Menteri Yohana Semangati Perjuangan Kader Wanita Muda Muhammadiyah

Perempuan dan anak sebagai aset negara dalam menciptakan keberlanjutan masa depan dunia menjadi fokus penting untuk pemerintah. Melalui tangan-tangan dingin generasi penerus bangsa dalam hal ini adalah mahasiswa, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengamanatkan tampuk tugasnya kepada seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di seluruh Indonesia. “Mimpi saya untuk hadir dalam memenuhi undangan mahasiswa yang sempat berdiskusi dengan saya untuk membahas tentang perempuan dan anak tercapai,” jelasnya di UMM Dome,  Kamis (2/8). Mama Yo, sapaan akrab menteri perempuan pertama berdarah Papua ini, menjelaskan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pemerintah saat ini dalam pemberdayaan perempuan, salah satunya adalah tentang peran perempuan dalam kancah politik. Ia juga mengingatkan bahwa, mahasiswa memiliki peran penting untuk membantu menuntaskan problematika tersebut. “Saat ini semua tantangan yang dihadapi oleh pemerintah sangat membutuhkan peran mahasiswa,” tambahnya. Sebanyak 126 juta perempuan di Indonesia adalah aset negara yang harus terus ditingkatkan kualitasnya. IMM dengan semangat pandangan Islam modernisnya diharapkan dapat menjadi jalan bagi peningkatan jumlah perempuan dalam posisi-posisi strategis urusan negara. “Di Indonesia ada sebanyak 126 juta perempuan, laki-laki 129 juta. Jumlah tersebut menjadikan perempuan adalah aset bangsa yang harus terus didukung potensinya,” ujar dosen Universitas Cenderewasih ini. Sebagai salah satu dari sembilan menteri perempuan di Kabinet Kerja pemerintahan saat ini, Yohana Yembise memberikan semangat juang kepada immawati, sapaan kader perempuan IMM, untuk tidak berhenti berkarya. Ia juga mendukung penuh apabila seluruh immawati dapat segera mengisi kekurangan posisi perempuan dalam bidang pemerintahan dan politik. “Anda adalah generasi yang akan melanjutkan kami dan perempuan adalah aset untuk membesarkan bangsa ini,” tegas Yo. Tak hanya menyampaikan fakta tentang peran perempuan dalam politik, Yohana Yambise juga mengingatkan kepada seluruh kader IMM untuk tidak berhenti berjuang bersama memberantas persoalan yang dihadapi oleh perempuan dan anak di Indonesia. (nis/ sil)

Mengintip Bahagia Anak-anak di Ujung Wajak Sambut Mobil KaCa UMM

Gurat bahagia tampak di wajah ratusan anak-anak SD di Desa Sumberputih Kecamatan Wajak Kabupaten Malang. Raut antusias berjajar riang menyambut kedatangan Mobil KaCa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus nanti, Kelompok Kerja Nyata  berkolaborasi dengan Tim Mobil KaCa UMM menggelar acara bertajuk PS2 “Pekan Siswa Sumberputih” Kamis (2/8). Kepala Desa Sumberputih Bambang Purnomo menyampaikan apresiasinya atas menyambut apresiasnya atas gelaran ini. “Menjadi sesuatu yang langka bagi kami, karena kami di pelosok ini merupakan desa paling ujung,” ujarnya. Membawa berbagai konsep yang menarik, Bambang berharap hadirnya mobil kaca akan memberikan semangat belajar tersendiri bagi anak-anak SD di Sumberputih. “Adanya perpustakaan ini kami harap akan semakin meningkatkan motivasi belajar mereka,” tambahnya. Ketua Pelaksa PS2 Putri Aisyah menjelaskan dalam kegiatan kali ini terdapat siswa-siswa dari empat SD yang turut serta berpartisipasi yakni SDN Sumberputih 1, SDN Sumberputih 2, SDN Sumberputih 4, MI Raden Rahmat dan MI Miftahul Huda. “Selain outbond dan menghadirkan Mobil KaCa, kami juga menggelar lomba cerdas cermat, puisi, dan bazar kewirausahaan,” urainya. Ahdan salah satu siswa kelas 4 MI Miftahul Huda mengaku senang menemukan berbagai macam buku yang menarik di Mobil KaCa UMM.  Ia pun melahap beberapa judul dengan antusias. “Tadi baca buku banyak, antariksa juga. Senang banget dan bisa tambah ilmu,”akunya. Selain berbagai perlombaan yang digelar, KKN 18 juga mengadakan bakti sosial kesehatan gratis. Ada juga penyuluhan narkoba,  perilaku hidup bersih dan sehat. Kelompok ini bahkan juga melakukan pipanisasi sumber air desa. “Tiap dusun, kita berusaha memperbesar ukuran pjpa.  Kita juga sudah membantu untuk memasangnya,” pungkas Kordinator Desa, Alim Ismoyo Haryanto.(apn/gan/sil)

