Wakil DPR RI Uji Konsep RUU EBT bersama Pakar UMM

Menjadi popular akhir-akhir ini, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) terus berproses untuk dikembangkan dan ditingkatkan dari berbagai aspek. Salah satunya adalah perancangan payung hukum bagi para pelaku EBT. Menjadi salah satu aspek dalam perancangan payung hukum tersebut adalah uji konsep yang melibatkan akademisi di dalamnya. Dimilikinya Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sejak tahun 2007, menjadikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) satu-satunya kampus swasta yang dipinang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) untuk melakukan uji konsep Rancangan Undang Undang (RUU) EBT. “Sejak lama saya ingin menggandeng kampus swasta untuk bersama uji konsep dari RUU EBT yang akan kami (DPR.red) usulkan kepada pemerintah,” jelas Agus Hermato Wakil Ketua DPR RI, Rabu (8/8) Menerima kunjuangan DPR RI, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si mengaku bahwa UMM juga merupakan jujukan beberapa lembaga untuk melakukan riset tentang EBT. “Karena UMM salah satu kampus terbesar yang dimiliki Muhammadiyah dan sudah sejak lama kami memiliki pengalaman dalam pengembangan energi baru terbarukan yaitu berupa PLTMH,” jelasnya. Menguatkan stigma bahwa UMM adalah kampus sadar energi terbarukan, Syamsul Arifin menambahkan bahwa UMM tidak hanya membangun PLTMH untuk kebutuhan listrik di wilayah kampus, namun juga untuk masyarakat dengan meresmikan PLTMH Sumbermaron di tahun 2012. “Selain kita memiliki PLTMH di wilayah kampus, para ahli kami juga mengentaskan persoalan pasokan listrik di wilayah Sumbermaron dan kini berdiri PLTMH Sumbermaron disana,” terangnya. Melihat keseriusan UMM dalam mengelola sumber daya alam secara bijak, jajaran Wakil DPR RI yang hadir saat itu menyatakan bahwa peran akademisi dalam uji konsep ini sangat dibutuhkan , mengingat akademisi akan terjun langsung di tengah masyarakat. “Uji konsep rancangan undang-undang energi baru terbarukan ini sangat penting dan membutuhkan masukan dari para akademisi,” papar Agus. Sementara itu, hadirnya Agus Hermanto yang juga Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan DPR RI ke UMM juga merupakan bentuk penyelesaran konsep materi antara pembuat undangan-undang dengan para akademisi sebelum undang-undangan tersebut disahkan. “Kehadiran kami ke sini adalah salah satu ikhtiar kami untuk dapat membuat disahkan undang-undang ini dapat memberikan manfaat secara bijak kepada seluruh pihak,” terang pria asal Semarang tersebut. (nis/sil)

Bersih Kampus Khas UMM Sambut HUT RI ke 73

Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) terasa semarak di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mengawali pembukaan dalam rangkaian Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 73, UMM menggelar Kerja Bhakti Bersih Kampus, Sabtu (11/8). Rektor UMM Fauzan menyampaikan, kegiatan ini merupakan sebuah upaya peduli lingkungan. Melalui penampilan yang bersih, optimis dan bersemangat yang ditampilkan kampus, bukan hanya pada infrastruktur tetapi juga SDMnya diharapkan suasana nyaman akan semakin terbangun. “Kita ingin memasuki tahun ajaran baru 2018/2019 kampus menjadi makin asri dan layak dijadikan selfi,”ujarnya. Yang menarik, sebagai simbol dimulainya kerja bhakti kali ini, Rektor secara simbolis memberikan peralatan kebersihan kepada tim cleaning service (cs) kemudian para cs memberikan pelaratan kebersihan tersebut kepada para kepala biro, dekan dan kepala unit kerja. Ini menjadi lambang bahwa kebersihan kampus merupakan tanggungjawab bersama, bukan hanya para petugas kebersihan. Fauzan pun menyampaikan, rencananya kegiatan bersih-bersih ini akan diadakan rutin setiap hari Sabtu yang akan dilanjutkan dengan senam bersama. ”Nanti kita adakan senam bersama agar selalu sehat. Pokoknya kita akan tampilkan wajah-wajah optimis UMM,”pungkasnya. (sil)

