Begini Kisah Unik Mahasiswa UMM di Polandia

Salah satu keuntungan berkuliah di luar negeri adalah mendapat kesempatan memaknai arti toleransi lebih dalam. Baik dari perbedaan budaya maupun agama. Hal tersebut dirasakan oleh Avilla Nadhif Firjatullah, mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mendapatkan beasiswa dari Erasmus. Sekarang, ia tengah menjalani pertukaran mahasiswa di WSB University, Polandia hingga beberapa bulan ke depan Villa, sapaan akrabnya menceritakan bagaimana ia belajar toleransi di sana dengan menjadi minoritas. Sejak kecil, ia memang dibesarkan di lingkungan masyarakat  mayoritas muslim. Hal itu bertolak belakang dengan apa yang ia alami di Polandia yang memiliki banyak gereja. Beberapa terlihat klasik karena merupakan bangunan bekas peninggalan sejarah. Ia bahkan mendapatkan pengalaman menarik. Pernah suatu ketika ia diajak untuk datang ke gereja, karena temannya tidak pernah melihat Villa pergi ke gereja. Padahal alasan ia tidak ke gereja karena ia adalah seorang muslim. “Saya juga sempat mengobrol dan sesekali bercanda dengan mereka yang beribadah di sana. Menurut saya, kota Poznan adalah kota yang tidak begitu besar. Penduduknya hanya sekitar 500 ribuan. Meksi begitu, saya jatuh cinta dengan Poznan, dengan suasananya dan toleransinya,” kata mahasiswa asal Tuban itu. Saat punya waktu luang, Villa menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa destinasi dan mencoba berbagai makanan lokal. Salah satu yang ia sukai adalah pierogi, makanan khas yang sering dihidangkan untuk menerima tamu atau ada acara adat. “Pierogi di Indonesia itu mirip seperti pastel yang dijual di pasar. Biasanya diisi dengan kentang, daging ayam, dan sayur-sayuran. Kadang juga berisi selai buah-buahan seperti stroberi, prem, lainnya. Alhamdulillah rasanya bisa saya terima di lidah saya,” ujarnya. Selama di Poznan, Villa lebih sering memasak sendiri. Hal itu tidak lepas dari mayoritas penduduk yang menganut agama non-Islam. Sehingga ia sangat berhati-hati dalam memilih makanan. Beruntung, ia cukup mudah mencari bahan yang halal dan sehat di sana. Bahkan beberapa makanan juga diimpor dari negara-negara muslim. Menjalani hari jauh dari rumah juga tidak semenyeramkan yang ia bayangkan sebelumnya. Apalagi saat tahu biaya hidup di sana cukup terjangkau. Ditambah dengan akses, transportasi, dan fasiliyas yang membuatnya hobi menjelajahi kota. Bahkan hingga keluar kota Poznan. Ia juga berpesan ke anak-anak muda untuk berani mencoba hal baru dan tidak takut gagal. Siapa tahu hal yang awalnya dikira gagal, malah membawa ke keberhasilan. “Harus bisa melewati proses dan berani mencoba. Kalau tidak dicoba, kita mana bisa tahu hasilnya akan seperti apa. Bahkan kita mungkin bisa mencapai hal yang sebelumnya dianggap mustahil,” tegasnya mengakhiri. (ril/wil)

