set kelima Voli Putera dimenangkan oleh Fakultas Teknik dan berakhir dengan perolehan FPP 2 dan Teknik 3. Pertandingan sengit ini membuktikan bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan atau fastabiqul khairat terus dijunjung oleh para mahasiswa UMM. Pada gelaran Rektor Cup 2019 ini, FKIP, FEB dan F. Teknik masuk ke dalam tiga besar juara Rektor Cup 2019. Juara 3 diduduki oleh FKIP dengan perolehan skor 81. Sedangkan posisi kedua diduduki oleh FEB dengan perolehan skor 83. Dan terakhir, juara pertama disabet oleh Fakultas Teknik dengan perolehan skor 86. Genap sudah rangkaian Rektor Cup 2019 digelar dengan menjunjung nilai-nilai sportif. (mir/can)

Ribuan Pendaftar Serbu UMM Job Fair 92

Sepekan setelah gelaran wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-92 Periode II yang mengukuhkan 1.270 sarjana, gelaran UMM Job Fair kembali diadakan. Diikuti oleh 50 perusahaan yang membuka stand pendaftaran lowongan kerja. Berlangsung selama dua hari (2-3/5) di Auditorium BAU UMM. Gelaran Job Fair kali ini dididukung oleh Dinas Ketenagakerjaan, Bursa Kerja Khusus (BKK), Kemahasiswaan dan Ikatan Alumni UMM, serta PT. Sin A Sixfifteen. Perhelatan ini sekaligus sebagai jembatan bagi mahasiswa yang telah lulus dan sudah menempuh mata kuliah Karir dan Wirausaha (KWU) untuk memperoleh pekerjaan. Berlatar belakang Program Studi (Prodi) Teknik Mesin, salah satu fresh graduate Institut Teknologi Nasional (ITN) turut mencoba peruntungan di bursa kerja, “Saya mencoba melamar di dua perusahaan yang berbeda. Salah satunya saya mendaftar di PT. Supra Alumunium Industri,” ungkap Sastra Bima Yoga. Setidaknya sebanyak 1.423 pendaftar yang tercatat hingga closed registrasi, dan beberapa perusahaan yang tersebar di Malang Raya seperti PT Indonusa Telemedia (Transvision), PT Smartfren Telecom, Tbk., PT PNM (Persero) Cabang Malang, PT Zurich Topas Life, hingga PT MNC Sky Vision, Tbk. Salah satu perusahaan Lembaga Keuangan Mikro, PT. Bina Artha Ventura juga ambil bagian membuka stand. “Sebagai layanan keuangan, kami harap dengan adanya Job Fair ini bisa mengurangi pengangguran. Karena di UMM sering mengadakan Job Fair seusai gelaran wisuda,” ujar Hikmah Tsurayya selaku HRD. “Semoga acara ini mampu mempermudah para alumni maupun dari luar kampus dalam mencari pekerjaan. Saya harap kedepannya lebih banyak instansi maupun perusahaan yang bergabung dengan kita. Sehingga Job Fair UMM ini bisa menjadi jujukan bagi para Job Seeker. tukas Muhammad Imansyah, Asisten Ketua Pelaksana. (riz/can)

Ketika Siswa SD Diajar Seorang Profesor

Tak terbayangkan sebelumnya oleh Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., seperti apa jadinya jika seorang guru besar mengajar siswa sekolah dasar (SD). Pada perhelatan Kids on Campus, Kamis (2/5), di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Lili merasakan pengalaman tak biasa ini. “Cara mengajar mahasiswa dan siswa SD terang berbeda. Tidak mungkin kita kasih teori yang berat-berat ke anak-anak, kan? Jadi sifatnya, ya, memotivasi saja. Bagaimana mereka mengenal seputar dunia peternakan, pertanian, dan perikanan. Menyenangkan,” ungkap Prof. Lili. Meski senang, ia mengaku kewalahan harus melayani pertanyaan dan tingkah lugu anak-anak dari SD se-Malang Raya. Terlihat beberapa kali Lili harus mengkondisikan para siswa karena tak mengindahkan himbauannya. Beberapa yang lain menjawab pertanyaan dengan antusias. “Pentingkah peternakan buat kita? Tentu saja penting. Karena binatang ternak mencukupi kebutuhan protein kita. Lantas, kenapa kita harus berternak? Karena dengan berternak dapat mencukupi kebutuhan bagi masyarakat banyak. Sehingga kita tidak impor,” terang Prof. Lili. Prof. Lili merupakan salah satu guru besar Fakultas Pertanian-Peternakan UMM yang concern pada peningkatan produktivitas ternak. Terakhir, ia melakukan riset untuk pengobatan dan pencegahan pada kasus mastitis dan menghasilkan produk krim anti mastitis. Iwan You Ananda, siswa SD Muhammadiyah 9 Kota Malang mengaku senang bisa ikut menjadi mahasiswa sehari dan belajar seputar dunia peternakan, terlebih didampingi langsung seorang profesor. Siswa kelas enam ini sempat menggendong seekor anakan kambing. (can)