Datang Berkunjung, Unmu Palu dan Universitas Krisna Dwipayana Pelajari Kurikulum UMM

Keberhasilan mempertahankan akreditasi A Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terdengar hingga Jakarta dan Palu. Prestasi tersebut melatarbelakangi kedatangan rombongan Universitas Krisnadwipayana Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Palu, Jumat (10/8) datang berkunjung dalam rangka studi banding dan menindaklanjuti kerjasama Memorandum of Understanding (MoU) terkait tri darma perguruan tinggi, sistem belajar mengajar, penelitian hingga pengabdian masyarakat. “Sebetulnya kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama kami dengan Universitas Krisnadwipayana. Kerjasama di tiga titik, yaitu tri darma perguruan tinggi, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat,” ungkap Dr. Tongat, SH., M.Hum, Dekan Fakultas Hukum. Tongat menambahkan, kunjungan dua universitas tersebut guna studi kurikulum, kegiatan akademik, dan manajemen laboratorium fakultas hukum UMM. Sementara itu, Dr. Samsul Haling Ketua Program Studi Hukum Universitas Muhammadiyah Palu mengharapkan adanya contoh secara langsung terkait kurikulum dan jumlah SKS akademik yang banyak. “Kami dengar kalau fakultas hukum di UMM persemester bisa 9 sks, nah itu gimana. Kami ingin belajar langsung. Bagaimana implementasinya, karena 3 SKS saja sudah beberapa kali tatap muka,” katanya. Diakhir, Tongat mengharapkan adanya peningkatan kualitas dan mutu masing-masing universitas melalui kerjasama ini. “Jujur, mungkin ada kekurangan baik dari kami maupun mereka sehingga bisa saling belajar. Bisa memberikan kontribusi untuk masing-masing prodi,” terangnya. (apn/sil)

Usung Konsep Psikoedukasi, Mobil Kaca UMM Kokohkan Cita-cita Siswa di Daerah Rawan Bencana

