Kemendikdasmen Kembali Gandeng UMM untuk Bina Talenta STEM Berbasis Energi Terbarukan

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali dipercaya oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) untuk menjadi mitra penyelenggara Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026. Kepercayaan pada tahun kedua secara berturut-turut ini didapatkan berkat keberadaan ekosistem Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dimiliki Kampus Putih. Ajang pembinaan nasional di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) ini berlangsung selama sepekan, mulai 1 hingga 7 Juli 2026. Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., mengungkapkan bahwa penunjukan ini tidak didapatkan dengan mudah. Kampus Putih harus bersaing ketat dengan menyisihkan proposal dari ratusan perguruan tinggi lain di Indonesia. ”Pada tahun ini UMM mendapatkan kuota istimewa untuk membina 40 peserta terpilih dari total 1.000 peserta nasional. Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata kampus mitra lainnya. Selama masa karantina, para peserta ditantang untuk merampungkan sepuluh modul proyek,” ujar Dyah. Dyah menegaskan bahwa keunggulan pembinaan di UMM tidak hanya terletak pada fasilitas, melainkan juga pada komitmen memberikan jaminan legalitas terhadap hasil inovasi para peserta agar memiliki perlindungan kekayaan intelektual. “Karya inovatif buatan adik-adik tidak sekadar diapresiasi dengan selembar sertifikat layaknya di kampus lain, melainkan langsung kami fasilitasi agar segera memperoleh Hak Cipta resmi,” tegas Dyah, Kamis (2/7/2026). Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menjelaskan bahwa pembinaan ini mayoritas disiapkan untuk menghadapi Olimpiade Sains Nasional (OSN). Menurutnya, program ini tidak hanya mengukur kemampuan kognitif siswa, tetapi juga menanamkan karakter tangguh dan nilai-nilai keislaman. Sebagai bentuk pembelajaran aplikatif, para peserta diajak melihat langsung operasional teknologi ramah lingkungan di lingkungan kampus, mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) hingga instalasi panel surya (PLTS) di atas gedung-gedung perkuliahan. “Berbagai teori sains yang dipelajari di bangku sekolah kini bisa disaksikan langsung penerapannya melalui inovasi energi terbarukan milik Direktorat Saintek UMM,” urai In’am. Daya juang para talenta muda ini akan diuji melalui ajang hackathon dan pameran inovasi teknologi pada 6 Juli mendatang. Pameran karya tersebut nantinya akan disaksikan langsung oleh para guru dan pelajar dari seluruh Malang Raya. Sebagai bentuk apresiasi terhadap potensi besar para peserta, In’am memastikan UMM telah menyiapkan penghargaan khusus berupa kemudahan akses ke bangku perkuliahan. “Kami secara khusus telah menyediakan tiket emas berupa jalur beasiswa prestasi bagi kalian yang berminat melanjutkan pendidikan di berbagai program studi unggulan Kampus Putih,” pungkas In’am.
UMM Kembali Dipercaya Kemendikdasmen Bina Talenta STEM 2026 Berbasis Energi Terbarukan

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat kepercayaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) sebagai mitra penyelenggara Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026. Kepercayaan tersebut diberikan untuk tahun kedua secara berturut-turut berkat implementasi ekosistem energi baru terbarukan (EBT) yang dikembangkan UMM melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Program pembinaan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) itu berlangsung pada 1–7 Juli 2026. Ketua Pelaksana BTI di UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., mengatakan penunjukan kembali UMM sebagai mitra penyelenggara diraih setelah proposal yang diajukan berhasil bersaing dengan ratusan perguruan tinggi lain di Indonesia. Menurutnya, UMM memperoleh kuota pembinaan bagi 40 peserta terpilih dari sekitar 1.000 peserta nasional, jumlah yang disebut lebih besar dibandingkan rata-rata perguruan tinggi mitra lainnya. Selama mengikuti karantina selama sepekan, para peserta akan menyelesaikan sepuluh modul proyek. Selain itu, UMM juga memberikan pendampingan agar hasil inovasi peserta memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual. “Karya inovatif buatan adik-adik tidak sekadar diapresiasi dengan selembar sertifikat layaknya di kampus lain, melainkan langsung kami fasilitasi agar segera memperoleh Hak Cipta resmi,” tegas Dyah. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menjelaskan bahwa program pembinaan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik peserta, tetapi juga penguatan karakter dan nilai keislaman. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, peserta diajak melihat secara langsung penerapan teknologi energi terbarukan di lingkungan kampus, mulai dari operasional PLTMH hingga instalasi panel surya yang digunakan di sejumlah gedung perkuliahan. “Berbagai teori sains yang dipelajari di bangku sekolah kini bisa disaksikan langsung penerapannya melalui inovasi energi terbarukan milik Direktorat Saintek UMM,” ujar In’am. Rangkaian kegiatan BTI 2026 akan berlanjut dengan pelaksanaan hackathon dan pameran inovasi teknologi pada 6 Juli 2026. Kegiatan tersebut akan menjadi ajang bagi peserta untuk menampilkan hasil inovasi yang disaksikan guru dan pelajar dari wilayah Malang Raya. Sebagai bentuk apresiasi, UMM juga menyiapkan jalur beasiswa prestasi bagi peserta yang ingin melanjutkan pendidikan di Kampus Putih. “Kami secara khusus telah menyediakan tiket emas berupa jalur beasiswa prestasi bagi kalian yang berminat melanjutkan pendidikan di berbagai program studi unggulan Kampus Putih,” pungkasnya. UMM menilai kepercayaan yang kembali diberikan Puspresnas memperkuat perannya dalam mendukung pembinaan talenta muda di bidang sains dan teknologi melalui kolaborasi antara ekosistem energi terbarukan, penguatan inovasi, perlindungan hak cipta, serta dukungan akses pendidikan tinggi.
