Mahasiswa UMM Ajak Anak Tingkatkan Jiwa Kompetisi Hadapi Arus Globalisasi

Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tangga 23 Juli lalu, menjadi satu hari istimewa untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya memperhatikan para generasi penerus bangsa. Hal yang sama dirasakan oleh Kelompok KKN 138 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui semangat untuk meningkatkan kecerdasan dan kreativitas anak-anak di Desa Jugo, Kesamben, Blitar para mahasiswa ini menggelar pemutaran film anak dan berbagai perlombaan bertajuk Arek Jugo Mbois. Koordinator Desa KKN 138 Muhammad Mar’ie Diliyatna menyampaikan, melalui acara ini kelompoknya berharap dapat meningkatkan semangat anak-anak dalam berinovasi. “Tujuan membuat anak semakin cerdas, inovatif dan kreatif agar kelak berguna bagi nusa dan bangsa, dan yang paling penting mereka siap menghadapi globalisasi yang saat ini sangat cepat masuk keberbagai lini, termasuk dalam dunia anak-anak,” ujarnya Kamis (26/7) Rangkaian acara peringatan ini diikuti oleh beberapa SD, mulai dari SDN 02 Jugo, SDN 03 Jugo, SDN 04 Jugo, dan SDN 05 Jugo yang sekaligus menjadi tempat digelarnya acara. Adapun serangkaian agenda yang dilombakan antara lain, lomba mewarnai, hafalan surat pendek, lomba adzan dan lomba permainan tradisional yang dimulai sejak pagi. Acara kemudian ditutup dengan pemutaran film anak dan penyerahan hadiah kepada peserta lomba. Juara Umum jatuh kepada SD Negeri 03 Jugo. Perwakilan Guru SD Negeri 03 Jugo, Febry menyampaikan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN Kelompok 138 UMM. Baginya, rangkaian acara yang digelar dapat menghidupkan jiwa kompetisi mahasiswa, khususnya untuk saling berlomba meraih prestasi. “Saya sangat antusias dengan kegiatan ini yang dapat menumbuhkan semangat anak-anak, terutama dalam meraih prestasi yang cemerlang,“pungkasnya. (Humas UMM)
Belajar Lebih Mudah dengan Aplikasi Beneko Karya Mahasiswa UMM

Perkembangan teknologi menuntut manusia untuk terus beradaptasi. Berbagai aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan, harus selalu bersiap untuk mengikuti perkembangan yang ada. Mempersiapkan diri menghadapi hal ini, mahasiswa Program Studi (Prodi) Civic Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan sebuah inovasi pembelajaran. Dialah Naufal Muhammad Kautsar, mahasiswa yang mengembangkan sebuah aplikasi pembelajaran bagi para pelajar yang diberi nama Beneko yang merupakan singkatan dari nama para anggota tim yakni Ibnu Choirin Tafsirudin, Eko Prasetyo Utomo dan Naufal Muhammad Kautsar. “Saya awalnya tertarik dengan pembelajaran power point presentation berbasis android yang diajarkan di kelas. Kemudian saya tertantang untuk membuat inovasi lain,” jelasnya. Hadir untuk memudahkan para penggunanya, aplikasi ini memiliki berbagai fitur penunjang diantaranya video pembelajaran, e-book hingga fasilitas chat yang bisa digunakan untuk berdiskusi ketika menemui kesulitan belajar. “Saat ini aplikasinya masih dalam proses penyempurnaan biar bisa lebih mudah dipakai di semua jenis telefon pintar,” tambahnya. Meskipun Naufal merupakan mahasiswa Prodi Civic Hukum, namun aplikasi belajar ini tidak hanya memuat pelajaran PPKn saja. Pelajaran lain seperti biologi dan bahasa inggris juga dapat diakses di aplikasi ini. Siap diluncurkan ke publik, rencananya aplikasi belajar Beneko dapat digunakan oleh masyarakat umum mulai Agustus ini. Dr. Nurul Zuriah, M. Si, dosen Civic Hukum UMM menyampaikan bahwa pihaknya tidak berhenti selalu mendorong mahasiswanya untuk bisa menciptakan berbagai inovasi, termasuk dengan hadirnya aplikasi ini. “Awalnya saya berfikir bahwa zaman sudah banyak berubah dan kami harus mulai untuk memperbanyak inovasi khususnya tentang model pembelajaran,” tuturnya. Dengan adanya aplikasi Beneko yang dikembangkan oleh mahasiswanya, ia mengaku bangga bahwa usahanya untuk memancing mahasiswa melakukan inovasi dapat terus diwujudkan. Nurul berharap, lahirnya berbagai inovasi pembelajaran tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Ia mengajak seluruh masyarakat yang peduli dengan model pembelajaran, harus terus berusaha menciptakan kreasi yang sesuai dengan perkembangan jaman. “Kita harus berfikir futuristik. Mempersiapkan segala sesuatunya yang sesuai dengan tantangan masa depan yang akan kita hadapi,” tutupnya. (vin/sil)