Desa Selorejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang memang terkenal dengan keindahan waduknya . Tetapi jangan lupa, daerah ini juga merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB). Pada tragedi meletusnya Gunung Kelud 2014 lalu, kawasan ini termasuk daerah terdampak yang aktivitas warganya lumpuh total. Mengingat latar belakang tersebut, hari ini Kamis (9/8) mengusung konsep psikoedukasi Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengunjungi sebuah sekolah yang sangat dekat dengan lokasi waduk, yakni SDN 2 Pandansari. Saat bencana terjadi, proses belajar mengajar disekolah ini berhenti total. Koordinator operasional Mobil KaCa UMM, Ridlo Setyono menyampaikan kedatangan tim mobil pintar kali ini adalah untuk menghilangkan rasa was-was pada diri anak-anak, utamanya siswa yang duduk di kelas 4 dan 5, yang saat terjadi bencana empat tahun lalu mereka masih duduk di kelas 1. “Kami melakukan tes psikologi untuk meyakninkan anak-anak bahwa mereka  punya potensi. Harapannya, setelah hasil diumumkan pada minggu depan, mereka minimal akan memiliki tekad dan keteguhan untuk meraih cita-citanya. Jadi jika suatu saat jika ada bencana lagi mimpi mereka akan tetap kuat,” tambahnya. Menyempurnakan misi kali ini, Tim Mobil KaCa menggandeng Tim Laboratorium Psikologi UMM . Ada dua tes yang dilakukan pada kesempatan kali ini, yakni Multiple Intelligence Questionnaire (MIQ) dan Skala Gaya Belajar. Menurut Istiqomah,  M.Si., Koordinator Tim Psikologi UMM yang turun lapang, tes MIQ akan bermanfaat untuk mengetahui potensi siswa,  sehingga siswa bisa terarahkan dengan baik untuk dapat mengembangkan potensi baik dalam dirinya. Sedangkan Tes Skala Gaya Belajar, lanjut Psikolog UMM tersebut, akan dapat membantu mendeteksi cara belajar siswa agar bisa menyerap pelajaran dengan baik. Ada tiga jenis karakter belajar yang dapat diketahui dengan tes ini, pertama yaitu kategori kinestetik yang cenderung menggunakan bantuan gerakan untuk mempermudah pemahaman. Kedua kategori visual yang cara pembelajarannya melalui gambar atau tulisan dan yang ketiga kategori auditorial yakni pembelajaran yang akan mudah diterima jika dibantu dengan suara,  atau jika dalam proses pembelajaran yakni dengan penjelasan guru. “Hasil tes nantinya akan kami sampaikan juga ke para guru dan orang tua siswa agar mereka juga dapat turut serta membimbing dan memaksimalkan potensi anaknya,” tandas Istiqomah. Seperti biasa,  Mobil ‘Kaca’ selalu menjadi tempat favorit karena tersedia banyak buku bacaan untuk anak-anak. Selain itu, ada juga English for Young Leaener (EYL) pembelajaran Bahasa Inggris dengan metode yang menyenangkan serta tidak ketinggalan, pemutaran film kisah nabi yang cukup menarik simpati siswa yang ada disana. Kepala Sekolah SDN 2 Pandansari, Sri Wahyuni menyampaikan kebahagiaanya melihat para siswa antusias mengikuti kegiatan ini. “Kami memiliki perpustakaan dan pojok literasi sebagai fasilitas bagi siswa yang ingin membaca. Namun dengan kedatangan Mobil Kaca UMM kami rasa akan semakin menumbuhkan kegemaran siswa dalam membaca”, tutup Sri Wahyuni. (nov/sil)

