Gelar Rektor Cup 2018, UMM Perkuat Daya Kompetisi Mahasiswa

Perhelatan ajang kompetisi terbesar tingkat universitas Rector Cup Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM) 2018 resmi dibuka. Melombakan berbagai macam cabang mulai penalaran hingga keislaman acara pembukaan digelar Sabtu (10/3) di Stadion Sepak Bola UMM. Diawali pertandingan pembuka cabang sepak bola antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) melawan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) yang dimenangkan oleh FPP dengan skor 0-1 acara berlangsung meriah. Ketua pelaksana Rector Cup 2018, Nur Subeki memaparkan, Rector Cup merupakan ajang tahunan UMM yang ditujukan sebagai wadah kreasi dan prestasi bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa semester dua, empat dan enam. Mengusung tema “Smart and Elegant Competition to be Great Generation” gelaran ini menjadi cerminan semangat UMM dalam meningkatkan bakat dan minat mahasiswa. “Selain itu tema ini juga mencerminkan proses edukasi yang dikembangkan UMM dalam rangka membangun kualitas pribadi dan mental mahasiswa yang mampu berkompetisi secara sehat dan jujur,” ungkap Subeki. Hal tersebut juga diamini oleh Rektor UMM, Fauzan. Sebagai salah satu agenda tahunan universitas, Fauzan menegaskan bahwa untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam kegiatan Rector Cup ini memerlukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak yang terkait, antara lain mahasiswa, program studi, fakultas hingga universitas. “Kegiatan Rector Cup ini menjadi salah satu media UMM untuk mendidik mahasiswa menjadi pribadi yang lebih baik. Mahasiswa harus memiliki daya yang kuat untuk berkompetisi,” tegasnya Bekerjasama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rector Cup 2018 digelar mulai hari ini 10 Maret 2018 hingga 21 April 2018 dan diikuti oleh kontingen dari 10 fakultas yang ada di UMM. Kesepuluh fakultas tersebut akan berebut piala bergilir Rector Cup yang mana pada tahun lalu berhasil disabet Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) sebagai Juara Umum Rector Cup 2017. (Humas UMM)

