UMM dan Singapore Polytechnic Kreasikan Project Out of The Box

SATU pekan sudah 56 peserta Learning Express (LEx) dari Singapore Polytechnic (SP) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dalam penyelesaian masalah di unit usaha masyarakat Desa Temas Kota Batu. Hari ini, Selasa (20/3) 56 peserta yang terbagi dalam empat kelompok menghadiri Gallery Work sebagai rangkaian terakhir dari kegiatan LEx. Gallery Work yang juga sebagai Closing Ceremony Learning Express Malang ini memfasilitasi peserta untuk menampilakan hasil projek dalam bentuk prototype. Dalam menciptakan produk atau program, peserta LEx yang terbagi menjadi empat kelompok ini lebih dulu menggali informasi tentang unit usaha melalui observasi. Informasi ini dibutuhkan guna merumuskan suatu program atau produk dengan tepat sesuai apa yang menjadi kebutuhan unit usaha milik masyarakat. Keempat kelompok LEx ini masing-masing melakukan observasi ke empat unit usaha masyarakat, yaitu usaha lontong, bakso, bumbu masakan, dan buah apel. Dari observasi dan diskusi dengan pemilik usaha, peserta LEx kemudian merumuskan ide dan projek yang efektif dan efisian dalam penyelesaian masalah. Ide-ide ini selanjutnya dituangkan dalam prototype. Asisten Rektor Bidang Kerjasama UMM, Soeparto, mengaku LEx merupakan kegiatan yang penting untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa kedua perguruan tinggi. Selain memperoleh international exposure, peserta akan belajar berpikir out of the box. “LEx ini akan mengajarkan banyak hal tentang pengetahuan, teamwork, menciptakan inovasi untuk kepentingan masyarakat. Selain itu mahasiswa juga belajar hal-hal baru dan melatih pola pikir yang berbeda dari kebanyakan orang,” terang Soeparto. Sejalan dengan harapan yang diungkapkan Soeparto, peserta LEx membuktikan hasil prototipe yang dipamerkan dalam Gallery Work merupakan produk-produk yang inovatif dan out of the box. Produk-produk tersebut antara lain Apple Box yang didesain kedap udara sehingga tidak membuat apel busuk, alat mencetak bakso untuk menghasilkan bakso dengan ukuran yang sama karena selama ini pemilik usaha bakso masih mencetak bakso dengan cara yang manual sehingga ukuran bakso seringkali berbeda. Adapun kelompok Lontong menciptakan Rantang Lontong, Pulley System dan Centong Maker. Rantang Lontong dan Pulley System ini merupakan inovasi keranjang pada panci pembuat lontong untuk memudahkan pemilik usaha saat memasak lontong. Sementara itu, ada pula Centong Maker yang didesain untuk memudahkan mencetak lontong, dan meminimalisir beras yang berceceran pada saat membuat lontong secara manual. Kemudian kelompok seasoning (bumbu) menciptakan Mixing Machine dan Handcrafted Handbag. Mixing Machine atau mesin pengaduk ini dirancang untuk memberikan kemudahan kepada pemilik home industri Koki Hoki. Melalui observasi, Innayatul Robaniah salah satu anggota kelompok seasoning mengungkapkan bahwa kebersihan merupakan alasan utama tercetus ide ini. “Jadi pemilik usaha masih menggunakan tangan dalam mengaduk bumbu-bumbu. Hal ini membutuhkan proses yang lama, selain itu juga kurang higienis. Mixing Machine ini untuk mempercepat dan menjaga kebersihan selama proses produksi,” ungkap mahasiswa UMM yang kerap disapa Naya ini. Sementara projek kedua, kelompok Seasoning berinovasi dalam menciptakan kerajinan berupa produk-produk tas melalui limbah plastik bekas. Naya menambahkan melalui mixer dan kerajinan limbah plastik, pemilik usaha selain hemat waktu dan higienis dalam proses produksi namun juga memperoleh tambahan pendapatan melalui penjualan olahan limbah plastik. Salah satu peserta Vincent Koh Wei Jie dari SP memyampaikan sangat senang dan bangga dapat mengikuti program ini. Ia merasa banyak manfaat yang didapat pada acara ini, terutama tentang teamwork. “Kita dituntut untuk bisa kerjasama dengan baik dengan anggota team. Kalau ada kesempatan lagi, saya mau datang lagi ke Indonesia. Orang Indonesia baik,” tandasnya. (nim/lus/sil)
KKN Internasional UMM 2018, Siap Kenalkan Budaya dan Pariwisata Indonesia