Liburan Edukatif, ELED UMM Gelar Kids English Camp Berbasis Digital

MALANG POST – Momen liburan sekolah kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk menemukan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai edukasi bagi buah hati. Menjawab kebutuhan krusial tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (English Language Education Department -ELED) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara nyata menghadirkan solusi edukatif melalui kegiatan bertajuk School Holiday Program: Kids English Camp. Berlangsung selama empat hari, dimulai dari Senin (29/6/2026) sampai Kamis (2/7/2026) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 dan area Perpustakaan Pusat UMM, agenda ini sukses menarik antusiasme lebih dari 110 peserta tingkat Sekolah Dasar (SD). Kegiatan ini hadir untuk memberikan wadah eksplorasi anak-anak agar tetap produktif dan gembira selama liburan. Dosen ELED sekaligus penyelenggara kegiatan, Khoiriyah, S.Pd., MA., memaparkan bahwa program ini dirancang sebagai pengayaan bahasa asing yang materinya disesuaikan dengan tingkatan kelas. Menariknya, pelaksanaan camp ini terintegrasi langsung dengan kelas profesional Center of Excellence (CoE) English for Young Learners. Lewat ekosistem ini, mahasiswa UMM mendapatkan kesempatan emas untuk terjun langsung mempraktikkan keterampilan mengajarnya kepada anak-anak. Selama kegiatan, peserta disuguhi berbagai aktivitas interaktif. Mereka diajak bereksplorasi melalui pembelajaran berbasis gim (Fun English with digital game-based learning), perpaduan bahasa dan sains (English and Science), ragam aktivitas luar ruangan, hingga puncak acara yang mempertemukan mereka dengan salah satu warga negara asing pada sesi Be global – Learn English with foreigner. “Program ini merupakan adaptasi budaya summer camp luar negeri yang kami padukan dengan nilai keislaman khas English for Muslim Kids, sehingga anak-anak bisa merasakan atmosfer belajar secara langsung di dalam lingkungan kampus,” urainya. Lebih jauh, kehadiran program liburan ini turut membawa misi strategis dalam menyokong arah kebijakan pendidikan nasional. Khoiriyah menjelaskan. Bahwa UMM siap memposisikan diri sebagai pilar pendukung bagi rencana pemerintah yang akan kembali menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SD pada 2027 mendatang. Dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium bahasa yang modern serta mendatangkan mahasiswa internasional pada acara penutupan, anak-anak didorong untuk berani mempraktikkan kemampuan komunikasi mereka secara natural. “Kami bertujuan meruntuhkan anggapan bahwa bahasa asing itu sulit, serta membuktikan bahwa belajar bahasa Inggris sangatlah menyenangkan ketika dikemas dengan permainan digital, nyanyian, dan pembuatan karya seni yang kreatif,” tegasnya. Di sisi lain, terobosan metode pembelajaran yang ditawarkan oleh UMM ini menuai apresiasi tinggi dari para wali murid. Mereka merasa sangat terbantu dengan adanya program kampus yang memfasilitasi pengembangan kognitif anak secara interaktif. Iin Nur Aini, salah satu orang tua peserta, menilai bahwa Kids English Camp ini adalah wadah yang sangat ideal untuk memaksimalkan potensi sang anak di luar rutinitas sekolah formal. Ia merasa bahwa pendekatan belajar sambil bermain sukses membuat anak-anak tetap antusias dan tidak mudah bosan mengikuti rangkaian acara. “Kami mendaftarkan anak-anak ke acara UMM ini agar waktu liburan mereka terisi dengan kegiatan yang bermanfaat, dan pastinya kami berharap kemampuan sekaligus kecintaan mereka pada bahasa Inggris terus meningkat,” pungkasnya.