Pengusaha asal Makau Beri 40 Beasiswa S2 dan S3 bagi Sivitas Akademika UMM

Kerja keras dan tekun adalah kunci menggapai kesuksesan. Hal itu juga yang dirasakan dan diceritakan President Director OBOR Education Foundation, Soe To Tie Lin di depan ribuan wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun gelaran wisuda tersebut dilaksanakan pada 23 Mei 2023 lalu. John, sapaan akrab Soe To Tie Lin, sehari-hari menjalankan berbagai bisnis dan beraktivitas di Makau, Tiongkok. Ia juga merupakan president commisioner PT. Sunindo Pratama yang bergerak di bidang minyak dan gas. Selain itu, menduduki jabatan president director One Belt One Road (OBOR) Scholarship. Maksud kedatangannya ke UMM adalah untuk memperkenalkan beasiswa OBOR yang memungkinkan sivitas akademika Indonesia untuk melanjutkan studi ke Tiongkok. Bahkan ia juga menyiapkan 40 beasiswa master dan doktoral untuk melanjutkan studi di Tiongkok bagi sivitas akademika Kampus Putih. Lebih lanjut, ia juga bercerita bagaimana proses yang harus dia lakoni hingga bisa mencapai titik sekarang. Menurutnya, para lulusan harus tahu dan mempelajari skill yang jarang dimiliki banyak orang. Sehingga akna banyak pihak yang mencari dan berebut mendapatkan sumber daya manusia yang menguasa skill itu. “Jangan lupa untuk menjadi pribadi yang berintegritas agar dapat mendapatkan reputasi yang baik sepanjang merinstis karir,” tegas pengusaha besar asal kota Makau, Tiongkok, itu. Penguasaan teknologi juga menjadi hal yang semestinya dimiliki oleh wisudawan. Tidak hanya tahu, tapi juga memanfaatkannya dengan baik. Pun dengan keterampilan manajemen dan observasi. Para lulusan juga tidak boleh takut untuk merangkul resiko dan membuat keputusan penting. “Jangan mudah tergoda dengan berbagai hal di dunia ini. Fokus dengan tujuan anda dan pastikan bisa mencapainya,” pesan John. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa kedatangan John ke Kampus Putih memiliki misi khusus. Salah satunya yakni bekerjasama dan mengimplementasikan perusahaannya dengan UMM. Dengan begitu, akan ada berbagai manfaat yang timbul berkat kolaborasi keduanya. Fauzan juga mengatakan, menjadi seorang sarjana merupakan awal dari kehidupan membangun karir di masa depan. Maka dari itu, UMM sudah menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi SDM unggul melalui Center of Excellence (CoE). Program ini didasari oleh satu pemikiran strategis dan futuristik, yakni realita bahwa tahun 2025-2038 Indonesia akan berada di fase bonus demografi. Di mana, penduduk Indonesia dengan angka usia produktif memiliki jumlah yang jauh lebih besar ketimbang non-produktif.  Yakni mencapai 73% berbanding  kurang dari 24%. “UMM tidak ingin fase bonus demografi yang dimiliki Indonesia malah menjadi malapetaka. Maka CoE hadir untuk membekali mahasiswa, menyiapkan diri untuk bisa bersaing di dunia kerja serta memiliki jiwa yang mandiri,” kata Fauzan. (ri/wil)

Jadi Ojol hingga Buka Bisnis Udang, Ini Kisah Inspiratif Wisudawan Berprestasi UMM