Skill dan Attitude Bagus, Waktu Tunggu Lulusan Singkat, Fikes UMM Terus Berkembang
Dewasa ini, fasilitas kesehatan menjadi salah satu kebutuhan primer yang menjadi perhatian utama masyarakat. Tidak hanya sekedar fasilitas yang tersedia, kualitas tenaga medis juga menjadi pertimbangan masyarakat untuk berobat dan melakukan perawatan. Terus berkontribusi memberikan yang terbaik bagi negeri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta mempersiapkan alumni-alumni Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) sebagai tenaga medis profesional untuk turut serta membangun kesehatan bangsa. Juli ini, UMM resmi menindaklanjuti program kerjasama pengiriman tenaga kerja alumni Program Studi (Prodi) Ilmu Keperawatan Fikes UMM di beberapa rumah sakit naungan Mate Care Jepang. Setelah mengikuti kelas persiapan untuk memenuhi standart Bahasa Jepang, pada awal 2019 nanti para alumni Program Studi D3 Ilmu Keperawatan dan S1 Ilmu Keperawatan ini akan bekerja di berbagai rumah sakit mitra Mate Care yang bergerak dalam bidang perawatan lansia. Direktur Mate-Care Jepang Kamimura Yoichiro menyampaikan bahwa saat ini Jepang sedang kekurangan banyak tenaga kerja di beberapa lapangan pekerjaan antara lain bidang keguruan, teknik perkapalan, teknik informatika, pariwisata dan kesehatan. Karenanya, peluang kerja khususnya bagi para alumni Ilmu Keperawatan UMM terbuka lebar. Khusus pada kontrak kerjasama ini, nantinya para alumni Ilmu Keperawatan UMM akan bekerja selama 5 tahun di Jepang dengan gaji sekitar 25 juta/per bulan. Ia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada UMM atas kerjasama ini. Yoichiro mengaku sudah banyak melakukan pertemuan dengan beberapa universitas di Indonesia, namun hanya UMM yang segera dan siap menyambut kerjasama tersebut. “Kami sudah melakukan banyak kerjasama, tapi saya sangat bangga dan kagum dengan kesungguhan UMM dalam mengembangkan peluang pekerjaan bagi alumninya,” ujarnya. Dekan Fikes UMM Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp. Kep.MB menuturkan, dalam menyambut kerjasama ini pihaknya tidak main-main melakukan persiapan, baik secara keilmuan maupun praktek di lapangan. “Kita juga ada mata kuliah Keperawatan Gerontik dan mata kuliah lain yang secara khusus mempelajari tentang lansia,” urainya Selasa (24/7). Selain berharap para alumninya dapat menimba banyak ilmu dan sukses berkarir di Jepang, Faqih secara umum berharap para perawat alumni UMM ini dapat meningkatkan kompetensi setara dengan standar internasional. “Selain bahasa, sebelum bekerja nantinya mereka akan diajari budaya hingga cara penggunaan ala-alat kesehatan berstandar Jepang. Jadi tidak hanya secara keilmuan, mereka juga bisa belajar hal-hal baik yang lain,” tambahnya. Selain Ilmu Keperawatan, Fikes UMM juga terus meningkatkan kualitas alumni nya di Prodi yang lain seperti Farmasi. Pada penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019 ini, UMM kebanjiran peminat pada Prodi ini. “Farmasi yang sekarang sedang booming, jumlah pendaftarnya meningkat tajam. Ini sehubungan dengan hasil Uji Kompetensi Apoteker Indonesia alumni kita yang lulus 96%. Bukan hanya itu, angka kelulusan tepat waktu juga tinggi dan waktu tunggu mencari kerjasanya singkat hanya sekitar tiga bulanan,” tambah Faqih. Di akhir Faqih menyampaikan, melalui berbagai upaya yang dilakukan, Fikes UMM saat ini medapat kepercayaan yang cukup besar dari masyarakat. Hal tersebut tak lain lantaran secara akreditasi fakultas yang terdiri dari Prodi Farmasi, D3 Ilmu Keperawatan, S1 Ilmu Keperawatan dan Fisioterapi ini sudah cukup bagus. Selain itu, berdasarkan evaluasi dari pembimbing praktek di lapangan juga diketahui bahwa lulusan Fikes UMM cukup berkompeten. “Untuk skill, dari evaluasi pembimbing di lapangan mahasiswa-mahasiswa UMM yang praktek di rumah sakit dan puskesmas, secara skil dan attitude bagus. Ini saya kira yang menjadi daya tarik tersendiri,” pungkasnya. (sil)
