Komitmen Internasionalisasi, Fisioterapi Gandeng Universitas Mahidol Thailand

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan aktivitas internasionalnya. Kali ini datang dari jurusan Fisioterapi yang bekersama dengan Universitas Mahidol (MU) Thailand. Salah satu kolaborasinya adalah student exchange, bukan hanya mahasiswa UMM yang ke Thailand, tapi juga sebaliknya. Terhitung ada dua mahasiswa Thailand yang datang dan belajar di UMM, dan beberapa dari Kampus Putih yang berangkat ke Negeri Gajah Putih. Menariknya, program ini tidak hanya meningkatkan skill dan wawasanterkait fisioterapi bagi mahasiswa. Tapi juga membekali mahasiswa untuk menciptakan komunitas-komunitas fisioterapi yang mampu mengedukasi masyarakat umum. Termasuk pengetahuan dasar seputar fisioterapi. Hal itu ditegaskan Siti Ainun Ma’rufa, S.Ft., M.Sc. selaku penanggungjawab dari program internasional tersebut. “Jadi manfaatnya tidak hanya didapat oleh mahasiswa yang berangkat ke Thailand atau mereka yang ke Indonesia. Tetapi juga berbagi ilmu ke para pekerja yang bekerja dengan posisi stagnan serta jarang bergerak. Misalnya saja seperti pembatik atau pengrajin. Jadi mereka bisa tahu bagaimana cara meregangkan otot, posisi yang baik, dan lainnya,” tambahnya. Ainun, sapaan akrabnya, menilai, masih banyak masyarakat yang mendapatkan ilmu dassar fisioterapi untuk kesehatan badan. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga Thailand. Seperti misalnya banyak yang merasakan nyeri di sendi, otot, dan lainnya. Maka, para praktisi dan mahasiswa bisa masuk ke ranah tersebut. Terkait kegiatan selama pertukaran pelajar, ia menjelaskan ada beberapa aktivitas yang harus diikuti mahasiswa. Mulai dari perkuliahan di kelas hingga observasi dan praktek lapangan di klinik-klinik kedua negara. “Mereka juga diarahkan untuk memberikan penyuluhan ke berbagai lapisan masyarakat sebagia latihan terjun ke masyarakat. Memang akan ada kesulitan terkait bahasa, tapi tentu banyak solusi yang dapat dilakukan,” tambahnya. Terakhir, dia berpesan kepada para akademisi serta praktisi fisioterapi untuk gencar melakukan edukasi kepada masyarakat. Mengingat bahwa edukasi terkait dengan ilmu-ilmu fisioterapi masih sangat jarang ada di masyarakat umum. “Dengan begitu, mereka bisa tahu posisi yang baik untuk bekerja, pentingnya stretching, dan lain sebagainya,” pungkas Ainun. (faq/wil)
Apakah Mie Instan Benar-benar Berbahaya? Ini Kata Dosen UMM

Sebagian besar masyarakat Indonesia menggemari mie instan. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menyukainya. Namun ada pendapat yang menili bahwa konsumsi mie instan kurang begitu baik bagi tubuh, bahkan membahayakan diri. Melihat fenomena itu, Dosen Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Devi Dwi Siskawardani, S.TP., M.Sc. memberikan penjelasannya. Ia mengingatkan ada beberapa hal yang harus diwaspadai saat mengonsumsi penganan mie instan. “Banyak orang Indonesia yang mengkonsumsi mie dengan dicampur dengan nasi. Padahal cara itu membahayakan kesehatan karena bahan baku mie instan tinggi akan karbohidrat dan gula. Mengonsumsinya terali banyak akan meningkatkan resiko beberapa penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, sakit kepala, gangguan hati, bahkan obesitas,” tambahnya. Selain itu, pada bagian bumbu mie instan juga terdapat kandungan monosodium glutamat (MSG) yang tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, tentunya akan menyebabkan penyakit pada tubuh. Maka dari itu, ia menyarankan agar masyarakat tidak menuang semua bumbunya. Hanya sebagian saja, kemudian menambahkan bumbu-bumbu alami. “Misalnya dengan menambah bawang-bawangan. Kita juga bisa menambahkan