Kids English Camp Berbasis Digital, Solusi Liburan Edukatif dari UMM

KLIKMU.CO – Momen liburan sekolah kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua untuk menemukan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai edukatif bagi buah hati. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (English Language Education Department / ELED) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi melalui kegiatan bertajuk School Holiday Program: Kids English Camp. Berlangsung selama empat hari, mulai Senin (29/6/2026) hingga Kamis (2/7/2026), di Gedung Kuliah Bersama (GKB) I dan area Perpustakaan Pusat UMM, kegiatan ini sukses menarik antusiasme lebih dari 110 peserta tingkat sekolah dasar (SD). Program tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk tetap produktif dan gembira selama masa liburan. Dosen ELED sekaligus penyelenggara kegiatan, Khoiriyah SPd MA, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai pengayaan bahasa asing dengan materi yang disesuaikan berdasarkan jenjang kelas. Menariknya, pelaksanaan camp ini terintegrasi dengan kelas profesional Center of Excellence (CoE) English for Young Learners. Melalui ekosistem tersebut, mahasiswa UMM mendapatkan kesempatan mempraktikkan keterampilan mengajar secara langsung kepada anak-anak. Selama kegiatan, peserta mengikuti berbagai aktivitas interaktif. Mereka diajak bereksplorasi melalui pembelajaran berbasis gim (Fun English with Digital Game-Based Learning), perpaduan bahasa dan sains (English and Science), beragam aktivitas luar ruang, hingga sesi penutup Be Global – Learn English with Foreigner yang mempertemukan mereka dengan salah seorang warga negara asing. “Program ini merupakan adaptasi budaya summer camp luar negeri yang kami padukan dengan nilai keislaman khas English for Muslim Kids, sehingga anak-anak dapat merasakan atmosfer belajar secara langsung di lingkungan kampus,” ujarnya. Lebih jauh, program liburan ini juga mendukung arah kebijakan pendidikan nasional. Khoiriyah menjelaskan bahwa UMM siap menjadi mitra dalam mendukung rencana pemerintah yang akan kembali menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SD mulai 2027. Dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium bahasa yang modern serta menghadirkan mahasiswa internasional pada sesi penutupan, anak-anak didorong untuk berani mempraktikkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara alami. “Kami bertujuan meruntuhkan anggapan bahwa bahasa asing itu sulit, sekaligus membuktikan bahwa belajar bahasa Inggris sangat menyenangkan ketika dikemas melalui permainan digital, nyanyian, dan pembuatan karya seni yang kreatif,” tegasnya. Terobosan metode pembelajaran yang ditawarkan UMM ini juga mendapat apresiasi dari para wali murid. Mereka mengaku terbantu dengan adanya program kampus yang memfasilitasi pengembangan kemampuan anak secara interaktif. Iin Nur Aini, salah satu orang tua peserta, menilai Kids English Camp menjadi wadah yang ideal untuk mengembangkan potensi anak di luar rutinitas sekolah formal. Menurutnya, pendekatan belajar sambil bermain membuat anak-anak tetap antusias dan tidak mudah bosan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. “Kami mendaftarkan anak-anak ke acara UMM ini agar waktu liburan mereka terisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Kami juga berharap kemampuan sekaligus kecintaan mereka terhadap bahasa Inggris terus meningkat,” pungkasnya.
