Laboratorium Agribisnis UMM Bekali Mahasiswa Praktik Kewirausahaan

Kompetisi dunia kerja yang semakin ketat membuat Laboratorium Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) serius mempersiapkan mahasiswanya untuk bisa bersaing dan kerja melalui peluang kewirausahaan. Salah satunya melalui bazar kewirausahaan yang digelar 29-30 April di lantai 3,5 GKB 1 UMM. Melalui mata kuliah praktikum Kewirausahaan dan Etika Bisnis Jurusan Agribisnis serta Agropreneurship Jurusan Kehutanan, Laboratorium Agribisnis mengajak mahasiswanya untuk praktik berwirausaha dan memanajemen event bazar. Bazar tersebut dikelola sendiri oleh mahasiswa praktikum, mulai dari konsep hingga evaluasi. “Sebelumnya mahasiswa sudah dibekali kemampuan direct selling di setiap minggunya. Dan diakhir mahasiswa diarahkan untuk mempelajari kebutuhan target market hingga dapat memanajemen event sesuai dengan kebutuhan target,” ungkap Dr. Ir. Rahayu Relawati, MM., Kepala Laboratorium Agribisnis Fakultas Pertanian Peternakan (FPP). Dengan mengangkat tema “Pesta Kebun”, segala produk hasil olahan pertanian dan perkebunan, mulai dari makanan, minuman, aksesoris hingga kosmetik ikut meramaikan bazar. Terhitung tujuh puluh stand dengan rincian 49 stand Prodi Agribisnis dan 21 stand Prodi Kehutanan memasarkan produk unggulannya. “Kegiatan ini sebagai ajang bagi kita untuk berwirausaha yang baik, melatih mental, berlatih komunikasi, serta mengelola even. Tidak hanya mengkonsep sebuah usaha, tapi kita bisa turun langsung untuk mempraktikan ilmu yang kita dapat,” ujar M. Arifiyan Suseno, mahasiswa Prodi Agribisnis selaku Ketua Pelaksana bazar tersebut. Lebih lanjut, Ary Bakhtiar, SP. Msi, Dosen Kewirausahaan dan Etika Bisnis mengatakan melalui even ini, FPP hendak membekali dan membentuk karakter wirausaha muda. “Di akhir even nanti, kita akan mengadakan evalusi. Kita akan mencari mahasiswa yang berpotensi dan akan kita support pinjaman modal,” ungkap Ary. (zak/can)
Ratusan Penari Flashmob di Taman Rekreasi Sengkaling

Dalam rangka memperingati Hari Tari Internasional yang jatuh tepat hari ini (29/4), Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar penampilan tari kolosal (flashmob) yang melibatkan lima ratus orang pada hari Minggu (28/4). Mereka membawakan enam tarian ciptaan PGSD UMM. Penari yang berasal dari berbagai latar belakang ini disebar ke lima titik berbeda di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Diantaranya adalah pintu masuk Taman Rekreasi Sengkaling, kolam Kapal Misteri, kolam Bajak Laut, kolam Pesona Primitif hingga rooftop hotel kapal. Kesemuanya tampil dengan balutan kostum tari. Selain flashmob, tidak kalah menarik juga sajian tari kolaborasi antara mahasiswa Prodi PGSD dengan seniman Kajoetangan serta Sanggar Topeng Malangan. Tidak hanya itu UKM Sansekarta dan Lembaga Kebudayaan UMM juga turut serta dalam memeriahkan even yang kali pertama diadakan ini. Wahyu Intan Purnamasari, salah satu penari yang turut meriahakn Hari Tari Internasioanal ini mengaku sangat senang dengan diadakan acara ini. Menurutnya acara ini dapat melestarikan salah satu budaya Indonesia. Selain mahasiswa semester enam ini juga menyebutkan jika untuk dapat menampilkan suatu pertunjukan tari membutuhkan waktu yang cukup lama. “Persiapan yang kami lakukan kurang lebih tiga minggu, mulai dari menyusun cerita, kostum, sampai membuat kreasi tari yang akan dipertunjukkan,” ungkap peraih gelar penari terbaik tersebut. Selain itu, menurut salah satu pengunjung yakni Lutfia Asmari mengaku senang dengan diadakannya lomba maupun acara yang berhubungan dengan tari. Selain berkompetisi, dapat pula sebagai sumber untuk menambah pengetahuan menganai beberapa jenis tari dari berbagai daerah. (zak/can)
Ini yang Harus Dilakukan untuk Tetap Eksis di Era Distrupsi