Muktamar XVIII IMM di UMM, Teguhkan Semangat Berpancasila Kaum Muda Islam

Resmi dimulai, gelaran Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) XVIII dibuka oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Bertempat di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pertemuan para kader IMM dari Sabang hingga Merauke ini dijadwalkan selama empat hari yakni mulai Rabu hingga Sabtu (1-4/8). Mengusung tema “Meneguhkan Pancasila Sebagai Sukma Bangsa untuk Indonesia Sejahtera”, muktamar kali ini diharapkan mampu menjadi momen untuk merumuskan rancangan-rancangan strategis, baik bagi kemajuan internal organisasi maupun keberlangsungan bangsa Indonesia. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Ali Muthohirin memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kaum muda dalam menumbuhkan benih-benih karakter dan spirit kepemimpinan. “Walaupun kita adalah pijar matahari muda, tapi dari sini kita bisa menjadi penerang untuk masa depan bangsa. Namun, menjadikan pijar kita kaum muda semakin terang bukan tanpa tantangan. Banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menumbuhkan benih kepemimpinan dari dalam diri kita,” jelas alumni Program Studi Syariah Fakultas Ilmu Agama Islam (FAI) UMM ini. Lebih lanjut, dengan semangat Muhammadiyah Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Timur Abdul Musawir Yahya meneguhkan bahwa Muktamar XVIII IMM akan melahirkan sumbangsih pemikiran ide-ide cemerlang atas persoalan bangsa dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar pemikiran. “Semoga muktamar ini membawa ide-de cemerlang yang dapat memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan bangsa,” tegas pria asal Makasar tersebut. Menjadi bagian dari peradaban bangsa, Haedar memberikan semangat perjuangan kepada para Immawan dan Immawati (panggilan untuk kader IMM). “IMM bersama para anggotanya harus terus berjuang dengan cara modern seperti yang telah dilakukan oleh Bapaknya (red. KH Ahmad Dahlan),” terang Haedar. Haedar juga mengingatkan kembali cita-cita awal IMM yakni melahirkan intelektual muslim yang memiliki keunggulan secara lahir dan batin. Hal tersebut mendasari harapan Haedar pada muktamar kali ini agar dapat menghasilkan misi peneguhan ideologi nasional bagi IMM, Muhammadiyah, dan Indonesia. “Kembali mengingat cita-cita IMM yang ingin melahirkan para intelektual muslim yang unggul, maka berangkat dari mukmatar ini para kader dapat belajar,” tegasnya. Sebagai salah satu tokoh yang lahir dari rahim Muhammadiyah, Haedar tidak hentinya menyumbangkan semangatnya kepada seluruh kader IMM pada muktamar kali ini. Salah satunya ialah tentang peneguhan lima keunggulan yang harus dimiliki oleh seluruh kader IMM dan Muhammadiyah. Lima keunggulan tersebut di antaranya adalah unggul dalam idealisme diri dan organisasi, keunggulan berorganisasi, keunggulan personal, keunggalan religiusitas, dan keunggulan sinergitas. “Sebagai organisasi modern yang diisi oleh pemuda-pemudi terbaik bangsa, jangan pernah IMM melupakan lima keunggulan yang harus terus diingat dan dijalan oleh seluruh kader,” pantiknya. Acara yang akan dihadiri oleh beberapa tokoh ini juga mendapatkan sambutan hangat dari alumi IMM yang kini menjabat sebagai Rektor UMM Fauzan, yang menyampaikan bahwa kader IMM harus menjadi etalase garda terdepan dalam meneguhkan nilai-nilai keislaman. “Para kader IMM harus bertanggungjawab untuk terus meneguhkan nilai-nilai keislaman dan keberadaban sebagai cerminan pengabdian pada bangsa,” ujarnya. Apresiasi diselenggarakannya Muktamar XVIII IMM ini juga disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Pria yang juga besar dari organisasi Muhammadiyah ini menyatakan rasa bangganya kepada IMM yang terus konsisten dalam menegakkan Darul ahdi wa syahada, yang berarti kader IMM harus memiliki pandangan khas gerakan Islam modernis reformis. “Muhammadiyah bersama IMMnya harus secara tegas mengiplementasikan Darul ahdi wa syahada untuk meciptakan negara yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan damai,” tutur Ketua Pimpinan Pusat Muhammaadiyah tersebut. (nis/sil)