sayuran serta daging agar dapat memenuhi kebutuhan gizi,” tambahnya. Devi pun menyarankan saat mengolah mie instan, air rebusan pertama sebaiknya dibuang. Utamanya untuk mie rebus. Ia melarang untuk mencampurkan air rebusan langsung dengan bumbu. “Tentu ada alasan kenapa saya mengimbau hal ini. Yakni agar kandungan bahan kimia pada mie instan tidak masuk ke dalam tubuh, tapi dibuang. Instensitas konsumsi mie juga tidak boleh terlalu sering. Maksimal dua kali dalam seminggu,” tambahnya. Devi juga menyebut beberapa inovasi makanan, termasuk mie instan yang lebih sehat. Yakni denagn mengurangi kadar dari bahan kimia tertentu. Misalnya jumlah kalorinya yang lebih rendah, tidak memakai MSG hingga menggunakan pewarna alami dengan memanfaatkan sayuran ataupun buah-buahan. Walaupun diklaim sehat, konsumsinya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. “Saat ini Inovasi pembuatan mie instan sangat beragam. Ada yang dibuat dari umbi-umbian, tahu, dan lain sebagainya. Adapula mie isntand berbahan baku daun kelor yang bertujuan menghasilkan antioksidan,” paparnya mengakhiri. (nov/wil)
Pakar Sepak Bola UMM Beberkan Faktor Kesuksesan Timnas Juara SEA Games 2023

Keberhasilan Indonesia mengalahkan Thailand di final sepakbola SEA games 2023 Kamboja disambut euforia meriah masyarakat. Apalagi raihan tersebut menjadi pelepas dahaga untuk sepakbola Indonesia yang terakhir kali mendapatkan emas pada 32 tahun lalu. Banyak yang menilai bahwa kesuksesan itu tak lepas dari mentalitas dan kolektivitas para pemain. Hal serupa juga disampaikan pengamat sepak bola Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah. Menurutnya, mentalitas garuda muda patut diakui jempol. Meski kemenangan yang di depan mata buyar berkat gol menit akhir Thailand, tapi mereka masih terus berjuang hingga memastikan kemenangan di babak tambahan waktu dengan skor 5-2. Menurutnya, final tersebut bukan hanya pertandingan tentang sepakbola, tapi juga soal harga diri. Siapa yang bisa konsisten dan konsekuen akan memetik hasil terbaiknya. Penentuan kemenangan juga seringkali terjadi di menit krusial. Yakni berkat gol-gol di 15 menit awal maupun akhir. Terbukti dengan banyaknya gol yang tercipta di menit-menit tersebut. Terkait para pemain yang sempat dipanggil ke timnas senior, Yunan mengatakan bahwa itu merupakan sebuah kelebihan. Namun faktor utama yang menentukan kemenangan adalah kolektivitas para pemain. Timnas juga tidak bergantung pada satu atau dua pemain saja, seperti Marselino atau Witan. “Coba liat permainan Haykal, Taufany, dan Ananda Raehan. Mereka memang bukan berasal dari tim besar atau starter di klubnya. Namun ketenangan dan kerjasama yang apik bisa mereka lakukan di lapangan. Kombinasi mereka dengan Marselino, Sananta, atau bahkan Rizky Ridho patut diacungi jempol,” kata penulis Buku Filosofi Bola itu. Yunan, sapaannya, juga menilai bahwa pertumbuhan sepakbola Indonesia di tiga tahun terakhir dinilai terlalu cepat. Bahkan di luar ekspektasi negara-negara lain. Terutama dalam hal teknologi, cara bermain, makanan, dan lainnya. “Beberapa tahun terakhir, Vietnam dan Thailand lah yang seringkali dianggap sebagai yang terkuat di Asia Tenggara. Namun sayang, kini pertumbuhannya melambat bahkan bisa saya bilang stagnan. Malah Timor Leste dan Kamboja yang terlihat pesat,” tambahnya. Meski demikian, Yunan menilai bahwa pertumbuhan ini bukan mutlak karena sosok tertentu seperti Shin Tae Yong (STY) maupun Indra Syafri. Namun dengan hadirnya STY, pengelolaan sepakbola sedikit demi sedikit berubah. Jika dulu pola pikir sepakbola Indonesia adalah hasil, namun kini bergeser ke pemahaman bahwa sepakbola adalah proses. Proses panjang yang