KESEMPATAN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk merasakan iklim belajar internasional sangat luas. Berbagai kerjasama internasional yang dijalin pihak universitas memperbesar peluang ini. Salah satu yang dapat diikuti yaitu program dari Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales UMM (AIESEC UMM) yakni Global Volunteer yang merupakan program tahunan AIESEC UMM yang bertujuan untuk menggalakan kegiatan sosial di luar negeri. Menariknya kini Global Volunteer yang diselenggarakan oleh AIESEC UMM dapat diekuavalensikan menjadi nilai Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk para pesertanya. Program tersebut bernama KKN Internasional. Wakil Direktur II Bidang Pengabdian Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM, Dr. Masduki, M.Si., memaparkan hal ini merupakan bentuk apresiasi universitas terhadap mahasiswa yang berkegiatan di luar negeri, tentunya dalam aspek sosial dan pengabdian masyarakat. Selain itu program ini memberikan pilihan terhadap mahasiswa dalam menjalankan perkuliahan terutama untuk pelaksanaan KKN. “Selain seleksi yang ketat, ada beberapa misi yang harus dibawa mahasiswa peserta KKN Internasional, yakni memperkenalkan budaya, pariwisata dan tentunya UMM di dunia Internasional,” jelas Masduki. Perlu diketahui bahwa pelaksanaan KKN International UMM terbuka untuk mahasiswa dari berbagai program studi. Sama halnya dengan KKN di Indonesia, KKN International juga dilaksanakan selama satu bulan. Untuk dapat menjadi peserta KKN International, tidak ada kuota spesifik yang ditentukan. “Kami lihat animonya, tidak ada kuota khusus. Karena nantinya mereka tetap harus menjalani seleksi dulu,” pungkas Masduki. Vice President Outgoing Global Volunteer AIESEC UMM, Ika Risna, menambahkan nantinya peserta KKN Internasional akan disebar ke negara Thailand untuk menyelenggarakan kegiatan sosial di kota tujuan mereka. “Untuk jumlah kelompok di setiap kotanyanya tidak akan sama karena setiap kota memiliki masalah sosial budaya yang berbeda-beda. Dan setiap masalah membutuhkan solusi yang berbeda agar tepat sasaran dan efisien,” ujar Ika. Menetapkan negara Thailand sebagai lokasi KKN, Ika mengaku telah mempertimbangkan hal tersebut dengan matang,salah satunya mengingat bahwa biaya hidup di Thailand relatif lebih murah dibanding dengan negara-negara lain di Asia. Disamping itu ada sebuah projek tentang pendidikan yang dapat mengembangkan skill mahasiswa UMM. Ketika berada di Thailand, peserta KKN International UMM akan melaksanakan project tentang Quality Education Sdgs 4 dengan nama projek Sawasdee. “Bisa buat negara di Asia dan Eropa, tapi memang yang kita suggest atau prioritasnya yang living cost nya murah dan project nya bagus seperti Sawasdee Thailand Project ini,” ungkap Ika. Meski begitu, Ika menjelaskan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan jika nantinya ada peserta yang memilih negara lain untuk KKN seperti Turki, Ukraina atau Polandia. (iel/sil)
LEx UMM Feat Singapore Polytechnic Selesaikan Problem Usaha Lokal

KERJASAMA yang dibangun antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Singapore Polytechnic (SP) sejak tahun 2014, terus gencar untuk membangun kualitas sumber daya manusia melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Dibalut dalam program Learning Express (LEx), mahasiswa UMM berkolaborasi bersama mahasiswa SP melalui pengembangan pembelajaran Design Thinking (DT). DT merupakan metode yang berfokus pada penyelesain masalah yang digali melalui observasi lapangan dan berorientasi pada terciptanya produk atau program. Pada LEx angkatan 2018 ini, mahasiswa UMM dan SP tersebar di beberapa unit usaha masyarakat yang ada di Desa Temas Kota Batu. Menurut Ambika Putri Co-Facilitator LEx, angkatan pertama tahun ini diikuti oleh 56 peserta, yakni 28 dari UMM dan 28 dari SP. Mereka dibagi menjadi empat kelompok. Jumlah ini bertambah dari angkatan sebelumnya, dengan tujuan agar program yang diciptakan lebih banyak, fokus serta dapat segera diaplikasikan di desa tempat observasi. “Ini ditujukan agar hasil kerja kita lebih maksimal sehingga dapat menyelesaikan banyak problem dan segera diaplikasikan di desa,” ungkap Ambika. Rangkaian kegiatan dibagi menjadi enam tahapan yang merupakan tahapan dari metode DT, yakni Sense and