Era Disrupsi Penuh Cita-cita Online Anak-anak

Dewasa ini, para guru dibuat terheran-heran dengan cita-cita baru yang dimiliki anak didiknya. Beberapa guru menyampaikan bahwa murid-murid mereka banyak bercita-cita menjadi ojek online, youtuber, vloger, dan impian unik lainnya yang tidak terduga. Berangkat dari hal tersebut, pada rangkaian acara Muhammadiyah Education Awards (ME Awards) 2018 digelar Reformulating Education in Disruption Era Conference, di Theater Dome UMM (8/8). Drs. Asep Haerul Ghani, S. Psi. Praktisi Psikologi alumni Universitas Indonesia memaparkan bahwa perbedaan persepsi antara guru dan anak-anak tentang bentuk dari cita-cita tersebut wajar. Hal ini dikarenakan zaman antara guru dan murid berbeda. Lebih lanjut Asep menyampaikan, saat ini bukan lagi zaman manusia gengsi-gensian dengan jabatan karena penghasilan menjadi hal yang lebih utama. Hal ini dapat dilihat dari kesenjangan penghasilan yang didapat antara profesi ojek online dan guru. “Misalnya dibandingkan ojek online, pendapatan guru bukanlah apa-apa. Sehingga wajar anak-anak zaman sekarang memiliki impian yang unik dan aneh karena mereka hidup di zaman disrupsi,”tambah Asep.  Zaman disrupsi menurutnya, adalah zaman dimana teknologi sudah menjadi makanan sehari-hari dan tidak bisa dilepaskan dalam aktivitas manusia. Anak-anak cenderung terbiasa dengan teknologi sehingga profesi-profesi yang menyentuh ranah teknologi menjadi hal yang menarik bagi mereka. Menyambut ini, guru seharusnya memiliki kiat-kiat layaknya game online, sehingga para murid betah belajar di kelas. “Tantangan kita di era disrupsi ini adalah teknologi. Apakah kita bisa mengendalikan teknologi atau kah kita yang dikendalikan oleh teknologi,” ujarnya dihadapan ratusan guru SD, SMP, MTs, SMA, SMK, MA Muhammadiyah se-Jawa Timur. Membahas lebih dalam terkait perumusan ulang (reformulating) di dunia pendidikan, Asep mengulas perjuangan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan pada puluhan dekade lalu. Kala itu, Dahlan membawa angin segar di dunia pendidikan. Ia mendobrak tradisi dengan membuat sebuah pendidikan agama yang modern, namun tetap berpegang pada Al-Quran dan As-sunnah. Hal ini dapat menjadi pacuan semangat tersendiri bagi para guru masa kini. Di akhir pria yang juga menjadi praktisi SDM ini menekankan, meski saat ini banyak fungsi manusia tergantikan oleh teknologi, namun tidak ada yang bisa menggantikan fungsi guru. “Di tengah kegalauan kita semua, guru sebagai pengkhidmat tetap tidak bisa dihilangkan dari fungsinya. Guru harus hadir sebagai manusia yang mengajar manusia selayaknya manusia. Guru bahkan bisa menghadirkan emosi yang tidak dipelajari melalui teknologi manapun oleh murid,” katanya. Sejalan dengan Asep, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, MA menyampaikan bahwa  pendidikan hendaknya menjadi gerakan yang membawa perubahan lebih baik bagi peradaban manusia karena pendidikan juga menjadi cermin sebuah generasi. “Kalau kita ingin melihat bagaimana kondisi suatu generasi, maka lihatlah pendidikannya,” tambahnya. Ahmad Imam Bukhori, salah seorang guru dari SMP 2 Muhammadiyah Batu mengatakan, ia sangat antusias mengikuti konferensi ini karena mendapat semangat baru. Ia pun baru menyadari pentingnya profesi guru dalam membangun peradaban generasi muda bangsa. “Dalam menghadapi era disrupsi kompetensi, cara mengajar, transfer of knowledge dan transfer of value harus senantiasa diperhatikan guru. Di samping itu, disrupsi juga membuka peluang kerja baru atau kerja sambilan dengan memanfaatkan teknologi,” pungkasnya. (apn/sil)

Kenalkan Orem-orem, Mahasiswa UMM Sabet Juara I Communication Festival 2018 di Jakarta

Mengingat Malang berarti pula mengingat kuliner khasnya, salah satunya adalah Bakso. Jika Bakso Malang sudah dikenal seantero nusantara, maka siapapun yang datang ke Malang tidak boleh melewatkan penganan lain yang juga tidak kalah legendaris, yakni Orem-orem. Olahan kuliner dengan ciri khas tempe dengan kuah santan kelapa ini, membawa tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi Juara I pada ajang Communication Festival 2018 di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Jakarta. Mereka ialah Rahmania Santoso, Arif Priyono, dan Arul Ivansyah ketiganya adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam Sawang Sinawang Films. “Sawang Sinawang Films adalah kelompok yang dibentuk oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi yang mengambil konsentrasi Audio Visual,” terang Rahmania. Festival yang dihelat oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi UAI ini dilaksakan sejak Jumat-Minggu (3-5/ 8). Menjadi salah satu kelompok yang terpilih untuk mempresentasikan produk lomba kategori Broadway (Broadcasting Way) yang berfokus pada citizen journalism dan  mengangkat kuliner nusantara, Rahmania mengaku bahwa presentasi yang disiapkan sebetulnya agak terburu-buru. “Kita baru tahu kalau kita lolos itu jam satu malam, dan kita baru sampai Jakarta itu subuh sedangkan kita harus presentasi jam delapan pagi,” terang mahasiswi yang baru saja menyelesaikan tugas akhirnya. Dipilihanya Orem-orem sebagai kuliner yang dipresentasikan oleh Sawang-Sinawang Films diawali dengan riset tentang kuliner khas Malang. Menurut Arul, Orem-orem dipilih karena belum banyak orang yang tahu dan mengenal makanan khas Malang ini. “Kita pilih Orem-orem karena kita sendiri anggota tim ini belum tahu dengan pasti tentang makanan ini,” jelas Arul. Communication Festival 2018 rutin diadakan dengan mengusung tema dari isu-isu yang tengah hangat diperbincangkan. Tahun ini, dengan tema Wujudkan Potensi Nusantara acara digelar dnegan misi memperkenalkan budaya Indonesia melalui potensi khas daerah yang dimiliki. “Tema besar acara ini adalah Wujudkan Potensi Nusantara dan setiap kategori lomba juga memilki sub tema yang berbeda,” papar Rahmania. Festival ini dibagi menjadi tiga kategori lomba, yaitu Broadway (Broadcasting Way), GoPro (Go PR Professional), dan Advertime (Advertising Time). (nis/sil)

