Jumlah Pendaftar Melonjak, Peserta Tes Gelombang III UMM Capai 3.000 Camaba

Tes Gelombang III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berlangsung Senin (20/8).Total pendaftar pada tes Gelombang III ini mencapai 3.079 calon mahasiswa baru (camaba). Berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 10.30 tes tulis dilanjutkan dengan tes wawancara yang berakhir pukul 12.30 WIB. “Untuk pengumuman tes ini nanti tanggal 24 Agustus,” ujar Kepala UPT Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), Dr. Saiman, M.Si. Sementara itu, Wakil Rektor 1 UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin mengatakan bahwa pada setiap penerimaan mahasiswa baru, UMM menetapkan kuota berbeda-beda. Untuk Gelombang I terdapat kuota sebanyak 30 persen, Gelombang II sebanyak 40-50 persen dan Gelombang III sebanyak 15-20 persen. Seperti sebelumnya, Gelombang II menjadi puncak pendaftar terbanyak. “Jumlah total pendaftar meningkat hingga 35 persen dari tahun lalu. Hal ini karena UMM telah berupaya menerapkan standar Kemenristekdikti guna menjadi perguruan tinggi terbaik. Misalnya, dari segi SDM kita terus pacu, kompetensi dan kualifikasi. Kami juga terus menerus menyekolahkan dosen ke jenjang doktoral. Kemudian kami juga fasilitasi penelitian. Ke depan UMM akan selalu mencari solusi terhadap permasalahan di era disrupsi agar semakin banyak yang mendaftar ke UMM,” terangnya. Sementara itu, salah seorang camaba asal Kediri, Mita Yuliana mengharapkan Tes Gelombang III yang diikutinya ini dapat membuahkan hasil yang baik. “Saya ambil jurusan Ilmu Hukum. Meskipun sedikit takut nggak lolos dan mengecewakan orang tua, saya tetap optimis dan yakin kalau saya diterima,” ungkapnya. Tes Gelombang III dibuka untuk semua program studi (prodi) dari Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Fakultas Hukum, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Agama Islam serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis kecuali Fakultas Kedokteran. Total peserta yang akan diterima secara keseluruhan Gelombang I, II dan III sebanyak 6.000-7.000 mahasiswa. (apn/sil)
Penutupan HUT RI ke-73 Keluarga Besar UMM, Semarak dalam Suasana Kekeluargaan
Tak kalah meriah, penutupan agenda Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 73 begitu dinanti-nantikan seluruh staf, karyawan, dosen, dan partime UMM. Meskipun acara berlangsung malam hari yang dingin, penonton tetap antusias hingga akhir acara. Rektor UMM memberikan apresiasi terhadap semua yang hadir dalam acara. Semakin meriah dengan penampilan tari Nyawijing Tekad yang berarti menyatukan tekad. Tari ini menceritakan tekad menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsep acara bernuansa family ghatering menambah keakraban dalam suasan kekeluargaan cpara dosen dan karyawan. “Penghargaan di acara penutupan sengaja kami konsep family ghatering, sehingga nuansa guyub tercipta antar karyawan UMM,” ungkap Kepala Sekretariat Rektorat, Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed. Momen kebersamaan malam Minggu, (18/8) di hellyped UMM bertambah syahdu dengan lantunan musik persembahan band-band internal kampus yang anggotanya dosen dan mahasiswa sembari menantikan acara pengumuman pemenang lomba. Berikut pemenang juara pertama dari masing-masing perlombaan. Juara 1 Kupas Bawang dan Apel dimenangkan oleh Musafak dari Unit Bisnis UMM Lembaga Sertifikasi Profesi. Juara 1 Gobak Sodor dimenangkan oleh Keamanan II. Juara 1 Bentengan dimenangkan oleh UMM Inn. Juara 1 Congklak dimenangkan oleh saudari Ai dari unit Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Juara 