Grit Fit Fest 2026, Cara Mahasiswa UMM Kampanyekan Gaya Hidup Sehat
JAVASATU.COM– Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memilih cara berbeda untuk mengampanyekan gaya hidup sehat. Melalui program activation bertajuk Grit Fit Fest 2026, mereka menggandeng Grit Fitness menghadirkan kegiatan olahraga yang diikuti 135 peserta di Plaza Begawan, Malang. Foto: Ist Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Praktikum Public Relations (PR) 3 itu berlangsung dalam dua tahap, yakni pada 20 dan 27 Juni 2026. Selama kegiatan, peserta mengikuti empat kelas olahraga, yaitu Body Pump, Body Combat, Yoga, dan Zumba yang dipandu instruktur profesional dari Grit Fitness. “Grit Fit Fest 2026 bukan sekadar kegiatan olahraga, tetapi juga menjadi media bagi kami untuk membangun hubungan yang lebih dekat antara Grit Fitness dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap semakin banyak masyarakat yang terinspirasi untuk menerapkan gaya hidup sehat, sekaligus mengenal berbagai program yang ditawarkan Grit Fitness,” ujar Ketua Pelaksana Grit Fit Fest 2026, Rafy, Sabtu (27/6/2026). Program tersebut dirancang dan dijalankan oleh mahasiswa Kelompok Praktikum Public Relations Asterisk sebagai implementasi pembelajaran di kampus. Seluruh tahapan, mulai dari riset, penyusunan strategi komunikasi, publikasi, hingga pelaksanaan acara, dikelola langsung oleh mahasiswa. Melalui konsep activation, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan teori public relations, tetapi juga membangun komunikasi antara dunia akademik, dunia usaha, dan masyarakat melalui kegiatan yang memberikan manfaat secara langsung. “Kegiatan ini menjadi wadah bagi kami untuk mengimplementasikan ilmu public relations secara nyata sekaligus memberikan manfaat bagi mitra dan masyarakat,” kata Rafy. Selain mengajak masyarakat berolahraga, Grit Fit Fest 2026 juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga kebugaran tubuh di tengah gaya hidup modern. Antusiasme peserta menunjukkan kampanye gaya hidup sehat dapat dikemas secara menarik melalui aktivitas yang interaktif dan menyenangkan. Kolaborasi antara mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dan Grit Fitness ini juga membuktikan bahwa strategi public relations tidak hanya berfokus pada promosi, tetapi mampu membangun keterlibatan publik sekaligus menciptakan dampak sosial yang positif. Melalui Grit Fit Fest 2026, mahasiswa UMM berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang terdorong menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. “Kegiatan ini menjadi pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam merancang dan mengeksekusi program komunikasi yang kreatif, edukatif, dan berdampak bagi masyarakat,” pungkas Rafy.
Perkuat Jejaring, 311 Alumni FK UMM Hadiri Reuni Perak 25 Tahun

MALANG KOTA, RADAR MALANG – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Reuni Perak 25 Tahun pada 27–28 Juni 2026. Sebanyak 311 alumni dari angkatan 2001 hingga 2020 hadir dalam kegiatan tersebut. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu dihadiri Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik beserta jajaran rektorat. Turut hadir pula para alumni yang kini berkiprah sebagai direktur rumah sakit, dosen, dokter spesialis, praktisi kesehatan, hingga pengusaha di bidang layanan kesehatan. Dalam sambutannya, Prof. Nazaruddin Malik menyampaikan bahwa reuni bukan sekadar ajang temu kangen, melainkan menjadi momentum home coming bagi keluarga besar FK UMM untuk melihat sejauh mana para alumninya telah berkontribusi di berbagai bidang pelayanan kesehatan. Menurutnya, kiprah alumni yang terus membawa nama baik almamater melalui karya nyata di tengah masyarakat merupakan kebanggaan sekaligus bukti keberhasilan proses pendidikan di FK UMM. Rangkaian kegiatan diawali dengan sharing session dan seminar ilmiah yang membahas penatalaksanaan pasien dengan penyakit kronis serta kepemimpinan di bidang pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit. Selanjutnya, peserta mengikuti Musyawarah Akbar Alumni untuk memilih Ketua Ikatan Alumni FK UMM periode 2026–2031. Suasana keakraban semakin terasa melalui gala dinner yang digelar di Hotel Aria Gajayana pada Sabtu (27/6). Rangkaian reuni kemudian ditutup dengan kegiatan Fun Run 5K di Kampus II UMM pada Minggu (28/6). Ketua Panitia Reuni Perak 25 Tahun berharap mahasiswa FK UMM yang masih menempuh pendidikan terus memegang teguh nilai-nilai doa, ikhtiar, tawakal, disiplin, serta menjaga etika selama menjalani proses pendidikan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk dokter yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki karakter Islami sesuai dengan visi Fakultas Kedokteran UMM.