Sensibility, Define, Ideation, Prototyping, Co-Creation, dan Gallery Walk. Kegiatan-kegiatan tersebut akan diikuti oleh peserta mulai 11 Maret hingga 22 Maret. “Seluruh mahasiswa akan melewati enam tahap yang merupakan tahapan dari design thinking itu sendiri,” jelas Ambika. Pada tahapan Sense and Sensibility dan Define, mahasiswa turun ke lapangan lalu bersama masyarakat melakukan rembuk untuk membuat outline dari problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Pemandangan unik pun muncul saat mahasiswa asing bersama masyarakat, turun ke lapangan seperti pergi ke pasar tradisional lalu ikut menjajakan dagangan. Tan Zhi Yuan (Luke) salah satu mahasiswa SP menyatakan bahwa pengalaman istimewa ini dapat mengenalkannya lebih dengan kehidupan masyarakat setempat. “Kegiatan ini unik dan seru soalnya mahasiswa asing bisa ikut jualan dan lebih dekat dengan masyarakat yang jadi tempat observasi, juga mengetahui budaya masyarakat di sini,” jelas mahasiswa Akuntasi tersebut. Selanjutnya, pada tahapan Ideation dan Prototyping mahasiswa akan kembali ke kampus dan merancang ide dan menciptakan alat yang dapat menuntaskan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pada proses ini mahasiswa akan mulai berdiskusi secara intensif bersama kelompok masing-masing. Salah satu kelompok bernama Tim Bakso menciptakan alat bernama Express Bakso Machine. Alat ini diciptakan untuk menjawab keresahan para pedagang bakso yang mengaku tidak dapat memproduksi bakso dalam jumlah banyak dalam waktu singkat sedangkan permintaan konsumen sangat tinggi. Hesti Mirandah mahasiswa UMM yang juga merupakan salah satu anggota Tim Bakso menyampaikan, alat yang dibuat bersama mahasiswa SP ini sudah disetujui dan sesuai dengan kebutuhan pemilik usaha Bakso di Desa Temas. “Alat yang kita presentasikan ini sudah dilihat dan disetujui oleh pemilik usaha. Bahkan beliau sangat senang melihat alat yang kami buat ini,” jelas Hesti. Diakhir, sebelum melaksanakan Gallery Walk mahasiswa akan melaksanakan ¬Co-Creation yaitu kegiatan mempresentasikan ide atau alat yang sudah diciptakan ke masyarakat di desa observasi. Menurut Supriyatin Ketua PKK RT 01 Desa Temas program LEx adalah program yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di Temas. “Warga selalu nunggu kehadiran mahasiswa UMM dan Singapura itu untuk bisa menyumbangkan ide atas masalah usaha mereka,” tegas Supriyatin. Program Lex diadakan sekali dalam setiap semester. Pada Kamis (22/03) nanti, akan digelar Gallery Walk di Aula BAU UMM sebagai penutup acara dimana para peserta akan mempresentasikan hasil. (nisa/sil)
Unik, Ini Manuver UMM Suburkan Jiwa Entrepreunership Mahasiswa

SEBAGAI perguruan tinggi swasta di bawah naungan Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dituntut untuk dapat mandiri dalam operasional kampus. Karena hal itu lah UMM berinisiatif untuk membentuk unit-unit usaha yang nantinya akan ikut menyokong universitas dari segi pendanaan dan meringankan SPP mahasiswa. Saat ini ada 12 unit usaha yang sudah dimiliki oleh UMM dan terus dikembangkan. Uniknya, nuansa entrepreunership yang dibangun UMM untuk kemandirian lembaga juga ditularkan kepada mahasiswanya. Masih dalam misi UMM Pasti yang digelakkan Rektor UMM Fauzan yakni Pasti lulus 4 tahun, Pasti Bekerja dan Pasti Mandiri kali ini UMM bermitra dengan mahasiswanya. Ya. Baru-baru ini, UMM secara profesional bermitra dengan mahasiswanya untuk mengembangkan salah satu unit usaha, UMM Inn. Pada Kamis (15/3) UMM Inn resmi melaunching Ruang 2.0 Coffee & Library di halaman depan hotel UMM Inn. Grand Opening kafe yang memiliki konsep library atau perpustakaan tersebut berlangsung meriah bersama penampilan band-band dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Band Mahasiswa (IKABAMA UMM). Langkah ini dinilai strategis, mengingat maraknya trend “ngopi” menggunakan manual brew (penyeduhan kopi secara manual) yang saat ini marak di Indonesia khususnya di Kota Malang. Wakil Rektor II UMM, Nazaruddin Malik memaparkan selain sebagai pengembangan unit usaha, terobosan ini juga menjadi bentuk dukungan UMM kepada mahasiswa yang berwirausaha. Dua orang owner dari Ruang 2.0 Coffee & Library merupakan