Lewat Pena, Dosen Ikom UMM Ajak Masyarakat Kenali Autisme

Tulisan menjadi senjata yang ampuh untuk menyebarkan berbagai hal positif hingga negatiif. Hal ini disadari betul oleh Frida Kusumastuti. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Sahabat Autisma Malang (SAMA) sejak tahun 2012 ini menggunakan kemampuannya dalam dunia komunikasi untuk membantu komunitasnya membuka ruang diskusi hingga sosialisasi terkait autisme di masyarakat. “Saya membantu komunitas SAMA dibidang publikasi ke media serta menulis press release,” ungkapnya, Senin (30/7). Lebih lanjut Frida menyampaikan, semangatnya sebagai pegiat autis muncul dari cinta kasihnya pada anak sulungnya. WRL yang sekarang berusia 22 tahun, adalah anak pertama Frida yang terlahir dengan keistimewaan. Awalnya, perempuan yang baru saja meraih gelar doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tersebut telah melakukan berbagai upaya menyembuhkan anaknya yang didiagnosa ‘tuli’ oleh dokter. Menginjak usia dua tahun barulah Frida mengetahui bahwa WRL tidak mengidap tuli melainkan autis. Ia pun mulai memperbanyak pengetahuannya tentang keistimewaan ini sembari mulai mencurahkan isi hatinya melalui tulisan-tulisan di micro blognya. Tidak disangka, tulisan-tulisan tersebut mendapat apresiasi dari Gerakan Internet Sehat, yang dijalankan oleh Indonesian ICT Partnership Association  alias ICT Watch. Frida pun mendapat penghargaan Bronze tahun 2011. Capaian ini kemudian memacu Frida untuk terus aktif dalam komunitas SAMA dengan para orang tua dari anak autis dengan berbagai latar belakang profesi seperti guru hingga dokter. Mereka menyebarkan semangat bersama, mulai dari sharing pengalaman hingga public education terkait autisme. “Misalnya pendidikan masyarakat tentang autisme dan tentang keluarga autisme. Sharingnya beragam dalam menghadapi anak autisme,” jelasnya. Tidak hanya mendapat penghargaan, tulisan Frida juga mendapat banyak apresiasi dari pembaca. Banyak pembacanya menginginkan tulisan di blog tersebut dibukukan. Frida pun kemudian memutuskan menerbitkan bukunya berjudul, Kekuatan Di Balik Autisme disusul dengan buku keduanya Belajar sebagai Manusia. Isinya tidak jauh-jauh dari aktivitasnya sehari-hari dalam berinteraksi dengan putra sulungnya dan penyandang lain. “Blog itu saya tulis pertama adalah sebagai curahan hati seorang ibu dan bercerita tentang anak saya yang hobinya melukis. Ada banyak masukan dari pembaca saya untuk membuatnya menjadi buku aja,” ujar  perempuan yang pernah menjadi Ketua Festival Anak Autis dalam Hari Peduli Autisme se Dunia yang diperingati tiap 2 April tersebut.