1 Egrang dimenangkan oleh saudari Puji dari unit Taman Wisata Sengkaling. Juara 1 Egrang beregu dimenangkan oleh unit Taman Wisata Sengkaling. Juara 1mirip pahlawan dimenangkan oleh Unit Bengkel Rinjani. Juara 1 Volly dimenangkan oleh Unit Taman rekreasi sengkaling. Juara 1 Senam Gemu Fa Mi Re dimenangkan oleh Unit Taman Rekreasi Sengkaling. Juara 1 Benthik dimenangkan oleh Unit Keamanan. Juara 1 Supporter terheboh dimenangkan oleh Uni Taman Rekreasi Sengkaling. Juara 1 Sementara itu, untuk Wefie dimenangkan oleh Lab. Bank Syariah. Juara 1 Film Pendek dimenangkan oleh Laboratorium Fakultas Hukum dan Juara 1 Selfie dimenangkan oleh Fitroh Nila dari Laboratorium Biologi. Di akhir penutupan, sorak sorai peserta menyambut kemenangan juara umum dari semua perlombaan. Juara umum tersebut diraih oleh juara bertahan, Taman Rekreasi Sengkaling.(apn/sil)
Tambah Bekal Lulusan Keperawatan, UMM Datangkan Pengajar Ahli Asli Jepang

Kerjasama antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Mate-care co. Ltd terus berlanjut. Kali ini terimplementasi dengan diselenggarakannya program belajar bahasa Jepang sekaligus praktik dalam merawat pasien lanjut usia (lansia). Jika sebelumnya program persiapan kemampuan berbahasa dan kompetensi pendukung ditujukan untuk para lulusan keperawatan, mulai tahun ajaran baru ini mahasiswa semester 1 keperawatan UMM akan langsung mendapatkan bekal tersebut. “Periode ini mahasiswa keperawatan yang berada di semester 1 akan dibekali bahasa Jepang, sehingga begitu lulus langsung bisa dikirim ke Jepang. Program ini berlangsung selama 8 bulan. Untuk para lulusan, dilaksanakan sebelum mereka diberangkatkan ke Jepang,” jelas Koordinator Asisten Khusus Rektor UMM, Tulus Winarsunu Sabtu, (18/8) di Kampus 1 UMM. Istimewanya, salah satu pengajar dalam program ini langsung didatangkan dari negeri sakura, ia adalah Yamamoto dari Kobe International University. Pengalaman pria ini dalam dunia keperawatan tak bisa dipandang sebelah mata. Lebih dari 10 tahun, Yamamoto berkecimpung di sebuah rumah sakit lansia ternama di Jepang. “Saya pernah terkena penyakit kanker kemudian dioperasi dan dirawat di rumah sakit lansia. Saya kemudian bekerja di sana dan dari situlah saya tahu banyak permasalahan yang dihadapi para lansia,” ungkap Yamamoto. Tidak hanya Yamamoto, Dr. S. Sugiura dari Reitaku University juga tertarik dengan UMM. Sugiura berencana mengikuti jejak Yamamoto untuk melakukan kerjasama dikemudin hari. “Perihal konkrit kerjasama nantinya belum bisa saya jawab sekarang, tapi saya pastikan akan membawa pesan dari rektor UMM untuk disampaikan kepada rektor saya di Jepang untuk didiskusikan kepada petinggi-petinggi,” terangnya. Kerjasama UMM dan Mate Care bertujuan salah satunya untuk mempersingkat waktu tunggu kerja bagi mahasiswa. Ini sejalan dengan semangat program UMM Pasti, yakni Pasti Lulus empat tahun, Pasti Bekerja dan Pasti Mandiri. Melalui bekal kompetensi yang diberikan, UMM memastikan lulusannya siap terjun ke dunia kerja dan terus berkarya. (apn/sil)
Kunjungi LK UMM, Anak Muda Taiwan Share Cara Keren Lestarikan Bahasa Daerah