Kepala Badan Litbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Ir. Totok Suprayitno, Ph. D. pada orasi ilmiahnya di perhelatan wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke-92 periode II menyebut, para wisudawan yang lulus hari ini tidak boleh berhenti belajar pasca diwisuda. Akan tetapi harus kembali belajar. Terlebih dalam menghadapi fenomena ketidakpastian di era disrupsi ini. “Saat ini dunia sedang berubah, beberapa sektor pekerjaan mulai ditinggalkan. Oleh karena itu lulusan perguran tinggi dituntut untuk belajar mencari peluang di lingkungan sekitarnya,” sebutnya, Sabtu (27/4). Perhelatan ini juga dihadiri Ketua Badan Pembina Harian UMM, Prof. H. A. Malik Fadjar, M.Sc., serta perwakilan Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag. Lebih jauh Totok menyebut, di era disrupsi banyak pekerjaan tradisional yang bersifat manual, berulang dan rutin mulai ditinggalkan. Padahal, sambungnya, banyak universitas yang mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pekerja rutin. Sehingga saat ini universitas harus mampu memberikan bekal pada lulusannya, berupa kemampuan beradaptasi, memecahkan solusi, komunikasi, serta kolaborasi. “Saya yakin lulusan Universitas Muhammadiyah Malang sudah mempunyai kapasitas, keterampilan dan karakter sebagai pembelajar. Jika hari ini anda lulus, dan besok Anda berhenti belajar, lusa Anda akan menjadi manusia yang tak terpelajar. Jadi, mulailah untuk belajar,” tuturnya dihadapan 1270 wisudawan dari program Pendidikan Doktor (S3), Magister (S2), Sarjana (S1), Diploma Tiha (D3), dan Profesi. Sementara, Malik Fajar yang juga Anggota Dewan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia dalam sambutannya turut bangga terhadap kemajuan UMM. UMM terus berikhtiar dan berusaha menghasilkan generasi baru yang tangguh, cerdas, dan mampu berperan di lingkungan kehidupan sosial kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan. Yakni melalui pengabdian dan inovasi yang dilahirkannya. Sementara itu, Rektor UMM, Fauzan mengatakan UMM terus berpegang teguh pada semboyan UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”. Sebagai upaya mewujudkan komitmen itu, menurut Fauzan, lulusan UMM harus mengambil peran strategis dan menebarkan manfaat untuk kepentingan masyarakat. “Jadilah manusia yang luar biasa. Itulah cara untuk mengantarkan hidup kita menjadi bermanfaat,” tegasnya. (bel/can)
Doa Orang Tua Bikin Syamsurijal Lulus dengan IPK Sempurna

Doa adalah senjata. Terlebih doa yang dipanjatkan orangtua kepada anaknya, pastilah mendobrak ke pintu langit dengan sempurna. Hal ini barangkali yang membuat Syamsurijal, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang pada gelaran wisuda ke-92 periode II UMM dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4.0. “Semua karena doa orang tua, bukan semata-mata usaha saya,” ungkapnya. Mahasiswa yang pernah meraih penghargaan Teacher of The Year 2018 dari Menteri Pendidikan Bidang Private School Thailand ini, gemar membaca setelah menunaikan salat subuh. Ia mengaku senang membaca segala hal terkait dengan pengetahuan umum. “Wawasan luas itu penting, apalagi bagi calon pendidik,” jelasnya. Mahasiswa kelahiran Desa Raioi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku tak pernah menargetkan dirinya untuk selalu meraih nilai sempurna. Ia hanya menempuh semua mata kuliah dengan usaha yang maksimal. “Tiap kali akan melakukan apapun saya selalu kabari orang tua,” tuturnya. Setelah itu, Anak dari pasangan M. Saleh dan Aisah, orang tua akan salat tahajud dan berdoa bagi kebaikan anaknya. Saat ditemui sebelum duduk di barisan wisudawan terbaik tingkat universitas, Syamsurijal juga ditanya tentang perasaannya meraih IPK sempurna. Ia mengaku terkejut dan tak percaya pada awalnya. “Saat nama saya dipanggil, saya