dimulai dari dasar seperti gizi, makanan, pemanasan, cara bermain, teknik dan lainnya. Pengamat sepakbola yang juga dosen UMM itu sempat membahas mengenai potensi pemain yang hilang saat kembali ke klub. Bagaimana pemain yang bermain bagus di timnas diharapkan bisa moncer di klub masing-masing. Namun karena kurangnya jam terbang, mereka akhirnya tenggelam oleh pemain senior lain. Apalagi klub-klub di Liga 1 Indonesia pragmatis dan fokusnya hanya juara. Menurut Yunan, banyak posisi strategis klub yang diisi oleh pemain-pemain asing sehingga menekan potensi pemain lokal untuk bersinar. Padahal seharusnya, klub memberikan porsi kepada pemain muda agar bisa berkembang dan mampu melahirkan pemain berkualitas untuk timnas. “Coba kita lihat, ada banyak posisi striker yang diisi pemain asing. Pemain tengah dan winger bagus juga jarang kita liat di Liga 1. Mungkin, posisi yang masih aman untuk pemain lokal saat ini hanyalah kiper. Terbukti dengan melimpahnya stok kiper kita di berbagai kategori umur dan tim senior,” katanya mengakhiri. (wil)
Merekonstruksi Subak Bali, Pemkab Tabanan Gandeng UMM

Demi menjaga kelestarian warisan budaya Subak di Bali, Pemerintah Kabupaten Tabanan menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk mengembangkannya. Bahkan Kampus Putih UMM telah mengirimkan tim survei penguatan pengelolaan Subak berkelanjutan pada 7-13 Mei lalu ke Tabanan. Adapun Subak dikenal sebagai organisasi wadah bermusyawarah para petani untuk mengatur sistem tata kelola pengairan pertanian di Bali. Masyarakat Bali meyakini, tanpa campur tangan Subak, sistem pembibitan dan produk pertanian tidak akan maksimal. Menariknya, Subak yang ada sejak abad ke 9 Masehi itu telah diakui oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), tepatnya pada 29 Juni 2021 lalu. Sayangnya, peran Subak terus berkurang akibat pengaruh global. Sehingga tatakelola pertanian dan irigasi seringkali kurang mendapat perhatian. “Maka, UMM dan Pemkab Tabanan bekerjasama untuk merekonstruksi Subak yang ada. Apalagi pertanian merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Tabanan, Bali,” jelas Bupati Tabanan I Komang Sanjaya. Ia juga merasa senang dan mengapresiasi adanya diskusi dengan para ahli UMM. Bahkan pihaknya siap membuka kerjasama-kerjasama lain. Tidak hanya di sektor pertanian tapi juga sektor strategis lainnya. Selama ini, UMM melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) telah banyak bekerja sama dengan sederet Kepala Daerah. Utamanya untuk berkontribusi nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan Pemkab Bondowoso misalnya, Tim UMM yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP, telah berhasil mendampingi kelompok tani padi tradisional yang kini beralih ke pertanian organik. Hingga saat ini, ada lebih dari 164 hektar sawah yang telah bersertifikat pertanian organik. Di samping itu, ada dua sektor yang dikembangkan bersama Pemkab Jember. Yakni mandiri pangan melalui program budidaya pertanian organik dan mandiri energi yang berupa pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hal serupa juga sudah dilakukan di banyak daerah, baik kabupaten maupun kota. Ditemui secara terpisah, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menjelaskan bahwa UMM harus menjadi lembaga problem solver atas persoalan yang terjadi di masyarakat. Hal itu tak lepas dari realitas bahwa UMM merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem masyarakat. “Fardu ain hukumnya bagi UMM untuk memberikan solusi atas persoalan masyarakat. Tidak ada alasan bagi UMM untuk tidak berkotnribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tukasnya. Lebih jauh, Fauzan mengungkapkan bahwa di era yang serba cepat, perlu kemampuan berpikir cepat dan ebrtindak antisipatif. Maka dari itu, UMM juga telah menjalankan program Center of Excellence (CoE) yang menjawab persoalan pengangguran di Indonesia. Termasuk di dalamnya sektor-sektor riil seperti pangan, energi, pendidikan, sosial dan lainnya. Kampus Putih juga memiliki progra P3M yang terdiri dari para dosen dengan berbagai keahlian yang mumpuni. (Wil)