Mahasiswa UMM Jeli Tangkap Peluang di Berbagai Bidang Usaha

Pernah mendengar tentang generasi Z? Generasi Z adalah mereka yang lahir pada 1990an hingga 2000an. Menjadi bagian dari Generasi Z (Gen Z) menuntut anak-anak muda dihadapkan pada banyak tantangan, salah satunya tentang berprofesi. Saat ini, Gen Z lebih melirik profesi yang mereka bangun sendiri dan ogah menjadi karyawan. Mereka juga lebih memilih berprofesi sesuai dengan passionnya. Melihat perkembangan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan yakin mencetuskan program UMM PASTI, yaitu PASTI lulus empat tahun, PASTI bekerja, dan PASTI mandiri. Fauzan yakin, UMM PASTI akan  menjamin lulusan UMM dapat mandiri. “Saya yakin jika UMM PASTI ini bisa dijalankan dengan baik, tidak akan ada lagi mahasiswa UMM yang tidak bekerja setelah lulus dari sini,” kata Fauzan pada Pelatihan Dosen Kewirausahaan. Jauh sebelum UMM PASTI digaungkan, mahasiswa dan alumni UMM telah banyak terjun di bidang entrepreunership dengan berbagai macam latar belakang mulai dari sekedar menambah uang jajan, pengalaman hingga memberdayakan masyarakat, Muhammad Aripin misalnya. Alumni Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik UMM  tersebut telah diganjar banyak penghargaan nasional berkat usahanya menghidupkan industri kreatif. Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikannya pada 2014 telah memiliki 85 anak binaan, 21 diantaranya bahkan telah memiliki usaha sendiri serta empat lainnya telah melanjutkan kuliah. Ia pun meraih penghargaan selama tiga tahun berturut-turut, yakni pada ajang penganugerahan Pemuda Pelopor Nasional di Bidang Pendidikan, Wirausaha Kreatif di ajang Satu Indonesia Award dan Yayasan Berprestasi Nasional. “Saya teringat wasiat ibu saat mendirikan yayasan. Kini saatnya saya membalas semua kebaikan yang ibu berikan pada saya dengan berbuat baik pada orang lain,” ujarnya mengenang almarhumah sang ibu. Apa yang dilakukan Arifin berbeda dengan Nasihudin Cahya, Awang Ristanto, dan Helmi Mahendra. Bagi ketiganya, berwirausaha merupakan jalan untuk menyalurkan kecintaan mereka pada kopi. “Awalnya saya sama Cahya suka kopi, lalu ikut-ikut dan belajar membuat kopi sama teman, kemudian muncullah ide kenapa gak buka sendiri saja,” ungkap mahasiswa Program Studi Perternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM tersebut. Setelah menyiapkan diri untuk berwirausaha, Awang beserta dua temannya memanfaatkan becak milik Cahya sebagai tempat untuk berjualan dengan mengusung brand “Becak Koling” yang merupakan singkatan dari Becak Kopi Keliling “Becak itu punya Cahya yang duluan punya usaha,” jelas Awang. Hambatan-hambatan menjadi wirausahawan yang memulai semuanya dari kantong pribadi tidak lantas menyurutkan semangat tiga mahasiswa UMM asli Malang ini. Helmi menyebutkan bahwa diawal mereka memulai usaha sering tidak ada yang membeli. Alih-alih menyiutkan cita-cita, hal ini justru menjadi pecutan semangat untuk ketiganya. “Pernah sampai di lokasi terus hujan deras, sepi gak ada yang beli,” tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) tersebut. Meski sekedar berjualan kopi, Awang mengaku bahwa omzet yang dikantongi setiap bulannya cukup lumayan. Ketiganya bahkan menargetkan untuk memiliki lahan milik sendiri untuk digunakan berjualan agar ada tempat tetap dan tidak harus berpindah-pindah, utamanya saat hujan. “Untung yang didapat buat beli alat-alat baru dan kalau bisa tahun ini bisa punya lahan walaupun kecil yang penting menetap,” harap Helmi. Menjadi mahasiswa dan berwirausaha bukan hal yang tabu lagi. Pada era modern seperti ini, setiap individu harus mengetahui peluang-peluang yang bisa diambil. Bagi Helmi yang merupakan mahasiswa PBSI UMM, berbisnis tidak selalu harus relevan dengan jurusan kuliah ditempuh. “Tidak ada salahnya untuk mencari pengalaman di bidang lain,” tandas mahasiswa berkacamata tersebut. Kepala Program Studi (Kaprodi) PBSI UMM Sugiarti menyampaikan bahwa selaras dengan UMM PASTI, di Prodi PBSI ada mata kuliah kewirausahaan bersastra dan kewirausahaan berbahasa. Selain itu, pihaknya juga melakukan pemetaan peminatan mahasiswa. Untuk mahasiswa yang memiliki minat di luar bidang Prodi, maka bisa bekerja sama dengan lintas prodi dan lintas fakultas. “Jika mahasiswa memiliki keterampilan di bidang fisik juga akan kami carikan sumberdaya,”tambahnya. Menanggapi usaha Becak Koling Sugiarti mengaku bangga. Ia bahkan memberikan masukan untuk mengembangkan usaha lebih luas, termasuk merangkul dan bekerjasama dengan pihak lain, misal mengisi stand di sebuah acara. Mereka juga bisa membuka mini forum saat berjualan di kegiatan kampus contohnya ngopi sastra, ngopi linguistik. “Ini akan menciptakan atmosfer akademik yang ada aspek kreatif dan rekreatif, jadi proses transfer pengetahuan tidak terjadi secara formal saja namun juga secara informal,”pungkasnya. (nis/sil)