mahasiswa UMM yang sukses mengembangkan cafe tersebut dari nol. “Hal ini kami lakukan karena UMM sangat mendukung dan siap membimbing mahasiswa untuk berwirausaha dan membesarkan usahanya,” tegas Nazaruddin. Owner dari Ruang 2.0 Coffee & Library, Andi Ardiansyah dan Egy Prawigit mengaku tidak menyangka dapat bekerjasama dengan kampus mereka sendiri. “Kami menawarkan konsep cafe dan perpustakaan karena kami mendukung gerakan literasi juga. Sangat tidak menyangka hal tersebut bisa menarik hati UMM, ini adalah salah satu pencapaian besar kami,” jelas Ardi, yang juga merupakan owner dari Ruang 1.0 Coffee yang berlokasi di Jl.Sidomakmur Dau – Malang. Rencananya Ruang 2.0 Coffee & Library akan beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 – 00.00 WIB. Selain pengembangan hotel UMM Inn yang melibatkan mahasiswa, nantinya UMM akan kembali membangun Taman Rekreasi Sengkaling dan membangun Youth Corner. Youth Corner ini yang nantinya akan berfungsi sebagai lokasi mahasiswa menjalankan wirausahanya, tentunya dengan biaya sewa yang gratis. (iel/sil)
Intens Pelajari Perawatan Khusus Lansia, Ners UMM Go Internasional

KETRAMPILAN mumpuni yang dimiliki oleh mahasiswa Profesi Ners tidak saja didapat melalui kegiatan perkuliahan dan praktik. Lebih dalam, dibutuhkan pengalaman internasional dalam membekali mahasiswa Profesi Ners untuk menjadi perawat profesional yang handal dan cakap. Sejalan dengan hal tersebut, Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja menorehkan prestasi dikancah internasional, yakni empat mahasiswanya berkesempatan menjajal Program Training Keperawatan Lansia di Taiwan. Kesempatan emas ini tidak datang begitu saja. Ke empat mahasiswa UMM harus mengikuti seleksi sebelum akhirnya dinyatakan layak merasakan pengalaman internasional tersebut, yakni seleksi pemberkasan dan interview. Dari 28 mahasiswa se Indonesia yang lolos, empat diantaranya berasal dari UMM yaitu Bagus Candra Buana, Deby Agustya Widyasuci, Intan Kurniaty dan Lutfi Nurina A. Abdullah. Faqih Ruhyanudin, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.KMB. selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan mengaku program ini dapat memantapkan pengetahuan, skill dan pengalaman mahasiswa Ners UMM khususnya terkait perawatan pada lansia. “Selain perawat UMM dapat Go Internasional, program ini juha dapat meningkatkan pengetahuan dan skill dalam perawatan lansia,” ujar Faqih. Sejalan dengan Faqih, Dosen Fikes UMM Ns. Zaqqi Ubaidillah, M. Kep., Sp. Kep, MB menyampaikan hadirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga menuntut lulusan profesi perawat tidak hanya mumpuni, namun juga dapat bersaing dikancah Internasional. “Ners UMM dapat bersaing dengan perawat-perawat di Asia karena adanya MEA dan juga saat mereka kembali ke Indonesia dapat memajukan keperawatan utamanya dalam perawatan lansia,” tukas Zaqqi. Program Training Keperawatan Lansia di Taiwan merupakan program dari National Taiwan University for Nursing and Health Science (NTUNHS). Berangkat pada (25/3) minggu depan, selama sepuluh bulan para peserta yang merupakan mahasiswa ners akan training di Eldery Care. Tidak hanya memperoleh pengalaman internasional, mereka juga memperoleh fasilitas tempat tinggal secara gratis, pelatihan bahasa Mandarin serta penghasilan sebesar 20.000 NTD/bulan. Bagus Candra Buana salah satu peserta yang lolos seleksi mengaku bangga dapat membawa nama UMM dikancah Asia. Ia pun mengaku siap berbagi ilmu dan pengalaman yang nantinya akan didapat kepada teman-teman sejawatnya. “Alhamdulillah saya sangat bangga dan bersyukur sekali. Nanti semoga ilmu nya bisa saya terapkan di Indonesia khususnya teman-teman sesama perawat,” tutupnya bangga. (nim/sil)
Inovatif, UMM Siap Bekali Mahasiswa FAI Sertifikasi Penerjemah TKI