Rektor UMM: Pendidikan adalah Investasi Masa Depan

Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang selalu diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bisa dimaknai sekedar aktivitas yang rutin. Akan tetapi, ritual ini harus dimaknai sebagai upaya kita untuk membangun komitmen dan kesadaran bahwa pendidikan adalah salah satu investasi masa mendatang. Demikian disampaikan Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. dalam kesempatan sebagai inspektur upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Kamis (2/5) pagi, di Lapangan Helipad Kampus III UMM. Gelaran dihadiri dosen, karyawan, mahasiswa, serta siswa-siswi sekolah dasar peserta kuliah singkat Kids on Campus. Keberhasilan suatu negara, sambung Fauzan, akan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan di negara itu. “Sebagai pihak yang bekecimpung dalam dunia pendidikan, hendaklah kita menjadi sinar, hendaklah kita menjadi matahari, yang dia melepaskan sinarnya dan bisa dinikmati oleh semua orang,” amanat Fauzan. Dilanjutkannya, kehadiran UMM dalam hal kontribusinya terhadap pendidikan tidak bisa diragukan lagi. Banyak prestasi, baik secara personal maupun institusional, baik yang diukir oleh mahasiswa, karyawan maupun dosen. Baik di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. “Kita bertekad untuk terus mengejar prestasi itu,” tegasnya. Satu-satunya kunci untuk terus selalu berprestasi, yakni melakukan perubahan di seluruh sektor yang ada di UMM. Mulai dari pelayan kepada mahasiswa, komunikasi antar sesama, sampai pada membangun kerjasama yang baik. Itu semua alam rangka untuk memberikan penguatan agar kita selalu menjadi universitas terdepan. Salah satu yang paling membanggakan, salah satu mahasiswa UMM yang telah diundang oleh Kemenristekdikti karena berhasil mempertahankan gelar Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC), di Amerika Serikat, pada 13 hingga 15 April 2019 lalu. Raihan prestasi tersebut diraih oleh tiga tim kebanggaan UMM. “Apa yang bisa kita tangkap dari fenomena ini? Artinya adalah, semua yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang ini, harus memancarkan energi positif, harus membangun kekuatan yang memiliki resonansi positif. Baik resonansi itu bertaraf regional maupun nasional bahkan internasional,” sebut Fauzan. Fauzan lantas mengajak bapak ibu seluruh civitas akademika UMM untuk terus melakukan inovasi. “Karena, jika kita tidak berinovasi maka kita akan mati. Bagi UMM, harus ada sesuati yang baru. Bukan hanya setiap tahun, tapi juga setiap bulannya,” tandasnya. (can)