tidak percaya bisa mendapatkan IPK 4,” tuturnya. Bersyukur, bagi Syamsurijal adalah kunci untuk melakukan dan memperoleh raihan lebih baik lagi di masa mendatang. Kegemaran di dunia penalaran membuatnya aktif di organisasi setingkat fakultas, LSO Cendikia FKIP. Agar seluruh informasi yang ia dapat dari membaca melekat kuat, ia juga menyebarluaskan pemahamannya melalui diskusi. Baginya, diskusi bukan hanya melatih kemampuan berpendapat, namun juga dapat menjadi media bagi kawan-kawannya memperoleh informasi baru yang ia tahu lebih dulu. Menurut Syamsurijal, keseimbangan hubungan dengan Allah dan sesama manusia sangatlah penting. Tiap usaha yang bersifat duniawi bagi Syamsurijal haruslah selalu melibatkan Allah agar segalanya lancar dan berkah. Kedepan, Syamsurijal berkeinginan kuat untuk melanjutkan studi Pascasarjananya di Jepang. “Jepang adalah negara impian saya, mudah-mudahan tercapai,” tandasnya. (mir/can)
UMM Diminta Ajarkan Bahasa Indonesia di Vietnam

Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Universitas Terbuka Kota Ho Chi Minh, Vietnam menggelar Seminar Internasional. Seminar yang mengusung tema “Memperkokoh Eksistensi Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Budaya dan Jati Diri Bangsa melalui Pendidikan” diadakan di Aula GKB 4, Kamis (25/4). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada peraturan Pemerintah tentang peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional. “Peran Indonesia dalam hubungan antarbangsa dan telah dikenal oleh bangsa lain, menjadikan Bahasa Indonesia sebagai identitas negara yang mampu bertahan hingga saat ini,” kata Dr. Ekarini Saraswati, M.Pd., koordinator pelaksana. “Yang kita lihat sekarang, Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) UMM memiliki banyak kerjasama dengan berbagai pihak di luar negeri. Sehingga kita perlu adanya seminar untuk memperkokoh kedudukan Bahasa Indonesia di negara lain,” ungkap Ekarini. Antusias negara lain dalam mengikuti perkembangan Bahasa Indonesia berkembang pesat. Bahasa Indonesia dipelajari lebih dari 45 negara. Di Vietnam misalnya, sambung Ekarini, beberapa kali staf pengajar PBSI UMM diundang untuk memberi mata kuliah di sana. Universitas Terbuka Kota Ho Vhi Minh sendiri memang secara khusus tengah mendalami dan mempelajari mengenai Bahasa Indonesia secara khusus. Terlebih, universitas tersebut memiliki kurikulum Bahasa Indonesia sendiri,” ungkapnya saat memberikan sambutan. “Kerjasama mengadakan seminar ini adalah sebuah kesempatan kami untuk berbicara dan mempelajari mengenai bahasa, budaya dan literatur Bahasa Indonesia di UMM. Saya berharap UMM dapat menerima undangan kami, untuk datang ke Vietnam mengajar Bahasa Indonesia,” tutur Dr. Ly Quyet Tien, perwakilan Universitas Terbuka Kota Ho Chi Minh, Vietnam dalam sambutannya. Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si, salah satu pembicara mengungkapkan, Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa membutuhkan instrumen pendukung seperti apresiasi kebijakan pemerintah terhadap literatur, peran sekolah orang tua dalam memperkenalkannya. “Keberadaan Bahasa Indonesia perlu dipertahankan, dibina dan dikembangkan agar jati diri bangsa tidak tergerus di Era Global,” tegasnya. Seminar ini juga turut menghadirkan pembicara lain, yaitu Dr. Ribut Wahyu, M.Pd (Kaprodi Magister PBSI). Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. (Kepala Lembaga Kebudayaan UMM), Momen Magdy Abdelhak (Mesir), Abdullah Abdul Raoof Taha Al-Matri (Yaman), Ly Quyet Tien (Vietnam), Dr. Arif Budi Wurianto, M.Si (Kepala UPT BIPA UMM), Suhainee Saah (Thailand), serta Kevin Barr (Amerika). (*)
Robot DOME UMM Jadi yang Tercepat di KRI Regional IV