KEKERASAN yang terjadi menimpa para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ditempat rantau kian memprihatinkan. Beberapa penganiayaan yang dilakukan oleh majikan ini disebabkan perbedaan budaya, latar belakang, serta bahasa. Tak bisa dipungkiri, banyak TKI yang pergi merantau di negara lain tanpa dibekali dengan skil yang memadai. Akibatnya sering terjadi perselisihan antara majikan dan TKI yang berbuntut pada penganiayaan. Menyadari hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Agama Islam (FAI) tengah merumuskan program sertifikasi trainer untuk penerjemah TKI dan Tenaga Kerja Wanita (TKW). Kepala Prodi PBA Ahmad Fathoni Lc MAg menjelaskan sebelumnya prodi PBA UMM telah memiliki mata kuliah Bahasa Arab untuk Haji dan Wisata. Seiring berjalannya waktu, bersama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UMM tercetus ide memperluas mata kuliah Bahasa Arab untuk TKI. “Nantinya mahasiswa akan menjadi trainer pelatihan Bahasa Arab untuk calon TKI khususnya negara-negara di Timur Tengah,” ungkap Fathoni. Fathoni menambahkan PBA sudah mempunyai bekal untuk merealisasikan program ini yaitu modul Bahasa Arab yang dapat menjadi buku saku untuk para TKI. Didalam modul, Bahasa Arab yang diajarkan adalah Bahasa Arab formal dan non formal. Lebih dalam, modul ini juga dilengkapi dengan contoh-contoh percakapan aktivitas keseharian, seperti dialog untuk supir tentang bagaimana cara membuka pintu mobil, bagaimana dialog jika majikan ingin mampir ke swalayan, dan berbagai kosa kata Arab lainnya. “Kita bekali tidak hanya Bahasa Arab yang baku tapi juga bahasa Arab yang digunakan keseharian. Karena ketidakpahaman terhadap bahasa itu kadang yang membuat majikan mereka berbuat semaunya, ada kesenjagan dari segi bahasa,” tutur Fathoni. Kedepannya Fathoni dan tim akan membangun jaringan atau kerjasama dengan Penyalur Jasa TKI (PJTKI) di Indonesia sehingga program ini bisa berjalan dengan sistematis. “Harapan saya adanya program ini bisa menjadi bekal untuk para TKI. Kemudian dengan modal kebahasaan ini setidaknya dapat mengurangi perlakuan diskriminatif yang diterima tenaga kerja Indonesia,” tutup Fathoni. (nim/sil)
Perdana di Pulau Jawa, Mobil Kaca UMM Beri Surprise SD Muslimat NU 1 Sukun

PERDANA, Mobil Pintar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang disebut dengan Mobil Kamis Membaca (KaCa) untuk pertama kalinya memulai perjalanan di Pulau Jawa. Kali ini Mobil KaCa mengunjungi SD Muslimat NU 1 Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Sebanyak 78 peserta dari siswa kelas 4, 5, dan 6 menyambut kedatangan Mobil KaCa dengan antusias. Koordianator Bidang Kesiswaan SD Muslimat NU 1 Sukun, Sudarti menyampaikan pihaknya sangat senang dengan kedatangan Mobil KaCa UMM. Tidak sekedar membangkitkan literasi siswanya, Mobil KaCa juga memancing siswa untuk terlibat dan berinteraksi dengan masyarakat ekternal, dalam hal ini para mahasiswa dan tim Mobil KaCa dari UMM. “Dengan ini anak yang tadinya hanya berdiam diri di rumah, istilahnya anak mama, dapat belajar berinteraksi. Mobil KaCa UMM membantu sekolah untuk mengajarkan anak-anak terjun ke masyarakat dan ini positif sekali,”tambahnya. Sudarti melanjutkan dirinya mengaku surprise dengan konsep yang dibawa Mobil KaCa. Tadinya ia menyangka, mobil tersebut sama dengan mobil perpustakaan keliling yang lain. “Kami sempat berfikir ini apakah seperti yang di perpus keliling gitu. Ternyata berbeda, ada kegiatan yang bukan hanya membaca tapi juga membangkitkan anak-anak untuk berkreasi,” ujar Sudarti. Sementara itu, ungkapan apresiasi terhadap kegiatan Mobil KaCa juga disampaikan oleh Muhammad Hanani selaku guru Pendidikan Agama Islam SD Muslimat NU 1 Sukun. Melalui fasilitas yang tersedia di Mobil KaCa, Hanani mengungkapkan bahwa banyak manfaat positif yang diperoleh siswanya. “Bimbingan kepada anak-anak ini sangat menarik. Utamanya untuk sekolah-sekolah yang membutuhkan literasi. Saya ucapkan terima kasih kepada UMM yang sudah memberikan fasilitas seperti ini,” pungkas Hanani. Mobil KaCa mencerna baik slogan UMM Dari Muhammadiyah untuk Bangsa. Melalui program K-A-N-C-A-N-E yaitu Kepo (Ketahui Potensimu), Ayo Dolanan, Nandur, Coto (Konco Cerito) Babad, Aku Jurnalis, Nonton, dan EYL, UMM berupaya hadir memberdayakan pelajar. Kepo (Ketahui Potensimu) merupakan program yang digagas dengan Bimbingan Konseling (BK) UMM untuk memfasilitasi konseling gratis serta mini tes psikologi bagi siswa, khususnya remaja. Sedangkan Ayo Dolanan merupakan pengenalan berbagai macam permainan tradisional sebagai upaya melestarikan