Pernah menjadi driver ojek online (ojol) hingga bercita-cita menjadi pelopor bisnis udang di Bojonegoro. Proses itulah yang sudah dialami oleh salah satu lulusan berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Agill Thevany. Adapun bisnis udangnya merupakan hasil dari penerapan program kelas keahlian Center of Excellence (CoE) budidaya Udang, yang menjadi implementasi nyata program pemerintah yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa Prodi Akuakultur itu bahkan berhasil menyelesaikan studi sarjananya dengan Indeks Prestasi Kumulatif sangat memuaskan. Agill, sapaan akrabnya, mengatakan alasannya menjadi driver ojol untuk menambah uang saku. Selain itu juga berupaya meringankan beban orang tua dalam membiayai dirinya hidup di Malang. “Jadi ojol itu sebenarnya sudah saya lakoni dari sebelum kuliah. Kebetulan dulu ada waktu luang sembari menunggu hasil pengumuman masuk kuliah. Apalagi beberapa kali saya butuh uang sehingga saya coba mendaftar menjadi ojol. Alhamdulillah diterima dan saya teruskan saat menjadi mahasiswa,” ungkap Agill. Lebih lanjut, pemuda asal Bojonegoro itu juga memiliki ketertarikan mengembangkan budidaya udang di kota asalnya. Apalahi komoditas udang di Bojonegoro sangat jarang, bahkan mungkin tidak ada. Dari situlah ia melihat peluang besar yang bisa ia gali. Apalagi ia sempat diarahkan prodi Akuakultur UMM untuk magang di perusahaan tambak udang yang besar. Menurutnya, selama magang itulah ia bisa tahu banyak hal terkait bisnis udang. Ia diajari proses awal persiapan hingga akhirnya bisa memanen. “Saya jadi tahu banyak jenis udang serta jenis apa saja yang bagus untuk dijual. Dari pengalaman dan ilmu itulah, saya merintis usaha di dekat rumah saya Bojonegoro,” jelasnya. Adapun budidaya udang yang ia tekuni tergolong baru. Ia baru sekali memanen udang yang ia budidaya dan cukup menguntungkan. Apalagi di daerahnya, harga udang di pasar mencapai Rp60.000 untuk satu kilonya. “Saya cukup beruntung karena orang tua selalu mendukung apapun keinginan saya, termasuk untuk usaha budidaya udang ini. Sejauh ini sudah ada empat kolam udang di rumah. Adapun jenis udang yang saya kembangkan adalah vaname, karena memiliki usia budidaya yang lebih rendah, pertumbuhan lebih cepat, dan lebih kuat terhadap penyakit,” terang Agill. Terakhir, pemuda kelahiran 2001 itu berharap ilmu yang didapat di bangku kuliah tidak  hanya menjadi angin lalu. Namun mampu mendorongnya untuk bermanfaat bagi sesama. Paling tidak ke orang-orang terdekat di kampungnya. “Semoga usaha udang saya ini semakin maju, sehingga saya bsia membuka lapangan pekerjaan dan membantu sesama. Sarjana tidak harus selalu bekerja di kantor atau gedung tinggi, tapi juga bisa membangun daerahnya menjadi lebih baik. Sekalipun perubahan yang dibuat berada dalam lingkup yang kecil,” pungkasnya. (zak/wil)

Dosen UMM Ciptakan Pakan Koi dengan Harga Terjangkau

Pakan ikan menjadi salah satu komponen biaya tertinggi dalam budidaya koi. Bahkan bisa mencapai sekitar 60% dari total biaya produksi. Harga pakan pun terbilang mahal, karena biaya untuk pakan induk produksi import dapat mencapai Rp250 ribu perkilogram dan pakan pembesaran koi mencapai Rp50 ribu perkilogram. Kondisi tersebut mendorong tim dosen program studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan inovasi dengan memproduksi pakan ikan koi mandiri berbasis bahan baku lokal. Salah satu anggota tim, Ganjar Adhywirawan, S.Pi. MP. menjelaskan, bahan baku lokal yang bahwa bahan baku lokal yang dibuat tak hanya berbiaya lebih terjangkau, namun memiliki kandungan nutrisi yang baik dan sesuai kebutuhan ikan koi. Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah tepung ikan, tepung magot, tepung bekatul, tepung cacing dan spirulina. “Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari inovasi ini, terutama dari aspek pengadaan pakan. Biaya pakan bisa ditekan serta ketersediaan pakan selama proses budidaya dapat terpenuhi. Apalagi bahan baku lokal sangat melimpah,” ucap Ganjar, begitu ia kerap disapa. Tahap pembuatan pakan diawali dengan melakukan penentuan bahan baku lokal. Kemudian penyusunan formulasi pakan yang dilanjutkan proses produksi menggunakan mesin pencetak pakan koi. Lalu melewati proses pengeringan dan terakhir pengemasan. “Rencananya pakan ikan koi ini akan diproduksi massal pada bulan September usai melalui uji coba terlebih dahulu pada bulan Juli mendatang,” lanjut Ganjar menjelaskan. Adapun inovasi dan penelitian pakan koi ini dimulai sejak 2022 lalu dan direalisasikan pada 2023 melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dalam bentuk kerjasama. Yakni kolaborasi antara Prodi Akuakultur dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan mitra dunia usaha dunia industri (DUDI), CV. Indokoi Malang. Pengembangan pakan ini juga tak lepas dari adanya Center of Excellence Koi yang didirikan oleh prodi akuakultur. Pakan ikan ini juga menjadi bukti bahwa CoE mampu memberikan inovasi dan terobosan baru untuk membantu para peternak koi. Jadi tidak hanya mencetak sumber daya manusia yang mumpuni, tapi juga menebar manfaat ke sesama. Ganjar juga menambahkan bahwa inovasi pembuatan pakan ikan koi merupakan hasil riset awal dari Dr. Hany Handajani, S.Pi, M.Si bersama tim dosen program studi akuakultur. Keefektivan penggunaan bahan lokal tersebut diharapkan memberi keuntungan lebih besar pada budidaya ikan koi. Sehingga tidak perlu mengkhawatirkan pengeluaran yang tinggi. “Keunggulan dari pakan produk kami tentunya biaya produksi yang lebih terjangkau. Harga jual juga murah serta penggunaan bahan baku berbasis lokal, bukan bahan import,” pungkasnya. (nia/wil)