UMM Siapkan Mahasiswa Pegang Kendali Industri Pangan Dunia

UNTUK membekali mahasiswa dalam membangun dan mengembangkan pangan nasional, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar nasional bertajuk ‘Perkembangan Pertanian Modern Berbasis Sumber Daya Manusia Lokal sebagai Penguatan Ketahanan Pangan Lokal’ di Hall Dome UMM, (8/3). Pada kesempatan tersebut hadir Direktur Operasional PT Kelola Mina Laut (KML) Food, Ir. Zainul Wasik. Di depan mahasiswa FPP dari enam program studi yakni Agribisnis, Agroteknologi, Ilmu dan Teknologi Pangan, Peternakan, Kehutanan dan Budidaya Perairan (Perikanan) Zainul berbagi kiat menghidupkan agroindustri di Indonesia. Ia juga menyampaikan “rahasia” bagaimana dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, food industry tempatnya berkarya mampu menghasilkan omset hingga 3 triliun per tahun. Menurut Zainul, sebagai pelaku industri khususnya industri pangan, menguasai proses dari hulu ke hilir menjadi hal terpenting. “Mulai dari budidaya, bahan baku, processing, peningkatan produk sampai distribusi kemudian diterima oleh konsumen, kita melakukan semua itu dengan pola integrated,” ujar Zainul menjabarkan. Selain itu menurutnya, ada tiga unsur yang harus diperhatikan dalam meningkatkan daya saing guna menumbuhkan sektor industri. Yaitu inovasi, pengetahuan manajemen dan semangat enterpreneurship. Terakhir Zainul menambahkan, yang harus diingat dalam mengelola sebuah bisnis unsur kepedulian terhadap lingkungan sekitar juga harus tetap diperhatikan. Disamping nilai profit, aspek kesejahteraan masyarakat juga tidak boleh dilupakan. “Melakukan dua hal sekaligus, pertama adalah membuat bisnis yang bisa memberdayakan masyarakat banyak dari hasil budidaya perikanan dan pertanian, kemudian melalui ekspor impor ada profit untuk perusahaan,” tandas Zainul. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Vice President Non-Government Organization (NGO) Head, Heart, Hand, Healthy (Four H) Indonesia, Ooy Haerudin S.E., MBA. Dalam paparannya, Ooy  menaruh harapan pada mahasiswa FPP UMM agar siap menjadi pelopor petani Indonesia dan memegang kendali pada industri pangan dunia. “Saya harap dari kalian generasi muda, kedepannya tidak lagi ada impor bahan baku dari luar. Kita sepenuhnya mengandalkan beras dan yang lain dari dalam negeri,” tutur Ooy. Menambahkan Zainul dan Ooy, Bupati Pacitan yang juga alumni UMM, Drs. Indarto M.M., menyampaikan keterkaitan antara pemimpin, kebijakan pangan, serta teknologi. Sementara itu Staf Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Pangan Dr. Ir. Sabrina M.Si menjelaskan peran Kementerian LHK dalam ketahanan pangan, yakni menjaga hutan sebagai sumber air dan sumber lahan untuk pangan. Wakil Rektor I UMM Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si, menyampaikan kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari program UMM PASTI yang tengah digalakkan UMM. Harapannya seminar nasional ini semakin mendekatkan mahasiswa dengan tujuan UMM PASTI yaitu, mahasiswa pasti lulus empat tahun, mahasiswa pasti bekerja setelah lulus dan mahasiswa pasti mandiri setelah lulus. “Ini menjadi salah satu upaya membangun atmosfir akademik untuk mendukung program UMM PASTI,” tegas Syamsul. Berlangsung interaktif, gelaran ini juga dihadiri oleh para delegasi Ikatan Badan Eksekutif Mahasiswa Pertanian Indonesia (IBEMPI) dari berbagai perguruan tinggi di tanah air. (nim/sil)