AIESEC UMM Fasilitasi 22 Mahasiswa dari 12 Negara Belajar Wirausaha dan Mengajar di Malang Raya

Di pertengahan tahun 2018 ini, AIESEC Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kegiatan Exchange Participant Gathering Summer Project. Diikuti 22 mahasiswa yang berasal dari 12 negara yakni Brazil, Tunisia, Algeria, Kenya, Korea Selatan, Hongkong, Tiongkok, India, Ceko, Pakistan, Thailand dan Vietnam, AIESEC UMM membuat dua pilihan program yakni, program entrepreunersh (kewirausahaan) dan education (pendidikan). “Entrepreneurship ini sudah kita laksanakan dari tanggal 25 Juni dan berakhir 8 Agustus nanti. Sedangkan education project dimulai 16 Juli dan berakhir 28 Agustus,” ujar Puspa Pratiwi, Vice President Incoming Global Volenteer (VP IGV) AIESEC UMM. Acara juga diawali dengan sambutan dari Koordinator Program Magang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Nur Widodo yang sangat mengapresiasi keinginan para peserta untuk berbagi ilmu baik di bidang kewirausahaan maupun pendidikan. “Saya harap program ini tidak berakhir disini saja, semoga kita dapat melaksakan program program lain kedepannya. UMM sangat menyambut baik kedatangan kalian semua disini dan kalian bisa datang lagi tahun depan bersama orang asing lainnya,” katanya. Ke 22 mahasiswa tersebut dibagi menjadi dua kelompok, 10 untuk bidang kewirausahaan dan 12 untuk pendidikan. Program entrepreneurship bekerjasama dengan UKM Niki Say UFS dan UKM Aurasufa, sedangkan program pendidikan bekerjasama dengan Kantor Magang FKIP UMM. Untuk program pendidikan, nantinya para mahasiswa ini akan menempatkan di tujuh sekolah yang ada di Malang Raya. Lim Tae Gyun salah seorang peserta asal Korea Selatan yang mengambil program education mengaku antusias dan senang dapat mengikuti kegiatan ini. Selain dapat menambah pengalaman internasional, kegiatan ini juga memberikannya kesempatan untuk bekerjasama dengan orang Indonesia yang ramah, sopan dan mudah bersosialisasi. “Saya mengajar di salah satu sekolah di Batu. Sejauh ini saya tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakan project karena kami saling membantu. Saya sangat senang mengikuti program ini karena dapat memperluas wawasan internasional saya,” pungkasnya. (apn/lus/sil)
Sehat dan Unik, Laboratorium ITP UMM Produksi Mie dan Macaroni Berbahan Umbi Garut

Laboratoroium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Fakultas Pertanian Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tengah mengembangkan berbagai produk inovatif berbasis umbi-umbian. Salah satu produk yang saat ini dikembangkan yakni mie dan makaroni yang terbuat dari campuran tepung singkong dan pati garut. “Mie dan makaroni merupakan jenis makanan yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Trennya terus meningkat. Tapi yang perlu diketahui bahwa mayoritas mie yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia adalah dari tepung terigu yang berasal dari gandum. Sayangnya sampai hari ini seratus persen masih import,” terang Dr. Ir. Damat, MP, Kepala Laboratorium ITP UMM, Jumat (20/7). Disebut dosen Ilmu dan Teknologi Pangan ini, pada tahun 2018 saja, import gandum masyarakat Indonesia diproyeksi sudah mencapai lebih dari 10 juta ton. Indonesia, kata Damat, menjadi importir gandum terbesar kedua setelah Mesir. Bahkan berdasarkan data yang dirilis Departemen Pertanian Amerika Serikat, lima tahun lagi Indonesia diproyeksi akan menjadi importir gandum terbesar di