Angka Lulus Tepat Waktu Meningkat, FK UMM Dirikan Ruang OSCE Sendiri

Terus berupaya memaksimalkan peningkatan kualitas lulusannya, Rabu (7/8) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meresmikan Ruang OSCE (Objective Structure Clinical Examination) dan Ruang Profesi Dokter FK UMM di Rumah Sakit UMM. Dihadiri dan diresmikan langsung oleh Rektor UMM, jajaran dekanat, para dosen, staf rumah sakit UMM serta mahasiswa FK, Ruang OSCE yang bertempat di lantai 4 RS UMM secara resmi beroperasi mulai hari ini. Ruang OSCE akrab dengan para calon dokter di semester akhir. Di ruangan ini para calon dokter yang akan lulus tersebut harus mengkuti ujian untuk melatih keterampilan mereka sebelum dikukuhkan. Sebagai universitas yang memiliki FK dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak, sudah selayaknya bagi UMM untuk memiliki ruang OSCE sendiri. Dr. dr. Meddy Setiawan, SpPD selaku Dekan FK UMM memaparkan bahwa saat ini tingkat kelulusan tepat waktu mahasiswa FK UMM meningkat. Untuk mendukung optimalisasi hal tersebut, UMM terus menambahkan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar. “Perlu diketahui bahwa input delta UMM menunjukkan bahwa lebih dari ¾ dari jumlah mahasiswa FK UMM lulus tepat waktu,” tandasnya disela acara peresmian. Pada kesempatan yang sama Rektor UMM, Fauzan berpesan kepada dokter dan dosen FK untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga kepercayaan masyarakat sebaik-baiknya. “Apa yang sudah FK miliki saat ini harus terus ditingkatkan, jangan berpuas diri dan jangan merasa cukup. Terus berikan pelayanan terbaik,” tandasnya. Saat ini FK UMM memiliki tiga Ruang OSCE, dua berada di RS UMMdan satu ruang yang lain berada di Kampus II. Ruang ini dilengkapi dengan beberapa stase, seperti stase bedah, stase anak, stase penyakit dalam dan stase radiologi. Masing-masing ruang dapat digunakan untuk menguji sebanyak 28 mahasiswa. Menjadi satu-satunya kampus swasta di Malang yang memiliki ruang OSCE sendiri, kinerja seluruh civitas akademika diharapkan terus mengalami peningkatan. Kedepannya, semua aktivitas terkait FK akan dipusatkan RS UMM. Ruang profesi dokter yang baru, juga akan digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan lain yang berhubungan dengan kedokteran. FK UMM juga segera menambah jumlah komputer untuk ujian Internet-Based Test (IBT), karena seluruh calon dokter harus mengikuti ujian keterampilan, ujian kompetensi dan ujian sertifikasi IBT. (lus/sil)

Gelar Pertemuan di UMM, Legislatif Thailand Bahas Beasiswa untuk Pelajar Indonesia