Mahasiswa UMM Jeli Tangkap Peluang Usaha di Berbagai Bidang

Menjadi bagian dari Generasi Z (Gen Z) menuntut anak-anak muda dihadapkan pada banyak tantangan, salah satunya tentang berprofesi. Saat ini, Gen Z lebih melirik profesi yang mereka bangun sendiri dan tanpa menjadikan mereka seorang karyawan. Selain itu, Gen Z juga lebih memilih berprofesi sesuai dengan passion mereka bersama rintangan-rintangan yang akan mereka hadapi. Melihat perkembangan tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan yakin mencetuskan program UMM PASTI, yaitu PASTI lulus empat tahun, PASTI bekerja, dan PASTI mandiri. Keyakinan bahwa mahasiswa UMM dapat mencapai program UMM PASTI disampaikan oleh Fauzan pada pembukaan kegiatan Pelatihan Dosen Kewirausahaan. “Saya yakin jika UMM PASTI ini bisa dijalankan dengan baik, tidak akan ada lagi mahasiswa UMM yang tidak bekerja setelah lulus dari sini,” kata Fauzan. Jauh sebelum UMM PASTI digaungkan, mahasiswa UMM telah banyak yang melakukan wirausaha dengan berbagai macam alasan salah satunya untuk menambah uang jajan dan menambah pengalaman. Salah satu alumni Teknik Mesin UMM  Muhammad Aripin misalnya yang telah diganjar banyak penghargaan nasional. Berkat Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar yang didirikannya pada 2014 Aripin saat ini memiliki 85 anak binaan, 21 di antaranya bahkan telah memiliki usaha sendiri dan empat di antaranya berhasil melanjutkan kuliah. Ia juga telah menerima penghargaan selama tiga tahun beruntun, yakni pada ajang penganugerahan Pemuda Pelopor Nasional di Bidang Pendidikan, Wirausaha Kreatif di ajang Satu Indonesia Award, serta Yayasan Berprestasi Nasional. “Saya teringat wasiat ibu saat mendirikan yayasan. Kini saatnya saya membalas semua kebaikan yang ibu berikan pada saya dengan berbuat baik pada orang lain,” ujarnya mengenang sang ibu yang telah berpulang pada Idul Adha 2015. Apa yang dilakukan Arifin berbeda dengan Nasihudin Cahya, Awang Ristanto, dan Helmi Mahendra. Bagi ketiganya, berwirausaha merupakan jalan untuk menyalurkan kecintaan mereka pada si bubuk hitam, kopi. Menurut Awang, ide usahanya diawali saat dirinya bersama Cahya melihat peluang pada usaha kopi. “Dulu saya sama Cahya suka kopi, terus awalnya dari ikut-ikut dan belajar membuat kopi sama teman, terus diskusi kenapa gak buka sendiri,” ungkap mahasiswa Program Studi Perternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM tersebut. Setelah menyiapkan diri untuk berwirausaha, Awang beserta dua temannya memanfaatkan becak milik Cahya sebagai tempat untuk berjualan dengan nama  Becak Kopi Keliling (Becak Koling). “Becak itu punya Cahya yang duluan punya usaha,” jelas Awang. Hambatan-hambatan menjadi wirausahawan yang memulai semuanya dari kantong pribadi tidak menyurutkan semangat tiga mahasiswa UMM asli Malang ini. Helmi menyebutkan bahwa diawal mereka membuka usaha mereka sering tidak ada yang membeli. Namun, karena niat dan mereka merasa senang menjalani kegiatan tersebut hal ini menjadi pecutan semangat untuk mereka bertiga. “Pernah sampai di lokasi terus hujan deras, sepi gak ada yang beli,” tutur mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia itu. Helmi juga menyampaikan bahwa menjalani wirausaha seperti ini yang paling penting adalah gigih, ulet, dan semangat. “Wirausaha itu kan lebih enak dimulai dari nol, kalau dari bawah itu bisa melatih kesungguhan niat, kegigihan, dan keuletan juga,” tegas Helmi. Awang juga menambahkan bahwa omzet yang dihasilkan dalam tiap bulan juga menjadi bentuk semangat bagi tiga mahasiswa ini. Selain sebagai acuan untuk terus memperbaiki sistem usaha omset juga sebagai bukti adanya kesungguhan dalam berwirausaha. “Diawal omzet yang didapat yah kecil tapi sekarang sudah mulai stabil dan itu bikim kita makin semangat,” jelas Awang. Sebagai wirausahawan pemula, tiga orang mahasiswa ini mengaku harus pintar dalam mengelola profit yang didapat karena mereka ingin pada tahun ini bisa memiliki laham pribadi yang bisa digunakan untuk berjualan tetap dan tidak harus berpindah tempat jika hujan. “Untung yang didapat buat beli alat-alat baru, terus yah kalau bisa tahun ini bisa punya lahan walaupun kecil yang penting menetap,” jelas Helmi. Menjadi mahasiswa dan berwirausaha bukan hal yang tabu lagi. Pada era modern seperti ini, setiap individu harus mengetahui peluang-peluang yang bisa diambil. Bagi Helmi yang merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, bisnis yang relevan dengan jurusan kuliah sudah tidak terlalu menjanjikan. “Tidak ada salahnya untuk mencari pengalaman di bidang lain,” pungkas mahasiswa berkacamata ini. (nis/sil)