DT Camp, Bangun Self Confident Mahasiswa Lokal-Asing

Tak disangka, acara Design Thinking (DT Camp) yang berlangsung hanya 10 hari menyisakan banyak pengalaman dan kesan menarik tak terlupakan bagi mahasiswa asing Tang Binbin mahasiswa dari China yang tidak bisa menggunakan bahasa Inggris. Selama kegiatan, ia hanya mengandalkan applikasi translator dan bahasa tubuh untuk bisa berinteraksi dengan teman-temannya yang lain. “Saya sangat senang berada di sini. Saya sangat menyukainya. Saya pikir orang-orang di sini sangat sederhana, antusias, dan sangat baik kepada kami (red: orang asing). Bahasa Inggris saya tidak baik, tetapi mereka semua memiliki kesabaran untuk memberi tahu saya, menerjemahkan untuk saya,” urai Tang Binbin. Tidak mudah menemukan orang yang bisa menerima kekurangan orang lain terutama orang yang berbeda negara. Tetapi Rendria Sari berhasil meluluhkan hati Tang Bin Bin hingga acara penutupan mengharu biru dengan tangisan Tang Bin Bin. Rendria merupakan mahasiswa asal STIE Malang. Rendria bercerita tentang pengalaman yang tidak terlupakan saat bersama Tang Binbin. Awalnya ia merasa Tang Bin Bin adalah anak yang cuek dan tidak mau bergaul. Rupanya ia salah, Tang Binbin memiliki keterbatasan bahasa sehingga hanya jarang berbicara selama kegiatan. Mengetahui hal itu, Rendria dengan senang hati membantu Tang Binbin meskipun harus menghabiskan banyak waktu untuk menerjemahkan bahasa mereka masing-masing. Ditemui sambil meneteskan air mata, Tang Binbin menyampaikan perasaannya “Saya sedih tidak bisa ketemu lagi dan saya akan selalu mengingat kalian semua,” pungkasnya. Asisten Rektor Bidang Kerjasama Drs. Soeparto M.Pd. menyampaikan, acara yang terselenggara atas konsorsium 13 asisten rektor bidang kerjasama luar negeri ini merupakan bentuk apresiasi yang didanai oleh Kemenristekdikti. “Mensristekdikti memberikan konsorsium kepada 13 perguruan tinggi. Ada 13 perguruan tinggi yang ikut mengusulkan dana summer camp ke dikti. Syarat yang harus dipenuhi adalah konsorsium minimal dua perguruan tinggi dan maksimal tiga. Kemarin kami mengusulkan tiga konsorsium. Pertama konsorsium, UMM, Ma chung, UNISMA. Kemudian kedua, Polinema, ABM, STIKI Malang. Kemudian ketigaWidya Gama, UNMER, dan Kanjuruhan,” terang Soeparto saat penutupan Closing Ceremony DT Campo di GKB IV UM, Selasa (31/7). Dari tiga konsorsium yang diajukan, Kemenristekdikti hanya menyetujui dua proposal konsorsium yang pertama saja. Dana tersebut kemudian dikelola sehingga dapat membuat event-event internasional. Acara ini diselenggarakan juga mengingat pentingnya self confident ditumbuhkan pada mahasiswa terutama ketika berhadapan dengan mahasiswa asing. Ini tahun kedua DT Camp diagendakan oleh IRO UMM. Kegiatan yang berlangsung sejak (22-31/7) merupakan tawaran Kemenristekdikti untuk mengadakan kembali DT Camp se-Malang Raya. “DT camp dilakukan se-Malang raya ada 12 PTN dan PTS  yang ikut hanya saja yang dapat konsorsium itu cuma enam kampus yakni UMM, UNISMA, Macung, Polinema, Stiki, STIE Malang Kucucwara,” sebut Mohamad Syaroni Syawaludin, fasilitator UMM. Kegiatan DT Camp mengajak mahasiswa asing dan lokal melakukan riset di dua tempat yakni Batu dan Malang Selatan untuk kemudian mereka gagas solusinya.  Dua tempat tersebut dipilih, mengingat permasalahan sampah masih menjadi momok di daerah Batu, sedangkan Malang Selatan bermasalah dengan ekonomi masyarakat sekitar.