Menggunakan bahasa daerah atau yang sering juga disebut dengan bahasa ibu, menjadi sesuatu yang jarang lagi dilakukan oleh para remaja. Anak muda zaman now cenderung gengsi memakai bahasa ini. Mereka akan lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang sama terjadi juga di Taiwan. Fenomena ini kemudian menarik Meinong People Assosiation Taiwan yakni sebuah gerakan kampanye masyarakat tentang kebudayaan Meinong, sebuah kota di Taiwan untuk membuat anak muda kembali mencintai bahasa daerahnya, Bahasa Hakka. Sabrina, salah satu anggota MPA yang juga menjadi pengurus kantor TransAsia Sister Assosiation Taiwan (TASAT) menyampaikan, ditengah era modern saat ini menjadi tugas bersama untuk membuat para generasi penerus bangsa mencintai budanyanya. “Budaya, termasuk bahasa ibu musti dilestarikan. Misalnya saja Bahasa Jawa, karena anak-anak zaman sekarang cenderung gengsi dan malu menggunakan bahasa daerah. Jika tidak dipakai ini akan hilang,” jelas mantan WNI yang kini telah menikah dengan warga negara Taiwan dan tinggal di Meinong selama 20 tahun tersebut. Pada Kajian Multidisipliner Komparasi Budaya Masyarakat Taiwan dan Indonesia di Aula BAA, Sabtu (18/8) ini selain Sabrina, dalam rombongan yang berjumlah 20 orang tersebut juga terdapat anak-anak muda yang telah berhasil berkreasi melestarikan kebudayaan asli suku Hakka, yakni Willy, Jason, Nick dan Ryan. Keempatnya mengaku jatuh cinta setelah coba mengenal budaya Hakka lebih dalam. “Kami mempelajari Pa in Hakka. Ini adalalah alat musik yang mulai ditinggalkan,” ujar Willy remaja berusia 15 tahun yang sudah sejak beberapa tahun terakhir menekuni rangkaian alat musik bersuara merdu yang terdiri dari 8 alat ini. Sebelumnya, Pa in Hakka hanya dimainkan pada acara-acara adat. Namun, seiring perkembangan dan munculnya minat pada anak-anak muda, kini beberapa komunitas tengah coba melestarikan musik satu ini dengan cara yang berbeda. “Kami menggunakannya dalam drama-drama anak muda yang dipentaskan. Meski awalnya hanya karena terpaksa mempelajari musik ini karena malas les, sekarang Pa in Hakka justru menjadi kebanggaan terbesar kami,” ujar Jason sambil memperlihatkan geliat aktivitas budayanya yang diliput oleh beberapa media. Satu semangat dengan Willy dan Jason, Nick dan Ryan juga memiliki tekad yang kuat untuk mengajak anak-anak muda mencintai bahasa Hakka. Terinspirasi dari salah seorang musisi, keduanya kemudian mengikuti bimbingan musik khusus dan serius memperdalam kemampuan bermusik dengan memasukkan lirik bahasa Hakka. Target utamanya untuk mengajak anak-anak muda di Meinong kembali mencintai bahasa sukunya. “Kebanyakan anak muda sekarang lebih suka bahasa Mandarin, ini membuat kami prihatin. Kami kemudian memperdalam musik, membuat lagu hingga album pop dengan lirik berbahasa Hakka. Kami mulai dari musik bertema anak-anak hingga remaja,” jelas Ryan. Karya album mereka yang pertama berjudul X+Y, menceritakan tentang kegalauan anak-anak yang membenci matematika dan album kedua berjudul Masa Remaja menceritakan tentang dilemma remaja mulai dari persoalan cinta hingga konflik dengan orang tua. “Kami tidak main-main, lagu-lagu kami merupakan lagu pilihan yang dipilih musisi nasional dan kami menggelar konser dengan berkolaborasi bersama mereka,”tandas Nick. Apa yang dilakukan keempat remaja tersebut ternyata tidak sia-sia. Meski awalanya sempat menjadi cibiran teman-teman lantaran menggunakan “bahasa orang tua”, mereka justru kemudian menjadi sosok yang menginpirasi teman-teman remaja disekitarnya. “Mereka banyak yang kemudian tertantang dan turut kemudian ikut bergabung dan belajar bersama,”pungkasnya. Kepala Lembaga Kebudayaan UMM Dr Daroe Iswatiningsih MSi menyampaikan, kunjungan MPA kali merupakan tindak lanjut kerjasama UMM dengan berbagai lembaga di Tiongkok. Setelah memperkenalkan budaya mereka, ke 20 orang dalam rombongan tersebut akan belajar membatik dan mengenal alat musik gamelan. “Ke depannya kita rencanakan pertukaran budaya dalam lingkup yang lebih luas,”pungkasnya.