Dubes Indonesia untuk Spanyol di AIK UMM: Sudah Waktunya Muhammadiyah Lebarkan Sayap ke Spanyol

Muhammadiyah miliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan lembaga Pendidikan Islam di Eropa, khususnya di Spanyol. Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Spanyol, Dr. Muhammad Najib, M.Sc. dalam agenda Penyegaran Wawasan Keislaman dan Kemuhamamdiyahan dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam agenda yang dilaksanakan pada 17 Mei itu, ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar di dunia dan terkoordinasi dengan baik. Hal itu bisa menjadi modal awal dalam menarik masyarakat muslim di Spanyol. Apalagi antusiasme mereka akan Islam cukup tinggi. “Muhammadiyah ini sangat besar, visinya juga sangat jelas. Sudah saatnya untuk melebarkan sayap persyarikatan ke tanah Eropa, khususnya Spanyol,” kata Najib. Menurutnya, Spanyol menjadi tempat yang ideal bagi Muhammadiyah untuk melebarkan sayap. Hal itu tak lepas dari banyaknya kelompok sarjana yang mendalami sejarah Islam di sana. Apalagi melihat sejarah di mana Islam pernah berada di fase kejayaan saat menduudki Spanyol, tepatnya di Andalusia pada zaman Bani Abbasiyah abad ketujuh hingga sepuluh masehi. Pada masa itu pula, Islam mampu melahirkan banyak sekali tokoh yang menciptakan karya. Baik itu dari ilmu filsafat, astronomi, matematika, bahkan kedokteran. Alasan lainnya yakni ada banyak warga negara Indonesia (WNI) muslim yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Seringkali mereka membutuhkan wadah pendidikan agama Islam untuk anak-anaknya. Apalagi di Spanyol, hanya ada segelintir pendidikan Islam yang tersedia. “Maka, menurut saya, Muhammadiyah punya kemampuan untuk menjawab kebutuhan saudara muslim kita. Dengan sumber daya manusia dan amal usaha yang melimpah, saya rasa Muhammadiyah bisa melakukannya dengan baik,” tambah Najib. Terakhir, ia juga berpesan kepada mahasiswa serta dosen yang ada di Indonesia, termasuk UMM, untuk tidak bosan mengkaji secara mendalam ilmu agama islam. Pun dengan semangat untuk melanjutkan studi di luar negeri karena dapat membuka wawasan serta pengalaman menjadi minoritas. “Mahasiswa dan dosen Indonesia memang harus punya mimpi menimba ilmu di negeri orang. Dengan begitu, kita bisa tahu pandangan mereka dan bagaimana rasanya menjadi seorang minoritas. Bahkan mungkin kita juga bisa melihat bagaimana Islam dipelajari di negara-negara lain,” pungkasnya. (faq/wil)