Dosen Kesos UMM Berdayakan Masyarakat Melalui Sekolah Literasi

Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara yang didirikan Hutri tak hanya menjadi perpustakaan, namun juga tempat melakukan berbagai aktivitas lain. Semangat literasi juga digalakkan Hutri Agustino, dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP. Sekembalinya dari studi di University of Trento Italia melalui program beasiswa Erasmus Mundus, kegelisahan Hutri tentang semangat literasi semakin menjadi. Akhirnya sekitar tahun 2015-2016, Hutri merealisasaikan idenya memanfaatkan sedikit tempat disamping rumah untuk dibangun menjadi perpustakaan sederhana dengan nuansa tempo dulu yaitu nuansa bambu dengan modal sekitar 1000 koleksi buku pribadi. “Awalnya cuma berfikir saya punya buku dan saya membuka perpustakaan, tapi ketika buka perpustakaan atensi masyarakat begitu luar biasa. Ada yang disitu ingin les privat, tempat pemberdayaan dan macam-macam. Akhirnya saya merasa  kapasitas ruang tidak cukup untuk memadai segala aktifitas,” ujarnya. Melihat hal tersebut, Hutri pun menambahkan halaman rumahnya untuk dapat memperluas perpustakaan tersebut hingga dapat menampung sekitar 100 orang dengan nama Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara. Dengan ini ia berharap, akan semakin banyak masyarakat yang datang dan sadar akan pentingnya literasi. Pondok Sinau Lentera Anak Nusantara ini juga membawanya menemukan forum literasi lain di Kota Malang. Pada akhir tahun 2017 di Kabuaten Malang terbentuklah organisasi bernama Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) yang kemudian pada tahun 2018 organisasi ini memberi amanah kepada Hutri untuk menjadi pemimpin selama periode 2018-2022. Melalui organisasi ini lah Hutri mulai sadar bahwa ternyata di Kota Malang pegiat  literasi juga sedang naik daun dan memiliki banyak peminat. “Beberapa bulan setelah menjabat jadi ketua, saya melakukan observasi dan pengamatan kecil-kecilan, ternyata tidak hanya di Kabupaten Malang fenomena minat baca muncul pada masyarakat. Ini sedang booming-boomingnya khususnya di Kota Pendidikan seperti Malang,” ujarnya. Dari sini, Hutri menggagas Sekolah Literasi yang soft launching pada Rabu (25/7) kemarin di Gazebo Literasi, Dau. Untuk Grand Launching, rencananya akan dilaksanakan pada bulan Agustus dengan mengangkat tema Literasi Kemerdekaan dan Pancasila. “Target awal memang pegiat literasi dengan harapan mereka jadi duta baca, duta perpus dan duta literasi. Ketika di level mereka sudah selesai, maka mereka yang bertugas untuk menyemai pemahaman itu di komunitas masing-masing,” tandasnya. Di akhir, Hutri menyampaikan bahwa ia ingin menjadikan komunitas literasi ini sebagai alat untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dengan model yang berbeda, yakni berbasis gerakan literasi. “Minimal mengorganisasikan masyarakat, mengedukasi, merubah mindset yang selama ini. Membuat mereka hidupnya lebih terarah,”pungkasnya.