kebudayaan Indonesia. Ada pula Nandur yang mengajarkan tentang tanam menanam serta Coto (Konco Cerito) Babad untuk mendidik dan menginspirasi melalui dongeng maupun hikayat. Lalu Aku Jurnalis untuk mengedukasi cara menulis dan program English for Young Learner (EYL) untuk belajar bahasa Inggris. Membawa konsep pembelajarannya yang lengkap, Hanani mengaku salut dengan kreativitas yang diusung. Ia juga memuji para mahasiswa yang turut andil dalam aktivitas Mobil KaCa. “Saya mengapresiasi pada mahasiswa yang datang juga. Walaupun sederhana yang diberikan, tapi sangat berkesan, terutama fasilitasnya. Jadi langsung mengena pada anak-anak,”tambahnya senang. Salah satu siswa kelas 6, Fira sempat menjajal program KANCANE yakni Aku Jurnalis. Dengan berani, ia mendatangi penjual siomay dan melakukan reportase sederhana. Fira mengaku senang, ia dapat belajar banyak hal pada kedatangan Mobil KaCa di sekolahnya. “Saya sebenarnya pemalu, tapi karena ini jadi belajar percaya diri,”ungkapnya bangga. (sil)
Mahasiswa UMM Ditantang Eksis Bikin Konten Kreatif di Era Digital

Pekembangan zaman digital selalu menghadirkan sejumlah profesi baru yang dapat menembus batas dan waktu. Anak muda menjadi segmen terbesar yang menggeluti profesi ini. Mereka seperti berlomba-lomba menelurkan kreativitas dalam berbagai media digital, diantaranya menjadi Vlogger, Blogger, Inlfluencer, Content Creative dan Social Media Specialist. Menjadi kekinian dan mengikuti perkembangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng Kaskus yang merupakan situs komunitas online terbesar di Indonesia untuk berbagi informasi dan kiat sukses berkreasi di era digital. Hadir sebagai influencer adalah Hujwiriawan Ewing (Ewing HD) dan Wahyu Naufal (WN Naufal). Keduanya merupakan mahasiswa yang sukses memulai profesi sebagai influencer melalui Kaskus. Pada kesempatan ini Ewing HD membagikan kisahnya mulai berkarya melalui Kaskus. Ia menyampaikan bahwa saat ini tidak ada alasan bagi anak-anak muda untuk tidak memulai menjadi seorang konten kreator. “Sekarang kita sudah dimudahkan dengan berbagai fasilitas yang ada di smartphone, jadi kita bisa bikin konten di mana aja,” jelas Ewing. Selain itu, ia juga menekankan bahwa untuk membangun kepercayaan diri saat memulai berkarya harus ada konsistensi. Bagi pemuda kelahiran Yogyakarta ini, konsistensi itu penting untuk terus berkarya dan berkreasi. “Yah kalau mau pede yang paling penting itu konsisten dulu, kalau gak konsisten yah gak bakal ada perubahan,” jelas Ewing. Jika Ewing berkarya dengan cara membuat dan membagikan video-video horor, Naufal lebih memilih menyalurkan kegemarannya pada kisah horor melalui tulisan. Naufal telah menulis thread di Kaskus sejak tahun 2016 dan ia telah berhasil membukukan cerita yang ia bagikan di Kaskus dengan judul 100 Tahun setelah Aku Mati. Naufal mengaku hal paling penting dalam menulis itu adalah niat yang kuat untuk melanjutkan menulis. Bagi mahasiswa asal Yogyakarta ini, jika sudah ada niatan untuk melanjutkan menulis maka memulai menulis bukan hal yang sukar. “Yang paling penting itu niat lanjutin nulis bukan niat nulisnya,” jelasnya. Senada dengan kisah dua orang tersebut, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI UMM) Joko Widodo juga mengisahkan kesuksesan mahasiswa UMM Luluk HF yang membagikan tulisan yang dibagikan di media online, dbukukan dalam bentuk novel, hingga dan diangkat ke layar lebar oleh salah satu rumah produksi ternama. Joko Widodo juga menekankan bahwa tidak ada yang sulit jika sudah ada niatan untuk memulai menulis. “Menulis itu ibarat kita mau badan sehat setiap hari, harus olahraga. Kalau mau menulis bagus yah tiap hari menulis,” ungkap Joko Widodo. Joko melanjutkan media-media online seperti Kaskus, Instagram dan Facebook memang bukan lagi wilayah yang asing bagi anak muda utamanya mahasiswa. Berkenaan dengan hal tersebut, dosen mata kuliah Kreasi Sastra ini mengajak mahasiswanya untuk memosting puisi atau cerita pendek (cerpen) yang merupakan penugasan kuliah di blog pribadi atau laman Facebook masing-masing. “Saya ingin suatu saat mahasiswa saya bisa sukses melalui keterampilan menulis, jadi saya minta mereka mengerjakan