Kolaborasi dengan Mahasiswa dan Dosen Asal Tiga Negara, UMM Kupas Komunikasi Antar Budaya

BERKEMBANG di tengah masyarakat global menuntut banyak pihak untuk terus belajar dalam membangun komunikasi, termasuk perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam upayanya membangun konsep pendidikan kelas internasional juga tidak meninggalkan pembelajaran ini, termasuk dalam komunikasi antarbudaya. Berangkat dari hal tersebut, hadir empat pembicara pada gelaran Intercultural Communication and Practices in Indonesia, Poland, India, and Ukraine memberikan paparan tentang pentingnya komunikasi antar budaya untuk dapat membangun kegiatan ekonomi, politik, dan sosial di tengah kemajuan teknologi dunia. Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU, Rabu (7/3) ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM. Daria Goriacheva, mahasiswa asing asal  The National University of “Kyiv-Mohyla Academy” Ukraina, menjelaskan bahwa saat ini komunikasi antar budaya sudah dipengaruhi oleh banyak hal salah satunya adalah keberadaan sosial media. Ia memaparkan tentang fenomena post-truth yang menunjukkan dimana keadaan dan fakta secara objektif tidak lagi terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan emosi dan keyakinan pribadi. “Post-truth seperti yang telah kita ketahui merupakan fenomena yang sering menciptakan kesalahpahaman dalam berkomunikasi ditengah masyarakat,”urainya. Lebih dari itu, Daria juga menjelaskan tentang bagaimana penggunaan metafora dalam sebuah informasi yang disampaikan, dapat mempengaruhi kualitas komunikasi tersebut. “Dalam hal ini kita harus berhati-hati dalam memanfaatkan ‘metaphore’ dalam berkomunikasi,”tambahnya. Pada kesempatan yang sama, hadir pula Maria Anna Ochwat dosen program internship asing asal WSB University in Poznan Polandia. Maria berhasil menarik perhatian dengan mengajak hadirin untuk datang ke Polandia. “Pada presentasi ini saya lebih akan mengajak anda untuk datang ke Polandia,”katanya. Maria menjelaskan bahwa ajakannya tersebut menandakan bahwa orang Polandia adalah orang yang bangga dengan negara mereka. Perilaku ini disebutnya sebagai stereotype, yakni penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotype penting untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. “Mengetahui dan memahami stereotype tiap negara bisa membantu kita untuk menghindari hal-hal konyol dan menganggu  dalam berkomunikasi,” jelas Daria. Selain Daria dan Maria, pada dua sesi selanjutnya tampil Priya Rani Bhagat mahasisa asing asal Manipal University and University of Evora India  dan Widya Yutanti dosen ilmu komunikasi UMM yang menjelaskan tentang bagaimana kebudayaan dan stereotype yang dimiliki oleh India dan Indonesia. (nis/sil)