Bekali Lulusan ESP UMM, Manager Garuda Indonesia Bagikan Rahasia Sukses Dunia Kerja

Project Manager Garuda Indonesia Setyasmono berbagi tips sukses di dunia kerja Persaingan dunia kerja yang semakin hari semakin ketat menuntut para mahasiswa untuk dapat bersaing dan memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan Program Studi Ekonomi Sosial Pembangunan (Prodi ESP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar “Pembekalan Memasuki Dunia Kerja”, Sabtu (29/7) bertempat di Aula Teknik UMM dan dihadiri oleh mahasiswa prodi ESP angkatan 2014 yang akan lulus pada tahun ini. Untuk meraih sukses, mahasiswa harus mempunyai kemauan yang kuat untuk bergelut dengan tuntutan pekerjaan dan perusahaan. Namun sebelum memasuki dunia kerja, ada hal-hal yang harus mereka persiapkan agar diterima di perusahan-perusahan sesuai dengan minat dan keinginan, seperti memiliki etika kerja yang bagus, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang memenuhi standar industri, dan skill yang mumpuni. Menghadirkan pembicara dari perusahaan penerbangan paling elit di Indonesia, Setyasmono yang merupakan seorang Project Manager Garuda Indonesia, memaparkan bagaimana cara mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dan kiat-kiat apa saja yang yang perlu dipelajari agar perusahaan tertarik untuk merekrut. Setyasmono menerangkan, “Ada hal-hal yang sering kali diabaikan oleh seseorang ketika melamar kerja, seperti cara berjalan, cara duduk, nada ketika berbicara saat wawancara, dan cara berpakaian. Padahal, hal teknis semacam itu adalah poin penting yang dipertimbangkan perusahaan apakah pelamar ini berkualifikasi atau tidak”, jelasnya. Setyasmono, yang telah berpengalaman merekrut karyawan di berbagai negara dari Korea, Jepang, Tiongkok, Singapura , dan Negara Asia lainnya menjelaskan bahwa pada saat wawancara, para pelamar hendaknya menyiapkan CV (data diri) yang baik, menunjukkan kelebihan, tidak menonjolkan kelemahan, bermotivasi tinggi, kreatif, dan bersemangat. Setyasmono melanjutkan, “IPK bukan segalanya, namun bukan berarti tidak penting, yang lebih penting adalah anda harus percaya diri”. Selain itu, ada beberapa komponen pencapaian keberhasilan yang biasanya dijadikan sebagai standar perusahaan atau industri, seperti kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan computer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, percaya diri, ramah, sopan, bijaksana, IPK, kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. Shochihul Muslim, salah seorang panitia dari seminar ini mengaku bahwa ia mendapatkan ilmu baru tentang dunia kerja. Mahasiswa ESP angkatan 2014 ini mengatakan, “Acara ini sangat berguna sekali untuk kami yang akan segera lulus agar siap memasuki dunia kerja karena kita menjadi tahu apa dan bagaimana kriteria perusahaan itu seperti apa”. (lus/sil)

PDM Kota Malang Ajak Saudagar Muhammadiyah Dialog Bisnis

Dialog bisnis tersebut membahas perkembangan dunia bisnis saat ini. Narasumber utama,  Prof. Dr. Khusnul Ashar, SE. MA., Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (UB) mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim dengan angka mencapai 85%. Sayangnya dari jumlah tersebut hanya 14% muslim yang menjadi pengusaha. “Kita memasuki era digital, eranya teknologi. Bersaing secara online. Era digital dapat membuat bisnis menjadi mudah. Apalagi di era digital, masyarakat tidak hanya bisa berbisnis secara tatap muka tetapi juga melalui online,” ujar Khusnul Ashar. Khusnul menambahkan bahwa organisasi Muhammadiyah memiliki sambutan positif di masyarakat. Brand image Muhammadiyah tidak hanya di sisi pendidikan tetapi juga kesehatan. Hal itu seharusnya menjadi pelecut bagi saudagar-saudagar Muhammadiyah untuk berani mengembangkan bisnis masing-masing. Setuju dengan pendapat Khusnul, Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa timur Dr. Ec. Indra N. Fauzi, MM melihat peluang bisnis dari segi kecanggihan internet. “Semakin ke sini saya melihat anak muda makin tidak suka membaca. Mereka cenderung membaca bagian atas seperti judul, sedangkan isinya tidak,” kata Indra kemudian melanjutkan dengan pengalamannya bertemu pengusaha yang usianya masih muda 20 tahun di bawahnya. Khusnul menjadi paham dengan fenomena anak muda yang meninggalkan busaya baca akibat perkembangan teknologi. Teknologi membuat segalanya menjadi mudah. Anak muda kini cenderung menyukai yang instan. “Itulah mengapa bisnis secara online menjadi menguntungkan,” pungkasnya. Di akhir acara PDM Kota Malang memberikan ruang bagi nasabah Bank Jatim dan Bank BNI Syariah untuk bertukar cerita. Bank Jatim juga memperkenalkan aplikasi barunya yang bernama ‘Bejomu’ yang bisa mempermudah dan mendukung nasabah melakukan segala transaksi, terutama untuk mendukung llu lintas perdagangan(apn/sil)