dunia. Untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat, sambung Damat, upaya untuk mengembangkan produk pangan berbasis sumber pangan lokal harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Selain itu, pemanfaatan umbi-umbian untuk mensubstitusi tepung terigu diketahui memiliki nilai potensi nilai ekonomi yang sangat besar. “Berdasarkan data statistik, tren konsumsi tepung terigu gandum dari tahun ke tahun terus meningkat. Katakanlah kalau kita berhasil mengembangkan produk umbi-umbian ini, tidak mesti lima puluh persen, cukup sepuluh persen kita kuasai pasar, nilainya sudah sangat luar biasa besar,” ungkap Damat yang juga menginisiasi roti bebas pengawet ini. Ditilik nilai gizinya, beberapa jenis ubi-ubian seperti ubi jalar, singkong dan umbi garut diketahui memiliki kandungan serat lebih tinggi ketimbang gandum. Selain itu, pada ubi jalar misalnya, diketahui kaya antioksidan, yakni salah suatu senyawa yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh. Sementara itu, tepung terigu mengandung protein khas yang disebut gluten. Protein inilah yang membuat produk roti dapat mengembang baik. Namun bagi sebagian orang, keberadaan gluten ini justru dapat menimbukan efek negatif. Bagi penyandang autisme misalnya, mengonsumsi gluten secara berlebihan membuat pengkonsumsinya hiper aktif. “Selain itu, bagi mereka yang intoleran terhadap gluten, keberadan gluten juga dapat memicu kerusakan jaringan mikrofili pada usus halus yang dikenal dengan penyakit celiac deases. Jika mikrofili rusak, maka absorpsi atau penyerapan makronutrien (zat gizi yang dibutuhkan tubuh, red.) akan terganggu, sehingga dapat berakibat malnutrisi,” terangnya. Kedepan, Lab ITP berencana menindaklanjuti produk ini untuk dikembangkan sebagai produk komersial. Yakni dengan segera membentuk unit khusus di UMM yang menampung segala inovasi dari sejumlah laboratorium yang ada agar bernilai ekonomis. (can/sil)
Perkaya Pengalaman, Para Calon Guru FKIP UMM Magang dan KKN di Thailand

Menjadi salah satu perguruan tinggi dengan sistem pembelajaran modern, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus membangun kerjasama internasional untuk mewujudkan cita-cita sebagai world class university. Kali ini giliran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM melepaskan 52 mahasiswa dari lima program studi yang ada di fakultas tersebut yaitu, Pendidikan Biologi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Civic Hukum) untuk merasakan pengalaman internasional ke Thailand. Jika sebelumnya hanya dikhususkan untuk program magang internasional, saat ini mahasiswa-mahasiswa tersebut juga akan melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Diakui Koordinator Program Magang FKIP Nur Widodo, program ini menjadi langkah FKIP UMM untuk memperluas peluang mahasiswanya untuk memperoleh wawasan global. “Program ini sebenarnya adalah cara kami FKIP untuk memberikan pengalaman internasional student movement sangat kuat,” jelasnya. Megambil tema Memperkuat Rekognisi Internasioanl dan Mengantisipasi Persaingan Global, di Thailand para mahasiswa ini akan disebar di beberapa wilayah di antaranya Bangkok, Satun, Songkhla, dan Krabi. “Saat ini masih di satu negara, Thailand. Tapi kita sudah memiliki rencana untuk mengembangkan ke beberapa negara lainnya,” terang Nur Widodo. Tak hanya melepas mahasiswa untuk melakukan proyek sosial selama satu bulan, pada agenda ini juga hadir sepuluh mahasiswa asing yang tergabung dalam Dream School Project AIESEC UMM. Mahasiswa-mahasiswa tersebut akan melaksanakan program mengajar di beberapa sekolah mitra FKIP di Indonesia. Menurut Nur Widodo, keberangkatan mahasiswa UMM ke luar negeri dan kehadiran mahasiswa asing ke UMM merupakan nilai penting bagi FKIP UMM untuk secara mandiri menginternasionalisasikan diri. “Adanya pertukaran mahasiswa UMM ke luar negeri dan mahasiswa asing ke UMM lewat AIESEC adalah bentuk aktualisasi diri kami (red. FKIP) untuk go