Ini kata Dosen Psikologi UMM Soal Hilangnya Semangat Gara-gara Putus Cinta

Saat mengalami putus cinta, seseorang biasanya merasa malas melakukan berbagai hal. Termasuk bekerja maupun belajar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ibnu Sutoko, S.Psi., M.Psi memberikan penjelasannya. Menurutnya, cinta merupakan salah satu kebutuhan psikologis manusia. Maka dari itu, banyak tokoh psikologi yang mengatakan bahwa cinta dan kasih sayang merupakan suatu kebutuhan yang harus terpenuhi. Ketika seseorang kehilangan suatu kebutuhan di dalam dirinya, maka ini dapat menyebabkan seseorang menjadi malas. Keadaan tidak bersemangat ini berhubungan dengan kebutuhan afeksi. Jika tidak segera diatasi dengan benar, maka hal ini akan berdampak serius. Seperti munculnya stres yang menyebabkan banyak pikiran, susah tidur hingga tidak berselera makan. “Ketika fenomena itu tidak ditangani dengan baik, maka akan berubah menjadi sebuah depresi. Mood seseorang juga akan cenderung menjadi negatif, sering menangis, dan keinginan untuk bersosial menurun. Hal ini tentu dapat berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari,” tambahnya. Ibnu, begitu ia kerap disapa, menyampaikan bahwa orang yang patah hati harus segera mengidentifikasi emosi yang dirasakan and mengukur kesedihan. Biasanya, mereka yang larut dalam kesedihan adalah mereka yang tidak mampu mengeluarkan emosi atau salah memilih solusi dalam permasalahannya. “Karenanya, jika ada masalah, coba untuk bercerita pada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang tepat untuk mengeluarkan emosi kita. Setelah menyalurkan emosi yang dipendam secara verbal, langkah selanjutnya adalah melakukan hal-hal yang positif sebagai pengalihan atas emosi negatif yang dialami ketika putus cinta. Kemudian perlahan emosi negatif akan menghilang. Namun, perlu dicatat bahwa upaya ini harus dibarengi dengan penyelesaian masalah,” katanya. Ibnu juga mengeaskan bahwa melupakan kenangan yang sudah terjadi akan sangat sulit. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menerika kesedihan coba untuk menerima kesedihan tersebut. Dengan demikian, diri akan merasa lebih lega dengan keadaan. “Kemudian cobalah untuk kembali memulai kehidupan nyata. Menjalani hari agar kehidupan bisa kembali ke jalur yang tepat. Misalnya dengan kembali menikmait hobi atau mencoba mencapai target,” katanya. Ia juga mewanti-wanti agar mereka yang putus cinta tidak melakukan hal negatif saat sedih. Kalaupun segala upaya sudah dilakukan, namun belum ada perubahan, ia menyarankan agar mereka mendatangi tenaga profesional seperti psikolog untuk membantu. (Fat/Wil)
Dosen UMM Beri Saran Perbaikan Jalan yang Tepat

Perbaikan dan pembangunan jalan menjadi bahasan di berbagai media sosial. Mulai dari jalanan yang rusak, hingga perbaikan dalam waktu semalam. Banyak yang bertanya, bagaimana membangun sebuah ruas jalan yang cocok dan awet? Begini penjelasan Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir. Alik Ansyori Alamsyah, M.T. Menurutnya, sebelum memperbaiki jalan, pemerintah harus melihat berbagai aspek. Misalnya saja lalu lintas harian rata-rata (LHR), daya dukung tanah, hingga beban repetisi dari jalan tersebut. “Saya ambil contoh Lampung. Seperti yang kita lihat, kendaraan