Si Pemuda Pesisir Ketua PSIF UMM Jadi Asisten Staf Khusus Kepresidenan

Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pradana Boy ZTF segera bergabung di Istana Negara. Berdasarkan surat Keputusan Sekertaris Kabinet Republik Indonesia (RI) No. 46 Tahun 2018, ia akan mendampingi Siti Ruhaini Dzuhayatin Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional yang baru saja dilantik oleh Presiden RI Joko Widodo.Besar di tengah keluarga petani sederhana di Kota Lamongan, Pradana adalah  sosok bersahaja yang penuh semangat dan motivasi untuk terus berprestasi. “Untuk apa manusia hidup jika tidak untuk terus bersemangat dan menantang diri sendiri agar tahu kelemahan diri,” pantik dosen Program Studi (Prodi) Syariah UMM ini. Di sela kesibukannya mempersiapkan diri sebelum bergabung di Istana Negara, Sabtu (28/7) Pradana membagikan kisah perjuangan panjangnya hingga sampai di titik ini. Pradana remaja yang saat itu baru saja lulus SMA, memutuskan hijrah dari Lamongan untuk menempuh studi strata satu di UMM. Ia berencana segera mengambil Program Studi Manajemen. “Syariah itu bukan pilihan utama saya kuliah di UMM. Pikiran lugu saya orang pesisir Lamongan, baru lulus SMA, sekolah manajemen dan jadi manager. Sudah hanya itu, tapi ternyata saya harus memupuskan niat kuliah di jurusan tersebut,” jelasnya. Tak disangka, biaya untuk jurusan impiannya ternyata cukup mahal. Tak ingin kembali ke Lamongan sia-sia, ia pun memutuskan untuk mencari jurusan paling murah di UMM kala itu agar bisa tetap berada di Malang dan keinginannya menjadi mahasiswa terwujud. “Cari yang paling murah atau kalau gak bisa dapat yang murah kita pulang. Itu kalimat Bapak yang akhirnya membuat saya menjatuhkan pilihan pada Syariah,” kisahnya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan menempuh studi di perguruan tinggi, Pradana terus meningkatkan kualitas diri. Ia memanfaatkan berbagai peluang untuk dapat menyuarakan tulisan, gagasan, dan karyanya.Tak disangka, gaung karya Pradana sampai pada Kedutaan Besar Amerika. “Saat dihubungi oleh staf kedutaan Amerika dan diajak untuk makan malam saya hanya berpikir bahwa saya diundang makan malam dalam konferensi,” tegasnya. Namun kemudian ia sangat terkejut saat tahu bahwa menjadi satu-satunya perwakilan Muhammadiyah yang berada di meja makan malam duta besar Amerika tersebut. Pradana mengingat bahwa hanya ada delapan orang di meja makan malam itu. “Saya pikir hanya makan malam biasa, ternyata jamuan makan malam khusus dan hanya saya yang dari Muhammadiyah,” terangnya dengan Bahasa Jawa. Keberlanjutan makan malam tersebut, membawa pria asal dusun Mencorek Lamongan ini mengenyam pendidikan singkat bidang ilmu politik di University of Massachusetts, Amerika Serikat (AS). Menyelesaikan Pendidikan Magister bidang Antropologi di Australian National University (ANU) dan Pendidikan Doktoral di National University of Singapore (NUS) bidang Kajian Melayu tak serta merta membuat putra Muhammadiyah ini lupa dengan tanah air. Selama menyelesaikan tesis dan disertasinya, penulis novel Kembara ini terus menggali sejarah Islam dan peradaban dunia di nusantara. Pemikiran-pemikirannya terhadap perkembangan Islam di nusantara  menjadikannya terkenal dengan julukan pemuda pemikiran moderat. Dipercaya sebagai Asisten Staf Khusus Bidang Kegamaan Internasional, Pradana berharap dapat mengemban kepercayaan ini dengan sebaik-baiknya. “Karena ini amanah, maka saya berharap bisa menyelesaikan tugas ini hingga selesai,” pungkasnya. (nis/sil)