Sebagai salah satu bagian dari negara ASEAN, Thailand terus menjalin dan membuka kerjasama bersama negara-negara sahabat. Menjadi salah satu jalan pembuka, hadir jajaran Legislatif Komisi Pendidikan dan Olahraga Thailand di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Kunjungan Kerja (5/8). Di tengah acara, kedua belah pihak berdiskusi tentang keberlanjutan kerjasama antara UMM dan Thailand. Pada sesi pembuka diskusi, Wakil Pertama Komisi Pendidikan dan Olahraga Charlermchai Boonyaleepun menyampaikan ulasan tentang bagaimana pendidikan dapat menjawab tantangan Industri 4.0. “Pendidikan adalah jembatan terbaik untuk mempersiapkan sumber daya manusia, menjawab era industri. Saya yakin kampus ini memiliki program khusus untuk itu,” paparnya. Menanggapi pernyataan tersebut, Rektor UMM Fauzan memaparkan berbagai program di UMM yang telah diinteragasikan dalam berbagai aktivitas mahasiswa. “Kami sadar benar bagaimana industri saat ini menuntut profil lulusan yang memenuhi revolusi industri, sehingga kami sudah mempersiapkan banyak program untuk itu,” jelasnya. Sementara itu, Fauzan juga menyampaikan harapannya untuk bisa bekerjasama dengan Thailand di bidang Pertanian. Ia menyampaikan bahwa saat ini Thailand dapat menjadi salah satu kiblat pertanian di kawasan ASEAN. “Kami di UMM hingga saat ini sedang aktif membuat banyak kerjasama-kerjasama dengan pihak Thailand di ranah pertanian,” tambahnya. Selain itu pada acara ini, kedua pihak sepakat untuk merumuskan lebih lanjut kerjasama dalam bidang penyediaan beasiswa bagi pelajar Indonesia yang ingin berkuliah di Thailand. “Saya mengucapkan banyak terima kepada UMM yang telah menyedikan banyak beasiswa, kami berharap akan ada diskusi lanjutan untuk menyediakan basiswa bagi pelajar Thailand,” terang Tuang Untachai Ketua Komisi Pendidikan dan Olahraga. (nis/sil)