HUT RI ke 73 UMM Bangun Semangat Ibadah dan Kebersamaan

Semarak kemerdekaan dimaknai Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan menjunjung nilai-nilai kegotongroyongan diantara seluruh karyawan, dosen, dan staf-staf. Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI berlangsung khidmat dengan amanat dari insnpektur upacara yang menggugah peserta dengan seruan religiusitas untuk melaksanakan ibadah wajib tepat waktu dan berjamaah. “Bagaimana sholat wajib kita? Sudahkah kita sholat berjamaah rutin di masjid? Back to Masjid, khususnya laki-laki wajib sholat berjamaah di masjid,” ujar Sekertaris Badan Pengurus Harian (BPH) UMM, Drs. Wakidi (17/8). Tidak hanya soal ibadah, Wakidi juga menyampaikan bahwa penting adanaya bagi seluruh civitas akademika, terutama dosen dan karyawan untuk memberikan pengabdian terbaik, khususnya dalam meningkatkan pelayanan bagi mahasiswa. “Kita sebagai ujung tombak kegiatan dakwah, apabila sikap, perilaku dan ahlak kita baik dalam menjalankan tugas, maka Muhammadiyah dan Islam juga akan menjadi baik,” tambahnya. Perayaan kemerdekaan di UMM telah dilaksanakan mulai pekan lalu. Berbagai perlombaan yang menunjukkan semangat kerja bakti dan kegotongroyongan sengaja diselenggarakan untuk membangun keguyuban civitas akademika kampus. “Filosofi kerja bakti, memang sangat dalam sehingga Pak Rektor juga menginginkan dibangunnya perlombaan yang guyub,” papar Kepala Sekretariat Rektorat, Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed yang kali ini juga bertindak sebagai ketua pelaksana rangkaian acara Peringatan HUT RI ke 73. Pada kesempatan kali ini, UMM juga menegakkan semangat Green and Clean sesuai dengan tagline yang dicanangkan. Papa pimpinan kampus pun ikut berpartisipasi dengan membersihkan lingkungan kampus. Kegiatan ini mnejadi simbol, bahwa kebersihan bukan hanya tanggung jawab pekerja kebersihan tetapi merupakan tanggung jawab bersama. “Acara itu juga berhubungan dengan salah satu lomba yakni lomba penataan ruangan atau kantor di unit-unit kerja. Setiap unit kerja di UMM mengikuti perlombaan bersih-bersih kantor sekaligus menghias kantor. Tujuannya untuk melihat semangat setiap unit membersihkan kantor mereka,” tambah Rina. Di akhir, Rina menyampaikan bahwa tagline Muhammadiyah untuk Bangsa adalah tagline yang sangat pas untuk mendeskripsikan bagaimana kampus UMM melakukan sesuatu yang bermanfaat meskipun dalam hal-hal kecil. “Saya rasa tagline Muhammadiyah sudah cukup menunjukkan kesungguhan seluruh civitas akademika melakukan hal bermanfaat maka meskipun hal kecil tetapi semua itu untuk kemajuan bangsa,” terang Rina (apn/sil)
Mahasiswa UMM Bawa Misi Sebarkan Bahasa dan Budaya Indonesia ke Thailand

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Begitulah kalimat motivasi yang sering kita dengar. Hal tersebut kemudian diterjemahkan oleh para pelajar masa kini dengan menuntut ilmu ke negara lain. Seperti yang dilakukan oleh tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Robby Cahyadi, Muslichatin Rismawati, dan Novi Karnowati. Ketiga mahasiswa ini bersama dengan 52 mahasiswa lain yang juga berhasil lolos seleksi. Ketiga mahasiswa semester enam ini segera bergabung dalam Indonesia Thailand Internship Program. Muslicha panggilan akrab Muslichatin Rismawati menyampaikan, bahwa kesempatan untuk bisa berbagi ilmu dengan masyarakat negara lain merupakan kesempatan yang berharga. “Dari dulu saya memang sudah bercita-cita untuk bisa menginjakkan kaki ke negera lain, saya bersyukur bisa lolos seleksi untuk ikut program ini,” jelas mahasiswa asal Mojokerto ini. Nantinya, dalam kurun waktu 2 bulan, para mahasiswa ini akan mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada siswa sekolah di beberapa kawasan di Thailand. Senada dengan Muslicha, Robby Cahyadi mengakui bahwa pengalaman mengajar siswa yang berbeda latar belakang budaya akan memunculkan tantangan baru. “Karena secara budaya dan bahasa kami sangat berbeda, saya berharap selama di sana bisa saling belajar. Saya memperkenalkan budaya dan bahasa Indonesia sekaligus bisa belajar budaya dan bahasa mereka,” jelas mahasiswa asal Banyuwangi ini. Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Dr. Sugiarti, M. Si, menuturkan bahwa berangkatnya tiga mahasiswa prodinya akan membuka peluang yang bagus bagi mereka. Karena kesempatan untuk belajar sekaligus berbagi di negeri orang bukanlah hal yang mudah. “Misi yang mereka bawa adalah lebih memperkenalkan Indonesia lewat bahasa dan budaya. Yang lebih penting, semoga bisa membuka peluang kerja sama ke depan yang memungkinkan bagi mereka untuk melanjutkan bekerja diluar,” tegasnya. Untuk membuka peluang lebih banyak bagi mahasiswa yang lain, prodi Pendidikan Bahasa Indonesia merencanakan program serupa. Tujuannya agar semakin banyak mahasiswa yang bisa merasakan pengalaman memperkenalkan dan mengajarkan budaya dan bahasa Indonesia kepada masyarakat luar
Puluhan Mahasiswa dari 5 Universitas Jepang Selami Bahasa dan Budaya Indonesia di BIPA UMM

Berbicara tentang Indonesia, siapapun tak akan pernah puas menikmati kebudayaanya. Bagi 35 mahasiswa asal Jepang ini misalnya, berkunjung ke Indonesia dan merasakan sehari berbudaya Indonesia adalah hal yang tak terlupakan. Kiyokawa Joe seorang mahasiswa asal Wako University mengaku, perasaan bahagia sudah muncul sejak ia sampai di negara beriklim tropis ini. “Saya senang datang hari pertama di sini, orang ramah-ramah,” jelasnya. Hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin (13/8), 35 mahasiswa Jepang tersebut tergabung pada program Fieldwork of International Cooperation 2018. Di kampus putih inimereka disuguhi dengan berbagai kegiatan di Kelas Bahasa dan Budaya. “Saya baru saja mengikuti kelas membaca dan berbicara bahasa Indonesia, selamat siang, terima kasih, nama saya Yuma,” tutur Takashi Yuma menjajal kemampuan Bahasa Indonesianya. Diawali dengan seremonial penerimaan mahasiswa-mahasiswa tersebut, Asisten Rektor Bidang Kerjasama Soeparto menyatakan bahwa kunjungan para akademisi dari Jepang ini diharapkan dapat menjadi awal mula bagi UMM membangun kerjasama yang lebih luas, utamanya dengan negeri sakura tersebut. “Saya berharap kunjungan ini bisa belanjut ke kunjungan-kunjungan lainnya, terutama untuk kunjungan kerjasama,” papar Soeparto. Gayung bersambut, perwakilan dari Wako University Bambang Rudyanto juga menginginkan hal serupa dapat terlaksana. Ia bahkan berharap, pada kerjasama selanjutnya mahasiswanya juga dapat memperoleh beasiswa belajar Bahasa dan Budaya di UMM seperti mahasiswa asal Jepang yang lain. “Di sini sudah ada beberapa mahasiswa asal Jepang yang belajar bahasa dan budaya, saya harap kalian juga bisa seperti mereka,” terang dosen asal Indonesia ini. Usai Kelas Bahasa, acara yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM ini dilanjutkan dengan Kelas Budaya yaitu membatik dan menari. “Saya pilih membatik, karena saya tidak pandai menari dan menari di sini indah sekali,” ujar mahasiswa yang lain, Ito Takuto. Ditutup dengan serangkaian permainan luar ruangan, salah satu mahasiswa Jepang, Kiyokawa Joe merasa sangat bahagia mendapatkan banyak pengalaman di UMM. Ia pun berharap kelak akan kembali lagi kesini untuk merasakan pengalaman belajar