Konsolidasi LHKP di UMM, Busyro Sebut Muhammadiyah Tidak Anti Politik

Muhammadiyah tidak anti partai politik karena dalma sejarah tidak ada ideologi yang mempertentangkan keduanya. Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) muhammadiyah, Dr. H. M. Busyro Muqoddas dalam konsolidasi Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) se pulau Jawa. Agenda yang dilaksanakan pada 17 Mei 2023 di Kapal Garden Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menjadi upaya Muhammadiyah dalam menyongsong tahun politik 2024. Adapun tujuan kegiatan itu adalah untuk memperkuat peran strategis LHKP pada ranah politik kebangsaan dan kebijakan publik. Busyro juga menyebut bahwa hubungan Muhammadiyah dan politik jelas termaktub dalam matan dan cita-cita Muhammadiyah. “Sebagai organisasi, Muhammadiyah tidak lepas dari intensitas habluminallah dan habluminannas. Pun dengan kegiatan politik terutama pada bidang politik kreatif, maka kita harus lebih hikmah. Kata hikmah di sini merupakan perpaduan antara kepekaan qolbun salim dan kepekaan akal waras atau akal budi,” ungkap Busyro. Lebih lanjut, ia mengatakan, walaupun Muhammadiyah bukan partai politik, namun memiliki tradisi demokrasi yang baik. Pun dengan proses demokratisasi. “Sebagai salah satu unsur Chief Strategy Officer (CSO), Muhammadiyah tetap akan memasang posisi menjaga jarak. Apalagi melihat politik praktis seperti sekarang. Muhammadiyah akan tetap konsisten untuk memperkuat jati dirinya, menebar kebermanfaatan pada masyarakat karena hal itu adalah amanat Allah dan amanat muktamirin,” tegas Busyro. Adapun konsolidasi tersebut menjadi yang pertama dan akan disusul di lima regional lainnya. Hingga nanti akan berakhir pada rakernas pada Agustus mendatang. Dalam kesempatan itu, LHKP Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim juga meluncurkan platform Maklumat.id. Situs ini merupakan media online yang menjadi corong umat, khususnya yang berkaitan dengan politik. Disisi lain, Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd. mengatakan, yang paling penting dari agenda konsolidasi ini adalah hasil akhir. Dalam hal mempersiapkan kader dari Muhammadiyah, LHKP perlu menggunakan paradigma yang berbeda, agar para kader nantinya bisa diterima dari khalayak manapun. “Seperti halnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang telah banyak melakukan kerjasama dengan banyak pihak. Misalnya saja dengan sederet pemerintah daerah untuk membantu dan berkontribusi langsung di daerah terkait. Memberikan masukan di banyak aspek dan sektor. Terbaru, UMM telah berkolaborasi dengan Pemkab Tabanan mengenai Subak di Bali,” ungkap Fauzan. Oleh karena itu, Fauzan menambahkan, inklusivitas atau cara pandang terbuka harus menjadi nafas dari LKHP. Apalagi jika akhir yang diinginkan lembaga ini adlaah hikmah. Dengan begitu, Muhammadiyah tidak hanya berkembang dari segi biologisnya saja, tetapi berkembang pula sosiologis dan ideologinya. (zak/wil)