Di UMM, Ratusan Siswa SD Diwisuda

Di momentum Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, Kamis (2/5) hari ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghelat Kids on Campus. Gelaran kuliah singkat bagi siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) se-Malang Raya ini untuk kali kedua diadakan. Lima ratusan siswa SD bersafari di Kampus III UMM untuk mengunjungi stand atraksi produk mahasiswa, di antaranya mobil listrik Genetro Suryo, serta beberapa unit kegiatan mahasiswa (UKM) UMM berprestasi sembari memamerkan beragam produk-produk inovasinya. Siswa yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok juga bergantian mengunjungi sejumlah laboratorium di UMM untuk belajar secara langsung, mengenal, mempelajari, hingga mempraktikan beberapa materi bersama para staf pengajar hingga professor . Rute pelaksanaan di antaranya Puspa Iptek, Laboratorium Biologi, Pusbang Biotek, Laboratorium Peternakan, Laboratorium Perikanan, Unit Produksi Roti, PLTMH, Laboratorium Drama, Laboratorium Robotik, dan Laboratorium Ilmu Komunikasi. Berkegiatan di kampus, kata koordinator acara Faizin, M.Pd, dapat meningkatkan keingintahuan siswa-siswi akan pengetahuan dan sains. Salah satunya, tim Robotika UMM yang baru saja menjuarai kontes internasional di Amerika Serikat yang turut serta menyemarakan kegiatan ini. Setelah mengikuti “perkuliahan” singkat, para siswa-siswi ini lantas menerima ijazah dan disematkannya gordon sebagai simbolisasi usainya proses pendidikan di perguruan tinggi. Mereka resmi menyandang status “sarjana”. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. yang langsung mengukuhkan ratusan siswa di gelaran wisuda. “Mulai sejak dini, siswa sudah diberikan wawasan pentingnya menghargai sesama melalui pendidikan karakter. Siswa juga diberikan kompetensi yang sesuai dengan potensi dalam diri mereka, serta ditanamkan sifat saling menghargai, dan terbiasa untuk bersifap sportif,” ungkap Fauzan. Hal ini, sambung Fauzan, menjadi investasi jangka panjang agar pendidikan bukan hanya sekedar mengahasah kecerdasan pikiran melalui nilai, namun pendidikan juga mengubah emosional dan spiritual anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang berkepribadian baik. Kurniawan Muhammad, Direktur Radar Malang dalam sambutannya menyebut bahwa ia belum menemukan kampus di Indonesia membuat terobosan seperti UMM. Inilah kampus yang bisa dijadikan contoh bagi perguruan tinggi lainnya untuk berkontribusi di dunia pendidikan dengan metode yang lebih atraktif. Ini sekalian memberikan obsesi kepada para siswa untuk dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya, hingga di perguruan tinggi. “Melalui kegiatan yang diikuti oleh berbagai latar belakang SD ini, adik-adik kita diajari sejak dini untuk mengenal keberagaman dan kebhinekaan,” sebut Kurniawan dalam sambutannya.(can)

Sosiologi UMM Jadi Koordinator ISI Malang Raya

Prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk sebagai koordinator Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) untuk Wilayah Malang Raya. Pelantikan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal ISI Pengurus Nasional (PN) Dr. Arie Sujito. Dilaksanakan pada Selasa (30/4) kemarin. Agenda dilanjutkan dengan rapat kerja. PN ISI melalui SK Nomor 01/ISI/IV/2019 memutuskan Rachmad K. Dwi Susilo, MA, Ph.D., sebagai Ketua ISI Wilayah Malang Raya periode 2019-2022. Rachmad yang juga Ketua Prodi Sosiologi UMM ini menyatakan, program yang akan dilakukan mesti membawa manfaat, khususnya bagi kalangan Sosiologi di Malang Raya. Setelah forum pertemuan yang dihadiri oleh para perwakilan Sosiolog pada Senin (22/4) lalu, Rachmad terpilih menjadi ketua. Selain Rachmad yang berasal dari UMM, juga terdapat nama Dr. Vina Salviana DS, M,Si dan Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos.,M.Si sebagai Pembina. Rachmad menerangkan bahwa dirinya dan ISI Malang Raya akan menggalang kepedulian dan audiensi dengan pengambil kebijakan dalam program aksi insidental. Selain itu, juga menggunakan metode pemahaman Malang Raya dan sekitarnya serta aksi kolektif kelembagaan. Kedepan, ISI Malang Raya akan mengadakan seminar eksplore potensi Malang Raya dan publikasi berupa news letter. Rachmad berharap, kebermanfaatan Sosiologi dapat dirasakan masyarakat, Serta, ISI menjadi wadah efektif untuk menyelaraskan antara teori dan praktek. (mir/can)