yang lebih lama. “Sangat senang datang ke sini, saya akan ke sini lagi untuk mencoba belajar di sini,” jelas Joe. Penanggungjawab kegiatan pengenalan permainan tradisional Danang Fitrian Wibisono menyampaikan, ada tiga macam permainan tradisional yang dikenalkan pada mahasiswa Jepang tersebut yakni rangku alu (tari tongkat), balap karung, hula hoop beregu, dan klompen beregu. Berbagai permainan tradisional tersebut selain sebagai pengenalan budaya Indonesia, juga sebagai cara untuk menunjukkan identitas dan kepribadian bangsa. “Harapannya, mereka bisa belajar banyak tentang nilai yang ada di masyarakat kita seperti kerjasama, kesopanan, santun, ramah dan rendah hati serta dapat membawa nilai ini hingga ke tanah kelahiran mereka,” pungkas pria yang juga menjadi pengajar di BIPA UMM tersebut. (Humas UMM)
Gandeng Yayasan Sayangi Tunas Cilik, UMM Bekali Mahasiswa Keterampilan Pekerja Sosial

Sebagai upaya memudahkan mahasiswa melakukan riset, magang, dan praktikum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Yayasan Sayangi Tunas Cilik yang merupakan partner dari Save The Children Indonesia, Senin (13/8) di Aula BAU UMM. Perjanjian dibuat agar kedua belah pihak dapat menyelenggarakan program-program penelitian sosial baik oleh dosen maupun mahasiswa, praktikum mahasiswa dalam pelayanan terhadap anak dan pengabdian masyarakat oleh tenaga pengajar. Objek perjanjian nantinya adalah penelitian, praktikum, dan pengabdian masyarakat di Pusat Dukungan Anak dan Keluarga yang diselenggarakan oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik bekerjasama dengan Dinas Sosial Kabupaten Malang Rektor UMM, Fauzan menyampaikan bahwa kerjasama antara keduanya secara khsuus menjadi langkah yang tepat untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan mahasiswa. Hal ini sehubungan dengan program UMM Pasti yang tengah digalakkan kampus putih untuk membekali calon lulusan. “UMM sendiri mempunyai program Pasti. Program itu bertujuan untuk menghadapi dinamika sosial yang pada hakekatnya menuntut adanya kejelasan dan kepastian pendidikan. Ini menjadi bekal karena orang yang hebat adalah orang yang membekali diri,”tambahnya. Usai sambutan rektor, acara dilanjutkan paparan oleh Tata Sudrajat selaku Families First Signature Program Director Yayasan Sayangi Tunas Cilik. Sudrajat mengungkapkan bahwa berdasarkan data Direktorat Anak Kemsos tahun 2016 masih banyak permasalahan sosial terutama yang menyangkut anak-anak di Indonesia. “Sebanyak 997.000 bayi terlantar, 2,3 juta anak terlantar di jalan dan 7.466 Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) serta 6.300 anak memerlukan perlindungan khusus. Kesadaran hukum di Indonesia memang sudah ada tetapi kekerasan masih menjadi budaya,” ujarnya memaparkan data Direktorat Anak Kementrian sosial 2016. Sementara itu, pegiat sosial mitra Yayasan Sayangi Tunas Cilik asal Australia Karen Flanagan menyemangati para mahasiswa FISIP, tidak hanya Program Studi Kejahteraan Sosial namun juga Hubungan Internasional (HI), Ilmu Pemerintahan (IP) dan Ilmu Komunikasi untuk terjun menjadi pekerja sosial. Ia juga mengungkapkan fakta bahwa dinegaranya saat ini pekerja sosial sangat dibutuhan, berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya dimana profesi ini memerlukan waktu 30 tahun untuk bisa diakui dan di terima masyarakat. Sementara itu, untuk bidang penanganan, sambung Karen, pekerja sosial di Indonesia dan Australia memiliki kosentrasi yang berbeda. “Kalau Indonesia kebanyakan isu sosial tentang anak, di Australia lebih pada bidang narkoba, kesehatan mental, dan kekerasan terhadap lansia,” pungkasnya.