yang melintasi jalan di sana rata-rata adalah kendaraan berat, sehingga saya kira tidak bisa membangun ulang jalan dalam waktu yang cepat,” tegasnya. Dalam prakteknya, perencanaan pembangunan jalan tidak bisa sesederhana itu. Pemerintah harus mengetahui beban repetisi jalan yang akan dibangun sebelum menentukan ketebalan jalan. Adapun beban repetsi adalah hitungan pengulanan beban per-harinya dari sebuah jalan. Menurut Alik, jalan di Lampung tidak begitu cocok menggunakan fleksibel pavement, yaitu pengerasan dengan campuran aspal sebagai lapis permukaan tanah dan bahan berbutir sebagai pelapis bawah. Ia menyarankan agar pembangunan itu menggunakan rigid pavement (kekerasan kaku). “Berbeda dengan fleksibel pavement, rigid pavement menggunakan pelapis semen sebagai bahan pengikatnya dan pelat beton yang diletakkan di bagian bawah sebagai bahan alasnya. Jadi bentuknya seperti cor. Meski demikian, hal ini harus mempertimbangkan ketebalannya, berapa dan data lalu lintas kendaraan perharinya,” jelasnya. Ia juga menyebut bahwa LHR memiliki peran penting untuk usia jalan yang dibangun. Biasanya umur rencana dari rigid pavement bisa bertahan hingga 20 tahun, berbeda dengan fleksibel pavement yang harus dirawat sekitar 3-4 tahun sekali. Meski demikian, tiap pilihan jenis jalan memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dari rigid pavement adalah modal awal yang cukup besar untuk membangun ruas jalan yang sedikit. Sementara itu, fleksibel pavement membutuhkan modal lebih kecil. “Pembangunan dengan jenis rigid pavement juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi lebih awet. Saya rasa 3-4 bulan saja tidak akan selesai karena harus memperbaiki pondasinya. Artinya juga harus tahu daya dukung tanah terkait,” tambahnya. Terakhir, Alik mengatakan bahwa perbaikan jalan trans bukan hanya tanggung jawab daerah, tapi juga ada campur tangan pemerintah pusat. Hal itu tak lepas dari kenyataan bahwa jalan trans adalah miliki negara, sehingga perawatan dan pembangunan juga harus dari negara secara langsung. (tri/wil)
Songsong Indonesia Emas 2045, Mendag RI Sebut CoE UMM Terobosan Apik

Pada tahun 2045 yang bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan, Indonesia diprediksi akan menjadi negara maju. Satu kunci yang harus dipegang dan diusahakan adalah menguasai perekonomian dunia. Hal itu ditegaskan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (RI), Dr. (H.C) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 13 Mei 2023 lalu. Talkshow yang bertajuk “Restorasi Sumber Daya Manusia Unggul Untuk Kemandirian Ekonomi” itu diikuti oleh ribuan mahasiswa di Dome Kampus Putih. Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi Center of Excellence (CoE) garapan UMM karena kontribusinya mencetak SDM unggul. Hal itu menunjukkan upaya serius UMM untuk berkontribusi mewujudkan Indonesia emas 2045. “Program CoE ini adalah terobosan apik dan dijalanlan oleh kampus yang bagus pula yakni, UMM,” tambahnya. Zulkifli, begitu ia kerap disapa, menjelaskan, pandemi Covid-19 yang mengguncang perkenomian dunia memberikan dampak yang tidak kecil. Beruntung, Indonesia menjadi negara yang masih mampu bertahan. Bahkan memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi yaitu 5,3 %, dengan angka inflasi yang relatif rendah yaitu 5,51 %. Angka ini lebih baik jika dibandingkan negara lain. Hal ini tentu menjadi modal dasar yang kuat bagi perekonomian Indonesia,” ungkapnya. Berdasarkan data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2019, Indonesia menempati peringkat kelima di dunia terkait Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product. Bahkan pada tahun 2022, Indonesia mencatat rekor