Berkat Reputasi, Konjen Aussie Terpikat UMM

REPUTASI apik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dikancah internasional menjadi daya tarik Konsulat Jenderal Australia untuk bertandang. Perguruan Tinggi yang dikenal dengan kampus putih menjadi jujugan Konjen Australia, Chris Barnes hari ini, Senin (5/3). Selama menilik UMM, Chris bertandang ke #AussieBanget Corner yang berlokasi di area Perpustakaan Pusat UMM. Disana Chris tidak sekedar melihat-lihat, namun juga melakukan dialog dengan para civitas akademika UMM yang pernah mengenyam studi di Negeri Kanguru. “Study hard, dream big, reach for the star,” pesan Chris untuk mahasiswa UMM yang ingin studi di Australia. Sebagai Konjen Australia di Jawa Timur, Chris menuturkan bahwa menjalin kerjasama dengan Indonesia merupakan salah satu tujuannya. Bagi Chris kerjasama terbaik itu yakni melalui pendidikan dengan melakukan pertukaran pelajar, dosen maupun staff. “Tidak hanya orang Indonesia yang belajar di Australia, tapi juga lebih banyak lagi orang Australia yang belajar di Indonesia, terutama disini (red: UMM),” pungkas Chris. Harapan terjalin lebih banyak kerjasama pun diamini oleh Rektor UMM, Fauzan. “Kerjasama strategis yang sudah terjalin UMM dan Australia adalah program Australian Consortium For In Country Indonesian Studies (ACICIS),” ujar Fauzan. Pojok Australia atau #AussieBanget Corner UMM tidak hanya menyediakan berbagai buku dan informasi beasiswa Australia. Lebih dari itu, AussieBanget Corner juga memfasilitasi para civitas akademika dan masyarakat umum untuk mengakses perpustakaan digital nasional Australia. “UMM itu fantastik, ramah, dan profesional,” pungkas Chris memberikan gambarannya tentang UMM. (nim/war/sil)

Antusias, 1.616 Siswa Daftar Jalur Prestasi Periode I UMM

Pada tahun ini tercatat jumlah pendaftar Jalur Prestasi UMM  mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2017 total pendaftar jalur prestasi berjumlah sekitar 1.400 orang, pada Periode I tahun 2018 tercatat ada 1.616 orang pendaftar. Setelah Jalur Prestasi Periode I usai, akan dibuka Jalur Prestasi Periode II pada 26 Februari hingga 20 April 2018. Kepala Unit Pelaksana Teknis Penerimaan Mahasiswa Baru (UPT PMB) Saiman memaparkan bahwa pembagian periode pendaftaran pada jalur prestasi tahun ini bukan tanpa alasan. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat proses dari setiap tahapan penerimaan mahasiswa baru pada jalur prestasi. “Saat proses penerimaan dilakukan lebih cepat maka akan memberikan efek tenang terhadap calon mahasiswa baru, karena sebelum lulus ia sudah diterima di universitas”, ujarnya. Selain adanya dua periode pada Jalur Prestasi, ada hal baru yang menarik dari penerimaan mahasiswa baru UMM tahun ini yaitu pelaksanaan tes wawancara untuk semua jalur yang dilakukan secara online. Rektor UMM Fauzan menegaskan hal tersebut merupakan salah satu bentuk penerapan teknologi informasi oleh pihak kampus agar proses pendaftaran lebih efektif dan efisien. “Tes wawancara online tersebut memudahkan calon mahasiswa baru, mengingat pendaftar calon mahasiswa baru UMM tidak hanya dari Jawa Timur saja namun juga dari seluruh provinsi di Indonesia. Selain itu, pada jalur prestasi ini siswa SMA juga sedang dalam hari efektif sekolah untuk mempersiapkan UN,” tandas Fauzan. Jalur Prestasi merupakan salah satu pilihan pendaftaran masuk UMM yang sengaja dibuka lebih awal agar memperoleh bibit-bibit mahasiswa unggul yang memilih UMM sebagai pilihan utama dan pertamanya. Selain Jalur Prestasi, dibuka juga Jalur Reguler Gelombang I pada 5 Maret-4 Mei, Gelombang II 21 Mei-13 Juli dan Gelombang III 23 Juli-16 Agustus.(iel/sil)