Muhammadiyah Gelar Pidato Kebangsaan dalam Romantisme Keberagaman

Romantisme kebangsaan terasa kental di Hall Dome UMM , Minggu (12/8). Hari ini, berbagai tokoh agama berkumpul dalam acara Pidato Kebangsaan bertema Meneguhkan Nilai-Nilai Kebangsaan yang Berkemajuan Menyongsong Indonesia Emas dalam rangka menyambut HUT RI ke 73. Hadir dalam gelaran kali ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tokoh Naudlatul Ulama, tokoh agama Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Penghayat Kepercayaan, dan Kristen. Memberikan sambutan di awal, Rektor UMM Fauzan menyampaikan bahwa ruh pemaknaan kemerdekaan bagi bangsa ini telah dilakukan jauh sebelum Indonesia merdeka, dia adalah Kyai H. Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah. “Beliau yang dalam awal gerakannnya telah memilih pendidikan dan kesehatan sebagai amal nyata yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan bangsa indonesia agar dapat hidup merdeka,” urainya. Berkesempatan memberikan pidato singkat di awal, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy yang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya karena acara ini dapat menjadi ruang untuk menyatukan pandangan bagaimana hidup berbangsa dengan keragaman. “Marilah Muhammadiyah mempolopori tradisi keberagaman bangsa dengan mengisi kemerdekaan,” seru Muhadjir. Menyambung Muhadjir, pemuka agama Konghucu, Bunsu Anton Triyono juga menyampaikan penghargaannya atas acara ini. Ia pun menegaskan, bahwa keberagaman merupakan hal yang penting untuk selalu dibina. Ia pun menuturkan, saat ini Konghucu menjadi agama yang paling sedikit pengikutnya yakni hanya 3% di Indonesia. Namun meski demikian kehadirannya telah diakui di Indonesia. “Sya sangat berterima kasih kepada presiden ke-empat yakni Gusdur telah mengembalikan identitas kami sebagai warga negara yang diakui Indonesia,” tuturnya hormat. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir menyampaikan semangat yang sama hendaknya juga dimiliki para elit politik dinegeri ini. Para pemimpin baik dilegilatafi, eksekutif, yudikatif dan berbagai macam institusi kenegaraan lain, musti menghayati dan menjadikan agama sebagai pola pikir dan pola tindak yang terintegrasi antara kata dan tindakan. “Indonesia tidak mungkin menjadi kekuatan yang baku jika dalam tindakan wakil rakyatnya jauh dan tidak mempraktikkan nilai-nilai agama,” tambahnya. Haedar menambahkan, meski para tokoh dan umat beragama sering begitu indah menyuarakan ukhuwah, keyukunan, persatuan, persaudaraan, perdaiamaian, toleransi dan nilai-nilai luhur agama pada ritual-ritual sosial, namun ternyata ujiannya hal ini tidak mudah ditegakkan dalam kehidupan berpolitik, berkonomi dan berbangsa bernegara “Manakala masuk ke ranah politidan kekuasaan satu sama lain bisa jadi saling menerkam, buas dan rakus. Pada saat itulah agama dan Tuhan menjauh dari tokohnya dan dari umatnya,” tambah Haedar. Ia pun menyampaikan, dalam konteks kehidupan berkebangsaan, Muhammadiyah mengajak semuanya agar menjadikan agama lebih dari sekedar ritual dan atribut simbolik. Sebaliknya, jadikan agama sebagai ajaran yang mencerahkan umat, mengeluarkan dari segala ketertinggalan, kebodohan dan kepura-puraan. “Kita