baru untuk ekspor dan surplus neraca perdagangan yaitu senilai USD 54,53 Miliar. “Pada tahun 2045, dunia benar-benar akan berubah. Kekuatan ekonomi dunia secara berurutan akan diambil alih oleh Tiongkok, India, dan Amerika. Pun jika memang sesuai skema, Indonesia akan bergabung menjadi negara super power dan berada di urutan keempat dunia,” tegasnya. Maka dari itu, pemerintah terus melakukan kerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai negara. Salah satunya dengan United Arab Emirates (UAE). Menurutnya, UAE merupakan negara modern sebagai pusat jasa keuangan syariah. UAE juga menjangkau pasar halal ke 57 negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Dengan begitu, cita-cita Indonesia menjadi negara Halal Lifestyle Global akan semakin mudah terwujud jika berkolaborasi dengan UEA. “Selain itu SDM di Indonesia harus terus dilatih dan dikembangkan agar memiliki daya saing. Indonesia memiliki anak muda dengan segudang talenta yang luar biasa dan harapan besar bangsa ada pada anak muda. Saya kira CoE UMM bisa turut serta menjawab ketersediaan SDM ini,” harap Zulkifli. Hal yang tak jauh berbeda disampaikan Rektor UMM Dr. Fauzan M. Pd. Menurutnya, Indonesia harus bisa memnafaatkan bonus demografi dengan baik hingga nanti 2045 datang. Oleh karena itu, UMM membuat program CoE sebagai jawaban kegelisahan para lululsan perguruan tinggi. Utamanya dalam upaya menjadi pribadi unggul yang mampu bersaing di dunia kerja. “Ada 54 CoE yang sudah dijalankan UMM. Tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa UMM saja, tapi mahasiswa non UMM dan luar negeri juga bisa bergabung. Sekalipun mereka berasal dari jurusan yang berbeda dengan CoE terkait. CoE adalah solusi nyata unutk menjawab tantangan masa depna,” tegas Rektor asal Kediri itu. Disisi lain, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM, Rifqi Al-Akbar mengatakan, dunia sedang dihadapkan dengan adanya resesi. Namun, anak muda harusnya tidak menganggapnya sebagai halangan, namun sebagai tantangan baru. Utamanya dalam melahirkan berbagai terobosan perkembangan ekonomi Indonesia. “Dan UMM turut berkontribusi nyata untuk membantu anak-anak muda dan mahasiswa. Mulai dari menggagas CoE, membangun Halal Center untuk memperkuat halal style global yang dicanangkan pemerintah, dan lain sebagainya. Tentu anak muda juga menjadi basis besar dalam mewujudkan Indonesia emas 2045,” pungkasnya. (zak/wil)
Hermawan Kartajaya, Pakar Marketing Internasional Apresiasi CoE UMM

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mampu bergerak mandiri dengan mengembangkan berbagai usaha di berbagai sektor. Mulai dari perhotelan hingga pariwisata. Bahkan menciptakan terobosan bidang sumber daya manusia, Center of Excellence (CoE). Hal itu diungkapkan oleh pakar pemasaran internasional, Hermawan Kartajaya dalam kuliah umum entrepreneural marketing pada 13 Mei 2023 lalu. Ia yang juga founder dan chairman MCorp dan ACSB Indonesia itu, mengapresiasi program CoE yang digarap oleh Kampus Putih UMM. Menurutnya, anak muda bisa belajar banyak dari program itu dan lebih mudah terserap dalam dunia kerja. “UMM ini unik karena tidak hanya fokus pada pendidikan saja, tapi juga berbagai hal. Melakukan manajemen dengan apik serta melahirkan inovasi-inovasi terkait kewirausahaan. Ini menjadi kelebihan dan daya tarik tersendiri,” tambahnya. Hermawan juga sempat menyinggung mengenai perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) di seluruh Indonesia. Menurutnya, PTM-PTM ini bisa lebih fleksibel dalam mengembangkan institusi, utamanya untuk menjawab kebutuhan era 5.0. “Saya rasa PTM, termasuk UMM relatif dapat lebih cepat tanggap dan menyediakan solusi