tugas dan dikirim di blog atau Facebook miliknya,” tuturnya. Saat ini, profesi sebagai konten kreator memang sangat digandrungi utamanya oleh anak muda yang berstatus mahasiswa. Hal tersebut membuat dosen Ilmu Komunikasi (IKOM UMM) Nurudin mengajak mahasiswa UMM untuk terus menulis tanpa banyak waktu untuk merenung. “Jangan menunda untuk menulis, karena setiap tulisan punya pasarnya sendiri-sendiri,” terang dosen yang juga penulis buku Tuhan Baru Masyarakat Cyber di Era Digital. Ditambahkan oleh Nurudin, menulis itu tidak perlu melulu yang harus ada temanya baru bisa menulis. Mahasiswa sekarang suka jalan-jalan dan mengabadikan melalui foto, hal tersebut sudah dapat dijadikan bentuk tulisan tentang pengalaman pribadi. Jika tulisan itu dapat dibungkus dengan unik, maka pembaca akan terus menunggu tulisan-tulisan baru kita yang selanjutnya. “Nulis gak harus nunggu tema tulis saja pengalaman pribadi dan jika apik yah pasti pembaca akan menunggu tulisan-tulisan kita,” pungkasnya. (nis/sil)
Berkluster Mandiri, UMM Siap Kembali Dampingi Pengembangan Kota Probolinggo

UPAYA dekat dengan masyarakat dan memberikan kontribusi untuk pembangunan suatu daerah dilakukan dengan cermat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setelah bermitra dengan banyak pihak, kali ini melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UMM dengan Pemerintah Kota Probolinggo, Selasa (13/3) di Auditorium UMM. Kerjasama yang dijalin mencakup berbagai bidang antara lain pengembangan wilayah, sosial dan pertanian. Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Rektor III Sidiq Sunaryo dan Walikota Probolinggo Rukmini Buchori disaksikan oleh jajaran Badan Pengurus Daerah Probolinggo, Kepala Dinas Perikanan Probolinggo, Kepala Dinas Pertanian Probolinggo, Camat Mayangan, Kepala DPPM UMM dan jajaran serta perwakilan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) UMM. “MoU ini harus segera di eksekusi menjadi suatu penelitian atau pengabdian yang memiliki nilai guna, agar tidak sekedar jadi sebuah tanda tangan dan tulisan dikertas saja,” ujar Sidiq menyemangati. Dalam kesempatan tersebut, Sidiq memaparkan beberapa unit usaha yang dimiliki UMM. Ia berharap unit-unit usaha tersebut juga bisa melakukan kerjasama lebih khusus dengan Kota Probolinggo. Sebelumnya, dalam kurun waktu tiga tahun sejak 2013 hingga 2015 UMM telah melakukan program kemitraan wilayah di Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. Kerjasama dilakukan dalam program perawatan dan pemeliharaan pohon mangga, produksi produk olahan mangga dan jagung, serta pengolahan limbah pangan Usaha Kecil Menengah (UKM). Menindak lanjuti keberhasilan kerjasama tersebut, Direktur DPPM UMM Sujono mengaku telah siap kembali mendampingi Kota Probolinggo agar bisa menjadi kota dengan banyak UKM yang berkembang. Meskipun merupakan perguruan tinggi swasta, Sujono menyebut UMM memiliki kapasitas dan kemampuan yang cukup baik dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Keahlian tersebut cukup setara dengan perguruan tinggi negeri di wilayah Jawa Timur. Bukan hanya itu, mulai tahun 2014, UMM menjadi salah satu dari 14 Perguruan Tinggi di Indonesia yang mendapatkan cluster Mandiri. Status ini merupakan hasil visitasi dan verifikasi oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Dirjen Dikti Kemendikbud RI. Dalam standarisasi Dikti, kampus-kampus di Indonesia dikategorikan ke dalam empat cluster, yakni Binaan, Madya, Utama dan yang tertinggi adalah Mandiri. “Bersama 25 perguruan tinggi hanya empat yang swasta salah satunya adalah UMM di Jawa Timur yang berkluster mandiri, untuk itu kami siap mendampingi Kota Probolinggo,” pungkas Sujono. Sementara itu Walikota Probolinggo Rukmini Buchori menyambut baik kerjasama ini. Rukmini memaparkan aneka potensi yang dimiliki Kota Probolinggo, diantaranya adalah UMKM Batik dan melimpahnya produksi buah mangga. Meski memiliki aneka potensi yang patut dikembangkan, Rukmini menuturkan ada berbagai permasalahan sosial yang juga dihadapi oleh Pemerintah Kota Probolinggo, antara lain hasil limbah sampah yang banyak berkisar 50 ton per hari. “Mungkin dari UMM bisa merangkul paguyuban batik Probolinggo, berinovasi dalam pengelolaan buah mangga yang melimpah dan berinovasi dalam pengelolaan sampah. Ini mungkin bisa dijadikan sesuatu yang memiliki nilai,” ujar Rukmini. (nim/sil)