FKIP UMM Sukses Cetak Lulusan PPG Terbanyak

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi pelaksana Program Pendidikan Guru (PPG) dengan indeks kelulusan paling banyak. Hal itu ditegaskan Sekretaris Menteri Agama (Menag) Muhammad Sidik Sisdiyanto, S.Ag., M.Pd. dalam Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Profesi PPG dalam Jabatan Bagi Guru Madrasah Kementrian Agama, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, 20 Mei lalu. Ada 482 mahasiswa yang berhasil lulus dari berbagai bidang seperti biologi, bahasa Inggris, dan lainnya. Lebih lanjut, Sidik menegaskan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam pendidikan. Bukan hanya melakukan transfer ilmu saja, namun juga harus menjadi contoh bagi para anak didik. Mengingat teknologi saat ini tidak dapat memberikan pendidikan akhlak secara komprehensif layaknya seorang guru. “Saat menemui masalah atau pertanyaan sulit, anak-anak sekarang cenderung lansgugn mencarinya di Google. Namun kecanggihan itu belum bisa memberikan pembelajaran akhlak. Di sinilah peran strategis guru yang harus selalu membimbing mereka,” ungkapnya. Sidik juga mengingatkan, guru memang harus mampu membawa nilai-nilai profetik dalam mendidik anak-anak. Apalagi Nabi Muhammad merupakan teladan bagi umat Islam. Ia juga memberikan sederet pesan yang dikutip dari K.H. Ahmad Dahlan. Salah satu kriteria guru yang kompeten adalah mereka yang mampu menguasai proses belajar dan mengajar dengan menciptakan suasana belajar yang kondusif dan optimal. Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Sekretaris Panitia Nasional PPG Kemenag RI Dr. Mustofa Fahmi, M.Ed. ia menjelaskan bahwa ada sekitar 831 ribu guru aktif di madrasah. Sayangnya, masih ada 49 persen atau 431 ribuan guru yang belum tersertifikasi. Maka, peserta PPG yang sudah menyelesaikan program patut bersyukur bisa masuk dan mengikuti PPG di UMM. Ia juga menjelaskan menjelaskan, saat ini ada empat fokus utama yang dikembangkan dalam upaya  meningkatkan kompetensi guru. Yakni peningkatan kompetensi, peningkatan kualifikasi, dan peningkatan karir. Pun dengan peningkatan di aspek kesejahteraan guru. Fahmi juga berpesan agar lulusan PPG tetap mengedepankan misi kebaikan serta mengoptimalkan ilmu yang didapat selama menjalani program. “Saya ucapkan selamat dan sukses. Kalau sebelum PPG siswa-siswa beristighfar saat bapak dan ibu masuk kelas, maka sekarang insyaallah mereka akan mengucap alhamdulillah karena bapak ibu merupakan guru-guru terbaik dan profesional,” katanya. Sementara itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan bahwa bonus demografi Indonesia diprediksi akan berakhir pada 2038. Maka, perlu adanya upaya masif untuk memanfaatkan momen tersebut dan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia. “Saat berbicara mengenai SDM, sudah barang tentu larinya akan ke pendidikan dan guru. Sehingga bapak dan ibu memiliki tanggungjawab mengembangkan SDM yang memiliki cerdan dan berkompeten melalui didikan yang baik dan benar,” tegasnya. Hal serupa juga dikatakan dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayano, M.M. Ia mengatakan bahwa artificial intelligence (AI) sudah meluas. Banyak sektor yang memanfaatkan AI dan bahkan manusia mulai tergantikan. Termasuk di dalamnya bidang pendidikan dan pengajaran. “Apakah peran guru akan tergilas? Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan bermintra, merangkul, serta memanfaatkan teknologi untuk mengatasi problem pendidikan yang sedang kita hadapi,” pungkas Trisakti. (Faq/Wil)