di tengah problem masyarakat,” katanya menegaskan. Kedatangan Hermawan juga menjadi bukti bahwa meskipun UMM adalah kampus dengan nilai-nilai Islam, namun Kampus Putih selalu menjunjung tinggi inklusifitas. Mengundang pembicara yang memiliki background agama berbeda, ras yang berbeda, bahasa yang berbeda dan lainnya. Saling berbagi ilmu dan mampu berkolaborasi demi memajukan negeri. Hal senada juga disampaikan CEO MarkPlusInc. Dr. Jacky Mussry. Ia menjelaskan bahwa kunci kesuksesan berwirausaha itu diawali dengan perencanaan yang baik. Kemudian juga harus bisa melihat potensi pasar, optimalisasi sumber daya hingga pembukuan catatan keuangan yang baik. Semua itu perlu dilakukan agar tidak muncul gambling saat membuka sebuah bisnis. “Hal-hal inilah yang seringkali terlewatkan oleh para pebisnis baru. Hal-hal kecil dan detail yang seharusnya sudah dikuasai dan dijalankan sejak bisnis didirikan,” katanya Menurutnya, bisnis bukanlah suatu hal yang dimulai dari hal-hal yang besar seperti start-up. Namun bisa juga dimulai dari hal-hal kecil seperti jual beli online dan membuka toko sederhana. Pola pikir itulah yang harus ditanamkan di benak para anak muda agar berani dan mampu membuka bisnis. Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengatakan, banyak orang yang ingin membuka bisnis, tapi hanya berhenti pada tahap keinginan. Mereka tidak mau dan sukar untuk bergerak mewujudkan keinginannya. “Berkeinginan tidaklah cukup. Harus diiringi dengan keberanian untuk mulai bergerak. Mencari peluang, mencari partner, berkolaborasi, dan lain sebagainya. Anak-anak muda, termasuk mahasiswa UMM harus berani melangkah dan mengambil risiko. Dengan begitu, bisni yang dimuali sejak dini akan memberikan banyak pengalaman agar bisa mengembangkannya di masa depan,” tegasnya mengakhiri. (faq/wil)
UMM Bangun C-Junction untuk Menunjang CoE

Dalam menunjang sarana dan prasarana serta kegiatan dari program Center of Excellence (CoE), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siapkan Komplek C-Junction sebagai pusat segala kegiatan CoE. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. dalam rapat yang dilakukan oleh jajaran petinggi UMM bersama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari serta tim kontraktor yang melakukan pembangunan komplek tersebut. Rektor UMM asal Kediri tersebut menyampaikan bahwa ke depan, program CoE tidak hanya diikuti oleh mahasiswa dari UMM saja, namun mahasiswa non-UMM sekaligus mahasiswa asing juga dapat mengikutinya. Hal itu menjadi perwujudan inklusifitas Kampus Putih yang senantiasa melakukan pengabdian bagi bangsa yakni dengan mencetak SDM unggul. Sekaligus menjadi upaya untuk internasionalisasi pendidikan dan kampus. Fauzan, sapaan akrabnya, menegaskan, UMM tidak hanya memikirkan aspek arsitektur gedungnya saja, namun juga memperhatikan kelestarian sumber daya alam di sekitarnya. Salah satunya suasana dan ekosistem yang sehat serta nyaman untuk belajar. “Dengan begitu, proses pelatihan dan transfer ilmu bisa didapat dengan maksimal berkat dukungan situasi di C-Junction,” tambahnya. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) David Santoso menegaskan komitmen tinggi kepada UMM dalma proyek pembangunan ini. David bersama tim akan memaksimalkan pengerjaan, mulai dari tahap perencanaan hingga akhir. “Saya bersama tim akan berusaha semaksimal mungkin dalam mengembangkan dan melaksankaan proyek pembangunan ini sesuai dengan ekspektasi UMM. Dengan begitu, proses yang ada di C-Junction bisa sesuai harapan dan mampu mencetak SDM Unggul seperti yang direncanakan,” ujarnya. Hal menarik juga disampaikan oleh Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) UMM