junjung tinggi nilai-nilai ritual sosial sebagai perekat dalam kita bermasyarakat, tetapi pada saat yang sama kita juga memerlukan bangsa ini maju ke depan dengan dinamis progresif dan berkemajuan,”paparnya. Di akhir Haedar menegaskan, bagi Muhammadiyah negara dan pemerintahan harus benar-benar berdaulat termasuk dari hegemoni politik oligarki. Indonesia harus jadi milik semua jangan jadi milik segelintir orang atau kelompok tertentu seperti apa yang dipesankan Presiden pertama RI, Soekarno. “Kita mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan. Tetapi semuabagi semua,” pungkasnya.(apn/sil)
Sepatu Anti Bau, Antar Mahasiswa UMM ke Forum Entrepreneurship Tingkat ASEAN
Pernah memiliki sepatu yang bau lantaran jarang dicuci? Jika iya, peluang ini ternyata menjadi tiket emas bagi Deva Ayunda, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Fully Funded ASEAN Young Entrepreneurs Forum Comparative Study 2018. Kompetisi ini merupakan rangkaian acara dari agenda besar International Business Plan Competition (IBPS) 2018 yang diselenggarakan Edconex Internasional dan studentbackpaker.com. Ini merupakan sebuah platform yang mewadahi anak-anak muda guna menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan. “Saya membuat sepatu dengan gel pewangi otomatis menggunakan bisnis model canvas yang saya beri nama NextOne Shoes dengan target pasar mahasiswa dan pekerja,” tutur perempuan yang hobi membaca dan menulis tersebut. Bisnis Model Canvas adalah model bisnis yg terdiri dari 9 blok area aktivitas bisnis, yang memiliki tujuan memetakan strategi untuk membangun bisnis yang kuat, bisa memenangkan persaingan dan sukses dalam jangka panjang. Sementara itu, nama NextOne berarti generasi selanjutnya. Deva berusaha mendesain produknya sedemikian rupa dan menyesuaikan bisnis tersebut dengan anak muda zaman sekarang yang cenderung menyukai hal-hal baru dan unik. “Gel itu dibuat dari lidah buaya dan baking soda, kemudian diberi aroma lavender dan diformulasikan untuk kemudian diletakkan diujung sepatu,” paparnya. Lolos pada kompetisi ini, Deva selanjutnya akan berkesempatan untuk mempresentasikan gagasannya tersebut di Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan melakukan riset marketing di Malaysia tanggal 25-28 Agustus nanti. “Konten acara international class dilaksanakan di Nanyang Technological University yang merupakan universitas terbaik nomor 1 di Asia dan market research di dua negara, juga ada city tour di dua negara. Kegiatan ini diharapkan mampu membuat peserta menjadi seorang enterpreneur berwawasan global sehingga mampu bersaing di kancah internasional,” tambahnya. Diakhir Deva memaparkan, pemenang di ASEAN Young Entrepreneurs Forum Comparative Study 2018 akan mendapatkan hadiah berupa medali emas dan dana sebesar 250 Dollar Singapura. Deva pun berharap, setelah rangkaian acara ini, dengan bekal yang didapatnya bisnisnya bisa terealisasi dan makin menguat. Saat ini ia pun mempersiapkan presentasi terbaiknya untuk ditampilkan akhir bulan nanti. “Saat ini saya sedang mengerjakan proposal sambil mencoba untuk mereleasasikan gagasan tersebut, jadi nanti ketika presentasi saya akan membawa produknya juga,”pungkas Deva.(Humas UMM)