Feed Innovation Expo 2026, Mahasiswa Peternakan UMM Ciptakan Suplemen Ternak Pengganti Antibiotik

pwmu.co –Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Feed Innovation Expo 2026 pada Rabu (1/7/2026). Kegiatan berbasis project-based learning tersebut memadukan pameran produk inovasi mahasiswa semester IV dengan kuliah pakar industri peternakan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong menghadirkan solusi inovatif untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan hewani sekaligus meningkatkan daya saing industri peternakan di era global. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah Garlicprem Poultry Mix, suplemen unggas yang menggabungkan premiks nutrisi dengan fitobiotik alami dari ekstrak bawang putih (alisin). Produk berbahan organik tersebut dikembangkan sebagai alternatif pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) sehingga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik kimia pada peternakan unggas. Selain membantu meningkatkan produktivitas dan daya tahan tubuh unggas, produk ini juga diklaim mampu mengurangi bau amonia kandang serta menghasilkan daging yang bebas residu bahan kimia. Mahasiswa juga memperkenalkan Galaktagoga Alami Kambing Susu dalam Bentuk Kepingan Lapang (GALAKSI TAB). Suplemen berbahan alami tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi susu kambing perah. Penggunaannya cukup praktis dengan mencampurkan dua hingga tiga keping ke dalam pakan setiap hari. Dosen Peternakan UMM, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, M.P., IPU., menjelaskan bahwa Feed Innovation Expo telah diselenggarakan secara konsisten selama satu dekade sebagai implementasi pembelajaran berbasis inovasi dan kewirausahaan. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. “Mahasiswa dituntut tidak hanya memahami teori, tetapi juga menciptakan produk komersial yang berangkat dari riset permasalahan di masyarakat hingga siap dipasarkan,” tegas Indah. Untuk memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi dunia industri, kegiatan ini juga menghadirkan Quality Assurance PT Cargill Indonesia, Wisnu Mukti Setiawan, S.Pt. Dalam paparannya, Wisnu menjelaskan pentingnya memahami konsep Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC) sebagai dasar menjaga kualitas produk agar mampu memenuhi standar industri. “Kalau QA, kita fokusnya di proses, sementara QC di produk. Jadi, QA ini adalah bagaimana kita menjaga selama proses produksi, dan QC sebagai inspeksi dan testing,” ujarnya. Seluruh inovasi yang dipamerkan dalam Feed Innovation Expo 2026 diarahkan untuk mendukung Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) sekaligus menjadi bagian dari pengembangan wirausaha melalui skema Skripsi Preneur. Melalui penguatan inovasi dan jiwa kewirausahaan tersebut, Program Studi Peternakan UMM berharap mampu melahirkan lulusan yang siap menjadi agen perubahan dalam pengembangan industri peternakan nasional.
MBG dan Masa Depan Generasi Indonesia: Menakar Manfaat, Tantangan, dan Peluang Program Makanan Bergizi Gratis

Mlanagvoice.com-Pada 6 Januari 2025, pemerintah Indonesia resmi meluncurkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu janji kampanye utama Presiden Prabowo Subianto. Program ini menyasar lebih dari 82,9 juta penerima manfaat secara bertahap, mencakup anak usia dini, siswa sekolah dasar hingga menengah atas, ibu hamil, dan ibu menyusui di seluruh penjuru nusantara. Dengan anggaran senilai Rp71 triliun yang dialokasikan dalam APBN 2025, MBG bukan sekadar program bantuan sosial biasa, melainkan pernyataan kebijakan yang ambisius tentang bagaimana negara memandang investasi dalam sumber daya manusia. Namun, di balik euforia peluncuran program berskala nasional ini, pertanyaan kritis terus bermunculan dari kalangan akademisi, ekonom, hingga praktisi gizi. Apakah program ini cukup matang untuk diimplementasikan secara masif. Artikel ini berupaya menelaah MBG secara berimbang dari sisi urgensi, potensi manfaat jangka panjang, hingga tantangan struktural yang wajib diantisipasi. Urgensi di Balik Program: Data Tidak Bisa Berbohong Gagasan di balik MBG tidak lahir dari ruang hampa. Indonesia masih bergelut dengan persoalan gizi yang serius dan multidimensi. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting pada balita masih berada di angka 21,6 persen. Artinya, hampir satu dari empat anak Indonesia tumbuh dengan tinggi badan di bawah standar akibat kekurangan gizi kronis. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dari 24,4 persen pada tahun 2021, posisinya masih jauh di atas ambang batas 20 persen yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dampak stunting terhadap kualitas manusia sangat nyata dan berjangka panjang. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menunjukkan bahwa anak yang mengalami stunting memiliki kapasitas kognitif lebih rendah, tingkat produktivitas yang berkurang hingga 20 persen saat dewasa, serta lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Ini berarti stunting bukan hanya masalah kesehatan, melainkan juga ancaman langsung terhadap produktivitas ekonomi nasional di masa mendatang. Di samping stunting, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat bahwa sekitar 9,36 persen penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi faktor utama yang memengaruhi pola makan anak, di mana asupan protein hewani, sayuran, dan buah-buahan segar kerap tidak terjangkau oleh kelompok rentan. Program MBG dalam konteks ini hadir sebagai instrumen pemerataan akses gizi yang selama ini timpang. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa program MBG dirancang tidak hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi untuk memenuhi standar gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam setiap porsi sajian. “Setiap menu MBG telah dirancang oleh ahli gizi dan disesuaikan dengan kebutuhan kalori masing-masing kelompok penerima,” ungkapnya dalam konferensi pers peluncuran program, Januari 2025. Dimensi Agribisnis: Peluang Emas bagi Petani dan Sistem Pangan Lokal Sebagai mahasiswa Agribisnis, saya melihat MBG tidak semata sebagai program sosial melainkan juga sebagai titik temu antara kebijakan gizi publik dan keberlanjutan sistem pangan nasional. Program yang membutuhkan pasokan bahan pangan dalam skala masif dan rutin ini berpotensi menjadi katalis bagi revitalisasi sektor pertanian Indonesia khususnya melalui penguatan rantai pasok pangan lokal. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional menyatakan komitmennya untuk mengutamakan bahan baku lokal dalam penyediaan menu MBG. Kebijakan ini, apabila diimplementasikan secara konsisten, dapat membuka pasar yang stabil dan terjamin bagi jutaan petani skala kecil di seluruh Indonesia. Bayangkan seorang petani sayuran di Jawa Tengah atau peternak ayam di Sulawesi Selatan yang kini memiliki pembeli tetap dengan volume permintaan yang dapat diprediksi. Ini adalah impian setiap pelaku agribisnis kecil yang selama ini bergumul dengan ketidakpastian pasar. Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Bustanul Arifin, mengemukakan pandangan yang senada. Menurutnya, MBG memiliki potensi besar sebagai instrumen penggerak ekonomi pedesaan, asalkan pengadaan bahan pangan benar-benar berbasis pada jaringan petani lokal, bukan bergantung pada impor atau pemasok besar yang kerap melewati petani kecil. “Program makan bergizi ini bisa menjadi game changer bagi pertanian lokal jika rantai pasoknya dirancang dengan benar dan transparan,” tegasnya. Lebih jauh, program sebesar MBG juga berpotensi mendorong diversifikasi pangan dengan meningkatkan konsumsi sumber protein lokal seperti ikan, telur, tempe, dan tahu, serta beragam sayuran dan umbi-umbian yang selama ini kurang termanfaatkan. Dalam perspektif ketahanan pangan, langkah ini merupakan strategis yang tidak bisa diabaikan. Investasi Jangka Panjang: Belajar dari Pengalaman Dunia Skeptisisme terhadap efektivitas program makan gratis di sekolah adalah hal yang wajar. Namun, bukti dari berbagai negara memberikan gambaran yang menggembirakan. Program makan siang sekolah (school feeding program) yang telah dijalankan oleh negara-negara seperti Brasil, India, Jepang, dan negara-negara Nordik selama puluhan tahun terbukti memberikan dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek pembangunan manusia. Program Kanshoku di Jepang, yang telah berjalan sejak tahun 1954 menjadi salah satu contoh paling sukses di dunia. Program ini tidak hanya menyediakan makanan bergizi bagi para siswa, tetapi juga menjadi media edukasi tentang budaya makan sehat dan nilai kebersamaan. Hasilnya, Jepang kini dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat harapan hidup tertinggi di dunia dan angka obesitas anak yang sangat rendah hanya sekitar 4,5 persen, jauh di bawah rata-rata negara OECD. Program Alimentação Escolar di Brazil juga memberikan pelajaran berharga. Dikelola sejak 1955 dan kini menjangkau lebih dari 40 juta siswa, program ini berhasil menurunkan angka putus sekolah, meningkatkan kehadiran siswa, dan mendorong prestasi akademik. Data dari Fundo Nacional de Desenvolvimento da Educação (FNDE) Brasil menunjukkan bahwa daerah dengan cakupan program makan siang yang tinggi mengalami peningkatan nilai ujian nasional rata-rata 10-15 persen dibandingkan daerah dengan cakupan rendah. World Food Programme (WFP) PBB dalam laporan State of School Feeding Worldwide 2022 mencatat bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan dalam program makan siang sekolah di negara berkembang dapat menghasilkan return