Robot pemadam api “DOME” Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi yang tercepat di Kompetisi Robot Indonesia (KRI) Regional IV pada 21-23 April 2019 di Universitas Mataram. Tim yang digawangi Bayu Irawan Nugroho dan Dwi Nur Fajar berhasil mengalahkan pesaing terberatnya; Universitas Brawijaya (UB) di urutan dua, dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) di urutan ketiga. Didapuknya Tim Robotik UMM sebagai juara pertama kontes robot bergengsi antar perguruan tinggi di Indonesia ini, setelah Robot DOME UMM mencatatkan akumulasi nilai waktu tercepatnya, yakni 1,16 di sesi pertama; 1,24 di sesi kedua; serta 1,11 di sesi ketiga, dengan nilai akhir 3,51. Sementara, Robot Bhatara Wijaya UB mencatatkan nilai akhirnya di 4,69 dan Robot Abnara-1 ITS mencatat nilai akhir di 6,57. Robot pemadan api “DOME” UMM sebagai tim terbaik pada kontes robot tingkat Regional IV ini akan diundang untuk ikut serta dalam kontes robot tingkat Nasional. Jika kembali mendapat raihan baik, yakni keluar sebagai juara pertama KRI kategori pemadam api Nasional, UMM akan kembali mewakili Indonesia pada Trinity College International Robot Contest 2020 di Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Robot “DOME” UMM juga sekaligus mendapat capaian tim dengan Strategi Terbaik. Diakui ketua tim, Bayu Irawan, bahwa kelebihan timnya yakni pada pemetaan (mapping) lintasan dari titik start menuju titik Api. “Strategi mapping kami nggak bertele-tele. Dari start langsung ke titik api dan kembali lagi ke start. Sementara tim lain harus mengecek ke ruangan kosong dulu,” katanya saat dihubungi Kamis (25/4). Sebelumnya, Tim Robotik UMM baru saja mendapatkan raihan gemilang dalam gelaran Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di Trinity College Hartford Connecticut, Amerika Serikat, 13-15 April 2019 lalu. Ketiga tim kebanggaan UMM dan Indonesia ini meraih juara pertama dan kedua untuk kategori robot pemadam api berkaki, dan juara dua untuk kategori robot pemadam api beroda. Kontes robot tingkat dunia ini mempertandingkan 32 tim dari berbagai negara, seperti Israel, Tiongkok, dan lainnya. Adalah Alfan Achmadillah Fauzi, Rohmansyah, Ken Dedes Maria Khunty, tiga Tim Robotik UMM ini ditunjuk menjadi perwakilan Indonesia karena berhasil keluar sebagai juara nasional berdasarkan surat penugasan Ditjen Belmawa Kemenristekdikti Republik Indonesia no. T/274/B3.1/KM/02.04/2019. Raihan di Amerika ini sekaligus mengulang sejarah prestasi yang sama di tahun 2017. Dua tim Robotik UMM memborong juara 1 dan 2 sekaligus untuk kategori robot berkaki. Dua tim tersebut yaitu tim InaMuh sebagai juara 1 dan tim Unmuh Malang sebagai juara 2. Tim InaMuh juga meraih juara poster terbaik. Atas pengalaman inilah, Tim Robot “DOME” UMM sangat percaya diri untuk meneruskan tradisi juaranya. (*/can)
Mahasiswa Mesin UMM Beri Servis Motor Gratis

Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Lembaga Semi Otonom (LSO) otomotif menggelar perawatan dan servis motor gratis di parkiran bertingkat kampus III UMM, 24-25 April. Acara yang rutin digelar setiap tahun ini merupakan rangkaian agenda Diesnatalis prodi Teknik Mesin UMM yang ke-35. Sebelumnya juga digelar seminar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan Mechanical Modification Oto Contest 2019. Ketua Pelaksana, Mochammad Ilham Nur mengatakan, dengan mengambil tagline “Teknik Mesin UMM untuk Masyarakat”, diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat agar dirasakan langsung oleh masyarakat. “Kita melayani servis ringan seperti ganti oli, pemeriksaan busi, pengecekan ban dan masih banyak lagi. Kita juga menyediakan 35 oli gratis bagi pelanggan awal dan potongan 20 persen bagi pelanggan selanjutnya,” ungkap Ilham. Lebih lanjut, servis gratis ini mengerahkan 22 montir, yakni sepuluh montir dari mahasiswa teknik mesin tahun 2017-2018 dan dua belas dari mahasiswa LSO otomotif