Upacara Hari Kebangkitan Keluarga Besar UMM

Sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkiprah dengan semangat kebangkitan. Berbagai upaya itu bahkan mendapat mendapat apresiasi dari The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), khususnya di bidang pendidikan dan sosial. Hal itu disampaikan oleh Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. dalam amanatnya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2023 lalu. Lebih lanjut, Fauzan menilai, respon UNESCO menjadi hal yang strategis karena dapat  meningkatkan kepercayaan dunia terhadap Kampus Putih UMM. Raihan itu tentu berkat sivitas akademika yang berpikir dan bertindak berdasarkan nilai-nilai kebangkitan. Sehingga muncul inovasi dan kreativitas yang solutif seperti pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) hingga solusi akan aspek pangan. Upacara tersebut juga dimaksudkan untuk mengenang kembali serta momen munasabah untuk membangkitkan nilai-nilai pantang menyerah yang dimiliki tokoh pejuang. “Peringatan hari kebangkitan nasional tentu saja mengingatkan kita kepada para tokoh perjuangan seperti dr. Soetomo bersama rekan seperjuangannya melalui organisasi yang didirikannya Budi Utomo. Melalui organisasi itu, rakyat Indonesia bersatu padu membangun kesadaran akan arti rasa nasionalisme untuk menjadi bangsa yang merdeka,” terang Fauzan. Menurut Fauzan, peradaban suatu negara dapat terus kokoh karena masyarakatnya yang terdidik. Melalui pendidikan, bangsa Indonesia mampu jadi bangsa yang merdeka dan tidak mudah dijajah oleh bangsa lain. Peran tersebut juga harus diambil oleh UMM dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia (SDM) terbaik yang mampu memajukan bangsa. “Peringatan ini juga menjadi semangat dan nafas warga UMM dalam mengerjakan amanah dan tanggung jawabnya. Mengerjakan dengan memasukkan unsur kreatif, inovatif, dan solutif. Tidak boleh lelah untuk bergerak maju menyongsong Indonesia yang lebih baik,” tegas Fauzan. Dalam kesempatan itu pula, Kampus Putih UMM memberikan sederet penghargaan bagi sivitas akademika yang memiliki prestasi. Di antaranya para dosen yang memberikan terobosan serta penelitian baru, karyawan dengan kedisiplinan tinggi, hingga mereka yang sudah mengabdi pada UMM selama lebih dari 25 tahun. Begitupun dengan para humas tingkat fakultas dan program studi yang dinilai mampu menyebarkan informasi yang baik pada masyarakat. Mereka mendapatkan penghargaan atas kinerja dan upayanya dalma berkiprah. Terakhir, yakni kepada para empat mahasiswa berprestasi yang sukses memaksimalkan potensi dan meraih beragam kejuaraan. (Zak/Wil)

Viral Penyakit Rabies, Begini Penjelasan Dosen FK UMM

Beberapa waktu lalu, viral sebuah video di media sosial di mana seorang anak menderita rabies berkat gigitan anjing. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami penyakit ini. Hal itu mendorong Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dr. Gerry Permadi, Sp.PD. untuk menjelaskannya. Penyakit Rabies atau yang sering disebut sebagai penyakit ‘anjing gila’ adalah salah satu penyakit yang fatal apabila berhasil menjangkiti manusia. Bahkan angka kematian apabila orang yang tertular tidak ditangani dengan tepat hampir mencapai 100%. Oleh karena itu, penting untuk difahami apa penyebab dan bagaimana cara agar terhindar dari penyakit rabies tersebut. Adapun penyakit ini ditularkan melalui virus yang berada di tubuh hewan terkena rabies seperti anjing, kera, dan kucing. “Rabies biasanya ditularkan melalui gigitan terbuka atau kontak air liur dari hewan yang telah terkena virus rabies. Persentasenya sekitar 98% dari gigitan anjing dan hanya 2% sisanya yang berasal dari kera ataupun kucing,” jelasnya. Lebih lanjut, virus rabies akan menyerang susunan saraf pusat pada manusia dan dapat menimbulkan dampak yang sangat fatal. Gejala awal yang bersifat ringan dan sering ditimbulkan adalah demam dan nyeri di sekitar area gigitan. Sedangkan pada gejala berat, orang yang terjangkit akan mengalami halusinasi, mudah cemas, hingga ciri yang khas adalah sering mengeluarkan air liur berlebihan (hipersaliva). “Pada tahap yang sangat berat, orang yang terjangkit akan sampai pade fase paralisis, yakni tubuh tidak bisa bergerak layaknya stroke. Bukan hanya setengah yang lumpuh, melainkan keseluruhan badan hingga menyebabkan kematian,” jelas dokter Gerry, sapaan akarabnya. Mengenai tindakan penanganan, dr. Gerry menjelaskan bahwa langkah awal setelah terkena gigitan adalah mencuci area gigitan dengan air mengalir dan sabun selama 10 hingga 15 menit. Setelah itu, segera menuju ke rumah sakit terdekat untuk diberikan vaksin anti rabies atau yang sering dikenal dengan VAR. Apabila luka gigitan sangat serius dan mendekati kepala, maka akan ditambahkan serum anti rabies atau yang sering disebut dengan SAR. Di lain sisi, langkah preventif atau pencegahan bisa dilakukan karena lebih baik menghindari resiko. Di Indonesia, masih terdapat 26 provinsi yang menjadi wilayah endemis rabies. Hanya terdapat 7 provinsi yang telah dinyatakan bebas rabies. Adapun ciri-ciri hewan yang terjangkit rabies dapat dilihat lewat tingkah lakunya yang aneh, seperti mengeluarkan air liur berlebihan dan menggigit sembarangan. “Tips agar terhindar dari rabies adalah sering membersihkan kandang hewan peliharaan, melakukan vaksinasi apabila berpergian atau hendak beraktivitas di area yang liar. Termasuk saat berkunjung ke wilayah endemis rabies. Pun dengan menjaga hewan peliharaan agar tidak terkontaminasi dengan lingkungan liar,” pungkasnya mengakhiri. (lib/wil)