Apresiasi Profesi Fisioterapi, UMM Gelar Olimpiade Nasional

MENGEMBANGKAN skill mahasiswa khususnya bidang Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fisioterapi dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan (FIKES) berinisiatif menggelar Olimpiade Fisioterapi Nasional. Mengusung tema Pesona Fisioterapi, rangkaian kegiatan Fisioker berlangsung selama tiga hari mulai Jumat hingga Minggu (9-11/3). Terdapat tiga kelas Fisioterapi yang dilombakan, yaitu Neuromuscular, Sport, dan Pediatri. Ketiganya merupakan bidang-bidang penting dalam lingkup Fisioterapi yang perlu dipahami dengan baik oleh para calon praktisi Fisioterapi. “Olimpiade ini merupakan sarana yang baik bagi mahasiswa Fisioterapi se-Indonesia untuk mengasah kemampuan dan mengukir prestasi,” terang Ketua Pelaksana Rangkaian Acara Olimpiade, Seminar dan Workshop Fisioker, M. Rizqi Ramadhani. Melalui Olimpiade yang digelar, Rizqi menyampaikan bahwa acara ini diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa Fisioterapi menorehkan prestasi. Hal tersebut mengingat jumlah universitas yang memiliki program studi Fisioterapi di Indonesia masih sangat minim, yakni hanya 11 perguruan tinggi. “Ajang ini jadi kesempatan juga untuk kita mengenalkan jurusan Fisioterapi kepada lebih banyak orang,” jelas Rizqi. Meski sepak terjang rumpun ilmu Fisioterapi belum tersohor namun semangat peserta begitu tinggi mengikuti ajang adu kecerdasan ini. Terbukti dari jumlah pendaftar Olimpiade yang membludak padahal kuotanya hanya 12 tim dari masing-masing kelas yang terdiri dari tiga orang. “Dengan terpaksa kami menolak pendaftar karena terbatasnya kuota. Semoga tahun depan kami bisa membuka lebih banyak kuota supaya lebih banyak yang ikut,” ujar Jeje salah satu panitia. Olimpiade ini diikuti oleh 93 peserta dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi Fisioterapi, antara lain Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Esa Unggul (UEA), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Katolik St. Vincentius a Paulo, Universitas Airlangga (Unair), Universitas Udayana, Stikes Widya Husada, Politeknik Kesehatan (Poltekes) Jakarta 3, dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya, ajang unjuk kecerdasan ini terdiri dari tiga babak penilaian pada masing-masing kelas yang ada, yakni kelas Neuromuscular, Sport dan Pediatri. Pada babak pertama, peserta harus menentukan jawaban ‘benar’ atau ‘salah’ pada soal-soal yang diberikan. Selanjutnya di babak kedua, ada studi kasus dimana para peserta harus memecahkan masalah dengan memberikan solusi secara keilmuan Fisioterapi, dan pada babak ke tiga peserta harus melewati uji ketangkasan serta kecepatan dalam menjawab soal. Berlangsung seru dan penuh sportifitas, Pada Kelas Pediatri keluar sebagai Juara I Poltekes Surakarta, Juara II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Juara III Poltekes Jakarta. Sementara itu pada kelas Neuromuscular Juara I diraih oleh Poltekes Surakarta, Juara II UMS serta Juara III Stikes Widya Husada. Untuk kelas Sport Juara I Universitas Esa Unggul (UEA), Juara II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Juara III UMS. Para peraih Juara I memperoleh medali emas, Juara II medali perak dan Juara III perunggu. Keluar sebagai Juara Umum Olimpiade Nasional Fisioterapi 2018 adalah Poltekes Kemenkes Surakarta dengan mengantongi dua medali emas. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM Faqih Ruhyanudin menyampaikan dirinya berharap pada tahun depan jumlah peserta dan jenis cabang ilmu yang dilombakan bisa bertambah. “Selain skill kompetensi kognitifnya juga bisa ditambahkan, juga karya tulis misalnya,”tambahnya. Faqih juga menyampaikan semoga acara dapat mengenalkan bagaimana fisioteraphis yang sesungguhnya kepada masyarakat Indonesia. “Saat ini, UMM sendiri juga tengah menyiapkan perencanaan pendirian Prodi Profesi Fisioterapi. Semoga dengan rangkaian acara ini lebih mengenalkan jati diri fisioterapi di Indonesia,” tandasnya. (nim/sil)