UMM. Ilham menargetkan seratus pelanggan dalam dua hari. Servis ini dikhususkan bagi motor dengan minimal tahun 2000 saja. Syaratnya cukup dengan menunjukkan STNK dan membawa kartu identitas berupa KTP bagi masyarakat umum, dan KTM untuk mahasiswa aktif semua jurusan. Servis gratis ini juga sebagai wadah pengembangan potensi diri bagi mahasiswa Teknik Mesin. “Kami melihat banyak potensi yang dimiliki mahasiswa di bidang otomotif. Sehingga kita mewadahi sepuluh orang sebagai mekanik,” ujarnya. “Agenda merupakan satu program kerja dari divisi sosial masyarakat sebagai bentuk penerapan Tri Dharma perguruan tinggi. Kami mengaplikasikannya dengan membantu masyarakat lewat meringankan masalah otomotif,” tuturnya. Para mekanik yang terlibat tidak hanya menyalurkan bakat dan hobinya saja, para mekanik ini juga sebelumnya diberi bekal ilmu dari pelatihan dan kuliah yang berkaitan dengan Mekanika Gluida, Elemen Mesin dan materi lainnya. (bel/can)
FPP Fest Manjakan Lidah Pencinta Kuliner Kampus Putih

Lima puluhan stand berjejer menjajakan berbagai kudapan hingga minuman kekinian untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner di Kampus Putih. Bazar makanan yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Peternakan ini ada di perhelatan FPP Fest 2019. Even digelar selama tiga hari (23-25/4). Tahun ini jumlah penjual makanan lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya 30 stand. “Tahun ini, alhamdulillah, ada lima puluh stand yang sudah terisi. Tidak hanya dari stand mahasiswa, melainkan juga ada stand dari masyarakat umum,” ujar Dyah Ayu Tasyakurani selaku ketua pelaksana acara saat ditemui, Rabu (24/4). Dilanjutkan mahasiswi program studi Agribisnis ini, salah satu konsep yang ingin dihadirkan di even tahunan ini yakni bazar. Hal ini bisa dilihat dari begitu banyaknya makanan yang meramaikan bazar di Helyped UMM. Seperti Bakso Mercon, Kings Alpucok, Rujak Njerit, hingga Martabak Jepang Jhony, serta banyak lagi. Di hari kedua, even dimeriahkan 56 peserta lomba mewarnai anak-anak. Mereka berasal dari sepuluh TK yang ada di Kota Malang. Sedangkan pada hari ketiga, yakni malam penutupan, akan diramaikan dengan berbagai penampilan. Dimulai dari band FPP hingga Musikalisasi Puisi dari Komunitas Sanggar Aksara (Sangkar). “Saya harap bazar makanan di FPP Fest 2019 kali ini bisa menjadi jujukkan kuliner alternatif buat teman-teman. Untuk kedepannya, semoga FPP Fest menjadi lebih baik, lebih ramai, dan apa yang diinginkan oleh teman-teman itu benar-benar tersampaikan lewat acara ini,” ungkap Rachmaniar Anissa Putri selaku koordinator Acara. Sebelumnya, sekitar dua ribuan mahasiswa FPP mengkuti Seminar Nasional bersama guru besar dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Rokhmin Dahuri, Selasa (23/4) kemarin. Seminar Nasional tersebut dilaksanakan di Hall Dome UMM dengan tema “Peran Pemuda Dalam Menghadapi Ketahanan Pangan di Era Revolusi Industri 4.0”. Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin menyampaikan pidato “Pembangunan Kelautan dan Perikanan Berbasis Teknologi 4.0 untuk Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Rakyat”. Ia mengajak mahasiswa untuk aktif berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya kelautan. Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, potensi sektor ekonomi maritim masih belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendongkrak ekonomi. “Kalian harus terjun langsung pada ekonomi riil, salah satunya mengoptimalkan potensi ekonomi maritim untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan masyarakat dunia,” katanya. (riz/can)
Ketua PII: Indonesia Kekurangan Banyak Insinyur

Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Dr. Ir. H. Heru Dewanto. MSc. (Eng). IPU., Selasa (23/4), meluluskan setidaknya 12 insinyur dari Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam kesempatan itu juga, Heru menyampaikan bahwa Indonesia masih membutuhkan banyak insinyur untuk membantu pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah di Indonesia. Dari empat puluh perguruan tinggi (PT) yang mendapat mandat dari PII untuk menyelenggarakan program profesi insinyur, belum mampu memenuhi jumlah yang dibutuhkan. “Lulusan sarjana teknik sekitar enam puluh ribu per tahun. Jika diasumsikan, setiap PT dapat menghasilkan seratus insinyur. Itu artinya dari empat puluhan PT, hanya bisa menghasilkan empat ribu insinyur,” ungkapnya. Setidaknya ada dua faktor yang menghambat minimnya lulusan insinyur di Indonesia. Pertama, minat masyarakat untuk menempuh Program Profesi Insinyur. Kedua, kapasitas daya tampung dari PT yang sangat terbatas. “Masalah inilah yang sedikit banyak menghambat pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini,” tutur Heru alumnus University of Leeds, Inggris di hadapan peserta yudisium. Oleh karena itu, pria yang menyandang gelar doktor dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mendorong beberapa perguruan tinggi di Indonesia terutama di luar dari 40 perguruan tinggi yang sudah menerima mandat PII, untuk membantu mencetak lulusan insinyur yang berpotensi. Terlebih, ikut serta membantu memenuhi kebutuhan Indonesia untuk penyediaan jumlah lulusan insinyur yang dibutuhkan. Sementara, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. Wakil Rektor 1 UMM mengajak para calon wisudawan menghimbau para calon wisudawan untuk melanjutkan pendidikan di jenjang berikutnya. “Pendidikan di Indonesia harus terus berkembang,“ pesannya. Selain meluluskan program insinyur, acara Yudisium ini juga meluluskan 147 mahasiswa fakultas teknik dari program Sarjana hingga Diploma 3. (zak/can)
Di UMM, Kedubes Prancis Tawarkan Banyak Peluang Beasiswa

Lembaga penyedia informasi beasiswa, Campus France dan Institut Français D’indonésie, hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (23/4). Kehadiran dua lembaga di bawah naungan kedutaan besar (Kedubes) Republik Prancis ini dalam rangka mensosialisaikan beasiswa studi negara di Eropa Barat ini. Ines Schmitt, koordinator nasional Campus France untuk Indonesia menyampaikan bahwa Republik Prancis saat ini memiliki 325 ribu mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia. “Pada 2027, Prancis memproyeksikan akan ada 500 ribu mahasiswa internasional yang menempuh pendidikan tinggi,” papar Ines. Sistem pendidikan di Prancis relatif sama dengan negara lainnya, yakni PhD ditempuh tiga tahun, Master 2 tahun, Sarjana 3 tahun dan BTS/DUT atau lebih dikenal dengan bac+2 selama dua tahun. Ines menyatakan, Prancis menjadi negara terbesar keempat yang menerima mahasiswa asing di dunia. “Ini peluang besar,” katanya. Banyak beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Prancis maupun institusi beasiswa lain. Seperti MOPGA, Eiffel Scholarship maupun Erasmus Mundus. “Beasiswa pemerintah juga diberikan kepada mahasiswa yang berminat sekolah di Prancis,” jelasnya. Prancis memiliki 3500 institut, 73 Universitas dan 220 Sekolah Bisnis. Wakil Rektor I UMM, Dr. Syamsul Arifin, M.Si menerangkan bahwa saat ini UMM sedang melakukan penataan dan percepatan kualitas sumber daya manusia. Orientasi tenaga pendidik kedepan, menurut Syamsul, haruslah guru besar. Studi di Prancis, lanjutnya, merupakan kesempatan yang baik untuk jenjang karir yang gemilang. Selain itu, dipesankan Syamsul, selagi masih muda perlu punya amunisi semangat yang banyak untuk memiliki kompetensi yang tinggi. Juga, tentunya ada konsekuensi berat jika memilih melanjutkan studi di luar negeri. “Meninggalkan keluarga dan rindu,” tutupnya yang kemudian disambut tawa oleh para peserta sosialisasi. (mir/can)