Ajarkan Tari Tradisional, Mobil Kaca UMM Tanamkan Anak Cinta Budaya dan Sejarah Indonesia

Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengaspal Kamis (26/7). Kali ini, mobil pintar mengajak anak-anak siswa SDN Wiyurejo 2 Pujon Kabupaten Malang untuk mecintai budaya, terutama tari tradisional. Dibawah bimbingan Venska Natasha Olivia peraih Runner Up 2 pada ajang pemilihan Joko Roro Kabupaten Malang tahun 2018, puluhan anak menari dengan gemulai. Venska yang jago menari, mengajarkan teknik-teknik dasar Tari Gading Alit dan Tari Topeng Bapang yang merupakan tari asli Malang. Meski tidak mudah, mahasiswa  Program Studi Ilmu Hukum UMM ini mengaku senang melihat antusias anak-anak yang cukup tinggi. “Ini sangat  menyenangkan melihat anak-anak sangat bersemangat, tapi memang harus sabar menghadapi anak  kecil. Dari tari tradisional pasti ada ilmu dan sejarah yang bisa kita petik dan gunakan di kehidupan, jadi bagaimanapun anak-anak harus tetap melestarikan budaya bangsa sendiri,” ujar Duta Budaya Indonesia dalam Tong Tong Fair di Belanda tersebut. Bekerjasama dengan kelompok KKN 108 UMM dengan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Luluk Dwi Kumalasari yang merupakan Dosen Sosiologi UMM, Mobil KaCa juga  mengadakan berbagai kegiatan lain. Sekretaris Desa Wiyurejo Muhammad Wahib merasa senang dengan kedatangan Mobil KaCa yang menjadi angin segar bagi masyarakat di tempatnya. “Dari dulu belum pernah, baru ini ada kegiatan seperti ini. Desa sudah mencoba memfasilitasi perpustakaan desa tapi ya minim karena tidak jemput bola. Tapi kalau dengan mobil pintar seperti ini anak lebih tertarik apalagi ada hiburan film,  permainan tradisional dan lain-lain. Alhamdulillah masyarakat sangat menyambut baik,” urai Wahib. Mengusung konsep “Fun Education”, mahasiswa KKN 108 UMM mencoba menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada anak-anak lewat berbagai kegiatan seperti membaca, menonton film hingga merasakan permainan tradisional. Wakil Koordinator Desa KKN 108 UMM Eka Aprilda Astrid menyampaikan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pada anak-anak dan masyarakat bahwa membaca itu penting. “Kegiatan ini bertujuan untuk menarik minat baca anak-anak disini dan untuk mendukung karakter mereka, karena disini minat baca masih kurang,” ujar Astrid, yang juga merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM tersebut. Fahma salah satu siswi kelas 4 SDN Wiyurejo 2 Pujon sangat senang mendapat kesempatan belajar menari dengan Venska. Apalagi kedua tari tersebut merupakan tari kesukannya.  “Itu kan tari favorit saya, jadi senang sekali,” ujarnya gembira.