ekonomi hingga 9 dolar melalui peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas jangka panjang. Ini adalah rasio investasi yang sangat menarik bagi sebuah program pemerintah. Tantangan Nyata yang Tidak Boleh Disepelekan Optimisme terhadap MBG harus diimbangi dengan kejujuran intelektual tentang tantangan nyata di lapangan. Implementasi program berskala 82 juta penerima manfaat di negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan heterogenitas sosial-budaya yang luar biasa ini bukanlah perkara sederhana. Pertama, persoalan infrastruktur dan logistik. Indonesia Timur mencakup Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara memiliki keterbatasan infrastruktur transportasi dan penyimpanan pangan yang signifikan. Mendistribusikan makanan segar yang memenuhi standar gizi ke daerah-daerah terpencil setiap hari memerlukan sistem rantai dingin (cold
Satu Orang, Tiga Usaha, dan Urusan NIB yang Belum Beres

MALANG POST – Angkanya tampak mentereng: 49.420. Itulah jumlah unit usaha di Kota Malang yang hingga Juli 2026 ini tercatat resmi mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB). Uniknya, puluhan ribu izin itu ternyata hanya dimiliki oleh 41.270 orang saja. Artinya apa? Satu orang pelaku usaha di Malang rata-rata memiliki lebih dari satu lini bisnis. Jiwa dagang arek Malang memang luar biasa lincah. Namun, di balik angka mentereng itu, terselip sebuah paradoks. Jika ditotal secara keseluruhan secara riil di lapangan, jumlah pelaku UMKM di Kota Malang sebenarnya raksasa: mencapai lebih dari 100 ribu orang. Itu berarti, masih ada separuh lebih pedagang kita yang status hukum bisnisnya masih “gelap” alias belum legal. Tanpa NIB, mereka mustahil bisa menembus rak-rak modern atau mengajukan kredit bank. Siasat mendongkrak kelas UMKM di tengah musim libur panjang ini dikupas habis dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Kamis (2/7/2026) hari ini. Otoritas dinas, akademisi, hingga pegiat usaha berkumpul membedah strategi lapangan. Kabid UMKM Diskopindag Kota Malang, Faried Su’aidi, menegaskan pemerintah daerah sedang ngebut memotong kompas birokrasi perizinan. Karpet merah kemudahan urus NIB digelar. “Kami tidak bisa jalan sendiri. Terakhir, kami berkolaborasi dengan DPMPTSP Provinsi Jatim membuka kuota pengurusan legalitas gratis untuk 150 UMKM. Ini krusial. Ketika UMKM sudah pegang legalitas, pintu gerbang untuk menjangkau pasar konsumen yang jauh lebih luas otomatis terbuka lebar,” urai Faried. Diskopindag juga tidak ingin UMKM Malang mati angin setelah dapat izin. Tiga program peluru disiapkan: Perjanjian Kerja Sama (PKS) titip produk di toko pusat oleh-oleh, program Business Matching setiap akhir tahun untuk mempertemukan perajin dengan pembeli kakap, serta fasilitas “Klinik Bisnis”. Klinik ini menjadi tempat konsultasi gratis urusan jejaring dan ilmu digital marketing. Menyerbu Uang Mahasiswa yang Ogah Pulang Musim liburan sekolah dan kampus seperti sekarang adalah masa panen raya. Sudut pandang menarik dilemparkan oleh Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Venus Kusumawardana. Banyak orang mengira saat libur kuliah, Malang akan sepi karena ditinggal mudik mahasiswa. Dugaan itu keliru. “Sebagian besar mahasiswa justru memilih bertahan di Malang. Bahkan banyak yang mendatangkan keluarga mereka dari luar pulau untuk berlibur di sini. Mereka mengeksplorasi kuliner dan berwisata belanja. Ini pasar raksasa,” analisis Venus. Tantangan infrastruktur jalan ke tempat wisata dinilai Venus sudah mulai beres di tangan pemkot. Musuh utama UMKM saat ini tinggal satu: permodalan yang cekak. “Siasati itu dengan cerdas. Ambil sistem maklon atau ambil produk dari tempat lain dengan perjanjian konsinyasi tertentu. Jangan menyerah karena modal,” tambahnya. Berburu Cuan Bermodal Data Bagaimana cara UMKM memenangkan pertempuran berebut isi dompet wisatawan? Pegiat UMKM Malang, Rike Fransisca, menyodorkan resep modern: jangan jualan pakai perasaan, pakailah data. “Penguatan database pelanggan itu mutlak. Dari data itulah kita bisa tahu siapa target segmen pasar kita, apa yang mereka sukai, dan kapan mereka berbelanja. Strategi penjualan musim liburan akan zonk kalau kita tidak pegang data,” tegas Rike. Rike melempar wejangan penutup agar para pelaku usaha di Malang Raya membuang jauh-jauh sifat ego sektoral. “Keluar dari rumah, gabung dengan komunitas UMKM. Di sanalah gudangnya info, jejaring modal, dan ilmu baru berada,” pungkasnya. Potensi 100 ribu UMKM di Kota Malang adalah mesin ekonomi yang dahsyat. Fasilitas Klinik Bisnis sudah dibuka, kuota NIB gratis sudah dibagikan. Kini tinggal kemauan para pelaku usaha: mau tetap bertahan di zona nyaman sebagai pedagang informal, atau berani mengurus legalitas demi naik kelas menjadi pengusaha formal yang mapan.