Kementrian ESDM Ajak Mahasiswa FH UMM Berinovasi pada Energi Alternatif

Pemerintah melalui Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus gencar melakukan sosialisasi tentang optimalisasi pemanfaatan energi alternatif sebagai upaya pencegahan peningkatan panas bumi. Hal tersebut dilakukan salah satunya dengan merangkul Perguruan Tinggi untuk mensosialisasikan lebih dalam tentang Konservasi Energi. Utamanya yang saat ini tengah dikerjakan oleh pemerintah dengan membangun pembangkit listrik tenaga energi terbarukan. Selaras dengan upaya pemerintah, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus eco energy juga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH). Kesesuaian tersebut menjadi latar belakang Fakultas Hukum (FH) UMM menghadirkan Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan  Konservasi Energi Sugeng Mujiyanto pada Kuliah Perdana Kebijakan Konservasi Energi Fakultas Hukum pada Sabtu (3/3). Pada sesi pembukaan, Sugeng menyampaikan bahwa Indonesia dengan sumber daya alam yang berlimpah harus ada pemanfaatannya. “Indonesia ini kan kaya, punya banyak sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif,” jelasnya. Meski demikia Sugeng mengingatkan ada hal yang perlu dan wajib diingat, yakni perawatan dan pengendalian penggunaan energi tersebut harus diperhatikan. “Energi yang kita miliki jangan sampai habis dan pengunaannya tanpa ada kontrol,” imbuh Sugeng. Pada kegiatan yang dilaksanakan di Hall Teathre Dome UMM ini, Sugeng juga menyampaikan bahwa Energi sangat dibutuhkan untuk  meningkatkan kualitas kehidupan sosial masyarakat secara luas. “Jadi energi ini tidak hanya melulu soal bagaimana dimanfaatkan,  namun juga bagaimanna perekonomiam dan kesejahteraan masyarakat dapat terjamin,” jelasnya. Untuk memaksimalkam hal-hal tersebut, diperlukan keterlibatan para akademisi muda terutama dalam menciptakan energi alternatif. “Semua yang ada disini sangat diharapkan dapat menciptakan terobosan-terobosan baru dalam memanfaatkan energi alternatif,” pungkasnya.

UMM Siapkan Insinyur Abad 21

TANTANGAN profesi Insinyur di Indonesia kian kompleks memasuki abad 21. Tantangan terbesar di era banjir informasi ini adalah pelayanan yang penuh integritas. Guna menjawab hal tersebut, Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah perdana, Sabtu (3/3) di Ruang Sidang GKB 4 UMM. Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua III Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Jawa Timur Prof. Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D. yang memaparkan tentang Pertimbangan Energi : Hemat, Bersih dan Terbarukan. Daniel menyebut, banyak faktor yang menjadi tantangan insinyur khususnya di abad 21 ini, salah satunya perubahan iklim dan pemanasan global. “Energi menjadi pertimbangan yang sangat penting untuk para insinyur dimanapun. Kita dengar istilah savety, coba sekarang kita tambahkan dengan energy savety, bagaimana kita bijak menggunakan energi,” tutur Daniel. Selain itu Dekan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut menyampaikan, keberadaan profesi insinyur harus dapat memberikan solusi yang etis atas permasalahan-permasalahan pembangunan Indonesia, sehingga dapat memberikan manfaat yang baik untuk publik. “Bermanfaat bagi masyarakat itu dengan cara birokratnya bersih, aparaturnya dalam hal ini kita, juga harus kompeten. Ini yang saya usulkan. Saya yakin mahasiswa PSPPI UMM lebih peka karena lebih mempertimbangkan dari sisi moral dan spiritual,” tukasnya. Kuliah perdana ini merupakan kuliah pertama untuk mahasiswa PSPPI UMM. Selain dihadiri mahasiswa PSPPI UMM, kuliah juga dihadiri oleh dosen-dosen Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM yang nantinya akan menjadi pengajar untuk mahasiswa PSPPI. Ketua Tim Persiapan Program Studi Pendidikan Profesi Insiyur UMM, Annisa Kesy Garside ST., MT menilai bahwa kuliah perdana ini penting adanya karena dapat menjadi bekal pengetahuan yang lebih luas tentang profesi insinyur. “Ini dapat memberikan gambaran akan tantangan-tantangan dan tugas yang mereka lakukan nanti setelah mendapat gelar profesi insinyur,” pungkas Annisa.