Hari Buku Nasional, RBC Beberkan Sejarah Hari Buku

Sebagian masyarakat ada yang tidak tahu bahwa 17 Mei merupakan tanggal diperingatinya Hari Buku Nasional. Peringatan ini juga menunjukkan betapa pentingnya buku dalam perkembangan sebuah negara. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Riset Rumah Baca Cerdas (RBC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Faizin, M.Pd. Adapun hari buku berawal dari gagasan Abdul Malik Fadjar, menteri yang menjabat pada masa pasca orde baru. Peringatan yang ditetapkan pertama kali pada 17 Mei 2002 ini menjadi bentuk keprihatinan Malik Fadjar atas rendahnya minat baca dan literasi masyarakat Indonesia. Apalagi minat baca menjadi salah satu faktor untuk menambah pengetahuan dan perkembangan dunia. Lebih lanjut, Faizin menegaskan bahwa buku juga memiliki peran strategis dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sayangnya, hadirnya modernisasi berdampak pada menurunnya minat baca. Maka, perlu adanya kesadaran kolektif akan keterbukaan wawasan. Utamanya dalam upaya melahirkan penerus bangsa yang unggul. Banyak hal yang sudah dilakukan oleh RBC UMM selama ini. Faizin menjelaskan bahwa semangat Pak Malik dalam rangka meningkatkan literasi masyarakat terus dikobarkan RBC melalui berbagai aktivitas. Misalnya dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan akses buku berkualitas. “Kami juga mengirimkan mobil perpustakaan keliling seperti Mobil Kamis Membaca (KaCa) dan Mobil Terbang setiap minggu. Sehingga mereka yang di daerah-daerah dan pelosok juga bisa mendapatkan akses bacaan yang bagus,” tambah pria yang juga Dosen Pendidikan Bahasa itu. Di samping itu, RBC juga memiliki komunitas bernama Teman Baca yang memiliki ketertarikan dengan buku. Khususnya ribuan buku yang disediakan di gedung RBC UMM. Teman Baca juga terus mengembangkan jaringannya dan mengajak masyarakat untuk datang ke lokasi. Menariknya, di RBC juga menyediakan café yang bisa didatangi. Sehingga pengunjung bisa menikmati kopi sembari membaca koleksi buku yang ada. “Semoga berbagai aktivitas dan program yang kami lakukan sedikit banyak berpengaruh akan kualitas dan kuantitas minat baca di Indonesia, khususnya Malang. Saya juga mendorong anak-anak muda untuk mencintai buku danmengaplikasikan apa yang sudah dibacanya. Anak muda adalah penerus bangsa, jika tidak mencintai buku dan isinya, bagaimana mereka bsia memimpin Indonesia di masa depan?” katanya mengakhiri. (wil)