internasional,” papar dosen Pendidikan Biologi tersebut. Bekerja sama dengan FKIP UMM, AIESEC UMM turut mendukung program pengabdian internasional yang dicetuskan oleh fakultas tersebut. Salah satu mahasiswa asing Taegyun Lim yang merupakan mahasiswa yang tergabung pada Dream School Project mengaku, keputusannya datang ke Indonesia dan memilih AIESEC UMM untuk menjalanan proyek sosial karena ia ingin dapat mengaplikasikan ilmunya sebagai guru bahasa Inggris ke masyarakat lokal, utamanya di Malang Raya. “Saya memilih proyek di AIESEC UMM karena saya ingin mengajarkan bahasa Inggris dan Korea ke orang-orang lokal di Malang,” terang mahasiswa asal Korea Selatan ini. (nis/sil)
Sepeda Cangkul, Alat Efisien Kurangi Cidera Otot Petani

Melihat banyaknya keluhan di kalangan petani terkait cedera otot yang dirasakan karena aktivitas mengcangkul, Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengeluarkan karya yang diberi nama Sepeda Cangkul Ergonomis. Salah satu anggota kelompok R.Ay Shanty Permatasarimenuturkan, ide awal produk inovasi ini muncul melihat penggunaan cangkul milik petani yang merupakan alat tradisional, kerap menyebabkan sakit otot terutama pada bagian pundak. Berdasarkan riset yang dilakukan kepada para petani, kelompok mahasiswa menemukan fakta bahwa cara membawa cangkul yang harus dipikul dan penggunaan cangkul yang mengharuskan petani membungkuk berkali-kali, memperbesar peluang cidera tersebut. “Kita membuat Sepeda Cangkul yang bisa dibawa juga di tenteng. Ini untuk mengurangi resiko cedera otot,” tutur Santi. Didisain sederhana, pengoperasian alat inovatif ini cukup mudah. Hanya dengan menancapkan mata pisau cangkul di tanah, lalu pengguna dapat mengarahkan cangkulan ke kiri atau ke kanan sesuai dengan keinginnya. Untuk memudahkan gerak sepeda cangkul, terdapat besi yang juga sekaligus berfungsi sebagai pedal. “Jadi bedanya dengan cangkul biasa yang di gunakan petani, Sepeda Cangkul ini tidak perlu diangkat lagi setelah petani melakukan galiannya, cukup di geser saja lalu di gerakan ke kanan dan kiri. Dengan alat ini, produktivitas dalam bidang pertanian dan perkebunan dapat meningkat,” katanya. Santi menguraikan Pembuatan Sepeda Cangkul ini memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak dipakai, utamanya di bagian setir yang dikreasikan sedemikian rupa menggunakan baja yang ukurannya lebih besar. Sementara lempengan di bagian bawah yang telah disesuaikan bentuknya, berguna untuk menyingkirkan tanah ketika Sepeda Cangkul ini sedang beroperasi. Sepeda Cangkul karya Ricca Andhini Octaria, Hendy Arno Yulianto, R.Ay Shanty Permatasari, Asrorudin dan Mahmud Adam merupakan salah satu inovasi mahasiswa UMM ini merupakan hasil dari Mata Kuliah Pengembangan Produk. Dalam mata kuliah ini, kreativitas dan keilmuan mahasiswa diuji. Mereka harus menghasilkan sebuah produk yang bertemakan kebutuhan difabel dan pertanian. Produk lain yang juga dihasilkan mahasiswa antara lain, Kacamata Sensor Tuna Netra (Kasentra), Mesin Cuci Gowes, dan Screentel Padi. (sal/sil)
UMM Dipercaya Gelar Semiloka Kurikulum Kehutanan

Diresmikannya program Perhutanan Sosial oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KemenLHK) memberikan angin segar bagi masyarakat. Sekalipun kendala masih sering ditemui, program ini terus dijalankan untuk menargetkan perluasan lahan hutan di Indonesia. Salah satu sarana penyampaian kendala dan gagasan untuk penyempurnaan program ini adalah Semiloka yang dilaksanakan oleh Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Kehutanan (FOReTIKA). Menggandeng beberapa perguruan tinggi, FOReTIKA melaksanakan agenda ini dua kali dalam setahun. Kali ini Universitas Muhammadiyah Malang terpilih sebagai tuan rumah. Bukan tanpa alasan, selain sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Program Studi Kehutanan UMM juga telah dipercaya untuk mengelola kawasan hutan yang dihibahkan oleh KemenLHK beberapa waktu