Lomba Mading 3D Turut Warnai Peringatan Hardiknas di UMM

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) mulai semarak di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hari ini, Selasa (30/4). Seperti yang digaungkan Perpustakaan UMM bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) yang menggelar sejumlah perlombaan, diantaranya lomba Mading 3D tingkat SMA. Mengusung tema Library of The Future, perlombaan mading ini menarik minat sejumlah siswa. Salah satunya dari SMKN 12 Malang. “Karena saya memiliki hobi mewarnai, stretch book dan pop up book, saya bersama teman ikut berpartisipasi lomba ini. Semoga bisa terus belajar dan mengasah kreatifitas,” ungkap Rosa Ayu Dewanti Dilanjutkan Rosa, merujuk kepada tema perpustakaan masa depan, ia bersama dua kawannya membuat mading yang memiliki tiga spot. Pertama adalah Go Book, di mana semua orang bisa memesan buku lewat handphone. Buku yang dipesan akan diantar kurir. Spot kedua, Hybrid Library adalah perpaduan antara buku cetak dan digital. “Ketiga adalah Virtual Library. Jadi kita membuat spot seperti yang ada di Alun-Alun Malang. Di dalamnya dipasang mesin dan diberi nama Automatic Book Machine. Semua orang bisa mengakses buku yang ingin dipinjam dengan syarat memiliki Id Card dan memindainya. Setelah itu baru bisa searching buku yang ingin dipinjam,” bebernya. Tak hanya lomba mading saja, diadakan juga serangkaian acara lomba poster mahasiswa, bazar buku, serta Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Karakter Siswa” yang mencakup penandatanganan nota kesepemahaman (MoU) dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Pusat Jakarta pada hari Sabtu (4/5) mendatang. “Even ini diadakan agar mahasiswa yang datang ke Perpustakaan tidak hanya untuk baca buku, tapi bisa sembari melihat pameran mading. Kedepannya, perpustakaan perguruan tinggi dikenal tidak hanya untuk sivitas akademika, tetapi juga dibuka untuk umum,” ujar Retno Widiyastuti Ika Wijaya, M.IP Selaku ketua pelaksana acara. (riz/can)

Lahir di Warung Kopi, Tiga Sekawan Ini Jadi Debater Andalan UMM

Wildan Arif, M. Fitrah Ashary Bangun dan Ibnu Sofyani merupakan tiga mahasiswa berbeda fakultas di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang kerap menjuarai kompetisi debat, baik tingkat regional hingga nasional. Terakhir, mereka berhasil keluar sebagai runner up dalam National Economic Debate Competition (NEDC) yang diadakan di Universitas Negeri Malang (UM), Minggu (28/4) pekan lalu. Mulanya, tim debat yang mereka namakan “Bidas Tim” (watak keras) ini tidak sengaja terbentuk di sebuah warung kopi, tak jauh dari Kampus III UMM. Dipantik dari sebuah obrolan kecil, ketiga mahasiswa asal Madura, Medan, dan Banten ini merasa memiliki kesamaan pemahaman. Sehingga, lahirlah inisitif untuk membentuk sebuah tim debat dan mulai menseriusinya dengan mengikuti banyak perlombaan. Meskipun pada saat itu yang mempunyai dasar seorang debater hanyalah Wildan. Berangkat dari kesamaan prinsip dan pemahaman di antara ketiganya itulah yang akhirnya membuat Fitrah dan Ibnu mau mencoba untuk mengikuti kompetisi debat pertama mereka, yakni di bali sekitar bulan November akhir tahun 2018 lalu. Meskipun di awal debut belum membuahkan hasil maksimal. Mereka tak menyerah. Ketiga mahasiswa yang memiliki latar belakang yang berbeda ini terus mencoba untuk mengikuti beberapa kompetisi debat untuk menambah pengalaman dan jam terbang, sekaligus meng-upgrade diri masing-masing. “Berangkat dari kekalahan, kemudian kami selalu melakukan evaluasi terhadap tim setelah selesai lomba. Dari situlah, kami mulai menemukan kecocokan satu sama lain,” kata Wildan, Selasa (30/4). Meski baru kenal satu tahun terakhir, banyak hal telah mereka lakukan bersama. Kami bertiga memang sudah sepakat untuk sama-sama saling mengatur pola hidup sehari-hari. Agar pada saat lomba, kami tidak kehilangan fokus. Bahkan kami sepakati untuk tidur maksimal pukul 22.00 dan bangun pukul 03.00 untuk sholat tahajud. Kemudian latihan untuk melenturkan bibir,” imbuh mahasiswa yang aktif di Menwa ini. Meskipun beberapa kali menjuarai kompetisi, bukan berarti tidak pernah menemui hambatan. Ketiganya selalu menganggap setiap hambatan sebagau sebuah cambukan untuk lebih baik kedepannya. “Cambukan itu kan panas, jadi kami memanfaatkan panas tersebut untuk menghangatkan tubuh kami di saat kami kedinginan. Jadi segala apapun yang terjadi pada kami, akan kami ambil sisi positifnya,” tegas wildan. Selain itu, tim yang mengaku seluruh anggotanya sama-sama punya watak keras ini selalu membuat nadzar. Yakni dengan menyisihkan sebagian hasil dari memenangi lomba untuk disumbangkan ke panti asuhan maupun masjid. Hal ini dilakukan lantaran mereka tidak ingin menikmati rezeki sendirian.”Alhamdulillah, mungkin faktor itulah yang membuat kami dipermudah ketika lomba debat,” disambung Fitrah. Tak tanggung-tanggung, dengan pola hidup dan chemistry yang tetap terjaga, mereka berhasill menjadi pemenang di NEDC. terlebih, berhasil menyisihkan beberapa universitas terkemuka di Indonesia seperti Institute Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Univertitas Diponegoro (UNDIP) dan lainnya. Meski sempat terseok di awal babak penyisihan dengan menempati posisi 12 dari 24 peserta, Namun, tak disangka, Bidas Tim mampu memukau di tahap selanjutnya dengan menempati posisi pertama dari delapan peserta yang lolos. Sebelum akhirnya keberuntungan belum berpihak kepada Bidas Tim, dan harus puas menempati posisi runner up. Namun, meskipun berada di posisi kedua, poin yang terpaut sangat tipis yakni delapan poin. Mereka harus mengakui keunggulan IPB di posisi pertama. (zak/can)