Jadi Favorit Remaja, Novel Mahasiswa UMM Diangkat Multivision ke Layar Lebar

Misi cinta literasi tidak hanya digiatkan oleh pihak kampus. Semangat menghidupkan literasi juga tumbuh di diri para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), salah satunya Hidayatul Fajriyah. Jika mendengar namanya, mungkin tidak akan banyak orang yang kenal. Namun ketika disebutkan Luluk HF, hampir semua remaja penggemar novel bergenre Teenage Romance merasa akrab. Ya! Hidayatul Fajriyah atau yang biasa kita kenal sebagai Luluk HF adalah salah satu penulis novel muda muda bertalenta yang karyanya menjadi favorit remaja. Gadis asal Lamongan ini sudah menghasilkan empat karya novel berjudul Delov, Devil Enlovqer, Genpro dan EL. Yang membanggakan, novelnya yang berjudul EL baru saja mendapat kesempatan untuk diangkat ke film layar lebar dengan judul yang sama oleh production house ternama yakni Multivision. Tidak tanggung-tanggung, film yang diproduseri oleh Amrit Punjabi dan disutradarai oleh Findo Purwono HW tersebut menggaet aktor dan aktris papan atas seperti Achmad Megantara dan Aurelie Moeremans. “Sulit untuk percaya jika novel saya akan difilmkan. Namun saya tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini. Rencananya film EL akan gala premier di bioskop pada tahun ini,” ungkap mahasiswi Jurusan Manajemen, Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut. Luluk HF mengaku, hobi menulisnya sudah berkembang sejak masih duduk di bangku SMA. Sayangnya saat itu ia hanya bisa menpublish karyanya pada blog dan facebook.  Sampai pada suatu hari, ada penerbit nasional melihat kekuatan cerita pada bakat menulisnya. Delov, novel pertama Luluk pun diterbitkan. Tidak disangka, respon yang didapat luar biasa. Setelah terbitnya Delov, novel-novel lain satu persatu juga menyusul naik cetak. “Awal masuk kuliah pada tahun 2013, saya menadapatkan tawaran kontrak untuk menerbitkan tulisan yang ada di blog menjadi novel. Akhirnya saya setuju dan pada tahun 2014 terbitlah novel pertama saya yang berjudul Delov,” ujar Luluk. Meski namanya makin terkenal dan karyanya disukai banyak orang,  Luluk tidak ingin berhenti. Ia terus mengasah ide dan mencari gagasan cerita baru. Pada tahun 2018, sebuah novel berjudul Mariposa karyanya juga akan segera dibukukan. Mengajak anak muda lain untuk semangat berkarya, Luluk berbagi tips menulis. Menurutnya, dengan usaha yang sungguh-sungguh maka kemampuan menulis akan terasah. “Menulis memang tidak mudah, namun ada 4 kunci untuk bisa menulis dengan baik yakni niat, usaha, doa dan konsisten. Jika keempat poin tersebut dapat kita pegang dengan kuat maka kita akan bisa menulis dengan baik dan tidak mudah menyerah,” pungkas gadis alumni SMAN Kebomas Gresik tersebut. (iel/sil)