lalu. “Pada semiloka ini Kehutanan UMM patut berbangga sebagai tuan rumah karena hal tersebut dapat menjadi sarana untuk UMM unjuk gigi kepada para stakeholder,” terang Tatag Muttaqin yang kini menjabat sebagai Ketua Program Studi Kehutanan UMM. Acara yang berlangsung sejak Rabu sampai Sabtu (18-21/7) ini akan melahirkan penyempurnaan kurikulum kehutanan pada beberapa aspek. Dipaparkan oleh Ketua FOReTIKA Rinekso Soekmadi, semiloka ini akan menghasilkan rumusan dan acuan tentang kehidupan kehutanan yang ditujukkan kepada pemerintah. “Hasil dari semiloka ini akan dirumuskan sebagai upaya FOReTIKA memberikan panduan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan tentang kehutanan,” jelas dosen Program Studi Manajemen Ekowisata Dan Jasa Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut. Tidak hanya menghadirkan FOReTIKA, agenda yang berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM ini juga menghadirkan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KemenLHK Bambang Supriyanto. Pada sesi paparannya, Bambang menyampaikan tentang perkembangan program Perhutanan Sosial yang juga membutuhkan keterlibatan lebih para akademisi untuk menciptakan sumber daya manusia yang melek literasi kehutanan. “Forum ini adalah sarana bagi saya untuk berdikusi langsung bersama para akademisi tentang perkembangan dan keberlanjutan program Perhutanan Sosial,” ungkapnya. Di akhir sesi paparan pertama, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) KemenLHK Helmi Basalamah menambahkan bahwa salah satu program yang dpat dijalankan oleh perguruan tinggi untuk mendukung program Perhutanan Sosial adalah diselenggarakannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang berfokus pada pelestarian hutan di sekitar lingkungan wilayah KKN. “Bagi saya KKN Tematik itu bisa jadi langkah konkret bagi perguruan tinggi untuk berpartisipasi dalam peningkatan program Perhutanan Sosial,” terang Helmi. Helmi melanjutkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang melek akan kehutanan. Harapannya, sebagai akademisi yang dipercaya oleh masyarakat,perguruan tinggi melalui Program Studi Kehutanan dalam membantu BP2SDM dalam penyelenggaraan sumber daya manusia yang memadai. Rektor UMM Fauzan mendukung penuh terselenggaranya program Semiloka ini sebagai pemantik semangat para akademisi UMM utamanya di Program Studi Kehutanan agar semakin mantap melahirkan generasi kehutanan yang selama ini sering distigmakan sebagai tukang kayu. “Mahasiswa kehutanan itu tidak bisa dianggap remeh, mereka adalah pemegang estafet keberlangsungan kehidupan manusia saat ini,” dukung Fauzan. (nis/sil)
Prodi Pendidikan Profesi Insinyur UMM Siap Sambut Mahasiswa Baru 2018/2019

Mencetak tenaga kerja profesional yang diakui dalam skala nasional dan internasional, menjadi tujuan dari Program Studi Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019, PSPPI UMM melakukan berbagai persiapan mulai dari kertersediaan tenaga pengajar profesional, kurikulum pengajaran hingga fasilitas pendukung perkuliahan. Tatag Muttaqin, S.Hut., MSc., IPM salah satu dosen dan staf pengajar PSPPI menyampaikan bahwa pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini pihaknya sudah siap menerima mahasiswa baru. “Kalau tahun ini mulai ada yang ingin mendaftar ke PSPPI, kami siap menerima,” jelasnya, Rabu (18/7). Untuk bisa mendaftar sebagai mahasiswa program ini Tatag menambahkan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satu diantaranya adalah setiap calon mahasiswa PSPPi harus sudah pernah bekerja terlebih dahulu minimal selama satu tahun. “Misalkan ada mahasiswa sarjana baru lulus, itu tidak bisa langsung mendaftar untuk program profesi insinyur,” tambahnya. Setelah menyelesaikan studi selama dua semester, nantinya lulusan dari PSPPI akan memperoleh sertifikat tenaga professional, seperti National Registered Engineer (NRE), Asean Chartered Professional Engineer (ACPE), Registered