PTM Se-Indonesia Siap Mudahkan UMKM Raih Sertifikasi Halal

Tantangan yang dihadapi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menjamin produk bersertifikat halal di tahun 2019 sesuai UU No. 33 tahun 2014, mendorong Universitas Muhammadiyah Malang melakukan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bersama pimpinan pusat (PP) Muhammadiyah dan beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Indonesia. Rakernas digelar untuk membahas lebih dalam terkait penyempurnaan Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halal Thayyiban (LPHKHT) Muhammadiyah. “Isu utama yang kita bahas adalah fokus sosialisasi ke PTM yang belum punya pusat kajian halal dan mendorong PTM untuk segera mensertifikasi auditor. Hal ini karena kita ingin segera running LPHKHT, dalam artian tidak  hanya wadahnya yang ada tetapi juga sudah bisa operasional,” ungkap Dr Ir Damat, MP  dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) sekaligus Ketua Pimpinan Rapat II pada Raker LPH-KHT Muhammadiyah/ PP Muhammadiyah di Ruang Sidang Senat UMM Sabtu (4/8). Lebih dalam Damat menguraikan, UU No. 33 tahun 2014 hanya memperbolehkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan organisasi massa untuk mendirikan LPH, tidak untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Oleh karenanya, bernaung dibawah ogranisasi Muhammadiyah nantinya PTM-PTM di Indonesia akan menjadi perpanjangan tangan untuk merangkul UMKM, saudagar dan para pengusaha dalam sertifikasi halal produk yang dihasilkan. “Harapannya semua PTM memiliki pusat kajian halal, sehingga jika ada UMKM atau perusahaan yang ingin mengajukan sertifikat halal diberbagai daerah dapat ditangani oleh PTM-PTM yang tersebar di Indonesia. Ini untuk efisiensi biaya juga,” ujarnya. Kepala Laboratorium Sentral dan Halal Center UMM Dr. Elfi Anis Saati, MP menyampaikan, pembentukan dan pengangkatan pengurus LPHKHT Muhammadiyah didirikan pada 12 April 2018 lalu yang terdiri dari dewan pembina, dewan pengawas syariah, komite ahli, direksi, dan komite auditor. UMM sendiri, telah lebih dulu berkecimpung dalam bidang kajian pangan halal pada tahun 2008 dengan mendirikan Pusat Kajian Aman Halal untuk keperluan penelitian dan pengabdian masyarakat. Selain itu, pada tahun berikutnya di 2009, dibentuk kurikulum dengan mata kuliah Manajemen Pangan Aman dan Halal. “Ini kita lakukan dalam rangka menyiapkan lulusan yang memahami teknologi makanan yang aman dan halal,” jelasnya. Di akhir Elfi menyampaikan, melalui sinergi yang ada antar PTS, target besar berikutnya adalah mendaftarkan LPHKHT Muhammadiyah yang bisa terakreditasi. Ini juga untuk mendukung masing-masing tridarma perguruan tinggi, baik lembaga penelitian sampai ke pengabdiannya. “Terakreditasinya ini model apa kita beri pilihan tadi bisa versi ISO, bisa BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal.red) yang mungkin ini masih agak rumit karena PP nya belum keluar atau bisa khas LPH Muhammadiyah sendiri. Kita membuat ke khasan juga tidak main-main menggunakan standar yang berlaku nasional maupun internasional,” pungkasnya. (anis/sil)

Jenderal (Purn) Gatot Salut, Zaman Now Mahasiswa Muhammadiyah Peduli Pancasila

Pada Muktamar ke XVIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) kedatangan jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Bertempat di Theater Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jenderal (Purn) Gatot memaparkan kepada mahasiswa bagaimana peran pemuda Islam terhadap ideologi pancasila Jumat, (3/8). “Pak Gatot heran kok di sini ada mahasiswa yang peduli dengan ideologi pancasila, teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sangat kritis mengangkat permasalahan bangsa saat ini tentang ideologi pancasila,” ujarnya mengapresiasi. Menurutnya kondisi pemuda zaman now cenderung abai dengan pancasila. Namun, hal itu dirasa berbeda ketika melihat peserta yang terdiri dari mahasiswa IMM se-Indonesia sangat antusias mengikuti Seminar Kebangsaan. Dalam pidatonya, ia menjelaskan bagaimana contoh karakter pemimpin dan pejabat pemerintah yang non-pancasilais ke dalam beberapa kriteria yaitu, mereka yang membeli dan menguasai  media massa sehingga mudah menggiring opini masyarakat, mereka yang memecah belah partai politik, mereka yang membeli hukum, mengekspoitasi sumber daya alam, mengadu domba TNI, dan membiarkan konflik SARA tidak berujung. “Paling sering konflik sekarang umat Islam. Kita terpecah-pecah karena perbedaan pandangan. Seharusnya kita bersatu, kalau bersatu kita kuat!” serunya. Salah satu peserta, Dwi Rusmaini  aggota IMM Komisariat Restorasi Fakultas Psikologi UMM juga merasa bahwa pemuda sekarang paham secara etimologi atau arti kata saja, tetapi tidak mampu diaplikasikan. “Saya setuju dengan pendapat Pak Gatot. Mungkin tidak hanya pemimpin dan pejabat pemerintah yang melakukan hal itu, bisa saja kita anak-anak muda yang jauh dari pengetahuan dan pengamalan Pancasila di kehidupan melakukan hal yang sama. Sehingga menurut saya penting bagi kita anak muda untuk kritis berideologi Pancasila,” pungkas Dwi.(nis/sil)