UMM Kembali Dipercaya Jadi Perguruan Tinggi Asuh

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat kepercayaan sebagai pelaksana program Perguruan Tinggi (PT)-Asuh. Mandat ini sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti RI No. 74/B/HK/2019 tentang Perguruan Tinggi Pelaksana Program Penjaminan Mutu. Mandat ini diterima dalam agenda penandatangan Memorandum of Understanding (MoU), Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka need assesment PT Asuh, Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME), serta Tata Kelola Universitas yang diadakan, Senin (29/4). Ketua Program Asuh PT Unggul Dr. Ainur Rofieq, M.Kes menerangkan, program ini adalah program tahun ketiga. Hal ini mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) No. 131 Tahun 2015 terkait dengan pengasuhan PT Unggul untuk melakukan pengasuhan terhadap PT yang tergolong Cluster 3 dan 4 serta berada pada daerah tertinggal. Selain UMM, setidaknya ada 20 perguruan tinggi terpilih dari 85 PTN dan PTS Se-Indonesia yang mendapatkan nilai BAN-PT dengan predikat A. “Program ini adalah untuk membangun budaya mutu melalui pendampingan dalam membangun, melembagakan sistem penjaminan mutu secara berkelanjutan,” ungkap Rofieq. “Ini sudah ketiga kalinya UMM dipercaya dalam pelaksanaan MoU Sosialisasi, dan Need Assasment Program Asuh PT Unggul. Sebenarnya kata asuh ini kurang tepat, karena pada prakteknya di lapangan kami saling belajar. Tepatnya PT Mitra,” ungkap Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Pd, selaku Wakil Rektor 1 UMM dalam sambutannya. Terdapat sepuluh PT dampingan UMM yakni Universitas Teknologi Surabaya, Stikes Artha Bodhi Iswara, Universitas Widyagama Malang, STIE Muhammadiyah Tuban, Stikes Maharani Malang, STIE NU Trate Gresik, Stikes Muh. Bojonegoro, STT Industri Turen Malang, Akper Nazhatut Thullab Sampang serta Universitas Madura. “Peningkatan mutu pendidikan itu bukan produk yang sekali jadi, butuh proses. Untuk itu tahun ini semoga kita bisa saling melengkapi, meskipun secara Institusional kami telah mendapat akreditasi A lebih dulu. Dan mutu itu tidak bisa dijalankan sendiri, sehingga kita butuh kerjasama dan saling support,” pungkas Syamsul. (riz/can)