Ir. Erwin Rommel, M.T. Ia mengatakan, meski program CoE merupakan bentuk dari manifesto internasionalisasi, namun UMM tidak melupakan spirit perjuangan Muhammadiyah. Di C-Junction nantinya ada gedung pusat dakwah serta asrama-asrama bagi mahasiswa mukim dan asing. “Meskipun ini proyek pembangunan CoE yang arahnya ke internasionalisasi, tapi kita tidak lupa bahwa UMM adalah kampus Muhammadiyah. Sehingga sebisa mungkin akan disediakan Islamic Center yang ada di kompleks C-Junction. Dengan begitu, tidak hanya melahirkan SDM yang skillful, tapi juga memiliki akhlak yang mulia,” pungkasnya mengakhiri. (faq/wil)
Bisma, Mahasiswa UMM yang Siap Mengabdi ke Masyarakat usai Pulang dari Turki

Menjadi mahasiswa pertukaran mungkin tidak pernah terpikirkan oleh oleh Bisma Arifudin, salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia kini berhasil mendapatkan kesempatan belajar satu semester di Middle East Technical University (METU), Turki, menceritakan sederet kisahnya. Hal pertama yang membuatnya takjub adalah kemudahan transportasim salah satunya kereta bawha tanah. Bahkan kereta tersebut melewati METU, sehingga memudahkannya untuk bepergian ke beberapa lokasi. Baik untuk berbelanja maupun berkunjung. Ia juga dimudahkan dengan penggunaan cashless yang tersedia di mana-mana. Meski begitu, Bisma, sapaanya, merasa nyaman bisa menimba ilmu di Turki. Salah satu alasannya adalah kemudahan fasilitas dan teknologi yang disediakan di sana. Misalnya saja terkait video pmebelajaran yang bisa diakses dengan mudah di platform kampus. Dengan begitu, ia bisa mudah mencari kembali video kelas yang pernah ia ikuti dan mempelajarinya. “Kami juga bisa dengan mudah mengumpulkan tugas di platform kampus. Jadi tidak perlu repot-repot banyak ngeprint dan lebih paperless. Kartu mahasiswa kami juga bsa digunakan sebagai e-money, sehingga memudahkan kami untuk membayar apapun,” tambah mahasiswa asal Singosari itu. Hal menarik lainnya adalah perbedaan kebiasaan belajar antara mahasiswa Turki dan Indonesia. Di sana, para mahasiswa lebih individualis dan belajar sendiri-sendiri. Ia jarang menemui ada yang belajar berkelompok. Hal itu sempat membuatnya sedikit kesulitan menjalin pertemanan antara mahasiswa. “Tapi seiring berjalannya waktu, saya mencoba mendekati mahasiswa asli sana dan bercerita banyak hal. Kami juga sempat belajar bersama sehingga memudahkan adaptasi saya di Turki,” katanya. Mahasiswa manajemen itu juga cukup kaget karena di Turki, para sebagian besar mahasiswa laki-laki lebih ambisius dan berusaha keras mencapai nilai terbaik. Berbeda dengan Indonesia yang lebih didominasi mahasiswa perempuan, utamanya terkait tugas dan berlomba mendapat nilai yang bagus. Satu pengalaman menarik yang ia dapatkan adalah mengunjungi Cappadocia. Di sana ia melihat banyak sekali balon udara yang menghiasai langit. Hal itu membuatnya takjub. Beruntung ia tidak sendiri, Bisma berangkat bersama kawan-kawan internasionalnya. Adapun keberangkatannya merupakan hasil kerjasama bilateral antara Kampus Putih UMM dengan METU, Turki. Bisma juga bersyukur mendaftarkan diri dan menimba ilmu di UMM karena banyak sekali kesempatan student exchange yang bisa diikuti. Ia berharap, mahasiswa lain juga bisa turut aktif mencari informasi dari International Relation Office (IRO) dan mengikuti jejaknya. “Kapan lagi bisa mengunjungi dan merasakan suasana belajar di negara lain. Oh iya, saya juga berencana mengembangkan program pengabdian masyarakat di sekolah-sekolah. Salah satunya terkait penggunaan gawai sebagai sarana pendidikan. Memudahkan siswa dalam memahami materi dna tak perlu membebani mereka dengan membawa seabrek buku,” katanya menjelaskan. (ri/wil)