Prof. Khozin: Orang Tua Harus Jadi Teladan Utama bagi Anak

Tagar.co – Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. Khozin, M.Si. menyampaikan pandangan mengenai tantangan pendidikan saat ini. Bagi Khozin, tantangan itu tidak hanya terletak pada kemampuan anak dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi, juga pada kemampuan keluarga dan sekolah dalam membentuk karakter, akhlak, serta ketahanan mental anak. Hal itu ia sampaikan saat memberikan motivasi pendidikan dalam acara Pisah Pasrah murid kelas VI SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A dan B. Kegiatan bertajuk “Menyulam Cinta, Menggapai Hangatnya Cita-Cita” itu berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik pada Kamis (25/6/2026). Momen kelulusan ini terasa istimewa karena tidak hanya para murid kelas VI yang bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah yang hadir. Akan tetapi, juga para orang tua yang turut mendampingi putra-putri mereka dalam prosesi pelepasan. Ukuran Keberhasilan Pendidikan Dalam paparannya, Khozin mengulas berbagai strategi mendidik generasi muda di tengah perkembangan era digital yang berlangsung sangat cepat. Baca Juga: Pisah Pasrah, 152 Murid SD Mugres Siapkan Cita-Cita Masa Depan Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat terukur semata-mata dari prestasi akademik, melainkan juga dari kualitas kepribadian dan akhlak yang dimiliki anak. Khozin menjelaskan, generasi saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda daripada generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah arus informasi yang tidak terbatas, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat, serta pengaruh media sosial yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Karena itu, menurutnya, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan material anak. Orang tua juga harus hadir sebagai pendamping, sahabat, sekaligus teladan utama dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa keteladanan orang tua merupakan metode pendidikan yang paling efektif dan paling mudah anak-anak tiru. “Anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mereka juga memperhatikan dan meniru apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari rumah. Orang tua harus menjadi contoh dalam ibadah, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak mulia,” jelas guru besar bidang Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Baca Juga: Sebelum Memikirkan Profesi, Bangun Dulu Akidah Anak Rumah Penuh Kasih Sayang Ia juga mengingatkan pentingnya membangun suasana rumah yang hangat, nyaman, dan penuh kasih sayang. Menurutnya, rumah harus menjadi tempat terbaik bagi anak untuk belajar, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan memperoleh dukungan emosional. Selain itu, Khozin mengajak para orang tua untuk memberikan ruang kepada anak dalam mengembangkan potensi dan cita-citanya. Ia menilai bahwa setiap anak memiliki keunikan, bakat, dan kecerdasan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak tepat jika seluruh anak menempuh jalan yang sama dengan paksaan. “Jangan memaksakan mimpi orang tua kepada anak. Tugas kita adalah menemukan potensi terbaik mereka, mendampingi prosesnya, dan mendoakan keberhasilannya. Anak yang tumbuh dengan cinta, kepercayaan, dan dukungan akan memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan zaman,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana UMM ini. Keseimbangan Empat Aspek Dalam kesempatan tersebut, Khozin juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Menurutnya, keberhasilan seseorang pada masa depan sangat terpengaruh oleh kemampuan mengelola keempat aspek tersebut secara seimbang. Prof. Khozin, kanan, didampingi oleh Ketua PCM Gresik Drs. Mohammad Sholichin, M.Pd. (Tagar.co/Dwi Yoga Purnama) Sebagai salah satu pesan utama dalam materinya, Khozin mengajak para orang tua untuk terus mendoakan anak-anaknya. Ia mengutip doa yang bersumber dari hadis Rasulullah saw. agar para orang tua selalu memanjatkannya. Doa tersebut berbunyi Allahumma faqqihu fid-diin wa ‘allimhu ta’wiil, yang artinya, “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ilmu takwil (tafsir Al-Qur’an).” Baca Juga: Silaturahmi ke Sekolah Para Juara, SD Mugres dan Spemutu Dapat Kejutan Ini Menurut Khozin, fondasi pemahaman agama yang kuat sejak usia dini merupakan benteng terbaik bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang tinggi harus berjalan seiring dengan kekuatan iman dan akhlak. Antusiasme dan keharuan juga dirasakan oleh para wali murid SD Mugres yang hadir. Salah seorang wali murid mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Sangat menyentuh hati dan sarat ilmu. Materi yang disampaikan Prof. Khozin membuka wawasan kami sebagai orang tua. Momentum pisah pasrah ini menyadarkan saya bahwa mendampingi anak yang mulai memasuki usia remaja membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan doa yang tidak boleh putus” ungkap wali murid dari M. Fathan Afdiansyah.