Foreign Professional Engineer (RFPE) atau Asia Pacific Economi Cooperation Engineer (APECEng). Nantinya, berbagai sertifikat tersebut akan menunjang karir para alumni PSPPI UMM. “Tenaga profesional dengan sertifikat tersebut sangat dibutuhkan perusahaan-perusahaan dengan level nasional maupun internasional,” tandas Tatag. Sebelumnya, Januari lalu tiga dosen dari prodi Kehutanan UMM telah dikukuhkan menjadi Insinyur Profesional Madya (IPM) dan Insinyur Profesional Utama (IPU) oleh Dr. Ir. A. Hermanto Dardak MSc., IPU, selaku Ketua Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Bersama dengan 14 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang lain, UMM langsung bersinergi dengan Badan Kejuruan Teknik Kehutanan (BKTHut) sebagai salah satu dari 19 badan kejuruan dibawah Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Dengan pengukuhan tersebut, ketiga dosen UMM yakni Insinyur Joko Triwanto, MP., IPU, Dr. Insinyur Nugroho Tri Waskito, MP., IPM, dan Tatag Muttaqin, S.Hut., MSc., IPM, telah siap mengawal PSPPI di UMM. (vin/sil)
Begawan Linguistik Indonesia Seru Akademisi UMM Lestarikan Tata Bahasa Indonesia

Bahasa yang selalu berkembang menjadikan salah satu rumpun ilmu ini tidak pernah selesai untuk dipelajari. Bagi Prof. Rustono, salah seorang begawan linguistik Indonesia, mempelajari bahasa tidak ada batasnya. “Belajar tentang bahasa tidak pernah cukup dalam satu jenjang pendidikan,” tutur pria kelahiran Brebes tersebut. Di tengah maraknya pembuatan konten sebagai salah satu profesi di era modern ini, dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini menyebutkan bahwa siapapun yang bekerja atau belajar dalam lingkup bahasa harus memahami secara cermat bahasa tersebut. “Menjadi pelaku dalam disiplin bahasa tidak hanya melulu membutuhkan pemahaman dari sisi konteks, namun juga harus dipahami dalam kaidah tata bahasa,” ujar mantan Ketua Program Studi Pendidikan dan Bahasa Pascasarjana (PPs) UNNES ini. Dalam paparannya pada agenda dialog pakar dengan tema Pragmatik dalam Dinamika Sosiokultural di Era Revolusi Industri di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (17/7), Pembantu Rektor Bidang Akademik UNNES ini memberikan salah satu contoh kesalahan penggunaan istilah yang sering digunakan mulai dari acara tingkat nasional hingga masjid di desa-desa. Istilah tersebut ada pada teks doa yang berbunyi “Ampunilah dosa-dosa kami”. “Ada satu ungkapan yang kesalahannya mulai tingkat nasional hingga wilayah desa yakni pada ungkapan ‘ampunilah dosa-dosa kami’,” kata pria yang akrab disapa Prof Rus ini. Menurutnya pada ungkapan tersebut berarti yang diampuni oleh Tuhan adalah kita sebagai individu atau manusia atas dosa-dosa yang telah diperbuat, bukan dosa-dosa kita sehingga ungkapan tersebut menjadi lebih tepat jika “ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat”. “Jika kita telaah kembali, maka ungkapan yang benar adalah ‘ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah aku perbuat’,” terangnya. Selain membahas beberapa istilah yang kurang tepat, penulis buku Pokok-pokok Pragmatik ini juga mengajak seluruh akademisi untuk benar-benar menyadari penggunaan bahasa yang benar. Ia pun menegasakan bahwa menggunakan bahasa sesuai dengan tata bahasa, tidak akan menjadikan komunikasi terasa kaku. Hal ini justru akan menghindari kesalahpahaman. “Bahasa itu ilmu yang sangat sulit dipelajari. Maka merupakan hal yang sangat luar biasa jika kita bisa menaklukkan bahasa itu sendiri,” lanjutnya. Kehadiran salah satu pakar Bahasa Indonesia dibidang Pendidikan Bahasa Indonesia, Pragmatik, Sintaksis, dan Morfologi ini diapresiasi setinggi-tingginya oleh Rektor UMM Fauzan. Ia pun berpesan agar para peserta yang hadir dapat mengambil banyak ilmu dari acara ini. “Anda semua yang hadir di sini sangat-sangat perlu bersyukur. Sangat jarang sekali pakar seperti Prof Rus ini hadir membagikan ilmunya,” jelas Fauzan. (Nis/Sil)